Memang banyak yang telah dikuasai kembali, akan tetapi di bagian timur, seperti Nusabarung, Blambangan dan lain-lain telah memisahkan diri dan tidak mengakui kekuasaan Panjalu dan Jenggala. Mereka menyusun kekuatan dan siap sedia untuk perang melawan dua kerajaan bersaudara itu. Blambangan sendiri menjadi kuat karena memperoleh dukungan dari Bali-dwipa. Pada suatu sore, Patih Tejolaksono sedang berbincang-bincang dengan kedua isterinya, yaitu Ayu Chandra dan Endang Patibroto. Mereka duduk di dalam taman bunga di belakang gedung tempat tinggal mereka di Kepatihan Anom karena Tejolaksono diangkat menjadi Patih Anom yang membantu pekerjaan Patih Sepuh yang bernama Suryoyudo.
"Aku
mendengar di timur terjadi pergolakan, kakangmas. Kenapa kakangmas tidak diutus
Sang Prabu untuk memadamkan api pemberontakan di sana?" tanya Endang
Patibroto kepada suaminya, Patih Tejolaksono.
"Sang
Prabu belum memberi perintah, diajeng. Dan menurut keterangan kakang Patih
Suryoyudo, Sang Prabu memang hendak melihat dulu perkembangan di daerah
Blambangan dan kadipaten-kadipaten di ujung timur itu. Kalau mereka tidak
mengadakan serangan melanggar perbatasan, maka kitapun tidak bergerak, akan
tetapi kalau mereka mengadakan pengacauan di daerah perbatasan, barulah kita
akan memukulnya. Sang Prabu berpendapat bahwa perang baru saja selesai dan
perlu memberi istirahat kepada pasukan."
"Akan
tetapi kalau dibiarkan saja Blambangan, Nusa Barung dan yang lain-lain itu
bergolak dan tidak mengakui kekuasaan Panjalu dan Jenggala, berarti Panjalu
akan kehilangan kedaulatannya. Kalau menurut aku, sebaiknya digempur saja
mereka itu. Sebaiknya memadamkan api sebelum menjalar dan menjadi besar. Bukankah
begitu, mbak-ayu Ayu Chandra?"
"Aku
sendiri tidak tahu, diajeng Endang Patibroto. Kita kaum wanita bagaimana dapat
mencampuri urusan pemerintahan."
"Ah, mana
bisa begitu! Biarpun kita ini wanita, namun kita dapat berperan besar dalam
pemerintahan. Kalau untuk menghadapi para pengacau, aku sendiripun sanggup
untuk menanggulangi," kata Endang Patibroto.
Wanita yang
berusia kurang dari limapuluh tahun ini masih tampak cantik jelita dan gagah,
berbeda dengan Ayu Chandra yang tampak anggun dan lembut. Patih Tejolaksono
yang usianya sudah limapuluh tahun lebih, tersenyum. Wajahnya yang tampan gagah
itu tampak jauh lebih muda ketika dia tersenyum lebar. Matanya bersinar tajam
dan sikapnya lembut, namun dagunya yang berlekuk itu membayangkan kekuatan yang
pantang mundur.
"Diajeng
Endang Patibroto. Agaknya kehidupan yang makmur dan tenteram ini tidak dapat
kaunikmati. Apakah andika lebih senang kalau terjadi pertempuran di mana andika
dapat berkiprah melawan musuh?"
Endang
Patibroto memandang suaminya dengan sinar mata tajam. Suaminya dapat menyelami
jiwanya. Ia memang seorang wanita ksatria yang keras hati dan suka akan
pertempuran.
"Sesungguhnyalah,
kakangmas. Kehidupan penuh damai ini membuat hatiku gelisah. Aku teringat akan
anak kita. Kemana perginya Retna Wilis dan bagaimana keadaannya sekarang? Aku
khawatir sekali.”
"Mengapa
engkau khawatir, diajeng? Retna Wilis pergi bersama kakaknya, Bagus Seta dan
aku yakin Bagus Seta akan mampu menjaga dan melindunginya."
