Mulailah para penonton tertawa dan bersorak ketika tiba-tiba kaki Retna Wilis menendang pantat lawannya. Debu mengebul dari pantat yang ditendang dan tubuh Ki Wisokolo terhuyung ke depan.
"Aku di
sini, Ki Wisokolo!" kata Retna Wilis mengejek ketika lawannya
mencari-carinya. Begitu tahu bahwa pemuda itu berada di belakangnya, Ki
Wisokolo membalikkan tubuhnya sambil memukul-mukul dengan kedua tangannya diseling
tendangan-tendangan kedua kakinya. Namun, semua pukulan dan tendangan itu tidak
ada yang mengenai tubuh Retno Wilis yang berlompatan ke sana sini untuk
menghindar. Kembali tangannya menampar, sekali ini mengenai belakang telinga
raksasa itu.
"Aduh ...
!" Ki Wisokolo berseru dan tubuhnya berputar-putar.
Akan tetapi
dia masih dapat mengatur keseimbangan sehingga tidak roboh dan kini matanya
terbelalak liar dan menjadi merah. Hitungan sudah sampai enampuluh dan dia sama
sekali belum mampu menyentuh pemuda itu, bahkan dia telah merasakan sekali
tendangan dan sekali tamparan!
"Bedebah!"
bentaknya dan kini tubuhnya bergulingan ke arah Retna Wilis, terus menubruk.
Dielakkan, menubruk lagi seperti seekor harimau kelaparan. Keringatnya
bercucuran, napasnya terengah-engah karena dia telah mengerahkan seluruh
tenaganya.
"Ah,
keringatmu bau, lekas pergi dari sini!" tiba-tiba Retna Wilis berseru dan
begitu kakinya menendang, kini dengan pengerahan tenaga, kaki kiri itu telah
bertemu dengan dada Ki Wisokolo.
"Bukk ...
!!"
"Aughh
... !" Ki Wisokolo mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya melayang,
terlempar keluar panggung dan jatuh berdebuk di atas tanah di bawah panggung.
Kawan-kawannya segera menolong dan menggotongnya karena dia telah jatuh
pingsan!
Sorak sorai
gegap gempita menyambut kemenangan Joko Wilis ini. Hitungan baru sampai
delapanpuluh dan jagoan nomor satu dari Nusabarung itu telah roboh. Retna Wilis
tersenyum dan memandang kepada keluarga Sang Adipati. Ia melihat Dyah
Candramanik bangkit dari kursinya dan bertepuk tangan dengan wajah
berseri-seri.
"Cari
penyakit ... !" Kembali Bagus Seta berkata kepada diri sendiri melihat
Retna Wilis mengalahkan Ki Wisokolo seperti yang sudah disangkanya tadi.
Sementara itu,
sukarlah bagi juru bicara untuk membuat pengumuman karena penonton yang begitu
gaduh membicarakan pertandingan yang baru saja mereka tonton. Mereka semua
begitu kagum kepada Joko Wilis, pemuda yang kelihatan masih remaja dan tampak
lemah itu. Akhirnya, setelah berdiri di atas panggung dan melambai-lambaikan
tangan memberi isyarat kepada semua penonton agar jangan gaduh, juru bicara itu
dapat mengelukan kata-kata yang lantang.
"Peserta
Joko Wilis dinyatakan lulus dengan sempurna. Karena sekarang ternyata ada dua
orang peserta yang lulus, yaitu Joko Wilis dan Kalinggo, maka sesuai dengan
peraturan yang berlaku, kini akan diadakan pertandingan antara kedua orang
pemenang itu. Siapa di antara mereka berdua yang keluar sebagai pemenang,
dinyatakan memenangkan sayembara ini!"
Ucapan ini
disambut sorak sorai dari para penonton yang menjadi gembira sekali karena
mereka kembali akan menonton pertandingan yang tentu akan hebat sekali. Ada
yang menjagoi Kalinggo, akan tetapi ada banyak pula yang menjagoi Joko Wilis
sehingga diantara mereka ada yang bertaruhan!
