Tanpa ragu lagi Jarot lalu menuruni jalan setapak yang terjal itu. Berpegang kepada akar-akar kayu-kayuan atau kepada batu-batu karang yang menonjol, dia terus menuruni jalan setapak itu dengan cekatan dan cepat. Akhirnya tibalah dia di tempat datar dan dari situ dia melihat beberapa buah guha yang besar. Tenaga yang menariknya itu datang dari sebuah di antara guha-guha itu, yang berada di tengah. Di depan guha itu terdapat tanah datar yang cukup luas. Dengan berani Jarot menurutkan daya tarik itu dan melangkah ke depan. Setelah tiba didepan guha itu, dia mendengar suara orang tertawa. Tiga orang muncul dari dalam guha itu dan dia terbelalak. Dua di antara mereka dikenalnya dengan baik karena mereka itu bukan lain adalah Lembu Alun dan Lembu Tirta! Kedua orang ini mengiringkan seorang kakek yang tertawa-tawa. Jarot memandang penuh perhatian. Kakek itu amat menyeramkan. Rambutnya panjang dan gimbal, matanya bundar dan besar, hidungnya pesek dan mulutnya yang lebar itu menyeringai ganas, namun mata yang besar itu mencorong seperti mata harimau. Pakaiannya seperti baju pendeta yang longgar dan panjang, berwarna kuning dekil. Tangan kanan kakek itu memegang sebatang tongkat berbentuk ular, seperti seekor ular yang dikeringkan.
"Hoa-ha-ha-ha,
andika telah datang, Jarot?"
Jarot tidak
memperdulikan kedua orang kakaknya, melainkan menatap tajam wajah kakek itu.
Dia tidak mengenalnya, akan tetapi dia dapat menduga bahwa kakek ini yang
memiliki ilmu yang menariknya tadi.
"Jadi
andika yang menggunakan ilmu hitam menarikku datang ke sini?"
"Hoa-ha-ha-ha,
siapapun akan datang kalau kupanggil. Tak seorangpun dapat melawan ilmu
sihirku!" Wasi Surengpati membanggakan diri.
"Orang
tua, apa kehendakmu memanggil aku datang ke sini?" tanya Jarot, suaranya
tetap tenang dan tabah.
"Hoa-ha-ha!
Kalau engkau ingin tahu, tanyakan saja kepada dua orang saudaramu ini!"
Mendengar ini,
Jarot memandang kepada kedua orang kakaknya dengan alis berkerut.
"Kakangmas
Lembu Alun dan Lembu Tirta, apa artinya semua ini?"
"Artinya,
engkau akan mati hari ini, Jarot!" kata Lembu Alun.
"Akan
kami sempurnakan usahaku tujuh tahun yang lalu!"
Jarot
membelalakkan kedua matanya.
"Jadi ...
jadi engkau yang dulu melepaskan anak panah menyerangku, kakangmas?"
Lembu Alun
tidak menjawab, melainkan mencabut kerisnya dan berkata kepada Wasi Surengpati.
"Bapa,
cepat habisi dia!"
Sambil tertawa
kakek itu lalu menerjang dengan tongkat ularnya. Terdengar angin berdesir
ketika tongkat itu menyambar dan cepat Jarot mengelak karena dari angin
sambarannya saja maklumlah dia bahwa kakek itu memiliki tenaga yang amat kuat.
Akan tetapi tongkat ular itu menyambar lagi dan kini Lembu Alun dan Lembu Tirta
juga sudah menerjang maju dengan keris mereka. Jarot dikeroyok tiga! Tiga orang
lawannya semua bersenjata sedangkan dia sendiri hanya bertangan kosong, maka
sebentar saja dia terdesak hebat.
Tongkat ular
menyambar lagi.
"Wuuutt...
!" Jarot terpaksa menangkis dengan lengan kirinya sambil mengerahkan
tenaga.
"Plakkk
... !" pertemuan lengannya dengan tongkat itu membuat tubuh Jarot tergetar
hebat dan dia terhuyung.
