"Hong, nir boyo sedyo rahayu! Hong, nir ing sambekala sedyo rahayu!" Kobaran api itu kini "menelan" tubuh Jayawijaya.
Semua orang
yang menyaksikan menjadi tegang dan khawatir sekali, terutama Retna Wilis yang
khawatir kalau kekasihnya akan terbakar hangus dan menemui kematiannya. Ki
Patih Tejolaksono juga memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Belum pernah dia melihat peristiwa seperti itu! Dia tahu benar betapa saktinya
aji yang dikeluarkan Wasi Shiwasakti itu, akan tetapi pemuda yang tampak lemah
lembut dan tidak memiliki kedigdayaan itu berani memasuki kobaran api yang
bernyala nyala dan di dalamnya terkandung sosok-sosok binatang buas dan
kepala-kepala setan itu! Dan terjadilah keanehan yang membuat semua orang
terbelalak kagum dan terpesona. Bentuk-bentuk mengerikan dalam kobaran api itu
begitu bertemu dengan Jayawijaya, tampak ketakutan seperti sekawanan anjing
dibawakan cambuk! Mereka mundur-mundur dan kobaran api itu dengan sendirinya
juga mundur ke belakang dan semakin menyempit dan mengecil.
"Aji
Surya Candra....!" Wasi Shiwasakti mengeluarkan pekik mengerikan lagi dan
kini kedua telapak tangannya mendorong sehingga api mulai berkobar lagi
ditambah dua cahaya mengkilat yang menyilaukan mata. Kobaran api itu menyambar
ke arah Jayawijaya yang masih bersedakap dan kini pemuda itu terhuyung ke
belakang. Demikian kuatnya Aji Surya Candra itu sehingga seolah-olah Jayawijaya
tidak akan kuat bertahan!
Retna Wilis
menahan napas, matanya terbelalak memandang kekasihnya yang terancam bahaya,
tangan kirinya menutup mulutnya seolah hendak menahan agar ia tidak menjerit.
Semua orang juga merasa gelisah sekali, kecuali Bagus Seta dan Ki Panji Kelana
yang masih menonton dengan sikap tenang sekali. Bagus Seta bersikap tenang
karena dia maklum bahwa dia bertemu dengan seorang yang telah dilindungi oleh
Kekuasaan Sang Hyang Widhi. Kekuatan atau kekuasaan apakah di dunia ini yang
akan mampu menandingi Kekuasaan Sang Hyang Widhi yang sudah melindungi
seseorang? Karena pengertian inilah maka dia bersikap tenang saja, yakin bahwa
tidak ada sesuatu yang akan mampu mencelakai Jayawijaya. Adapun Ki Panji Kelana
bersikap tenang karena dia adalah seorang yang sudah sepenuh nya menyerah
kepada Kehendak Sang Hyang Widhi, seperti yang diajarkannya kepada puteranya
sejak Jayawijaya kecil. Kepasrahan dan penyerahan ini yang membuat dia tenang
dan tidak pernah gelisah karena apapun yang akan terjadi menimpa diri Jayawijaya
sudah diikhlaskan karena semua itu sudah dikehendaki Sang Hyang Widhi. Kalau
Sang Hyang Widhi menghendaki kematian Jayawijaya atau dirinya sendiri, setiap
saat dia ikhlas dan dia akan merelakan tanpa rasa penyesalan sedikitpun. Dengan
penyerahan yang mutlak lahir bathin ini, bagaimana hati Ki Panji Kelana dapat
menjadi khawatir?
Tubuh
Jayawijaya bergoyang-goyang ke belakang dan ke depan, seperti di dorong-dorong
oleh kekuatan gaib yang amat besar. Seolah-olah setiap saat dia akan roboh
terjengkang. Akan tetapi tiba-tiba terjadi perubahan. Kedua lengannya yang
tadinya bersedakap, bergerak lepas, kemudian kedua tangan itu dirangkap dan dia
melakukan gerakan menyembah ke atas. Gerakan yang wajar dan sama sekali tidak
dibuat-buat karena gerakan ini memang terjadi dengan sendirinya, gerakan yang
bukan digerakkan oleh hati akal pikiran, melainkan gerakan langsung dari
jiwanya. Kemudian, kedua tangan yang menyembah itu meluncur lurus ke depan,
kedua telapak tangan menghadap ke depan seperti orang mendorong. Gerakan inipun
wajar dan lembut, sama sekali tidak mengandung tenaga, hanya kedua tangan itu
tergetar dan ........ kobaran api itu tertiup mundur, sosok-sosok dan
bentuk-bentuk mengerikan terjengkang ke dalam kobaran api dan kobaran api itu
terus mundur sampai mengenai tubuh Wasi Shiwasakti sendiri. Terdengar jerit
mengerikan keluar dari mulut Wasi Shiwasakti!
