Mendengar ucapan ini dan melihat sikap mereka, Ki Wirodemung mengerutkan alisnya dan cepat dia berlari ke sudut ruangan depan lalu dengan gencar memukul kentongan bambu yang tergantung di situ. Lima orang itu saling pandang sambil tertawa-tawa. Sebentar saja banyak orang datang berlarian dan kurang lebih duapuluh orang laki-laki penduduk dusun itu yang kebetulan belum pergi meninggalkan rumah, sudah datang berkumpul. Melihat penduduk sudah berdatangan, Ki Wirodemung menuding ke arah lima orang itu dan membentak,
"Orang-orang
kurang ajar, lekas kalian minggat dari sini kalau tidak ingin kami hajar!"
Melihat
duapuluh orang penduduk itu berkumpul dan kini mengepung mereka, si kumis
melintang tertawa lagi bergelak.
"Ha-ha-ha,
kalian penduduk dusun bodoh hendak melawan kami, Lima Macan Hutan Suro? Apa
kalian ingin mampus?"
Ki Wirodemung
sudah menyambar sebatang tombak dari ruangan depan dan menudingkan telunjuknya
kepada si kumis melintang dan berteriak,
"Saudara-saudara,
mereka berlima adalah perampok-perampok jahat, mari kita basmi mereka!"
Orang-orang
dusun itu memang sudah membawa alat apa saja untuk dapat dijadikan senjata
ketika mereka mendengar kentongan dipukul tanda bahaya tadi. Kini mereka
mengacungkan arit, pecok, linggis atau pacul dan menyerbu ke arah lima orang
itu. Akan tetapi, lima orang itu menyambut mereka dengan pukulan dan tendangan
sambil tertawa-tawa dan ternyata mereka itu kuat bukan main. Senjata para
penduduk dusun terlepas dari pegangan dan beterbangan disusul tubuh mereka yang
terlempar berpelantingan terkena pukulan dan tendangan lima orang yang menyebut
diri sebagai Lima Macan hutan Suro itu. Dalam waktu singkat saja, duapuluh orang
itu sudah roboh semua termasuk Ki Wirodemung yang tombaknya patah dan mukanya
bengkak membiru terkena pukulan tangan si kumis melintang.
Setelah
merobohkan duapuluh lebih orang itu, lima orang perampok itu lalu memasuki
rumah sambil tertawa-tawa. Mereka memilih barang-barang yang berharga dari
rumah itu dan tak lama kemudian mereka sudah keluar lagi membawa barang-barang
rampasan mereka. Akan tetapi si kumis melintang tidak membawa barang melainkan
memanggul tubuh seorang gadis remaja yang meronta-ronta dan menjerit-jerit.
Agaknya bagi
telinga si kumis melintang, jerit tangis itu terdengar seperti suara nyanyian
merdu. Makin hebat gadis itu meronta dan menangis, makin senang pula hatinya.
Sambil tertawa-tawa lima orang itu lalu keluar dari dusun dan memasuki hutan di
dekat dusun itu. Orang-orang dusun yang sudah terpukul roboh itu tidak berani
mengejar dan Ki Wirodemung bersama isterinya hanya dapat menangisi puteri
mereka yang dibawa pergi para perampok.
Sementara itu,
Bagus Seta dan Retna Wilis masih duduk sambil makan daging dawegan yang manis
dan gurih. Tiba-tiba mereka mendengar jerit tangis yang datangnya dari dalam
hutan. Retna Wilis segera melepaskan dawegannya dan bangkit berdiri.
"Ada yang
perlu ditolong, kakang," katanya sambil melompat ke dalam hutan.
Bagus Seta
juga bangkit dengan tenang dan mengejar adiknya sambil berkata,
"Tenanglah,
Retna dan ingat, jangan membunuh orang!"
