Sepasang Garuda Putih ; Bagian 11


Mula-mula tangan kanannya yang mengangkat arca itu, lalu dilontarkannya ke atas, diterimanya dengan tangan kiri dan ia membawa arca itu berkeliling panggung, bukan satu kali, melainkan tiga kali! Setelah suasana hening sejenak dan orang-orang memandang dengan mata terbelalak tidak percaya, baru setelah Retna Wilis meletakkan kembali arca ditempat semula, pecah sorak sorai yang riuh rendah menggetarkan seluruh alun-alun itu. Bahkan Sang Adipati, isterinya dan Dyah Candramanik juga ikut pula bertepuk tangan. Wajah Dyah Candramanik berseri-seri dan kedua telapak tangannya sampai terasa panas karena ia bertepuk keras-keras dan lama. Suara juru bicara hampir tertelan oleh sisa sorak sorai gemuruh itu.
"Peserta ke sepuluh, Joko Wilis, dinyatakan berhasil dengan ujian kekuatan dan ia dipersilakan turun dulu dari panggung. Dengan demikian, yang berhasil lulus tingkat pertama ada lima orang peserta sayembara. Sekarang tiba saatnya diadakan ujian tingkat kedua bagi lima orang yang telah lulus tadi. Dimulai dari peserta pertama, Kalinggo dari Blambangan, untuk memperlihatkan ketangkasannya melepas anak panah agar mengenai sasaran, yaitu buah kelapa yang berada di ujung bambu. Diharapkan para peserta dapat meruntuhkan buah kelapa sehingga jatuh ke bawah, dan sedikitnya anak panah harus mengenai buah kelapa, baru di anggap lulus!"

Dengan sikapnya yang sombong, Kalinggo naik pula ke atas panggung. Dia memilih busur yang terbesar dan terberat karena busur seperti itu, makin berat semakin baik dan semakin cepat meluncurkan anak panah. Diapun memilih sebatang anak panah yang lurus, kemudian memasang anak panah pada busurnya dan mulailah dia membidik ke atas, ke arah buah kelapa yang tergantung di ujung bambu. Ada sepuluh buah kelapa yang tergantung di sepuluh batang pohon bambu. Dia memilih yang terdekat dan setelah membidik beberapa saat, dia lalu melepaskan tali busurnya. Anak panah itu melesat dengan cepat sekali dan menancap di buah kelapa itu, persis di tengah-tengahnya! Sorak sorai menyambut keberhasilan ini dan dengan mengangkat dada Kalinggo menuruni panggung. Dua orang peserta berturut-turut mencoba dan mereka hanya berhasil mengenai buah kelapa pada sisinya karena buah kelapa itu bergoyang-goyang ketika batang bambu tertiup angin. Mereka dinyatakan gagal karena sedikitnya harus dapat mengenai buah kelapa tepat di tengah-tengahnya. Kini tiba giliran Ngurah Pranawa, pemuda dari Bali-dwipa. Dia memegang busur seperti seorang ahli, bidikannya tetap, tangannya tidak bergoyang sedikitpun dan ketika anak panahnya melesat, anak panah itu pun telah menusuk sebutir kelapa tepat di tengahnya. Jadi ada dua orang yang sudah berhasil lulus ujian kedua. Ketika nama Joko Wilis disebut dipersilakan naik, para penonton kini tidak ada yang menertawakannya, bahkan mereka bersorak sorai menyambut karena dalam pandangan mereka, Joko Wilis kini menjadi yang terhebat di antara mereka semua. Sambutan para penonton ini membanggakan hati dan membesarkan semangat Retna Wilis untuk menang. Akan ia perlihatkan sekali lagi kehebatannya, pikirnya, agar jangan ada lagi orang berani memandang rendah kepadanya! Ia memilih gendewa yang kecil saja, lalu memasang dua batang anak panah pada busurnya, membidik cepat dan begitu dua batang anak panah melesat ke atas, semua orang memandang dan menahan napas dan kembali mereka bersorak sorai ketika melihat dua butir buah kelapa jatuh dari puncak batang-batang bambu. Ternyata sekali melepas dua anak panah, Joko Wilis telah dapat menjatuhkan dua butir buah kelapa, dua batang anak panah itu tepat mengenai tangkai buah kelapa!

