Retna Wilis adalah seorang gadis yang bersikap polos dan terbuka, dan tidak malu-malu seperti para gadis lainnya. Biasanya, seorang gadis akan merasa sungkan dan malu-malu terhadap seorang pemuda yang baru dijumpainya akan tetapi tidak demikian dengan Retna Wilis. Ia berani menentang pandang mata Harjadenta dengan tenang tanpa perasaan apapun seperti kalau ia memandang seorang gadis lain. Biarpun ia sudah amat berpengalaman dalam dunia persilatan dan pertempuran, namun ia masih seperti kanak-kanak dalam pergaulannya dengan pria. Maka kinipun ia menatap wajah Harjadenta sedemikian terbuka dan jujur sehingga pemuda itulah yang merasa jantungnya berdebar ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata yang demikian tajam dan jernih.
"Nah,
apakah yang ingin kauketahui tentang kami, kakangmas Harjadenta?"
Pertanyaan itu
demikian polos dan dikeluarkan dengan suara yang merdu, sehingga Harjadenta
menjadi gugup dan tidak berani menentang pandang mata itu terlalu lama. Dia
sendiri juga sejak kecil ikut gurunya di lereng Gunung Raung sehingga sama
sekali tidak mempunyai pengalaman pergaulan dengan wanita, maka pertemuannya
dengan Retna Wilis membuat dia tegang dan tidak tenang.
"Segalanya,
diajeng. Riwayat andika berdua, putra siapa datang dari mana, lalu hendak ke
mana dengan tujuan apa. Pula, bagaimana andika berdua begitu kebetulan dapat
datang pada saat aku terancam bahaya maut?"
Retna Wilis
tersenyum.
”Baiklah,
pertama-tama kami adalah putera dan puteri Ki Patih Tejolaksono dari
Panjalu."
Harjadenta
terbelalak.
“Putera puteri
Patih? Ah, andika berdua adalah orang-orang muda bangsawan tinggi, maafkan
kalau aku telah bersikap kurang patut!"
"Hush ...
!" Retna Wilis mencela.
"Kalau
engkau mengubah sikapmu kepada kami dan merendahkan diri, aku tidak mau lagi
bersahabat denganmu, kakangmas Harjadenta!"
Pemuda ini
terkejut dan memandang wajah cantik yang kini cemberut itu.
"Akan
tetapi ... kalian putera puteri seorang Patih, apalagi Patih Panjalu ...
!"
"Apa
bedanya patih dan bukan patih?. Apa pula bedanya seorang raja dan seorang
rakyat biasa? Mereka sama-sama manusia! Tidak, aku tidak mau engkau mengubah
sikapmu. Kita biasa-biasa saja sebagai sahabat."
Harjadenta menghela
napas panjang dan diam-diam dia menjadi semakin kagum. Seorang puteri bangsawan
bicara seperti itu! Dia merasa seperti mimpi bertemu dengan seorang dara yang
benar-benar luar biasa.
"Baiklah,
diajeng Retna Wilis. Maafkan aku yang kurang pengertian. Nah, silakan engkau
melanjutkan ceritamu. Andika adalah putera puteri seorang Patih dari Panjalu.
Lalu mengapa andika berdua datang ke tempat yang begini jauh dari tempat
tinggalmu?"
"Kami
berdua memang sengaja meninggalkan Panjalu untuk merantau dan mencari
pengalaman."
"Ah, dua
orang muda yang berilmu tinggi, sakti mandraguna seperti andika berdua masih
mencari pengalaman lagi? Kalau boleh aku mengetahui, siapakah guru-guru andika
berdua yang mulia?"
"Guruku
adalah Nini Bumigarba dan guru kakakku adalah Sang Bhagawan Ekadenta."
Kembali
Harjadenta terbelalak.
