Atau setidaknya seorang ksatria yang sakti mandraguna dari keturunan orang terkenal. Karena itu jangan harap ada seorang pemuda biasa di Nusabarung mampu mempersunting bunga yang indah harum itu. Untuk menguji kesaktian orang yang berani meminang, Sang Adipati mengadakan sayembara tanding. Siapa yang dapat mengalahkan seorang di antara lima orang senopatinya, yang bernama Wisokolo, dialah yang patut menjadi jodoh putrinya. Akan tetapi sebelum bertanding melawan Wisokolo yang sakti, orang itu harus dapat menunjukkan bahwa dia putera seorang yang terkenal, pendeknya bukan pemuda keturunan orang biasa.
Karena
syaratnya yang begitu berat, menandingi Ki Wisokolo, maka sampai berbulan-bulan
setelah sayembara diumumkan, masih belum juga ada yang berani memasuki
sayembara. Syarat itu begitu berat. Siapa yang berani menandingi Ki Wisokolo
yang terkenal digdaya itu? Salah-salah tulang-tulang bisa patah-patah atau
kepala bisa remuk! Adipati Martimpang menjadi kecewa sekali, lalu menambah
hadiah sayembara itu. Kalau ada orang yang lulus sayembara, bukan saja pemuda
itu akan mempersunting Dyah Candramanik, bahkan akan diangkat menjadi calon
adipati, menggantikan kedudukan Adipati Martimpang kalau dia sudah mengundurkan
diri. Hal ini adalah sewajarnya karena sang adipati tidak mempunyai putera
pria. Semua anaknya yang berjumlah tujuh orang adalah perempuan. Dyah
Candramanik merupakan anak sulung dan yang paling cantik di antara
saudara-saudaranya.
Berita tentang
sayembara yang berhadiah besar ini tersebar luar sampai ke daerah-daerah lain.
Maka berdatanganlah orang-orang muda dari segala penjuru untuk memasuki
sayembara dan mengadu nasib. Mereka itu berdatangan dari Blambangan,
daerah-daerah pantai utara dan timur, Probolinggo, Besuki, bahkan ada yang
datang dari Madura dan Bali-dwipa!
Pada hari yang
ditentukan, berkumpullah lima orang pemuda yang tampak gagah perkasa di
Nusabarung, kemudian muncul pula dua orang pemuda yang tampak lemah lembut. Dua
orang pemuda ini bukan lain adalah Bagus Seta dan Retna Wilis! Ketika Retna
Wilis mendengar berita tentang diadakannya sayembara tanding di Nusabarung, ia
segera berkata kepada kakaknya,
"Kakang
Bagus, mari kita ikuti sayembara itu!"
Bagus Seta
tersenyum memandang adiknya yang nakal.
"Aku
tidak ingin mencari jodoh, diajeng. Untuk apa aku mengikuti sayembara
itu?"
"Biar aku
yang memasuki sayembara, engkau hanya menjadi penonton saja."
"Heh-heh,
engkau ini aneh-aneh saja. Engkau seorang gadis, bagaimana hendak memasuki
sayembara tanding yang hadiahnya seorang puteri itu? Apakah engkau ingin
menikah dengan sesama wanita?"
"Tentu
saja tidak, kakangmas. Akan tetapi ini merupakan kesempatan baik sekali bagi
kita untuk memasuki Nusabarung. Dalam keadaan biasa kita masuk ke sana tentu
akan menimbulkan kecurigaan sehingga gerakan kita kurang leluasa. Kita sudah
mendengar desas-desus bahwa Nusabarung sedang bergolak dan timbul dugaan bahwa
mereka hendak memberontak terhadap Jenggala. Kiranya sudah menjadi kewajiban
kita untuk menyelidiki keadaan di sana. Dan kesempatan ini amat baik. Kalau
kita ikut menjadi peserta sayembara, tentu kita akan dapat menyelidiki dengan
mudah tanpa menimbulkan kecurigaan. Bukankah engkau pikir begitu, kakangmas?"
"Akan
tetapi engkau seorang perempuan, bagaimana engkau akan ikut dalam sayembara
itu, diajeng?"
"Ah, hal
itu mudah saja, kakangmas. Apa sih sukarnya menjadi pria sebentar? Kan yang
membedakan hanya pakaiannya saja. Aku dapat menyamar menjadi pria tentu saja
dan tak seorangpun akan mengetahui akan hal itu."
"Menyamar
sebagai pria? Ah, engkau nakal, diajeng."
"Bagaimana
lagi kalau tidak mengambil cara itu, kakangmas? Sebetulnya, lebih baik kalau
engkau yang mengikuti sayembara, akan tetapi kalau engkau tidak mau, terpaksa
aku yang maju."
"Jangan
main-main, diajeng. Bagaimana kalau engkau nanti mendapat kemenangan keluar
sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah puteri itu?"
"Kalau
begitu, biarlah puteri itu kuhadiahkan kepadamu, kakangmas!"
"Hussh,
mana boleh begitu? Aku tidak mempunyai niat sama sekali untuk menikah dan pula,
mana mungkin diperbolehkan kalau si pemenang memberikan hadiahnya kepada orang
lain ? Kita berdua tentu akan mendapat kesulitan."
