Sepasang Garuda Putih ; Bagian 06


Dengan terus terang tanpa menuduh siapa-siapa Jarot lalu menceritakan pengalamannya tujuh tahun yang lalu.
"Ketika itu, saya dan kakangmas Lembu Alun berpencar untuk mencari dan memburu kijang. Ketika itu saya tidak melihat seekorpun kijang dan hawanya gerah sekali maka saya lalu turun ke sungai untuk membasuh muka dan leher saya. Tiba-tiba saja saya merasa sakit sekali pada punggung saya dan selanjutnya saya tidak ingat apa-apa lagi."
Jarot berhenti sebentar dan para pendengarnya penuh perhatian dan mereka ingin sekali tahu apa selanjutnya yang terjadi dengan pemuda itu. Jarot kini berhati lega karena ternyata seluruh keluarganya mengenalnya. Dia pergi ketika berusia limabelas tahun dan pulang setelah berusia duapuluh dua tahun, namun ayahnya, ibunya dan para ibu tiri, juga saudara-saudaranya semua mengenalnya. Mengapa Lembu Alun dan Lembu Tirta tidak mengenalnya? Hal ini membuat dia teringat dan melamun.
"Selanjutnya bagaimana, angger Jarot?” tanya ibunya yang sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui pengalaman Jarot.
"Ketika saya sadar dari pingsan, ternyata saya telah berada di dalam sebuah pondok. Kiranya ada orang yang menolong saya dan orang itu kemudian menjadi guru saya. Namanya adalah Bhagawan Dewondaru, seorang maha sakti yang bertapa di lereng Semeru. Karena ternyata kami saling cocok, saya terus berguru kepada Bapa Guru sampai tujuh tahun lamanya. Kanjeng Rama, dan kanjeng ibu, ampunkan saya yang tidak pulang selama tujuh tahun. Selama itu saya pergi menuntut ilmu dan baru sekarang saya dapat pulang."
"Tidak mengapa, engkau kini pulang sudah membahagiakan hati kami semua. Hanya lain kali, kalau hendak meninggalkan kadipaten lama-lama, harus memberitahu lebih dulu, Jarot. Engkau membuat hati kami gelisah dan putus harapan selama bertahun-tahun."
Keluarga itu lalu makan malam, dan semalam itu mereka bercakap-cakap melepas rindu sampai larut malam, barulah mereka mengaso dan tidur. Jarot mendapatkan kamarnya yang dahulu, yang masih dirawat dengan baik-baik oleh ibunya yang tidak pernah putus asa dan selalu percaya bahwa sekali waktu puteranya akan pulang.