"Ah,
guruku pernah bercerita tentang seorang wanita maha sakti berjuluk Nini
Bumigarba dan seorang Pendeta linuwih berjuluk Sang Bhagawan Ekadenta. Mereka
itu seolah manusia setengah dewa yang amat sakti, seperti dalam dongeng.
Kiranya andika berdua adalah murid-murid mereka? Pantas kalian memiliki
kesaktian yang demikian hebat!"
"Nah-nah-nah,
mulai lagi! Aku paling tidak senang melihat orang menjilat-jilat dan memuji
setinggi langit!” tiba-tiba Retna Wilis berkata tegas dan suaranya seperti
orang marah.
Harjadenta
kembali terkejut dan cepat berkata, dengan suara lirih.
"Maafkan
aku, diajeng, aku ... bukan maksudku untuk menjilat-jilat ... "
"Tapi
engkau memuji setinggi langit. Kami hanya orang-orang biasa saja yang tiada
bedanya dengan engkau atau orang lain, tidak perlu memuji-muji seperti itu atau
aku tidak mau bercerita lagi."
Harjadenta
menelan ludahnya. Gadis ini selain sakti dan hebat, juga galaknya bukan main!
"Maafkan,
tidak akan kuulangi lagi. Harap kau suka melanjutkan ceritamu, diajeng Retna
Wilis." Kini dia bahkan tidak berani menentang langsung wajah gadis itu,
hanya memandang ke arah pakaiannya yang serba putih sederhana, akan tetapi yang
tidak menyembunyikan lekuk-lengkung tubuhnya yang ramping padat.
"Kami
juga tidak sengaja datang ke tempat ini. Kami berdua sedang melakukan
perjalanan menyusuri Kali Mayang yang indah pemandangannya. Ketika kami tiba di
hutan dekat dusun ini, kami bertemu dengan seorang pemuda bernama Martono
bersama ibunya. Ibunya menangis dan kami mendengarnya lalu menemui mereka.
Martono itu yang bercerita kepada kami tentang perbuatan Ki Demang, yang hendak
merampas Lasmini tunangannya. Karena itu kami lalu cepat memasuki dusun ini dan
melihat engkau dikeroyok banyak orang maka aku lalu cepat membantumu."
"Untung
sekali engkau tahu siapa yang perlu dibantu dan siapa yang harus
ditentang." kata Harjadenta.
"Tentu
saja aku tahu. Martono sudah bercerita tentang seorang pemuda yang menolong
keluarga Dirun dan yang kini dikeroyok di sini."
"Dan aku
tadinya mempunyai dugaan yang amat buruk terhadap dirimu, diajeng Retna."
Retna Wilis
memandang wajah pemuda itu penuh selidik.
"Dugaan
buruk. Apa itu?"
"Melihat
engkau demikian cantik dan demikian sakti, sekilas terlintas dalam pikiranku
akan pemberitahuan Bapa Guru bahwa pencuri pusaka Ki Carubuk adalah seorang
wanita cantik yang sakti."
"Sialan!
Kau kira aku ini pencuri keris itu?"
"Maaf,
aku tidak tahu ... "
"Sudahlah,"
kata Bagus Seta sambil tertawa.
"Sekarang
kita harus memikirkan keadaan Ki Dirun dan keluarganya, juga Martono dan
ibunya. Mereka entah lari ke mana. Sebaiknya mereka itu kembali lagi ke sini,
di mana mereka meninggalkan rumah dan sawah mereka."
"Benar,"
kata Harjadenta,
"biar aku
memberitahu kepada para tetangga untuk mengejar mereka dan memberitahu mereka
bahwa dusun Grobokan telah aman dan mereka boleh kembali lagi ke sini."
