Pada saat itulah, tiba-tiba dia merasa punggungnya nyeri sekali. Sebatang anak panah menancap di punggungnya. Jarot mengeluh lalu roboh terpelanting ke dalam sungai. Dia pingsan dan perlahan-lahan tubuhnya hanyut oleh air sungai itu. Dalam keadaan seperti itulah Bhagawan Dewondaru menemukannya, hanyut pingsan di Kali Rejali. Orang tua itu segera menolongnya dan membawanya pulang ke pondoknya di lereng yang lebih tinggi. Dengan penuh kasih dia mengobati dan merawat Jarot sampai pemuda itu sembuh dan sehat kembali. Setelah kesehatannya pulih kembali, Bhagawan Dewondaru lalu bertanya mengapa dia sampai hanyut di sungai dengan sebatang anak panah menancap di punggungnya. Jarot lalu bercerita.
"Saya
sedang berburu kijang bersama kakak saya, Bapa. Karena merasa gerah, saya turun
ke sungai dan membasahi muka dan leher saya. Pada saat itulah saya merasa nyeri
sekali di punggung saya dan selanjutnya saya tidak ingat apa-apa lagi. Setelah
saya sadar, ternyata saya telah berada di sini, mendapat pengobatan dan
perawatan dari Bapa. Atas budi pertolongan Bapa, saya menghaturkan banyak te
rima kasih. Kalau tidak ada Bapa yang menolong saya, tentu saya telah tewas."
"Jangan
berterima kasih kepadaku angger. Akan tetapi berterima kasihlah kepada Hyang
Widhi, karena Hyang Widhi yang menolongmu melalui aku yang kebetulan melihat
engkau hanyut di Kali Rejali. Akan tetapi, siapakah namamu dan di mana tempat
tinggalmu, angger?"
"Saya
bernama Jarot dan saya tinggal di kadipaten Pasisiran. Saya adalah putera
Adipati Pasisiran, Bapa."
"Jagad
Dewa Bathara ... ! Kiranya andika adalah putera Sang Adipati di Pasisiran.
Maafkan kalau saya bersikap kurang hormat, Raden."
"Harap
jangan sungkan, Bapa. Dan jangan menyebut saya raden, sebut saja nama saya. Dan
siapakah Bapa yang tinggal di tempat sunyi ini?"
"Saya
bernama Bhagawan Dewondaru, angger. Agaknya ketika andika membasahi muka itu,
andika diserang secara menggelap oleh seseorang. Apakah andika mempunyai
musuh?"
Jarot
menggeleng kepalanya.
"Setahu
saya tidak, Bapa Bhagawan. Saya tidak pernah bermusuhan dan agaknya di dunia
ini tidak ada yang memusuhi saya."
Kakek itu
mengeluarkan sebatang anak panah dan memperlihatkannya kepada Jarot.
"Apakah
andika mengenal anak panah ini?"
Jarot menerima
anak panah itu dan menggeleng kepalanya.
"Saya
tidak mengenalnya, Bapa. Kakak saya selalu memakai anak panah dengan bulu
merah, dan anak panah ini bulunya hitam. Saya tidak mengenalnya."
"Hemm,
akan tetapi kenyataannya, andika diserang dan dipanah orang dari belakang.
Apakah kakak andika itu sayang kepada andika?"
Ditanya
begini, Jarot mengerutkan alisnya.
"Biarpun
tidak sayang, akan tetapi tidak mungkin dia yang melakukannya, Bapa. Hal ini
terbukti dari anak panah ini yang sama sekali bukan miliknya."
"Angger,
saya tidak menyangka siapa-siapa, akan tetapi melihat keadaanmu, engkau
terancam bahaya besar. Sebaiknya andika tinggal di sini untuk sementara. Kalau
andika kembali ke kadipaten, saya khawatir orang yang hendak membunuh andika
itu akan mengulangi lagi perbuatannya."
Jarot
membenarkan pendapat kakek itu. Kalau diingat, sekarang diapun merasa bahwa
banyak orang yang membenci atau tidak senang kepadanya. Kakaknya, Lembu Alun
biasanya juga tidak suka kepadanya, dan ada saudara-saudara tiri yang lain.
