Dengan terus terang tanpa menuduh siapa-siapa Jarot lalu menceritakan pengalamannya tujuh tahun yang lalu.
"Ketika
itu, saya dan kakangmas Lembu Alun berpencar untuk mencari dan memburu kijang.
Ketika itu saya tidak melihat seekorpun kijang dan hawanya gerah sekali maka
saya lalu turun ke sungai untuk membasuh muka dan leher saya. Tiba-tiba saja
saya merasa sakit sekali pada punggung saya dan selanjutnya saya tidak ingat
apa-apa lagi."
Jarot berhenti
sebentar dan para pendengarnya penuh perhatian dan mereka ingin sekali tahu apa
selanjutnya yang terjadi dengan pemuda itu. Jarot kini berhati lega karena
ternyata seluruh keluarganya mengenalnya. Dia pergi ketika berusia limabelas
tahun dan pulang setelah berusia duapuluh dua tahun, namun ayahnya, ibunya dan
para ibu tiri, juga saudara-saudaranya semua mengenalnya. Mengapa Lembu Alun
dan Lembu Tirta tidak mengenalnya? Hal ini membuat dia teringat dan melamun.
"Selanjutnya
bagaimana, angger Jarot?” tanya ibunya yang sudah tidak sabar lagi ingin
mengetahui pengalaman Jarot.
"Ketika
saya sadar dari pingsan, ternyata saya telah berada di dalam sebuah pondok.
Kiranya ada orang yang menolong saya dan orang itu kemudian menjadi guru saya.
Namanya adalah Bhagawan Dewondaru, seorang maha sakti yang bertapa di lereng
Semeru. Karena ternyata kami saling cocok, saya terus berguru kepada Bapa Guru
sampai tujuh tahun lamanya. Kanjeng Rama, dan kanjeng ibu, ampunkan saya yang
tidak pulang selama tujuh tahun. Selama itu saya pergi menuntut ilmu dan baru
sekarang saya dapat pulang."
"Tidak
mengapa, engkau kini pulang sudah membahagiakan hati kami semua. Hanya lain
kali, kalau hendak meninggalkan kadipaten lama-lama, harus memberitahu lebih
dulu, Jarot. Engkau membuat hati kami gelisah dan putus harapan selama
bertahun-tahun."
Keluarga itu
lalu makan malam, dan semalam itu mereka bercakap-cakap melepas rindu sampai
larut malam, barulah mereka mengaso dan tidur. Jarot mendapatkan kamarnya yang
dahulu, yang masih dirawat dengan baik-baik oleh ibunya yang tidak pernah putus
asa dan selalu percaya bahwa sekali waktu puteranya akan pulang.
Malam itu,
kembali Lembu Alun dan Lembu Tirta menghadap guru mereka, Wasi Surengpati, di
dalam guha di tebing Laut Kidul itu.
"Anak mas
berdua, mengapa kelihatan gugup dan lesu malam ini. Apakah yang mengganggu
perasaan kalian berdua?" Tanya Wasi Surengpati setelah kedua orang
muridnya itu menghadap di depannya. Sinar dua batang obor yang apinya bergerak-gerak
tertiup angin itu menimbulkan pemandangan yang menyeramkan di guha itu.
"Ah,
celaka, Bapa Guru. Secara tiba-tiba Jarot telah muncul kembali. Benar seperti
petunjuk Bapa Guru, Jarot masih hidup dan ternyata dia memiliki kepandaian
tinggi sehingga kami berdua tidak mampu menandinginya." Lembu Alun dan
adiknya menceritakan pertemuan mereka dengan Jarot di luar pintu gerbang utara
sore tadi. Wasi Surengpati mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hemmm,
kalau sudah begini, lalu apa yang andika berdua hendak lakukan? Bantuan apa
yang dapat kuberikan kepada kalian?"
"Dengan
munculnya Jarot, maka usaha melenyapkan kanjeng Rama tidak ada gunanya lagi.
Sebelum meninggal, kanjeng Rama tentu akan mengangkat jahanam itu menjadi
penggantinya. Sekarang sasaran harus ditujukan kepada Jarot, Bapa Guru. Kalau
dia mati, berarti penghalangnya tidak ada lagi. Kami mohon agar Bapa Guru
membunuh Jarot."
