"Seminggu yang lalu, kami kedatangan tamu. Dia itu utusan Ki Demang yang berkuasa di dusun Grobokan ini. Dan kedatangannya itu adalah untuk meminang Lasmini yang akan dijadikan isteri ke enam Ki Demang."
"Hemm,
lalu bagaimana engkau menjawab. Paman Dirun?"
"Menolak
dengan keras tentu saja aku tidak berani, denmas Harjadenta. Akan tetapi,
menerima pinangan itupun tentu saja kami tidak bisa karena anakku telah
bertunangan. Maka kami hanya memberitahu kepada utusan itu bahwa Lasmini telah
bertunangan dan bulan depan akan menikah. Kami minta dengan hormat kepada
utusan itu agar memberitahukan hal ini kepada Ki Demang."
"Lalu
bagaimana kata mereka?"
"Utusan itu
kelihatan tidak senang dan mengatakan bahwa dia memberi waktu sepekan kepada
kami untuk menyatakan menerima atau menolak pinangan itu. Kami khawatir sekali,
denmas. Ki Demang terkenal galak dan mempunyai banyak tukang pukul. Kami
khawatir dia akan memaksa kami agar memenuhi permintaannya itu."
"Kalau
begitu sebaiknya pernikahan anakmu itu dipercepat saja, paman. Kalau anakmu
sudah menikah tentu Ki Demang itu tidak akan dapat memaksa."
Dirun menghela
napas panjang.
"Mudah-mudahan
saja begitu, akan tatapi kami merasa khawatir sekali. Ki Demang itu terkenal
mata keranjang. Dulu, lima tahun yang lalu dia tergila-gila kepada seorang
wanita yang sudah bersuami. Entah bagaimana, tiba-tiba saja suami wanita itu
meninggal dunia tanpa sakit, dan jandanya segera diambil sebagai isteri ke
empat oleh Ki Demang. Ah, betapa gelisah hati kami. Kalau saja anak kami tidak
cantik, tentu tidak akan ada malapetaka yang menimpa kami. Apa yang harus kami
lakukan, denmas?"
"Apakah
paman sudah memberitahukan hal ini kepada tunangan anak paman? Siapa nama calon
mantu itu, paman?"
"Namanya
Martono, diapun hanya seorang petani biasa, dan kami sudah menceritakan
kepadanya, akan tetapi diapun tidak dapat berdaya. Maklum rakyat kecil, kami
dapat berbuat apakah terhadap Ki Demang?"
"Utusan
Ki Demang itu mengatakan akan kembali sepekan lagi? Kapankah itu, paman
Dirun?"
"Tepat
pada hari ini, denmas. Sejak pagi hatiku sudah tidak karuan rasanya karena hari
ini dia akan kembali."
"Dan apa
yang akan kaukatakan nanti?"
"Aku akan
berterus terang saja, denmas, bahwa pernikahan anakku dengan Martono akan kami
laksanakan dua pekan lagi sehingga kami terpaksa tidak dapat melaksanakan
perintah Ki Demang."
"Bagus,
paman. Memang begitulah seharusnya jawabanmu."
"Akan
tetapi kami khawatir ... aku takut ... "
"Jangan
takut, paman. Ada aku di sini, dan akulah yang akan mencegah kalau mereka akan
melakukan kekerasan."
Melihat sikap
yang tegas dari pemuda tampan gagah itu, Ki Dirun merasa agak lega, akan tetapi
dia tetap was-was mengingat bahwa Ki Demang merupakan orang yang paling
berkuasa di dusun itu. Seorang wanita setengah tua keluar bersama Lasmini
menghidangkan air teh dan ubi rebus. Dirun memperkenalkan isterinya kepada
Harjadenta yang cepat memberi hormat.
"Bibi,
aku sudah mendengar semua cerita Paman Dirun tentang adik Lasmini dan utusan Ki
Demang. Harap bibi, dan juga andika, adik Lasmini, tidak khawatir. Akulah yang
akan menghadapi mereka kalau mereka menggunakan kekerasan. Sukur kalau mereka
mau mengerti dan mengurungkan pinangan paksaan itu."