Kakak beradik
ini berlompatan dan lari mempergunakan ilmu mereka sehingga gerakan lari mereka
seperti terbang cepatnya. Retna Wilis berada di depan dan ketika ia tiba di
tengah hutan, matanya mencorong dan alisnya berkerut melihat seorang laki-laki
berkumis melintang bertubuh tinggi besar sedang duduk di bawah pohon memangku
seorang gadis remaja yang meronta-ronta dan menjerit-jerit.
"Jahanam
busuk!" Retna Wilis memaki dengan suara melengking tajam.
"Hayo
lepaskan gadis itu!"
Si Kumis
melintang terkejut dan mengangkat mukanya. Ketika melihat Retna Wilis yang
demikian cantik jelita, matanya terbelalak dan mulutnya mengeluarkan suara
tertawa bergelak,
"Waduh,
cantiknya! Engkau malah lebih cantik dari pada gadis ini! Baik, aku lepaskan
gadis dusun ini akan tetapi engkau sebagai gantinya harus duduk di atas
pangkuanku ini!"
Retna Wilis
yang mendengar ucapan kurang ajar itu sudah melompat dekat dan tangan kirinya
menampar ke arah kepala si kumis melintang. Orang itu menangkis dengan tangan
kanan sambil siap mencengkeram tangan Retna Wilis.
"Dess ...
!" Ketika lengannya menangkis dan bertemu dengan lengan Retna Wilis tubuhnya
terguncang dan diapun terpelanting. Gadis dusun itu terlepas dari pangkuannya
dan ikut terpelanting. Gadis itu lalu bangkit berdiri dan mundur menjauhi si
kumis melintang.
"Babo-babo
keparat!" teriak si kumis melintang-sambil bangkit berdiri dan menghadapi
Retna Wilis.
"Berani
andika memukulku?" Mendengar teriakannya, empat orang kawannya yang duduk
tidak jauh dari situ sudah berlarian datang dan mereka mengepung Retna Wilis.
"Wah, ia
cantik sekali, cantik manis!"
"Seperti
dewi dari kahyangan!"
"Tangkap
ia hidup-hidup!" bentak si kumis melintang dengan penasaran dan marah. Ia
sendiri lalu menubruk maju sambil membentangkan kedua lengannya untuk merangkul
gadis berpakaian putih itu. Empat orang kawannya juga menubruk maju.
Retna Wilis
tidak sudi membiarkan dirinya tersentuh tangan-tangan kasar itu, ia membuat
gerakan tendangan melingkar dengan kecepatan luar biasa.
"Duk-duk-duk-duk-duk!"
Lima orang itu terpelanting, masing-masing terkena sebuah tendangan.
Mereka
merangkak bangun dengan penasaran dan tidak percaya bahwa gadis itu mampu
merobohkan mereka hanya dalam segebrakan saja.
"Tangkap
dia!" si kumis melintang kembali berteriak. Ingin sekali ia menguasai
gadis cantik jelita yang pandai berkelahi ini. Kembali dia bersama empat orang
kawannya menerjang maju, akan tetapi sekali ini Retna Wilis menyambut mereka
dengan tamparan, menggunakan kedua tangannya. Terdengar teriakan beruntun lima
kali dan lima orang perampok itu roboh dengan tubuh terputar. Mereka merasakan
bumi bergoyang dan sekali ini mereka tidak segera dapat bangun. Mereka
merangkak dan setelah dapat bangun si kumis melintang sudah mencabut goloknya,
diikuti oleh empat orang kawannya.
"Bunuh
perempuan ini!" komandonya dan mereka berlima sudah menerjang ke depan,
golok mereka menyambar-nyambar dari segala jurusan.
Akan tetapi
golok mereka hanya menyambar tempat kosong karena gadis berpakaian putih itu
telah lenyap dari kepungan mereka! Ketika mereka membalikkan tubuh ternyata
gadis itu telah berdiri di sana dan sebelum mereka sempat gerak, Retna Wilis
kembali sudah menggerakkan kedua tangannya membagi-bagi tamparan.
