Sepasang Garuda Putih ; Bagian 10


Tiga orang perwira itu memandang heran kepada Retno Wilis ketika ia menghampiri meja. Mereka memandang penuh perhatian dan seorang di antara mereka bertanya.
"Orang muda, engkau mau apakah?"
"Saya hendak mendaftarkan diri sebagai peserta sayembara!" jawab Retno Wilis dengan suara tegas.
Tiga orang perwira itu saling pandang lalu mereka tertawa,
"Andika? Hendak menjadi peserta sayembara? Eh, orang muda, apakah andika sudah tahu syarat-syaratnya?"
"Sudah, bukankah pertama mengangkat arca batu itu, dan kedua memanah sasaran di ujung bambu itu?"
"Benar, dan sesudah lulus dengan syarat-syarat itu, harus dapat bertahan menandingi Ki Wisokolo sampai seribu hitungan!"
"Aku sudah tahu."
"Dan andika nekat mau ikut?"
"Benar."
Tiga orang perwira itu agaknya merasa kasihan kepada pemuda remaja yang tampan ini, akan tetapi karena pemuda itu nekat, merekapun hanya menggerakkan pundak mereka.
"Siapa nama andika?" tanya seorang dari mereka yang bertugas mencatat nama-nama para peserta.
"Namaku Joko Wilis."
"Berasal dari mana?"
"Dari lereng Gunung Wilis."
"Baiklah, nama andika sudah kami catat. Tunggu di sana seperti para peserta lainnya."
Dengan girang Retna Wilis lalu menuju ke bawah panggung di mana sudah berkumpul lima orang pemuda lain. Mereka ini semua memiliki perawakan yang gagah, tinggi besar dan nampak kokoh kuat. Ketika lima orang itu melihat Retno Wilis menghampiri mereka ikut menunggu di situ, mereka memandang dengan terheran-heran.
"Eh, ki sanak, apakah andika juga ikut menjadi peserta sayembara?” tanya seorang di antara mereka yang mukanya penuh kumis jenggot cambang bertubuh tinggai besar dan matanya terbelalak lebar."
"Benar, ki sanak," jawab Retna Wilis sambil tersenyum.
"Ha-ha-ha-ha!" Si brewok itu tertawa sambil berdongak sehingga perutnya turun naik ketika dia tertawa.
"Ah, kenapa andika begini nekat? Sayembara ini berat sekali. Baru mengangkat arca itu saja, mana andika kuat? Jangan-jangan malah arca batu itu akan jatuh menimpa tubuhmu sehingga gepeng, ha-ha-ha!" Empat orang peserta lainnya ikut tertawa.
"Jangan andika sekalian menertawakan kisanak ini. Siapa tahu di tubuhnya yang kecil tersimpan kedigdayaan yang hebat!" tiba-tiba seorang pemuda yang baru saja masuk berkata. Agaknya diapun seorang peserta baru yang mendaftarkan diri sesudah Retna Wilis. Mendengar ucapan itu, Retna Wilis memandang dan ia melihat seorang pemuda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun, tubuhnya jangkung agak kurus, wajahnya biasa saja akan tetapi sepasang matanya bersinar tajam sekali. Retna Wilis memandang kepadanya dengan berterima kasih. Akan tetapi hatinya tetap merasa penasaran karena ia dijadikan bahan ejekan dan dipandang rendah. Kalau tadinya ia berniat untuk menjadi peserta yang gagal, kini ia mengambil keputusan untuk memperlihatkan kepada mereka semua bahwa ia dapat mengangkat arca batu itu dengan mudah melebihi kekuatan mereka. Ia juga akan mengikuti ujian memanah sampai berhasil. Masih belum terlambat baginya untuk mundur setelah berhadapan dengan Ki Wisokolo, berpura-pura kalah.