Isteri Ki
Dirun mengucapkan terima kasih dan Lasminpun hanya mengangguk ke arah
Harjadenta sambil tersenyum kecil. Kemudian kedua orang ibu dan anak itu masuk
lagi ke dalam rumah. Mereka berdua lalu makan minum sambil bercakap-cakap.
Matahari sudah mulai condong ke barat dan tiba-tiba Ki Dirun tampak gelisah
sekali sambil memandang kedepan. Harjadenta juga memandang dan melihat dua
orang laki-laki berpakaian mewah memasuki pelataran rumah itu. Sikap mereka
angkuh dan garang, dan Ki Dirun cepat bangkit dari tempat duduknya ketika
melihat mereka, sambil membungkuk menanti mereka dengan sikap takut-takut.
"Silakan
duduk dan terimalah suguhan kami yang sederhana, denmas berdua," katanya
sambil mempersilakan dua orang itu duduk di dipan bambu dengan mengacungkan ibu
jarinya dengan sikap hormat sekali.
Dua orang
utusan itu keduanya bertubuh gendut. Yang seorang memiliki kumis melintang
seperti tanduk, dan orang kedua memiliki hidung besar sekali. Si kumis
melintang meraba-raba kumisnya dan si hidung besar mendengus dengan hidungnya,
tidak menghargai sikap Dirun yang demikian merendah dan penuh hormat.
"Kami
datang bukan untuk minum wedangmu dan makan ubimu. Heh, Pak Dirun, siapa pemuda
ini? Calon mantumukah?"
"Bukan,
aku bukan calon mantu Paman Dirun, melainkan seorang keponakannya." jawab
Harjadenta sambil bangkit berdiri memandang kedua orang itu.
"Hei
Dirun!" kata lagi si kumis melintang sambil melotot ke arah tuan rumah.
"Kami
datang untuk mendengar jawabanmu atas pinangan Juragan kami kepada anakmu.
Bagaimana?"
"Ampun,
denmas. Bagaimana saya dapat memenuhi permintaan Ki Demang yang terhormat ?
Anak kami itu, dua pekan lagi sudah akan menikah."
"Hah?
Menikah? Dengan siapa?"
"Dengan
Martono, pemuda yang tinggal di ujung dusun ini."
"Kalau
begitu, berani engkau menolak pinangan Ki Demang? Petani busuk, apakah nyawamu
rangkap maka engkau berani membantah perintah Ki Demang?" Bentak si hidung
besar dengan suara agak sengau.
"Dirun,
kamu harus menyerahkan Lasmini sekarang juga kepada Ki Demang atau terpaksa
kami harus menggunakan kekerasan, menangkap engkau sekeluarga dan merampas
Lasmini untuk menjadi selir Ki Demang!"
Saking
takutnya, Dirun tidak dapat berkata apa-apa lagi, hanya menunduk dengan muka
pucat dan tubuh gemetar. Melihat ini, Harjadenta lalu melangkah maju dan
menudingkan telunjuknya kepada kedua orang itu.
"Heh,
kalian utusan Ki Demang! Tidak ada aturannya di dunia ini untuk memaksa orang
menyerahkan anak gadisnya. Kalian bersikap melebihi perampok saja!"
Dua orang
utusan Ki Demang itu hampir tidak dapat percaya kepada telinganya sendiri. Mana
mungkin ada orang berani bicara seperti itu kepada mereka, dua orang
kepercayaan Ki Demang, orang yang paling berkuasa di Grobokan? Dengan muka
merah dan mata melotot mereka memandang kepada Harjadenta dan si kumis melintang
sudah melangkah maju menghampiri Harjadenta dengan marah.
"Bocah
setan, berani kau berkata demikian kepadaku?"
Setelah
berkata demikian, tangan kanannya menyambar untuk menampar muka pemuda itu.
