Karena Endang Patibroto menyertai mereka, maka kedua orang saudara itu tidak mampu berbuat sesuatu dan mereka mengikuti dengan gentar ketika Jarot membawa mereka pulang ke kadipaten. Biarpun dia bermaksud untuk memaafkan kedua orang kakaknya, namun desakan Endang Patibroto membuat dia tak berdaya dan terpaksa menuruti permintaan wanita sakti itu. Kalau dia tidak melapor, dan wanita itu yang melaporkan kepada ayahnya, tentu dia akan dipersalahkan ayahnya pula.
Sang Adipati
Kertajaya menyambut kedatangan ketiga puteranya yang diiringkan seorang wanita
cantik itu dengan heran. Apa lagi melihat sikap Lembu Alun dan Lembu Tirta yang
tidak wajar, seperti dua orang yang ketakutan.
"Jarot,
engkau bersama dua orang kakakmu menghadap aku disertai seorang wanita ini, ada
urusan apakah dan siapa wanita ini?"
"Maafkan,
Kanjeng Rama, saya datang menghadap tanpa dipanggil. Kami bertiga menghadap
Kanjeng Romo untuk menceritakan suatu peristiwa yang perlu Kanjeng Romo
ketahui. Dan Kanjeng Bibi ini yang namanya ... belum saya ketahui, akan tetapi
kanjeng Bibi ini telah menyelamatkan nyawa saya, Kanjeng Romo."
Mendengar
pengakuan ini, terkejutlah Adipati Kertajaya. Dia memandang kepada Endang
Patibroto dengan penuh perhatian. Seorang wanita yang memiliki kepribadian
agung dan anggun, cantik dan gagah, mendatangkan sikap hormat dalam hatinya.
"Selamat
datang, Nyi Sanak. Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu
terhadap putera kami Jarot. Bolehkah kami mengetahui siapa gerangan nama Nyi
Sanak dan berasal dari mana?"
Endang
Patibroto tersenyum dan merasa senang. Adipati ini bukan seorang yang sombong
dan suka mengagungkan kedudukannya. Sikapnya demikian hormat, maka iapun
memperkenalkan diri dengan terus terang.
"Sang
Adipati, saya bernama Endang Patibroto dan datang dari Panjalu."
Begitu
mendengar nama dan tempat tinggal itu, Adipati Kertajaya lalu bangkit berdiri
dan matanya terbelalak, kemudian dia membungkuk dengan sikap hormat sekali.
"Jagad
Dewa Bathara. Kiranya paduka adalah Gusti Puteri Endang Patibroto! Silakan
duduk dan kami menghaturkan selamat datang di Kadipaten Pasisiran."
Semua orang
yang melihat sikap Adipati menjadi heran. Adipati ini tentu saja sudah
mendengar akan nama Endang Patibroto yang terkenal di seluruh daerah Panjalu
dan Jenggala. Siapa yang tidak mengenal wanita sakti yang pernah menjadi isteri
Pangeran Panjirawit dari Jenggala dan kemudian menjadi isteri Kipatih
Tejolaksono di Panjalu? Wanita sakti ini dahulu pernah membuat geger ketika
mengamuk di Nusabarung dan di Blambangan!
Setelah
dipersilakan duduk di atas kursi yang sejajar dengan sang adipati Endang
Patibroto segera duduk di kursi itu tanpa sungkan lagi. Sementara itu, Jarot
dan dua orang kakaknya itu memandang dengan mata terbelalak kepada Endang
Patibroto. Jarot memandang penuh kagum karena dia juga pernah mendengar nama
itu disebut-sebut orang, akan tetapi Lembu Alun dan Lembu Tirta memandang
dengan terkejut dan semakin takut. Habislah sudah riwayat mereka, mereka
berpikir. Sungguh sial sekali. Setelah usaha mereka sudah hampir berhasil,
mendadak muncul wanita sakti itu.