"Auuugrgghh
..! Taubat .... taubat .... hamba menyerah ....!" Dan tubuhnya bergulingan
di atas tanah.
Wasi
Shiwamurti cepat membantu kakak seperguruannya bangkit berdiri lagi. Kobaran
api telah lenyap dan kini tampak betapa semua rambut, kumis dan jenggot Wasi
Shiwasakti terbakar habis dan mukanya masih terbungkus hangus sehingga
kelihatan lucu dan juga mengerikan. Wasi Shiwamurti memondong tubuh yang lunglai
itu, yang kini hanya dapat mendesis-desis seperti kepanasan, dan Wasi
Shiwamurti menyeret tongkat kepala naganya, lalu pergi dari tempat itu sambil
memondong tubuh kakak seperguruannya yang sudah tidak berdaya sama sekali.
Semua orang
yang menonton pertunjukan luar biasa hebatnya itu bersorak sorai atas
kemenangan Jayawijaya. Pemuda itu bersikap biasa saja dan ketika Ki Tejolaksono
menghampirinya dan memegang kedua pundaknya sambil memuji, dia berkata lirih.
"Sang
Hyang Widhi yang menalukkannya, bukan saya...."
Semua orang
mendekat dan merubung Jayawijaya dan saking girang hatinya, Ki Tejolaksono
memandang Adipati Kertajaya sambil berkata,
"Maafkan
kami, adimas Adipati, terpaksa sekali kami tidak dapat menerima pinangan andika
kepada puteri kami untuk puteramu itu, karena Retna Wilis telah memiliki
seorang calon jodohnya, yaitu anak mas Jayawijaya."
Adipati
Kertajaya menghela napas dan menoleh kepada Jarot yang mengangguk sambil
tersenyum, rela menerima "kekalahan" itu.
"Kami
mengerti, Kakangmas Patih. Kami menjadi saksi bahwa yang mampu menandingi Wasi
Shiwasakti tadi adalah anak mas Jayawijaya, maka sudah sepantasnya kalau dia
yang berhak mempersunting puterimu."
Ki Patih
Tejolaksono lalu menghadapi Ki Panji Kelana dan berkata dengan sikap ramah.
"Marilah,
adimas Panji Kelana, kita semua bicara di dalam karena pinanganmu kepada Retna
Wilis untuk putera andika Jayawijaya kami terima dengan senang hati."
Semua orang
dipersilakan masuk dan kembali mereka disuguhi perjamuan kecil untuk merayakan
kemenangan atas kedua orang wasi dari Cola itu. Suasana meriah dan biarpun
Jarot ditolak pinangannya namun dia tidak menjadi kecil hati. Dia maklum benar
bahwa memang Jayawijaya lebih berhak, bukan saja pemuda itu telah menandingi
dan mengusir Wasi Shiwasakti, akan tetapi lebih-lebih lagi karena dia merupakan
pilihan hati Retno Wilis. Juga Harjadenta tidak merasa penasaran walaupun
cintanya bertepuk tangan sebelah. Retno Wilis memang terlalu tinggi baginya
untuk dijangkau. Jarot segera mengalihkan perhatiannya, yaitu kepada puteri
Adipati Blambangan yang bernama Dyah Ayu Kerti.
Jarot
membisikkan kehendak hatinya kepada ayahnya dan orang tua itu tidak merasa ragu
untuk mengajukan pinangan kepada keluarga yang menjadi tawanan terhormat itu.
Ayah Jarot adalah seorang adipati pula, dan dia sendiri sedang menjadi tawanan,
maka melihat uluran tangan yang meminang puterinya itu, Adipati Menak Sampar
dari Blambangan tidak melihat jalan lain yang lebih terhormat kecuali
menerimanya. Apa lagi dia melihat bahwa Jarot adalah seorang pemuda yang tampan
dan gagah perkasa, dan kelak menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Adipati di
Pasisiran. Juga Dyah Ayu Kerti tidak menolak ketika ditanya ayahnya karena
puteri inipun sudah meiihat kegagahan dan ketampanan Jarot.
Saroji, putera
Ki Haryosakti pemimpin perkumpulan Jambuko Cemeng, memiliki, pilihan lain. Dia
segera tertarik sekali kepada Dyah Candramanik, puteri Adipati Martimpang dari
Nusabarung. Maka dia memberanikan diri dengan perantaraan ayahnya dan didukung
oleh keluarga Ki Patih Tejolaksono yang telah hutang budi atas bantuan Jambuko
Cemeng, dia meminang Dyah Candramanik. Adipati Martimpang juga menerima
pinangan ini dengan senang hati mengingat bahwa ayah pemuda itu, Ki Haryosakti
merupakan ketua dari perkumpulan Jambuko Cemeng yang cukup terkenal
kesaktiannya.
