Wanita setengah tua yang duduk di dekatnya itu tentulah ibunya karena wanita itupun amat cantik. Adipati Martimpang mengajak mereka semua memasuki gedung, diiringkan oleh para prajurit pengawal. Retna Wilis berjalan di belakang, dan ia memandang ke kanan kiri ketika memasuki ruangan depan pendopo gedung itu. Sebuah istana yang cukup mewah. Setelah tiba di ruangan dalam, Adipati Martimpang duduk di atas kursi bersama para isterinya yang sudah keluar menyambut Dyah Candramanik juga duduk di dekat ibunya. Retna Wilis menghadap dan duduk bersila di atas lantai.
"Joko
Wilis," kata sang adipati dengan ramah,
"sesuai
dengan isi sayembara, andika yang telah lulus dengan baik akan kami jodohkan
dengan puteriku ini, Dyah Candramanik."
Retna Wilis
mengangkat muka memandang ke arah Dyah Candramanik yang juga memandang
kepadanya. Dua pasang mata yang sama indahnya bertemu pandang dan Dyah
Candramanik tersenyum, mukanya menjadi kemerahan dan ia menundukkan mukanya.
"Banyak
terima kasih saya haturkan kepada paduka, kanjeng gusti adipati. Akan tetapi
mohon beribu maaf bahwa saya masih terlalu muda untuk menikah," kata Retna
Wilis dengan hati berdebar karena ia khawatir adipati itu akan marah kepadanya.
Adipati
Martimpang memandang penuh selidik kepadanya.
“Joko Wilis,
apa artinya ini? Andika sudah tahu bahwa sayembara ini diadakan untuk
mencarikan jodoh puteriku, bukan? Apakah andika hendak mengatakan bahwa masukmu
mengikuti sayembara itu hanya untuk main-main belaka?" Suara adipati itu
jelas mengandung nada kemarahan.
"Tidak
sama sekali, gusti. Saya merasa berbahagia sekali, hanya saya mengatakan bahwa
saya masih terlalu muda. Kalau paduka mengijinkan, berilah waktu kepada saya
selama satu tahun lagi."
"Nanti
dulu. Kami akan bertanya kepada puteri kami. Eh, Dyah Candramanik puteriku yang
cantik, bagaimana pendapatmu dengan Joko Wilis ini? Apakah engkau sudah setuju
kalau kami jodohkan dengan dia?"
Dyah
Candramanik tersenyum sambil menundukkan mukanya, lalu terpaksa ia menjawab,
"Ah, aku
menurut bagaimana keputusan kanjeng rama saja."
Adipati
Martimpang tertawa.
"Ha-ha,
itu artinya engkau setuju. Nah, kami pikir permintaanmu itu pantas juga. Joko
Wilis. Memang andika kelihatan masih terlalu muda. Baiklah, andika tinggal di
sini selama setahun, dan setelah itu baru kalian kami nikahkan."
"Terima
kasih, gusti."
"Selama
berada di sini, andika boleh menggembleng pasukan khusus agar mereka pun
memiliki kadigdayaan. Dan andika tinggal di dalam istana ini, sebagai calon
mantu kami.
"Terima
kasih, kanjeng gusti adipati."
Tentu saja
hati Retna Wilis gembira sekali. Kalau ia diperbolehkan menanti sampai setahun
tinggal di situ, tentu banyak kesempatan baginya untuk melakukan penyelidikan
akan rencana Nusabarung, apakah benar hendak memberontak dan bersekutu dengan
Blambangan. Ia akan mempunyai banyak waktu dan sebelum setahun lewat, dengan
mudah ia akan meloloskan diri dari pulau itu. Ia yakin bahwa kakaknya, Bagus
Seta, juga telah masuk ke Nusabarung dan sekarang entah berada di mana.
