Suara ombak mendesis, mendidih dan menggelegar di sepanjang Pantai Laut Kidul. Tiada henti-hentinya, siang malam, Bagaikan tetabuhan yang mengiringi kiprah alam seisinya. Ombak menepis di pantai pasir mendesis-desis, tampak ombak memanjang berkepala putih berlenggang-lenggok seperti seekor naga disusul naga lain, kemudian memecah di pantai yang berpasir mendesis-desis. Di sana sini terdengar ombak menggelegar menghantam batu karang, mengguncangkan batu karang itu dan air muncrat menjadi atom, kalau tersinar matahari menciptakan pelangi. Alangkah perkasanya alam, alangkah indah, juga alangkah buasnya ulah ombak di pantai, menggulung pasir yang dimuntahkan di pantai.
Pemuda ini
memiliki tubuh yang sedang namun tegap, berdirinya tegak dan lenggangnya
seperti langkah harimau lapar. Wajahnya amat tampan dan manis, dengan dahi
lebar dan sepasang matanya mencorong namun mengandung kelembutan, hidungnya
mancung dan mulutnya selalu terhias senyum yang menarik dan menyejukkan hati
yang memandang. Dagunya yang sedikit berlekuk menunjukkan kejantanan dan
kegagahan. Kulitnya kuning bersih, seorang pemuda yang ganteng seperti Arjuna.
Wanita yang
berjalan di sampingnya juga tidak kalah menariknya, ia seorang dara yang
usianya paling banyak dua puluh tahun. Rambutnya panjang sampai ke pinggang,
namun digelung di belakang kepala dengan rapi. Pakaiannya juga dari kain putih
bersih. Dara ini memiliki tubuh yang ramping padat dengan lekuk lengkung tubuh
yang sempurna, bagaikan seorang dewi dari kahyangan. Dahinya tertutup sinom
melingkar-lingkar, alisnya kecil melengkung dan hitam seperti dilukis, matanya
seperti sepasang bintang kejora dengan kerling tajam menghunjam, hidungnya
mancung dan mulutnya amat manis dengan bibir yang merah membasah, dihias lesung
pipit di pipi kiri, dagunya runcing dan lehernya agak panjang berkulit putih
mulus.
Orang yang
bersua dengan mereka di tempat hening itu tentu akan mengira bahwa mereka penjelmaan
Bathara Komajaya dan Bathari Komaratih, yaitu Dewa dan Dewi Asmara. Akan tetapi
kalau orang memperhatikan sinar mencorong dari mata mereka, apalagi melihat
adanya sebatang pedang di punggung dara itu, maka pandangan orang itu akan
menjadi kagum dan juga jerih.
Siapakah
gerangan jaka bagus dan perawan ayu ini? Mereka adalah kakak beradik tiri, satu
ayah berlainan ibu. Ksatria gagah dan tampan itu bernama Bagus Seta, putera
dari Adipati Tejolaksono dan Ayu Candra. Sejak kecil Bagus Seta telah digembleng
oleh orang-orang yang maha sakti. Mula-mula dijadikan murid oleh Ki Tunggaljiwa
selama sepuluh tahun, kemudian dijadikan murid seorang pertapa yang maha sakti
dengan julukan Bhagawan Ekadenta, juga disebut Ki Jitendrya dan Bhagawan
Sirnasarira. Setelah menerima gemblengan Bhagawan Ekadenta, Bagus Seta menjadi
seorang pemuda yang maha sakti, memiliki kekuatan lahir batin yang dahsyat.
