Dua orang muda itu adalah putera-putera Adipati di Pasisiran yang bernama Lembu Alun dan Lembu Tirta, putera dari permaisuri. Seperti kita ketahui, Lembu Alun adalah kakak tiri Jarot yang dulu mengajak Jarot pergi berburu kijang. Sekarang dia telah berusia duapuluh lima tahun dan Lembu Tirta berusia duapuluh tiga tahun. Ketika dulu Lembu Alun pulang seorang diri sambil menuntun kuda tunggangan Jarot, pemuda ini sambil menangis memberitahu kepada ayah bundanya bahwa Jarot telah lenyap.
"Kami
berpencar untuk memburu kijang, akan tetapi setelah saya cari-cari, adimas
Jarot telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Sudah saya panggil-panggil dan
cari-cari namun dia tidak muncul. Terpaksa karena hari sudah sore saya pulang
sendirian."
Tentu saja ibu
Jarot dan juga Adipati Pasisiran menjadi terkejut dan khawatir sekali mendengar
keterangan Lembu Alun yang diceritakan sambil menangis itu. Sang Adipati lalu
mengerahkan pasukan untuk mencari Jarot. Seluruh hutan itu telah dijelajahi dan
malam itu juga mereka mencari-cari namun sia-sia. Setelah tiga hari tiga malam
mencari tanpa hasil, akhirnya mereka pulang ke kadipaten dengan lesu dan sedih.
"Tidak,
tidak mungkin Jarot mati!" teriak Sang Adipati dengan penuh duka dan
khawatir,
"kalau
dia mati tentu dapat ditemukan jenazahnya."
Sampai tujuh
tahun lamanya, Sang Adipati walaupun terendam dalam duka, agaknya masih belum
melepaskan harapannya bahwa Jarot masih hidup dan sewaktu-waktu akan muncul di
depannya. Sikap ayahnya ini membuat hati Lembu Alun khawatir sekali. Diapun
sangsi apakah Jarot telah tewas. Kenapa mayatnya tidak ditemukan? Andaikata
mayat itu hanyut di Kali Rejuli pun tentu akan dapat ditemukan oleh para pencari
itu. Dia sendiri menjadi ragu-ragu. Dan sikap ayahnya yang masih
mengharap-harapkan kembalinya Jarot itu, makin menggelisahkan karena dia tahu
bahwa kalau Jarot muncul, tentu pemuda itu yang akan ditunjuk sebagai pengganti
ayahnya.
Lima tahun
yang lalu, dia dan adiknya, Lembu Tirta secara tidak sengaja bertemu dengan
Wasi Surengpati, kakek yang menyeramkan di dalam guha itu. Setelah mengetahui
bahwa Wasi Surengpati adalah seorang pertapa yang sakti, kedua orang muda ini
lalu minta untuk diterima sebagai murid. Wasi Surengpati mau menerima mereka
menjadi murid asalkan mereka berjanji kelak mengangkatnya menjadi sesepuh atau
penasihat di Kadipaten Pasisiran. Setelah kedua orang pemuda itu menyanggupi
dan memberi hadiah apa saja yang diinginkan kakek itu merekapun diterima
menjadi murid dan menerima beberapa macam ilmu kanuragan yang membuat mereka
menjadi semakin sombong.
Dan pada malam
hari itu, mereka merencanakan agar cepat-cepat Lembu Alun diangkat menjadi
adipati dengan cara melenyapkan atau membunuh ayah mereka sendiri melalui ilmu
hitam yang akan dilaksanakan oleh guru mereka! Betapa kejinya! Di antara segala
daya tarik yang amat kuat dan membuat manusia saling berebutan, bahkan tidak
segan-segan melakukan segala daya yang licik dan kotor untuk memperoleh adalah
KEKUASAAN. Semua orang berpendapat bahwa hanya kekuasaan yang dapat
membahagiakan mereka.
