Sepasang Garuda Putih ; Bagian 03


Memang banyak yang telah dikuasai kembali, akan tetapi di bagian timur, seperti Nusabarung, Blambangan dan lain-lain telah memisahkan diri dan tidak mengakui kekuasaan Panjalu dan Jenggala. Mereka menyusun kekuatan dan siap sedia untuk perang melawan dua kerajaan bersaudara itu. Blambangan sendiri menjadi kuat karena memperoleh dukungan dari Bali-dwipa. Pada suatu sore, Patih Tejolaksono sedang berbincang-bincang dengan kedua isterinya, yaitu Ayu Chandra dan Endang Patibroto. Mereka duduk di dalam taman bunga di belakang gedung tempat tinggal mereka di Kepatihan Anom karena Tejolaksono diangkat menjadi Patih Anom yang membantu pekerjaan Patih Sepuh yang bernama Suryoyudo.
"Aku mendengar di timur terjadi pergolakan, kakangmas. Kenapa kakangmas tidak diutus Sang Prabu untuk memadamkan api pemberontakan di sana?" tanya Endang Patibroto kepada suaminya, Patih Tejolaksono.
"Sang Prabu belum memberi perintah, diajeng. Dan menurut keterangan kakang Patih Suryoyudo, Sang Prabu memang hendak melihat dulu perkembangan di daerah Blambangan dan kadipaten-kadipaten di ujung timur itu. Kalau mereka tidak mengadakan serangan melanggar perbatasan, maka kitapun tidak bergerak, akan tetapi kalau mereka mengadakan pengacauan di daerah perbatasan, barulah kita akan memukulnya. Sang Prabu berpendapat bahwa perang baru saja selesai dan perlu memberi istirahat kepada pasukan."
"Akan tetapi kalau dibiarkan saja Blambangan, Nusa Barung dan yang lain-lain itu bergolak dan tidak mengakui kekuasaan Panjalu dan Jenggala, berarti Panjalu akan kehilangan kedaulatannya. Kalau menurut aku, sebaiknya digempur saja mereka itu. Sebaiknya memadamkan api sebelum menjalar dan menjadi besar. Bukankah begitu, mbak-ayu Ayu Chandra?"
"Aku sendiri tidak tahu, diajeng Endang Patibroto. Kita kaum wanita bagaimana dapat mencampuri urusan pemerintahan."
"Ah, mana bisa begitu! Biarpun kita ini wanita, namun kita dapat berperan besar dalam pemerintahan. Kalau untuk menghadapi para pengacau, aku sendiripun sanggup untuk menanggulangi," kata Endang Patibroto.