Takkan ada seorangpun dapat mengira bahwa dalam diri seorang pemuda tampan
halus seperti Bagus Seta itu terdapat kekuatan yang amat dahsyat. Dara jelita
yang kelihatan gagah itu bernama Retna Wilis. Ia juga puteri Adipati
Tejolaksono akan tetapi ibunya adalah Endang Patibroto. Walaupun kedua ayah
ibunya merupakan orang-orang sakti, akan tetapi sejak kecil ia digembleng oleh
seorang nenek maha sakti yang berjuluk Nini Bumigarba. Sejak kecil ia
berpakaian serba hijau, sesuai dengan namanya Retna Wilis (Dara Hijau), akan
tetapi setelah ia merantau dengan kakaknya, Bagus Seta menganjurkan agar
adiknya memakai pakaian serba putih seperti yang dipakainya. Dari Nenek sakti
Nini Bumigarba, Retna Wilis menerima gemblengan banyak ilmu, di antaranya yang
hebat adalah Aji Wisalangking, semacam ilmu pukulan mangandung hawa beracun
panas, Aji Argoselo yang membuat ia dapat membikin tubuhnya menjadi berat
sekali, lalu Aji Pancaroba ilmu silat yang mengandalkan kecepatan gerak. Iapun
menerima dua macam senjata yang ampuh, pertama Pedang Sapudenta yang ampuh
sekali dan senjata rahasia Pasir Sekti, semacam pasir yang juga mengandung
racun yang mematikan.
Kedua kakak
beradik yang tampak demikian tampan dan cantik, demikian lemah lembut,
sesungguhnya merupakan sepasang orang muda yang sakti, dan kedatangan mereka
dari barat menuju ke timur itu dapat diumpamakan Sepasang Garuda Putih yang
melayang-layang datang sebagai sepasang pendekar yang tujuan perjalanan
hidupnya hanya untuk berdharma-bakti kepada rakyat jelata, menegakkan kebenaran
dan keadilan membela yang lemah tertindas, dan menentang yang kuat menindas,
memihak yang baik dan menentang yang jahat. Selama melakukan perantauan dengan
kakaknya, Retna Wilis banyak mendapat petunjuk kakaknya itu tentang keadaan
hidup dan cara-cara menegakkan Kebenaran dan keadilan.
"Kakang
Bagus," ia pernah bertanya,
"engkau
selalu mengatakan bahwa aku harus memihak yang baik dan benar menentang yang
salah dan jahat. Akan tetapi, kakang, bukankah baik dan jahat itu hanya
merupakan pendapat dari pada si penilai belaka? Dan engkau pernah mengatakan
bahwa penilaian adalah palsu karena penilaian itu berdasarkan rasa suka tidak
suka yang timbul dari diri merasa diuntungkan atau dirugikan. Bagaimana kalau
penilaianku keliru? Kalau yang kuanggap benar itu sebetulnya salah?"
"Bagus,
pertanyaanmu ini bagus dan menunjukkan bahwa engkau sudah mulai dewasa dalam
menelaah tentang kehidupan, adikku yang ayu,” jawab Bagus Seto sambil
tersenyum.
"Memang
tidak salah, penilaian itu palsu sepanjang penilaian itu diberlakukan untuk
diri sendiri. Setiap orang akan selalu menilai orang lain yang menguntungkannya
dan menyenangkannya sebagai orang baik, dan akan selalu menilai orang lain yang
merugikan atau menyusahkan sebagai orang jahat. Akan tetapi kita menilai bukan
demi kepentingan diri pribadi, melainkan demi kepentingan mereka yang
tertindas. Dengan demikian, menilai seseorang itu tidaklah sukar. Kalau dia
adigang-adigung-adiguna, mengandalkan kekuatan dan kekuasaannya untuk
menyengsarakan orang lain, menyusahkan orang lain, menindas orang lain dengan
keangkara murkaannya, nah orang demikian itulah yang kita anggap jahat dan
perlu kita menentangnya. Namun orang-orang lemah tak berdaya, tanpa kesalahan
mengalami penekanan dari orang-orang jahat itu, merekalah yang harus kita
lindungi dan bela. Adapun orang baik adalah mereka yang bijaksana dan yang
selalu berusaha untuk menolong orang lain, menyenangkan orang lain, akan tetapi
yang tidak menyadari bahwa dia berbuat kebaikan, yang tidak menganggap
perbuatannya itu sebagai suatu kebaikan."
"Wah, di
sini aku agak bingung, kakang. Orang berbuat kebaikan tanpa menyadari bahwa dia
berbuat kebaikan dan tidak menganggap bahwa perbuatannya itu suatu kebaikan.
