Sepasang Garuda Putih ; Bagian 32


Kadang dia bergulingan dan menyerang lawan dari bawah. Kedua lengannya yang panjang besar itu mencuat dan menyambar-nyambar ke arah segala bagian tubuh Retna Wilis. Namun, Retna Wilis segera mainkan ilmu silat Pancaroba dan tubuhnya berkelebat melebihi burung walet cepatnya, sukar diraih tangan yang besar itu. Akan tetapi, Retna Wilis juga mengalami kesukaran untuk dapat merobohkan lawannya. Sudah dua kali tangan dan kakinya mengenai tubuh lawan, akan tetapi hanya membuat lawan terhuyung saja, tidak merobohkannya. Kiranya raksasa itupun memiliki tubuh yang kebal sekali. Karena kesal sampai sekian lamanya tidak mampu merobohkan lawannya, Retna Wilis mencabut pedang pusakanya, yaitu pedang Sapudenta! Tampak sinar terang berkelebat menyilaukan mata ketika pedang itu berada di tangan kanannya.
"Babo-babo keparat, belum lecet kulitmu sudah mengeluarkan pusaka!" bentak Ki Shiwananda dan diapun mengeluarkan senjatanya yang berat, yaitu sebatang ruyung yang tadi tergantung di pinggangnya. Ruyung ini terbuat dari baja hitam, berat dan kuatnya bukan main. Sebongkah batu besar-pun akan pecah berantakan kalau sekali kena pukulannya dengan ruyung ini, apa lagi kalau mengenai kepala manusia! Akan tetapi begitu dia menggerakkan ruyungnya, Retna Wilis telah mengerahkan aji Wisolangking di tangan kirinya. Aji Wisolangking ini membuat tangan kirinya panas sekali dan kalau mengenai tubuh lawan dapat menghanguskan bagian yang terkena pukulan! Melihat sepak terjang adiknya yang begitu menggiriskan, Bagus Seta lalu menyambut serangan Ni Dewi Durgomala. Ketika kebutan itu menyambar ke arah kepalanya, ia menyambut dengan tangan kanannya dan sekali tangan itu menyambar, dia telah berhasil merampas kebutan dari tangan Ni Dewi Durgomala! Wanita ini memekik marah dan juga gentar.
"Ki Shiwananda, sudah saatnya kita pergi!" bentaknya kepada raksasa itu yang sedang bertanding seru melawan Retna Wilis.
Bagus Seta juga melompat ke dekat adiknya.
"Diajeng, hati-hati dengan pusakamu!" Dia menggerakkan tangan menahan ruyung Ki Shiwananda yang dihantamkan.
"Plakkkkk!" Ki Shiwananda merasa betapa tenaga pada tangan kanannya seperti tenggelam dan lenyap. Dia terkejut sekali. Menarik kembali ruyungnya dan maklumlah dia bahwa seruan Ni Dewi Durgomala tadi benar. Baru melawan Retna Wilis saja dia kerepotan dan tidak mampu menang, apa lagi kalau Bagus Seta maju. Tangan pemuda itu dapat menyambut ruyungnya! Dia merasa gentar dan segera mengayun dan memutar ruyungnya. Ketika Bagus Seta dan Retno Wilis mundur, mereka berdua melompat dan lenyap di kegelapan malam.