Sewaktu-waktu tentu kakaknya akan menghubunginya, kalau tidak ia dapat
berjalan-jalan di pulau itu untuk mencarinya. Setelah beberapa hari tinggal di
kadipaten Nusabrung, Retna Wilis sudah mulai menyelidiki keadaan di Nusabarung
dan ia mendengar bahwa Nusabarung baru bersiap-siap menghimpun kekuatan, namun
belum ada tanda-tandanya hendak memberontak. Yang membuat hatinya tidak tenang
adalah sikap Dyah Candramanik. Pada suatu pagi puteri itu menyuruh biyung emban
untuk memanggilnya ke taman-sari. Tentu saja ia tidak berani menolak dan
memasuki taman-sari. Dyah Candramanik telah berada di situ, hanya berdua dengan
biyung emban. Setelah Retna Wilis datang, biyung emban yang tahu diri itu tanpa
diperintah sudah pergi meninggalkan mereka berdua saja di taman-sari.
Retna Wilis
tersenyum melihat sang puteri malu-malu menundukkan mukanya. Diam-diam ia
merasa kasihan kepada puteri ini. Agaknya sang puteri memang jatuh cinta
kepadanya. Melihat sang puteri diam saja, Retna Wilis mendahului bicara.
"Gusti
puteri ... "
"Ah,
kenapa engkau menyebut aku gusti? Engkau bukan hambaku dan aku bukan
gustimu," Dyah Candramanik menegur tanpa memandang muka Retna Wilis.
"Lalu,
saya harus menyebut apa?"
"Lupakah
engkau bahwa kita telah ditunangkan? Tentu engkau tahu apa yang harus kausebut
terhadap calon isterimu?" Sang puteri berkata lagi, kini memandang wajah
Retna Wilis dan sikapnya mulai agak tabah.
"Ahh ...
kalau begitu, apakah aku harus menyebutmu diajeng?"
"Memang
begitu seharusnya, kakangmas Joko Wilis."
"Baiklah,
diajeng Dyah Candramanik. Akan tetapi pagi ini engkau memanggilku ada keperluan
apakah?"
"Aku
hanya ingin bertemu dan bercakap-cakap denganmu. Kakangmas, engkau menolak
untuk dinikahkah denganku sekarang, minta mundur setahun lagi. Aku heran
sekali, kalau engkau tidak ingin menikah, mengapa engkau memasuki sayembara dan
menghadapi bahaya maut untuk memperebutkan aku?"
"Aku ...
aku ... ah, aku sebetulnya belum memikirkan tentang perjodohan diajeng."
"Akan
tetapi aneh! Mengapa mengikuti sayembara?"
"Karena
aku melihat para peserta itu sombong-sombong dan tidak ada yang sesuai untuk
menjadi jodohmu. Aku hendak mencegah engkau menikah dengan seorang dari mereka.
Kalau aku tidak ikut sayembara, tentu engkau sudah dipersunting Kalinggo dari
Blambangan itu. Apakah engkau akan suka kalau dijodohkan dengan orang sekasar
itu?"
"Tentu
saja tidak! Akan tetapi engkau yang menang. Engkau yang berhak menikah dengan
aku. Apakah ... apakah engkau tidak cinta kepadaku, kakangmas Joko Wilis?"
Retno Wilis
menjadi bingung.
"Tentu
saja aku mencintamu, diajeng. Engkau seorang puteri yang cantik jelita, siapa
tidak mencintamu? Aku hanya minta waktu, tidak ingin buru-buru menikah."
"Baiklah,
kanjeng Rama sudah menyetujuinya. Dan akupun tidak marah, hanya kuminta selama
setahun menunggu ini, engkau seringlah datang ke sini untuk bercakap-cakap
dengan aku, untuk mengajariku memanah."
"Baiklah,
diajeng. Akan tetapi engkau juga harus banyak memberitahu padaku tentang
Nusabarung dan pemerintahannya. Engkau tentu maklum bahwa kelak kanjeng Ramamu
akan mengangkat aku sebagai penggantinya. Bagaimana aku dapat memerintah dengan
baik kalau tidak mengenal keadaan Nusabarung?"