Wanita yang berusia kurang dari limapuluh tahun ini masih tampak cantik jelita dan gagah, berbeda dengan Ayu Chandra yang tampak anggun dan lembut. Patih Tejolaksono yang usianya sudah limapuluh tahun lebih, tersenyum. Wajahnya yang tampan gagah itu tampak jauh lebih muda ketika dia tersenyum lebar. Matanya bersinar tajam dan sikapnya lembut, namun dagunya yang berlekuk itu membayangkan kekuatan yang pantang mundur.
"Diajeng Endang Patibroto. Agaknya kehidupan yang makmur dan tenteram ini tidak dapat kaunikmati. Apakah andika lebih senang kalau terjadi pertempuran di mana andika dapat berkiprah melawan musuh?"
Endang Patibroto memandang suaminya dengan sinar mata tajam. Suaminya dapat menyelami jiwanya. Ia memang seorang wanita ksatria yang keras hati dan suka akan pertempuran.
"Sesungguhnyalah, kakangmas. Kehidupan penuh damai ini membuat hatiku gelisah. Aku teringat akan anak kita. Kemana perginya Retna Wilis dan bagaimana keadaannya sekarang? Aku khawatir sekali.”
"Mengapa engkau khawatir, diajeng? Retna Wilis pergi bersama kakaknya, Bagus Seta dan aku yakin Bagus Seta akan mampu menjaga dan melindunginya."
"Hemm, tanpa perlindunganpun Retna Wilis mampu untuk menjaga diri sendiri. Aku tidak khawatir kalau terjadi sesuatu dengannya. Hanya aku khawatir kalau-kalau ia tidak mau kembali kepada kita. Aku sudah rindu kepadanya dan aku ingin sekali pergi merantau dan mencarinya. Sungguh tidak enak sekali rasa hati ini kalau diam menanti saja tanpa mengetahui kapan ia akan pulang."
Patih Tejolaksono menghela napas panjang. Dia mengenal betul isterinya yang satu ini. Ia seorang petualang dan hanya kalau hidupnya menghadapi penuh tantangan ia dapat merasa senang.
"Akan tetapi ke mana engkau akan mencari kedua orang anak kita itu, diajeng? Engkau tidak tahu ke mana mereka pergi, ke selatan atau utara, timur atau barat. Lalu engkau hendak menyusul ke mana?"
"Akan kucari jejak mereka dan aku yakin akhirnya aku akan dapat menemukan mereka."
"Aku juga akan merasa bahagia sekali kalau puteraku Bagus Seta mau pulang ke sini, diajeng. Akan tetapi bagaimana kalau kedua orang anak itu menolak kauajak pulang?"
"Kalau mereka menolak, aku akan menemani mereka merantau. Aku memang suka merantau dan mengalami hal-hal yang hebat!" kata Endang Patibroto sambil tersenyum.
"Bagaimana, kakangmas? Engkau tidak keberatan kalau aku pergi mencari mereka, bukan?"
"Kalau memang itu yang kaukehendaki, diajeng, tentu saja aku tidak berkeberatan. Akan tetapi tentukanlah waktunya, sampai berapa lama engkau mencari mereka agar hatiku tidak gelisah memikirkan kalian bertiga."
"Aku akan mencari mereka, berilah waktu setahun, kakangmas. Dalam waktu setahun, bertemu dengan mereka atau tidak, aku tentu akan pulang."
"Sayang aku tidak dapat menyertaimu mencari mereka, diajeng. Di sini aku terikat oleh kedudukan dan pekerjaanku."
"Akupun pergi bukan percuma, kakangmas. Sambil mencari dua orang putera kita, aku juga akan menyelidiki daerah-daerah yang sedang bergolak. Siapa tahu jejak anak-anak kita itu menuju ke timur, sehingga aku dapat menyelidiki dan mencari mereka di daerah timur, sekalian menyelidiki keadaan di Nusabarung dan Blambangan.”
"Sebaiknya engkau mencari mereka di daerah Jenggala dulu, diajeng. Siapa tahu mereka berada di sana, dan engkau sekalian menengok adikmu Setyaningsih yang kini menjadi permaisuri di Jenggala."
"Tentu aku akan singgah di sana kakangmas."

Setelah mendapat perkenan suaminya, dengan girang Endang Pati Broto lalu berkemas dan tiga hari kemudian berangkatlah wanita perkasa ini meninggalkan kota raja Panjalu. Ia berpakaian ringkas dan tidak membawa senjata. Wanita ini memiliki banyak ilmu kedigdayaan yang cukup untuk melindungi dirinya, maka ia tidak membawa senjata apapun. Sebuah buntalan digendongnya di punggung, buntalan berisi pakaian dan bekal uang untuk biaya perjalanannya. Endang Patibroto ini di waktu mudanya banyak merantau dan banyak sekali pengalamannya bertanding. Di antara ilmu-ilmunya yang terampuh adalah pukulan-pukulan Aji Gelap Musti, Aji Pethit Nogo dan Wisangmolo. Selain itu ia mempunyai pula Aji Bayutantra yang membuat ia dapat bergerak cepat sekali dan berlari cepat seperti angin. Ajinya Pekik Sardulo Bairowo juga amat dahsyat karena pekik ini dapat melumpuhkan lawan, menggetarkan jantung. Terakhir kalinya Endang patibroto bertemu dengan puterinya adalah ketika ia dan suaminya menyerang pasukan yang dipimpin oleh mendiang Bagaspati pemuja Bathara Siwa dan utusan Negeri Cola. Setelah mengalahkan musuh-musuh mereka, Retna Wilis meninggalkannya, pergi bersama Bagus Seta, berjalan menyusuri Laut Kidul menuju ke timur. Akan tetapi ia tidak pergi ke pantai Laut Kidul, melainkan pergi ke Jenggala lebih dahulu untuk mengunjungi adiknya, Setyaningsih yang kini menjadi permaisuri di Jenggala. Ia diterima dengan gembira oleh adiknya. Bahkan Raja Jenggala juga menyambutnya dengan gembira.
Endang Patibroto hanya dua hari tinggal di istana Jenggala dan setelah mendapat keterangan bahwa adiknya dan Sang Prabu juga tidak pernah mendengar berita tentang puterinya, iapun pergi dan kini mengunjungi pantai Laut Kidul dan mulailah ia pergi ke timur untuk mencari puterinya dan Bagus Seta.

