Kadang dia bergulingan dan menyerang lawan dari bawah. Kedua lengannya yang panjang besar itu mencuat dan menyambar-nyambar ke arah segala bagian tubuh Retna Wilis. Namun, Retna Wilis segera mainkan ilmu silat Pancaroba dan tubuhnya berkelebat melebihi burung walet cepatnya, sukar diraih tangan yang besar itu. Akan tetapi, Retna Wilis juga mengalami kesukaran untuk dapat merobohkan lawannya. Sudah dua kali tangan dan kakinya mengenai tubuh lawan, akan tetapi hanya membuat lawan terhuyung saja, tidak merobohkannya. Kiranya raksasa itupun memiliki tubuh yang kebal sekali. Karena kesal sampai sekian lamanya tidak mampu merobohkan lawannya, Retna Wilis mencabut pedang pusakanya, yaitu pedang Sapudenta! Tampak sinar terang berkelebat menyilaukan mata ketika pedang itu berada di tangan kanannya.
"Babo-babo
keparat, belum lecet kulitmu sudah mengeluarkan pusaka!" bentak Ki
Shiwananda dan diapun mengeluarkan senjatanya yang berat, yaitu sebatang ruyung
yang tadi tergantung di pinggangnya. Ruyung ini terbuat dari baja hitam, berat
dan kuatnya bukan main. Sebongkah batu besar-pun akan pecah berantakan kalau
sekali kena pukulannya dengan ruyung ini, apa lagi kalau mengenai kepala
manusia! Akan tetapi begitu dia menggerakkan ruyungnya, Retna Wilis telah
mengerahkan aji Wisolangking di tangan kirinya. Aji Wisolangking ini membuat
tangan kirinya panas sekali dan kalau mengenai tubuh lawan dapat menghanguskan
bagian yang terkena pukulan! Melihat sepak terjang adiknya yang begitu
menggiriskan, Bagus Seta lalu menyambut serangan Ni Dewi Durgomala. Ketika
kebutan itu menyambar ke arah kepalanya, ia menyambut dengan tangan kanannya
dan sekali tangan itu menyambar, dia telah berhasil merampas kebutan dari
tangan Ni Dewi Durgomala! Wanita ini memekik marah dan juga gentar.
"Ki
Shiwananda, sudah saatnya kita pergi!" bentaknya kepada raksasa itu yang
sedang bertanding seru melawan Retna Wilis.
Bagus Seta
juga melompat ke dekat adiknya.
"Diajeng,
hati-hati dengan pusakamu!" Dia menggerakkan tangan menahan ruyung Ki
Shiwananda yang dihantamkan.
"Plakkkkk!"
Ki Shiwananda merasa betapa tenaga pada tangan kanannya seperti tenggelam dan
lenyap. Dia terkejut sekali. Menarik kembali ruyungnya dan maklumlah dia bahwa
seruan Ni Dewi Durgomala tadi benar. Baru melawan Retna Wilis saja dia
kerepotan dan tidak mampu menang, apa lagi kalau Bagus Seta maju. Tangan pemuda
itu dapat menyambut ruyungnya! Dia merasa gentar dan segera mengayun dan memutar
ruyungnya. Ketika Bagus Seta dan Retno Wilis mundur, mereka berdua melompat dan
lenyap di kegelapan malam.
Harjadenta
masih mengamuk, merobohkan para pengeroyok. Melihat ini, Bagus Seta lalu
melompat ke atas atap candi dari berseru,
"Saudara
sekalian, hentikan pengeroyokan itu!" Lalu dia melayang ke bawah.
Melihat ini,
apa lagi melihat betapa dua orang pemimpin mereka telah melarikan diri,
merekapun menghentikan pengeroyokan dan berdiri bingung seperti sekawanan domba
kehilangan penggembalanya. Harjadenta juga berhenti mengamuk dan melompat ke
belakang, dekat Bagus Seta dan Retna Wilis. Dia menjadi semakin kagum kepada
dua orang kakak beradik ini, yang demikian mudah mengalahkan Ni Dewi Durgomala
dan Ki Shiwananda sehingga dua orang sakti itu melarikan diri. Dan dia girang
bukan main ketika Bagus Seto menyerahkan keris pusaka Ki Carubuk kepadanya.