Dengan demikian ia tidak akan dicurigai dan akan dapat melakukan penyelidikan tentang Nusabarung dengan leluasa. Setelah matahari naik tinggi, pendaftaran dihentikan dan ternyata jumlah peserta yang mendaftarkan diri ada sepuluh orang. Setelah pendaftaran ditutup, terdengar bunyi tetabuhan dan muncullah Sang Adipati Martimpang bersama lima orang senopatinya dan di sampingnya berjalan isteri pertamanya dan Dyah Candramanik. Sepuluh orang peserta sayembara itu memandang kepada Dyah Candramanik dengan sinar mata kagum. Mereka berbisik-bisik memuji dan munculnya dara jelita ini membuat semangat mereka menjadi semakin besar.
Retna Wilis dalam kesempatan waktu menanti itu, secara sambil lalu memperkenalkan diri kepada para peserta. Ia tahu siapa adanya mereka itu, akan tetapi hanya si brewok tinggi besar yang sombong itu dan pemuda yang tadi membelanya yang menjadi pusat perhatiannya. Si brewok itu bernama Kalinggo datang dari Blambangan, bahkan dia mengaku sebagai putera seorang senopati di Blambangan. Adapun pemuda yang jangkung agak kurus bermata tajam itu bernama Ngurah Pranawa, seorang peserta yang datang dari Bali-dwipa. Bukan orangnya yang menarik hati Retno Wilis untuk mendekatinya, melainkan asal mereka itulah. Ia hendak menyelidiki hubungan antara Nusabarung, Blambangan dan Bali-dwipa. Ia dapat memancing pembicaraan dengan Kalinggo tentang keadaan dirinya.
"Tentu aku yang akan menangkan sayembara ini," bual si tinggi besar brewok itu.
"Aku datang dari Blambangan, tentu akan mendapatkan kehormatan dan perhatian. Apalagi ayahku seorang senopati terkenal di Blambangan."
"Akan tetapi apa hubungannya antara ayahmu menjadi senopati di Blambangan dengan sayembara ini?" Retna Wilis mendesak dengan sikap sambil lalu untuk sekedar mengobrol saja.
"Hubungannya erat sekali!" kata Kalinggo.
"Nusabarung membutuhkan bantuan Blambangan, maka Sang Adipati tentu akan mempertimbangkan keadaanku dan akan lebih senang bermantukan seorang putera senopati Blambangan dari pada pemuda lain! Andika lihat saja nanti!"
Retna Wilis sudah merasa puas mendengar semua itu dan tidak bertanya lagi karena ia khawatir kalau-kalau pemuda sombong itu akan menjadi curiga, ia lalu mendekati Ngurah Pranawa yang mengaku sebagai seorang pemuda dari Bali-dwipa.
"Saudara Ngurah Pranawa, andika datang jauh dari Balidwipa. Ah, sudah lama aku mendengar tentang Bali-dwipa yang indah, akan tetapi belum pernah aku berkunjung ke sana. Siapakah yang duduk menjadi raja di tempat andika?"
"Di Bali-dwipa terdapat banyak raja yang menjadi sesembahan. Adapun yang berkuasa di tempat tinggal saya adalah Ki Gusti Ngurah Jelantik yang menjadi raja muda di Telibeng."
"Andika sendiri putera siapakah?"
"Ah, saya hanya putera seorang pendeta yang tinggal di lereng bukit, dan saya memang suka merantau. Dalam perantauan di sini aku mendengar tentang sayembara ini dan mencoba untuk mengikutinya. Siapa tahu para dewata menjodohkan saya dengan puteri Sang Adipati."
"Tentu ada hubungan dekat antara para raja di Bali-dwipa dengan Nusabarung, bukankah begitu, saudara Ngurah Pranawa?"
"Aku hanya mendengar bahwa Adipati di Nusabarung suka mengirim upeti setiap tahun kepada Dalem Bali (Sribaginda Raja di Bali), tentu ada hubungan antara Bali-dwipa dan Nusabarung. Akan tetapi mengapa andika menanyakan hal itu, saudara Joko Wilis?"
"Ah, hanya ingin tahu saja karena aku merasa heran mengapa andika jauh-jauh dari Bali-dwipa datang ke sini memasuki sayembara."

Karena pemuda dari Bali itu mulai tampak curiga, Retna Wilis tidak bertanya lebih lanjut. Pada saat itu terdengar bunyi gong dan seorang juru bicara berdiri di atas panggung, lalu berkata dengan suara lantang.
"Dengan ini kami mengumumkan atas nama Kanjeng Gusti Adipati bahwa jumlah peserta sayembara ada sepuluh orang. Dan kini dimulailah syarat pertama dari sayembara ini, yaitu mengangkat arca raksasa ini sampai melewati kepala. Dipersilakan para peserta untuk menguji kekuatan masing-masing satu demi satu. Kami akan memanggil nama peserta satu demi satu dan yang terpanggil namanya dipersilakan naik ke panggung dan memperlihatkan kekuatannya. Pertama kami panggil nama peserta Kalinggo dari Blambangan.”
Terdengar tepuk tangan dan sorak sorai menyambut Kalinggo yang melompat keatas panggung dengan gerakan yang ringan dan cekatan. Setelah tiba di atas panggung, Kalinggo menanggalkan baju bagian atas sehingga tampaklah tubuh atasnya yang kokoh kuat, dengan otot besar melingkar-lingkar. Dia memandang ke arah tempat duduk Dyah Candramanik seolah-olah hendak memamerkan otot-ototnya kepada dara jelita itu, akan tetapi Dyah Candramanik membuang muka, bahkan jijik melihat tubuh yang berotot dan dada bidang yang berambut itu. Dengan sikap pongah Kalinggo menghampiri arca batu sebesar tubuhnya itu, memegang dengan kedua tangannya dan mencoba beratnya dengan mengangkatnya sedikit. Kemudian dia memandang kembali ke arah Dyah Candramanik dan tersenyum. Setelah itu dia membungkuk, memegang arca itu dan mengerahkan tenaganya mengangkat dan ternyata dia bukan hanya membual belaka. Arca besar dan berat itu terangkat oleh kedua tangannya, diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya, lalu dibawanya berkeliling panggung itu, baru dia turunkan kembali ke tempatnya yang tadi. Tepuk sorak menyambutnya dan tampaknya dada raksasa muda brewok dari Blambangan itu semakin membesar dan membengkak. Dengan jari-jari tangannya, dia mengusap peluh yang membasahi leher dan dadanya.
"Peserta Kalinggo telah lulus dari ujian kekuatan. Harap turun dari panggung dan kami panggil nama peserta Purwanto dari Pasuruan!"
Dari bawah meloncat seorang pemuda yang juga bertubuh tinggi tegap seperti Raden Gatotkaca, dan para penonton juga menyambutnya dengan tepuk sorak. Pemuda ini membungkuk-bungkuk tanda menghormati semua orang yang menyambutnya dengan tepuk sorak, kemudian dia menghampiri arca raksasa tanpa membuka bajunya. Dia memeluk arca itu dan mengerahkan tenaganya. Arca terangkat, akan tetapi ketika dia hendak mengangkat arca itu ke atas kepalanya, kedua lengannya gemetar dan terpaksa dia melepaskan lagi arca itu ke atas panggung. Dia mencoba sekali lagi, akan tetapi kembali dia gagal. Ternyata tenaganya tidak cukup untuk mengangkat arca itu ke atas kepalanya! Dengan tersipu dia mendengarkan juru bicara mengumumkan bahwa dia gagal, lalu dia turun dari atas panggung. Penonton menyambutnya dengan tawa mengejek.
Berturut-turut para peserta dipersilakan naik dan akhirnya nama Joko Wilis dipanggil sebagai peserta terakhir. Kebanyakan dari para peserta gagal mengangkat arca itu dan yang berhasil hanya Kalinggo, Ngurah Pranawa dan dua orang lagi. Jadi empat orang sudah berhasil mengangkat arca itu di atas kepala.
"Kini peserta terakhir, Joko Wilis dari Gunung Wilis kami persilakan naik panggung!" demikian juru bicara mengumumkan.
Para peserta, baik yang berhasil maupun yang tidak, sudah tertawa sebelum Retna Wilis meloncat naik. Melihat betapa wajah mereka tertawa-tawa memandang kepadanya, makin panaslah hati Retno Wilis. Apa lagi mendengar Kalinggo berkata sambil menyeringai.
"Hati-hati, kawan. Jangan-jangan arca itu akan menghimpit tubuhmu sampai gepeng!"