Bagaimana ini?"
"Kebaikan
adalah perbuatan yang wajar, tidak dibuat-buat dan timbul dari sanubari yang
penuh welas asih. Kalau aku sengaja melakukan kebaikan, dengan sadar bahwa aku
telah berbuat baik, maka kesengajaan itu pasti berpamrih, Retna. Itu bukan
kebaikan lagi namanya, karena dia mengharapkan imbalan, setidaknya imbalan
senang hati atau puas diri karena telah berbuat baik."
"Lalu
bagaimana orang harus melakukan kebaikan tanpa menyadari bahwa yang dilakukan
itu kebaikan?"
"Dengan
mawas diri, adikku. Dengan menganggap bahwa segala yang kita lakukan adalah
suatu kewajiban dalam kehidupan. Menolong sesama hidup adalah suatu kewajiban,
bukan kebaikan. Menentang kejahatan adalah suatu kewajiban, bukan kebencian.
Mengertikah engkau adikku?"
Retna Wilis
mengangguk-angguk.
"Mengerti,
akan tetapi aku tidak yakin apakah aku dapat melaksanakan itu. Bagaimana
mungkin aku dapat terhindar dari perasaan khawatir, susah, marah, senang dan
benci?"
"Ikuti
saja apabila engkau sedang dikuasai perasaan-perasaan itu, Retna, dan engkau
akhirnya akan mengenal mereka dan yakin bahwa mereka itu BUKAN ENGKAU,
melainkan nafsu daya-daya rendah yang berlomba untuk menguasai jiwamu."
Kalau kakaknya
sudah bicara setinggi itu, Retno Wilis hanya mengangguk saja dan diam seribu
bahasa.
"Aku tahu
bahwa engkau masih bimbang dan belum mengerti benar, adikku. Memang engkau
benar, seorang manusia tidak akan dapat berpisah dari nafsu daya rendah yang
menjadi pesertanya dalam kehidupan ini. Tanpa adanya nafsu-nafsu itu kita tidak
akan dapat hidup seperti sekarang ini, adikku. Berkat dorongan nafsu-nafsu
itulah maka kita manusia dapat membuat segala macam barang untuk keenakan hidup
kita. Akan tetapi, yang harus dijaga adalah agar daya-daya rendah itu tetap
menjadi peserta dan membantu kita, jangan sampai mereka itu menjadi najikan
yang memperhamba kita, karena kalau demikian halnya kita akan menjadi permainan
nafsu kita sendiri dan akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan
kebijakan."
"Kalau
begitu, kita berada dalam keadaan yang serba sulit, kakang. Kita tidak dapat
hidup tanpa nafsu, akan tetapi kita dapat celaka oleh nafsu itu sendiri. Lalu
apa yang dapat kita lakukan? Mengedalikan nafsu kita sendiri agar tidak menjadi
majikan yang memperhamba diri kita?”
“Mengedalikan
nafsu merupakan pekerjaan yang hanya mudah diucapkan, namun amat sukar
dilakukan. Nafsu itu seperti api. Kalau terkendali, amatlah berguna bagi
kehidupan kita manusia, akan tetapi kalau dibiarkan bebas, ia akan mengamuk dan
membakar segala apapun sampai ludes. Akan tetapi hampir tidak munkin bagi kita
untuk mengendalikan peserta kita yang satu ini, karena nafsu telah menguasai
diri kita sampai ke tulang sumsum. Satu-satunya jalan adalah iman dan penyerahan
diri kepada kekuasaan Hyang Widi, karena hanya kekuasaan Hyang Widi yang akan
mampu menundukkan nafsu dan mengendalikan nafsu dalam kedudukan yang
sebenarnya, yaitu menjadi peserta dan pembantu bagi manusia. Menyerah dengan
penuh keikhlasan dan kepasrahan kepada Hyang Widi dan Hyang Widi akan
mengulurkan tanganNya untuk membimbing kita sehingga kita akan mampu menguasai
nafsu kita sendiri.”
