Sepasang Garuda Putih ; Bagian 13


Wanita setengah tua yang duduk di dekatnya itu tentulah ibunya karena wanita itupun amat cantik. Adipati Martimpang mengajak mereka semua memasuki gedung, diiringkan oleh para prajurit pengawal. Retna Wilis berjalan di belakang, dan ia memandang ke kanan kiri ketika memasuki ruangan depan pendopo gedung itu. Sebuah istana yang cukup mewah. Setelah tiba di ruangan dalam, Adipati Martimpang duduk di atas kursi bersama para isterinya yang sudah keluar menyambut Dyah Candramanik juga duduk di dekat ibunya. Retna Wilis menghadap dan duduk bersila di atas lantai.
"Joko Wilis," kata sang adipati dengan ramah,
"sesuai dengan isi sayembara, andika yang telah lulus dengan baik akan kami jodohkan dengan puteriku ini, Dyah Candramanik."

Retna Wilis mengangkat muka memandang ke arah Dyah Candramanik yang juga memandang kepadanya. Dua pasang mata yang sama indahnya bertemu pandang dan Dyah Candramanik tersenyum, mukanya menjadi kemerahan dan ia menundukkan mukanya.
"Banyak terima kasih saya haturkan kepada paduka, kanjeng gusti adipati. Akan tetapi mohon beribu maaf bahwa saya masih terlalu muda untuk menikah," kata Retna Wilis dengan hati berdebar karena ia khawatir adipati itu akan marah kepadanya.
Adipati Martimpang memandang penuh selidik kepadanya.
“Joko Wilis, apa artinya ini? Andika sudah tahu bahwa sayembara ini diadakan untuk mencarikan jodoh puteriku, bukan? Apakah andika hendak mengatakan bahwa masukmu mengikuti sayembara itu hanya untuk main-main belaka?" Suara adipati itu jelas mengandung nada kemarahan.
"Tidak sama sekali, gusti. Saya merasa berbahagia sekali, hanya saya mengatakan bahwa saya masih terlalu muda. Kalau paduka mengijinkan, berilah waktu kepada saya selama satu tahun lagi."
"Nanti dulu. Kami akan bertanya kepada puteri kami. Eh, Dyah Candramanik puteriku yang cantik, bagaimana pendapatmu dengan Joko Wilis ini? Apakah engkau sudah setuju kalau kami jodohkan dengan dia?"
Dyah Candramanik tersenyum sambil menundukkan mukanya, lalu terpaksa ia menjawab,
"Ah, aku menurut bagaimana keputusan kanjeng rama saja."
Adipati Martimpang tertawa.
"Ha-ha, itu artinya engkau setuju. Nah, kami pikir permintaanmu itu pantas juga. Joko Wilis. Memang andika kelihatan masih terlalu muda. Baiklah, andika tinggal di sini selama setahun, dan setelah itu baru kalian kami nikahkan."
"Terima kasih, gusti."
"Selama berada di sini, andika boleh menggembleng pasukan khusus agar mereka pun memiliki kadigdayaan. Dan andika tinggal di dalam istana ini, sebagai calon mantu kami.
"Terima kasih, kanjeng gusti adipati."