"Sekarang
ceritakanlah peristiwa apa yang kau alami?" tanya Sang Adipati kepada
Jarot.
Jarot beberapa
kali membuka mulut akan tetapi tidak dapat mengeluarkan suara. Sungguh tidak
enak sekali rasa hatinya kalau harus membongkar kekejian dua orang kakaknya itu
di depan ayahnya. Dia menoleh kepada Endang Patibroto dan berkata,
"Kanjeng
Bibi yang mulia, sudikah kanjeng Bibi yang menceritakan kepada kanjeng Romo
tentang peristiwa itu?"
Endang
Patibroto tersenyum dan mengangguk. Dia juga kagum kepada pemuda ini. Sungguh
seorang pemuda yang berbudi lembut dan bijaksana.
"Baiklah,
saya akan bercerita," katanya sambil memandang kepada Adipati Kertajaya.
"Ketika
saya sedang melakukan perjalanan di luar kota kadipaten Pasisiran, saya melihat
anakmas Jarot ini melakukan perjalanan dengan menggunakan ilmu berlari cepat.
Saya menjadi tertarik sekali dan diam-diam saya membayanginya. Ketika dia
menuruni tebing curam, sayapun mengikutinya dan akhirnya dia tiba di depan
sebuah guha besar. Di situ dia bertemu dengan dua orang kakak tirinya yang
ditemani seorang kakek iblis dan mereka bertiga itu segera mengeroyok anakmas
Jarot. Mereka bertiga berusaha mati-matian untuk membunuh anakmas Jarot.
Melihat ini saya lalu turun tangan menghadapi kakek iblis yang tangguh itu.
Akhirnya kakek iblis itu berhasil saya usir dan dua orang muda yang bertindak
keji dan curang ini dapat ditangkap dan dibawa menghadap di sini."
Wajah Adipati
Kertajaya berubah merah sekali, matanya melotot kepada dua orang puteranya,
akan tetapi dia masih bertanya kepada Jarot.
"Jarot
benarkah seperti apa yang diceritakan Gusti Kanjeng Endang Patibroto itu?"
"Semua benar,
Kanjeng Romo."
“Bedebah!
Kalau begitu, yang memanahmu pada tujuh tahun yang lalu tentu si bedebah Lembu
Alun ini! Heh, Lembu Alun dan Lembu Tirta. Benarkah kalian melakukan perbuatan
keji itu, berusaha membunuh Jarot?"
Dua orang muda
itu tidak berani menyangkal lagi, apa lagi yang menjadi saksi adalah Endang
Patibroto! Mereka hanya mengangguk dan menundukkan kepala sambil bertiarap
menyembah.
"Ampunkan
kami, Kanjeng Romo."
"Siapa
kakek iblis yang kalian ajak untuk membunuh adikmu Jarot?"
"Dia guru
kami, Wasi Surengpati."
"Dan
engkau Lembu Alun, beranikah engkau menyangkal lagi bahwa pada tujuh tahun yang
lalu, engkau pula yang telah memanah punggung Jarot dari belakang?"
"Ampunkan
hamba, Kanjeng Romo! Hamba mengaku salah... "
"Bedebah,
kalian hanya mengotori Kadipaten Pasisiran saja! Orang-orang macam engkau yang
menjadi hamba setan nafsu haruslah dienyahkan dari muka bumi!" Sang
Adipati sudah menghunus kerisnya dan bangkit berdiri, siap untuk menyerang
kedua orang puteranya.
Pada saat itu,
Jarot meloncat dan menubruk ayahnya.
"Kanjeng
Romo, harap sabar dulu. Bagaimanapun juga, kakangmas Lembu Alun dan kakangmas
Lembu Tirta adalah putera paduka, dan mereka juga kakak saya. Bagaimana Kanjeng
Rorno akan membunuh mereka begitu saja?"
Wajah Adipati
itu masih merah dan matanya melotot memandang kepada Jarot yang menghalanginya
membunuh kedua orang puteranya yang sesat itu.