"Hemm ...
" Wasi Surengpati mengelus jenggotnya yang tebal.
"Kalau
pemuda itu memiliki kadigdayaan, mampu mengalahkan kalian berdua, maka tidak
akan demikian mudah membunuh dengan guna-guna. Akan tetapi aku dapat
memancingnya untuk datang ke tempat ini dan di sini kita bertiga dapat
mengeroyok dan membunuhnya. Tempat ini sunyi dan baik, tidak akan ada orang yang
melihat dan mengetahuinya ... juga kalau mayatnya kita buang ke bawah, dia akan
ditelan ombak dan lenyap."
Dua orang
kakak beradik ini menjadi girang bukan main.
"Apakah
untuk itu ada juga syaratnya, Bapa Guru?"
"Tentu
saja, akan tetapi untuk mengguna-gunai agar dia datang ke sini syaratnya hanya
mudah. Sepotong baju yang telah dipakai dan belum dicuci akan cukup untuk
memaksa dia datang ke sini."
"Baik,
Bapa Guru. Kalau hanya itu saja akan kami usahakan dan bawa ke sini secepatnya.
Akan tetapi sekarang kami harus menghadapi hal yang amat tidak enak. Kalau
Jarot sudah pulang ke Kadipaten, terpaksa kami berdua akan bertemu dengannya.
Sungguh amat tidak enak bagi kami berdua."
"Akan
tetapi, kakangmas Lembu Alun. Kenapa bingung? Kita pura-pura baru tahu bahwa
dia benar-benar adik kita Jarot dan kita minta maaf kepadanya bahwa sore tadi
kita tidak mengenalnya dan menyangkanya orang lain yang menyamar sebagai Jarot.
Dengan demikian kita dapat menutup rasa malu kita dan menghilangkan
kecurigaannya terhadap kita," kata Lembu Tirta kepada kakaknya.
Demikianlah,
pada keesokan harinya, ketika Jarot baru saja bangun dari tidurnya dan mandi,
dua orang kakaknya itu menemuinya di kamarnya.
"Adimas
Jarot, kiranya benar-benar engkaukah yang datang?" kata Lembu Alun dengan
wajah berseri dan dia melangkah maju memegang tangan Jarot.
"Sungguh
mati, hal ini sukar dipercaya."
"Aku juga
tadinya tidak percaya sama sekali bahwa engkau benar-benar masih hidup dan
pulang, adimas Jarot. Sungguh kami menyesal sekali bahwa kemarin kami tidak
percaya dan menyangka engkau orang lain yang hendak mengacau," kata pula
Lembu Tirta dengan wajah sungguh-sungguh.
"Benar,
adimas Jarot. Aku merasa menyesal dan malu sekali kepadamu bahwa kemarin aku
tidak mengenalmu, bahkan menyerangmu sebagai seorang jahat. Aku khawatir
kanjeng Rama akan marah sekali kepada kami berdua."
Jarot
tersenyum.
"Tidak
mengapalah, kakangmas. Aku tidak menyalahkan kalian, kalau kalian kemarin tidak
mengenalku dan tidak percaya bahwa aku masih hidup dan pulang. Dan tentang
kanjeng Rama, harap kalian jangan khawatir karena mengenai peristiwa kita
kemarin, aku tidak menceritakan kepada siapapun juga. Kanjeng Rama tidak tahu
akan peristiwa itu."
Tentu saja
kedua orang pemuda itu merasa girang dan lega mendengar ucapan Jarot ini.
Mereka berdua kini bersikap ramah dan baik sekali kepada Jarot, bahkan seolah
memperlihatkan rasa sukur dan kangennya.
"Dahulu
itu aku kebingungan sekali karena engkau tidak muncul kembali dan aku telah
berteriak-teriak memanggilmu, mencari-cari sampai hari menjadi sore. Terpaksa
aku pulang sendiri sambil menangis karena khawatir sekali. Apakah yang telah
terjadi denganmu, adimas Jarot? Ke mana engkau pergi?"
