Sepasang Garuda Putih ; Bagian 20


"Seminggu yang lalu, kami kedatangan tamu. Dia itu utusan Ki Demang yang berkuasa di dusun Grobokan ini. Dan kedatangannya itu adalah untuk meminang Lasmini yang akan dijadikan isteri ke enam Ki Demang."
"Hemm, lalu bagaimana engkau menjawab. Paman Dirun?"
"Menolak dengan keras tentu saja aku tidak berani, denmas Harjadenta. Akan tetapi, menerima pinangan itupun tentu saja kami tidak bisa karena anakku telah bertunangan. Maka kami hanya memberitahu kepada utusan itu bahwa Lasmini telah bertunangan dan bulan depan akan menikah. Kami minta dengan hormat kepada utusan itu agar memberitahukan hal ini kepada Ki Demang."
"Lalu bagaimana kata mereka?"
"Utusan itu kelihatan tidak senang dan mengatakan bahwa dia memberi waktu sepekan kepada kami untuk menyatakan menerima atau menolak pinangan itu. Kami khawatir sekali, denmas. Ki Demang terkenal galak dan mempunyai banyak tukang pukul. Kami khawatir dia akan memaksa kami agar memenuhi permintaannya itu."
"Kalau begitu sebaiknya pernikahan anakmu itu dipercepat saja, paman. Kalau anakmu sudah menikah tentu Ki Demang itu tidak akan dapat memaksa."

Dirun menghela napas panjang.
"Mudah-mudahan saja begitu, akan tatapi kami merasa khawatir sekali. Ki Demang itu terkenal mata keranjang. Dulu, lima tahun yang lalu dia tergila-gila kepada seorang wanita yang sudah bersuami. Entah bagaimana, tiba-tiba saja suami wanita itu meninggal dunia tanpa sakit, dan jandanya segera diambil sebagai isteri ke empat oleh Ki Demang. Ah, betapa gelisah hati kami. Kalau saja anak kami tidak cantik, tentu tidak akan ada malapetaka yang menimpa kami. Apa yang harus kami lakukan, denmas?"
"Apakah paman sudah memberitahukan hal ini kepada tunangan anak paman? Siapa nama calon mantu itu, paman?"
"Namanya Martono, diapun hanya seorang petani biasa, dan kami sudah menceritakan kepadanya, akan tetapi diapun tidak dapat berdaya. Maklum rakyat kecil, kami dapat berbuat apakah terhadap Ki Demang?"
"Utusan Ki Demang itu mengatakan akan kembali sepekan lagi? Kapankah itu, paman Dirun?"
"Tepat pada hari ini, denmas. Sejak pagi hatiku sudah tidak karuan rasanya karena hari ini dia akan kembali."
"Dan apa yang akan kaukatakan nanti?"
"Aku akan berterus terang saja, denmas, bahwa pernikahan anakku dengan Martono akan kami laksanakan dua pekan lagi sehingga kami terpaksa tidak dapat melaksanakan perintah Ki Demang."
"Bagus, paman. Memang begitulah seharusnya jawabanmu."
"Akan tetapi kami khawatir ... aku takut ... "
"Jangan takut, paman. Ada aku di sini, dan akulah yang akan mencegah kalau mereka akan melakukan kekerasan."