"Des-des-des-des-des!"
Lima kali beruntun mereka terkena tamparan, sekali ini lebih kuat dari tadi,
membuat mereka melepaskan golok dan tubuh mereka berputar-putar lalu roboh,
mengaduh-aduh dan sukar untuk bangkit kembali. Si kumis melintang mencoba untuk
bangkit dengan cepat, namun begitu dia bangkit, dia terjatuh lagi karena
sekelilingnya berputar.
"Kalian
masih belum menyerah? Bangkitlah, aku tunggu!" tantang Retno Wilis.
Si kumis melintang
dan empat orang kawannya kini sadar betul bahwa mereka berhadapan dengan
seorang gadis yang sakti, maka mereka menjadi gentar dan setelah mampu bangkit,
mereka merangkak dan berlutut menghadap Retno Wilis.
"Ampun,
kami tidak berani melawan lagi, kanjeng dewi ... " kata si kumis
melintang, menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang dewi dari kahyangan yang
sakti.
"Apakah
kalian sudah sadar akan kejahatan kalian dan kini bertaubat?"
"Kami
sadar dan kami menyesal, kami bertaubat, kanjeng dewi ... "
"Bagus,
kalau kalian bertaubat, katakan apa saja yang kalian lakukan tadi dan darimana
gadis ini kalian bawa?"
"Kami
baru saja merampok di rumah Ki Wirodemung di dusun sebelah utara hutan ini dan
gadis itu adalah puterinya ... ampunkan kami!"
"Sekarang,
antarkan kembali gadis itu dan kembalikan barang rampokan. Mintalah maaf kepada
orang-orang dusun itu. Hayo jalan!" Retna Wilis lalu menggiring para
perampok itu sambil menghibur gadis yang masih ketakutan kembali ke rumah orang
tuanya.
Di depan
orang-orang dusun, Lima Macan Suro itu minta maaf kepada Ki Wirodemung dan
berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan mereka. Bagus Seta kini juga
mendampingi Retna Wilis dan pemuda itu menjadi gembira melihat sepak terjang
adiknya. Dulu, tidak mungkin Retno Wilis mau mengampuni mereka dan lima orang
itu tentu sudah dibunuhnya! Ki Wirodemung dan para penduduk dusun menghaturkan
terima kasih kepada Retna Wilis dan Bagus Seta. Akan tetapi kedua orang kakak
beradik ini tidak lama berada di dusun itu. Mereka lalu mengajak Lima Macan
Suro itu ke dalam hutan lagi dan di sini Retna Wilis mengancam kepada mereka.
"Mulai
sekarang kalian harus mengubah jalan hidup kalian, jangan lagi merampok, jangan
mengganggu penduduk dusun yang sudah hidup serba kekurangan itu."
"Kami
sudah bertaubat," kata si kumis melintang ...
"Kalau
kalian masih melakukan perbuatan jahat lagi, lain waktu aku akan datang ke sini
dan tidak akan memberi ampun lagi kepada kalian. Sudah, pergilah dan pergunakan
kekuatan tubuh kalian untuk bekerja!"
Lima orang perampok
itu memberi hormat kepada Retna Wilis, kemudian mereka pergi dengan kepala
menunduk. Mereka merasa ngeri mendengar ancaman gadis yang sakti itu. Setelah
lima orang perampok itu pergi, Retna Wilis bertanya kepada kakaknya.
"Kakang
Bagus Seta, Bagaimana pendapatmu dengan tindakanku tadi? Sudah benarkah?"
Bagus Seto
mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Baik
sekali, Retna. Memang demikianlah yang harus kaulakukan, mengalahkan yang jahat
dan berusaha membujuk mereka agar mengubah jalan hidup mereka yang sesat.
Walaupun sedikit sekali kemungkinan para penjahat itu benar-benar menjadi sadar
kembali dan berubah menjadi orang baik, namun engkau telah melaksanakan
kewajibanmu dengan baik dan itu sudah cukup."
