Sepasang Garuda Putih ; Bagian 04


Pada saat itulah, tiba-tiba dia merasa punggungnya nyeri sekali. Sebatang anak panah menancap di punggungnya. Jarot mengeluh lalu roboh terpelanting ke dalam sungai. Dia pingsan dan perlahan-lahan tubuhnya hanyut oleh air sungai itu. Dalam keadaan seperti itulah Bhagawan Dewondaru menemukannya, hanyut pingsan di Kali Rejali. Orang tua itu segera menolongnya dan membawanya pulang ke pondoknya di lereng yang lebih tinggi. Dengan penuh kasih dia mengobati dan merawat Jarot sampai pemuda itu sembuh dan sehat kembali. Setelah kesehatannya pulih kembali, Bhagawan Dewondaru lalu bertanya mengapa dia sampai hanyut di sungai dengan sebatang anak panah menancap di punggungnya. Jarot lalu bercerita.
"Saya sedang berburu kijang bersama kakak saya, Bapa. Karena merasa gerah, saya turun ke sungai dan membasahi muka dan leher saya. Pada saat itulah saya merasa nyeri sekali di punggung saya dan selanjutnya saya tidak ingat apa-apa lagi. Setelah saya sadar, ternyata saya telah berada di sini, mendapat pengobatan dan perawatan dari Bapa. Atas budi pertolongan Bapa, saya menghaturkan banyak te rima kasih. Kalau tidak ada Bapa yang menolong saya, tentu saya telah tewas."
"Jangan berterima kasih kepadaku angger. Akan tetapi berterima kasihlah kepada Hyang Widhi, karena Hyang Widhi yang menolongmu melalui aku yang kebetulan melihat engkau hanyut di Kali Rejali. Akan tetapi, siapakah namamu dan di mana tempat tinggalmu, angger?"
"Saya bernama Jarot dan saya tinggal di kadipaten Pasisiran. Saya adalah putera Adipati Pasisiran, Bapa."
"Jagad Dewa Bathara ... ! Kiranya andika adalah putera Sang Adipati di Pasisiran. Maafkan kalau saya bersikap kurang hormat, Raden."
"Harap jangan sungkan, Bapa. Dan jangan menyebut saya raden, sebut saja nama saya. Dan siapakah Bapa yang tinggal di tempat sunyi ini?"
"Saya bernama Bhagawan Dewondaru, angger. Agaknya ketika andika membasahi muka itu, andika diserang secara menggelap oleh seseorang. Apakah andika mempunyai musuh?"

Jarot menggeleng kepalanya.
"Setahu saya tidak, Bapa Bhagawan. Saya tidak pernah bermusuhan dan agaknya di dunia ini tidak ada yang memusuhi saya."
Kakek itu mengeluarkan sebatang anak panah dan memperlihatkannya kepada Jarot.
"Apakah andika mengenal anak panah ini?"
Jarot menerima anak panah itu dan menggeleng kepalanya.
"Saya tidak mengenalnya, Bapa. Kakak saya selalu memakai anak panah dengan bulu merah, dan anak panah ini bulunya hitam. Saya tidak mengenalnya."
"Hemm, akan tetapi kenyataannya, andika diserang dan dipanah orang dari belakang. Apakah kakak andika itu sayang kepada andika?"
Ditanya begini, Jarot mengerutkan alisnya.
"Biarpun tidak sayang, akan tetapi tidak mungkin dia yang melakukannya, Bapa. Hal ini terbukti dari anak panah ini yang sama sekali bukan miliknya."
"Angger, saya tidak menyangka siapa-siapa, akan tetapi melihat keadaanmu, engkau terancam bahaya besar. Sebaiknya andika tinggal di sini untuk sementara. Kalau andika kembali ke kadipaten, saya khawatir orang yang hendak membunuh andika itu akan mengulangi lagi perbuatannya."