Kembali Dyah Candramanik bertepuk tangan sampai terasa panas dan kelelahan. Juga Sang Adipati mengangguk-angguk dan harus memuji ketangkasan pemuda remaja itu. Suara juru bicara tidak terdengar sama sekali, lenyap ditelan sorak sorai yang menggegap gempita. Baru setelah sorak sorai mereda dan Retna Wilis sudah turun kembali dari panggung, juru bicara mengumumkan hasil ujian itu.
"Peserta Joko Wilis telah lulus dengan sempurna sekali. Kini yang telah lulus dari uji kekuatan dan ketangkasan terdapat tiga orang, yaitu Kalinggo dari Blambangan, Ngurah Pranawa dari Bali-dwipa, dan Joko Wilis dari Gunung Wilis. Dan sekarang tiba saatnya bagi mereka untuk menghadapi ujian terakhir, yaitu masing-masing harus mampu bertahan melayani berkelahi dengan Ki Wisokolo selama hitungan sampai seribu. Dalam uji tanding ini, tidak boleh menggunakan senjata dan apabila terjadi ada yang terluka atau bahkan tewas dalam pertandingan ini, hal itu sudah dianggap wajar dan tidak akan diadakan pengadilan. Kita mulai dari peserta pertama, Kalinggo dari Blambangan!"
Ki Wisokolo sudah menanti di atas panggung. Seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, tinggi besar seperti Werkudara, kumisnya melintang sekepal sebelah, pundaknya bidang, kedua lengannya kekar, demikian pula kedua kakinya. Inilah senopati nomor satu di Nusabarung, juga jagoan yang tak pernah terkalahkah! Sambil bersikap tenang Ki Wisokolo menoleh ke arah para penabuh gamelan dan memberi isyarat agar gamelan dibunyikan. Segera terdengar bunyi gamelan yang bernada gagah, pengiring perang! Ki Wisokolo berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan bertolak pinggang dan matanya mencorong memandang kepada Kalinggo ketika jagoan dari blambangan ini naik ke pentas. Ki Wisokolo mengangguk ramah kepada Kalinggo karena dia mengenal putera senopati Blambangan ini, dan dalam hatinya dia sudah condong memenangkan jagoan muda dari Blambangan ini agar dapat berjodoh dengan Dyah Candramanik. Akan tetapi bagaimanapun juga, dia harus menguji kepandaian pemuda ini untuk melihat apakah memang patut menjadi mantu Sang Adipati.
Juru bicara memberi aba-aba,
"Satu-dua-tiga , mulai!" dan diapun dengan lantang mulai menghitung,
"Satu-dua-tiga-empat-" dan seterusnya sementara gamelan dipukul bertalu-talu membuat suasana menjadi semakin bersemangat.
"Mulailah, anak mas Kalinggo!" kata Ki Wisokolo dan Kalinggo tidak sungkan-sungkan lagi segera maju menyerang dengan pukulan yang kuat. Akan tetapi Ki Wisokolo dengan mudah mengelak sambil membalas dengan sapuan kakinya untuk membuat tubuh lawan terpelanting. Akan tetapi Kalinggo cukup tangkas untuk mengelak pula. Kemudian Kalinggo menyerang terus bertubi-tubi, ditangkis atau dielakkan oleh Ki Wisokolo, bahkan kadang dia menerima pukulan itu dan dengan tubuhnya yang kebal. Sementara itu, juru bicara terus menghitung dengan suara lantang.

