Sepasang Garuda Putih ; Bagian 12


Mulailah para penonton tertawa dan bersorak ketika tiba-tiba kaki Retna Wilis menendang pantat lawannya. Debu mengebul dari pantat yang ditendang dan tubuh Ki Wisokolo terhuyung ke depan.
"Aku di sini, Ki Wisokolo!" kata Retna Wilis mengejek ketika lawannya mencari-carinya. Begitu tahu bahwa pemuda itu berada di belakangnya, Ki Wisokolo membalikkan tubuhnya sambil memukul-mukul dengan kedua tangannya diseling tendangan-tendangan kedua kakinya. Namun, semua pukulan dan tendangan itu tidak ada yang mengenai tubuh Retno Wilis yang berlompatan ke sana sini untuk menghindar. Kembali tangannya menampar, sekali ini mengenai belakang telinga raksasa itu.
"Aduh ... !" Ki Wisokolo berseru dan tubuhnya berputar-putar.
Akan tetapi dia masih dapat mengatur keseimbangan sehingga tidak roboh dan kini matanya terbelalak liar dan menjadi merah. Hitungan sudah sampai enampuluh dan dia sama sekali belum mampu menyentuh pemuda itu, bahkan dia telah merasakan sekali tendangan dan sekali tamparan!
"Bedebah!" bentaknya dan kini tubuhnya bergulingan ke arah Retna Wilis, terus menubruk. Dielakkan, menubruk lagi seperti seekor harimau kelaparan. Keringatnya bercucuran, napasnya terengah-engah karena dia telah mengerahkan seluruh tenaganya.
"Ah, keringatmu bau, lekas pergi dari sini!" tiba-tiba Retna Wilis berseru dan begitu kakinya menendang, kini dengan pengerahan tenaga, kaki kiri itu telah bertemu dengan dada Ki Wisokolo.
"Bukk ... !!"
"Aughh ... !" Ki Wisokolo mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya melayang, terlempar keluar panggung dan jatuh berdebuk di atas tanah di bawah panggung. Kawan-kawannya segera menolong dan menggotongnya karena dia telah jatuh pingsan!
Sorak sorai gegap gempita menyambut kemenangan Joko Wilis ini. Hitungan baru sampai delapanpuluh dan jagoan nomor satu dari Nusabarung itu telah roboh. Retna Wilis tersenyum dan memandang kepada keluarga Sang Adipati. Ia melihat Dyah Candramanik bangkit dari kursinya dan bertepuk tangan dengan wajah berseri-seri.
"Cari penyakit ... !" Kembali Bagus Seta berkata kepada diri sendiri melihat Retna Wilis mengalahkan Ki Wisokolo seperti yang sudah disangkanya tadi.

