Sepasang Garuda Putih ; Bagian 07


Tanpa ragu lagi Jarot lalu menuruni jalan setapak yang terjal itu. Berpegang kepada akar-akar kayu-kayuan atau kepada batu-batu karang yang menonjol, dia terus menuruni jalan setapak itu dengan cekatan dan cepat. Akhirnya tibalah dia di tempat datar dan dari situ dia melihat beberapa buah guha yang besar. Tenaga yang menariknya itu datang dari sebuah di antara guha-guha itu, yang berada di tengah. Di depan guha itu terdapat tanah datar yang cukup luas. Dengan berani Jarot menurutkan daya tarik itu dan melangkah ke depan. Setelah tiba didepan guha itu, dia mendengar suara orang tertawa. Tiga orang muncul dari dalam guha itu dan dia terbelalak. Dua di antara mereka dikenalnya dengan baik karena mereka itu bukan lain adalah Lembu Alun dan Lembu Tirta! Kedua orang ini mengiringkan seorang kakek yang tertawa-tawa. Jarot memandang penuh perhatian. Kakek itu amat menyeramkan. Rambutnya panjang dan gimbal, matanya bundar dan besar, hidungnya pesek dan mulutnya yang lebar itu menyeringai ganas, namun mata yang besar itu mencorong seperti mata harimau. Pakaiannya seperti baju pendeta yang longgar dan panjang, berwarna kuning dekil. Tangan kanan kakek itu memegang sebatang tongkat berbentuk ular, seperti seekor ular yang dikeringkan.
"Hoa-ha-ha-ha, andika telah datang, Jarot?"
Jarot tidak memperdulikan kedua orang kakaknya, melainkan menatap tajam wajah kakek itu. Dia tidak mengenalnya, akan tetapi dia dapat menduga bahwa kakek ini yang memiliki ilmu yang menariknya tadi.
"Jadi andika yang menggunakan ilmu hitam menarikku datang ke sini?"
"Hoa-ha-ha-ha, siapapun akan datang kalau kupanggil. Tak seorangpun dapat melawan ilmu sihirku!" Wasi Surengpati membanggakan diri.
"Orang tua, apa kehendakmu memanggil aku datang ke sini?" tanya Jarot, suaranya tetap tenang dan tabah.
"Hoa-ha-ha! Kalau engkau ingin tahu, tanyakan saja kepada dua orang saudaramu ini!"
Mendengar ini, Jarot memandang kepada kedua orang kakaknya dengan alis berkerut.
"Kakangmas Lembu Alun dan Lembu Tirta, apa artinya semua ini?"
"Artinya, engkau akan mati hari ini, Jarot!" kata Lembu Alun.
"Akan kami sempurnakan usahaku tujuh tahun yang lalu!"
Jarot membelalakkan kedua matanya.
"Jadi ... jadi engkau yang dulu melepaskan anak panah menyerangku, kakangmas?"
Lembu Alun tidak menjawab, melainkan mencabut kerisnya dan berkata kepada Wasi Surengpati.
"Bapa, cepat habisi dia!"

Sambil tertawa kakek itu lalu menerjang dengan tongkat ularnya. Terdengar angin berdesir ketika tongkat itu menyambar dan cepat Jarot mengelak karena dari angin sambarannya saja maklumlah dia bahwa kakek itu memiliki tenaga yang amat kuat. Akan tetapi tongkat ular itu menyambar lagi dan kini Lembu Alun dan Lembu Tirta juga sudah menerjang maju dengan keris mereka. Jarot dikeroyok tiga! Tiga orang lawannya semua bersenjata sedangkan dia sendiri hanya bertangan kosong, maka sebentar saja dia terdesak hebat.
Tongkat ular menyambar lagi.
"Wuuutt... !" Jarot terpaksa menangkis dengan lengan kirinya sambil mengerahkan tenaga.
"Plakkk ... !" pertemuan lengannya dengan tongkat itu membuat tubuh Jarot tergetar hebat dan dia terhuyung.
Lembu Alun mengejar dan menusukkan kerisnya, akan tetapi dapat dielakkan oleh Jarot. Ketika Lembu Tirta menyusul dengan tusukan kerisnya, dia menangkis dengan tangan kirinya.
"Plakk!" Lembu Tirta terhuyung ke samping. Akan tetapi kini Wasi Surengpati sudah menerjang lagi sambil mengeluarkan teriakan nyaring, teriakan nyaring itu mengandung tenaga yang amat kuat dan Jarot merasa jantungnya tergetar dan diapun terhuyung-huyung ke belakang. Ternyata kakek itu dapat menyerang dengan suaranya yang mengandung tenaga mengguncang jantung lawan seperti auman seekor singa!
Selagi terhuyung, kembali dua orang kakak beradik itu sudah menyerang dengan keris mereka. Namun, Jarot dapat menggulingkan tubuhnya dan terluput dari tusukan kedua keris kakaknya. Ketika dia melompat berdiri dan berniat melarikan diri dari keadaan gawat itu, Wasi Surengpati telah menghadang di depannya. Kembali kakek ini mengeluarkan gerengannya yang dahsyat dan kembali Jarot terhuyung dan pada saat itu tongkat ular telah menyambar dengan cepat dan kuat sekali ke arah kepalanya.
"Wuuuuuuttt ... tukk!" Tongkat yang sudah menyambar dekat kepala Jarot itu terpental karena ada sepotong batu menangkisnya.