"Ini
keris gurumu, kembalikanlah kepadanya," kata Bagus Seta.
"Terima
kasih banyak, kakangmas Bagus Seta," katanya sambil menerima dan
menyelipkan keris pusaka itu di pinggangnya.
"Kakang,
kenapa kita tidak basmi saja perkumpulan agama ini?" kata Retna Wilis
sambil memandang kepada para anggota agama baru itu dengan alis berkerut.
"Jangan,
diajeng. Agama mereka itu samasekali tidak bersalah. Sang Hyang Bathara Shiwa
yang mereka sembah adalah Yang Kuasa Membasmi di alam mayapada ini, dan sudah
selayaknya kalau disembah dan dipuja. Adapun Bathari Durgo adalah isterinya dan
Bathara Kala adalah puteranya. Tidak ada salahnya dengan mereka yang
disembah-sembah. Semua kesalahan terletak kepada manusianya yang menyelewengkan
pelajaran agama itu untuk tujuan buruk. Mereka bebas menentukan agama mereka
sendiri. Kita tidak boleh menentangnya dan mereka boleh mendirikan candi
seperti yang mereka kehendaki. Yang kita tentang adalah manusianya yang
melakukan tindakan menyeleweng dan jahat. Para anggauta agama ini tidak
bersalah. Mereka bahkan menjadi korban, korban penyelewengan Ni Dewi Durgomala
dan Ki Shiwananda. Setelah kekalahan mereka malam ini, kurasa mereka tidak akan
berani lagi melakukan kejahatan mereka di antara penduduk Bulumanik."
Harjadenta
yang mendengarkan ucapan Bagus Seta ini, menjadi semakin kagum.
"Saya
rasa apa yang diucapkan kakangmas Bagus Seta itu benar, diajeng Retna.
Orang-orang itu tidak berdosa. Mereka melakukan segala itu karena mereka tidak
sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah suatu perbuatan jahat. Mereka
seperti mabuk atau terbius, seperti yang kualami tadi. Aku sendiri tidak sadar
bahwa aku ikut menari-nari seperti orang yang gila. Mereka tidak salah bahkan
patut dikasihani."
"Kalau
begitu kesalahan ini selain terletak pada pundak kedua orang pimpinan agama
itu, juga terletak di pundak Demang Kebolinggo. Sebagai seorang kepala daerah,
dia tidak seharusnya memberi ijin kepada orang-orang seperti Ni Dewi Durgomala
dan Ki Suwananda itu untuk membangun candi dan mempengaruhi penduduk. Tidak
mungkin kalau dia tidak tahu apa yang telah terjadi di candi ini," kata
pula Retna Wilis dengan gemas.
"Orang
seperti dia tidak patut menjadi pemimpin dan harus mendapat peringatan
keras!"
Bagus Seta
mengangguk-angguk.
"Pendapatmu
itu ada benarnya, diajeng. Silakan saja kalau engkau ingin memperingatkan dia,
akan tetapi ingat, jangan menggunakan kekerasan, apa lagi membunuhi
orang."
"Diajeng
Retna Wilis memang benar, dan kalau boleh, aku akan senang kalau menemanimu
pergi ke rumah demang dan memberi peringatan kepadanya."
"Kalau
begitu lebih baik lagi agar Demang Kebolinggo lebih terkesan dan menaati
nasihat kalian," kata Bagus Seta.
Retna Wilis
terpaksa tidak dapat menolak permintaan Harjadenta. Ia sendiri memang kagum
juga kepada pemuda yang berani dan telah membantu ia dan kakaknya menghadapi
pimpinan agama baru itu.
"Baiklah,
dan sebaiknya kita lakukan itu malam ini juga," kata Retna Wilis.
