Sepasang Garuda Putih ; Bagian 02


Mendengar ucapan ini dan melihat sikap mereka, Ki Wirodemung mengerutkan alisnya dan cepat dia berlari ke sudut ruangan depan lalu dengan gencar memukul kentongan bambu yang tergantung di situ. Lima orang itu saling pandang sambil tertawa-tawa. Sebentar saja banyak orang datang berlarian dan kurang lebih duapuluh orang laki-laki penduduk dusun itu yang kebetulan belum pergi meninggalkan rumah, sudah datang berkumpul. Melihat penduduk sudah berdatangan, Ki Wirodemung menuding ke arah lima orang itu dan membentak,
"Orang-orang kurang ajar, lekas kalian minggat dari sini kalau tidak ingin kami hajar!"
Melihat duapuluh orang penduduk itu berkumpul dan kini mengepung mereka, si kumis melintang tertawa lagi bergelak.
"Ha-ha-ha, kalian penduduk dusun bodoh hendak melawan kami, Lima Macan Hutan Suro? Apa kalian ingin mampus?"
Ki Wirodemung sudah menyambar sebatang tombak dari ruangan depan dan menudingkan telunjuknya kepada si kumis melintang dan berteriak,
"Saudara-saudara, mereka berlima adalah perampok-perampok jahat, mari kita basmi mereka!"
Orang-orang dusun itu memang sudah membawa alat apa saja untuk dapat dijadikan senjata ketika mereka mendengar kentongan dipukul tanda bahaya tadi. Kini mereka mengacungkan arit, pecok, linggis atau pacul dan menyerbu ke arah lima orang itu. Akan tetapi, lima orang itu menyambut mereka dengan pukulan dan tendangan sambil tertawa-tawa dan ternyata mereka itu kuat bukan main. Senjata para penduduk dusun terlepas dari pegangan dan beterbangan disusul tubuh mereka yang terlempar berpelantingan terkena pukulan dan tendangan lima orang yang menyebut diri sebagai Lima Macan hutan Suro itu. Dalam waktu singkat saja, duapuluh orang itu sudah roboh semua termasuk Ki Wirodemung yang tombaknya patah dan mukanya bengkak membiru terkena pukulan tangan si kumis melintang.
Setelah merobohkan duapuluh lebih orang itu, lima orang perampok itu lalu memasuki rumah sambil tertawa-tawa. Mereka memilih barang-barang yang berharga dari rumah itu dan tak lama kemudian mereka sudah keluar lagi membawa barang-barang rampasan mereka. Akan tetapi si kumis melintang tidak membawa barang melainkan memanggul tubuh seorang gadis remaja yang meronta-ronta dan menjerit-jerit.

Agaknya bagi telinga si kumis melintang, jerit tangis itu terdengar seperti suara nyanyian merdu. Makin hebat gadis itu meronta dan menangis, makin senang pula hatinya. Sambil tertawa-tawa lima orang itu lalu keluar dari dusun dan memasuki hutan di dekat dusun itu. Orang-orang dusun yang sudah terpukul roboh itu tidak berani mengejar dan Ki Wirodemung bersama isterinya hanya dapat menangisi puteri mereka yang dibawa pergi para perampok.
Sementara itu, Bagus Seta dan Retna Wilis masih duduk sambil makan daging dawegan yang manis dan gurih. Tiba-tiba mereka mendengar jerit tangis yang datangnya dari dalam hutan. Retna Wilis segera melepaskan dawegannya dan bangkit berdiri.
"Ada yang perlu ditolong, kakang," katanya sambil melompat ke dalam hutan.
Bagus Seta juga bangkit dengan tenang dan mengejar adiknya sambil berkata,
"Tenanglah, Retna dan ingat, jangan membunuh orang!"
Kakak beradik ini berlompatan dan lari mempergunakan ilmu mereka sehingga gerakan lari mereka seperti terbang cepatnya. Retna Wilis berada di depan dan ketika ia tiba di tengah hutan, matanya mencorong dan alisnya berkerut melihat seorang laki-laki berkumis melintang bertubuh tinggi besar sedang duduk di bawah pohon memangku seorang gadis remaja yang meronta-ronta dan menjerit-jerit.
"Jahanam busuk!" Retna Wilis memaki dengan suara melengking tajam.
"Hayo lepaskan gadis itu!"
Si Kumis melintang terkejut dan mengangkat mukanya. Ketika melihat Retna Wilis yang demikian cantik jelita, matanya terbelalak dan mulutnya mengeluarkan suara tertawa bergelak,
"Waduh, cantiknya! Engkau malah lebih cantik dari pada gadis ini! Baik, aku lepaskan gadis dusun ini akan tetapi engkau sebagai gantinya harus duduk di atas pangkuanku ini!"
Retna Wilis yang mendengar ucapan kurang ajar itu sudah melompat dekat dan tangan kirinya menampar ke arah kepala si kumis melintang. Orang itu menangkis dengan tangan kanan sambil siap mencengkeram tangan Retna Wilis.
"Dess ... !" Ketika lengannya menangkis dan bertemu dengan lengan Retna Wilis tubuhnya terguncang dan diapun terpelanting. Gadis dusun itu terlepas dari pangkuannya dan ikut terpelanting. Gadis itu lalu bangkit berdiri dan mundur menjauhi si kumis melintang.
"Babo-babo keparat!" teriak si kumis melintang-sambil bangkit berdiri dan menghadapi Retna Wilis.
"Berani andika memukulku?" Mendengar teriakannya, empat orang kawannya yang duduk tidak jauh dari situ sudah berlarian datang dan mereka mengepung Retna Wilis.
"Wah, ia cantik sekali, cantik manis!"
"Seperti dewi dari kahyangan!"
"Tangkap ia hidup-hidup!" bentak si kumis melintang dengan penasaran dan marah. Ia sendiri lalu menubruk maju sambil membentangkan kedua lengannya untuk merangkul gadis berpakaian putih itu. Empat orang kawannya juga menubruk maju.