Kalau ada
kekuasaan, maka segala kehendaknya pasti tercapai! Kekuasaan dapat membuat
mereka dipuja dan disembah orang lain, dan dapat membuat mereka hidup kaya
raya, mewah dan mulia! Kekuasaan dapat membuat orang mabok dan bertindak
sewenang-wenang, karena kekuasaan selalu menjadi milik yang menang, dan kalau
sudah berkuasa, maka apapun yang dilakukannya adalah baik dan benar! Maka tidak
heran kalau Lembu Alun yang haus akan kekuasaan itu, demi mendapatkan kedudukan
Adipati, tidak segan-segan mencoba membunuh adik tirinya dan kini bahkan tidak
segan-segan membunuh ayah kandungnya sendiri. Orang-orang yang berpendirian
demi kian, yang sudah menjadi hamba nafsunya sendiri mengejar kekuasaan dengan
segala cara, orang demikian itu sama sekali lupa bahwa di atas segala macam
kekuasaan ada KEKUASAAN MUTLAK yaitu kekuasaan Tuhan!
Betapapun
tinggi kekuasaan seorang manusia, dia tidaklah kebal terhadap kesengsaraan,
terhadap duka, kecewa, putus asa, penyakit dan kematian! Terutama sekali
menghadapi penyakit dan kematian, kekuasaan sedikitpun tidak dapat menolongnya.
Dia akan tetap merintih-rintih kesakitan dikala sakit dan menghembuskan napas
terakhir apabila ajal tiba. Dia tidak tahu bahwa makin besar kekuasaannya,
makin lemahlah dia terhadap segala uji dan coba. Hanya orang bijaksana saja
yang tidak haus kekuasaan secara wajar, diapun tidak mabok karenanya, bahkan
dia menggunakan kekuasaannya untuk kebaikan nusa dan bangsa, manusia dan dunia.
Sebelum kedua
orang bersaudara ini sempat menyerahkan syarat-syarat yang diminta oleh Wasi
Surengpati, pada keesokan harinya, menjelang senja, Lembu Alun dan Lembu Tirta
sedang berjalan-jalan di luar pintu gerbang kota sebelah utara. Tiba-tiba di
luar pintu gerbang mereka melihat seorang pemuda yang melangkah lebar ke arah
pintu gerbang. Keduanya terbelalak dan Lembu Alun cepat memberi isyarat kepada
adiknya dan keduanya segera melangkah lebar menyambut pendatang itu. Setelah mereka
berhadapan, pemuda itu memandang mereka dengan wajah berseri dan segera menegur
mereka.
"Kakangmas
Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta!" Pemuda yang bukan lain adalah Jarot
itu segera menghampiri semakin dekat.
Akan tetapi
kedua orang muda itu memandangnya dengan alis berkerut dan sinar mata marah.
"Siapa
andika, berani menegur kami begitu saja?" tanya Lembu Alun dengan suara
ketus.
"Kakangmas
Lembu Alun. Sudah lupakah kepadaku? Aku Jarot, adikmu!"
"Jarot?
Tidak mungkin! Jarot sudah mati dan lenyap tujuh tahun yang lalu! Andika hanya
mengaku-ngaku saja, andika orang palsu!"
"Kakangmas
Lembu Alun! Ini aku, Jarot. Aku masih hidup dan baru hari ini aku pulang."
"Aahh,
Jarot sudah mati tidak mungkin hidup kembali. Andika orang jahat yang
berpura-pura menjadi adik kami!" kata Lembu Tirta.
"Kakangmas
Lembu Alun, kita hajar saja orang palsu ini!"
Dua orang itu
lalu menerjang maju dan memukul Jarot. Jarot terkejut sekali, bukan saja
melihat betapa dua orang kakaknya tidak mengenalnya dan menyerangnya, terutama
sekali melihat cara mereka menyerang menggunakan aji kekuatan yang cukup
dahsyat! Dari mana kedua kakaknya memiliki kekuatan dahsyat seperti itu.
"Wuuuuuuttt
... ! Wuuuuuuuut ... !!"
