Mula-mula tangan kanannya yang mengangkat arca itu, lalu dilontarkannya ke atas, diterimanya dengan tangan kiri dan ia membawa arca itu berkeliling panggung, bukan satu kali, melainkan tiga kali! Setelah suasana hening sejenak dan orang-orang memandang dengan mata terbelalak tidak percaya, baru setelah Retna Wilis meletakkan kembali arca ditempat semula, pecah sorak sorai yang riuh rendah menggetarkan seluruh alun-alun itu. Bahkan Sang Adipati, isterinya dan Dyah Candramanik juga ikut pula bertepuk tangan. Wajah Dyah Candramanik berseri-seri dan kedua telapak tangannya sampai terasa panas karena ia bertepuk keras-keras dan lama. Suara juru bicara hampir tertelan oleh sisa sorak sorai gemuruh itu.
"Peserta
ke sepuluh, Joko Wilis, dinyatakan berhasil dengan ujian kekuatan dan ia
dipersilakan turun dulu dari panggung. Dengan demikian, yang berhasil lulus
tingkat pertama ada lima orang peserta sayembara. Sekarang tiba saatnya
diadakan ujian tingkat kedua bagi lima orang yang telah lulus tadi. Dimulai
dari peserta pertama, Kalinggo dari Blambangan, untuk memperlihatkan
ketangkasannya melepas anak panah agar mengenai sasaran, yaitu buah kelapa yang
berada di ujung bambu. Diharapkan para peserta dapat meruntuhkan buah kelapa
sehingga jatuh ke bawah, dan sedikitnya anak panah harus mengenai buah kelapa,
baru di anggap lulus!"
Dengan
sikapnya yang sombong, Kalinggo naik pula ke atas panggung. Dia memilih busur
yang terbesar dan terberat karena busur seperti itu, makin berat semakin baik
dan semakin cepat meluncurkan anak panah. Diapun memilih sebatang anak panah
yang lurus, kemudian memasang anak panah pada busurnya dan mulailah dia
membidik ke atas, ke arah buah kelapa yang tergantung di ujung bambu. Ada
sepuluh buah kelapa yang tergantung di sepuluh batang pohon bambu. Dia memilih
yang terdekat dan setelah membidik beberapa saat, dia lalu melepaskan tali
busurnya. Anak panah itu melesat dengan cepat sekali dan menancap di buah
kelapa itu, persis di tengah-tengahnya! Sorak sorai menyambut keberhasilan ini
dan dengan mengangkat dada Kalinggo menuruni panggung. Dua orang peserta
berturut-turut mencoba dan mereka hanya berhasil mengenai buah kelapa pada
sisinya karena buah kelapa itu bergoyang-goyang ketika batang bambu tertiup
angin. Mereka dinyatakan gagal karena sedikitnya harus dapat mengenai buah
kelapa tepat di tengah-tengahnya. Kini tiba giliran Ngurah Pranawa, pemuda dari
Bali-dwipa. Dia memegang busur seperti seorang ahli, bidikannya tetap,
tangannya tidak bergoyang sedikitpun dan ketika anak panahnya melesat, anak
panah itu pun telah menusuk sebutir kelapa tepat di tengahnya. Jadi ada dua
orang yang sudah berhasil lulus ujian kedua. Ketika nama Joko Wilis disebut
dipersilakan naik, para penonton kini tidak ada yang menertawakannya, bahkan
mereka bersorak sorai menyambut karena dalam pandangan mereka, Joko Wilis kini
menjadi yang terhebat di antara mereka semua. Sambutan para penonton ini
membanggakan hati dan membesarkan semangat Retna Wilis untuk menang. Akan ia
perlihatkan sekali lagi kehebatannya, pikirnya, agar jangan ada lagi orang
berani memandang rendah kepadanya! Ia memilih gendewa yang kecil saja, lalu
memasang dua batang anak panah pada busurnya, membidik cepat dan begitu dua
batang anak panah melesat ke atas, semua orang memandang dan menahan napas dan
kembali mereka bersorak sorai ketika melihat dua butir buah kelapa jatuh dari
puncak batang-batang bambu. Ternyata sekali melepas dua anak panah, Joko Wilis
telah dapat menjatuhkan dua butir buah kelapa, dua batang anak panah itu tepat
mengenai tangkai buah kelapa!