Kakak beradik
ini melanjutkan perjalanan mereka, menyusuri sepanjang pantai Laut Selatan.
Memang mengherankan sekali keadaan kakak beradik ini. Mereka adalah putera dan
puteri Ki Patih Tejolaksono, patih Panjalu yang amat terkenal, sakti mandraguna
dan berkedudukan tinggi di Kerajaan Panjalu. Kenapa mereka tidak berdiam
bersama ayah mereka dan hidup mulia di Kepatihan Panjalu? Banyak sebab yang
membuat kedua orang muda kakak beradik ini sekarang lelana-brata, meluaskan
pengalaman dan pengetahuan dengan jalan merantau.
Bagus Seta
adalah seorang pemuda yang sejak kecil digembleng oleh orang-orang maha sakti
dan dia menjadi seorang pemuda yang seolah-olah telah menjauhkan diri dari
keramaian dan kesenangan dunia sehingga dia tidak tertarik kemuliaan dan
kemewahan duniawi. Adapun adiknya, Retna Wilis, yang digembleng oleh seorang
sakti yang tersesat, pernah menjadi seorang gadis perkasa yang berwatak keras
sebagai besi dan tidak pernah mengenal ampun kepada musuhnya, dapat bertindak
kejam, seperti golongan sesat. Bukan saja pelajaran kesaktian yang diwarisinya
dari Nini Bumigarba, melainkan juga wataknya yang kejam dan ganas. Setelah
bertemu dengan kakak tirinya, Bagus Seta, maka dara ini menjadi sadar dan
selanjutnya ia tidak mau tinggal di Kepatihan, melainkan hendak ikut kakaknya
mengembara untuk digembleng menjadi orang yang baik. Watak Retna Wilis ini
sebagian diwarisinya dari ibunya, Endang Patibroto yang juga terkenal sebagai
seorang wanita perkasa yang keras hati.
Bagus Seto dan
Retno Wilis melanjutkan perjalanan mereka menuju ke timur menyusuri sepanjang
pantai Laut Kidul. Kerajaan Jenggala baru saja pulih dari kekacauan ketika
rajanya dipengaruhi orang-orang jahat. Raja baru diangkat, yaitu Pangeran Sigit
dengan permaisuri Setyaningsih. Setelah menjadi Raja Jenggala Pangeran Sigit
menggunakan nama julukan yang panjang, yaitu Sri Samarotsaha Karnakeshana
Dharmawangsa Kirtisinga Jayantaka-tunggadewa!
Biarpun raja
baru ini berusaha keras untuk memulihkan kejayaan Jenggala, namun luka oleh
perang saudara itu terlalu parah sehingga keadaan Jenggala menjadi lemah.
Bahkan banyak para adipati di daerah-daerah, terutama daerah selatan,
melepaskan diri dari pengaruh Jenggala dan tidak mengakui kekuasaan Jenggala
lagi. Karena maklum bahwa kekuatan Jenggala sudah mulai surut, Sang Prabu lalu
mohon bantuan dari Kerajaan Panjalu, di mana yang menjadi rajanya adalah Sri
Dayawarsha Digjaya Sastraprabu. Yang menjadi patih dari Kerajaan Panjalu adalah
Ki Patih Tejolaksana. Panjalu mengirim bantuan dan dengan bantuan Panjalu yang
memiliki banyak senopati yang sakti, barulah Jenggala dapat memulihkan kembali
kedaulatannya atas kadipaten-kadipaten itu. Namun sejak itu, Jenggala
tergantung kepada Panjalu yang menjadi semakin besar, kuat dan makmur. Akan
tetapi perang saudara itu membuat Panjalu juga kehilangan banyak daerah yang dipimpin
oleh adipati-adipati.
<<< Bagian 01 Bagian 03 >>>
No comments:
Post a Comment