Bagus Seta
membenarkan pendapat Harjadenta yang segera menghubungi para tetangga dan minta
agar mereka menyusul ke mana larinya keluarga Dirun dan keluarga Martono untuk
memanggil mereka pulang. Malam itu mereka melewatkan malam di rumah keluarga
Dirun. Retna Wilis menggunakan kamar yang biasa ditiduri Lasmini, sedangkan
Bagus Seta dan Harjadenta menggunakan kamar Ki Dirun. Pada keesokan paginya,
setelah mereka mandi dan makan sarapan pagi yang diantar dan disuguhkan oleh
para penduduk Grobokan, mereka lalu hendak meninggalkan Grobokan dan mereka
merasa perlu untuk berpamit kepada Ki Demang Grobokan.
Kunjungan
mereka disambut dengan ramah dan hormat oleh Ki Demang. Melihat sikap orang
itu, Bagus Seta merasa gembira dan mengharapkan agar penguasa itu benar-benar
bertaubat dan selanjutnya akan menjadi seorang penguasa yang memimpin penduduk
dusun Grobokan ke arah kehidupan yang sejahtera dan makmur.
"Ki
Demang," kata Retna Wilis setelah mereka bertiga berpamit.
"Kalau
sewaktu-waktu pikiranmu menggodamu untuk melakukan hal-hal yang tidak baik dan
menekan rakyat, ingatlah kepada kami karena sekali waktu kami pasti akan lewat
di sini melihat keadaan."
Ki Demang
tersenyum. Kini baru dia mengerti bahwa tiga orang itu adalah orang-orang muda
sakti yang hidupnya sebagai pendekar, dan mereka adalah orang-orang yang baik
dan yang memperjuangkan tegaknya kebenaran dan keadilan. Bukan seperti orang macam
Suropekik yang mau melakukan apapun juga asalkan mendapat upah besar. Sekali
waktu orang macam Suropekik itu bagaikan memelihara seekor harimau ganas dapat
membalik dan menyerang pemeliharanya sendiri. Kalau dia ingin hidup sejahtera
dan makmur penuh ketenteraman, dia harus mengubah jalan hidupnya dan tidak
selalu menuruti nafsunya sendiri.
"Harap
andika bertiga jangan khawatir. Saya tidak akan melanggar janji yang telah saya
ucapkan dan disaksikan semua penghuni Grobokan."
Tiga orang
muda itu lalu meninggalkan rumah Ki Demang. Akan tetapi Ki Demang Grobokan
mengikuti dan mengantar mereka. Di sepanjang jalan para penduduk juga menyambut
dan ikut pula mengantar mereka. Setelah mereka tiba di luar pagar yang
mengelilingi dusun Grobokan, barulah Ki Demang dan para penduduk dusun berhenti
mengantar, apa lagi karena hal ini diminta oleh Retna Wilis.
"Sudahlah,
sampai di sini saja kalian mengantar. Sekarang kami harus pergi." Mereka
bertiga lalu menuju ke Kali Mayang. Setelah tiba di tempat di mana Harjadenta menyimpan
dan menambatkan perahunya, pemuda ini bertanya kepada Bagus Seta.
"Andika
berdua hendak pergi ke manakah?"
"Kami
akan kembali ke pantai dan melanjutkan perjalanan perantauan kami." jawab
Bagus Seto.
"Kalau
begitu, silakan ikut dalam perahuku. Akupun hendak pergi ke muara sungai ini
untuk menaati nasihat Bapa Guru bahwa aku diharuskan mencari sampai ke muara
sungai Mayang ini."
Bagus Seta
memandang kepada adiknya dan tersenyum.
"Tentu
menarik sekali melakukan perjalanan melalui air, pemandangannya tentu berbeda.
Bagaimana, maukah engkau, Retno?"
"Bagaimana
engkau saja kakang. Kalau memang kita sejalan, tidak ada salahnya ikut dalam
perahu kakangmas Harjadenta, asal saja tidak menyusahkan dia."
Harjadenta
tertawa senang.
"Mengapa
menyusahkan? Kita melakukan perjalanan bersama, membeli beras dan masak sendiri
di perahu, lauknya kita cari di sungai dengan mengail."