Harjadenta masih mengamuk, merobohkan para pengeroyok. Melihat ini, Bagus Seta lalu melompat ke atas atap candi dari berseru,
"Saudara sekalian, hentikan pengeroyokan itu!" Lalu dia melayang ke bawah.
Melihat ini, apa lagi melihat betapa dua orang pemimpin mereka telah melarikan diri, merekapun menghentikan pengeroyokan dan berdiri bingung seperti sekawanan domba kehilangan penggembalanya. Harjadenta juga berhenti mengamuk dan melompat ke belakang, dekat Bagus Seta dan Retna Wilis. Dia menjadi semakin kagum kepada dua orang kakak beradik ini, yang demikian mudah mengalahkan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda sehingga dua orang sakti itu melarikan diri. Dan dia girang bukan main ketika Bagus Seto menyerahkan keris pusaka Ki Carubuk kepadanya.
"Ini keris gurumu, kembalikanlah kepadanya," kata Bagus Seta.
"Terima kasih banyak, kakangmas Bagus Seta," katanya sambil menerima dan menyelipkan keris pusaka itu di pinggangnya.
"Kakang, kenapa kita tidak basmi saja perkumpulan agama ini?" kata Retna Wilis sambil memandang kepada para anggota agama baru itu dengan alis berkerut.
"Jangan, diajeng. Agama mereka itu samasekali tidak bersalah. Sang Hyang Bathara Shiwa yang mereka sembah adalah Yang Kuasa Membasmi di alam mayapada ini, dan sudah selayaknya kalau disembah dan dipuja. Adapun Bathari Durgo adalah isterinya dan Bathara Kala adalah puteranya. Tidak ada salahnya dengan mereka yang disembah-sembah. Semua kesalahan terletak kepada manusianya yang menyelewengkan pelajaran agama itu untuk tujuan buruk. Mereka bebas menentukan agama mereka sendiri. Kita tidak boleh menentangnya dan mereka boleh mendirikan candi seperti yang mereka kehendaki. Yang kita tentang adalah manusianya yang melakukan tindakan menyeleweng dan jahat. Para anggauta agama ini tidak bersalah. Mereka bahkan menjadi korban, korban penyelewengan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda. Setelah kekalahan mereka malam ini, kurasa mereka tidak akan berani lagi melakukan kejahatan mereka di antara penduduk Bulumanik."

Harjadenta yang mendengarkan ucapan Bagus Seta ini, menjadi semakin kagum.
"Saya rasa apa yang diucapkan kakangmas Bagus Seta itu benar, diajeng Retna. Orang-orang itu tidak berdosa. Mereka melakukan segala itu karena mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah suatu perbuatan jahat. Mereka seperti mabuk atau terbius, seperti yang kualami tadi. Aku sendiri tidak sadar bahwa aku ikut menari-nari seperti orang yang gila. Mereka tidak salah bahkan patut dikasihani."
"Kalau begitu kesalahan ini selain terletak pada pundak kedua orang pimpinan agama itu, juga terletak di pundak Demang Kebolinggo. Sebagai seorang kepala daerah, dia tidak seharusnya memberi ijin kepada orang-orang seperti Ni Dewi Durgomala dan Ki Suwananda itu untuk membangun candi dan mempengaruhi penduduk. Tidak mungkin kalau dia tidak tahu apa yang telah terjadi di candi ini," kata pula Retna Wilis dengan gemas.
"Orang seperti dia tidak patut menjadi pemimpin dan harus mendapat peringatan keras!"
Bagus Seta mengangguk-angguk.
"Pendapatmu itu ada benarnya, diajeng. Silakan saja kalau engkau ingin memperingatkan dia, akan tetapi ingat, jangan menggunakan kekerasan, apa lagi membunuhi orang."
"Diajeng Retna Wilis memang benar, dan kalau boleh, aku akan senang kalau menemanimu pergi ke rumah demang dan memberi peringatan kepadanya."
"Kalau begitu lebih baik lagi agar Demang Kebolinggo lebih terkesan dan menaati nasihat kalian," kata Bagus Seta.