Akan tetapi Harjadenta yang juga sudah marah menyaksikan sikap mereka,
menangkap pergelangan tangan kanan yang besar itu dan sekali putar, lengan itu
sudah dipuntir ke belakang punggung.
"Pergilah!"
bentak Harjadenta dan sekali dia mendorong dengan kuatnya, tubuh si kumis
melintang itu terdorong dan jatuh menelungkup dengan kuatnya. Dia terbanting
dan perutnya yang lebih dulu menimpa tanah. Perut yang gendut itu terbanting
keras, membuat dia terengah-engah dan merangkak bangun dengan susah payah.
Si hidung
besar marah bukan main. Dia lalu menerjang dengan pukulan tangan kanannya ke
arah muka Harjadenta. Akan tetapi pemuda inipun memperlakukan dia seperti
kawannya tadi, lengannya ditangkap dipuntir lalu didorong kuat. Si hidung besar
terdorong ke depan dan jatuh menelungkup dan sial baginya, yang mengenai tanah
lebih dulu adalah hidungnya yang besar sehingga hidung itu bercucuran darah
ketika dengan terengah-engah dia mencoba untuk bangkit berdiri. Agaknya dua
orang itu hanya lagaknya saja yang besar dan galak. Begitu bertemu lawan yang
kuat, mereka sudah menjadi jerih. Sambil mundur-mundur mereka berdua
memaki-maki.
"Bangsat?
Keparat! Tunggu engkau akan pembalasan kami!"
Dan setelah
memaki, mereka takut kalau-kalau pemuda itu akan mengejar maka mereka lalu
melarikan diri pontang panting meninggalkan rumah Dirun. Dirun dan isteri serta
anaknya yang keluar mendengar ribut-ribut, tidak menjadi gembira oleh
pertolongan Harjadenta. Bahkan mereka menjadi pucat dan ketakutan.
"Aduh,
bagaimana ini, denmas! Mereka tentu akan datang bersama tukang-tukang pukul Ki
Demang dan celakalah kita!" kata Dirun, isteri dan anak perempuannya
saling rangkul dan menangis ketakutan.
"Paman,
bibi dan engkau Lasmini, sudah jangan menangis. Tenanglah saja. Di sini ada aku
yang bertanggung jawab. Aku yang memukul, bukan kalian dan aku akan rampungkan
urusan ini sampai tuntas. Sekarang jangan bingung, Paman Dirun. Engkau pergilah
kepada calon mantumu, ajak dia dan orang tuanya mengungsi ke sini karena aku
khawatir kalau dia akan diganggu oleh mereka."
"Dia
hanya tinggal berdua dengan ibunya yang sudah janda, denmas." kata Dirun.
"Lebih
baik lagi kalau begitu. Panggil nereka berdua ke sini agar mudah aku melindungi
kalian. Dan andika, bibi dan adik Lasmini, masuklah ke dalam dan jangan keluar
kalau mendengar suara ribut-ribut. Percayalah, aku yang akan menanggulangi
semua urusan ini."
Ki Dirun lalu
pergi untuk memanggil calon mantunya, sedangkan Lasmini dan ibunya segera
bersembunyi ke dalam kamar mereka. Harjadenta dengan sikap tenang duduk kembali
ke atas dipan bambu dan makan ubi rebus. Dia maklum bahwa sikapnya menentang
utusan Ki Demang tadi tentu akan berekor dan mungkin benar sangkaan Ki Dirun
bahwa mereka akan datang lagi membawa tukang-tukang pukul. Akan tetapi
Harjadenta sudah mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada mereka. Tak
lama kemudian Ki Dirun sudah kembali bersama calon mantunya, Martono, seorang
pemuda petani yang bertubuh tegap berkulit kecoklatan karena terbakar sinar
matahari bersama ibunya yang sudah setengah tua. Harjadenta menyuruh mereka
berdua masuk pula ke dalam rumah dan hanya Ki Dirun yang menemaninya di luar
rumah, menanti apa yang akan datang dengan tenangnya.