Retna Wilis ikut nonton pertandingan itu dan ia mengerutkan alisnya. Di sini terjadi kecurangan, pikirnya. Dari ketangkasannya ketika mengelak dan menangkis, juga kekebalannya, jelas bahwa tingkat kepandaian Wisokolo jauh lebih tinggi dari pada Kalinggo. Akan tetapi Ki Wisokolo ini hanya mempertahankan diri saja, jarang sekali menyerang dan kalau menyerangpun tidak dengan sungguh-sungguh. Jelas tampak olehnya bahwa Ki Wisokolo agaknya hendak memberi kesempatan kepada Kalinggo untuk memenangkan sayembara itu! Sementara itu, Kalinggo menjadi penasaran sekali dan dia mengamuk makin hebat. Segala kepandaian dan tenaganya dikerahkan untuk menyerang dan merobohkan lawan, namun semua usahanya sia-sia. Sampai basah seluruh tubuhnya oleh keringat dan sampai hitungan ke delapanratus, napasnya sudah terengah-engah. Namun dia terus menyerang, walaupun tidak lagi sehebat tadi. Dalam keadaan ini, kalau Ki Wisokolo hendak merobohkan lawannya, tentu saja amat mudah. Akan tetapi dia tidak ingin merobohkan lawan yang satu ini. Ketika hitungan sampai ke seribu, Ki Wisokolo meloncat ke belakang dan tersenyum menyeringai, memandang kepada Kalinggo yang sudah bermandi keringat dan napasnya terengah-engah. Akan tetapi dia lulus dan penonton menyambutnya dengan sorak sorai memuji. Kalinggo mengangkat kedua tangan ke atas saking gembiranya. Dia lulus ujian, berarti dia telah menang dalam sayembara. Akan tetapi masih ada dua orang peserta lain! Harus dilihat dulu bagaimana hasil ujian kedua peserta ini. Menurut peraturan, kalau pemenangnya lebih dari seorang, maka kedua pemenang itu akan diadu dan siapa yang keluar sebagai pemenang dialah yang dianggap memenangkan sayembara dan mendapatkan hadiahnya.
"Peserta Kalinggo telah lulus ujian terakhir, harap menanti di bawah panggung dan kini dipersilakan peserta Ngurah Pranawa untuk maju menandingi Ki Wisokolo selama seribu hitungan!"
Ngurah Pranawa lalu meloncat ke atas panggung, disambut sorak sorai penonton, terutama yang menjagoi pemuda dari Bali-dwipa ini. Ki Wisokolo sudah siap lagi dan mempersilakan pemuda Bali itu untuk mulai menyerangnya, sementara juru bicara mulai menghitung dari satu dan seterusnya. Ngurah Pranawa segera maju menyerang, disambut dengan tangkisan oleh Ki Wisokolo. Terjadi pertandingan yang seru seperti juga tadi ketika Ki Wisokolo menguji Kalinggo. Akan tetapi Retno Wilis melihat bahwa pertandingan kali ini berbeda dari tadi. Kalau tadi Ki Wisokolo hanya bertahan saja, sekarang dia membalas setiap serangan Ngurah Pranawa. Retna Wilis tahu bahwa tingkat kepandaian Ngurah Pranawa masih belum mampu menandingi kepandaian Ki Wisokolo. Biarpun Ngurah Pranawa juga kuat dan gesit, namun setelah hitungan ke enamratus lebih, tiba-tiba sebuah tendangan kaki Ki Wisokolo mengenai perutnya dan membuat tubuhnya terpental keluar panggung. Ngurah Pranawa dapat mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga tidak terbanting dan dapat jatuh sambil berdiri. Akan tetapi sudah jelas bahwa dia telah gagal dalam pertandingan itu.
"Peserta Ngurah Pranawa telah gagal menandingi Ki Wisokolo sampai seribu hitungan. Dan sekarang tinggal peserta terakhir, yaitu Joko Wilis dipersilakan naik ke panggung untuk bertanding melawan Ki Wisokolo!"

