Tiga orang perwira itu memandang heran kepada Retno Wilis ketika ia menghampiri meja. Mereka memandang penuh perhatian dan seorang di antara mereka bertanya.
"Orang
muda, engkau mau apakah?"
"Saya
hendak mendaftarkan diri sebagai peserta sayembara!" jawab Retno Wilis
dengan suara tegas.
Tiga orang
perwira itu saling pandang lalu mereka tertawa,
"Andika?
Hendak menjadi peserta sayembara? Eh, orang muda, apakah andika sudah tahu
syarat-syaratnya?"
"Sudah,
bukankah pertama mengangkat arca batu itu, dan kedua memanah sasaran di ujung
bambu itu?"
"Benar,
dan sesudah lulus dengan syarat-syarat itu, harus dapat bertahan menandingi Ki
Wisokolo sampai seribu hitungan!"
"Aku
sudah tahu."
"Dan
andika nekat mau ikut?"
"Benar."
Tiga orang
perwira itu agaknya merasa kasihan kepada pemuda remaja yang tampan ini, akan
tetapi karena pemuda itu nekat, merekapun hanya menggerakkan pundak mereka.
"Siapa
nama andika?" tanya seorang dari mereka yang bertugas mencatat nama-nama
para peserta.
"Namaku
Joko Wilis."
"Berasal
dari mana?"
"Dari
lereng Gunung Wilis."
"Baiklah,
nama andika sudah kami catat. Tunggu di sana seperti para peserta
lainnya."
Dengan girang
Retna Wilis lalu menuju ke bawah panggung di mana sudah berkumpul lima orang
pemuda lain. Mereka ini semua memiliki perawakan yang gagah, tinggi besar dan
nampak kokoh kuat. Ketika lima orang itu melihat Retno Wilis menghampiri mereka
ikut menunggu di situ, mereka memandang dengan terheran-heran.
"Eh, ki
sanak, apakah andika juga ikut menjadi peserta sayembara?” tanya seorang di
antara mereka yang mukanya penuh kumis jenggot cambang bertubuh tinggai besar
dan matanya terbelalak lebar."
"Benar,
ki sanak," jawab Retna Wilis sambil tersenyum.
"Ha-ha-ha-ha!"
Si brewok itu tertawa sambil berdongak sehingga perutnya turun naik ketika dia
tertawa.
"Ah,
kenapa andika begini nekat? Sayembara ini berat sekali. Baru mengangkat arca
itu saja, mana andika kuat? Jangan-jangan malah arca batu itu akan jatuh
menimpa tubuhmu sehingga gepeng, ha-ha-ha!" Empat orang peserta lainnya
ikut tertawa.
"Jangan
andika sekalian menertawakan kisanak ini. Siapa tahu di tubuhnya yang kecil
tersimpan kedigdayaan yang hebat!" tiba-tiba seorang pemuda yang baru saja
masuk berkata. Agaknya diapun seorang peserta baru yang mendaftarkan diri
sesudah Retna Wilis. Mendengar ucapan itu, Retna Wilis memandang dan ia melihat
seorang pemuda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun, tubuhnya jangkung agak
kurus, wajahnya biasa saja akan tetapi sepasang matanya bersinar tajam sekali.
Retna Wilis memandang kepadanya dengan berterima kasih. Akan tetapi hatinya
tetap merasa penasaran karena ia dijadikan bahan ejekan dan dipandang rendah.
Kalau tadinya ia berniat untuk menjadi peserta yang gagal, kini ia mengambil
keputusan untuk memperlihatkan kepada mereka semua bahwa ia dapat mengangkat
arca batu itu dengan mudah melebihi kekuatan mereka. Ia juga akan mengikuti
ujian memanah sampai berhasil. Masih belum terlambat baginya untuk mundur
setelah berhadapan dengan Ki Wisokolo, berpura-pura kalah.