Agaknya karena ayahnya menyayangnya, maka dia dibenci orang banyak. Para ibu
tirinya juga tidak suka kepadanya. Seolah hanya ayahnya dan ibunya saja yang
suka kepadanya. Akan tetapi benarkah kebencian mereka demikian besarnya
sehingga mereka tega mencoba membunuhnya?
"Baiklah,
Bapa. Kalau Bapa tidak berkeberatan, untuk sementara saya tinggal mondok di
sini. Saya akan membantu pekerjaan Bapa bertani."
"Bagus
sekali, angger. Sebagai gantinya, saya akan mengajarkan ilmu-ilmu yang kiranya
berguna bagimu."
Mulai hari
itu, Jarot tinggal di pondok Bhagawan Dewondaru. Bukan untuk sementara, bahkan
berlarut-larut sampai tujuh tahun! Hal ini adalah karena dengan terkejut dan
juga girang sekali Jarot mendapat kenyataan bahwa kakek itu adalah seorang yang
sakti mandraguna! Maka, tentu saja dia tidak mau melepaskan kesempatan baik itu
dan diapun bekerja dengan rajinnya di samping mempelajari ilmu-ilmu kesaktian
sampai tujuh tahun lamanya!
Pada sore hari
itu, dia menghadap gurunya yang bertanya kepadanya tentang pekerjaannya di
ladang, yang dijawabnya bahwa tegalan mereka telah dia paculi sampai selesai.
"Bagus
sekali, angger Jarot. Mulai besok pagi, andika tidak perlu bekerja di ladang
lagi. Menurut pendapatku, waktumu tinggal bekerja dan belajar di sini telah
habis. Besok andika harus meninggalkan tempat ini dan kembalilah ke Kadipaten
Pasisiran."
Jarot terkejut
sekali dan mengangkat muka memandang wajah gurunya, lalu menyembah.
"Akan
tetapi, Bapa. Saya belum ingin pergi, masih ingin melanjutkan bekerja dan
belajar di sini."
"Tidak,
angger. Semua ilmuku sudah kuberikan kepada andika. Pula, ada pertemuan tentu
ada perpisahan dan besok sudah tiba waktunya kita berpisah."
"Setidaknya,
ijinkanlah saya tinggal di sini sampai selesai menanam kentang, Bapa. Saya
tidak ingin melihat Bapa bersusah payah bekerja sendiri."
Bhagawan
Dewondaru tersenyum.
"Sebelum
andika datang, pekerjaanku adalah bertani. Setelah andika berada di sini, aku
menjadi seorang tua yang menganggur dan bermalasan. Tidak, angger. Engkau harus
pergi dari sini besok karena akupun akan meninggalkan tempat ini besok."
"Kemanakah
Bapa hendak pergi?"
"Aku
sendiri belum tahu ke mana aku hendak merantau dan entah kapan aku kembali ke
sini. Mungkin juga tidak akan kembali sama sekali karena telah mendapatkan
tempat tinggal lain. Andika harus pulang ke Kadipaten Pasisiran, bertemu dan
berkumpul dengan orang tuamu. Sekarang andika tidak perlu khawatir lagi akan
usaha jahat yang hendak membunuhmu. Andika cukup kuat untuk menjaga diri."
Jarot tidak
berani membantah lagi. Dia menemukan kehidupan yang hening dan tenang di situ,
menemukan kebahagiaan hidup bersama gurunya, digembleng ilmu dan juga
pengetahuan tentang kehidupan. Kalau teringat betapa saudara-saudara dan para ibu
tirinya seolah berebutan kekuasaan dan saling berlumba menyenangkan hati
ayahnya agar kelak dijadikan pengganti adipati di Pasisiran, rasanya segan dia
untuk pulang. Akan tetapi dia kalau teringat kepada ayah ibunya, hatinya sudah
merasa rindu sekali kepada mereka yang telah ditinggalkan selama tujuh tahun.
Ingin sekali dia mengetahui, apa yang diceritakan oleh kakaknya Lembu Alun
tentang kehilangan dirinya kepada ayah ibunya. Lembu Alun tentu kehilangan
dirinya dan pulang seorang diri dari perburuan itu.