"Kini
dipersilakan peserta Kalinggo dari Blambangan naik ke panggung untuk bertanding
melawan Joko Wilis dari Gunung Wilis!" Juru bicara berteriak kembali lalu
turun dari panggung.
Kalinggo naik
ke panggung dan membusungkan dadanya. Biarpun dia melihat sendiri betapa Ki
Wisokolo dikalahkan pemuda itu, namun dia tidak merasa gentar. Bahkan dia yakin
akan mampu mengalahkan pemuda yang kecil itu. Dia harus membikin gentar nyali
pemuda itu, pikirnya. Begitu berhadapan dengan Retna Wilis yang memandangnya
dengan senyum simpul, Kalinggo berkata dengan suara lantang,
"Joko
Wilis, ini adalah sebuah pertandingan untuk menentukan siapa yang menjadi
pemenang di antara kita. Karena itu, kalau ada kulit robek dan tulang patah,
jangan salahkan aku!"
Retno Wilis
tersenyum. Pada saat itu, Retna Wilis meraba paha kirinya. Ada kerikil kecil
sekali mengenai paha kirinya dan ia tahu apa artinya itu. Kakaknya sudah berada
di situ! Dan kakaknya tentu hendak memperingatkan kepadanya agar ia tidak
berlaku kejam terhadap lawan, tidak boleh membunuh! Ia tersenyum dan mengangguk
ke arah dari mana datangnya kerikil kecil tadi.
"Jangan
khawatir! Aku tidak akan merobek kulitmu atau mematahkan tulangmu!" Retna
Wilis berkata sambil memandang kepada Kalinggo, akan tetapi sebetulnya ia
menujukan kata-katanya itu kepada Bagus Seto.
"Payah,
ia benar-benar mencari penyakit!" kembali Bagus Seta mengeluh karena dalam
ucapan Retna Wilis itu dia dapat menduga bahwa tentu Retno Wilis tidak mau
mengalah. Kalau keluar dari sayembara sebagai pemenang, engkau akan dikawinkan
dengan Dyah Candramanik dan baru engkau tahu sendiri betapa bingungnya engkau!
Demikian Bagus Seta berkata kepada dirinya sendiri.
Sementara itu,
mendengar jawaban Retna Wilis, Kalinggo sudah menjadi marah sekali. Dia
menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang perlahan-lahan berubah kemerahan
seperti berdarah. Itulah Aji Hasta-rudita (Tangan Berdarah)! Pukulan dari
tangan merah itu sungguh hebat dan mengerikan karena berhawa panas dan kalau
mengenai tubuh orang, tubuh itu dapat menjadi hangus seperti dibakar api!
Akan tetapi
Retna Wilis yang melihat itu hanya tersenyum saja, seolah ia tidak tahu akan
keampuhan telapak tangan darah itu. Ia malah tersenyum dan bertanya,
"Eh,
Kalinggo, engkau ingin roboh dalam hitungan ke berapa?"
"Untuk pertandingan
ini tidak memakai hitungan. Akan tetapi aku akan merobohkanmu secepat
mungkin!" kata Kalinggo dan dia mengeluarkan teriakan yang mengguncang
tempat itu, kemudian bagaikan seekor srigala, dia sudah menyerang dengan kedua
tangan terbuka seperti hendak mencengkeram ke arah kepala Retna Wilis!
"Haiiiiittt
... !" Retna Wilis berseru dan Kalinggo sudah kehilangan lawannya. Begitu
cepat gerakan Retna Wilis sehingga dia tidak melihat kemana lawannya
berkelebat. Tahu-tahu Retno Wilis sudah berada di belakangnya. Dia membalik dan
menyerang lagi, makin lama serangannya semakin cepat dan kuat. Akan tetapi
semua itu tidak ada gunanya karena tidak ada yang dapat mengenai tubuh pemuda
remaja itu. Ketika Kalinggo mempergunakan kecepatan, tubuh Retno Wilis berkelebatan
sehingga yang tampak hanya bayangannya saja. Kalinggo menghentikan serangannya
dan berdiri dengan napas memburu dan mata melotot marah.
"Bukan
laki-laki kalau hanya mengelak saja!" bentaknya.