Retna Wilis terpaksa tidak dapat menolak permintaan Harjadenta. Ia sendiri memang kagum juga kepada pemuda yang berani dan telah membantu ia dan kakaknya menghadapi pimpinan agama baru itu.
"Baiklah, dan sebaiknya kita lakukan itu malam ini juga," kata Retna Wilis.
"Pergilah kalian, aku akan lebih dulu pulang ke pondokan Mbok Rondo Gati."
Tiga orang itu lalu berpisah. Retna Wilis dan Harjadenta pergi meninggalkan Bagus Seta dan mencari rumah Demang Kebolinggo, penguasa di Bulumanik. Tidak sukar bagi mereka untuk menemukan rumah yang paling besar di Bulumanik itu. Mereka berdua melihat bahwa ada tujuh orang penjaga di gardu penjagaan depan gedung itu. Akan tetapi Retna Wilis dan Harjadenta tidak mengganggu mereka. Mereka lalu mengambil jalan dari belakang rumah besar itu. Dengan mudah mereka melompat pagar tembok yang mengitari rumah itu dan menyusup ke arah gedung melalui taman bunga yang berada di bagian belakang. Malam telah larut dan suasana sunyi sekali. Agaknya semua penghuni gedung itu sudah tidur nyenyak. Akan tetapi mereka menemui kesulitan untuk mencari di mana kamar tidur sang demang.
"Biar aku yang mencari keterangan," bisik Harjadenta kepada Retna Wilis.
Gadis itu mengangguk. Harjadenta mengintai dari lubang di jendela sebuah kamar dan melihat seorang laki-laki tidur dalam kamar itu. Melihat kamar itu hanya kecil dan sederhana, maka dia dapat menduga bahwa laki-laki yang berada di dalam kamar seorang diri itu tentulah hanya seorang pelayan. Dengan mudah dia dapat membuka jendela itu dan melompat ke dalam. Retna Wilis hanya menanti di luar kamar, bersembunyi di balik tikungan dinding. Setelah berada di dekat pembaringan laki-laki setengah tua itu, Harjadenta lalu mengguncang tubuhnya. Laki-laki itu terbangun dan sebelum dia dapat membuka mulut, Harjadenta telah menempelkan keris pusaka Ki Mengeng di leher orang itu.
“Jangan bergerak dan jangan berteriak kalau engkau sayang nyawamu!" bisiknya.
Laki-laki itu ketakutan dan membelalakkan matanya, menggeleng kepala menyatakan bahwa dia tidak akan berteriak atau bergerak.
"Aku hanya ingin engkau menunjukkan di mana kamar Sang Demang Kebolinggo!" kembali Harjadenta menggertak, dan menempelkan kerisnya lebih ketat ke leher orang itu.
"Ampunkan saya ... kamar ... kamarnya berada di ruangan tengah ... jangan bunuh saya ... ” kata orang itu dengan tubuh menggigil dan suara gemetar.
"Hayo turun dan tunjukkan aku kamar itu!" kembali Harjadenta berkata, dan dengan tubuh gemetar ketakutan orang itu lalu turun dari pembaringannya. Dia didorong ke pintu oleh Harjadenta, membuka pintu dan mereka keluar.