Sementara itu, sukarlah bagi juru bicara untuk membuat pengumuman karena penonton yang begitu gaduh membicarakan pertandingan yang baru saja mereka tonton. Mereka semua begitu kagum kepada Joko Wilis, pemuda yang kelihatan masih remaja dan tampak lemah itu. Akhirnya, setelah berdiri di atas panggung dan melambai-lambaikan tangan memberi isyarat kepada semua penonton agar jangan gaduh, juru bicara itu dapat mengelukan kata-kata yang lantang.
"Peserta Joko Wilis dinyatakan lulus dengan sempurna. Karena sekarang ternyata ada dua orang peserta yang lulus, yaitu Joko Wilis dan Kalinggo, maka sesuai dengan peraturan yang berlaku, kini akan diadakan pertandingan antara kedua orang pemenang itu. Siapa di antara mereka berdua yang keluar sebagai pemenang, dinyatakan memenangkan sayembara ini!"
Ucapan ini disambut sorak sorai dari para penonton yang menjadi gembira sekali karena mereka kembali akan menonton pertandingan yang tentu akan hebat sekali. Ada yang menjagoi Kalinggo, akan tetapi ada banyak pula yang menjagoi Joko Wilis sehingga diantara mereka ada yang bertaruhan!
"Kini dipersilakan peserta Kalinggo dari Blambangan naik ke panggung untuk bertanding melawan Joko Wilis dari Gunung Wilis!" Juru bicara berteriak kembali lalu turun dari panggung.
Kalinggo naik ke panggung dan membusungkan dadanya. Biarpun dia melihat sendiri betapa Ki Wisokolo dikalahkan pemuda itu, namun dia tidak merasa gentar. Bahkan dia yakin akan mampu mengalahkan pemuda yang kecil itu. Dia harus membikin gentar nyali pemuda itu, pikirnya. Begitu berhadapan dengan Retna Wilis yang memandangnya dengan senyum simpul, Kalinggo berkata dengan suara lantang,
"Joko Wilis, ini adalah sebuah pertandingan untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang di antara kita. Karena itu, kalau ada kulit robek dan tulang patah, jangan salahkan aku!"
Retno Wilis tersenyum. Pada saat itu, Retna Wilis meraba paha kirinya. Ada kerikil kecil sekali mengenai paha kirinya dan ia tahu apa artinya itu. Kakaknya sudah berada di situ! Dan kakaknya tentu hendak memperingatkan kepadanya agar ia tidak berlaku kejam terhadap lawan, tidak boleh membunuh! Ia tersenyum dan mengangguk ke arah dari mana datangnya kerikil kecil tadi.
"Jangan khawatir! Aku tidak akan merobek kulitmu atau mematahkan tulangmu!" Retna Wilis berkata sambil memandang kepada Kalinggo, akan tetapi sebetulnya ia menujukan kata-katanya itu kepada Bagus Seto.
"Payah, ia benar-benar mencari penyakit!" kembali Bagus Seta mengeluh karena dalam ucapan Retna Wilis itu dia dapat menduga bahwa tentu Retno Wilis tidak mau mengalah. Kalau keluar dari sayembara sebagai pemenang, engkau akan dikawinkan dengan Dyah Candramanik dan baru engkau tahu sendiri betapa bingungnya engkau! Demikian Bagus Seta berkata kepada dirinya sendiri.

Sementara itu, mendengar jawaban Retna Wilis, Kalinggo sudah menjadi marah sekali. Dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang perlahan-lahan berubah kemerahan seperti berdarah. Itulah Aji Hasta-rudita (Tangan Berdarah)! Pukulan dari tangan merah itu sungguh hebat dan mengerikan karena berhawa panas dan kalau mengenai tubuh orang, tubuh itu dapat menjadi hangus seperti dibakar api!
Akan tetapi Retna Wilis yang melihat itu hanya tersenyum saja, seolah ia tidak tahu akan keampuhan telapak tangan darah itu. Ia malah tersenyum dan bertanya,
"Eh, Kalinggo, engkau ingin roboh dalam hitungan ke berapa?"
"Untuk pertandingan ini tidak memakai hitungan. Akan tetapi aku akan merobohkanmu secepat mungkin!" kata Kalinggo dan dia mengeluarkan teriakan yang mengguncang tempat itu, kemudian bagaikan seekor srigala, dia sudah menyerang dengan kedua tangan terbuka seperti hendak mencengkeram ke arah kepala Retna Wilis!
"Haiiiiittt ... !" Retna Wilis berseru dan Kalinggo sudah kehilangan lawannya. Begitu cepat gerakan Retna Wilis sehingga dia tidak melihat kemana lawannya berkelebat. Tahu-tahu Retno Wilis sudah berada di belakangnya. Dia membalik dan menyerang lagi, makin lama serangannya semakin cepat dan kuat. Akan tetapi semua itu tidak ada gunanya karena tidak ada yang dapat mengenai tubuh pemuda remaja itu. Ketika Kalinggo mempergunakan kecepatan, tubuh Retno Wilis berkelebatan sehingga yang tampak hanya bayangannya saja. Kalinggo menghentikan serangannya dan berdiri dengan napas memburu dan mata melotot marah.
"Bukan laki-laki kalau hanya mengelak saja!" bentaknya.
"Kalau memang berani, hayo hadapi seranganku dengan tangkisan, jangan hanya berlari seperti seorang pengecut!"
Mendengar ini, Retno Wilis mengerutkan alisnya.
"Kalinggo, manusia tak tahu diri. Kaukira aku takut menghadapi pukulanmu? Nah, seranglah, aku tidak akan mengelak lagi!"
Kalinggo mengerahkan tenaga dalam dikedua telapak tangannya yang merah dan dia sudah girang sekali. Kalau lawannya itu menangkis, tentu akan celaka. Bertemu dengan tangan merahnya, tentu tangan pemuda itu akan hangus dan dia akan keluar sebagai pemenangnya. Dia menubruk dan mencengkeram dengan kedua tangannya. Gerakannya cepat dan kuat sekali. Dengan tenang Retna Wilis menangkis dengan kedua tangannya pula, gerakannya memutar dari kiri ke kanan. Dalam gerakan menangkis ini iapun mengerahkan Aji Wisolangking dan hanya tampak sinar hitam ketika kedua tangannya menangkis.
"Plak-dukk ... !" Tangkisan itu sedemikian kuatnya dan aji Wisolangking dapat menahan pengaruh Hasta-rudita, dan akibatnya, tubuh Kalinggo terpelanting dan terhuyung hampir saja roboh. Bukan main kagetnya Kalinggo. Lawannya benar-benar dapat menangkisnya, bahkan tangkisan itu mengandung tenaga yang demikian kuatnya sampai dia hampir roboh. Penonton bersorak riuh rendah ketika Kalinggo terpelanting itu, terutama mereka yang bertaruh memihak Retna Wilis. Sebaliknya yang memihak Kalinggo menjadi pucat wajahnya dan memandang penuh kekhawatiran.