Malam itu, kembali Lembu Alun dan Lembu Tirta menghadap guru mereka, Wasi Surengpati, di dalam guha di tebing Laut Kidul itu.
"Anak mas berdua, mengapa kelihatan gugup dan lesu malam ini. Apakah yang mengganggu perasaan kalian berdua?" Tanya Wasi Surengpati setelah kedua orang muridnya itu menghadap di depannya. Sinar dua batang obor yang apinya bergerak-gerak tertiup angin itu menimbulkan pemandangan yang menyeramkan di guha itu.
"Ah, celaka, Bapa Guru. Secara tiba-tiba Jarot telah muncul kembali. Benar seperti petunjuk Bapa Guru, Jarot masih hidup dan ternyata dia memiliki kepandaian tinggi sehingga kami berdua tidak mampu menandinginya." Lembu Alun dan adiknya menceritakan pertemuan mereka dengan Jarot di luar pintu gerbang utara sore tadi. Wasi Surengpati mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hemmm, kalau sudah begini, lalu apa yang andika berdua hendak lakukan? Bantuan apa yang dapat kuberikan kepada kalian?"
"Dengan munculnya Jarot, maka usaha melenyapkan kanjeng Rama tidak ada gunanya lagi. Sebelum meninggal, kanjeng Rama tentu akan mengangkat jahanam itu menjadi penggantinya. Sekarang sasaran harus ditujukan kepada Jarot, Bapa Guru. Kalau dia mati, berarti penghalangnya tidak ada lagi. Kami mohon agar Bapa Guru membunuh Jarot."
"Hemm ... " Wasi Surengpati mengelus jenggotnya yang tebal.
"Kalau pemuda itu memiliki kadigdayaan, mampu mengalahkan kalian berdua, maka tidak akan demikian mudah membunuh dengan guna-guna. Akan tetapi aku dapat memancingnya untuk datang ke tempat ini dan di sini kita bertiga dapat mengeroyok dan membunuhnya. Tempat ini sunyi dan baik, tidak akan ada orang yang melihat dan mengetahuinya ... juga kalau mayatnya kita buang ke bawah, dia akan ditelan ombak dan lenyap."
Dua orang kakak beradik ini menjadi girang bukan main.
"Apakah untuk itu ada juga syaratnya, Bapa Guru?"
"Tentu saja, akan tetapi untuk mengguna-gunai agar dia datang ke sini syaratnya hanya mudah. Sepotong baju yang telah dipakai dan belum dicuci akan cukup untuk memaksa dia datang ke sini."
"Baik, Bapa Guru. Kalau hanya itu saja akan kami usahakan dan bawa ke sini secepatnya. Akan tetapi sekarang kami harus menghadapi hal yang amat tidak enak. Kalau Jarot sudah pulang ke Kadipaten, terpaksa kami berdua akan bertemu dengannya. Sungguh amat tidak enak bagi kami berdua."
"Akan tetapi, kakangmas Lembu Alun. Kenapa bingung? Kita pura-pura baru tahu bahwa dia benar-benar adik kita Jarot dan kita minta maaf kepadanya bahwa sore tadi kita tidak mengenalnya dan menyangkanya orang lain yang menyamar sebagai Jarot. Dengan demikian kita dapat menutup rasa malu kita dan menghilangkan kecurigaannya terhadap kita," kata Lembu Tirta kepada kakaknya.