Melihat sikap yang tegas dari pemuda tampan gagah itu, Ki Dirun merasa agak lega, akan tetapi dia tetap was-was mengingat bahwa Ki Demang merupakan orang yang paling berkuasa di dusun itu. Seorang wanita setengah tua keluar bersama Lasmini menghidangkan air teh dan ubi rebus. Dirun memperkenalkan isterinya kepada Harjadenta yang cepat memberi hormat.
"Bibi, aku sudah mendengar semua cerita Paman Dirun tentang adik Lasmini dan utusan Ki Demang. Harap bibi, dan juga andika, adik Lasmini, tidak khawatir. Akulah yang akan menghadapi mereka kalau mereka menggunakan kekerasan. Sukur kalau mereka mau mengerti dan mengurungkan pinangan paksaan itu."
Isteri Ki Dirun mengucapkan terima kasih dan Lasminpun hanya mengangguk ke arah Harjadenta sambil tersenyum kecil. Kemudian kedua orang ibu dan anak itu masuk lagi ke dalam rumah. Mereka berdua lalu makan minum sambil bercakap-cakap. Matahari sudah mulai condong ke barat dan tiba-tiba Ki Dirun tampak gelisah sekali sambil memandang kedepan. Harjadenta juga memandang dan melihat dua orang laki-laki berpakaian mewah memasuki pelataran rumah itu. Sikap mereka angkuh dan garang, dan Ki Dirun cepat bangkit dari tempat duduknya ketika melihat mereka, sambil membungkuk menanti mereka dengan sikap takut-takut.
"Silakan duduk dan terimalah suguhan kami yang sederhana, denmas berdua," katanya sambil mempersilakan dua orang itu duduk di dipan bambu dengan mengacungkan ibu jarinya dengan sikap hormat sekali.
Dua orang utusan itu keduanya bertubuh gendut. Yang seorang memiliki kumis melintang seperti tanduk, dan orang kedua memiliki hidung besar sekali. Si kumis melintang meraba-raba kumisnya dan si hidung besar mendengus dengan hidungnya, tidak menghargai sikap Dirun yang demikian merendah dan penuh hormat.
"Kami datang bukan untuk minum wedangmu dan makan ubimu. Heh, Pak Dirun, siapa pemuda ini? Calon mantumukah?"
"Bukan, aku bukan calon mantu Paman Dirun, melainkan seorang keponakannya." jawab Harjadenta sambil bangkit berdiri memandang kedua orang itu.
"Hei Dirun!" kata lagi si kumis melintang sambil melotot ke arah tuan rumah.
"Kami datang untuk mendengar jawabanmu atas pinangan Juragan kami kepada anakmu. Bagaimana?"
"Ampun, denmas. Bagaimana saya dapat memenuhi permintaan Ki Demang yang terhormat ? Anak kami itu, dua pekan lagi sudah akan menikah."
"Hah? Menikah? Dengan siapa?"
"Dengan Martono, pemuda yang tinggal di ujung dusun ini."
"Kalau begitu, berani engkau menolak pinangan Ki Demang? Petani busuk, apakah nyawamu rangkap maka engkau berani membantah perintah Ki Demang?" Bentak si hidung besar dengan suara agak sengau.
"Dirun, kamu harus menyerahkan Lasmini sekarang juga kepada Ki Demang atau terpaksa kami harus menggunakan kekerasan, menangkap engkau sekeluarga dan merampas Lasmini untuk menjadi selir Ki Demang!"
Saking takutnya, Dirun tidak dapat berkata apa-apa lagi, hanya menunduk dengan muka pucat dan tubuh gemetar. Melihat ini, Harjadenta lalu melangkah maju dan menudingkan telunjuknya kepada kedua orang itu.
"Heh, kalian utusan Ki Demang! Tidak ada aturannya di dunia ini untuk memaksa orang menyerahkan anak gadisnya. Kalian bersikap melebihi perampok saja!"

Dua orang utusan Ki Demang itu hampir tidak dapat percaya kepada telinganya sendiri. Mana mungkin ada orang berani bicara seperti itu kepada mereka, dua orang kepercayaan Ki Demang, orang yang paling berkuasa di Grobokan? Dengan muka merah dan mata melotot mereka memandang kepada Harjadenta dan si kumis melintang sudah melangkah maju menghampiri Harjadenta dengan marah.
"Bocah setan, berani kau berkata demikian kepadaku?"
Setelah berkata demikian, tangan kanannya menyambar untuk menampar muka pemuda itu. Akan tetapi Harjadenta yang juga sudah marah menyaksikan sikap mereka, menangkap pergelangan tangan kanan yang besar itu dan sekali putar, lengan itu sudah dipuntir ke belakang punggung.
"Pergilah!" bentak Harjadenta dan sekali dia mendorong dengan kuatnya, tubuh si kumis melintang itu terdorong dan jatuh menelungkup dengan kuatnya. Dia terbanting dan perutnya yang lebih dulu menimpa tanah. Perut yang gendut itu terbanting keras, membuat dia terengah-engah dan merangkak bangun dengan susah payah.
Si hidung besar marah bukan main. Dia lalu menerjang dengan pukulan tangan kanannya ke arah muka Harjadenta. Akan tetapi pemuda inipun memperlakukan dia seperti kawannya tadi, lengannya ditangkap dipuntir lalu didorong kuat. Si hidung besar terdorong ke depan dan jatuh menelungkup dan sial baginya, yang mengenai tanah lebih dulu adalah hidungnya yang besar sehingga hidung itu bercucuran darah ketika dengan terengah-engah dia mencoba untuk bangkit berdiri. Agaknya dua orang itu hanya lagaknya saja yang besar dan galak. Begitu bertemu lawan yang kuat, mereka sudah menjadi jerih. Sambil mundur-mundur mereka berdua memaki-maki.
"Bangsat? Keparat! Tunggu engkau akan pembalasan kami!"
Dan setelah memaki, mereka takut kalau-kalau pemuda itu akan mengejar maka mereka lalu melarikan diri pontang panting meninggalkan rumah Dirun. Dirun dan isteri serta anaknya yang keluar mendengar ribut-ribut, tidak menjadi gembira oleh pertolongan Harjadenta. Bahkan mereka menjadi pucat dan ketakutan.
"Aduh, bagaimana ini, denmas! Mereka tentu akan datang bersama tukang-tukang pukul Ki Demang dan celakalah kita!" kata Dirun, isteri dan anak perempuannya saling rangkul dan menangis ketakutan.
"Paman, bibi dan engkau Lasmini, sudah jangan menangis. Tenanglah saja. Di sini ada aku yang bertanggung jawab. Aku yang memukul, bukan kalian dan aku akan rampungkan urusan ini sampai tuntas. Sekarang jangan bingung, Paman Dirun. Engkau pergilah kepada calon mantumu, ajak dia dan orang tuanya mengungsi ke sini karena aku khawatir kalau dia akan diganggu oleh mereka."
"Dia hanya tinggal berdua dengan ibunya yang sudah janda, denmas." kata Dirun.
"Lebih baik lagi kalau begitu. Panggil nereka berdua ke sini agar mudah aku melindungi kalian. Dan andika, bibi dan adik Lasmini, masuklah ke dalam dan jangan keluar kalau mendengar suara ribut-ribut. Percayalah, aku yang akan menanggulangi semua urusan ini."