Tentu saja hati Retna Wilis gembira sekali. Kalau ia diperbolehkan menanti sampai setahun tinggal di situ, tentu banyak kesempatan baginya untuk melakukan penyelidikan akan rencana Nusabarung, apakah benar hendak memberontak dan bersekutu dengan Blambangan. Ia akan mempunyai banyak waktu dan sebelum setahun lewat, dengan mudah ia akan meloloskan diri dari pulau itu. Ia yakin bahwa kakaknya, Bagus Seta, juga telah masuk ke Nusabarung dan sekarang entah berada di mana. Sewaktu-waktu tentu kakaknya akan menghubunginya, kalau tidak ia dapat berjalan-jalan di pulau itu untuk mencarinya. Setelah beberapa hari tinggal di kadipaten Nusabrung, Retna Wilis sudah mulai menyelidiki keadaan di Nusabarung dan ia mendengar bahwa Nusabarung baru bersiap-siap menghimpun kekuatan, namun belum ada tanda-tandanya hendak memberontak. Yang membuat hatinya tidak tenang adalah sikap Dyah Candramanik. Pada suatu pagi puteri itu menyuruh biyung emban untuk memanggilnya ke taman-sari. Tentu saja ia tidak berani menolak dan memasuki taman-sari. Dyah Candramanik telah berada di situ, hanya berdua dengan biyung emban. Setelah Retna Wilis datang, biyung emban yang tahu diri itu tanpa diperintah sudah pergi meninggalkan mereka berdua saja di taman-sari.
Retna Wilis tersenyum melihat sang puteri malu-malu menundukkan mukanya. Diam-diam ia merasa kasihan kepada puteri ini. Agaknya sang puteri memang jatuh cinta kepadanya. Melihat sang puteri diam saja, Retna Wilis mendahului bicara.
"Gusti puteri ... "
"Ah, kenapa engkau menyebut aku gusti? Engkau bukan hambaku dan aku bukan gustimu," Dyah Candramanik menegur tanpa memandang muka Retna Wilis.
"Lalu, saya harus menyebut apa?"
"Lupakah engkau bahwa kita telah ditunangkan? Tentu engkau tahu apa yang harus kausebut terhadap calon isterimu?" Sang puteri berkata lagi, kini memandang wajah Retna Wilis dan sikapnya mulai agak tabah.
"Ahh ... kalau begitu, apakah aku harus menyebutmu diajeng?"
"Memang begitu seharusnya, kakangmas Joko Wilis."
"Baiklah, diajeng Dyah Candramanik. Akan tetapi pagi ini engkau memanggilku ada keperluan apakah?"
"Aku hanya ingin bertemu dan bercakap-cakap denganmu. Kakangmas, engkau menolak untuk dinikahkah denganku sekarang, minta mundur setahun lagi. Aku heran sekali, kalau engkau tidak ingin menikah, mengapa engkau memasuki sayembara dan menghadapi bahaya maut untuk memperebutkan aku?"
"Aku ... aku ... ah, aku sebetulnya belum memikirkan tentang perjodohan diajeng."
"Akan tetapi aneh! Mengapa mengikuti sayembara?"
"Karena aku melihat para peserta itu sombong-sombong dan tidak ada yang sesuai untuk menjadi jodohmu. Aku hendak mencegah engkau menikah dengan seorang dari mereka. Kalau aku tidak ikut sayembara, tentu engkau sudah dipersunting Kalinggo dari Blambangan itu. Apakah engkau akan suka kalau dijodohkan dengan orang sekasar itu?"
"Tentu saja tidak! Akan tetapi engkau yang menang. Engkau yang berhak menikah dengan aku. Apakah ... apakah engkau tidak cinta kepadaku, kakangmas Joko Wilis?"
Retno Wilis menjadi bingung.
"Tentu saja aku mencintamu, diajeng. Engkau seorang puteri yang cantik jelita, siapa tidak mencintamu? Aku hanya minta waktu, tidak ingin buru-buru menikah."
"Baiklah, kanjeng Rama sudah menyetujuinya. Dan akupun tidak marah, hanya kuminta selama setahun menunggu ini, engkau seringlah datang ke sini untuk bercakap-cakap dengan aku, untuk mengajariku memanah."
"Baiklah, diajeng. Akan tetapi engkau juga harus banyak memberitahu padaku tentang Nusabarung dan pemerintahannya. Engkau tentu maklum bahwa kelak kanjeng Ramamu akan mengangkat aku sebagai penggantinya. Bagaimana aku dapat memerintah dengan baik kalau tidak mengenal keadaan Nusabarung?"
"Tentu saja aku akan menceritakan semua yang kuketahui, kakangmas. Soal apakah yang ingin kauketahui?"
"Segala hal yang menyangkut Nusabarung dan pemerintahannya, diajeng. Aku mendengar bahwa Nusabarung berada dibawah kekuasaan Jenggala, benarkah itu diajeng?" kata Retno Wilis sambil duduk di bangku panjang, di sebelah Dyah Candra-manik.
"Dahulu memang benar begitu, kakang-mas. Akan tetapi kanjeng Romo tidak suka membiarkan hal itu. Katanya Nusabarung harus terlepas dari kekuasaan Jenggala."
"Ah, kalau begitu berarti Nusabarung hendak menentang Jenggala. Padahal Jenggala adalah sebuah kerajaan besar. Bagaimana Nusabarung hendak menentangnya, diajeng? Apakah itu tidak berbahaya?"
"Karena itu kanjeng rama mulai menghimpun kekuatan, menghimpun pasukan yang besar. Selain itu, kanjeng rama juga berhubungan baik dengan Blambangan, bahkan kalau perlu, kita dapat minta bantuan dari Bali-dwipa. Mereka semua juga tidak suka ditundukkan oleh Jenggala dan Panjalu."
"Kalau begitu ada rencana dari Nusabarung untuk menyerang Jenggala? Ini berbahaya sekali!"
"Bukan menyerang, melainkan menjaga diri dan melakukan perlawanan kalau Jenggala berani menyerang ke sini. Kita semua sudah siap, kakangmas. Karena itulah kanjeng Rama mengadakan sayembara untukku, untuk mendapatkan seorang mantu yang sakti mandraguna seperti kakangmas. Dan karena itu pula aku ingin belajar memanah agar kalau saatnya tiba, aku dapat pula menjaga diri."
"Wahai, diajeng, siapa orangnya yang berani mengganggu andika? Selain tidak berani, juga tidak mau karena siapa yang melihat andika tentu akan merasa sayang dan tidak akan mengganggumu."
"Dalam keadaan perang, siapa yang akan memperdulikan, kakangmas? Sudahlah, apa lagi yang kakangmas tanyakan?"