Kembali Dyah
Candramanik bertepuk tangan sampai terasa panas dan kelelahan. Juga Sang
Adipati mengangguk-angguk dan harus memuji ketangkasan pemuda remaja itu. Suara
juru bicara tidak terdengar sama sekali, lenyap ditelan sorak sorai yang
menggegap gempita. Baru setelah sorak sorai mereda dan Retna Wilis sudah turun
kembali dari panggung, juru bicara mengumumkan hasil ujian itu.
"Peserta
Joko Wilis telah lulus dengan sempurna sekali. Kini yang telah lulus dari uji
kekuatan dan ketangkasan terdapat tiga orang, yaitu Kalinggo dari Blambangan,
Ngurah Pranawa dari Bali-dwipa, dan Joko Wilis dari Gunung Wilis. Dan sekarang
tiba saatnya bagi mereka untuk menghadapi ujian terakhir, yaitu masing-masing
harus mampu bertahan melayani berkelahi dengan Ki Wisokolo selama hitungan
sampai seribu. Dalam uji tanding ini, tidak boleh menggunakan senjata dan
apabila terjadi ada yang terluka atau bahkan tewas dalam pertandingan ini, hal
itu sudah dianggap wajar dan tidak akan diadakan pengadilan. Kita mulai dari
peserta pertama, Kalinggo dari Blambangan!"
Ki Wisokolo
sudah menanti di atas panggung. Seorang laki-laki berusia kurang lebih empat
puluh tahun, tinggi besar seperti Werkudara, kumisnya melintang sekepal
sebelah, pundaknya bidang, kedua lengannya kekar, demikian pula kedua kakinya.
Inilah senopati nomor satu di Nusabarung, juga jagoan yang tak pernah
terkalahkah! Sambil bersikap tenang Ki Wisokolo menoleh ke arah para penabuh
gamelan dan memberi isyarat agar gamelan dibunyikan. Segera terdengar bunyi
gamelan yang bernada gagah, pengiring perang! Ki Wisokolo berdiri dengan kedua
kaki terpentang lebar, kedua tangan bertolak pinggang dan matanya mencorong
memandang kepada Kalinggo ketika jagoan dari blambangan ini naik ke pentas. Ki
Wisokolo mengangguk ramah kepada Kalinggo karena dia mengenal putera senopati
Blambangan ini, dan dalam hatinya dia sudah condong memenangkan jagoan muda
dari Blambangan ini agar dapat berjodoh dengan Dyah Candramanik. Akan tetapi
bagaimanapun juga, dia harus menguji kepandaian pemuda ini untuk melihat apakah
memang patut menjadi mantu Sang Adipati.
Juru bicara
memberi aba-aba,
"Satu-dua-tiga
, mulai!" dan diapun dengan lantang mulai menghitung,
"Satu-dua-tiga-empat-"
dan seterusnya sementara gamelan dipukul bertalu-talu membuat suasana menjadi
semakin bersemangat.
"Mulailah,
anak mas Kalinggo!" kata Ki Wisokolo dan Kalinggo tidak sungkan-sungkan
lagi segera maju menyerang dengan pukulan yang kuat. Akan tetapi Ki Wisokolo
dengan mudah mengelak sambil membalas dengan sapuan kakinya untuk membuat tubuh
lawan terpelanting. Akan tetapi Kalinggo cukup tangkas untuk mengelak pula.
Kemudian Kalinggo menyerang terus bertubi-tubi, ditangkis atau dielakkan oleh
Ki Wisokolo, bahkan kadang dia menerima pukulan itu dan dengan tubuhnya yang
kebal. Sementara itu, juru bicara terus menghitung dengan suara lantang.
Retna Wilis
ikut nonton pertandingan itu dan ia mengerutkan alisnya. Di sini terjadi kecurangan,
pikirnya. Dari ketangkasannya ketika mengelak dan menangkis, juga kekebalannya,
jelas bahwa tingkat kepandaian Wisokolo jauh lebih tinggi dari pada Kalinggo.