Demikianlah, pada keesokan harinya, ketika Jarot baru saja bangun dari tidurnya dan mandi, dua orang kakaknya itu menemuinya di kamarnya.
"Adimas Jarot, kiranya benar-benar engkaukah yang datang?" kata Lembu Alun dengan wajah berseri dan dia melangkah maju memegang tangan Jarot.
"Sungguh mati, hal ini sukar dipercaya."
"Aku juga tadinya tidak percaya sama sekali bahwa engkau benar-benar masih hidup dan pulang, adimas Jarot. Sungguh kami menyesal sekali bahwa kemarin kami tidak percaya dan menyangka engkau orang lain yang hendak mengacau," kata pula Lembu Tirta dengan wajah sungguh-sungguh.
"Benar, adimas Jarot. Aku merasa menyesal dan malu sekali kepadamu bahwa kemarin aku tidak mengenalmu, bahkan menyerangmu sebagai seorang jahat. Aku khawatir kanjeng Rama akan marah sekali kepada kami berdua."
Jarot tersenyum.
"Tidak mengapalah, kakangmas. Aku tidak menyalahkan kalian, kalau kalian kemarin tidak mengenalku dan tidak percaya bahwa aku masih hidup dan pulang. Dan tentang kanjeng Rama, harap kalian jangan khawatir karena mengenai peristiwa kita kemarin, aku tidak menceritakan kepada siapapun juga. Kanjeng Rama tidak tahu akan peristiwa itu."
Tentu saja kedua orang pemuda itu merasa girang dan lega mendengar ucapan Jarot ini. Mereka berdua kini bersikap ramah dan baik sekali kepada Jarot, bahkan seolah memperlihatkan rasa sukur dan kangennya.
"Dahulu itu aku kebingungan sekali karena engkau tidak muncul kembali dan aku telah berteriak-teriak memanggilmu, mencari-cari sampai hari menjadi sore. Terpaksa aku pulang sendiri sambil menangis karena khawatir sekali. Apakah yang telah terjadi denganmu, adimas Jarot? Ke mana engkau pergi?"
"Ada orang memanah punggungku, kakangmas Lembu Alun. Orang memanahku dari belakang dan anak panahnya mengenai punggungku sehingga aku roboh dan hanyut di Kali Rejali," kata Jarot sambil menatap tajam wajah Lembu Alun. Akan tetapi wajah kakaknya itu tidak menunjukkan sesuatu, hanya tampak heran mendengar jawabannya itu.
"Ada orang memanahmu dari belakang? Akan tetapi, siapakah orangnya yang bertindak sedemikian kepadamu, adikku?"
"Aku tidak tahu, kakangmas. Begitu terkena anak panah, aku lalu jatuh dan tidak ingat apa-apa lagi."
"Ah, aku tahu! Pemanahnya tentulah anggouta perampok yang suka bersembunyi di dalam hutan. Karena khawatir ketahuan oleh adimas Jarot, maka dia memanahnya agar tempat persembunyiannya tidak diketahui orang," kata Lembu Tirta.
"Hemm, boleh jadi benar kata-katamu itu, dimas Lembu Tirta. Lalu bagaimana, adimas Jarot? Engkau pingsan dan hanyut di Kali Rejali, bagaimana engkau dapat tertolong dan siapa yang menyelamatkanmu?"
"Tentu ada orang yang menolongmu, bukan? Kalau tidak tentu adimas Jarot akan tewas di kali itu."
"Ehh, nanti dulu. Apakah engkau menyimpan anak panah itu, adimas Jarot? Barangkali dari anak panahnya kita dapat mengenal dan menemukan pemanahnya."
Jarot menggeleng kepalanya.
"Anak panah itu biasa saja, berbulu hitam. Banyak orang memakai anak panah seperti itu, kakangmas, bagaimana kita dapat mengenal orangnya?"
"Ah, sayang. Lalu, siapa yang menolongmu, dimas?"
"Ketika aku sadar dari pingsan, aku telah berada dalam sebuah pondok dan ternyata ada orang yang menolongku dari Kali Rejali dan membawaku ke pondok itu. Dia yang mengobati dan merawatku sampai aku sembuh kembali."
"Siapa dia, adimas?"
"Dia adalah Bhagawan Dewondaru yang kemudian menjadi guruku selama tujuh tahun ini. Dari dialah aku mempelajari sedikit ilmu kanuragan."
Wajah Lembu Alun berubah merah karena dia teringat akan peristiwa kemarin sore di mana dia dan Lembu Tirta mengeroyok Jarot dengan keris namun mereka berdua tidak mampu menandinginya.
“Ahh, engkau sekarang telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dimas Jarot. Aku ikut merasa gembira."
Dua orang itu bersikap ramah dan akrab sekali sehingga Jarot sudah melupakan apa yang pernah terjadi di antara mereka di luar pintu gerbang itu. Dan karena dia tidak menaruh curiga sama sekali, mudah saja bagi Lembu Alun untuk mengambil sepotong bajunya yang kotor dan yang sudah diserahkan pembantu untuk dicuci. Baju itu segera dibawanya ke Guha Iblis di tebing Laut Kidul itu.