Kakek ini terkejut dan memandang ke kiri darimana sepotong batu tadi melayang dan menangkis tongkatnya. Dia melihat seorang wanita yang cantik jelita berdiri di sana sambil memandang tajam kepadanya. Wanita itu adalah Endang Patibroto yang sekali melompat sudah berada didepan Wasi Surengpati. Endang Patibroto tersenyum mengejek. Sikapnya tenang dan pandang matanya demikian tajam bersinar sehingga Wasi Surengpati diam-diam terkejut sekali dan menduga-duga siapa adanya wanita yang telah menangkis tongkatnya dengan sambitan batu tadi.
"Hemm, orang tua jelek! Sungguh tidak malu mengeroyok seorang pemuda yang tampaknya tidak bersalah apa-apa! Kalau andika mencari lawan, akulah lawanmu, kakek tua bangka buruk!" Endang Patibroto berseru.
Wasi Surengpati menjadi marah sekali. Biarpun dia dapat menilai bahwa wanita itu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dia tidak takut.
"Babo-babo, wanita lancang tangan. Siapakah kamu berani menentang Wasi Surengpati dari Guha Iblis? Apakah nyawamu rangkap maka berani engkau mencampuri urusan kami?"
"Biar ditambah lima orang macam kamu, aku tidak takut. Wasi Surengpati, kamu adalah manusia jahat yang pantas dijadikan hamba iblis. Biarpun aku belum tahu duduk perkaranya, melihat penampilanmu saja aku sudah tahu bahwa pemuda yang kau keroyok itu tentulah berada di pihak yang tidak bersalah!"
"Keparat, lancang mulutmu! Heiiiiii ... " Kembali dia berteriak melengking, suaranya menggetarkan seluruh tempat itu.
Akan tetapi Endang Patibroto tidak menjadi gentar, bahkan wanita inipun lalu mengeluarkan ajinya, menjerit dengan lengkingan panjang. Itulah Pekik Sardulo Bairowo dan lengkingan ini seolah menelan jeritan Wasi Surengpati tadi! Wasi Surengpati menjadi semakin marah dan diapun sudah menerjang maju dengan tongkat ularnya. Endang Patibroto menangkis dengan lengan kirinya.
"Dukkk!" Endang Patibroto merasa betapa lengannya tergetar, akan tetapi sebaliknya tongkat Wasi Surengpati terpental ke atas!

Dari pertemuan dua tenaga ini saja sudah dapat dinilai bahwa tenaga Wasi Surengpati masih kalah setingkat dibandingkan tenaga wanita sakti itu. Akan tetapi Wasi Surengpati masih penasaran dan mulailah dia mengamuk dengan tongkat ularnya yang menyambar-nyambar bagaikan ular hidup yang pandai terbang. Namun, Endang Patibroto selalu dapat mengelakkannya dan ketika ia mendapat kesempatan, ia membalas serangan lawan dengan pukulan Pethit Nogo!
"Plakk!" Ujung jari tangan Endang Pati broto mengibas ke arah kepala Wasi Surengpati, akan tetapi kakek itu dapat menangkis dengan ujung tongkatnya. Mereka kini bertanding dengan hebat, saling serang dan kakek itu mendapat kenyataan betapa hebatnya kepandaian lawannya.
Sementara itu, dua orang kakak beradik itu masih tetap mengeroyok Jarot. Namun mereka bukan tandingan Jarot. Tusukan-tusukan keris mereka dengan mudah dihindarkan Jarot dengan elakan atau tangkisan dan ketika dia balas menyerang dengan tamparan-tamparan tangannya, dua orang kakak beradik itu menjadi repot berloncatan ke sana sini untuk mengelak.
"Haiiiiitt ... ! Pergilah!" Bentak Endang Patibroto kepada lawannya dan kini ia menyerang dengan pukulan jarak jauh Gelap Musti.
Kakek itu mencoba untuk menahan serangan ini dengan pengerahan tenaga saktinya, namun dia tidak kuat dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sampai lima meter. Agaknya kakek itu maklum bahwa ia tidak akan menang melawan wanita sakti itu, maka diapun melompat dan melarikan diri melalui tebing yang curam itu, merayap naik seperti seekor monyet. Endang Patibroto tidak mengejar melainkan menonton pertandingan antara Jarot yang dikeroyok dua oleh Lembu Alun dan Lembu Tirta.

