Sepasang Garuda Putih ; Bagian 09


Atau setidaknya seorang ksatria yang sakti mandraguna dari keturunan orang terkenal. Karena itu jangan harap ada seorang pemuda biasa di Nusabarung mampu mempersunting bunga yang indah harum itu. Untuk menguji kesaktian orang yang berani meminang, Sang Adipati mengadakan sayembara tanding. Siapa yang dapat mengalahkan seorang di antara lima orang senopatinya, yang bernama Wisokolo, dialah yang patut menjadi jodoh putrinya. Akan tetapi sebelum bertanding melawan Wisokolo yang sakti, orang itu harus dapat menunjukkan bahwa dia putera seorang yang terkenal, pendeknya bukan pemuda keturunan orang biasa.

Karena syaratnya yang begitu berat, menandingi Ki Wisokolo, maka sampai berbulan-bulan setelah sayembara diumumkan, masih belum juga ada yang berani memasuki sayembara. Syarat itu begitu berat. Siapa yang berani menandingi Ki Wisokolo yang terkenal digdaya itu? Salah-salah tulang-tulang bisa patah-patah atau kepala bisa remuk! Adipati Martimpang menjadi kecewa sekali, lalu menambah hadiah sayembara itu. Kalau ada orang yang lulus sayembara, bukan saja pemuda itu akan mempersunting Dyah Candramanik, bahkan akan diangkat menjadi calon adipati, menggantikan kedudukan Adipati Martimpang kalau dia sudah mengundurkan diri. Hal ini adalah sewajarnya karena sang adipati tidak mempunyai putera pria. Semua anaknya yang berjumlah tujuh orang adalah perempuan. Dyah Candramanik merupakan anak sulung dan yang paling cantik di antara saudara-saudaranya.
Berita tentang sayembara yang berhadiah besar ini tersebar luar sampai ke daerah-daerah lain. Maka berdatanganlah orang-orang muda dari segala penjuru untuk memasuki sayembara dan mengadu nasib. Mereka itu berdatangan dari Blambangan, daerah-daerah pantai utara dan timur, Probolinggo, Besuki, bahkan ada yang datang dari Madura dan Bali-dwipa!
Pada hari yang ditentukan, berkumpullah lima orang pemuda yang tampak gagah perkasa di Nusabarung, kemudian muncul pula dua orang pemuda yang tampak lemah lembut. Dua orang pemuda ini bukan lain adalah Bagus Seta dan Retna Wilis! Ketika Retna Wilis mendengar berita tentang diadakannya sayembara tanding di Nusabarung, ia segera berkata kepada kakaknya,
"Kakang Bagus, mari kita ikuti sayembara itu!"
Bagus Seta tersenyum memandang adiknya yang nakal.
"Aku tidak ingin mencari jodoh, diajeng. Untuk apa aku mengikuti sayembara itu?"
"Biar aku yang memasuki sayembara, engkau hanya menjadi penonton saja."
"Heh-heh, engkau ini aneh-aneh saja. Engkau seorang gadis, bagaimana hendak memasuki sayembara tanding yang hadiahnya seorang puteri itu? Apakah engkau ingin menikah dengan sesama wanita?"
"Tentu saja tidak, kakangmas. Akan tetapi ini merupakan kesempatan baik sekali bagi kita untuk memasuki Nusabarung. Dalam keadaan biasa kita masuk ke sana tentu akan menimbulkan kecurigaan sehingga gerakan kita kurang leluasa. Kita sudah mendengar desas-desus bahwa Nusabarung sedang bergolak dan timbul dugaan bahwa mereka hendak memberontak terhadap Jenggala. Kiranya sudah menjadi kewajiban kita untuk menyelidiki keadaan di sana. Dan kesempatan ini amat baik. Kalau kita ikut menjadi peserta sayembara, tentu kita akan dapat menyelidiki dengan mudah tanpa menimbulkan kecurigaan. Bukankah engkau pikir begitu, kakangmas?"
"Akan tetapi engkau seorang perempuan, bagaimana engkau akan ikut dalam sayembara itu, diajeng?"
"Ah, hal itu mudah saja, kakangmas. Apa sih sukarnya menjadi pria sebentar? Kan yang membedakan hanya pakaiannya saja. Aku dapat menyamar menjadi pria tentu saja dan tak seorangpun akan mengetahui akan hal itu."
"Menyamar sebagai pria? Ah, engkau nakal, diajeng."
"Bagaimana lagi kalau tidak mengambil cara itu, kakangmas? Sebetulnya, lebih baik kalau engkau yang mengikuti sayembara, akan tetapi kalau engkau tidak mau, terpaksa aku yang maju."
"Jangan main-main, diajeng. Bagaimana kalau engkau nanti mendapat kemenangan keluar sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah puteri itu?"
"Kalau begitu, biarlah puteri itu kuhadiahkan kepadamu, kakangmas!"
"Hussh, mana boleh begitu? Aku tidak mempunyai niat sama sekali untuk menikah dan pula, mana mungkin diperbolehkan kalau si pemenang memberikan hadiahnya kepada orang lain ? Kita berdua tentu akan mendapat kesulitan."
"Kalau begitu, biar aku mengalah saja, kakangmas. Yang penting kita diperkenankan masuk tanpa dicurigai."
"Engkau dapat masuk sebagai peserta, akan tetapi aku tidak, kalau begitu sebaiknya engkau saja yang masuk untuk mengikuti sayembara, dan aku akan masuk sebagai pelancong biasa dan mengamati engkau dari jauh."
"Begitu juga boleh, kakang. Akan tetapi engkau harus berjanji tidak akan meninggalkan aku seorang diri."