"Kalau
begitu, biar aku mengalah saja, kakangmas. Yang penting kita diperkenankan
masuk tanpa dicurigai."
"Engkau
dapat masuk sebagai peserta, akan tetapi aku tidak, kalau begitu sebaiknya
engkau saja yang masuk untuk mengikuti sayembara, dan aku akan masuk sebagai
pelancong biasa dan mengamati engkau dari jauh."
"Begitu
juga boleh, kakang. Akan tetapi engkau harus berjanji tidak akan meninggalkan
aku seorang diri."
Bagus Seta
kembali tersenyum dan memandang wajah adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Ah,
diajeng Retna. Engkau seperti anak kecil saja. Seorang dara gagah perkasa
seperti engkau ini, yang sudah biasa bertualang dan malang melintang di dunia,
kenapa sekarang menjadi penakut, takut ditinggal seorang diri?"
"Aku
tidak takut akan bahaya yang mengancam diriku, kakang Bagus. Aku takut kepada
diriku sendiri. Dahulu aku bisa malang melintang, menurutkan kehendakku
sendiri, menghancurkan mereka yang menjadi lawanku. Aku tidak mengenal apa
artinya baik dan buruk, bahkan sampai sekarangpun aku masih bingung membedakan
antara baik dan buruk. Aku membutuhkan bimbinganmu, kakang, maka aku takut
kalau kautinggal pergi."
"Aku
tidak akan meninggalkanmu sebelum tiba saatnya, Retna. Akan tetapi jangan lupa,
engkau harus mengalah dalam sayembara, pura-pura kalah. Kalau engkau keluar
sebagai pemenang, tentu engkau hanya akan menghadapi kesulitan, harus menikah
dengan puteri Adipati Martimpang dari Nusabarung."
"Aku
mengerti, kakangmas. Aku akan berpura-pura kalah dan aku akan menyelidiki
keadaan Nusabarung dari para peserta sayembara. Kabarnya malah ada jago dari
Nusakambangan yang ikut dalam sayembara. Kalau aku dapat mendekatinya, tentu
akan banyak mendengar tentang keadaan di Blambangan. Kalau benar Nusabarung
bersekutu dengan Blambangan dan lain-lain kadipaten, aku harus menyelidikinya
dan kelak melaporakan kepada Sang Prabu di Jenggala, juga kepada Kanjeng Romo.
Aku sudah terlalu banyak mengacau dan mengganggu keamanan Panjalu dan Jenggala,
maka sekarang aku harus menebus semua dosa itu. Juga aku akan membantu
perjuangan kanjeng Romo."
"Bagus
kalau engkau berpikiran begitu, diajeng. Nah, sekarang aku pergi, kita berpisah
di sini."
"Baik,
kakangmas."
Dua orang muda
kakak beradik itu lalu berpisah. Sebelum berpisah Bagus Seta memberikan pakaian
pria kepada Retna Wilis, kemudian pemuda itu meninggalkan adiknya. Retna Wilis
lalu mencari tempat tersembunyi di dalam sebuah guha untuk berganti pakaian.
Pakaiannya dan bekal pakaiannya sendiri ia sembunyikan di dalam guha itu.
Setelah keluar dari dalam guha, ia berubah menjadi seorang pemuda. Akan tetapi
karena baju yang dipakainya terlalu besar, ia nampak sebagai seorang perjaka
remaja tanggung! Iapun berangkat menuju Nusabarung, membayar seorang tukang
perahu yang mau menyeberangkannya ke pulau itu. Ia tahu bahwa kakaknya tentu
juga akan menyewa perahu untuk melakukan penyeberangan ke Nusabarung.
"Anakmas,
apakah andika pergi ke Nusabarung untuk menonton keramaian sayembara?"
tanya tukang perahu yang setengah tua itu.
"Benar,
paman," jawab Retna Wilis, membenarkan saja agar tidak lagi orang banyak
bertanya. "Paman, aku melihat di pantai tadi banyak prajurit melakukan
penjagaan, apakah mereka itu prajurit Nusabarung?"
Tukang perahu
menghela napas panjang.
"Agaknya
anakmas bukan orang sini, ini mudah diduga mendengar cara anakmas bicara dan
bertanya tentang prajurit itu. Memang benar, mereka itu prajurit-prajurit dari
Nusabrung yang akhir-akhir ini terdapat banyak di pantai, bahkan mereka
mempunyai perkemahan di pantai. Biasanya, para petugas itu selalu memeriksa
setiap orang yang hendak menyeberang ke Nusabarung, akan tetapi karena adanya
sayembara itu, mereka tidak lagi memeriksa dan banyak orang pergi ke Nusabarung
dibiarkan saja. Kalau lain waktu andika lewat di sini, tentu tidak lepas dari
pemeriksaan mereka."
"Apa saja
yang diperiksa, paman? Mengapa pula orang lewat harus diperiksa?"
"Aku
sendiri tidak tahu, anakmas. Hanya kabarnya, mereka itu memeriksa untuk mencari
mata-mata musuh."