"Kalau
memang berani, hayo hadapi seranganku dengan tangkisan, jangan hanya berlari
seperti seorang pengecut!"
Mendengar ini,
Retno Wilis mengerutkan alisnya.
"Kalinggo,
manusia tak tahu diri. Kaukira aku takut menghadapi pukulanmu? Nah, seranglah,
aku tidak akan mengelak lagi!"
Kalinggo
mengerahkan tenaga dalam dikedua telapak tangannya yang merah dan dia sudah
girang sekali. Kalau lawannya itu menangkis, tentu akan celaka. Bertemu dengan
tangan merahnya, tentu tangan pemuda itu akan hangus dan dia akan keluar
sebagai pemenangnya. Dia menubruk dan mencengkeram dengan kedua tangannya.
Gerakannya cepat dan kuat sekali. Dengan tenang Retna Wilis menangkis dengan
kedua tangannya pula, gerakannya memutar dari kiri ke kanan. Dalam gerakan
menangkis ini iapun mengerahkan Aji Wisolangking dan hanya tampak sinar hitam ketika
kedua tangannya menangkis.
"Plak-dukk
... !" Tangkisan itu sedemikian kuatnya dan aji Wisolangking dapat menahan
pengaruh Hasta-rudita, dan akibatnya, tubuh Kalinggo terpelanting dan terhuyung
hampir saja roboh. Bukan main kagetnya Kalinggo. Lawannya benar-benar dapat
menangkisnya, bahkan tangkisan itu mengandung tenaga yang demikian kuatnya
sampai dia hampir roboh. Penonton bersorak riuh rendah ketika Kalinggo
terpelanting itu, terutama mereka yang bertaruh memihak Retna Wilis. Sebaliknya
yang memihak Kalinggo menjadi pucat wajahnya dan memandang penuh kekhawatiran.
Karena maklum
bahwa pemuda remaja itu benar-benar amat tangguh, Kalinggo menjadi nekat dan
kembali dia menyerang, sekali ini dia menggunakan kedua tangan, yang kanan
menghantam ke arah dada lawan, yang kiri menyusul mencengkeram ke arah muka.
Tenang saja Retno Wilis menyambut serangan ini. Pukulan tangan kanan
ditangkisnya dengan tangan kiri, sedangkan cengkeraman tangan kiri itu
disambutnya dengan tangkapan pada pergelangan tangan. Ketika ia mengerahkan
tenaga dalam tangkapan itu, Kalinggo berteriak kesakitan. Seperti remuk rasa
pergelangan tangan kirinya yang ditangkap tangan pemuda itu. Pada saat itu,
Retna Wilis menendang ke arah lutut, tidak kuat benar akan tetapi cukup membuat
Kalinggo terpelanting dan roboh bertekuk lutut.
"Ah,
sudahlah, tidak perlu berlutut minta ampun!" kata Retno Wilis dan para
penonton bersorak gembira, ada yang tertawa melihat betapa Kalinggo jatuh
berlutut seperti hendak minta ampun kepada pemuda remaja yang lincah itu.
Kalinggo
adalah seorang jagoan yang jarang menerima kekalahan seperti itu. Dia merasa
dipermainkan dan terhina sekali, maka dia menggunakan kesempatan sekali lagi
Retna Wilis lengah, tiba-tiba dalam keadaan berlutut itu dia menubruk ke depan
dan sudah berhasil menangkap kaki kanan Retna Wilis. Dengan girang dia
mengerahkan tenaga untuk menarik kaki itu dan membuat tubuh lawan terbanting.
Akan tetapi dia tidak mengenal siapa Retna Wilis! Cepat dara perkasa ini
menggunakan aji Argo-selo (Batu Gunung) dan tubuhnya menjadi seberat batu
gunung sehingga betapapun Kalinggo mengerahkan tenaganya, kaki yang kecil itu
tidak tergeser sedikitpun juga! Para penonton kini terdiam, mengira bahwa
pemuda remaja itu tentu akan celaka melihat kakinya sudah tertangkap Kalinggo.
