Sepasang Garuda Putih ; Bagian 08


Karena Endang Patibroto menyertai mereka, maka kedua orang saudara itu tidak mampu berbuat sesuatu dan mereka mengikuti dengan gentar ketika Jarot membawa mereka pulang ke kadipaten. Biarpun dia bermaksud untuk memaafkan kedua orang kakaknya, namun desakan Endang Patibroto membuat dia tak berdaya dan terpaksa menuruti permintaan wanita sakti itu. Kalau dia tidak melapor, dan wanita itu yang melaporkan kepada ayahnya, tentu dia akan dipersalahkan ayahnya pula.
Sang Adipati Kertajaya menyambut kedatangan ketiga puteranya yang diiringkan seorang wanita cantik itu dengan heran. Apa lagi melihat sikap Lembu Alun dan Lembu Tirta yang tidak wajar, seperti dua orang yang ketakutan.
"Jarot, engkau bersama dua orang kakakmu menghadap aku disertai seorang wanita ini, ada urusan apakah dan siapa wanita ini?"
"Maafkan, Kanjeng Rama, saya datang menghadap tanpa dipanggil. Kami bertiga menghadap Kanjeng Romo untuk menceritakan suatu peristiwa yang perlu Kanjeng Romo ketahui. Dan Kanjeng Bibi ini yang namanya ... belum saya ketahui, akan tetapi kanjeng Bibi ini telah menyelamatkan nyawa saya, Kanjeng Romo."

Mendengar pengakuan ini, terkejutlah Adipati Kertajaya. Dia memandang kepada Endang Patibroto dengan penuh perhatian. Seorang wanita yang memiliki kepribadian agung dan anggun, cantik dan gagah, mendatangkan sikap hormat dalam hatinya.
"Selamat datang, Nyi Sanak. Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu terhadap putera kami Jarot. Bolehkah kami mengetahui siapa gerangan nama Nyi Sanak dan berasal dari mana?"
Endang Patibroto tersenyum dan merasa senang. Adipati ini bukan seorang yang sombong dan suka mengagungkan kedudukannya. Sikapnya demikian hormat, maka iapun memperkenalkan diri dengan terus terang.
"Sang Adipati, saya bernama Endang Patibroto dan datang dari Panjalu."
Begitu mendengar nama dan tempat tinggal itu, Adipati Kertajaya lalu bangkit berdiri dan matanya terbelalak, kemudian dia membungkuk dengan sikap hormat sekali.
"Jagad Dewa Bathara. Kiranya paduka adalah Gusti Puteri Endang Patibroto! Silakan duduk dan kami menghaturkan selamat datang di Kadipaten Pasisiran."
Semua orang yang melihat sikap Adipati menjadi heran. Adipati ini tentu saja sudah mendengar akan nama Endang Patibroto yang terkenal di seluruh daerah Panjalu dan Jenggala. Siapa yang tidak mengenal wanita sakti yang pernah menjadi isteri Pangeran Panjirawit dari Jenggala dan kemudian menjadi isteri Kipatih Tejolaksono di Panjalu? Wanita sakti ini dahulu pernah membuat geger ketika mengamuk di Nusabarung dan di Blambangan!
Setelah dipersilakan duduk di atas kursi yang sejajar dengan sang adipati Endang Patibroto segera duduk di kursi itu tanpa sungkan lagi. Sementara itu, Jarot dan dua orang kakaknya itu memandang dengan mata terbelalak kepada Endang Patibroto. Jarot memandang penuh kagum karena dia juga pernah mendengar nama itu disebut-sebut orang, akan tetapi Lembu Alun dan Lembu Tirta memandang dengan terkejut dan semakin takut. Habislah sudah riwayat mereka, mereka berpikir. Sungguh sial sekali. Setelah usaha mereka sudah hampir berhasil, mendadak muncul wanita sakti itu.
"Sekarang ceritakanlah peristiwa apa yang kau alami?" tanya Sang Adipati kepada Jarot.