Dengan cerdik Retna Wilis menghentikan pertanyaan-pertanyaannya dan mengajarkan ilmu memanah kepada dara jelita itu. Tentu saja tangan mereka bersentuhan dan Retno Wilis berlaku hati-hati sekali agar jangan sampai dara itu mengetahui rahasianya. Sikapnya yang lemah lembut, ramah dan sopan ini bahkan membuat Dyah Candramanik semakin tergila-gila. Pada hari-hari berikutnya, secara sambil lalu sambil mengajarkan memanah, Retna Wilis berhasil mengorek banyak keterangan dari puteri itu. Ia tahu bahwa Nusabarung mempunyai lima orang senopati yang gagah perkasa, yaitu Ki Wisokolo, Ki Wisangnogo, Ki Krendomolo, Ki Damarpati, dan Ki Surodiro. Mereka semua adalah senopati-senopati yang pandai berperang dan juga sakti. Juga ia mendengar dari sang puteri yang tergila-gila kepadanya itu bahwa Nusabarung tadinya mempunyai pasukan yang lebih sedikit dari seribu orang banyaknya, akan tetapi kini dengan masuknya orang-orang muda di sekitar Nusabarung, jumlah itu meningkat menjadi kurang lebih dua ribu orang. Sebagian dari jumlah itu kini berjaga di pantai daratan. Pada suatu pagi, selagi Retna Wilis melatih Dyah Candramanik yang belajar memanah, muncullah seorang petugas. Dyah Candramanik memandang dengan marah kepada petugas jaga itu.
"Mau apa engkau ke sini tanpa dipanggil? Berani engkau memasuki taman ini?"
"Maafkan hamba, gusti puteri. Hamba diutus oleh Kanjeng Gusti Adipati untuk menemui Raden Joko Wilis di sini."
"Mau apa dengan kakangmas Joko Wilis?"
"Kanjeng Gusti Adipati memanggilnya untuk menghadap sekarang juga."
Mendengar ini, Retna Wilis mendekati orang itu dengan senyum ramah dan bertanya dengan lembut,
"Paman, ada urusan apakah Kanjeng Adipati memanggilku?"
"Hamba tidak tahu, raden. Hanya yang hamba ketahui, Kanjeng Gusti Adipati sedang menerima tamu dari Blambangan."
"Tamu dari Blambangan? Siapakah mereka?"
"Hamba tidak tahu, hanya ada dua orang kakek yang berpakaian mewah datang bertamu dan tak lama kemudian Kanjeng Gusti Adipati memerintahkan saya untuk mengundang paduka."
"Baiklah, paman. Saya akan menghadap sekarang. Diajeng Dyah Candramanik, agaknya ada keperluan penting sekali maka kanjeng Ramamu memanggil aku. Aku pergi dulu."
Dyah Candramanik hanya mengangguk dengan muka bersungut-sungut karena merasa betapa kesenangannya terganggu.