"Tentu
saja aku akan menceritakan semua yang kuketahui, kakangmas. Soal apakah yang
ingin kauketahui?"
"Segala
hal yang menyangkut Nusabarung dan pemerintahannya, diajeng. Aku mendengar
bahwa Nusabarung berada dibawah kekuasaan Jenggala, benarkah itu diajeng?"
kata Retno Wilis sambil duduk di bangku panjang, di sebelah Dyah Candra-manik.
"Dahulu
memang benar begitu, kakang-mas. Akan tetapi kanjeng Romo tidak suka membiarkan
hal itu. Katanya Nusabarung harus terlepas dari kekuasaan Jenggala."
"Ah,
kalau begitu berarti Nusabarung hendak menentang Jenggala. Padahal Jenggala
adalah sebuah kerajaan besar. Bagaimana Nusabarung hendak menentangnya,
diajeng? Apakah itu tidak berbahaya?"
"Karena
itu kanjeng rama mulai menghimpun kekuatan, menghimpun pasukan yang besar.
Selain itu, kanjeng rama juga berhubungan baik dengan Blambangan, bahkan kalau
perlu, kita dapat minta bantuan dari Bali-dwipa. Mereka semua juga tidak suka
ditundukkan oleh Jenggala dan Panjalu."
"Kalau
begitu ada rencana dari Nusabarung untuk menyerang Jenggala? Ini berbahaya
sekali!"
"Bukan
menyerang, melainkan menjaga diri dan melakukan perlawanan kalau Jenggala
berani menyerang ke sini. Kita semua sudah siap, kakangmas. Karena itulah
kanjeng Rama mengadakan sayembara untukku, untuk mendapatkan seorang mantu yang
sakti mandraguna seperti kakangmas. Dan karena itu pula aku ingin belajar
memanah agar kalau saatnya tiba, aku dapat pula menjaga diri."
"Wahai,
diajeng, siapa orangnya yang berani mengganggu andika? Selain tidak berani,
juga tidak mau karena siapa yang melihat andika tentu akan merasa sayang dan
tidak akan mengganggumu."
"Dalam
keadaan perang, siapa yang akan memperdulikan, kakangmas? Sudahlah, apa lagi
yang kakangmas tanyakan?"
Dengan cerdik
Retna Wilis menghentikan pertanyaan-pertanyaannya dan mengajarkan ilmu memanah
kepada dara jelita itu. Tentu saja tangan mereka bersentuhan dan Retno Wilis
berlaku hati-hati sekali agar jangan sampai dara itu mengetahui rahasianya.
Sikapnya yang lemah lembut, ramah dan sopan ini bahkan membuat Dyah Candramanik
semakin tergila-gila. Pada hari-hari berikutnya, secara sambil lalu sambil
mengajarkan memanah, Retna Wilis berhasil mengorek banyak keterangan dari
puteri itu. Ia tahu bahwa Nusabarung mempunyai lima orang senopati yang gagah
perkasa, yaitu Ki Wisokolo, Ki Wisangnogo, Ki Krendomolo, Ki Damarpati, dan Ki
Surodiro. Mereka semua adalah senopati-senopati yang pandai berperang dan juga
sakti. Juga ia mendengar dari sang puteri yang tergila-gila kepadanya itu bahwa
Nusabarung tadinya mempunyai pasukan yang lebih sedikit dari seribu orang
banyaknya, akan tetapi kini dengan masuknya orang-orang muda di sekitar
Nusabarung, jumlah itu meningkat menjadi kurang lebih dua ribu orang. Sebagian
dari jumlah itu kini berjaga di pantai daratan. Pada suatu pagi, selagi Retna
Wilis melatih Dyah Candramanik yang belajar memanah, muncullah seorang petugas.
Dyah Candramanik memandang dengan marah kepada petugas jaga itu.
"Mau apa
engkau ke sini tanpa dipanggil? Berani engkau memasuki taman ini?"
"Maafkan
hamba, gusti puteri. Hamba diutus oleh Kanjeng Gusti Adipati untuk menemui
Raden Joko Wilis di sini."