Karena maklum bahwa pemuda remaja itu benar-benar amat tangguh, Kalinggo menjadi nekat dan kembali dia menyerang, sekali ini dia menggunakan kedua tangan, yang kanan menghantam ke arah dada lawan, yang kiri menyusul mencengkeram ke arah muka. Tenang saja Retno Wilis menyambut serangan ini. Pukulan tangan kanan ditangkisnya dengan tangan kiri, sedangkan cengkeraman tangan kiri itu disambutnya dengan tangkapan pada pergelangan tangan. Ketika ia mengerahkan tenaga dalam tangkapan itu, Kalinggo berteriak kesakitan. Seperti remuk rasa pergelangan tangan kirinya yang ditangkap tangan pemuda itu. Pada saat itu, Retna Wilis menendang ke arah lutut, tidak kuat benar akan tetapi cukup membuat Kalinggo terpelanting dan roboh bertekuk lutut.
"Ah, sudahlah, tidak perlu berlutut minta ampun!" kata Retno Wilis dan para penonton bersorak gembira, ada yang tertawa melihat betapa Kalinggo jatuh berlutut seperti hendak minta ampun kepada pemuda remaja yang lincah itu.
Kalinggo adalah seorang jagoan yang jarang menerima kekalahan seperti itu. Dia merasa dipermainkan dan terhina sekali, maka dia menggunakan kesempatan sekali lagi Retna Wilis lengah, tiba-tiba dalam keadaan berlutut itu dia menubruk ke depan dan sudah berhasil menangkap kaki kanan Retna Wilis. Dengan girang dia mengerahkan tenaga untuk menarik kaki itu dan membuat tubuh lawan terbanting. Akan tetapi dia tidak mengenal siapa Retna Wilis! Cepat dara perkasa ini menggunakan aji Argo-selo (Batu Gunung) dan tubuhnya menjadi seberat batu gunung sehingga betapapun Kalinggo mengerahkan tenaganya, kaki yang kecil itu tidak tergeser sedikitpun juga! Para penonton kini terdiam, mengira bahwa pemuda remaja itu tentu akan celaka melihat kakinya sudah tertangkap Kalinggo. Akan tetapi mereka melihat Kalinggo ber-ah-uh-uh mengerahkan tenaga menarik, namun tetap saja pemuda itu tidak bergerak. Kaki itu seolah telah berakar pada papan panggung. Selagi Kalinggo bersusah payah mengerahkan segala tenaganya, kaki kiri Retna Wilis menyambar, mengenai jalan darah pundaknya sehingga seketika Kalinggo merasa kedua tangannya lemas tak bertenaga dan tangkapannya terlepas. Retna Wilis menendang lagi dan tubuh Kalinggo melayang, terlempar keluar panggung.
Tepuk sorak sekali ini menggegap gempita, membuat panggung seolah-olah akan ambruk. Dyah Candramanik juga bangkit berdiri dan bertepuk tangan. Baru setelah Sang Adipati Martimpang sendiri yang naik ke atas panggung dan memberi isyarat dengan tangannya agar semua orang diam, suasana menjadi hening dan suara adipati itu terdengar lantang.
"Dengan ini kami umumkan bahwa pemenang sayembara ini adalah Joko Wilis dari Gunung Wilis!"