"Ada
orang memanah punggungku, kakangmas Lembu Alun. Orang memanahku dari belakang
dan anak panahnya mengenai punggungku sehingga aku roboh dan hanyut di Kali
Rejali," kata Jarot sambil menatap tajam wajah Lembu Alun. Akan tetapi
wajah kakaknya itu tidak menunjukkan sesuatu, hanya tampak heran mendengar
jawabannya itu.
"Ada
orang memanahmu dari belakang? Akan tetapi, siapakah orangnya yang bertindak
sedemikian kepadamu, adikku?"
"Aku
tidak tahu, kakangmas. Begitu terkena anak panah, aku lalu jatuh dan tidak
ingat apa-apa lagi."
"Ah, aku
tahu! Pemanahnya tentulah anggouta perampok yang suka bersembunyi di dalam
hutan. Karena khawatir ketahuan oleh adimas Jarot, maka dia memanahnya agar
tempat persembunyiannya tidak diketahui orang," kata Lembu Tirta.
"Hemm,
boleh jadi benar kata-katamu itu, dimas Lembu Tirta. Lalu bagaimana, adimas
Jarot? Engkau pingsan dan hanyut di Kali Rejali, bagaimana engkau dapat
tertolong dan siapa yang menyelamatkanmu?"
"Tentu
ada orang yang menolongmu, bukan? Kalau tidak tentu adimas Jarot akan tewas di
kali itu."
"Ehh,
nanti dulu. Apakah engkau menyimpan anak panah itu, adimas Jarot? Barangkali
dari anak panahnya kita dapat mengenal dan menemukan pemanahnya."
Jarot
menggeleng kepalanya.
"Anak
panah itu biasa saja, berbulu hitam. Banyak orang memakai anak panah seperti
itu, kakangmas, bagaimana kita dapat mengenal orangnya?"
"Ah,
sayang. Lalu, siapa yang menolongmu, dimas?"
"Ketika
aku sadar dari pingsan, aku telah berada dalam sebuah pondok dan ternyata ada
orang yang menolongku dari Kali Rejali dan membawaku ke pondok itu. Dia yang
mengobati dan merawatku sampai aku sembuh kembali."
"Siapa
dia, adimas?"
"Dia
adalah Bhagawan Dewondaru yang kemudian menjadi guruku selama tujuh tahun ini.
Dari dialah aku mempelajari sedikit ilmu kanuragan."
Wajah Lembu
Alun berubah merah karena dia teringat akan peristiwa kemarin sore di mana dia
dan Lembu Tirta mengeroyok Jarot dengan keris namun mereka berdua tidak mampu
menandinginya.
“Ahh, engkau
sekarang telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dimas Jarot. Aku ikut
merasa gembira."
Dua orang itu
bersikap ramah dan akrab sekali sehingga Jarot sudah melupakan apa yang pernah
terjadi di antara mereka di luar pintu gerbang itu. Dan karena dia tidak
menaruh curiga sama sekali, mudah saja bagi Lembu Alun untuk mengambil sepotong
bajunya yang kotor dan yang sudah diserahkan pembantu untuk dicuci. Baju itu
segera dibawanya ke Guha Iblis di tebing Laut Kidul itu.
Dua hari
kemudian, pada suatu pagi Jarot mendadak merasa hatinya gelisah sekali. Dia
tidak betah tinggal di rumah dan untuk melenyapkan hati yang gelisah itu dia
lalu keluar untuk berjalan-jalan. Kadipaten Pasisiran masih sama dengan tujuh
tahun yang lalu, hanya sedikit saja perubahannya. Dia masih mengenal
rumah-rumah di kadipaten itu, dan diapun bertemu dengan banyak orang yang
pernah dikenalnya ketika dia masih remaja dahulu.