Akan tetapi mereka melihat Kalinggo ber-ah-uh-uh mengerahkan tenaga menarik,
namun tetap saja pemuda itu tidak bergerak. Kaki itu seolah telah berakar pada
papan panggung. Selagi Kalinggo bersusah payah mengerahkan segala tenaganya,
kaki kiri Retna Wilis menyambar, mengenai jalan darah pundaknya sehingga
seketika Kalinggo merasa kedua tangannya lemas tak bertenaga dan tangkapannya
terlepas. Retna Wilis menendang lagi dan tubuh Kalinggo melayang, terlempar
keluar panggung.
Tepuk sorak
sekali ini menggegap gempita, membuat panggung seolah-olah akan ambruk. Dyah
Candramanik juga bangkit berdiri dan bertepuk tangan. Baru setelah Sang Adipati
Martimpang sendiri yang naik ke atas panggung dan memberi isyarat dengan
tangannya agar semua orang diam, suasana menjadi hening dan suara adipati itu
terdengar lantang.
"Dengan
ini kami umumkan bahwa pemenang sayembara ini adalah Joko Wilis dari Gunung
Wilis!"
Kembali sorak
sorai pecah dan semua penonton bersorak-sorak, kecuali mereka yang kalah dan
terpaksa membayar kepada lawan bertaruh. Sang Adipati menghadapi Retno Wilis.
"Andika
telah menangkan sayembara, dan berhak menerima hadiah yang
disayembarakan."
Retna Wilis
merasa tengkuknya meremang. baru sekarang ia teringat bahwa pemenang sayembara
akan dijodohkan dengan Dyah Candramanik dan kelak menggantikan kedudukan
adipati di Nusabarung! Ia cepat memberi hormat kepada Adipati Martimpang dan
berkata dengan gagap.
"Akan
tetapi saya ... saya tidak ... menghendaki hadiah ... "
Kata-kata ini
bahkan menyenangkan hati sang adipati, karena dianggapnya pemuda ini rendah
hati. Pemuda yang sudah mengalahkan Ki Wisokolo, senopatinya yang paling
tangguh! Pantas menjadi mantunya. Juga pemuda ini amat tampan, seperti Arjuna
sehingga serasi sekali kalau menjadi suami puterinya yang cantik, Dyah
Candra-manik.
"Berdirilah
dan mari andika ikut dengan kami masuk ke kadipaten, di sana kita bicara!"
perintahnya.
Retna Wilis
menjadi bingung. Akan tetapi tak mungkin ia melarikan diri begitu saja. Ia
justeru hendak mengadakan penyelidikan sehingga sebetulnya baik sekali kalau ia
diterima masuk ke kadipaten. Akan tetapi bagaimana nanti kalau ia harus menikah
dengan Dyah Candramanik? Ia masih belum dapat memikirkan bagaimana baiknya dan
baru sekarang ia teringat akan kata-kata kakaknya. Bahkan kakaknya tadi telah
memberi peringatan dengan sambitan kerikil kecil. Tentu maksud kakaknya agar ia
mengalah sehingga tidak menjadi pemenang sayembara. Akan tetapi bagaimana ia
dapat mengalah menghadapi Kalinggo yang demikian sombong? Ah, biarlah ia mengikuti
saja kehendak sang adipati. Tentang pernikahan itu bagaimana nanti saja. Ia
akan melihat perkembangannya. Sewaktu-waktu ia dapat meloloskan diri. Kalau
sekarang, di mana terdapat demikian banyaknya prajurit dan para penonton, sulit
rasanya untuk melarikan diri. Juga kalau ia melarikan diri sekarang, bagaimana
dengan penyelidikannya? Adipati Martimpang tiba di tempat di mana dia tadi
duduk bersama isteri dan puterinya. Dyah Candramanik menyambut kedatangan
ayahnya dengan muka kemerahan. Ia hanya mengerling sekali kepada Retno Wilis,
lalu menundukkan muka dengan ke malu-maluan. Setelah kini berhadapan dengan
Dyah Candramanik, Retna Wilis harus mengakui bahwa gadis itu cantik sekali.
<<< Bagian 11 Bagian 13 >>>
No comments:
Post a Comment