Harjadenta
tidak mau kalah. Dia telah melihat Sarmini, puteri Ki Haryosakti yang cantik
manis dan lembut, maka dengan-bantuan Bagus Seto dan Retno Wilis, dia minta
pertolongan kepada Ki Patih Tejolaksono untuk sudi menjadi walinya karena dia
sudah yatim piatu dan gurunya berada jauh. di Gunung Raung, untuk meminangkan
puteri Ki Haryosakti itu. Pinangan inipun diterima dengan senang hati.
Maka
lengkaplah sudah orang-orang muda itu mendapatkan jodoh masing-masing, Hanya Bagus
Seta seorang yang belum mendapatkan jodoh. Ayu Chandra, ibunya menoleh kepada
puteranya dan memberi isyarat kepadanya untuk mengikutinya masuk ke dalam
gedung. Setelah berada berdua saja, ibu ini bertanya dengan suara terharu.
"Dan
engkau sendiri bagaimana, angger? Kapan engkau akan menentukan pilihan hatimu
dan menikah? Ibumu sudah rindu menimang cucu darimu."
Bagus Seta
tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Belum
tiba saatnya, ibu. Saya masih suka menyendiri, mengarungi Bumi Nusantara yang
luas ini."
Pada saat itu,
Ki Patih Tejolaksono memasuki ruangan tengah itu. Ketika melihat isterinya
menggapai Bagus Seta masuk ke dalam, hati Ki Patih ini sudah dapat menduga maka
diapun menyusul ke dalam.
"Bagus
Seta, bagaimana dengan engkau? Siapa yang akan menjadi jodohmu?"
"Baru
saja kami membicarakannya kakangmas." kata Ayu Candra dengan suara kecewa.
"Akan
tetapi dia masih belum menentukan pilihannya, masih suka menyendiri dan ingin
berkelana mengarungi Bumi Nusantara."
"Hemm,
bagaimanakah engkau ini, kulup? Usiamu sudah tigapuluh tahun. Akan menanti
kapan lagi? Tunjukan puteri mana yang kaukehendaki dan aku tentu akan
meminangkan untukmu," kata Ki Patih Tejolaksono.
"Terima
kasih, kanjeng romo. Akan tetapi jodoh berada di Tangan Sang Hyang Widhi. Kalau
belum jodohnya tentu tidak akan bertemu. Pula, hati saya belum tertarik untuk
urusan perjodohan, kanjeng romo. Harap kanjeng romo dan kanjeng ibu tidak
menjadi kecewa dan suka memaafkan puteranda."
"Akan
tetapi, kulup Bagus Seta. Adikmu Retna Wilis sudah memperoleh jodoh, kenapa
engkau malah belum? Apakah adimu harus menikah lebih dulu?" tanya Ki Patih
Tejolaksono.
Bagus Seto
tersenyum.
"Saya
merasa berbahagia sekali bahwa diajeng Retna Wilis telah memperoleh jodoh
seorang pemuda yang bijaksana dan budiman. Saya merasa yakin bahwa diajeng
Retna Wilis akan memperoleh kebahagiaan hidup dibawah bimbingan adimas
Jayawijaya. Tidak mengapa kalau ia menikah lebih dulu, kanjeng romo. Jodoh
masing-masing tidaklah dapat ditentukan."
"Aku
hanya khawatir kalau-kalau engkau tidak mau menikah dan akan hidup sebagai
seorang pertapa. Ingat, hanya engkau yang menjadi tumpuan harapanku untuk
memperoleh keturunan dari ayah, anakku."
Bagus Seta
kembali tersenyum.
"Kalau
Sang Hyang Widhi menghendaki, apapun yang akan terjadi kepada saya tentu akan
saya terima dengan rela, kanjeng romo. Untuk penyerahan seperti ini kita harus
banyak belajar dari adimas Jayawijaya."
Para tamu
mulai berpamitan meninggalkan kepatihan dan kembali ke tempat masing-masing. Ki
Patih Tejolaksono lalu mengawal para tawanan menuju ke istana Sang Prabu di
Panjalu di persidangan dan di situ Sang Prabu memutuskan tindakan apa yang akan
dijatuhkan kepada kedua orang adipati itu.