"Hemm,
tanpa perlindunganpun Retna Wilis mampu untuk menjaga diri sendiri. Aku tidak
khawatir kalau terjadi sesuatu dengannya. Hanya aku khawatir kalau-kalau ia
tidak mau kembali kepada kita. Aku sudah rindu kepadanya dan aku ingin sekali
pergi merantau dan mencarinya. Sungguh tidak enak sekali rasa hati ini kalau
diam menanti saja tanpa mengetahui kapan ia akan pulang."
Patih
Tejolaksono menghela napas panjang. Dia mengenal betul isterinya yang satu ini.
Ia seorang petualang dan hanya kalau hidupnya menghadapi penuh tantangan ia
dapat merasa senang.
"Akan
tetapi ke mana engkau akan mencari kedua orang anak kita itu, diajeng? Engkau
tidak tahu ke mana mereka pergi, ke selatan atau utara, timur atau barat. Lalu
engkau hendak menyusul ke mana?"
"Akan
kucari jejak mereka dan aku yakin akhirnya aku akan dapat menemukan
mereka."
"Aku juga
akan merasa bahagia sekali kalau puteraku Bagus Seta mau pulang ke sini,
diajeng. Akan tetapi bagaimana kalau kedua orang anak itu menolak kauajak
pulang?"
"Kalau
mereka menolak, aku akan menemani mereka merantau. Aku memang suka merantau dan
mengalami hal-hal yang hebat!" kata Endang Patibroto sambil tersenyum.
"Bagaimana,
kakangmas? Engkau tidak keberatan kalau aku pergi mencari mereka, bukan?"
"Kalau
memang itu yang kaukehendaki, diajeng, tentu saja aku tidak berkeberatan. Akan
tetapi tentukanlah waktunya, sampai berapa lama engkau mencari mereka agar
hatiku tidak gelisah memikirkan kalian bertiga."
"Aku akan
mencari mereka, berilah waktu setahun, kakangmas. Dalam waktu setahun, bertemu
dengan mereka atau tidak, aku tentu akan pulang."
"Sayang
aku tidak dapat menyertaimu mencari mereka, diajeng. Di sini aku terikat oleh
kedudukan dan pekerjaanku."
"Akupun
pergi bukan percuma, kakangmas. Sambil mencari dua orang putera kita, aku juga
akan menyelidiki daerah-daerah yang sedang bergolak. Siapa tahu jejak anak-anak
kita itu menuju ke timur, sehingga aku dapat menyelidiki dan mencari mereka di
daerah timur, sekalian menyelidiki keadaan di Nusabarung dan Blambangan.”
"Sebaiknya
engkau mencari mereka di daerah Jenggala dulu, diajeng. Siapa tahu mereka
berada di sana, dan engkau sekalian menengok adikmu Setyaningsih yang kini
menjadi permaisuri di Jenggala."
"Tentu
aku akan singgah di sana kakangmas."
Setelah
mendapat perkenan suaminya, dengan girang Endang Pati Broto lalu berkemas dan
tiga hari kemudian berangkatlah wanita perkasa ini meninggalkan kota raja
Panjalu. Ia berpakaian ringkas dan tidak membawa senjata. Wanita ini memiliki
banyak ilmu kedigdayaan yang cukup untuk melindungi dirinya, maka ia tidak
membawa senjata apapun. Sebuah buntalan digendongnya di punggung, buntalan
berisi pakaian dan bekal uang untuk biaya perjalanannya. Endang Patibroto ini
di waktu mudanya banyak merantau dan banyak sekali pengalamannya bertanding. Di
antara ilmu-ilmunya yang terampuh adalah pukulan-pukulan Aji Gelap Musti, Aji
Pethit Nogo dan Wisangmolo. Selain itu ia mempunyai pula Aji Bayutantra yang
membuat ia dapat bergerak cepat sekali dan berlari cepat seperti angin. Ajinya
Pekik Sardulo Bairowo juga amat dahsyat karena pekik ini dapat melumpuhkan
lawan, menggetarkan jantung. Terakhir kalinya Endang patibroto bertemu dengan
puterinya adalah ketika ia dan suaminya menyerang pasukan yang dipimpin oleh
mendiang Bagaspati pemuja Bathara Siwa dan utusan Negeri Cola. Setelah
mengalahkan musuh-musuh mereka, Retna Wilis meninggalkannya, pergi bersama
Bagus Seta, berjalan menyusuri Laut Kidul menuju ke timur. Akan tetapi ia tidak
pergi ke pantai Laut Kidul, melainkan pergi ke Jenggala lebih dahulu untuk
mengunjungi adiknya, Setyaningsih yang kini menjadi permaisuri di Jenggala. Ia
diterima dengan gembira oleh adiknya. Bahkan Raja Jenggala juga menyambutnya
dengan gembira.