Kembali sorak sorai pecah dan semua penonton bersorak-sorak, kecuali mereka yang kalah dan terpaksa membayar kepada lawan bertaruh. Sang Adipati menghadapi Retno Wilis.
"Andika telah menangkan sayembara, dan berhak menerima hadiah yang disayembarakan."
Retna Wilis merasa tengkuknya meremang. baru sekarang ia teringat bahwa pemenang sayembara akan dijodohkan dengan Dyah Candramanik dan kelak menggantikan kedudukan adipati di Nusabarung! Ia cepat memberi hormat kepada Adipati Martimpang dan berkata dengan gagap.
"Akan tetapi saya ... saya tidak ... menghendaki hadiah ... "

Kata-kata ini bahkan menyenangkan hati sang adipati, karena dianggapnya pemuda ini rendah hati. Pemuda yang sudah mengalahkan Ki Wisokolo, senopatinya yang paling tangguh! Pantas menjadi mantunya. Juga pemuda ini amat tampan, seperti Arjuna sehingga serasi sekali kalau menjadi suami puterinya yang cantik, Dyah Candra-manik.
"Berdirilah dan mari andika ikut dengan kami masuk ke kadipaten, di sana kita bicara!" perintahnya.
Retna Wilis menjadi bingung. Akan tetapi tak mungkin ia melarikan diri begitu saja. Ia justeru hendak mengadakan penyelidikan sehingga sebetulnya baik sekali kalau ia diterima masuk ke kadipaten. Akan tetapi bagaimana nanti kalau ia harus menikah dengan Dyah Candramanik? Ia masih belum dapat memikirkan bagaimana baiknya dan baru sekarang ia teringat akan kata-kata kakaknya. Bahkan kakaknya tadi telah memberi peringatan dengan sambitan kerikil kecil. Tentu maksud kakaknya agar ia mengalah sehingga tidak menjadi pemenang sayembara. Akan tetapi bagaimana ia dapat mengalah menghadapi Kalinggo yang demikian sombong? Ah, biarlah ia mengikuti saja kehendak sang adipati. Tentang pernikahan itu bagaimana nanti saja. Ia akan melihat perkembangannya. Sewaktu-waktu ia dapat meloloskan diri. Kalau sekarang, di mana terdapat demikian banyaknya prajurit dan para penonton, sulit rasanya untuk melarikan diri. Juga kalau ia melarikan diri sekarang, bagaimana dengan penyelidikannya? Adipati Martimpang tiba di tempat di mana dia tadi duduk bersama isteri dan puterinya. Dyah Candramanik menyambut kedatangan ayahnya dengan muka kemerahan. Ia hanya mengerling sekali kepada Retno Wilis, lalu menundukkan muka dengan ke malu-maluan. Setelah kini berhadapan dengan Dyah Candramanik, Retna Wilis harus mengakui bahwa gadis itu cantik sekali.

<<< Bagian 11                                                                                           Bagian 13 >>>

No comments:

Post a Comment