Belum juga Retna Wilis naik ke panggung, tepuk sorak sorai penonton sudah menyambut ketika namanya disebut. Retna Wilis melompat naik ke atas panggung sambil tersenyum. Ada keraguan dalam hatinya. Mestinya ia mengalah dalam pertandingan ini, akan tetapi, ia merasa kasihan kalau mengecewakan penonton yang demikian banyak mendukungnya itu. Setelah berhadapan dengan Ki Wisokolo dan sorak sorai penonton mereda, Retna Wilis berkata dengan suara lantang kepada Ki Wisokolo,
"Paman, andika telah dua kali melayani dua orang peserta, tentu telah lelah sekali. Tidak adil kalau sekarang harus melayani aku pula. Sebaiknya paman beristirahat dan minum-minum dulu sebelum bertanding lagi."
Ki Wisokolo tertawa. Dia sama sekali tidak merasa lelah. Untuk apa dia beristirahat? Apa lagi kalau hanya menghadapi seorang pemuda remaja seperti ini. Dalam segebrakan saja tentu dia akan mampu merobohkan pemuda ini. Dan dia harus merobohkannya kalau dia hendak melihat Kalinggo dari Blambangan itu yang menang.
"Ha-ha-ha, Joko Wilis. Biar harus menghadapi lima orang seperti andikapun aku tidak perlu beristirahat dulu. Apalagi hanya andika seorang. Jangan-jangan sekali tendang aku sudah akan melemparkanmu keluar panggung! Ha-ha-ha!"
Merah kedua pipi Retna Wilis. Ia sudah mengambil keputusan untuk mengalah sekali ini, akan tetapi ucapan Ki Wisokolo yang sombong itu membuatnya marah sekali. Ia harus memberi pelajaran kepada manusia sombong ini, pikirnya.
"Hemm, sombongnya! Kalau aku tidak dapat mengalahkanmu selama hitungan seratus saja, anggaplah aku kalah!"
Ucapan yang lantang ini tentu saja membuat semua orang terkejut sekali. Melawan selama hitungan seribu saja belum tentu dapat menang, sekarang pemuda itu malah menantang untuk mengalahkan dalam hitungan seratus! Seorang di antara para penonton, seorang pemuda tampan berpakaian serba putih, mengerutkan alisnya dan berkata kepada diri sendiri,
"Hemm, ia mencari penyakit!" Pemuda ini tentu saja adalah Bagus Seta yang merasa bingung sekali melihat ulah adiknya. Dia maklum bahwa tentu Retna Wilis akan dapat mengalahkan Ki Wisokolo sebelum hitungan ke seratus, akan tetapi itu berarti bahwa ia menangkan sayembara dan harus menikah dengan Dyah Candramanik!

Ki Wisokolo sendiri terperangah mendengar tantangan itu. Dia menganggap pemuda itu sombong bukan main.
"Bukan aku, melainkan engkaulah yang akan kurobohkan sebelum seratus hitungan!" katanya dan segera dia menubruk maju dengan kedua lengan dipentang, seperti seekor biruang menyerang korbannya.
"Ggrrr ... !" Dari kerongkongannya keluar gerengan seperti seekor binatang buas.

"Haiiiiiitt ... !" Retna Wilis berseri melengking dan tubuhnya sudah lenyap dari depan Ki Wisokolo.
Raksasa ini terkejut dan cepat memutar tubuhnya. Ternyata pemuda remaja itu telah berada di belakangnya dan dia lalu menyerang lagi dengan cepat dan dahsyat. Akan tetapi lagi-lagi dia menyerang angin karena tubuh Retna Wilis sudah mengelak dengan cepat. Ki Wisokolo menjadi marah dan menyerang membabi buta, dengan cepat dan dengan pengerahan seluruh tenaganya. Namun, sambil kadang-kadang melengking Retna Wilis mengelak dengan gerakan yang indah dan lucu, bagaikan seekor burung walet yang gesit sekali sehingga semua serangan Ki Wisokolo mengenai angin belaka. Sementara itu, juru hitung sudah menghitung sampai tigapuluh, dan semua penonton terpesona oleh gerakan Retna Wilis yang demikian cepatnya. Jangankan tubuhnya, ujung bajunyapun tidak dapat disentuh oleh Ki Wisokolo yang menjadi semakin marah.

<<< Bagian 10                                                                                          Bagian 12 >>>

No comments:

Post a Comment