"Mau apa
dengan kakangmas Joko Wilis?"
"Kanjeng
Gusti Adipati memanggilnya untuk menghadap sekarang juga."
Mendengar ini,
Retna Wilis mendekati orang itu dengan senyum ramah dan bertanya dengan lembut,
"Paman,
ada urusan apakah Kanjeng Adipati memanggilku?"
"Hamba
tidak tahu, raden. Hanya yang hamba ketahui, Kanjeng Gusti Adipati sedang
menerima tamu dari Blambangan."
"Tamu
dari Blambangan? Siapakah mereka?"
"Hamba
tidak tahu, hanya ada dua orang kakek yang berpakaian mewah datang bertamu dan
tak lama kemudian Kanjeng Gusti Adipati memerintahkan saya untuk mengundang
paduka."
"Baiklah,
paman. Saya akan menghadap sekarang. Diajeng Dyah Candramanik, agaknya ada
keperluan penting sekali maka kanjeng Ramamu memanggil aku. Aku pergi
dulu."
Dyah Candramanik
hanya mengangguk dengan muka bersungut-sungut karena merasa betapa
kesenangannya terganggu.
Retno Wilis
dan utusan itu lalu meninggalkan taman-sari. Setelah memasuki tempat
persidangan di mana Sang Adipati menerima para tamunya, Retna Wilis melihat bahwa
di situ duduk dua orang kakek berpakaian mewah sedang duduk berhadapan dengan
Adipati Martimpang. Yang seorang adalah seorang kakek berusia enampuluh tahun
lebih, pakaiannya mentereng dan bersih, rambutnya tersisir rapi dan jenggotnya
juga terpelihara baik-baik. Seorang kakek yang rapi dan pesolek, mukanya bundar
dan mulutnya selalu tersenyum, wajahnya yang juga lembut dan tampan itu tampak
seperti kewanitaan. Adapun kakek ke dua, biarpun pakaiannya juga mewah, namun
pakaian itu dekil dan kotor. Rambutnya juga awut-awutan tidak tersisir, matanya
lebar hidungnya pesek dan mulutnya selalu menyeringai seperti menertawakan
orang. Sekali pandang saja Retna Wilis dapat menduga bahwa kedua orang kakek
itu bukan orang sembarangan. Ia dapat melihat ini dari sikap mereka yang
seperti orang memandang rendah dan sinar mata mereka yang tajam berpengaruh.
"Joko
Wilis! Ke sinilah, hendak kuperkenalkan dengan dua orang yang datang dari
Blambangan." Dia menunjuk kepada kakek yang pakaiannya rapi dan pesolek.
"Ini
adalah Sang Wasi Karangwolo, seorang pendeta yang menjadi penasihat dari Sang
Adipati di Blambangan. Adapun yang kedua ini adalah Sang Wasi Surengpati, juga
seorang pertapa yang kini membantu Wasi Karangwolo yang menjadi saudara
seperguruannya. Paman Wasi berdua, inilah Joko Wilis yang kumaksudkan. Dialah
yang memenangkan sayembara tanding itu, mengalahkan Kalinggo, bahkan
mengalahkan Ki Wisokolo."
Sang Wasi
Karangwolo memandang kepada Joko Wilis dengan tajam penuh selidik, senyumnya
melebar dan dia berkata,
"Sungguh
seorang pemuda yang ganteng sekali!"
Sang Wasi
Surengpati juga memandang dan dia mengerutkan alisnya.
"Seorang
bocah seperti ini keluar sebagai pemenang? Sungguh mengherankan sekali. Joko
Wilis, engkau telah bertemu dengan kami, hayo cepat berlutut dan
menyembah!"
Retna Wilis
terkejut. Perintah itu diucapkan dengan suara dalam dan berpengaruh sekali, ia
merasa seolah-olah ada tenaga yang mendorongnya untuk berlutut dan menyembah.
<<< Bagian 12 Bagian 14 >>>
No comments:
Post a Comment