Sepasang Garuda Putih ; Bagian 24


Retna Wilis adalah seorang gadis yang bersikap polos dan terbuka, dan tidak malu-malu seperti para gadis lainnya. Biasanya, seorang gadis akan merasa sungkan dan malu-malu terhadap seorang pemuda yang baru dijumpainya akan tetapi tidak demikian dengan Retna Wilis. Ia berani menentang pandang mata Harjadenta dengan tenang tanpa perasaan apapun seperti kalau ia memandang seorang gadis lain. Biarpun ia sudah amat berpengalaman dalam dunia persilatan dan pertempuran, namun ia masih seperti kanak-kanak dalam pergaulannya dengan pria. Maka kinipun ia menatap wajah Harjadenta sedemikian terbuka dan jujur sehingga pemuda itulah yang merasa jantungnya berdebar ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata yang demikian tajam dan jernih.
"Nah, apakah yang ingin kauketahui tentang kami, kakangmas Harjadenta?"
Pertanyaan itu demikian polos dan dikeluarkan dengan suara yang merdu, sehingga Harjadenta menjadi gugup dan tidak berani menentang pandang mata itu terlalu lama. Dia sendiri juga sejak kecil ikut gurunya di lereng Gunung Raung sehingga sama sekali tidak mempunyai pengalaman pergaulan dengan wanita, maka pertemuannya dengan Retna Wilis membuat dia tegang dan tidak tenang.
"Segalanya, diajeng. Riwayat andika berdua, putra siapa datang dari mana, lalu hendak ke mana dengan tujuan apa. Pula, bagaimana andika berdua begitu kebetulan dapat datang pada saat aku terancam bahaya maut?"
Retna Wilis tersenyum.
”Baiklah, pertama-tama kami adalah putera dan puteri Ki Patih Tejolaksono dari Panjalu."
Harjadenta terbelalak.
“Putera puteri Patih? Ah, andika berdua adalah orang-orang muda bangsawan tinggi, maafkan kalau aku telah bersikap kurang patut!"
"Hush ... !" Retna Wilis mencela.
"Kalau engkau mengubah sikapmu kepada kami dan merendahkan diri, aku tidak mau lagi bersahabat denganmu, kakangmas Harjadenta!"
Pemuda ini terkejut dan memandang wajah cantik yang kini cemberut itu.
"Akan tetapi ... kalian putera puteri seorang Patih, apalagi Patih Panjalu ... !"
"Apa bedanya patih dan bukan patih?. Apa pula bedanya seorang raja dan seorang rakyat biasa? Mereka sama-sama manusia! Tidak, aku tidak mau engkau mengubah sikapmu. Kita biasa-biasa saja sebagai sahabat."