Dua hari kemudian, pada suatu pagi Jarot mendadak merasa hatinya gelisah sekali. Dia tidak betah tinggal di rumah dan untuk melenyapkan hati yang gelisah itu dia lalu keluar untuk berjalan-jalan. Kadipaten Pasisiran masih sama dengan tujuh tahun yang lalu, hanya sedikit saja perubahannya. Dia masih mengenal rumah-rumah di kadipaten itu, dan diapun bertemu dengan banyak orang yang pernah dikenalnya ketika dia masih remaja dahulu.
Akan tetapi, setelah berjalan-jalan sampai keliling kota kadipaten, perasaan gelisah dalam hatinya tidak lenyap, bahkan bertambah dengan perasaan yang aneh. Dia merasa seperti dipanggil orang untuk keluar dari kota Kadipaten Pasisiran melalui pintu gerbang sebelah selatan. Diapun menurutkan dorongan hati ini dan pergilah dia keluar kota. Setelah tiba di luar pintu gerbang, masih saja ada sesuatu yang menariknya dengan kuat sekali sehingga dia menjadi semakin heran. Daya tarik itu mendorongnya untuk berjalan terus ke selatan! Dia mulai merasa bahwa dorongan hati ini tidaklah wajar, akan tetapi hal itu bahkan membuat dia tertarik sekali. Apa yang mendorongnya demikian kuatnya menuju ke pantai Laut Selatan? Dia menjadi ingin tahu dan tidak melawan daya tarik itu, bahkan dia lalu mempergunakan kepandaiannya untuk berlari cepat.
Setelah tiba di daerah pantai, dia melihat seorang wanita cantik sedang berjalan seorang diri. Sekilas pandang saja Jarot maklum bahwa wanita itu bukan penduduk biasa. Usianya sudah kurang lebih lima puluh tahun akan tetapi wanita itu masih cantik jelita dan memiliki bentuk tubuh seperti seoang dara saja. Wanita itupun memandang kepadanya, akan tetapi Jarot tidak memperhatikan atau memperdulikannya. Daya tarik itu semakin kuat dan dia berlari cepat mendaki bukit di tepi laut karena dari sanalah daya tarik itu datangnya. Dari atas bukit di tepi laut!
Sementara itu, wanita yang sedang berjalan itu juga memandang penuh perhatian. Tadinya wanita itu hendak mengeluarkan kata-kata, akan tetapi ditahannya kembali. Ketika melihat Jarot menggunakan ilmu berlari cepat ia semakin tertarik dan tak lama kemudian wanita itupun menggunakan gerakan yang cepat sekali membayangi Jarot.

Siapakah gerangan wanita setengah tua yang cantik itu? Wanita itu bukan lain adalah Endang Patibroto! Sebagaimana kita ketahui, Endang Patibroto melakukan perjalanan menyusuri pantai Laut Kidul menuju ke timur dalam usahanya mencari jejak puterinya. Ketika tiba di situ bertemu seorang pemuda tampan yang jelas bukan pemuda dusun, tadinya ia ingin menyapa dan bertanya kalau-kalau pemuda itu pernah melihat puterinya atau melihat Bagus Seto. Akan tetapi ketika pemuda itu berlari kencang sekali, jelas bukan lari biasa melainkan lari yang menggunakan aji kesaktian, Endang Patibroto terkejut dan tertarik, maka iapun cepat menggunakan Aji Bayu Tantra untuk berlari secepat angina membayangi pemuda tampan itu.

Karena seluruh perhatian Jarot ditujukan ke depan, ke arah tenaga mujijat yang menariknya semakin kuat untuk berjalan terus, dia sama sekali tidak tahu bahwa ada orang membayanginya dari belakang. Dia mendaki bukit yang cukup tinggi itu, bukit berbatu-batu karang yang tajam dan runcing, harus berhati-hati kalau berlari di atas batu-batu karang itu. Akhirnya dia tiba di ujung jalan yang menuju ke tebing yang amat curam. Dia menjenguk ke bawah dan bergidik ngeri. Tebing itu amat curam. Air laut dan batu-batu karang tampak di bawah, sejauh tiga ratus meter lebih. Kalau orang terjatuh dari atas tebing, tentu tubuhnya akan hancur lebur disambut karang tajam dan runcing, dan disambut ombak laut yang ganas. Akan tetapi anehnya, kekuatan yang menariknya itu makin terasa dan kini menarik dari bawah! Dia menjadi makin terheran-heran, akan tetapi dia melihat sejalur jalan setapak menuruni tebing itu. Ada bekas kaki orang di jalan setapak, tanda bahwa ada orang menuruni jalan itu. Kalau orang lain berani menuruni jalan itu, mengapa dia tidak? Dan lagi, daya tarik itu terus terasa semakin kuat, datangnya dari bawah!

<<< Bagian 05                                                                                         Bagian 07 >>>

No comments:

Post a Comment