Jarot cepat
mengelak dengan lincahnya sehingga pukulan kedua orang itu luput. Kini kedua
orang itu yang menjadi kaget dan heran. Mereka telah menyerang dengan Aji
Samber Nyawa, yang sekali pukul dapat membunuh lawan. Akan tetapi dengan mudah
saja Jarot dapat mengelak dari dua pukulan mereka! Padahal dahulu Jarot hanya
pernah mempelajari ilmu kanuragan yang biasa saja, sama dengan mereka sebelum
menjadi murid Bhagawan Dewondaru. Akan tetapi keheranan ini tidak menghentikan
kemarahan mereka. Mereka lalu menerjang dan menyerang lagi dengan lebih
dahsyat. Melihat ini, terpaksa Jarot menangkis sambil mengerahkan tenaga
saktinya.
"Dukk ...
! Dukk ... !" Dua orang kakak beradik itu terpental ke belakang dan
terhuyung! Mereka menjadi semakin kaget dan penasaran sekali.
"Kakangmas
Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta. Ingatlah, ini aku Jarot, bukan musuh
kalian. Aku telah kembali dan mari kita menghadap Kanjeng Romo dan kanjeng
ibu."
Akan tetapi
Lembu Alun sudah mencabut kerisnya dan membentak kepada adiknya,
"Lembu
Tirta, kita bunuh manusia palsu ini!" Dia lalu menyerang lagi menggunakan
kerisnya dan perbuatannya ini segera diturut oleh Lembu Tirta yang juga
menyerang dengan kerisnya. Jarot cepat mengelak dari tusukan kedua batang keris
itu. Keris-keris itu menyambar lagi dan sampai lima enam kali Jarot mengelak.
"Kakangmas
berdua, hentikan serangan kalian. Aku Jarot tulen, bukan palsu. Aku adik
kalian!" berulang kali Jarot membujuk mereka, akan tetapi kedua orang itu
menyerang semakin ganas, keris mereka berkelebatan menyambar-nyambar.
Jarot maklum
bahwa tidak mungkin dia mengelak terus, maka ketika melihat betapa mereka itu
benar-benar tidak mau mendengarkan bujukannya, dia lalu menggerakkan kedua
tangannya menangkis dengan pengerahan tenaga sakti. Tangkisannya mengena
pergelangan tangan kanan mereka dengan kuat sekali.
"Dukk ...
dukkk ... !!" Dan kedua orang bersaudara itu tidak dapat mempertahankan
keris mereka yang terlepas dari tangan mereka yang terasa lumpuh!
Mereka
terbelalak, maklum bahwa mereka tidak mampu menandingi Jarot yang kini demikian
digdayanya. Mereka lalu memungut keris mereka dan lari memasuki kota, terus
menuju ke pintu gerbang kota sebelah selatan dan terus berlari menuju ke pantai
Laut Kidul.
Jarot tidak
mengejar mereka, hanya merasa heran sekali mengapa kedua orang kakaknya begitu
keras hendak membunuhnya. Benarkah mereka itu tidak mengenalnya lagi? Begitu
besarkah perubahan pada dirinya sehingga mereka tidak mengenalnya? Jarot tidak
memperdulikan mereka lagi dan langsung saja dia melangkah menuju ke Kadipaten.
Hatinya merasa
terharu juga ketika dia berdiri di halaman kadipaten yang telah dikenalnya
sejak dia kecil itu. Bahkan dia tahu bahwa pada saat senja seperti itu, para
ibunya dan para putera-puteri berkumpul di ruangan dalam berbincang-bincang.
Dia mengira-ira apakah namanya disebut dalam percakapan mereka itu. Mungkin
tidak lagi. Sudah terlalu lama dia meninggalkan mereka. Mungkin mereka sekarang
sudah lupa, seperti dua orang kakaknya tadi. Perasaan kecewa mengalir masuk ke
dalam hatinya. Akan tetapi segera diusirnya perasaan ini dengan kesadaran bahwa
yang bersalah adalah dia sendiri. Dia meninggalkan mereka selama tujuh tahun
tanpa pamit.