Akan tetapi Ki Wisokolo ini hanya mempertahankan diri saja, jarang sekali
menyerang dan kalau menyerangpun tidak dengan sungguh-sungguh. Jelas tampak
olehnya bahwa Ki Wisokolo agaknya hendak memberi kesempatan kepada Kalinggo
untuk memenangkan sayembara itu! Sementara itu, Kalinggo menjadi penasaran
sekali dan dia mengamuk makin hebat. Segala kepandaian dan tenaganya dikerahkan
untuk menyerang dan merobohkan lawan, namun semua usahanya sia-sia. Sampai
basah seluruh tubuhnya oleh keringat dan sampai hitungan ke delapanratus,
napasnya sudah terengah-engah. Namun dia terus menyerang, walaupun tidak lagi
sehebat tadi. Dalam keadaan ini, kalau Ki Wisokolo hendak merobohkan lawannya,
tentu saja amat mudah. Akan tetapi dia tidak ingin merobohkan lawan yang satu
ini. Ketika hitungan sampai ke seribu, Ki Wisokolo meloncat ke belakang dan
tersenyum menyeringai, memandang kepada Kalinggo yang sudah bermandi keringat
dan napasnya terengah-engah. Akan tetapi dia lulus dan penonton menyambutnya
dengan sorak sorai memuji. Kalinggo mengangkat kedua tangan ke atas saking
gembiranya. Dia lulus ujian, berarti dia telah menang dalam sayembara. Akan
tetapi masih ada dua orang peserta lain! Harus dilihat dulu bagaimana hasil
ujian kedua peserta ini. Menurut peraturan, kalau pemenangnya lebih dari
seorang, maka kedua pemenang itu akan diadu dan siapa yang keluar sebagai pemenang
dialah yang dianggap memenangkan sayembara dan mendapatkan hadiahnya.
"Peserta
Kalinggo telah lulus ujian terakhir, harap menanti di bawah panggung dan kini
dipersilakan peserta Ngurah Pranawa untuk maju menandingi Ki Wisokolo selama
seribu hitungan!"
Ngurah Pranawa
lalu meloncat ke atas panggung, disambut sorak sorai penonton, terutama yang
menjagoi pemuda dari Bali-dwipa ini. Ki Wisokolo sudah siap lagi dan
mempersilakan pemuda Bali itu untuk mulai menyerangnya, sementara juru bicara
mulai menghitung dari satu dan seterusnya. Ngurah Pranawa segera maju
menyerang, disambut dengan tangkisan oleh Ki Wisokolo. Terjadi pertandingan
yang seru seperti juga tadi ketika Ki Wisokolo menguji Kalinggo. Akan tetapi
Retno Wilis melihat bahwa pertandingan kali ini berbeda dari tadi. Kalau tadi
Ki Wisokolo hanya bertahan saja, sekarang dia membalas setiap serangan Ngurah
Pranawa. Retna Wilis tahu bahwa tingkat kepandaian Ngurah Pranawa masih belum
mampu menandingi kepandaian Ki Wisokolo. Biarpun Ngurah Pranawa juga kuat dan
gesit, namun setelah hitungan ke enamratus lebih, tiba-tiba sebuah tendangan
kaki Ki Wisokolo mengenai perutnya dan membuat tubuhnya terpental keluar
panggung. Ngurah Pranawa dapat mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga tidak
terbanting dan dapat jatuh sambil berdiri. Akan tetapi sudah jelas bahwa dia
telah gagal dalam pertandingan itu.
"Peserta
Ngurah Pranawa telah gagal menandingi Ki Wisokolo sampai seribu hitungan. Dan
sekarang tinggal peserta terakhir, yaitu Joko Wilis dipersilakan naik ke panggung
untuk bertanding melawan Ki Wisokolo!"
Belum juga
Retna Wilis naik ke panggung, tepuk sorak sorai penonton sudah menyambut ketika
namanya disebut. Retna Wilis melompat naik ke atas panggung sambil tersenyum.