Ki Dirun lalu pergi untuk memanggil calon mantunya, sedangkan Lasmini dan ibunya segera bersembunyi ke dalam kamar mereka. Harjadenta dengan sikap tenang duduk kembali ke atas dipan bambu dan makan ubi rebus. Dia maklum bahwa sikapnya menentang utusan Ki Demang tadi tentu akan berekor dan mungkin benar sangkaan Ki Dirun bahwa mereka akan datang lagi membawa tukang-tukang pukul. Akan tetapi Harjadenta sudah mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada mereka. Tak lama kemudian Ki Dirun sudah kembali bersama calon mantunya, Martono, seorang pemuda petani yang bertubuh tegap berkulit kecoklatan karena terbakar sinar matahari bersama ibunya yang sudah setengah tua. Harjadenta menyuruh mereka berdua masuk pula ke dalam rumah dan hanya Ki Dirun yang menemaninya di luar rumah, menanti apa yang akan datang dengan tenangnya.
"Denmas Harjadenta, sesungguhnya kami merasa tidak enak sekali kepadamu. Kami telah membuat denmas repot dan menghadapi bahaya. Kalau sampai denmas terseret dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sungguh kami akan merasa menyesal sekali."
"Ah, paman. Harap jangan berkata demikian. Semua ini terjadi karena kehendakku. Aku tidak suka melihat perbuatan sewenang-wenang. Harap jangan khawatir, paman. Aku yang akan menyelesaikan urusan ini."
Tiba-tiba tampak dua orang gendut utusan Ki Demang tadi memasuki pekarangan rumah itu, diikuti oleh lima orang laki-laki yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun, bertubuh tinggi besar dan bersikap bengis.
"Itulah dia! Itulah jahanam yang telah berani memukuli kami. Kalian hajarlah dia!" kata si kumis melintang kepada lima orang itu sambil menunjuk kepada Harjadenta.
Harjadenta sudah bangkit berdiri dan keluar menyambut mereka. Lima orang itu agaknya memandang rendah kepada pemuda yang lembut itu, dan mereka segera mengepungnya.
"Orang muda, siapakah engkau yang telah berani memukuli utusan Ki Demang?" tanya seorang di antara lima orang tukang pukul itu sambil bertolak pinggang.
"Namaku Harjadenta. Aku berani memukuli mereka karena mereka bertindak sewenang-wenang terhadap Paman Dirun." jawab Harjadenta dengan tenang.
"Babo-babo, keparat! Sekarang cepatlah engkau berlutut dan minta ampun kepada mereka berdua atau terpaksa kami berlima akan memberi hajaran kepadamu." kata pula orang itu dengan lagak sombong.
"Hemm, kenapa aku yang harus minta ampun? Semestinya mereka berdua yang harus minta ampun kepada Paman Dirun sekeluarganya." jawab Harjadenta tegas.
"Apa? Engkau berani membantah kami? Rasakan ini!" kata orang itu sambil menggerakkan tangan kanannya menampar ke arah pipi Harjadenta.

Tamparan itu cepat dan kuat sekali, tanda bahwa penampar itu memiliki tenaga yang kuat. Akan tetapi tentu saja Harjadenta tidak rnenghendaki pipinya ditampar orang. Hanya dengan menarik tubuh atas ke belakang saja, tamparan itu luput.
"Ehhh ... ??" Tukang pukul itu marah dan penasaran sekali, dan dia lalu menerjang maju dengan pukulan-pukulan kedua tangannya. Melihat ini Harjadenta cepat menggerakkan tangannya, yang kiri menangkis dan yang kanan mendorong ke arah dada penyerangnya itu.
"Plak ... bukkk ... !" Tukang pukul itu terjengkang keras dan roboh terbanting.
Tentu saja empat orang kawannya menjadi marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi mereka serentak menyerang Harjadenta dari empat penjuru. Bahkan orang pertama yang tadi roboh kini sudah bangkit kembali dan ikut pula menyerang.
Akan tetapi Harjadenta tidak merasa gentar sedikitpun. Tenaga para tukang pukul yang besar itu baginya biasa saja, bahkan baginya mereka itu bergerak dengan amat lamban. Dengan mudah dia berloncatan ke sana sini untuk mengelak dari serangan mereka, dan kadang ditangkisnya. Dan setiap kali dia menangkis, para tukang pukul itu tentu menyeringai kesakitan, merasa betapa lengannya seperti bertemu dengan sepotong linggis besi!
Sementara itu, Ki Dirun yang menonton perkelahian itu, hanya dapat berdiri dengan muka pucat dan tubuh gemetaran. Tentu saja dia khawatir sekali kalau penolongnya kalah.

<<< Bagian 19                                                                                          Bagian 21 >>>

No comments:

Post a Comment