Pemuda itu
tampak gembira sekali dan tak lama kemudian merekapun sudah meluncurkan perahu
ke tengah sungai. Karena perahu itu menuju ke hilir, Harjadenta hanya perlu
mengemudikannya saja dengan dayungnya, perahu itu sendiri sudah terbawa arus
air yang cukup kuat, sehingga meluncur dengan cepatnya ke depan. Naik perahu
ini merupakan pengalaman baru bagi Retna Wilis, maka iapun merasa gembira sekali.
Sebelum
memuntahkan airnya di laut Kidul, Kali Mayang bertemu dengan Kali Sanen yang
mengalir dari timur. Pertemuan dua buah kali itu terjadi di sebelah selatan
dusun Ambulu. Tak jauh dari tempat pertemuan dua kali yang membuat muara sungai
itu menjadi lebar dan besar, terdapat sebuah kota besar yang disebut Bulumanik.
Penduduknya banyak yang menjadi nelayan, karena di muara sungai itu terdapat
banyak sekali ikan yang seakan tiada habis-habisnya mereka tangkapi setiap
hari. Selain menjadi nelayan, juga para penghuni itu merupakan petani-petani
yang hidupnya cukup makmur karena sawah ladang di sepanjang lembah sungai itu
amat subur. Bulumanik terkenal sebagai tempat yang gemah ripah loh-jinawi dan
tempat itu dikunjungi banyak pedagang dari kota lain. Rakyatnya cukup mampu
untuk membeli barang-barang dari luar kota yang dibawa oleh para pedagang itu.
Juga karena adanya sungai, maka lalu lintas dapat dilakukan dengan mudah
melalui air. Bulumanik dipimpin seorang Demang yang bernama Kebolinggo, seorang
berusia limapuluh tahun yang bertubuh tinggi kurus dan berwibawa. Dia ditaati
oleh penduduk Bulumanik karena terkenal sebagai seorang penguasa yang adil dan
pandai memimpin. Kedemangan Bulumanik ini termasuk wilayah kekuasaan Kadipaten
Nusabarung, bahkan Demang Kebolinggo adalah seorang yang berasal dari
Nusabarung juga dan yang diangkat oleh Adipati Martimpang dari Nusabarung. Pada
suatu hari, penduduk melihat betapa Candi Trisakti yang berada di Kebolinggo
dipugar. Para pendetanya yang memuja Trimurti oleh Demang Kebolinggo dipecat
dan candi itu dipugar dan dibangun kembali, arca-arcanya diganti dengan arca
Bathara Shiwa, Bathari Durga dan Bathara Kala. Pembuatan arca-arca dan
pemugaran candi itu dilakukan oleh banyak ahli pahat yang terkenal, bahkan
dipimpin oleh seorang yang tidak dikenal oleh penduduk Bulumanik. Dia adalah
seorang pendeta yang berusia enampuluh lima tahun dan selain ahli tentang
bangunan candi, juga ahli membuat arca yang indah. Selain itu, pendeta ini juga
amat berwibawa, sebentar saja terkenal sebagai seorang pendeta yang dihormati
Demang Kebolinggo dan kabarnya memiliki ilmu kepandaian tinggi, sakti
mandraguna dan ahli sihir!
Bagi yang
sudah mengenal pendeta itu, tentu saja tidak merasa heran karena dia adalah
Sang Wasi Siwamurti, utusan Negeri Cola yang sakti, dan penyebar Agama Shiwa.
Seperti telah kita ketahui, Wasi Siwamurti adalah kakak seperguruan dari Wasi
Surengpati dan Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat di Blambangan. Wasi
Siwamurti ini dating dari Negeri Cola membawa dua orang lain, yaitu anak
angkatnya yang berjuluk Ki Shiwananda, dan seorang muridnya yang bernama Ni
Dewi Durgomala yang cantik dan genit, masih nampak muda dan menarik walaupun
usianya sudah empatpuluh tahun.
<<< Bagian 23 Bagian 25 >>>
No comments:
Post a Comment