Lembu Alun
mengejar dan menusukkan kerisnya, akan tetapi dapat dielakkan oleh Jarot.
Ketika Lembu Tirta menyusul dengan tusukan kerisnya, dia menangkis dengan
tangan kirinya.
"Plakk!"
Lembu Tirta terhuyung ke samping. Akan tetapi kini Wasi Surengpati sudah
menerjang lagi sambil mengeluarkan teriakan nyaring, teriakan nyaring itu
mengandung tenaga yang amat kuat dan Jarot merasa jantungnya tergetar dan
diapun terhuyung-huyung ke belakang. Ternyata kakek itu dapat menyerang dengan
suaranya yang mengandung tenaga mengguncang jantung lawan seperti auman seekor
singa!
Selagi
terhuyung, kembali dua orang kakak beradik itu sudah menyerang dengan keris
mereka. Namun, Jarot dapat menggulingkan tubuhnya dan terluput dari tusukan
kedua keris kakaknya. Ketika dia melompat berdiri dan berniat melarikan diri
dari keadaan gawat itu, Wasi Surengpati telah menghadang di depannya. Kembali
kakek ini mengeluarkan gerengannya yang dahsyat dan kembali Jarot terhuyung dan
pada saat itu tongkat ular telah menyambar dengan cepat dan kuat sekali ke arah
kepalanya.
"Wuuuuuuttt
... tukk!" Tongkat yang sudah menyambar dekat kepala Jarot itu terpental
karena ada sepotong batu menangkisnya.
Kakek ini
terkejut dan memandang ke kiri darimana sepotong batu tadi melayang dan
menangkis tongkatnya. Dia melihat seorang wanita yang cantik jelita berdiri di
sana sambil memandang tajam kepadanya. Wanita itu adalah Endang Patibroto yang
sekali melompat sudah berada didepan Wasi Surengpati. Endang Patibroto
tersenyum mengejek. Sikapnya tenang dan pandang matanya demikian tajam bersinar
sehingga Wasi Surengpati diam-diam terkejut sekali dan menduga-duga siapa adanya
wanita yang telah menangkis tongkatnya dengan sambitan batu tadi.
"Hemm,
orang tua jelek! Sungguh tidak malu mengeroyok seorang pemuda yang tampaknya
tidak bersalah apa-apa! Kalau andika mencari lawan, akulah lawanmu, kakek tua
bangka buruk!" Endang Patibroto berseru.
Wasi
Surengpati menjadi marah sekali. Biarpun dia dapat menilai bahwa wanita itu
memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dia tidak takut.
"Babo-babo,
wanita lancang tangan. Siapakah kamu berani menentang Wasi Surengpati dari Guha
Iblis? Apakah nyawamu rangkap maka berani engkau mencampuri urusan kami?"
"Biar
ditambah lima orang macam kamu, aku tidak takut. Wasi Surengpati, kamu adalah
manusia jahat yang pantas dijadikan hamba iblis. Biarpun aku belum tahu duduk
perkaranya, melihat penampilanmu saja aku sudah tahu bahwa pemuda yang kau
keroyok itu tentulah berada di pihak yang tidak bersalah!"
"Keparat,
lancang mulutmu! Heiiiiii ... " Kembali dia berteriak melengking, suaranya
menggetarkan seluruh tempat itu.
Akan tetapi
Endang Patibroto tidak menjadi gentar, bahkan wanita inipun lalu mengeluarkan
ajinya, menjerit dengan lengkingan panjang. Itulah Pekik Sardulo Bairowo dan
lengkingan ini seolah menelan jeritan Wasi Surengpati tadi! Wasi Surengpati
menjadi semakin marah dan diapun sudah menerjang maju dengan tongkat ularnya.
Endang Patibroto menangkis dengan lengan kirinya.
"Dukkk!"
Endang Patibroto merasa betapa lengannya tergetar, akan tetapi sebaliknya
tongkat Wasi Surengpati terpental ke atas!