Harjadenta menghela napas panjang dan diam-diam dia menjadi semakin kagum. Seorang puteri bangsawan bicara seperti itu! Dia merasa seperti mimpi bertemu dengan seorang dara yang benar-benar luar biasa.
"Baiklah, diajeng Retna Wilis. Maafkan aku yang kurang pengertian. Nah, silakan engkau melanjutkan ceritamu. Andika adalah putera puteri seorang Patih dari Panjalu. Lalu mengapa andika berdua datang ke tempat yang begini jauh dari tempat tinggalmu?"
"Kami berdua memang sengaja meninggalkan Panjalu untuk merantau dan mencari pengalaman."
"Ah, dua orang muda yang berilmu tinggi, sakti mandraguna seperti andika berdua masih mencari pengalaman lagi? Kalau boleh aku mengetahui, siapakah guru-guru andika berdua yang mulia?"
"Guruku adalah Nini Bumigarba dan guru kakakku adalah Sang Bhagawan Ekadenta."
Kembali Harjadenta terbelalak.
"Ah, guruku pernah bercerita tentang seorang wanita maha sakti berjuluk Nini Bumigarba dan seorang Pendeta linuwih berjuluk Sang Bhagawan Ekadenta. Mereka itu seolah manusia setengah dewa yang amat sakti, seperti dalam dongeng. Kiranya andika berdua adalah murid-murid mereka? Pantas kalian memiliki kesaktian yang demikian hebat!"
"Nah-nah-nah, mulai lagi! Aku paling tidak senang melihat orang menjilat-jilat dan memuji setinggi langit!” tiba-tiba Retna Wilis berkata tegas dan suaranya seperti orang marah.
Harjadenta kembali terkejut dan cepat berkata, dengan suara lirih.
"Maafkan aku, diajeng, aku ... bukan maksudku untuk menjilat-jilat ... "
"Tapi engkau memuji setinggi langit. Kami hanya orang-orang biasa saja yang tiada bedanya dengan engkau atau orang lain, tidak perlu memuji-muji seperti itu atau aku tidak mau bercerita lagi."
Harjadenta menelan ludahnya. Gadis ini selain sakti dan hebat, juga galaknya bukan main!
"Maafkan, tidak akan kuulangi lagi. Harap kau suka melanjutkan ceritamu, diajeng Retna Wilis." Kini dia bahkan tidak berani menentang langsung wajah gadis itu, hanya memandang ke arah pakaiannya yang serba putih sederhana, akan tetapi yang tidak menyembunyikan lekuk-lengkung tubuhnya yang ramping padat.
"Kami juga tidak sengaja datang ke tempat ini. Kami berdua sedang melakukan perjalanan menyusuri Kali Mayang yang indah pemandangannya. Ketika kami tiba di hutan dekat dusun ini, kami bertemu dengan seorang pemuda bernama Martono bersama ibunya. Ibunya menangis dan kami mendengarnya lalu menemui mereka. Martono itu yang bercerita kepada kami tentang perbuatan Ki Demang, yang hendak merampas Lasmini tunangannya. Karena itu kami lalu cepat memasuki dusun ini dan melihat engkau dikeroyok banyak orang maka aku lalu cepat membantumu."
"Untung sekali engkau tahu siapa yang perlu dibantu dan siapa yang harus ditentang." kata Harjadenta.
"Tentu saja aku tahu. Martono sudah bercerita tentang seorang pemuda yang menolong keluarga Dirun dan yang kini dikeroyok di sini."
"Dan aku tadinya mempunyai dugaan yang amat buruk terhadap dirimu, diajeng Retna."
Retna Wilis memandang wajah pemuda itu penuh selidik.
"Dugaan buruk. Apa itu?"
"Melihat engkau demikian cantik dan demikian sakti, sekilas terlintas dalam pikiranku akan pemberitahuan Bapa Guru bahwa pencuri pusaka Ki Carubuk adalah seorang wanita cantik yang sakti."
"Sialan! Kau kira aku ini pencuri keris itu?"
"Maaf, aku tidak tahu ... "
"Sudahlah," kata Bagus Seta sambil tertawa.
"Sekarang kita harus memikirkan keadaan Ki Dirun dan keluarganya, juga Martono dan ibunya. Mereka entah lari ke mana. Sebaiknya mereka itu kembali lagi ke sini, di mana mereka meninggalkan rumah dan sawah mereka."
"Benar," kata Harjadenta,
"biar aku memberitahu kepada para tetangga untuk mengejar mereka dan memberitahu mereka bahwa dusun Grobokan telah aman dan mereka boleh kembali lagi ke sini."
Bagus Seta membenarkan pendapat Harjadenta yang segera menghubungi para tetangga dan minta agar mereka menyusul ke mana larinya keluarga Dirun dan keluarga Martono untuk memanggil mereka pulang. Malam itu mereka melewatkan malam di rumah keluarga Dirun. Retna Wilis menggunakan kamar yang biasa ditiduri Lasmini, sedangkan Bagus Seta dan Harjadenta menggunakan kamar Ki Dirun. Pada keesokan paginya, setelah mereka mandi dan makan sarapan pagi yang diantar dan disuguhkan oleh para penduduk Grobokan, mereka lalu hendak meninggalkan Grobokan dan mereka merasa perlu untuk berpamit kepada Ki Demang Grobokan.

Kunjungan mereka disambut dengan ramah dan hormat oleh Ki Demang. Melihat sikap orang itu, Bagus Seta merasa gembira dan mengharapkan agar penguasa itu benar-benar bertaubat dan selanjutnya akan menjadi seorang penguasa yang memimpin penduduk dusun Grobokan ke arah kehidupan yang sejahtera dan makmur.
"Ki Demang," kata Retna Wilis setelah mereka bertiga berpamit.
"Kalau sewaktu-waktu pikiranmu menggodamu untuk melakukan hal-hal yang tidak baik dan menekan rakyat, ingatlah kepada kami karena sekali waktu kami pasti akan lewat di sini melihat keadaan."
Ki Demang tersenyum. Kini baru dia mengerti bahwa tiga orang itu adalah orang-orang muda sakti yang hidupnya sebagai pendekar, dan mereka adalah orang-orang yang baik dan yang memperjuangkan tegaknya kebenaran dan keadilan. Bukan seperti orang macam Suropekik yang mau melakukan apapun juga asalkan mendapat upah besar. Sekali waktu orang macam Suropekik itu bagaikan memelihara seekor harimau ganas dapat membalik dan menyerang pemeliharanya sendiri. Kalau dia ingin hidup sejahtera dan makmur penuh ketenteraman, dia harus mengubah jalan hidupnya dan tidak selalu menuruti nafsunya sendiri.
"Harap andika bertiga jangan khawatir. Saya tidak akan melanggar janji yang telah saya ucapkan dan disaksikan semua penghuni Grobokan."
Tiga orang muda itu lalu meninggalkan rumah Ki Demang. Akan tetapi Ki Demang Grobokan mengikuti dan mengantar mereka. Di sepanjang jalan para penduduk juga menyambut dan ikut pula mengantar mereka. Setelah mereka tiba di luar pagar yang mengelilingi dusun Grobokan, barulah Ki Demang dan para penduduk dusun berhenti mengantar, apa lagi karena hal ini diminta oleh Retna Wilis.
"Sudahlah, sampai di sini saja kalian mengantar. Sekarang kami harus pergi." Mereka bertiga lalu menuju ke Kali Mayang. Setelah tiba di tempat di mana Harjadenta menyimpan dan menambatkan perahunya, pemuda ini bertanya kepada Bagus Seta.
"Andika berdua hendak pergi ke manakah?"
"Kami akan kembali ke pantai dan melanjutkan perjalanan perantauan kami." jawab Bagus Seto.
"Kalau begitu, silakan ikut dalam perahuku. Akupun hendak pergi ke muara sungai ini untuk menaati nasihat Bapa Guru bahwa aku diharuskan mencari sampai ke muara sungai Mayang ini."
Bagus Seta memandang kepada adiknya dan tersenyum.
"Tentu menarik sekali melakukan perjalanan melalui air, pemandangannya tentu berbeda. Bagaimana, maukah engkau, Retno?"
"Bagaimana engkau saja kakang. Kalau memang kita sejalan, tidak ada salahnya ikut dalam perahu kakangmas Harjadenta, asal saja tidak menyusahkan dia."
Harjadenta tertawa senang.
"Mengapa menyusahkan? Kita melakukan perjalanan bersama, membeli beras dan masak sendiri di perahu, lauknya kita cari di sungai dengan mengail."
Pemuda itu tampak gembira sekali dan tak lama kemudian merekapun sudah meluncurkan perahu ke tengah sungai. Karena perahu itu menuju ke hilir, Harjadenta hanya perlu mengemudikannya saja dengan dayungnya, perahu itu sendiri sudah terbawa arus air yang cukup kuat, sehingga meluncur dengan cepatnya ke depan. Naik perahu ini merupakan pengalaman baru bagi Retna Wilis, maka iapun merasa gembira sekali.