Retna Wilis melihat mereka, lalu ia mengikuti dari belakang. Setelah tiba di ruangan tengah dan orang itu menudingkan telunjuknya ke arah sebuah pintu kamar yang besar, tiba-tiba Harjadenta mengetuk tengkuknya dengan tangan kiri. Orang itu mengeluh lirih dan roboh pingsan.
"Sekarang giliranku untuk memasuki kamar sang demang lebih dulu," kata Retna Wilis dan Harjadenta mengangguk.
Dengan mudah sekali Retna Wilis juga membuka daun jendela kamar itu dan bagaikan seekor kucing saja ia melompat ke dalam tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Kamar itu remang-remang karena hanya diterangi sebuah lampu gantung yang kecil. Akan tetapi penglihatan Retna Wilis yang tajam dapat melihat sesosok tubuh yang tinggi kurus rebah seorang diri di atas sebuah pembaringan yang lebar dan berukir indah. Pria itu berusia kurang lebih lima puluh tahun dan dia tidur telentang dan mendengkur. Retna Wilis menghampiri pembaringan itu dan dengan kakinya ia mendorong pembaringan itu, sehingga pembaringan terguncang keras. Sang demang terkejut dan terbangun dari tidurnya. Dia menggosok matanya dengan punggung tangan dan bangkit duduk, akan tetapi tiba-tiba saja ada sebatang pedang ditodongkan pada dadanya. Dia terbelalak memandang dan melihat bahwa yang menodong dadanya dengan pedang adalah seorang wanita yang cantik jelita akan tetapi matanya mencorong menakutkan.
"Apa ... ada apa ini ... siapa andika?" tanya sang demang.
"Jangan mencoba untuk berteriak karena pedang ini tentu akan menembus dadamu!" Retna Wilis mengancam.
Kini Demang Kebolinggo sudah sadar sepenuhnya bahwa kamarnya kemasukan maling wanita yang mangancamnya. Dia adalah seorang laki-laki yang sedikit banyak memiliki ilmu bela diri. Dia menganggap bahwa wanita itu berani karena memegang pedang. Tiba-tiba dia membuang tubuh ke kiri sehingga terlepas dari todongan lalu kakinya menendang ke arah tangan Retna Wilis yang memegang pedang. Retna Wilis terkejut, tidak mengira bahwa demang itu akan melakukan perlawanan. Maka ia lalu menarik pedangnya dan ketika melihat kaki demang itu mencuat dalam tendangan, ia mengetuk kaki itu dengan tangan kiri yang dimiringkan.
"Dukk ... !" Kaki itu terpental kembali dan Demang Kebolinggo mengeluh kesakitan. Kakinya terasa seperti patah. Namun dia masih belum mau mengalah. Setelah melompat turun dari pembaringan, dia lalu menubruk dan memukul dengan tangannya. Dengan cepat Retna Wilis menghindar dan tangan kirinya menampar, mengenai leher demang itu dan tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh demang itu terpelanting roboh.
"Hemm, apakah engkau ingin kubunuh dengan pedang ini?" bentak Retna Wilis, sambil menodongkan pedangnya di dada Demang Kebolinggo yang sudah bangkit duduk sambil menggosok-gosok lehernya yang terasa nyeri sekali. Baru sekarang dia maklum bahwa wanita itu adalah seorang yang digdaya. Diapun tahu bahwa wanita itu tidak ingin membunuhnya. Kalau demikian halnya, tentu dia sudah mati sekarang. Wanita itu hanya merobohkannya dengan tangan saja, bukan menyerang dengan pedang.

Pada saat itu, Harjadenta yang mendengar suara gedebukan dalam kamar, merasa khawatir dan diapun melompat masuk melalui jendela. Hati Demang Kebolinggo menjadi lebih gentar lagi melihat masuknya seorang pemuda ke dalam kamarnya. Dia tahu bahwa dia telah kalah dan harus menurut apa yang dikehendaki mereka.
"Ada apakah?" tanya Harjadenta kepada Retna Wilis.
"Dia mencoba untuk melawanku," jawab Retna Wilis sambil tetap menodongkan pedangnya ke dada Demang Kebolinggo.
Melihat munculnya seorang pemuda membuat Demang Kebolinggo merasa semakin tidak berdaya. Akan tetapi dia merasa bahwa selama ini dia tidak melakukan kesalahan apapun, maka dengan tabah dia lalu menegur,
"Andika berdua ini orang-orang muda mempunyai keperluan apakah? Mengapa masuk ke rumahku dan memaksaku seperti dua orang maling?"
"Hemm, andika sudah berbuat kesalahan besar masih berpura-pura bersih dan menggertak kami?” bentak Retna Wilis.
"Kesalahan besar apakah yang kulakukan? Aku selama menjadi demang bersikap bijaksana dan adil terhadap rakyatku."

<<< Bagian 31                                                                                          Bagian 33 >>>

No comments:

Post a Comment