Seorang tukang
kebun menghampirinya, sapu lidi panjang di tangan kanan. Biarpun cuaca sudah
agak remang, Jarot masih mengenal baik tukang kebun ini. Ki Sambung, tukang
kebun yang kini berusia empat puluh tahun itu. Akan tetapi dia diam saja,
pura-pura tidak mengenalnya untuk menguji apakah tukang kebun ini juga lupa
kepadanya. Padahal dahulu, di waktu dia masih kecil, sering sekali dia mengajak
tukang kebun itu bermain-main. Ketika tukang kebun sudah tiba dekat di depan
Jarot, tiba-tiba dia terbelalak, mulutnya ternganga dan gagang sapu yang
dipegangnya terlepas dari tangannya, lalu dia mengamati wajah Jarot dan
akhirnya dia berseru dengan suara terputus-putus,
"Den mas
Jarot ... ? Tapi ... tapi ... benarkah andika denmas Jarot yang sudah hilang
demikian lamanya?"
Bukan main
senang dan lega rasa hati Jarot mendengar seruan ini. Ki Sambung tidak lupa
kepadanya, berarti bahwa tidak banyak perubahan terjadi atas dirinya! Jarot tertawa,
"Ha-ha,
paman Sambung, kiranya andika tidak lupa kepadaku? Aku memang Jarot, tulen dan
bukan setannya!"
"Denmas
Jarot ... ! Ah, sekian lamanya ini, andika pergi ke mana sajakah, denmas? Semua
orang mengharapkan kedatangan denmas!" Dan seperti seorang anak kecil,
tukang kebun itu lalu berlari ke dalam gedung sambil berteriak-teriak.
”Denmas Jarot
datang ... ! Denmas Jarot telah pulang ... !!"
Mendengar
teriakannya berulang-ulang itu, para pelayan yang berada di serambi depan sudah
berlari-lari keluar ke pekarangan dan mereka semua menyambut Jarot dengan wajah
ceria dan senyum gembira. Tak lama kemudian, Sang Adipati sendiri keluar
diikuti oleh para isteri, putera dan puterinya.
"Jarot,
anakku ... !" Ibu Jarot berlari ke depan dan menubruk puteranya. Mereka
saling rangkul dan wanita itu menangis tersedu-sedu saking gembiranya.
"Kanjeng
ibu, ampunkan anakmu yang berdosa, meninggalkan kanjeng ibu tanpa pamit ...
" Jarot menelan keharuannya.
"Jarot,
benarkah kami tidak mimpi dan engkau yang datang ini?" Sang Adipati
bertanya.
Jarot
melepaskan pelukan pada ibunya dan dia lalu berlutut menyembah depan kaki
ayahnya. "Kanjeng Rama, ampunkan saya, kanjeng Rama, saya telah pergi
tanpa pamit selama tujuh tahun."
Sang Adipati
memegang pundak pemuda itu dan berkata,
"Mari
kita semua masuk dan bicara di dalam."
Keluarga itu
lalu memasuki gedung dan berkumpul kembali di ruangan dalam. Setelah pelayan
menyuguhkan minuman dan Jarot diminta agar minum lebih dulu, Sang Adipati
Kertajaya lalu bertanya kepada Jarot,
"Jarot,
sekarang tiba saatnya bagimu untuk bercerita. Tujuh tahun yang lalu itu, engkau
pergi berburu dengan kangmasmu Lembu Alun ... ah, ya. Di mana Lembu Alun dan
Lembu Tirta? Kenapa mereka tidak berkumpul di sini?"
"Mereka
sejak sore tadi pergi dan belum kembali," jawab seorang di antara para ibu
selir.
"Anakku
Jarot, kau lanjutkan pertanyaanku. Ketika itu engkau pergi berburu kijang
dengan kangmasmu Lembu Alun, kenapa engkau lalu menghilang di dalam hutan itu
sehingga kangmasmu pulang seorang diri? Kami sudah mengerahkan pasukan untuk
mencarimu di daerah itu sampai tiga hari tiga malam, namun usaha kami sia-sia
belaka. Apakah yang terjadi denganmu dan ke mana saja engkau menghilang?"
<<< Bagian 04 Bagian 06 >>>
No comments:
Post a Comment