Dengan
demikian ia tidak akan dicurigai dan akan dapat melakukan penyelidikan tentang
Nusabarung dengan leluasa. Setelah matahari naik tinggi, pendaftaran dihentikan
dan ternyata jumlah peserta yang mendaftarkan diri ada sepuluh orang. Setelah
pendaftaran ditutup, terdengar bunyi tetabuhan dan muncullah Sang Adipati
Martimpang bersama lima orang senopatinya dan di sampingnya berjalan isteri
pertamanya dan Dyah Candramanik. Sepuluh orang peserta sayembara itu memandang
kepada Dyah Candramanik dengan sinar mata kagum. Mereka berbisik-bisik memuji
dan munculnya dara jelita ini membuat semangat mereka menjadi semakin besar.
Retna Wilis
dalam kesempatan waktu menanti itu, secara sambil lalu memperkenalkan diri
kepada para peserta. Ia tahu siapa adanya mereka itu, akan tetapi hanya si
brewok tinggi besar yang sombong itu dan pemuda yang tadi membelanya yang
menjadi pusat perhatiannya. Si brewok itu bernama Kalinggo datang dari
Blambangan, bahkan dia mengaku sebagai putera seorang senopati di Blambangan.
Adapun pemuda yang jangkung agak kurus bermata tajam itu bernama Ngurah
Pranawa, seorang peserta yang datang dari Bali-dwipa. Bukan orangnya yang
menarik hati Retno Wilis untuk mendekatinya, melainkan asal mereka itulah. Ia
hendak menyelidiki hubungan antara Nusabarung, Blambangan dan Bali-dwipa. Ia
dapat memancing pembicaraan dengan Kalinggo tentang keadaan dirinya.
"Tentu
aku yang akan menangkan sayembara ini," bual si tinggi besar brewok itu.
"Aku
datang dari Blambangan, tentu akan mendapatkan kehormatan dan perhatian.
Apalagi ayahku seorang senopati terkenal di Blambangan."
"Akan
tetapi apa hubungannya antara ayahmu menjadi senopati di Blambangan dengan
sayembara ini?" Retna Wilis mendesak dengan sikap sambil lalu untuk
sekedar mengobrol saja.
"Hubungannya
erat sekali!" kata Kalinggo.
"Nusabarung
membutuhkan bantuan Blambangan, maka Sang Adipati tentu akan mempertimbangkan
keadaanku dan akan lebih senang bermantukan seorang putera senopati Blambangan
dari pada pemuda lain! Andika lihat saja nanti!"
Retna Wilis
sudah merasa puas mendengar semua itu dan tidak bertanya lagi karena ia
khawatir kalau-kalau pemuda sombong itu akan menjadi curiga, ia lalu mendekati
Ngurah Pranawa yang mengaku sebagai seorang pemuda dari Bali-dwipa.
"Saudara
Ngurah Pranawa, andika datang jauh dari Balidwipa. Ah, sudah lama aku mendengar
tentang Bali-dwipa yang indah, akan tetapi belum pernah aku berkunjung ke sana.
Siapakah yang duduk menjadi raja di tempat andika?"
"Di Bali-dwipa
terdapat banyak raja yang menjadi sesembahan. Adapun yang berkuasa di tempat
tinggal saya adalah Ki Gusti Ngurah Jelantik yang menjadi raja muda di
Telibeng."
"Andika
sendiri putera siapakah?"
"Ah, saya
hanya putera seorang pendeta yang tinggal di lereng bukit, dan saya memang suka
merantau. Dalam perantauan di sini aku mendengar tentang sayembara ini dan
mencoba untuk mengikutinya. Siapa tahu para dewata menjodohkan saya dengan
puteri Sang Adipati."
"Tentu
ada hubungan dekat antara para raja di Bali-dwipa dengan Nusabarung, bukankah
begitu, saudara Ngurah Pranawa?"
"Aku
hanya mendengar bahwa Adipati di Nusabarung suka mengirim upeti setiap tahun
kepada Dalem Bali (Sribaginda Raja di Bali), tentu ada hubungan antara
Bali-dwipa dan Nusabarung. Akan tetapi mengapa andika menanyakan hal itu,
saudara Joko Wilis?"