Akan tetapi,
setelah berjalan-jalan sampai keliling kota kadipaten, perasaan gelisah dalam
hatinya tidak lenyap, bahkan bertambah dengan perasaan yang aneh. Dia merasa
seperti dipanggil orang untuk keluar dari kota Kadipaten Pasisiran melalui
pintu gerbang sebelah selatan. Diapun menurutkan dorongan hati ini dan pergilah
dia keluar kota. Setelah tiba di luar pintu gerbang, masih saja ada sesuatu
yang menariknya dengan kuat sekali sehingga dia menjadi semakin heran. Daya
tarik itu mendorongnya untuk berjalan terus ke selatan! Dia mulai merasa bahwa
dorongan hati ini tidaklah wajar, akan tetapi hal itu bahkan membuat dia
tertarik sekali. Apa yang mendorongnya demikian kuatnya menuju ke pantai Laut
Selatan? Dia menjadi ingin tahu dan tidak melawan daya tarik itu, bahkan dia
lalu mempergunakan kepandaiannya untuk berlari cepat.
Setelah tiba
di daerah pantai, dia melihat seorang wanita cantik sedang berjalan seorang
diri. Sekilas pandang saja Jarot maklum bahwa wanita itu bukan penduduk biasa.
Usianya sudah kurang lebih lima puluh tahun akan tetapi wanita itu masih cantik
jelita dan memiliki bentuk tubuh seperti seoang dara saja. Wanita itupun
memandang kepadanya, akan tetapi Jarot tidak memperhatikan atau
memperdulikannya. Daya tarik itu semakin kuat dan dia berlari cepat mendaki
bukit di tepi laut karena dari sanalah daya tarik itu datangnya. Dari atas
bukit di tepi laut!
Sementara itu,
wanita yang sedang berjalan itu juga memandang penuh perhatian. Tadinya wanita
itu hendak mengeluarkan kata-kata, akan tetapi ditahannya kembali. Ketika
melihat Jarot menggunakan ilmu berlari cepat ia semakin tertarik dan tak lama
kemudian wanita itupun menggunakan gerakan yang cepat sekali membayangi Jarot.
Siapakah
gerangan wanita setengah tua yang cantik itu? Wanita itu bukan lain adalah
Endang Patibroto! Sebagaimana kita ketahui, Endang Patibroto melakukan
perjalanan menyusuri pantai Laut Kidul menuju ke timur dalam usahanya mencari
jejak puterinya. Ketika tiba di situ bertemu seorang pemuda tampan yang jelas
bukan pemuda dusun, tadinya ia ingin menyapa dan bertanya kalau-kalau pemuda
itu pernah melihat puterinya atau melihat Bagus Seto. Akan tetapi ketika pemuda
itu berlari kencang sekali, jelas bukan lari biasa melainkan lari yang
menggunakan aji kesaktian, Endang Patibroto terkejut dan tertarik, maka iapun
cepat menggunakan Aji Bayu Tantra untuk berlari secepat angina membayangi
pemuda tampan itu.
Karena seluruh
perhatian Jarot ditujukan ke depan, ke arah tenaga mujijat yang menariknya
semakin kuat untuk berjalan terus, dia sama sekali tidak tahu bahwa ada orang
membayanginya dari belakang. Dia mendaki bukit yang cukup tinggi itu, bukit
berbatu-batu karang yang tajam dan runcing, harus berhati-hati kalau berlari di
atas batu-batu karang itu. Akhirnya dia tiba di ujung jalan yang menuju ke
tebing yang amat curam. Dia menjenguk ke bawah dan bergidik ngeri. Tebing itu
amat curam. Air laut dan batu-batu karang tampak di bawah, sejauh tiga ratus
meter lebih. Kalau orang terjatuh dari atas tebing, tentu tubuhnya akan hancur
lebur disambut karang tajam dan runcing, dan disambut ombak laut yang ganas.
Akan tetapi anehnya, kekuatan yang menariknya itu makin terasa dan kini menarik
dari bawah! Dia menjadi makin terheran-heran, akan tetapi dia melihat sejalur
jalan setapak menuruni tebing itu. Ada bekas kaki orang di jalan setapak, tanda
bahwa ada orang menuruni jalan itu. Kalau orang lain berani menuruni jalan itu,
mengapa dia tidak? Dan lagi, daya tarik itu terus terasa semakin kuat,
datangnya dari bawah!
<<< Bagian 05 Bagian 07 >>>
No comments:
Post a Comment