Dari pertemuan
dua tenaga ini saja sudah dapat dinilai bahwa tenaga Wasi Surengpati masih
kalah setingkat dibandingkan tenaga wanita sakti itu. Akan tetapi Wasi
Surengpati masih penasaran dan mulailah dia mengamuk dengan tongkat ularnya
yang menyambar-nyambar bagaikan ular hidup yang pandai terbang. Namun, Endang
Patibroto selalu dapat mengelakkannya dan ketika ia mendapat kesempatan, ia
membalas serangan lawan dengan pukulan Pethit Nogo!
"Plakk!"
Ujung jari tangan Endang Pati broto mengibas ke arah kepala Wasi Surengpati,
akan tetapi kakek itu dapat menangkis dengan ujung tongkatnya. Mereka kini
bertanding dengan hebat, saling serang dan kakek itu mendapat kenyataan betapa
hebatnya kepandaian lawannya.
Sementara itu,
dua orang kakak beradik itu masih tetap mengeroyok Jarot. Namun mereka bukan
tandingan Jarot. Tusukan-tusukan keris mereka dengan mudah dihindarkan Jarot
dengan elakan atau tangkisan dan ketika dia balas menyerang dengan
tamparan-tamparan tangannya, dua orang kakak beradik itu menjadi repot
berloncatan ke sana sini untuk mengelak.
"Haiiiiitt
... ! Pergilah!" Bentak Endang Patibroto kepada lawannya dan kini ia
menyerang dengan pukulan jarak jauh Gelap Musti.
Kakek itu
mencoba untuk menahan serangan ini dengan pengerahan tenaga saktinya, namun dia
tidak kuat dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sampai lima meter. Agaknya
kakek itu maklum bahwa ia tidak akan menang melawan wanita sakti itu, maka
diapun melompat dan melarikan diri melalui tebing yang curam itu, merayap naik
seperti seekor monyet. Endang Patibroto tidak mengejar melainkan menonton
pertandingan antara Jarot yang dikeroyok dua oleh Lembu Alun dan Lembu Tirta.
Endang yang
menonton pertandingan itu menjadi heran sekali. Sudah jelas bahwa pemuda tampan
bertangan kosong yang dikeroyok dua orang pemuda berkeris itu jauh lebih kuat,
akan tetapi dia melihat betapa pemuda tampan itu selalu membatasi diri. Kalau
saja dia kehendaki, tentu dengan mudah dia dapat merobohkan dua orang
pengeroyoknya. Agaknya dia memang tidak mau memukul kedua orang itu.
Sebaliknya, dua orang berkeris itu mati-matian berusaha untuk membunuh si
pemuda tampan.
Endang
Patibroto menjadi penasaran sekali. Ia tidak tahu ada urusan apa di antara
mereka, Dua orang pemuda pengeroyok itupun tampaknya seperti pemuda baik-baik
dan berpakaian pantas seperti putera bangsawan. Akan tetapi yang jelas mereka
itu licik, mengeroyok seorang pemuda yang bertangan kosong dengan menggunakan
keris. Apalagi kalau mengingat bahwa kakek iblis tadi membantu dua orang pemuda
itu, hatinya condong memihak pemuda yang dikeroyok. Melihat betapa pemuda
bertangan kosong itu masih belum juga mau merobohkan dua orang lawannya, Endang
Patibroto lalu menggerakkan tangan kirinya yang mengambil kerikil kecil ke arah
perkelahian itu. Terdengar jerit kesakitan dua kali dan dua orang pengeroyok
itupun roboh!
Jarot yang
tadi maklum bahwa ada wanita sakti datang membantunya, bahkan wanita itu telah
mengusir kakek iblis, maklum bahwa dua orang kakaknya itu roboh oleh wanita
sakti itu. Sekali menggerakkan kaki, wanita itu telah berada dekat Lembu Alun
dan Lembu Tirta, membentak dengan suara mengancam.