"Ah,
hanya ingin tahu saja karena aku merasa heran mengapa andika jauh-jauh dari
Bali-dwipa datang ke sini memasuki sayembara."
Karena pemuda
dari Bali itu mulai tampak curiga, Retna Wilis tidak bertanya lebih lanjut.
Pada saat itu terdengar bunyi gong dan seorang juru bicara berdiri di atas
panggung, lalu berkata dengan suara lantang.
"Dengan
ini kami mengumumkan atas nama Kanjeng Gusti Adipati bahwa jumlah peserta
sayembara ada sepuluh orang. Dan kini dimulailah syarat pertama dari sayembara
ini, yaitu mengangkat arca raksasa ini sampai melewati kepala. Dipersilakan
para peserta untuk menguji kekuatan masing-masing satu demi satu. Kami akan
memanggil nama peserta satu demi satu dan yang terpanggil namanya dipersilakan
naik ke panggung dan memperlihatkan kekuatannya. Pertama kami panggil nama
peserta Kalinggo dari Blambangan.”
Terdengar
tepuk tangan dan sorak sorai menyambut Kalinggo yang melompat keatas panggung
dengan gerakan yang ringan dan cekatan. Setelah tiba di atas panggung, Kalinggo
menanggalkan baju bagian atas sehingga tampaklah tubuh atasnya yang kokoh kuat,
dengan otot besar melingkar-lingkar. Dia memandang ke arah tempat duduk Dyah
Candramanik seolah-olah hendak memamerkan otot-ototnya kepada dara jelita itu,
akan tetapi Dyah Candramanik membuang muka, bahkan jijik melihat tubuh yang
berotot dan dada bidang yang berambut itu. Dengan sikap pongah Kalinggo
menghampiri arca batu sebesar tubuhnya itu, memegang dengan kedua tangannya dan
mencoba beratnya dengan mengangkatnya sedikit. Kemudian dia memandang kembali
ke arah Dyah Candramanik dan tersenyum. Setelah itu dia membungkuk, memegang
arca itu dan mengerahkan tenaganya mengangkat dan ternyata dia bukan hanya
membual belaka. Arca besar dan berat itu terangkat oleh kedua tangannya,
diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya, lalu dibawanya berkeliling
panggung itu, baru dia turunkan kembali ke tempatnya yang tadi. Tepuk sorak
menyambutnya dan tampaknya dada raksasa muda brewok dari Blambangan itu semakin
membesar dan membengkak. Dengan jari-jari tangannya, dia mengusap peluh yang
membasahi leher dan dadanya.
"Peserta
Kalinggo telah lulus dari ujian kekuatan. Harap turun dari panggung dan kami
panggil nama peserta Purwanto dari Pasuruan!"
Dari bawah
meloncat seorang pemuda yang juga bertubuh tinggi tegap seperti Raden
Gatotkaca, dan para penonton juga menyambutnya dengan tepuk sorak. Pemuda ini
membungkuk-bungkuk tanda menghormati semua orang yang menyambutnya dengan tepuk
sorak, kemudian dia menghampiri arca raksasa tanpa membuka bajunya. Dia memeluk
arca itu dan mengerahkan tenaganya. Arca terangkat, akan tetapi ketika dia
hendak mengangkat arca itu ke atas kepalanya, kedua lengannya gemetar dan
terpaksa dia melepaskan lagi arca itu ke atas panggung. Dia mencoba sekali
lagi, akan tetapi kembali dia gagal. Ternyata tenaganya tidak cukup untuk
mengangkat arca itu ke atas kepalanya! Dengan tersipu dia mendengarkan juru
bicara mengumumkan bahwa dia gagal, lalu dia turun dari atas panggung. Penonton
menyambutnya dengan tawa mengejek.