Retna Wilis
merasa lega bahwa ia meninggalkan pedang pusakanya di dalam guha tadi. Kalau ia
membawa pedang, mungkin saja ia akan mengalami pemeriksaan oleh
prajurit-prajurit tadi.
"Apakah
Nusabarung mempunyai musuh, paman? Apakah mereka mau berperang?" Retno
Wilis bertanya perlahan, seperti orang yang merasa takut kalau-kalau ucapannya
didengar orang lain.
"Aku
tidak tahu, anakmas. Akan tetapi di mana-mana kini diadakan gerakan, para pria
muda diharuskan masuk menjadi prajurit-prajurit."
"Diharuskan?"
"Ya, yang
menolak akan dihukum berat. Bahkan ... ” tukang perahu itu mengecilkan
suaranya,
"...
banyak wanita muda juga mereka bawa."
"Ke
mana?"
"Entahlah,
akan tetapi yang mereka bawa pergi itu wanita muda yang berwajah cantik."
Kini tampak
banyak perahu menyeberang ke dan dari Pulau Nusabarung dan tukang perahu itu
menjadi pendiam, agaknya khawatir kalau ucapannya terdengar orang lain. Setelah
mendarat di Pulau Nusabarung, Retna Wilis ikut dalam rombongan banyak orang
yang juga ingin nonton sayembara tanding. Mereka semua menuju ke alun-alun di
depan kadipaten, di mana di dirikan sebuah panggung di mana para pengikut
sayembara akan berlaga. Di alun-alun itu telah berkumpul banyak sekali orang
yang hendak menonton sayembara. Retna Wilis menyelinap di antara orang banyak
dan bertanya kepada seorang laki-laki yang berdiri di sebelah kirinya.
"Ki
sanak, apa sajakah yang dipertandingkan dalam sayembara ini?" ia bertanya
sambil lalu seperti seorang penonton yang ingin tahu.
Orang itu
memandang kepada Retna Wilis.
"Agaknya
andika datang dari pesisir maka belum tahu akan hal itu. Pertandingan ada tiga
macam. Pertama, calon pengikut harus melalui ujian tenaga, yaitu mengangkat
arca raksasa yang berada dipanggung itu."
Retna Wilis
melihat sebuah arca yang sebesar manusia dewasa berdiri di atas panggung. Arca
itu tentu besar sekali.
"Dan yang
kedua?"
"Yang
kedua ujian ketangkasan. Setiap peserta harus dapat memanah sasaran di atas itu
dengan tepat. Nah, kalau seorang peserta lulus dalam dua ujian itu, barulah dia
dihadapkan kepada Ki Wisokolo untuk bertanding dan kalau dia mampu bertahan
menandingi Ki Wisokolo sampai hitungan ke seribu, barulah dia dinyatakan menang."
"Siapa Ki
Wisokolo?"
Orang itu
tersenyum seperti menertawakan pertanyaan yang dianggapnya tolol itu.
"Andika
tidak mengenal Ki Wisokolo? Dia adalah senopati nomor satu di Nusabarung,
jagoan yang tak pernah terkalahkan. Karena itu, siapa yang mampu menghadapinya
sampai seribu hitungan, dia benar benar tangguh dan akan keluar sebagai
pemenangnya."
"Ah,
begitukah? Aku mendengar yang disayembarakan adalah puteri Gusti Adipati,
apakah ia seorang gadis yang cantik?"
Kembali orang
itu tersenyum lebar.
"Ah-ah,
siapa yang tidak tergila-gila kepada Sang Dyah Ayu Candramanik? Ia cantik
jelita seperti dewi dari kahyangan, kalau bernyanyi suaranya merdu melebihi
burung perkutut yang paling baik dan kalau ia menari, wah, seperti
bidadari."
"Siapakah
yang telah mendaftarkan diri sebagai pengikut sayembara?"
“Andika lihat
di sana itu, di sebelah kanan panggung. Di sanalah orang yang hendak memasuki
sayembara didaftar. Nah, itu beberapa orang pria sudah mendaftar."
"Terima
kasih, ki sanak," kata Retna Wilis dan iapun lalu melangkah menuju ke
tempat itu.
"Hei,
engkau hendak ke mana?" tanya orang tadi heran.
"Hendak
mendaftarkan diri sebagai pengikut sayembara, apa lagi?" jawab Retna Wilis
sambil tersenyum dan orang itu tertegun. Pemuda remaja itu memang tampan
sekali. Akan tetapi dengan tubuhnya yang kecil dan tampak lemah itu bagaimana
hendak mengikuti sayembara? Hampir dia tertawa membayangkan pemuda remaja itu
mencoba mengangkat arca besar itu, lebih besar dari tubuh pemuda remaja itu
sendiri!
Dengan langkah
tegap Retna Wilis menghampiri meja di mana tiga orang perwira duduk menerima
pendaftaran. Dan mereka yang sudah mendaftarkan diri sebagai pengikut sudah
berkumpul di bawah panggung.
<<< Bagian 08 Bagian 10 >>>
No comments:
Post a Comment