Jarot membenarkan pendapat kakek itu. Kalau diingat, sekarang diapun merasa bahwa banyak orang yang membenci atau tidak senang kepadanya. Kakaknya, Lembu Alun biasanya juga tidak suka kepadanya, dan ada saudara-saudara tiri yang lain. Agaknya karena ayahnya menyayangnya, maka dia dibenci orang banyak. Para ibu tirinya juga tidak suka kepadanya. Seolah hanya ayahnya dan ibunya saja yang suka kepadanya. Akan tetapi benarkah kebencian mereka demikian besarnya sehingga mereka tega mencoba membunuhnya?
"Baiklah, Bapa. Kalau Bapa tidak berkeberatan, untuk sementara saya tinggal mondok di sini. Saya akan membantu pekerjaan Bapa bertani."
"Bagus sekali, angger. Sebagai gantinya, saya akan mengajarkan ilmu-ilmu yang kiranya berguna bagimu."
Mulai hari itu, Jarot tinggal di pondok Bhagawan Dewondaru. Bukan untuk sementara, bahkan berlarut-larut sampai tujuh tahun! Hal ini adalah karena dengan terkejut dan juga girang sekali Jarot mendapat kenyataan bahwa kakek itu adalah seorang yang sakti mandraguna! Maka, tentu saja dia tidak mau melepaskan kesempatan baik itu dan diapun bekerja dengan rajinnya di samping mempelajari ilmu-ilmu kesaktian sampai tujuh tahun lamanya!
Pada sore hari itu, dia menghadap gurunya yang bertanya kepadanya tentang pekerjaannya di ladang, yang dijawabnya bahwa tegalan mereka telah dia paculi sampai selesai.
"Bagus sekali, angger Jarot. Mulai besok pagi, andika tidak perlu bekerja di ladang lagi. Menurut pendapatku, waktumu tinggal bekerja dan belajar di sini telah habis. Besok andika harus meninggalkan tempat ini dan kembalilah ke Kadipaten Pasisiran."
Jarot terkejut sekali dan mengangkat muka memandang wajah gurunya, lalu menyembah.
"Akan tetapi, Bapa. Saya belum ingin pergi, masih ingin melanjutkan bekerja dan belajar di sini."

"Tidak, angger. Semua ilmuku sudah kuberikan kepada andika. Pula, ada pertemuan tentu ada perpisahan dan besok sudah tiba waktunya kita berpisah."
"Setidaknya, ijinkanlah saya tinggal di sini sampai selesai menanam kentang, Bapa. Saya tidak ingin melihat Bapa bersusah payah bekerja sendiri."
Bhagawan Dewondaru tersenyum.
"Sebelum andika datang, pekerjaanku adalah bertani. Setelah andika berada di sini, aku menjadi seorang tua yang menganggur dan bermalasan. Tidak, angger. Engkau harus pergi dari sini besok karena akupun akan meninggalkan tempat ini besok."
"Kemanakah Bapa hendak pergi?"
"Aku sendiri belum tahu ke mana aku hendak merantau dan entah kapan aku kembali ke sini. Mungkin juga tidak akan kembali sama sekali karena telah mendapatkan tempat tinggal lain. Andika harus pulang ke Kadipaten Pasisiran, bertemu dan berkumpul dengan orang tuamu. Sekarang andika tidak perlu khawatir lagi akan usaha jahat yang hendak membunuhmu. Andika cukup kuat untuk menjaga diri."