Endang yang menonton pertandingan itu menjadi heran sekali. Sudah jelas bahwa pemuda tampan bertangan kosong yang dikeroyok dua orang pemuda berkeris itu jauh lebih kuat, akan tetapi dia melihat betapa pemuda tampan itu selalu membatasi diri. Kalau saja dia kehendaki, tentu dengan mudah dia dapat merobohkan dua orang pengeroyoknya. Agaknya dia memang tidak mau memukul kedua orang itu. Sebaliknya, dua orang berkeris itu mati-matian berusaha untuk membunuh si pemuda tampan.
Endang Patibroto menjadi penasaran sekali. Ia tidak tahu ada urusan apa di antara mereka, Dua orang pemuda pengeroyok itupun tampaknya seperti pemuda baik-baik dan berpakaian pantas seperti putera bangsawan. Akan tetapi yang jelas mereka itu licik, mengeroyok seorang pemuda yang bertangan kosong dengan menggunakan keris. Apalagi kalau mengingat bahwa kakek iblis tadi membantu dua orang pemuda itu, hatinya condong memihak pemuda yang dikeroyok. Melihat betapa pemuda bertangan kosong itu masih belum juga mau merobohkan dua orang lawannya, Endang Patibroto lalu menggerakkan tangan kirinya yang mengambil kerikil kecil ke arah perkelahian itu. Terdengar jerit kesakitan dua kali dan dua orang pengeroyok itupun roboh!
Jarot yang tadi maklum bahwa ada wanita sakti datang membantunya, bahkan wanita itu telah mengusir kakek iblis, maklum bahwa dua orang kakaknya itu roboh oleh wanita sakti itu. Sekali menggerakkan kaki, wanita itu telah berada dekat Lembu Alun dan Lembu Tirta, membentak dengan suara mengancam.
"Kalian dua orang muda ini tentu juga bukan manusia baik-baik, tiada bedanya dengan kakek iblis tadi!'

Lembu Alun dan Lembu Tirta yang sudah roboh dan kehilangan keris mereka, menjadi jerih. Mereka takut sekali karena Jarot telah mengetahui rahasia mereka. Kalau Jarot mengadu kepada ayah mereka, mereka berdua tentu akan mendapat marah besar dan akan dihukum berat. Maka, keduanya lalu merangkak, bangkit berdiri hendak melarikan diri. Akan tetapi, dua kali kaki Endang Patibroto menendang dan dua orang pemuda itu roboh lagi, kini menyeringai kesakitan karena tendangan yang mengenai dada mereka itu membuat mereka sukar untuk bernapas.
"Kanjeng Bibi, harap ampunkan mereka dan jangan dibunuh," tiba-tiba Jarot berkata dengan suara memohon kepada Endang Patibroto.
Wanita sakti itu menoleh dan memandang kepada Jarot dengan alis berkerut.
"Apa? Mereka berusaha mati-matian untuk membunuhmu, dan sekarang engkau malah mintakan ampun untuk mereka?"
Jarot berkata lembut.
"Kanjeng Bibi, mereka ini adalah kakak-kakakku sendiri."
"Kakakmu sendiri? Akan tetapi mengapa mereka hendak membunuhmu dan mereka dibantu kakek sakti tadi? Hayo ceritakan yang jelas sebelum aku mengambil keputusan, hendak kubunuh atau tidak dua orang muda jahanam ini!"
Jarot menghela napas panjang dan memandang kepada dua orang kakaknya.
"Mereka adalah kakak-kakak saya berlainan ibu, Kanjeng Bibi. Mereka hendak membunuhku mungkin karena mereka menghendaki agar ayah kami mengangkat mereka menjadi calon adipati. Ayah kami adalah Adipati di Pasisiran dan mereka khawatir kalau saya yang kelak diangkat menggantikan ayah. Akan tetapi rupanya Hyang Widhi belum menghendaki saya mati, maka kanjeng bibi muncul dan menolong saya."
"Keparat betul dua orang ini. Memperebutkan kedudukan dan berusaha membunuh adik sendiri? Orang muda, siapa namamu?"
"Nama saya Jarot, Kanjeng Bibi, dan mereka ini adalah kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta."

Mendengar jawaban Jarot, timbul harapan dalam hati kedua orang muda itu.
"Dimas Jarot, ampunkan kesalahanku," kata Lembu Alun.
"Aku minta ampun darimu, dimas Jarot," kata Lembu Tirta.
"Anakmas Jarot, dua orang ini tidak semestinya diberi ampun. Hayo bawa mereka menghadap ramandamu dan ceritakan semua perbuatan mereka terhadap dirimu. Mereka layak mendapat hukuman berat. Kalau engkau tidak mau melaporkan perbuatan mereka kepada orang tua kalian, akulah yang akan menghadap Sang Adipati dan melaporkan semua peristiwa ini. Hayo kau bawa mereka ke Kadipaten."
"Baik, Kanjeng Bibi. Terima kasih atas pertolongan Kanjeng Bibi."
"Tidak usah berterima kasih. Ingat, orang muda, seorang saudara, apa lagi saudara tiri yang sudah memperlihatkan sikap bermusuhan merupakan musuh yang amat berbahaya. Aku menghargai sikapmu yang mengalah, akan tetapi hal ini harus dilaporkan kepada ayahmu. Tentu mereka yang licik ini akan menyangkal di depan ayah kalian, maka biarlah aku menyertaimu menghadap ayahmu sebagai saksi."

<<< Bagian 06                                                                                        Bagian 08 >>>

No comments:

Post a Comment