Jarot beberapa kali membuka mulut akan tetapi tidak dapat mengeluarkan suara. Sungguh tidak enak sekali rasa hatinya kalau harus membongkar kekejian dua orang kakaknya itu di depan ayahnya. Dia menoleh kepada Endang Patibroto dan berkata,
"Kanjeng Bibi yang mulia, sudikah kanjeng Bibi yang menceritakan kepada kanjeng Romo tentang peristiwa itu?"
Endang Patibroto tersenyum dan mengangguk. Dia juga kagum kepada pemuda ini. Sungguh seorang pemuda yang berbudi lembut dan bijaksana.
"Baiklah, saya akan bercerita," katanya sambil memandang kepada Adipati Kertajaya.
"Ketika saya sedang melakukan perjalanan di luar kota kadipaten Pasisiran, saya melihat anakmas Jarot ini melakukan perjalanan dengan menggunakan ilmu berlari cepat. Saya menjadi tertarik sekali dan diam-diam saya membayanginya. Ketika dia menuruni tebing curam, sayapun mengikutinya dan akhirnya dia tiba di depan sebuah guha besar. Di situ dia bertemu dengan dua orang kakak tirinya yang ditemani seorang kakek iblis dan mereka bertiga itu segera mengeroyok anakmas Jarot. Mereka bertiga berusaha mati-matian untuk membunuh anakmas Jarot. Melihat ini saya lalu turun tangan menghadapi kakek iblis yang tangguh itu. Akhirnya kakek iblis itu berhasil saya usir dan dua orang muda yang bertindak keji dan curang ini dapat ditangkap dan dibawa menghadap di sini."
Wajah Adipati Kertajaya berubah merah sekali, matanya melotot kepada dua orang puteranya, akan tetapi dia masih bertanya kepada Jarot.
"Jarot benarkah seperti apa yang diceritakan Gusti Kanjeng Endang Patibroto itu?"
"Semua benar, Kanjeng Romo."
“Bedebah! Kalau begitu, yang memanahmu pada tujuh tahun yang lalu tentu si bedebah Lembu Alun ini! Heh, Lembu Alun dan Lembu Tirta. Benarkah kalian melakukan perbuatan keji itu, berusaha membunuh Jarot?"

Dua orang muda itu tidak berani menyangkal lagi, apa lagi yang menjadi saksi adalah Endang Patibroto! Mereka hanya mengangguk dan menundukkan kepala sambil bertiarap menyembah.
"Ampunkan kami, Kanjeng Romo."
"Siapa kakek iblis yang kalian ajak untuk membunuh adikmu Jarot?"
"Dia guru kami, Wasi Surengpati."
"Dan engkau Lembu Alun, beranikah engkau menyangkal lagi bahwa pada tujuh tahun yang lalu, engkau pula yang telah memanah punggung Jarot dari belakang?"
"Ampunkan hamba, Kanjeng Romo! Hamba mengaku salah... "
"Bedebah, kalian hanya mengotori Kadipaten Pasisiran saja! Orang-orang macam engkau yang menjadi hamba setan nafsu haruslah dienyahkan dari muka bumi!" Sang Adipati sudah menghunus kerisnya dan bangkit berdiri, siap untuk menyerang kedua orang puteranya.
Pada saat itu, Jarot meloncat dan menubruk ayahnya.
"Kanjeng Romo, harap sabar dulu. Bagaimanapun juga, kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta adalah putera paduka, dan mereka juga kakak saya. Bagaimana Kanjeng Rorno akan membunuh mereka begitu saja?"
Wajah Adipati itu masih merah dan matanya melotot memandang kepada Jarot yang menghalanginya membunuh kedua orang puteranya yang sesat itu.
"Kau ... kau yang hendak dibunuh mereka ... kau bahkan membela mereka, Jarot?"
"Mereka memang bertindak salah, Romo. Akan tetapi berilah kesempatan kepada mereka untuk bertaubat dan mengubah jalan pikiran mereka yang keliru. Kalau mereka dibunuh, berarti Kanjeng Romo tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk menebus dosa. Apakah Kanjeng Romo tidak kasihan kepada mereka?"

Mendengar pembelaan adik mereka itu, kedua orang muda itu seperti ditusuk-tusuk rasa jantungnya dan mereka menangis sesenggukan.
"Adimas Jarot ... aku telah berdosa kepadamu, biarlah aku dihukum mati …”
"Aku juga berdosa kepadamu, dimas Jarot. Tidak pantas kaubela ... "
"Tidak, kakangmas. Andika berdua hanya terdorong nafsu ingin memperebutkan kedudukan adipati kelak. Kalau kalian minta baik-baik, aku akan menyerahkan kedudukan itu. Setelah kini kalian menyadari kesalahan, tentu akan bertaubat dan tidak akan mengulangi perbuatan yang menyeleweng dari kebenaran."
Adipati Kertajaya yang sudah menyarungkan kembali kerisnya karena ditahan oleh Jarot tadi, duduk kembali dan menghela napas panjang.
"Baiklah, mengingat akan permintaan ampun Jarot untuk kalian berdua, aku tidak akan menghukum mati kalian yang sebetulnya patut kalian terima. Sebagai gantinya, kalian kuhukum selama lima tahun menjadi prajurit jogoboyo kadipaten."
Dua orang pemuda itu cepat menyembah dan menghaturkan terima kasih. Semenjak hari itu, mereka berdua bertugas sebagai prajurit jogoboyo yang menjaga keamanan kadipaten Pasisiran. Adipati Kertajaya hendak menjamu Endang Patibroto, akan tetapi wanita ini menolak.
"Saya masih mempunyai banyak keperluan dan harus melanjutkan perjalanan sekarang juga. Akan tetapi ada satu hal yang ingin kutanyakan kepada Sang Adipati dan siapa tahu andika dapat membantu dalam urusan ini."
Adipati Kertajaya tersenyum dan menjawab.
"Dengan sepenuh hati kami siap membantu Gusti Puteri. Apakah hal yang ingin andika tanyakan itu?"
"Saya sedang mencari putera puteriku yang melakukan perjalanan merantau. Puteraku itu bernama Bagus Seta dan puteriku bernama Retna Wilis. Apakah mereka itu lewat dan singgah di kadipaten ini?"