Bagus Seta kembali tersenyum dan memandang wajah adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Ah, diajeng Retna. Engkau seperti anak kecil saja. Seorang dara gagah perkasa seperti engkau ini, yang sudah biasa bertualang dan malang melintang di dunia, kenapa sekarang menjadi penakut, takut ditinggal seorang diri?"
"Aku tidak takut akan bahaya yang mengancam diriku, kakang Bagus. Aku takut kepada diriku sendiri. Dahulu aku bisa malang melintang, menurutkan kehendakku sendiri, menghancurkan mereka yang menjadi lawanku. Aku tidak mengenal apa artinya baik dan buruk, bahkan sampai sekarangpun aku masih bingung membedakan antara baik dan buruk. Aku membutuhkan bimbinganmu, kakang, maka aku takut kalau kautinggal pergi."
"Aku tidak akan meninggalkanmu sebelum tiba saatnya, Retna. Akan tetapi jangan lupa, engkau harus mengalah dalam sayembara, pura-pura kalah. Kalau engkau keluar sebagai pemenang, tentu engkau hanya akan menghadapi kesulitan, harus menikah dengan puteri Adipati Martimpang dari Nusabarung."
"Aku mengerti, kakangmas. Aku akan berpura-pura kalah dan aku akan menyelidiki keadaan Nusabarung dari para peserta sayembara. Kabarnya malah ada jago dari Nusakambangan yang ikut dalam sayembara. Kalau aku dapat mendekatinya, tentu akan banyak mendengar tentang keadaan di Blambangan. Kalau benar Nusabarung bersekutu dengan Blambangan dan lain-lain kadipaten, aku harus menyelidikinya dan kelak melaporakan kepada Sang Prabu di Jenggala, juga kepada Kanjeng Romo. Aku sudah terlalu banyak mengacau dan mengganggu keamanan Panjalu dan Jenggala, maka sekarang aku harus menebus semua dosa itu. Juga aku akan membantu perjuangan kanjeng Romo."
"Bagus kalau engkau berpikiran begitu, diajeng. Nah, sekarang aku pergi, kita berpisah di sini."
"Baik, kakangmas."

Dua orang muda kakak beradik itu lalu berpisah. Sebelum berpisah Bagus Seta memberikan pakaian pria kepada Retna Wilis, kemudian pemuda itu meninggalkan adiknya. Retna Wilis lalu mencari tempat tersembunyi di dalam sebuah guha untuk berganti pakaian. Pakaiannya dan bekal pakaiannya sendiri ia sembunyikan di dalam guha itu. Setelah keluar dari dalam guha, ia berubah menjadi seorang pemuda. Akan tetapi karena baju yang dipakainya terlalu besar, ia nampak sebagai seorang perjaka remaja tanggung! Iapun berangkat menuju Nusabarung, membayar seorang tukang perahu yang mau menyeberangkannya ke pulau itu. Ia tahu bahwa kakaknya tentu juga akan menyewa perahu untuk melakukan penyeberangan ke Nusabarung.
"Anakmas, apakah andika pergi ke Nusabarung untuk menonton keramaian sayembara?" tanya tukang perahu yang setengah tua itu.
"Benar, paman," jawab Retna Wilis, membenarkan saja agar tidak lagi orang banyak bertanya. "Paman, aku melihat di pantai tadi banyak prajurit melakukan penjagaan, apakah mereka itu prajurit Nusabarung?"
Tukang perahu menghela napas panjang.
"Agaknya anakmas bukan orang sini, ini mudah diduga mendengar cara anakmas bicara dan bertanya tentang prajurit itu. Memang benar, mereka itu prajurit-prajurit dari Nusabrung yang akhir-akhir ini terdapat banyak di pantai, bahkan mereka mempunyai perkemahan di pantai. Biasanya, para petugas itu selalu memeriksa setiap orang yang hendak menyeberang ke Nusabarung, akan tetapi karena adanya sayembara itu, mereka tidak lagi memeriksa dan banyak orang pergi ke Nusabarung dibiarkan saja. Kalau lain waktu andika lewat di sini, tentu tidak lepas dari pemeriksaan mereka."
"Apa saja yang diperiksa, paman? Mengapa pula orang lewat harus diperiksa?"
"Aku sendiri tidak tahu, anakmas. Hanya kabarnya, mereka itu memeriksa untuk mencari mata-mata musuh."
Retna Wilis merasa lega bahwa ia meninggalkan pedang pusakanya di dalam guha tadi. Kalau ia membawa pedang, mungkin saja ia akan mengalami pemeriksaan oleh prajurit-prajurit tadi.
"Apakah Nusabarung mempunyai musuh, paman? Apakah mereka mau berperang?" Retno Wilis bertanya perlahan, seperti orang yang merasa takut kalau-kalau ucapannya didengar orang lain.
"Aku tidak tahu, anakmas. Akan tetapi di mana-mana kini diadakan gerakan, para pria muda diharuskan masuk menjadi prajurit-prajurit."
"Diharuskan?"
"Ya, yang menolak akan dihukum berat. Bahkan ... ” tukang perahu itu mengecilkan suaranya,
"... banyak wanita muda juga mereka bawa."
"Ke mana?"
"Entahlah, akan tetapi yang mereka bawa pergi itu wanita muda yang berwajah cantik."