Sebelum memuntahkan airnya di laut Kidul, Kali Mayang bertemu dengan Kali Sanen yang mengalir dari timur. Pertemuan dua buah kali itu terjadi di sebelah selatan dusun Ambulu. Tak jauh dari tempat pertemuan dua kali yang membuat muara sungai itu menjadi lebar dan besar, terdapat sebuah kota besar yang disebut Bulumanik. Penduduknya banyak yang menjadi nelayan, karena di muara sungai itu terdapat banyak sekali ikan yang seakan tiada habis-habisnya mereka tangkapi setiap hari. Selain menjadi nelayan, juga para penghuni itu merupakan petani-petani yang hidupnya cukup makmur karena sawah ladang di sepanjang lembah sungai itu amat subur. Bulumanik terkenal sebagai tempat yang gemah ripah loh-jinawi dan tempat itu dikunjungi banyak pedagang dari kota lain. Rakyatnya cukup mampu untuk membeli barang-barang dari luar kota yang dibawa oleh para pedagang itu. Juga karena adanya sungai, maka lalu lintas dapat dilakukan dengan mudah melalui air. Bulumanik dipimpin seorang Demang yang bernama Kebolinggo, seorang berusia limapuluh tahun yang bertubuh tinggi kurus dan berwibawa. Dia ditaati oleh penduduk Bulumanik karena terkenal sebagai seorang penguasa yang adil dan pandai memimpin. Kedemangan Bulumanik ini termasuk wilayah kekuasaan Kadipaten Nusabarung, bahkan Demang Kebolinggo adalah seorang yang berasal dari Nusabarung juga dan yang diangkat oleh Adipati Martimpang dari Nusabarung. Pada suatu hari, penduduk melihat betapa Candi Trisakti yang berada di Kebolinggo dipugar. Para pendetanya yang memuja Trimurti oleh Demang Kebolinggo dipecat dan candi itu dipugar dan dibangun kembali, arca-arcanya diganti dengan arca Bathara Shiwa, Bathari Durga dan Bathara Kala. Pembuatan arca-arca dan pemugaran candi itu dilakukan oleh banyak ahli pahat yang terkenal, bahkan dipimpin oleh seorang yang tidak dikenal oleh penduduk Bulumanik. Dia adalah seorang pendeta yang berusia enampuluh lima tahun dan selain ahli tentang bangunan candi, juga ahli membuat arca yang indah. Selain itu, pendeta ini juga amat berwibawa, sebentar saja terkenal sebagai seorang pendeta yang dihormati Demang Kebolinggo dan kabarnya memiliki ilmu kepandaian tinggi, sakti mandraguna dan ahli sihir!

Bagi yang sudah mengenal pendeta itu, tentu saja tidak merasa heran karena dia adalah Sang Wasi Siwamurti, utusan Negeri Cola yang sakti, dan penyebar Agama Shiwa. Seperti telah kita ketahui, Wasi Siwamurti adalah kakak seperguruan dari Wasi Surengpati dan Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat di Blambangan. Wasi Siwamurti ini dating dari Negeri Cola membawa dua orang lain, yaitu anak angkatnya yang berjuluk Ki Shiwananda, dan seorang muridnya yang bernama Ni Dewi Durgomala yang cantik dan genit, masih nampak muda dan menarik walaupun usianya sudah empatpuluh tahun.

<<< Bagian 23                                                                                         Bagian 25 >>>

No comments:

Post a Comment