Endang
Patibroto hanya dua hari tinggal di istana Jenggala dan setelah mendapat
keterangan bahwa adiknya dan Sang Prabu juga tidak pernah mendengar berita
tentang puterinya, iapun pergi dan kini mengunjungi pantai Laut Kidul dan
mulailah ia pergi ke timur untuk mencari puterinya dan Bagus Seta.
Kakek itu
berusia kurang lebih enampuluh tahun, rambutnya yang sudah berwarna dua itu
dibiarkan terjurai sampai ke punggung. Pakaiannya amat sederhana, dari kain
berwarna hitam yang seperti kain melilit tubuhnya saja. Kumis dan jenggotnya
panjang, juga berwarna dua. Biarpun amat sederhana, namun kakek itu tampak
bersih, dari rambutnya sampai pakaiannya. Dia duduk bersila di atas sebuah
dipan bambu, dan seorang pemuda bersila di atas lantai, menghadapnya.
"Jarot,
hari belum sore benar engkau telah berada di rumah. Apakah pekerjaanmu di
ladang telah selesai? Apakah sepetak tegalan milik kita itu telah kau paculi
semua,siap untuk menanam kentang?"
"Sudah
selesai semua, Bapa Bhagawan," jawab pemuda itu.
Pemuda itu
berusia kurang lebih duapuluh tahun, berwajah lembut dan tampan, berkulit hitam
manis, tubuhnya padat dan tegap membayangkan kekuatan. Siapakah pemuda dan
kakek itu? Kakek itu adalah seorang pendeta yang mengasingkan diri di lereng
Gunung Semeru, bernama Bhagawan Dewondaru, seorang kakek yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi, sakti mandraguna, dan hidup sebagai seorang petani biasa
yang selalu mengenakan pakaian serba hitam. Usianya sudah enampuluh tahun, akan
tetapi tubuhnya masih tegak dan kokoh kuat, masih kuat untuk mencangkul sehari
penuh selama berhari-hari.
Pemuda itu
bernama Jarot, sudah kurang lebih tujuh tahun Jarot menjadi murid Bhagawan Dewondaru,
mempelajari segala ilmu kesaktian sambil bekerja sebagai petani. Tujuh tahun
yang lalu, Bhagawan Dewondaru menemukan Jarot dalam keadaan hampir mati hanyut
di Kali Rejali yang bermata air di Lereng Semeru. Bagaimana Jarot yang ketika
itu baru berusia lima belas tahun hanyut di Kali Rejali dalam keadaan hampir
mati? Jarot sebetulnya adalah putera Adipati yang berkuasa di Pasisiran, yaitu
daerah di pantai Laut Kidul sebelah barat pulau Nusa Barung. Jarot adalah
putera yang lahir dari seorang selir, akan tetapi sejak kecil pemuda ini amat
disayang oleh ayahnya. Dia seorang anak yang selain tampan dan lembut, juga
amat berbakti dan patuh kepada Sang Adipati Pasisiran sehingga ayahnya ini amat
menyayangnya lebih dari pada putera-putera lainnya. Hal ini membuat putera
permaisuri yang bernama Lembu Alun menjadi iri hati dan diam-diam dia membenci
adik tirinya itu. Karena khawatir bahwa kelak kedudukan adipati akan diserahkan
kepada Jarot setelah ayah mereka mengundurkan diri, maka Lembu Alun segera mengatur
jalan sesat untuk mengenyahkan adik tirinya. Suatu hari, Lembu Alun mengajak
adik tirinya untuk pergi berburu binatang hutan. Jarot merasa heran sekali
karena biasanya, kakaknya ini menjauhinya, bahkan bicarapun jarang kepadanya.