Ada keraguan dalam hatinya. Mestinya ia mengalah dalam pertandingan ini, akan
tetapi, ia merasa kasihan kalau mengecewakan penonton yang demikian banyak
mendukungnya itu. Setelah berhadapan dengan Ki Wisokolo dan sorak sorai
penonton mereda, Retna Wilis berkata dengan suara lantang kepada Ki Wisokolo,
"Paman,
andika telah dua kali melayani dua orang peserta, tentu telah lelah sekali.
Tidak adil kalau sekarang harus melayani aku pula. Sebaiknya paman beristirahat
dan minum-minum dulu sebelum bertanding lagi."
Ki Wisokolo
tertawa. Dia sama sekali tidak merasa lelah. Untuk apa dia beristirahat? Apa
lagi kalau hanya menghadapi seorang pemuda remaja seperti ini. Dalam segebrakan
saja tentu dia akan mampu merobohkan pemuda ini. Dan dia harus merobohkannya
kalau dia hendak melihat Kalinggo dari Blambangan itu yang menang.
"Ha-ha-ha,
Joko Wilis. Biar harus menghadapi lima orang seperti andikapun aku tidak perlu
beristirahat dulu. Apalagi hanya andika seorang. Jangan-jangan sekali tendang
aku sudah akan melemparkanmu keluar panggung! Ha-ha-ha!"
Merah kedua
pipi Retna Wilis. Ia sudah mengambil keputusan untuk mengalah sekali ini, akan
tetapi ucapan Ki Wisokolo yang sombong itu membuatnya marah sekali. Ia harus
memberi pelajaran kepada manusia sombong ini, pikirnya.
"Hemm,
sombongnya! Kalau aku tidak dapat mengalahkanmu selama hitungan seratus saja,
anggaplah aku kalah!"
Ucapan yang
lantang ini tentu saja membuat semua orang terkejut sekali. Melawan selama
hitungan seribu saja belum tentu dapat menang, sekarang pemuda itu malah
menantang untuk mengalahkan dalam hitungan seratus! Seorang di antara para
penonton, seorang pemuda tampan berpakaian serba putih, mengerutkan alisnya dan
berkata kepada diri sendiri,
"Hemm, ia
mencari penyakit!" Pemuda ini tentu saja adalah Bagus Seta yang merasa
bingung sekali melihat ulah adiknya. Dia maklum bahwa tentu Retna Wilis akan
dapat mengalahkan Ki Wisokolo sebelum hitungan ke seratus, akan tetapi itu
berarti bahwa ia menangkan sayembara dan harus menikah dengan Dyah Candramanik!
Ki Wisokolo
sendiri terperangah mendengar tantangan itu. Dia menganggap pemuda itu sombong
bukan main.
"Bukan
aku, melainkan engkaulah yang akan kurobohkan sebelum seratus hitungan!"
katanya dan segera dia menubruk maju dengan kedua lengan dipentang, seperti
seekor biruang menyerang korbannya.
"Ggrrr
... !" Dari kerongkongannya keluar gerengan seperti seekor binatang buas.
"Haiiiiiitt
... !" Retna Wilis berseri melengking dan tubuhnya sudah lenyap dari depan
Ki Wisokolo.
Raksasa ini
terkejut dan cepat memutar tubuhnya. Ternyata pemuda remaja itu telah berada di
belakangnya dan dia lalu menyerang lagi dengan cepat dan dahsyat. Akan tetapi
lagi-lagi dia menyerang angin karena tubuh Retna Wilis sudah mengelak dengan
cepat. Ki Wisokolo menjadi marah dan menyerang membabi buta, dengan cepat dan
dengan pengerahan seluruh tenaganya. Namun, sambil kadang-kadang melengking
Retna Wilis mengelak dengan gerakan yang indah dan lucu, bagaikan seekor burung
walet yang gesit sekali sehingga semua serangan Ki Wisokolo mengenai angin
belaka. Sementara itu, juru hitung sudah menghitung sampai tigapuluh, dan semua
penonton terpesona oleh gerakan Retna Wilis yang demikian cepatnya. Jangankan
tubuhnya, ujung bajunyapun tidak dapat disentuh oleh Ki Wisokolo yang menjadi
semakin marah.
<<< Bagian 10 Bagian 12 >>>
No comments:
Post a Comment