Adipati Kertajaya mengerutkan alisnya.
"Saya sendiri tidak pernah mendengar nama-nama itu, akan tetapi akan saya umumkan dan tanyakan kepada semua prajurit kalau-kalau di antara mereka ada yang bertemu dengan kedua orang putera puteri andika itu."
Adipati Kertajaya segera mengutus perwira untuk mengumumkan pertanyaan itu dan sementara menanti jawaban mereka, Endang Patibroto dipersilakan menunggu dan dijamu makan oleh sang adipati bersama seluruh keluarganya. Hanya Lembu Alun dan Lembu Tirta yang tidak ikut dalam perjamuan itu karena mereka mulai hari itu sudah harus bertugas sebagai prajurit jogoboyo. Dalam perjamuan itu Endang Patibroto banyak mendapat keterangan dari Adipati Kertajaya tentang pergolakan di timur. Pasisiran sendiri merupakan daerah kekuasaan Jenggala dan selama ini kadipaten ini selalu patuh kepada Jenggala.
"Mula-mula kadipaten di Nusabarung yang memperlihatkan tanda hendak menentang kekuasaan Kerajaan Jenggala, akan tetapi kemudian kami mendengar bahwa Nusabarung bersekutu dengan Blambangan. Mereka telah memperkuat diri dan mempersiapkan pasukan besar untuk melawan pasukan Jenggala. Kami sendiri khawatir kalau kalau kami terseret karena kami berada ditengah-tengah antara Blambangan dan Jenggala," demikian antara lain Adipati Kertajaya memberi keterangan.
Mendengar ini semakin kuat keinginan hati Endang Patibroto untuk melakukan penyelidikan ke daerah yang bergolak itu. Kemudian, datang laporan dari para perwira yang mengatakan bahwa tidak ada seorangpun di antara prajurit yang mendengar tentang Bagus Seta dan Retna Wilis Mendengar laporan itu, Endang Patibroto menjadi kecewa dan iapun segera berpamit dari keluarga Adipati Kertajaya. Ketika Endang Patibroto berpamit darinya, Jarot kembali mengucapkan banyak terima kasih.
"Bantuan kanjeng bibi sungguh merupakan budi yang besar. Mudah-mudahan saja kelak saya akan dapat membalas budi itu."
Endang Patibroto tersenyum dan memandang pemuda itu dengan senang karena ia tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang baik hati dan bijaksana, di samping memiliki ilmu kanuragan yang cukup tangguh.
"Jangan bicara tentang budi, anakmas Jarot. Saya tidak mengharapkan balasan apapun juga, hanya saya mengharap agar kelak kalau andika sudah menggantikan ramandamu menjadi adipati, bertindaklah yang adil dan bijaksana terhadap rakyatmu."
Endang Patibroto segera melanjutkan perjalanannya menuju ke timur untuk mencari jejak puterinya dan juga untuk menyelidiki daerah yang bergolak itu.

Nusa Barung adalah sebuah pulau di lautan Kidul yang cukup besar. Di pulau itu terdapat seorang penguasa yang menyebut dirinya Adipati Martimpang yang kekuasaannya bukan hanya di atas pulau Nusa Barung, melainkan sampai ke daratan pantai Laut Kidul. Adipati Martimpang berhasil menjadi penguasa yang berpengaruh dan ditakuti. Dia juga menghimpun pasukan yang tidak kurang dari seribu orang jumlahnya, sebagian dari pasukannya berjaga di daratan pantai pulau Jawa bagian selatan itu. Dia juga mempunyai lima orang senopati yang terkenal gagah perkasa dan berbadan seperti raksasa. Adipati Martimpang sendiri adalah seorang laki-laki tinggi besar berkulit hitam dan wajahnya menyeramkan, sama sekali tidak dapat dibilang tampan. Akan tetapi dia memiliki belasan orang isteri yang cantik-cantik. Tidak mengherankan kalau dia juga mempunyai seorang anak perempuan yang cantik jelita seperti ibunya dan diberi nama Dyah Candramanik. Gadis ini sudah berusia tujuh belas tahun dan tidak ada pemuda di Nusabarung yang tidak tergila-gila kepada puteri adipati ini. Adipati Martimpang sendiri amat membanggakan puterinya. Akan tetapi siapakah yang berani mencoba untuk menundukkan hati Dyah Candramanik? Mereka gentar terhadap ayahnya. Karena itulah maka sampai berusia tujuh belas tahun, belum ada pria yang berani meminangnya. Tentu saja Adipati Martimpang mempunyai cita-cita besar terhadap puterinya yang dibanggakannya ini. Dia berkeinginan agar puterinya mendapatkan jodoh seorang raja yang masih muda dan yang kaya raya serta besar kekuasaannya.

<<< Bagian 07                                                                                         Bagian 09 >>>

No comments:

Post a Comment