"Kau ...
kau yang hendak dibunuh mereka ... kau bahkan membela mereka, Jarot?"
"Mereka
memang bertindak salah, Romo. Akan tetapi berilah kesempatan kepada mereka
untuk bertaubat dan mengubah jalan pikiran mereka yang keliru. Kalau mereka
dibunuh, berarti Kanjeng Romo tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk
menebus dosa. Apakah Kanjeng Romo tidak kasihan kepada mereka?"
Mendengar
pembelaan adik mereka itu, kedua orang muda itu seperti ditusuk-tusuk rasa
jantungnya dan mereka menangis sesenggukan.
"Adimas
Jarot ... aku telah berdosa kepadamu, biarlah aku dihukum mati …”
"Aku juga
berdosa kepadamu, dimas Jarot. Tidak pantas kaubela ... "
"Tidak,
kakangmas. Andika berdua hanya terdorong nafsu ingin memperebutkan kedudukan
adipati kelak. Kalau kalian minta baik-baik, aku akan menyerahkan kedudukan
itu. Setelah kini kalian menyadari kesalahan, tentu akan bertaubat dan tidak
akan mengulangi perbuatan yang menyeleweng dari kebenaran."
Adipati
Kertajaya yang sudah menyarungkan kembali kerisnya karena ditahan oleh Jarot
tadi, duduk kembali dan menghela napas panjang.
"Baiklah,
mengingat akan permintaan ampun Jarot untuk kalian berdua, aku tidak akan
menghukum mati kalian yang sebetulnya patut kalian terima. Sebagai gantinya,
kalian kuhukum selama lima tahun menjadi prajurit jogoboyo kadipaten."
Dua orang
pemuda itu cepat menyembah dan menghaturkan terima kasih. Semenjak hari itu,
mereka berdua bertugas sebagai prajurit jogoboyo yang menjaga keamanan
kadipaten Pasisiran. Adipati Kertajaya hendak menjamu Endang Patibroto, akan
tetapi wanita ini menolak.
"Saya
masih mempunyai banyak keperluan dan harus melanjutkan perjalanan sekarang
juga. Akan tetapi ada satu hal yang ingin kutanyakan kepada Sang Adipati dan
siapa tahu andika dapat membantu dalam urusan ini."
Adipati
Kertajaya tersenyum dan menjawab.
"Dengan
sepenuh hati kami siap membantu Gusti Puteri. Apakah hal yang ingin andika
tanyakan itu?"
"Saya
sedang mencari putera puteriku yang melakukan perjalanan merantau. Puteraku itu
bernama Bagus Seta dan puteriku bernama Retna Wilis. Apakah mereka itu lewat
dan singgah di kadipaten ini?"
Adipati
Kertajaya mengerutkan alisnya.
"Saya
sendiri tidak pernah mendengar nama-nama itu, akan tetapi akan saya umumkan dan
tanyakan kepada semua prajurit kalau-kalau di antara mereka ada yang bertemu
dengan kedua orang putera puteri andika itu."
Adipati
Kertajaya segera mengutus perwira untuk mengumumkan pertanyaan itu dan
sementara menanti jawaban mereka, Endang Patibroto dipersilakan menunggu dan
dijamu makan oleh sang adipati bersama seluruh keluarganya. Hanya Lembu Alun
dan Lembu Tirta yang tidak ikut dalam perjamuan itu karena mereka mulai hari
itu sudah harus bertugas sebagai prajurit jogoboyo. Dalam perjamuan itu Endang
Patibroto banyak mendapat keterangan dari Adipati Kertajaya tentang pergolakan
di timur. Pasisiran sendiri merupakan daerah kekuasaan Jenggala dan selama ini
kadipaten ini selalu patuh kepada Jenggala.