"Kalian
dua orang muda ini tentu juga bukan manusia baik-baik, tiada bedanya dengan
kakek iblis tadi!'
Lembu Alun dan
Lembu Tirta yang sudah roboh dan kehilangan keris mereka, menjadi jerih. Mereka
takut sekali karena Jarot telah mengetahui rahasia mereka. Kalau Jarot mengadu
kepada ayah mereka, mereka berdua tentu akan mendapat marah besar dan akan
dihukum berat. Maka, keduanya lalu merangkak, bangkit berdiri hendak melarikan
diri. Akan tetapi, dua kali kaki Endang Patibroto menendang dan dua orang
pemuda itu roboh lagi, kini menyeringai kesakitan karena tendangan yang
mengenai dada mereka itu membuat mereka sukar untuk bernapas.
"Kanjeng
Bibi, harap ampunkan mereka dan jangan dibunuh," tiba-tiba Jarot berkata
dengan suara memohon kepada Endang Patibroto.
Wanita sakti
itu menoleh dan memandang kepada Jarot dengan alis berkerut.
"Apa?
Mereka berusaha mati-matian untuk membunuhmu, dan sekarang engkau malah
mintakan ampun untuk mereka?"
Jarot berkata
lembut.
"Kanjeng
Bibi, mereka ini adalah kakak-kakakku sendiri."
"Kakakmu
sendiri? Akan tetapi mengapa mereka hendak membunuhmu dan mereka dibantu kakek
sakti tadi? Hayo ceritakan yang jelas sebelum aku mengambil keputusan, hendak
kubunuh atau tidak dua orang muda jahanam ini!"
Jarot menghela
napas panjang dan memandang kepada dua orang kakaknya.
"Mereka
adalah kakak-kakak saya berlainan ibu, Kanjeng Bibi. Mereka hendak membunuhku
mungkin karena mereka menghendaki agar ayah kami mengangkat mereka menjadi
calon adipati. Ayah kami adalah Adipati di Pasisiran dan mereka khawatir kalau
saya yang kelak diangkat menggantikan ayah. Akan tetapi rupanya Hyang Widhi
belum menghendaki saya mati, maka kanjeng bibi muncul dan menolong saya."
"Keparat
betul dua orang ini. Memperebutkan kedudukan dan berusaha membunuh adik
sendiri? Orang muda, siapa namamu?"
"Nama
saya Jarot, Kanjeng Bibi, dan mereka ini adalah kakangmas Lembu Alun dan
kakangmas Lembu Tirta."
Mendengar
jawaban Jarot, timbul harapan dalam hati kedua orang muda itu.
"Dimas
Jarot, ampunkan kesalahanku," kata Lembu Alun.
"Aku
minta ampun darimu, dimas Jarot," kata Lembu Tirta.
"Anakmas
Jarot, dua orang ini tidak semestinya diberi ampun. Hayo bawa mereka menghadap
ramandamu dan ceritakan semua perbuatan mereka terhadap dirimu. Mereka layak
mendapat hukuman berat. Kalau engkau tidak mau melaporkan perbuatan mereka
kepada orang tua kalian, akulah yang akan menghadap Sang Adipati dan melaporkan
semua peristiwa ini. Hayo kau bawa mereka ke Kadipaten."
"Baik,
Kanjeng Bibi. Terima kasih atas pertolongan Kanjeng Bibi."
"Tidak
usah berterima kasih. Ingat, orang muda, seorang saudara, apa lagi saudara tiri
yang sudah memperlihatkan sikap bermusuhan merupakan musuh yang amat berbahaya.
Aku menghargai sikapmu yang mengalah, akan tetapi hal ini harus dilaporkan
kepada ayahmu. Tentu mereka yang licik ini akan menyangkal di depan ayah
kalian, maka biarlah aku menyertaimu menghadap ayahmu sebagai saksi."
<<< Bagian 06 Bagian 08 >>>
No comments:
Post a Comment