Retna Wilis tidak sudi membiarkan dirinya tersentuh tangan-tangan kasar itu, ia membuat gerakan tendangan melingkar dengan kecepatan luar biasa.
"Duk-duk-duk-duk-duk!" Lima orang itu terpelanting, masing-masing terkena sebuah tendangan.
Mereka merangkak bangun dengan penasaran dan tidak percaya bahwa gadis itu mampu merobohkan mereka hanya dalam segebrakan saja.
"Tangkap dia!" si kumis melintang kembali berteriak. Ingin sekali ia menguasai gadis cantik jelita yang pandai berkelahi ini. Kembali dia bersama empat orang kawannya menerjang maju, akan tetapi sekali ini Retna Wilis menyambut mereka dengan tamparan, menggunakan kedua tangannya. Terdengar teriakan beruntun lima kali dan lima orang perampok itu roboh dengan tubuh terputar. Mereka merasakan bumi bergoyang dan sekali ini mereka tidak segera dapat bangun. Mereka merangkak dan setelah dapat bangun si kumis melintang sudah mencabut goloknya, diikuti oleh empat orang kawannya.
"Bunuh perempuan ini!" komandonya dan mereka berlima sudah menerjang ke depan, golok mereka menyambar-nyambar dari segala jurusan.
Akan tetapi golok mereka hanya menyambar tempat kosong karena gadis berpakaian putih itu telah lenyap dari kepungan mereka! Ketika mereka membalikkan tubuh ternyata gadis itu telah berdiri di sana dan sebelum mereka sempat gerak, Retna Wilis kembali sudah menggerakkan kedua tangannya membagi-bagi tamparan.
"Des-des-des-des-des!" Lima kali beruntun mereka terkena tamparan, sekali ini lebih kuat dari tadi, membuat mereka melepaskan golok dan tubuh mereka berputar-putar lalu roboh, mengaduh-aduh dan sukar untuk bangkit kembali. Si kumis melintang mencoba untuk bangkit dengan cepat, namun begitu dia bangkit, dia terjatuh lagi karena sekelilingnya berputar.
"Kalian masih belum menyerah? Bangkitlah, aku tunggu!" tantang Retno Wilis.
Si kumis melintang dan empat orang kawannya kini sadar betul bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang sakti, maka mereka menjadi gentar dan setelah mampu bangkit, mereka merangkak dan berlutut menghadap Retno Wilis.
"Ampun, kami tidak berani melawan lagi, kanjeng dewi ... " kata si kumis melintang, menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang dewi dari kahyangan yang sakti.
"Apakah kalian sudah sadar akan kejahatan kalian dan kini bertaubat?"
"Kami sadar dan kami menyesal, kami bertaubat, kanjeng dewi ... "
"Bagus, kalau kalian bertaubat, katakan apa saja yang kalian lakukan tadi dan darimana gadis ini kalian bawa?"
"Kami baru saja merampok di rumah Ki Wirodemung di dusun sebelah utara hutan ini dan gadis itu adalah puterinya ... ampunkan kami!"
"Sekarang, antarkan kembali gadis itu dan kembalikan barang rampokan. Mintalah maaf kepada orang-orang dusun itu. Hayo jalan!" Retna Wilis lalu menggiring para perampok itu sambil menghibur gadis yang masih ketakutan kembali ke rumah orang tuanya.