Kakek itu berusia kurang lebih enampuluh tahun, rambutnya yang sudah berwarna dua itu dibiarkan terjurai sampai ke punggung. Pakaiannya amat sederhana, dari kain berwarna hitam yang seperti kain melilit tubuhnya saja. Kumis dan jenggotnya panjang, juga berwarna dua. Biarpun amat sederhana, namun kakek itu tampak bersih, dari rambutnya sampai pakaiannya. Dia duduk bersila di atas sebuah dipan bambu, dan seorang pemuda bersila di atas lantai, menghadapnya.
"Jarot, hari belum sore benar engkau telah berada di rumah. Apakah pekerjaanmu di ladang telah selesai? Apakah sepetak tegalan milik kita itu telah kau paculi semua,siap untuk menanam kentang?"
"Sudah selesai semua, Bapa Bhagawan," jawab pemuda itu.
Pemuda itu berusia kurang lebih duapuluh tahun, berwajah lembut dan tampan, berkulit hitam manis, tubuhnya padat dan tegap membayangkan kekuatan. Siapakah pemuda dan kakek itu? Kakek itu adalah seorang pendeta yang mengasingkan diri di lereng Gunung Semeru, bernama Bhagawan Dewondaru, seorang kakek yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, sakti mandraguna, dan hidup sebagai seorang petani biasa yang selalu mengenakan pakaian serba hitam. Usianya sudah enampuluh tahun, akan tetapi tubuhnya masih tegak dan kokoh kuat, masih kuat untuk mencangkul sehari penuh selama berhari-hari.
Pemuda itu bernama Jarot, sudah kurang lebih tujuh tahun Jarot menjadi murid Bhagawan Dewondaru, mempelajari segala ilmu kesaktian sambil bekerja sebagai petani. Tujuh tahun yang lalu, Bhagawan Dewondaru menemukan Jarot dalam keadaan hampir mati hanyut di Kali Rejali yang bermata air di Lereng Semeru. Bagaimana Jarot yang ketika itu baru berusia lima belas tahun hanyut di Kali Rejali dalam keadaan hampir mati? Jarot sebetulnya adalah putera Adipati yang berkuasa di Pasisiran, yaitu daerah di pantai Laut Kidul sebelah barat pulau Nusa Barung. Jarot adalah putera yang lahir dari seorang selir, akan tetapi sejak kecil pemuda ini amat disayang oleh ayahnya. Dia seorang anak yang selain tampan dan lembut, juga amat berbakti dan patuh kepada Sang Adipati Pasisiran sehingga ayahnya ini amat menyayangnya lebih dari pada putera-putera lainnya. Hal ini membuat putera permaisuri yang bernama Lembu Alun menjadi iri hati dan diam-diam dia membenci adik tirinya itu. Karena khawatir bahwa kelak kedudukan adipati akan diserahkan kepada Jarot setelah ayah mereka mengundurkan diri, maka Lembu Alun segera mengatur jalan sesat untuk mengenyahkan adik tirinya. Suatu hari, Lembu Alun mengajak adik tirinya untuk pergi berburu binatang hutan. Jarot merasa heran sekali karena biasanya, kakaknya ini menjauhinya, bahkan bicarapun jarang kepadanya. Dari gerak gerik dan pandang matanya, dia tahu bahwa kakak tirinya itu tidak senang atau membencinya. Oleh karena itu, ajakan itu sungguh membesarkan hatinya.
“Aku girang sekali, kakangmas. Dengan siapa saja kita berburu?" tanya Jarot sambil memandang kepada Lembu Alun dengan wajah berseri.
"Ah, kita pergi berdua saja, adimas. Membawa banyak orang hanya akan mengganggu kita berburu saja. Kita pergi berdua menunggang kuda dan membawa gendewa dan anak panahmu. Aku dengar di hutan sepanjang kali Rejali di lereng Semeru terdapat banyak kijang. Aku ingin sekali makan daging kijang yang gemuk. Kita pergi berdua saja, kalau sudah mendapat satu atau dua ekor kita segera pulang. Kalau kita berangkat pagi-pagi benar, sorenya kita sudah dapat pulang.”
“Baik, kakangmas," kata Jarot dan kedua orang muda itu dengan tangkasnya lalu berlompatan ke atas punggung kuda mereka dan membalapkan kuda mereka ke luar dari kadipaten menuju ke utara, menyusuri sepanjang kali Rejali.