Retno Wilis dan utusan itu lalu meninggalkan taman-sari. Setelah memasuki tempat persidangan di mana Sang Adipati menerima para tamunya, Retna Wilis melihat bahwa di situ duduk dua orang kakek berpakaian mewah sedang duduk berhadapan dengan Adipati Martimpang. Yang seorang adalah seorang kakek berusia enampuluh tahun lebih, pakaiannya mentereng dan bersih, rambutnya tersisir rapi dan jenggotnya juga terpelihara baik-baik. Seorang kakek yang rapi dan pesolek, mukanya bundar dan mulutnya selalu tersenyum, wajahnya yang juga lembut dan tampan itu tampak seperti kewanitaan. Adapun kakek ke dua, biarpun pakaiannya juga mewah, namun pakaian itu dekil dan kotor. Rambutnya juga awut-awutan tidak tersisir, matanya lebar hidungnya pesek dan mulutnya selalu menyeringai seperti menertawakan orang. Sekali pandang saja Retna Wilis dapat menduga bahwa kedua orang kakek itu bukan orang sembarangan. Ia dapat melihat ini dari sikap mereka yang seperti orang memandang rendah dan sinar mata mereka yang tajam berpengaruh.
"Joko Wilis! Ke sinilah, hendak kuperkenalkan dengan dua orang yang datang dari Blambangan." Dia menunjuk kepada kakek yang pakaiannya rapi dan pesolek.
"Ini adalah Sang Wasi Karangwolo, seorang pendeta yang menjadi penasihat dari Sang Adipati di Blambangan. Adapun yang kedua ini adalah Sang Wasi Surengpati, juga seorang pertapa yang kini membantu Wasi Karangwolo yang menjadi saudara seperguruannya. Paman Wasi berdua, inilah Joko Wilis yang kumaksudkan. Dialah yang memenangkan sayembara tanding itu, mengalahkan Kalinggo, bahkan mengalahkan Ki Wisokolo."
Sang Wasi Karangwolo memandang kepada Joko Wilis dengan tajam penuh selidik, senyumnya melebar dan dia berkata,
"Sungguh seorang pemuda yang ganteng sekali!"
Sang Wasi Surengpati juga memandang dan dia mengerutkan alisnya.
"Seorang bocah seperti ini keluar sebagai pemenang? Sungguh mengherankan sekali. Joko Wilis, engkau telah bertemu dengan kami, hayo cepat berlutut dan menyembah!"
Retna Wilis terkejut. Perintah itu diucapkan dengan suara dalam dan berpengaruh sekali, ia merasa seolah-olah ada tenaga yang mendorongnya untuk berlutut dan menyembah.

<<< Bagian 12                                                                                          Bagian 14 >>>

No comments:

Post a Comment