Keesokan
harinya, pagi-pagi benar dia mandi biarpun semalam hampir tidak tidur, dan
setelah kembali ke pondok, gurunya telah bangun, bahkan telah siap untuk pergi
membawa tongkatnya dan menggendong buntalan pakaiannya.
"Sepagi
ini, Bapa hendak ke manakah?”
"Seperti
telah kuberitahukan kemarin, hari ini aku juga akan pergi merantau. Aku
berangkat dulu, angger. Kalau andika turun gunung, jangan lupa singgah di dusun
Kemanggisan di selatan itu dan beritahu kepada Ki Janur bahwa pondok dan
tegalan ini kuserahkan kepadanya untuk digarap. Pondok dan tegal ini menjadi
miliknya sampai aku kembali ke sini, entah kapan."
"Baik,
Bapa. Akan tetapi, saya mohon Bapa memberitahu kepada saya, ke mana saya harus
pergi kalau saya ingin berjumpa dengan Bapa."
Kakek itu tersenyum
dan menggeleng kepala.
"Aku
pergi menurutkan kata hati dan langkah kaki, bagaimana aku dapat tahu ke mana
aku hendak pergi? Sudahlah, angger, kalau memang berjodoh, sekali waktu kita
tentu akan dapat saling bertemu lagi. Selamat tinggal."
Jarot memberi
hormat dengan sembah.
"Selamat
jalan, Bapa, harap jaga diri Bapa baik-baik," katanya terharu. Tujuh tahun
hidup bersama kakek itu, dia sudah menganggapnya sebagai ayahnya sendiri.
Setelah
Bhagawan Dewondaru pergi, barulah Jarot berkemas. Dia juga membungkus
pakaiannya dengan sarung dan menggendong juntaian itu diatas punggungnya,
kemudian setelah beberapa lamanya dia memandang pondok dan sekitarnya yang
telah amat dikenalnya itu, diapun membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar
menuju ke dusun Kemanggisan. Dusun ini merupakan satu-satunya dusun di mana dia
bertemu dengan manusia-manusia lain, yaitu kalau berbelanja segala keperluan
mereka. Ki Janur adalah seorang penduduk dusun yang kadang diminta bantuannya
menggarap tegal, seorang laki-laki yang tulus dan jujur, dan yang hidup menduda
tanpa anak. Setelah tiba di dusun Kemanggisan, Jarot menemui Ki Janur dan
menyampaikan pesan gurunya. Ki Janur menerimanya dengan senang karena tegalan
milik Bhagawan Dewondaru merupakan tegalan yang subur sekali.
"Terima
kasih, denmas, akan saya urus baik-baik tegal dan pondok itu," katanya.
Setelah
menyampaikan pesan gurunya, Jarot lalu menuruni lereng Semeru menuju ke
selatan, menyusuri sepanjang Kali Rejali yang mengalir ke selatan. Muara air
Kali Rejali itu berada di pinggir Kadipaten Pasisiran.
Malam itu
gelap gulita. Angin malam berhembus lesu sehingga awan gelap yang menutupi
bintang-bintang di langit tetap menyelubungi Kadipaten Pasisiran dalam
kegelapan yang pekat. Orang-orang enggan ke luar rumah karena gelap dan
dinginnya. Apalagi malam itu adalah malam Jumat Kliwon yang dianggap malam yang
khas bagi roh-roh jahat gentayangan mencari korban.
Akan tetapi
dua orang pemuda agaknya tidak memperdulikan malam yang menyeramkan itu. Mereka
bahkan keluar dari batas kota Kadipaten Pasisiran dan menuju ke selatan, ke
pantai Laut Kidul. Di pantai yang curam terdapat guha-guha yang besar dan jalan
menuju ke guha-guha itupun merupakan jalan yang berbahaya. Namun, dua orang itu
kini memegang obor dan menuruni tebing yang curam itu.