"Mula-mula
kadipaten di Nusabarung yang memperlihatkan tanda hendak menentang kekuasaan
Kerajaan Jenggala, akan tetapi kemudian kami mendengar bahwa Nusabarung
bersekutu dengan Blambangan. Mereka telah memperkuat diri dan mempersiapkan
pasukan besar untuk melawan pasukan Jenggala. Kami sendiri khawatir kalau kalau
kami terseret karena kami berada ditengah-tengah antara Blambangan dan
Jenggala," demikian antara lain Adipati Kertajaya memberi keterangan.
Mendengar ini
semakin kuat keinginan hati Endang Patibroto untuk melakukan penyelidikan ke
daerah yang bergolak itu. Kemudian, datang laporan dari para perwira yang
mengatakan bahwa tidak ada seorangpun di antara prajurit yang mendengar tentang
Bagus Seta dan Retna Wilis Mendengar laporan itu, Endang Patibroto menjadi
kecewa dan iapun segera berpamit dari keluarga Adipati Kertajaya. Ketika Endang
Patibroto berpamit darinya, Jarot kembali mengucapkan banyak terima kasih.
"Bantuan
kanjeng bibi sungguh merupakan budi yang besar. Mudah-mudahan saja kelak saya
akan dapat membalas budi itu."
Endang
Patibroto tersenyum dan memandang pemuda itu dengan senang karena ia tahu bahwa
ia berhadapan dengan seorang pemuda yang baik hati dan bijaksana, di samping
memiliki ilmu kanuragan yang cukup tangguh.
"Jangan
bicara tentang budi, anakmas Jarot. Saya tidak mengharapkan balasan apapun
juga, hanya saya mengharap agar kelak kalau andika sudah menggantikan ramandamu
menjadi adipati, bertindaklah yang adil dan bijaksana terhadap rakyatmu."
Endang
Patibroto segera melanjutkan perjalanannya menuju ke timur untuk mencari jejak
puterinya dan juga untuk menyelidiki daerah yang bergolak itu.
Nusa Barung
adalah sebuah pulau di lautan Kidul yang cukup besar. Di pulau itu terdapat
seorang penguasa yang menyebut dirinya Adipati Martimpang yang kekuasaannya
bukan hanya di atas pulau Nusa Barung, melainkan sampai ke daratan pantai Laut
Kidul. Adipati Martimpang berhasil menjadi penguasa yang berpengaruh dan
ditakuti. Dia juga menghimpun pasukan yang tidak kurang dari seribu orang jumlahnya,
sebagian dari pasukannya berjaga di daratan pantai pulau Jawa bagian selatan
itu. Dia juga mempunyai lima orang senopati yang terkenal gagah perkasa dan
berbadan seperti raksasa. Adipati Martimpang sendiri adalah seorang laki-laki
tinggi besar berkulit hitam dan wajahnya menyeramkan, sama sekali tidak dapat
dibilang tampan. Akan tetapi dia memiliki belasan orang isteri yang
cantik-cantik. Tidak mengherankan kalau dia juga mempunyai seorang anak
perempuan yang cantik jelita seperti ibunya dan diberi nama Dyah Candramanik.
Gadis ini sudah berusia tujuh belas tahun dan tidak ada pemuda di Nusabarung
yang tidak tergila-gila kepada puteri adipati ini. Adipati Martimpang sendiri
amat membanggakan puterinya. Akan tetapi siapakah yang berani mencoba untuk menundukkan
hati Dyah Candramanik? Mereka gentar terhadap ayahnya. Karena itulah maka
sampai berusia tujuh belas tahun, belum ada pria yang berani meminangnya. Tentu
saja Adipati Martimpang mempunyai cita-cita besar terhadap puterinya yang
dibanggakannya ini. Dia berkeinginan agar puterinya mendapatkan jodoh seorang
raja yang masih muda dan yang kaya raya serta besar kekuasaannya.
<<< Bagian 07 Bagian 09 >>>
No comments:
Post a Comment