Retna Wilis
mengangguk-angguk, sudah sering kakangnya itu menasehatkan kepadanya agar ia
selalu ingat kepada Hyang Widi, selalu menyerah pasrah kepadaNya, dan iapun
maklum betapa sukarnya pekerjaan pasrah yang kelihatannya hanya sepele itu.
Nafsu selalu mengamuk dan berbisik agar ia tidak mudah pasrah begitu saja,
nafsu selalu berusaha agar ia menjauhkan diri dari Hyang Widi. Mereka kini tiba
di sebuah pantai yang indah, penuh dengan hutan dan tebing karang yang
merupakan dinding yang membendung air laut yang setiap saat bergelora. Ada pula
bagian yang mengandung pasir putih yang bersih dan lembut.
"Matahari
mulai terik, di sana ada pohon-pohon dan kulihat terdapat pula pohon kelapa.
Mari kita mengaso di tempat yang teduh sambil mencari dawegan (kelapa muda),
Retna."
Mereka lalu
duduk di bawah sebatang pohon yang besar yang lebat daunnya, kemudian Retna
Wilis menggunakan dua potong batu sebesar kepalan tangannya, menyambit ke arah
buah-buah kelapa muda yang bergantungan di pohon. Sambitannya tepat mengenai
gagang buah dan runtuhlah dua butir buah kelapa muda.
Retna Wilis
lalu menggunakan jari-jari tangannya yang mungil dan halus itu, dengan mudahnya
ia mengupas kulitnya seperti orang mengupas kulit pisang saja, kemudian dengan
telunjuknya ia melubang buah-buah itu dan memberikan sebutir kepada kakaknya.
Bagus Seta tersenyum melihat ulah adiknya dan keduanya lalu minum buah kelapa
muda itu dengan nikmat sekali.
Mereka berdua
tidak tahu bahwa di seberang hutan itu terdapat sebuah dusun nelayan dan di
dusun itu terjadi peristiwa yang menggegerkan penduduk. Pagi itu, entah dari
mana datangnya, muncul lima orang laki-laki yang berwajah bengis, bertubuh
kokoh kekar di dusun itu. Mereka lalu menghampiri rumah Ki Wirodemung, sesepuh
dusun itu yang oleh penduduk sudah dianggap pemimpin mereka. Lima orang itu
dengan sikap kasar memasuki rumah dan menanyakan di mana adanya tuan rumah. Beberapa
orang pemuda yang kebetulan berada di situ menegur para tamu yang tidak sopan
itu, akan tetapi seorang di antara mereka sudah meloncat ke depan dan menghajar
empat orang pemuda itu dengan kaki tangannya. Empat orang pemuda itu mencoba
melawan, namun sia-sia karena orang itu ternyata kuat dan tangkas sekali.
Pada waktu
itu, dusun sedang sepi karena kaum prianya sebagian besar sudah berangkat
bekerja di ladang, sebagian lagi pergi mencari ikan di laut. Ki Wirodemung yang
sudah berusia limapuluh tahun itu tergopoh-gopoh keluar mendengar keributan di
depan rumahnya. Dia melihat empat orang pemuda babak belur dihajar seorang
bertubuh tinggi besar dan berotot kekar. Dia menghampiri lima orang itu dan
bertanya,
"Eh,
Kisanak, andika sekalian siapa dan dari manakah? Perlu apa mencari saya dan
mengapa pula memukuli orang-orang ini?"
Seorang di
antara mereka, yang berkumis melintang, melangkah maju dan tertawa bergelak
sambil bertolak pinggang.
"Ha
-ha-ha, andika yang bernama Ki Wirodemung? Kami mendengar bahwa andika orang
yang terkaya di dusun ini, dan lebih dari itu, andika mempunyai seorang anak
perawan ayu. Nah, untuk itulah kami datang. Serahkan harta dan anak perawanmu
kepada kami dengan baik-baik agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan!"
Empat orang kawannya tersenyum menyeringai dengan sikap menakutkan.
No comments:
Post a Comment