Akhirnya
mereka tiba di tempat yang dituju. Mereka berhenti di depan sebuah guha besar
dan menancapkan obor mereka di kanan kiri depan guha sehingga menerangi dalam
guha itu. Di dalam guha, di atas sehelai tikar, duduk seorang kakek yang
menyeramkan. Rambutnya panjang dan gimbal, matanya bundar dan besar, hidungnya
pesek dan mulutnya yang lebar itu menyeringai seperti mulut seekor srigala yang
kelaparan. Mata yang besar itu mencorong seperti mata harimau ketika terkena
cahaya dua batang obor itu. Pakaiannya seperti baju pendeta yang longgar dan
panjang, berwarna kuning. Ketika melihat dua orang laki-laki muda itu maju,
berlutut dan menyembah kepadanya, kakek ini tertawa bergelak.
"Hoa
ha-ha, mengapa kalian datang malam-malam begini, Lembu Alun dan Lumbu Tirta.
Bukankah sudah cukup aku memberi pelajaran ilmu-ilmu itu kepada kalian? Dan
kapan kalian akan mengajak aku ke kadipaten menduduki pangkat sebagai Penasihat
Kadipaten?"
"Ampunkan
kami kalau mengganggu, Bapa Guru. Kedatangan kami ini ada hubungannya dengan
pertanyaan terakhir itu. Sampai sekarang, ayah kami belum juga menentukan
pilihannya untuk mengangkat seorang di antara kami para puteranya menjadi calon
Adipati. Agaknya ayah kami masih terus memikirkan adimas Jarot yang lenyap
tujuh tahun yang lalu. Karena itu, kami mohon keterangan dari Bapa Guru, apakah
Dimas Jarot itu masih hidup?"
"Tunggu
sebentar, akan kubuat perhitungan. Namanya Jarot? Akan kuminta perewangan untuk
memberi petunjuk."
Setelah
berkata demikian, kakek yang duduk bersila itu lalu menyilangkan lengan depan
dada, mulutnya berkemak-kemik membaca mantram. Tak lama kemudian tiba-tiba saja
tubuhnya menjadi kaku, kedua tangannya mencakar-cakar udara, berkelojotan
seperti orang sekarat dan mulutnya yang berbuih itu mengeluarkan suara melengking
seperti suara seorang nenek-nenek.
"Kau
tanyakan tentang Si Jarot? Hi-hi-hi-hik, dia masih hidup, bahkan dia menjadi
ancaman besar bagi kalian. Hi-hihi aduh panas ... kalian jaga baik-baik, dia
panas ... !" Kakek itu berhenti berkelojotan dan mengusap buih dari
mulutnya.
"Kalian
mendengar sendiri dari perawangan tadi? Jarot masih hidup, bahkan menjadi
ancaman besar bagi kalian. Dan agaknya dia itu tidak boleh dipandang ringan,
kalau dia panas itu berarti pemuda itu memiliki kesaktian yang patut diperhitungkan."
"Kalau
begitu, kita harus bekerja secepatnya, Bapa Guru. Sebelum Jarot muncul, ayah
kami harus disingkirkan dulu. Kalau ayah meninggal, aku sebagai putera
permaisuri pasti akan diangkat menjadi penggantinya. Dan kalau aku sudah
menjadi adipati, tentu Bapa Guru akan kami boyong ke Kadipaten Pasisiran. Kalau
Jarot muncul setelah aku menjadi Adipati, dia tidak dapat berbuat apa-apa
lagi."
"Hemm,
itu mudah. Akan tetapi engkau harus menyediakan syaratnya. Sehelai bajunya yang
bekas dipakai dan belum dicuci, beberapa helai, sedikitnya tujuh helai
rambutnya, lalu hari dan pasaran apa dia dilahirkan. Karena hanya pada hari
tertentu itu maka seranganku akan dapat berhasil. Dan kalau dia sudah jatuh
sakit, engkau harus berusaha agar dia mau minum air yang sudah kuisi dengan
kekuatan mantra. Nah, sediakan semua syarat itu secepatnya, dan pergilah dari
sini, tinggalkan aku yang sedang menikmati malam Jumat Kliwon yang angker
ini."
<<< Bagian 03 Bagian 05 >>>
No comments:
Post a Comment