"Pergilah
kalian, aku akan lebih dulu pulang ke pondokan Mbok Rondo Gati."
Tiga orang itu
lalu berpisah. Retna Wilis dan Harjadenta pergi meninggalkan Bagus Seta dan
mencari rumah Demang Kebolinggo, penguasa di Bulumanik. Tidak sukar bagi mereka
untuk menemukan rumah yang paling besar di Bulumanik itu. Mereka berdua melihat
bahwa ada tujuh orang penjaga di gardu penjagaan depan gedung itu. Akan tetapi
Retna Wilis dan Harjadenta tidak mengganggu mereka. Mereka lalu mengambil jalan
dari belakang rumah besar itu. Dengan mudah mereka melompat pagar tembok yang
mengitari rumah itu dan menyusup ke arah gedung melalui taman bunga yang berada
di bagian belakang. Malam telah larut dan suasana sunyi sekali. Agaknya semua
penghuni gedung itu sudah tidur nyenyak. Akan tetapi mereka menemui kesulitan
untuk mencari di mana kamar tidur sang demang.
"Biar aku
yang mencari keterangan," bisik Harjadenta kepada Retna Wilis.
Gadis itu mengangguk.
Harjadenta mengintai dari lubang di jendela sebuah kamar dan melihat seorang
laki-laki tidur dalam kamar itu. Melihat kamar itu hanya kecil dan sederhana,
maka dia dapat menduga bahwa laki-laki yang berada di dalam kamar seorang diri
itu tentulah hanya seorang pelayan. Dengan mudah dia dapat membuka jendela itu
dan melompat ke dalam. Retna Wilis hanya menanti di luar kamar, bersembunyi di
balik tikungan dinding. Setelah berada di dekat pembaringan laki-laki setengah
tua itu, Harjadenta lalu mengguncang tubuhnya. Laki-laki itu terbangun dan
sebelum dia dapat membuka mulut, Harjadenta telah menempelkan keris pusaka Ki
Mengeng di leher orang itu.
“Jangan
bergerak dan jangan berteriak kalau engkau sayang nyawamu!" bisiknya.
Laki-laki itu
ketakutan dan membelalakkan matanya, menggeleng kepala menyatakan bahwa dia
tidak akan berteriak atau bergerak.
"Aku
hanya ingin engkau menunjukkan di mana kamar Sang Demang Kebolinggo!"
kembali Harjadenta menggertak, dan menempelkan kerisnya lebih ketat ke leher
orang itu.
"Ampunkan
saya ... kamar ... kamarnya berada di ruangan tengah ... jangan bunuh saya ...
” kata orang itu dengan tubuh menggigil dan suara gemetar.
"Hayo
turun dan tunjukkan aku kamar itu!" kembali Harjadenta berkata, dan dengan
tubuh gemetar ketakutan orang itu lalu turun dari pembaringannya. Dia didorong
ke pintu oleh Harjadenta, membuka pintu dan mereka keluar.
Retna Wilis
melihat mereka, lalu ia mengikuti dari belakang. Setelah tiba di ruangan tengah
dan orang itu menudingkan telunjuknya ke arah sebuah pintu kamar yang besar,
tiba-tiba Harjadenta mengetuk tengkuknya dengan tangan kiri. Orang itu mengeluh
lirih dan roboh pingsan.
"Sekarang
giliranku untuk memasuki kamar sang demang lebih dulu," kata Retna Wilis
dan Harjadenta mengangguk.
Dengan mudah
sekali Retna Wilis juga membuka daun jendela kamar itu dan bagaikan seekor
kucing saja ia melompat ke dalam tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Kamar itu
remang-remang karena hanya diterangi sebuah lampu gantung yang kecil. Akan
tetapi penglihatan Retna Wilis yang tajam dapat melihat sesosok tubuh yang
tinggi kurus rebah seorang diri di atas sebuah pembaringan yang lebar dan
berukir indah. Pria itu berusia kurang lebih lima puluh tahun dan dia tidur
telentang dan mendengkur. Retna Wilis menghampiri pembaringan itu dan dengan
kakinya ia mendorong pembaringan itu, sehingga pembaringan terguncang keras.