Sang Prabu
Panjalu adalah seorang yang bijaksana. Beliau mengerti bahwa pemberontakan yang
dilakukan oleh dua orang adipati terutama sekali karena ada dorongan, dan dari
para utusan Cola dan persekutuan mereka dengan Bali-dwipa. Maka Sang Prabu
memaafkan mereka, mengangkat Adipati Martimpang kembali menjadi adipati di
Nusabarung. Juga beliau mengangkat Adipati Menak Sampar kembali menjadi adipati
di Blambangan dengan disertai janji dan sumpah bahwa mereka tidak lagi akan
mengulang perbuatan mereka yang memberontak terhadap Panjalu dan Jenggala.
Tentu saja
kedua orang adipati itu sekeluarga merasa bersukur sekali dan setelah
menghaturkan sembah dan terima kasih, mereka semua lalu kembali ke kadipaten
masing-masing, siap untuk mengadakan, pesta pernikahan bagi anak-anak mereka.
Jayawijaya
melangsungkan pernikahannya dengan Retna Wilis. Pernikahan ini dilangsungkan
secara meriah sekali dan mengingat akan jasa Ki Patih Tejolaksono, Sang Prabu
di Panjalu dan Jenggala berkenan menghadiri pesta pernikahan itu.
Setelah
menikah, di dalam kamar mereka, Jayawijaya berkata kepada isterinya.
"Diajeng,
setelah sebulan tinggal di sini, aku akan mengajakmu ke Tengger dan kita
tinggal di sana, Tentu engkau suka tinggal bersamaku di sana, bukan?"
Retno Wilis
melirik manja.
"Tentu
saja. Di mana engkau tinggal, di sanalah tempatku berada, kakangmas."
"Akan
tetapi, diajeng. Engkau terbiasa hidup di kepatihan yang serba mewah dan hidup
senang. Apakah engkau akan betah tinggal di pegunungan yang sunyi, sebagai
seorang petani yang hidup bersahaja?"
Retno Wilis
tersenyum.
"Hidup di
manapun sama saja kakangmas. Aku sudah pernah hidup di dalam hutan, pernah
hidup di kota raja, dan pernah menjadi pengembara. Kebahagiaan bukan ditentukan
oleh keadaan lahir, melainkan keadaan batin. Di mana saja aku hidup, kalau
berada di sampingmu, aku akan selalu merasa bahagia, kakangmas!"
Jayawijaya
merangkul isterinya dengan hati bahagia.
"Berbahagia
sekali aku mendapatkan seorang isteri seperti engkau, diajeng."
"Aku
hanya isterimu yang bodoh dan membutuhkan bimbinganmu dalam hidup ini,
kakangmas. Aku akan merasa berbahagia kalau engkau bahagia."
Sepekan
kemudian, keluarga Ki Patih Tejolaksono mengantarkan Bagus Seta yang berpamit
untuk pergi mengembara. Mereka mengantar pemuda itu sampai keluar kota raja dan
baru berhenti setelah tiba di luar batas kota, melihat pemuda itu berjalan
perlahan mendaki sebuah bukit di timur. Makin ke atas, gerakan pemuda itu
semakin cepat sehingga akhirnya yang tampak hanya titik putih seperti seekor
garuda putih yang melayang menjauh.
Ayu Candra
mengusap matanya yang menjadi basah. Ki Patih Tejolaksono merangkulnya.
"Relakanlah,
diajeng. Dia menuju kepada kebahagiaannya dan kalau memang Sang Hyang Widhi
menghendaki, kita tentu akan bertemu lagi dengan dia, putera kita."
Mereka lalu
kembali ke kepatihan dan sebulan kemudian Retna Wilis diajak pergi Jayawijaya,
suaminya, menuju ke Tengger untuk menemui ayahnya, Ki Panji Kelana. Sementara
itu, Jarot melaksanakan pernikahannya dengan Dyah Ayu Kerti yang diboyongnya ke
kadipaten Pasisiran. Saroji, putera Ki Haryosakti, menikah dengan Dyah
Candramanik dan oleh Adipati Martimpang di Nusabarung, mantunya itu disuruh
tinggal di Nusabarung dan diberi kedudukan senopati. Adapun Harjadenta
memboyong Sarmini puteri Ki Haryosakti ke Gunung Raung di mana dia tinggal
bersama Empu Gandawijaya, gurunya. Harjadenta ini kemudian kelak menjadi
seorang empu pembuat keris yang pandai.
Sementara itu,
Kerajaan Jenggala tampak semakin mundur. Kejayaannya kalah oleh Kerajaan
Panjalu dan akhirnya, melihat betapa daerah-daerah di timur, terutama
Bali-dwipa masih selalu merupakan daerah-rawan, Kerajaan Jenggala bersatu
dengan Kerajaan Panjalu dan berubah kembali menjadi Kerajaan Kediri yang
semakin besar, kuat dan jaya.
TAMAT
<<< Bagian 71 Serial Keris Pusaka Sang Megatantra
>>>