Kini tampak banyak perahu menyeberang ke dan dari Pulau Nusabarung dan tukang perahu itu menjadi pendiam, agaknya khawatir kalau ucapannya terdengar orang lain. Setelah mendarat di Pulau Nusabarung, Retna Wilis ikut dalam rombongan banyak orang yang juga ingin nonton sayembara tanding. Mereka semua menuju ke alun-alun di depan kadipaten, di mana di dirikan sebuah panggung di mana para pengikut sayembara akan berlaga. Di alun-alun itu telah berkumpul banyak sekali orang yang hendak menonton sayembara. Retna Wilis menyelinap di antara orang banyak dan bertanya kepada seorang laki-laki yang berdiri di sebelah kirinya.
"Ki sanak, apa sajakah yang dipertandingkan dalam sayembara ini?" ia bertanya sambil lalu seperti seorang penonton yang ingin tahu.
Orang itu memandang kepada Retna Wilis.
"Agaknya andika datang dari pesisir maka belum tahu akan hal itu. Pertandingan ada tiga macam. Pertama, calon pengikut harus melalui ujian tenaga, yaitu mengangkat arca raksasa yang berada dipanggung itu."
Retna Wilis melihat sebuah arca yang sebesar manusia dewasa berdiri di atas panggung. Arca itu tentu besar sekali.
"Dan yang kedua?"
"Yang kedua ujian ketangkasan. Setiap peserta harus dapat memanah sasaran di atas itu dengan tepat. Nah, kalau seorang peserta lulus dalam dua ujian itu, barulah dia dihadapkan kepada Ki Wisokolo untuk bertanding dan kalau dia mampu bertahan menandingi Ki Wisokolo sampai hitungan ke seribu, barulah dia dinyatakan menang."
"Siapa Ki Wisokolo?"
Orang itu tersenyum seperti menertawakan pertanyaan yang dianggapnya tolol itu.
"Andika tidak mengenal Ki Wisokolo? Dia adalah senopati nomor satu di Nusabarung, jagoan yang tak pernah terkalahkan. Karena itu, siapa yang mampu menghadapinya sampai seribu hitungan, dia benar benar tangguh dan akan keluar sebagai pemenangnya."
"Ah, begitukah? Aku mendengar yang disayembarakan adalah puteri Gusti Adipati, apakah ia seorang gadis yang cantik?"
Kembali orang itu tersenyum lebar.
"Ah-ah, siapa yang tidak tergila-gila kepada Sang Dyah Ayu Candramanik? Ia cantik jelita seperti dewi dari kahyangan, kalau bernyanyi suaranya merdu melebihi burung perkutut yang paling baik dan kalau ia menari, wah, seperti bidadari."
"Siapakah yang telah mendaftarkan diri sebagai pengikut sayembara?"
“Andika lihat di sana itu, di sebelah kanan panggung. Di sanalah orang yang hendak memasuki sayembara didaftar. Nah, itu beberapa orang pria sudah mendaftar."
"Terima kasih, ki sanak," kata Retna Wilis dan iapun lalu melangkah menuju ke tempat itu.
"Hei, engkau hendak ke mana?" tanya orang tadi heran.
"Hendak mendaftarkan diri sebagai pengikut sayembara, apa lagi?" jawab Retna Wilis sambil tersenyum dan orang itu tertegun. Pemuda remaja itu memang tampan sekali. Akan tetapi dengan tubuhnya yang kecil dan tampak lemah itu bagaimana hendak mengikuti sayembara? Hampir dia tertawa membayangkan pemuda remaja itu mencoba mengangkat arca besar itu, lebih besar dari tubuh pemuda remaja itu sendiri!

Dengan langkah tegap Retna Wilis menghampiri meja di mana tiga orang perwira duduk menerima pendaftaran. Dan mereka yang sudah mendaftarkan diri sebagai pengikut sudah berkumpul di bawah panggung.

<<< Bagian 08                                                                                         Bagian 10 >>>

No comments:

Post a Comment