Sang demang terkejut dan terbangun dari tidurnya. Dia menggosok matanya dengan
punggung tangan dan bangkit duduk, akan tetapi tiba-tiba saja ada sebatang pedang
ditodongkan pada dadanya. Dia terbelalak memandang dan melihat bahwa yang
menodong dadanya dengan pedang adalah seorang wanita yang cantik jelita akan
tetapi matanya mencorong menakutkan.
"Apa ...
ada apa ini ... siapa andika?" tanya sang demang.
"Jangan
mencoba untuk berteriak karena pedang ini tentu akan menembus dadamu!"
Retna Wilis mengancam.
Kini Demang
Kebolinggo sudah sadar sepenuhnya bahwa kamarnya kemasukan maling wanita yang
mangancamnya. Dia adalah seorang laki-laki yang sedikit banyak memiliki ilmu
bela diri. Dia menganggap bahwa wanita itu berani karena memegang pedang.
Tiba-tiba dia membuang tubuh ke kiri sehingga terlepas dari todongan lalu
kakinya menendang ke arah tangan Retna Wilis yang memegang pedang. Retna Wilis
terkejut, tidak mengira bahwa demang itu akan melakukan perlawanan. Maka ia
lalu menarik pedangnya dan ketika melihat kaki demang itu mencuat dalam
tendangan, ia mengetuk kaki itu dengan tangan kiri yang dimiringkan.
"Dukk ...
!" Kaki itu terpental kembali dan Demang Kebolinggo mengeluh kesakitan.
Kakinya terasa seperti patah. Namun dia masih belum mau mengalah. Setelah
melompat turun dari pembaringan, dia lalu menubruk dan memukul dengan
tangannya. Dengan cepat Retna Wilis menghindar dan tangan kirinya menampar,
mengenai leher demang itu dan tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh demang itu
terpelanting roboh.
"Hemm,
apakah engkau ingin kubunuh dengan pedang ini?" bentak Retna Wilis, sambil
menodongkan pedangnya di dada Demang Kebolinggo yang sudah bangkit duduk sambil
menggosok-gosok lehernya yang terasa nyeri sekali. Baru sekarang dia maklum
bahwa wanita itu adalah seorang yang digdaya. Diapun tahu bahwa wanita itu
tidak ingin membunuhnya. Kalau demikian halnya, tentu dia sudah mati sekarang.
Wanita itu hanya merobohkannya dengan tangan saja, bukan menyerang dengan
pedang.
Pada saat itu,
Harjadenta yang mendengar suara gedebukan dalam kamar, merasa khawatir dan
diapun melompat masuk melalui jendela. Hati Demang Kebolinggo menjadi lebih
gentar lagi melihat masuknya seorang pemuda ke dalam kamarnya. Dia tahu bahwa
dia telah kalah dan harus menurut apa yang dikehendaki mereka.
"Ada
apakah?" tanya Harjadenta kepada Retna Wilis.
"Dia
mencoba untuk melawanku," jawab Retna Wilis sambil tetap menodongkan
pedangnya ke dada Demang Kebolinggo.
Melihat
munculnya seorang pemuda membuat Demang Kebolinggo merasa semakin tidak
berdaya. Akan tetapi dia merasa bahwa selama ini dia tidak melakukan kesalahan
apapun, maka dengan tabah dia lalu menegur,
"Andika
berdua ini orang-orang muda mempunyai keperluan apakah? Mengapa masuk ke
rumahku dan memaksaku seperti dua orang maling?"
"Hemm,
andika sudah berbuat kesalahan besar masih berpura-pura bersih dan menggertak
kami?” bentak Retna Wilis.
"Kesalahan
besar apakah yang kulakukan? Aku selama menjadi demang bersikap bijaksana dan
adil terhadap rakyatku."
<<< Bagian 31 Bagian 33 >>>
No comments:
Post a Comment