Dua orang muda itu melakukan perjalanan penuh kegembiraan, terutama sekali Jarot karena baru sekali ini dia diajak oleh kakaknya itu pergi berburu. Dia mulai merasa betapa keliru anggapannya bahwa kakaknya itu tidak senang kepadanya. Sekarang baru ternyata bahwa kakaknya itu baik sekali kepadanya. Setelah mereka memasuki hutan di lereng Gunung Semeru, Lembu Alun lalu melompat turun dari kudanya.
"Di sinilah tempatnya, adimas. Sebaiknya kita berjalan kaki saja karena kijang-kijang itu tentu akan melarikan diri kalau mendengar derap kaki kuda kita."
Jarot juga turun dari kudanya. Kedua ekor kuda itu ditambatkan di sebatang pohon dan kedua orang muda itu lalu mencari kijang dengan jalan kaki. Mereka menyusuri Kali Rejali dalam hutan itu. Akhirnya mereka menemukan jejak kaki banyak kijang di tepi sungai.
"Adimas, sebaiknya kita berpencar. Engkau mengambil jalan sepanjang sungai ini, dan aku akan mencari ke sebelah sana. Dengan cara berpencar, lebih banyak kemungkinan kita menemukan kijang."
“Baik, kakangmas. Aku akan mengambil jalan di sepanjang sungai ini."
"Mari kita berlumba, adimas. Siapa diantara kita yang dulu memperoleh kijang!"
Jarot tersenyum dan ikut bergembira seperti kakaknya.
"Baik, kakangmas. Akan tetapi aku tentu kalah. Siapa yang tidak tahu bahwa kakangmas adalah seorang jago panah yang terkenal di kadipaten kita? Akan tetapi siapa tahu, aku akan lebih dulu bertemu dengan kijang."

Mereka lalu berpencar. Lembu Alun menyusup-nyusup di antara alang-alang dan menghilang ke tengah hutan. Jarot juga berindap-indap mengintai kalau-kalau ada kijang di sebelah depannya. Akan tetapi sudah sejam dia bergerak maju berindap-indap, belum juga tampak bayangan seekorpun kijang. Dia mulai merasa khawatir. Mungkin kakaknya kini telah merobohkan seekor kijang dengan anak panahnya! Jarot merasa gerah. Melihat air Kali Rejali yang jernih itu, dia tertarik lalu menuruni tebing sungai. Dia lalu mencuci mukanya. Terasa segar dan sejuk sekali ketika air membasahi muka, leher dan lengannya.

<<< Bagian 02                                                                                         Bagian 04 >>>

No comments:

Post a Comment