Berturut-turut
para peserta dipersilakan naik dan akhirnya nama Joko Wilis dipanggil sebagai
peserta terakhir. Kebanyakan dari para peserta gagal mengangkat arca itu dan
yang berhasil hanya Kalinggo, Ngurah Pranawa dan dua orang lagi. Jadi empat
orang sudah berhasil mengangkat arca itu di atas kepala.
"Kini
peserta terakhir, Joko Wilis dari Gunung Wilis kami persilakan naik
panggung!" demikian juru bicara mengumumkan.
Para peserta,
baik yang berhasil maupun yang tidak, sudah tertawa sebelum Retna Wilis
meloncat naik. Melihat betapa wajah mereka tertawa-tawa memandang kepadanya,
makin panaslah hati Retno Wilis. Apa lagi mendengar Kalinggo berkata sambil
menyeringai.
"Hati-hati,
kawan. Jangan-jangan arca itu akan menghimpit tubuhmu sampai gepeng!"
Retna Wilis
tidak memperdulikan lagi ejekan mereka, dan iapun meloncat ke atas panggung.
Sambutan para penonton tidak jauh bedanya dari sambutan para peserta sayembara
tadi. Banyak di antara penonton yang tertawa melihat pemuda remaja yang
kelihatan lemah dengan kedua lengan kecil itu naik ke panggung.
"Heiii,
bocah cilik begitu mau ikut-ikutan sayembara?" teriak seseorang.
"Bocah
yang masih hijau! Lebih baik engkau pulang kepada ibumu!" ejek yang lain.
Para penonton
banyak yang tertawa mendengar ini dan memandang kepada Retna Wilis dengan
senyum mengejek atau senyum kasihan. Semua orang menduga bahwa pemuda remaja
itu tentu tidak akan mampu mengangkat arca yang demikian beratnya. Lima orang
di antara para peserta yang bertubuh kuat, dengan lengan yang besar berotot,
tidak kuat mengangkat arca itu, apa lagi pemuda remaja yang kedua lengannya
kecil dan tampak lemah itu. Makin diejek dan ditertawakan, makin panaslah hati
Retna Wilis dan ia lupa bahwa ia mengikuti sayembara hanya sebagai sarana agar
ia dapat melakukan penyelidikan dengan leluasa saja. Kini ia mengambil
keputusan untuk memberi pelajaran kepada mereka semua yang mencemoohkannya
dengan memperlihatkan kepandaiannya yang hebat! Biarlah, aku mengalahkan mereka
semua dalam ujian kekuatan dan kepandaian memanah, baru nanti kalau diharuskan
bertanding melawan Ki Wisokolo ia akan mengalah agar ia tidak lulus dalam
sayembara itu!
Ia memandang
ke sekeliling dan ketika pandang matanya bertemu dengan wajah Dyah Candramanik,
ia melihat bahwa dara jelita itu sama sekali tidak ikut menertawakannya, bahkan
memandang kepadanya dengan sinar mata tajam dan seolah mengandung harapan agar
ia berhasil! Maka iapun membungkuk dengan hormat ke arah puteri itu. Hal ini
menyenangkan hati Sang Adipati dan keluarganya yang mengira bahwa pemuda remaja
itu memberi hormat kepada mereka. Seorang pemuda yang pandai membawa diri dan
tahu sopan santun,’ pikir mereka.
Retna Wilis
lalu menghampiri arca itu. Dengan kedua tangannya ia mencoba dulu berat arca itu.
Karena hanya mengangkatnya sedikit saja, semua orang melihat bahwa dia
seakan-akan tidak kuat mengangkatnya. Orang-orang sudah mulai tertawa-tawa lagi
penuh ejekan. Akan tetapi, suara ejekan dan semua suara tiba-tiba terhenti sama
sekali, semua mata terbelalak memandang ketika Retna Wilis mengangkat arca batu
itu dengan sebelah tangan saja ke atas kepalanya!
<<< Bagian 09 Bagian 11 >>>
No comments:
Post a Comment