Retna Wilis tidak memperdulikan lagi ejekan mereka, dan iapun meloncat ke atas panggung. Sambutan para penonton tidak jauh bedanya dari sambutan para peserta sayembara tadi. Banyak di antara penonton yang tertawa melihat pemuda remaja yang kelihatan lemah dengan kedua lengan kecil itu naik ke panggung.
"Heiii, bocah cilik begitu mau ikut-ikutan sayembara?" teriak seseorang.
"Bocah yang masih hijau! Lebih baik engkau pulang kepada ibumu!" ejek yang lain.
Para penonton banyak yang tertawa mendengar ini dan memandang kepada Retna Wilis dengan senyum mengejek atau senyum kasihan. Semua orang menduga bahwa pemuda remaja itu tentu tidak akan mampu mengangkat arca yang demikian beratnya. Lima orang di antara para peserta yang bertubuh kuat, dengan lengan yang besar berotot, tidak kuat mengangkat arca itu, apa lagi pemuda remaja yang kedua lengannya kecil dan tampak lemah itu. Makin diejek dan ditertawakan, makin panaslah hati Retna Wilis dan ia lupa bahwa ia mengikuti sayembara hanya sebagai sarana agar ia dapat melakukan penyelidikan dengan leluasa saja. Kini ia mengambil keputusan untuk memberi pelajaran kepada mereka semua yang mencemoohkannya dengan memperlihatkan kepandaiannya yang hebat! Biarlah, aku mengalahkan mereka semua dalam ujian kekuatan dan kepandaian memanah, baru nanti kalau diharuskan bertanding melawan Ki Wisokolo ia akan mengalah agar ia tidak lulus dalam sayembara itu!
Ia memandang ke sekeliling dan ketika pandang matanya bertemu dengan wajah Dyah Candramanik, ia melihat bahwa dara jelita itu sama sekali tidak ikut menertawakannya, bahkan memandang kepadanya dengan sinar mata tajam dan seolah mengandung harapan agar ia berhasil! Maka iapun membungkuk dengan hormat ke arah puteri itu. Hal ini menyenangkan hati Sang Adipati dan keluarganya yang mengira bahwa pemuda remaja itu memberi hormat kepada mereka. Seorang pemuda yang pandai membawa diri dan tahu sopan santun,’ pikir mereka.
Retna Wilis lalu menghampiri arca itu. Dengan kedua tangannya ia mencoba dulu berat arca itu. Karena hanya mengangkatnya sedikit saja, semua orang melihat bahwa dia seakan-akan tidak kuat mengangkatnya. Orang-orang sudah mulai tertawa-tawa lagi penuh ejekan. Akan tetapi, suara ejekan dan semua suara tiba-tiba terhenti sama sekali, semua mata terbelalak memandang ketika Retna Wilis mengangkat arca batu itu dengan sebelah tangan saja ke atas kepalanya!

<<< Bagian 09                                                                                          Bagian 11 >>>

No comments:

Post a Comment