Jarot tidak berani membantah lagi. Dia menemukan kehidupan yang hening dan tenang di situ, menemukan kebahagiaan hidup bersama gurunya, digembleng ilmu dan juga pengetahuan tentang kehidupan. Kalau teringat betapa saudara-saudara dan para ibu tirinya seolah berebutan kekuasaan dan saling berlumba menyenangkan hati ayahnya agar kelak dijadikan pengganti adipati di Pasisiran, rasanya segan dia untuk pulang. Akan tetapi dia kalau teringat kepada ayah ibunya, hatinya sudah merasa rindu sekali kepada mereka yang telah ditinggalkan selama tujuh tahun. Ingin sekali dia mengetahui, apa yang diceritakan oleh kakaknya Lembu Alun tentang kehilangan dirinya kepada ayah ibunya. Lembu Alun tentu kehilangan dirinya dan pulang seorang diri dari perburuan itu.
Keesokan harinya, pagi-pagi benar dia mandi biarpun semalam hampir tidak tidur, dan setelah kembali ke pondok, gurunya telah bangun, bahkan telah siap untuk pergi membawa tongkatnya dan menggendong buntalan pakaiannya.
"Sepagi ini, Bapa hendak ke manakah?”
"Seperti telah kuberitahukan kemarin, hari ini aku juga akan pergi merantau. Aku berangkat dulu, angger. Kalau andika turun gunung, jangan lupa singgah di dusun Kemanggisan di selatan itu dan beritahu kepada Ki Janur bahwa pondok dan tegalan ini kuserahkan kepadanya untuk digarap. Pondok dan tegal ini menjadi miliknya sampai aku kembali ke sini, entah kapan."
"Baik, Bapa. Akan tetapi, saya mohon Bapa memberitahu kepada saya, ke mana saya harus pergi kalau saya ingin berjumpa dengan Bapa."
Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala.
"Aku pergi menurutkan kata hati dan langkah kaki, bagaimana aku dapat tahu ke mana aku hendak pergi? Sudahlah, angger, kalau memang berjodoh, sekali waktu kita tentu akan dapat saling bertemu lagi. Selamat tinggal."
Jarot memberi hormat dengan sembah.
"Selamat jalan, Bapa, harap jaga diri Bapa baik-baik," katanya terharu. Tujuh tahun hidup bersama kakek itu, dia sudah menganggapnya sebagai ayahnya sendiri.

Setelah Bhagawan Dewondaru pergi, barulah Jarot berkemas. Dia juga membungkus pakaiannya dengan sarung dan menggendong juntaian itu diatas punggungnya, kemudian setelah beberapa lamanya dia memandang pondok dan sekitarnya yang telah amat dikenalnya itu, diapun membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar menuju ke dusun Kemanggisan. Dusun ini merupakan satu-satunya dusun di mana dia bertemu dengan manusia-manusia lain, yaitu kalau berbelanja segala keperluan mereka. Ki Janur adalah seorang penduduk dusun yang kadang diminta bantuannya menggarap tegal, seorang laki-laki yang tulus dan jujur, dan yang hidup menduda tanpa anak. Setelah tiba di dusun Kemanggisan, Jarot menemui Ki Janur dan menyampaikan pesan gurunya. Ki Janur menerimanya dengan senang karena tegalan milik Bhagawan Dewondaru merupakan tegalan yang subur sekali.
"Terima kasih, denmas, akan saya urus baik-baik tegal dan pondok itu," katanya.
Setelah menyampaikan pesan gurunya, Jarot lalu menuruni lereng Semeru menuju ke selatan, menyusuri sepanjang Kali Rejali yang mengalir ke selatan. Muara air Kali Rejali itu berada di pinggir Kadipaten Pasisiran.
Malam itu gelap gulita. Angin malam berhembus lesu sehingga awan gelap yang menutupi bintang-bintang di langit tetap menyelubungi Kadipaten Pasisiran dalam kegelapan yang pekat. Orang-orang enggan ke luar rumah karena gelap dan dinginnya. Apalagi malam itu adalah malam Jumat Kliwon yang dianggap malam yang khas bagi roh-roh jahat gentayangan mencari korban.
Akan tetapi dua orang pemuda agaknya tidak memperdulikan malam yang menyeramkan itu. Mereka bahkan keluar dari batas kota Kadipaten Pasisiran dan menuju ke selatan, ke pantai Laut Kidul. Di pantai yang curam terdapat guha-guha yang besar dan jalan menuju ke guha-guha itupun merupakan jalan yang berbahaya. Namun, dua orang itu kini memegang obor dan menuruni tebing yang curam itu.

Akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju. Mereka berhenti di depan sebuah guha besar dan menancapkan obor mereka di kanan kiri depan guha sehingga menerangi dalam guha itu. Di dalam guha, di atas sehelai tikar, duduk seorang kakek yang menyeramkan. Rambutnya panjang dan gimbal, matanya bundar dan besar, hidungnya pesek dan mulutnya yang lebar itu menyeringai seperti mulut seekor srigala yang kelaparan. Mata yang besar itu mencorong seperti mata harimau ketika terkena cahaya dua batang obor itu. Pakaiannya seperti baju pendeta yang longgar dan panjang, berwarna kuning. Ketika melihat dua orang laki-laki muda itu maju, berlutut dan menyembah kepadanya, kakek ini tertawa bergelak.
"Hoa ha-ha, mengapa kalian datang malam-malam begini, Lembu Alun dan Lumbu Tirta. Bukankah sudah cukup aku memberi pelajaran ilmu-ilmu itu kepada kalian? Dan kapan kalian akan mengajak aku ke kadipaten menduduki pangkat sebagai Penasihat Kadipaten?"
"Ampunkan kami kalau mengganggu, Bapa Guru. Kedatangan kami ini ada hubungannya dengan pertanyaan terakhir itu. Sampai sekarang, ayah kami belum juga menentukan pilihannya untuk mengangkat seorang di antara kami para puteranya menjadi calon Adipati. Agaknya ayah kami masih terus memikirkan adimas Jarot yang lenyap tujuh tahun yang lalu. Karena itu, kami mohon keterangan dari Bapa Guru, apakah Dimas Jarot itu masih hidup?"
"Tunggu sebentar, akan kubuat perhitungan. Namanya Jarot? Akan kuminta perewangan untuk memberi petunjuk."
Setelah berkata demikian, kakek yang duduk bersila itu lalu menyilangkan lengan depan dada, mulutnya berkemak-kemik membaca mantram. Tak lama kemudian tiba-tiba saja tubuhnya menjadi kaku, kedua tangannya mencakar-cakar udara, berkelojotan seperti orang sekarat dan mulutnya yang berbuih itu mengeluarkan suara melengking seperti suara seorang nenek-nenek.
"Kau tanyakan tentang Si Jarot? Hi-hi-hi-hik, dia masih hidup, bahkan dia menjadi ancaman besar bagi kalian. Hi-hihi aduh panas ... kalian jaga baik-baik, dia panas ... !" Kakek itu berhenti berkelojotan dan mengusap buih dari mulutnya.
"Kalian mendengar sendiri dari perawangan tadi? Jarot masih hidup, bahkan menjadi ancaman besar bagi kalian. Dan agaknya dia itu tidak boleh dipandang ringan, kalau dia panas itu berarti pemuda itu memiliki kesaktian yang patut diperhitungkan."
"Kalau begitu, kita harus bekerja secepatnya, Bapa Guru. Sebelum Jarot muncul, ayah kami harus disingkirkan dulu. Kalau ayah meninggal, aku sebagai putera permaisuri pasti akan diangkat menjadi penggantinya. Dan kalau aku sudah menjadi adipati, tentu Bapa Guru akan kami boyong ke Kadipaten Pasisiran. Kalau Jarot muncul setelah aku menjadi Adipati, dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi."
"Hemm, itu mudah. Akan tetapi engkau harus menyediakan syaratnya. Sehelai bajunya yang bekas dipakai dan belum dicuci, beberapa helai, sedikitnya tujuh helai rambutnya, lalu hari dan pasaran apa dia dilahirkan. Karena hanya pada hari tertentu itu maka seranganku akan dapat berhasil. Dan kalau dia sudah jatuh sakit, engkau harus berusaha agar dia mau minum air yang sudah kuisi dengan kekuatan mantra. Nah, sediakan semua syarat itu secepatnya, dan pergilah dari sini, tinggalkan aku yang sedang menikmati malam Jumat Kliwon yang angker ini."

<<< Bagian 03                                                                                         Bagian 05 >>>

No comments:

Post a Comment