Di depan orang-orang dusun, Lima Macan Suro itu minta maaf kepada Ki Wirodemung dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan mereka. Bagus Seta kini juga mendampingi Retna Wilis dan pemuda itu menjadi gembira melihat sepak terjang adiknya. Dulu, tidak mungkin Retno Wilis mau mengampuni mereka dan lima orang itu tentu sudah dibunuhnya! Ki Wirodemung dan para penduduk dusun menghaturkan terima kasih kepada Retna Wilis dan Bagus Seta. Akan tetapi kedua orang kakak beradik ini tidak lama berada di dusun itu. Mereka lalu mengajak Lima Macan Suro itu ke dalam hutan lagi dan di sini Retna Wilis mengancam kepada mereka.
"Mulai sekarang kalian harus mengubah jalan hidup kalian, jangan lagi merampok, jangan mengganggu penduduk dusun yang sudah hidup serba kekurangan itu."
"Kami sudah bertaubat," kata si kumis melintang ...
"Kalau kalian masih melakukan perbuatan jahat lagi, lain waktu aku akan datang ke sini dan tidak akan memberi ampun lagi kepada kalian. Sudah, pergilah dan pergunakan kekuatan tubuh kalian untuk bekerja!"
Lima orang perampok itu memberi hormat kepada Retna Wilis, kemudian mereka pergi dengan kepala menunduk. Mereka merasa ngeri mendengar ancaman gadis yang sakti itu. Setelah lima orang perampok itu pergi, Retna Wilis bertanya kepada kakaknya.
"Kakang Bagus Seta, Bagaimana pendapatmu dengan tindakanku tadi? Sudah benarkah?"

Bagus Seto mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Baik sekali, Retna. Memang demikianlah yang harus kaulakukan, mengalahkan yang jahat dan berusaha membujuk mereka agar mengubah jalan hidup mereka yang sesat. Walaupun sedikit sekali kemungkinan para penjahat itu benar-benar menjadi sadar kembali dan berubah menjadi orang baik, namun engkau telah melaksanakan kewajibanmu dengan baik dan itu sudah cukup."
Kakak beradik ini melanjutkan perjalanan mereka, menyusuri sepanjang pantai Laut Selatan. Memang mengherankan sekali keadaan kakak beradik ini. Mereka adalah putera dan puteri Ki Patih Tejolaksono, patih Panjalu yang amat terkenal, sakti mandraguna dan berkedudukan tinggi di Kerajaan Panjalu. Kenapa mereka tidak berdiam bersama ayah mereka dan hidup mulia di Kepatihan Panjalu? Banyak sebab yang membuat kedua orang muda kakak beradik ini sekarang lelana-brata, meluaskan pengalaman dan pengetahuan dengan jalan merantau.
Bagus Seta adalah seorang pemuda yang sejak kecil digembleng oleh orang-orang maha sakti dan dia menjadi seorang pemuda yang seolah-olah telah menjauhkan diri dari keramaian dan kesenangan dunia sehingga dia tidak tertarik kemuliaan dan kemewahan duniawi. Adapun adiknya, Retna Wilis, yang digembleng oleh seorang sakti yang tersesat, pernah menjadi seorang gadis perkasa yang berwatak keras sebagai besi dan tidak pernah mengenal ampun kepada musuhnya, dapat bertindak kejam, seperti golongan sesat. Bukan saja pelajaran kesaktian yang diwarisinya dari Nini Bumigarba, melainkan juga wataknya yang kejam dan ganas. Setelah bertemu dengan kakak tirinya, Bagus Seta, maka dara ini menjadi sadar dan selanjutnya ia tidak mau tinggal di Kepatihan, melainkan hendak ikut kakaknya mengembara untuk digembleng menjadi orang yang baik. Watak Retna Wilis ini sebagian diwarisinya dari ibunya, Endang Patibroto yang juga terkenal sebagai seorang wanita perkasa yang keras hati.
Bagus Seto dan Retno Wilis melanjutkan perjalanan mereka menuju ke timur menyusuri sepanjang pantai Laut Kidul. Kerajaan Jenggala baru saja pulih dari kekacauan ketika rajanya dipengaruhi orang-orang jahat. Raja baru diangkat, yaitu Pangeran Sigit dengan permaisuri Setyaningsih. Setelah menjadi Raja Jenggala Pangeran Sigit menggunakan nama julukan yang panjang, yaitu Sri Samarotsaha Karnakeshana Dharmawangsa Kirtisinga Jayantaka-tunggadewa!

Biarpun raja baru ini berusaha keras untuk memulihkan kejayaan Jenggala, namun luka oleh perang saudara itu terlalu parah sehingga keadaan Jenggala menjadi lemah. Bahkan banyak para adipati di daerah-daerah, terutama daerah selatan, melepaskan diri dari pengaruh Jenggala dan tidak mengakui kekuasaan Jenggala lagi. Karena maklum bahwa kekuatan Jenggala sudah mulai surut, Sang Prabu lalu mohon bantuan dari Kerajaan Panjalu, di mana yang menjadi rajanya adalah Sri Dayawarsha Digjaya Sastraprabu. Yang menjadi patih dari Kerajaan Panjalu adalah Ki Patih Tejolaksana. Panjalu mengirim bantuan dan dengan bantuan Panjalu yang memiliki banyak senopati yang sakti, barulah Jenggala dapat memulihkan kembali kedaulatannya atas kadipaten-kadipaten itu. Namun sejak itu, Jenggala tergantung kepada Panjalu yang menjadi semakin besar, kuat dan makmur. Akan tetapi perang saudara itu membuat Panjalu juga kehilangan banyak daerah yang dipimpin oleh adipati-adipati.

<<< Bagian 01                                                                                         Bagian 03 >>>

No comments:

Post a Comment