Dari gerak gerik dan pandang matanya, dia tahu bahwa kakak tirinya itu tidak
senang atau membencinya. Oleh karena itu, ajakan itu sungguh membesarkan
hatinya.
“Aku girang
sekali, kakangmas. Dengan siapa saja kita berburu?" tanya Jarot sambil
memandang kepada Lembu Alun dengan wajah berseri.
"Ah, kita
pergi berdua saja, adimas. Membawa banyak orang hanya akan mengganggu kita
berburu saja. Kita pergi berdua menunggang kuda dan membawa gendewa dan anak
panahmu. Aku dengar di hutan sepanjang kali Rejali di lereng Semeru terdapat
banyak kijang. Aku ingin sekali makan daging kijang yang gemuk. Kita pergi
berdua saja, kalau sudah mendapat satu atau dua ekor kita segera pulang. Kalau
kita berangkat pagi-pagi benar, sorenya kita sudah dapat pulang.”
“Baik,
kakangmas," kata Jarot dan kedua orang muda itu dengan tangkasnya lalu
berlompatan ke atas punggung kuda mereka dan membalapkan kuda mereka ke luar
dari kadipaten menuju ke utara, menyusuri sepanjang kali Rejali.
Dua orang muda
itu melakukan perjalanan penuh kegembiraan, terutama sekali Jarot karena baru
sekali ini dia diajak oleh kakaknya itu pergi berburu. Dia mulai merasa betapa
keliru anggapannya bahwa kakaknya itu tidak senang kepadanya. Sekarang baru
ternyata bahwa kakaknya itu baik sekali kepadanya. Setelah mereka memasuki
hutan di lereng Gunung Semeru, Lembu Alun lalu melompat turun dari kudanya.
"Di
sinilah tempatnya, adimas. Sebaiknya kita berjalan kaki saja karena
kijang-kijang itu tentu akan melarikan diri kalau mendengar derap kaki kuda
kita."
Jarot juga
turun dari kudanya. Kedua ekor kuda itu ditambatkan di sebatang pohon dan kedua
orang muda itu lalu mencari kijang dengan jalan kaki. Mereka menyusuri Kali
Rejali dalam hutan itu. Akhirnya mereka menemukan jejak kaki banyak kijang di
tepi sungai.
"Adimas,
sebaiknya kita berpencar. Engkau mengambil jalan sepanjang sungai ini, dan aku
akan mencari ke sebelah sana. Dengan cara berpencar, lebih banyak kemungkinan
kita menemukan kijang."
“Baik,
kakangmas. Aku akan mengambil jalan di sepanjang sungai ini."
"Mari
kita berlumba, adimas. Siapa diantara kita yang dulu memperoleh kijang!"
Jarot
tersenyum dan ikut bergembira seperti kakaknya.
"Baik,
kakangmas. Akan tetapi aku tentu kalah. Siapa yang tidak tahu bahwa kakangmas
adalah seorang jago panah yang terkenal di kadipaten kita? Akan tetapi siapa
tahu, aku akan lebih dulu bertemu dengan kijang."
Mereka lalu
berpencar. Lembu Alun menyusup-nyusup di antara alang-alang dan menghilang ke
tengah hutan. Jarot juga berindap-indap mengintai kalau-kalau ada kijang di
sebelah depannya. Akan tetapi sudah sejam dia bergerak maju berindap-indap,
belum juga tampak bayangan seekorpun kijang. Dia mulai merasa khawatir. Mungkin
kakaknya kini telah merobohkan seekor kijang dengan anak panahnya! Jarot merasa
gerah. Melihat air Kali Rejali yang jernih itu, dia tertarik lalu menuruni
tebing sungai. Dia lalu mencuci mukanya. Terasa segar dan sejuk sekali ketika
air membasahi muka, leher dan lengannya.
<<< Bagian 02 Bagian 04 >>>
No comments:
Post a Comment