"Denmas
Harjadenta, sesungguhnya kami merasa tidak enak sekali kepadamu. Kami telah
membuat denmas repot dan menghadapi bahaya. Kalau sampai denmas terseret dan
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sungguh kami akan merasa menyesal
sekali."
"Ah,
paman. Harap jangan berkata demikian. Semua ini terjadi karena kehendakku. Aku
tidak suka melihat perbuatan sewenang-wenang. Harap jangan khawatir, paman. Aku
yang akan menyelesaikan urusan ini."
Tiba-tiba
tampak dua orang gendut utusan Ki Demang tadi memasuki pekarangan rumah itu,
diikuti oleh lima orang laki-laki yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun,
bertubuh tinggi besar dan bersikap bengis.
"Itulah
dia! Itulah jahanam yang telah berani memukuli kami. Kalian hajarlah dia!"
kata si kumis melintang kepada lima orang itu sambil menunjuk kepada
Harjadenta.
Harjadenta
sudah bangkit berdiri dan keluar menyambut mereka. Lima orang itu agaknya
memandang rendah kepada pemuda yang lembut itu, dan mereka segera mengepungnya.
"Orang
muda, siapakah engkau yang telah berani memukuli utusan Ki Demang?" tanya
seorang di antara lima orang tukang pukul itu sambil bertolak pinggang.
"Namaku
Harjadenta. Aku berani memukuli mereka karena mereka bertindak sewenang-wenang
terhadap Paman Dirun." jawab Harjadenta dengan tenang.
"Babo-babo,
keparat! Sekarang cepatlah engkau berlutut dan minta ampun kepada mereka berdua
atau terpaksa kami berlima akan memberi hajaran kepadamu." kata pula orang
itu dengan lagak sombong.
"Hemm,
kenapa aku yang harus minta ampun? Semestinya mereka berdua yang harus minta
ampun kepada Paman Dirun sekeluarganya." jawab Harjadenta tegas.
"Apa?
Engkau berani membantah kami? Rasakan ini!" kata orang itu sambil
menggerakkan tangan kanannya menampar ke arah pipi Harjadenta.
Tamparan itu
cepat dan kuat sekali, tanda bahwa penampar itu memiliki tenaga yang kuat. Akan
tetapi tentu saja Harjadenta tidak rnenghendaki pipinya ditampar orang. Hanya
dengan menarik tubuh atas ke belakang saja, tamparan itu luput.
"Ehhh ...
??" Tukang pukul itu marah dan penasaran sekali, dan dia lalu menerjang
maju dengan pukulan-pukulan kedua tangannya. Melihat ini Harjadenta cepat
menggerakkan tangannya, yang kiri menangkis dan yang kanan mendorong ke arah
dada penyerangnya itu.
"Plak ...
bukkk ... !" Tukang pukul itu terjengkang keras dan roboh terbanting.
Tentu saja
empat orang kawannya menjadi marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi mereka
serentak menyerang Harjadenta dari empat penjuru. Bahkan orang pertama yang
tadi roboh kini sudah bangkit kembali dan ikut pula menyerang.
Akan tetapi
Harjadenta tidak merasa gentar sedikitpun. Tenaga para tukang pukul yang besar
itu baginya biasa saja, bahkan baginya mereka itu bergerak dengan amat lamban.
Dengan mudah dia berloncatan ke sana sini untuk mengelak dari serangan mereka,
dan kadang ditangkisnya. Dan setiap kali dia menangkis, para tukang pukul itu
tentu menyeringai kesakitan, merasa betapa lengannya seperti bertemu dengan
sepotong linggis besi!
Sementara itu,
Ki Dirun yang menonton perkelahian itu, hanya dapat berdiri dengan muka pucat
dan tubuh gemetaran. Tentu saja dia khawatir sekali kalau penolongnya kalah.
<<< Bagian 19 Bagian 21 >>>
No comments:
Post a Comment