Sepasang Garuda Putih ; Bagian 14


Maklum bahwa ini merupakan teriakan yang mengandung tenaga sihir, iapun memejamkan mata mengerahkan kekuatan batinnya untuk menolak perintah itu dan berkata dengan suara tenang namun juga penuh tantangan.
"Paman Wasi, tidak ada peraturan yang mengharuskan saya berlutut dan menyembah kepada orang yang belum saya ketahui benar keadaannya. Saya hanya menyembah kepada Kanjeng Adipati, akan tetapi tidak kepada kalian berdua!"

Wasi Surengpati tercengang. Tak disangkanya sama sekali bahwa pemuda remaja itu ternyata mampu menolak sihirnya yang kuat! Sang Adipati juga terkejut mendengar perintah Wasi Surengpati dan dia menegur,
"Apa maksud Kakang Wasi Surengpati dengan perintah yang tidak pada tempatnya itu? Mengapa Joko Wilis harus menyembah kepada kalian berdua yang menjadi tamu kami?"
Wasi Karangwolo yang menjawab sambil tertawa,
"Ha-haha, Kanjeng Adipati, adi Wasi Surengopati hanya ingin menguji saja kepada Joko Wilis dan ternyata pemuda remaja ini mampu menolak ujiannya. Sungguh mengagumkan sekali, seorang pemuda yang ganteng dan juga sakti mandraguna!"
Barulah Adipati Martimpang mengerti dan dia tersenyum bangga.
"Sudah kami katakan bahwa dia sakti mandraguna. Sungguh hati kami merasa girang dan bangga, seperti andika berdua saksikan sendiri, kami telah memperoleh tenaga yang amat tangguh dan boleh diandalkan!"
"Akan tetapi, Kanjeng Adipati, apa artinya tenaga seorang saja dibandingkan tenaga limaribu orang pasukan gemblengan yang kokoh kuat!" tanya Wasi Karangwolo.
Mendengar ucapan ini, Adipati Martimpang mengerutkan alisnya dan berkata kepada Joko Wilis,
"Joko Wilis, kembalilah engkau ke taman-sari dan lanjutkan beri latihan memanah kepada Dyah Candramanik."

Retno Wilis merasa kecewa dalam hatinya karena ia ingin sekali mendengar apa yang akan dibicarakan oleh dua orang tamu dari Blambangan ini. Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat membantah dan pergilah ia meninggalkan ruangan itu dan kembali ke taman-sari di mana Dyah Candrarnanik menyambutnya dengan gembira. Setelah Retno Wilis pergi, Adipati Martimpang bertanya dengan nada suara tidak senang kepada Wasi Karangwolo.
"Paman Wasi Karangwolo, apa artinya ucapan paman tadi? Apa yang paman maksudkan?"
"Maksud saya, Kanjeng Adipati, bahwa Kalinggo jauh lebih baik untuk menjadi mantu paduka dari pada Joko Wilis tadi. Betapa pun saktinya, Joko Wilis hanya seorang diri saja. Bagaimana dia akan mampu menanggulangi keadaan kalau Nusabarung diserbu pasukan dari Jenggala? Sebaliknya, kalau Kalinggo menjadi mantu paduka, tentu Blambangan akan lebih dekat dengan Nusabarung dan limaribu orang pasukan Blambangan yang kokoh kuat tentu jauh lebih berharga dari pada bantuan tenaga seorang Joko Wilis."
"Pula, harus diingat bahwa Gunung Wilis terletak di wilayah kekuasaan Panjalu. Siapa tahu kalau-kalau pemuda itu merupakan telik sandi yang hendak mengadakan penyelidikan di Nusabarung!" kata pula Wasi Surengpati.
Mendengar ucapan kedua orang tamunya itu, Adipati Martimpang mengerutkan alisnya dan hatinya menjadi gelisah. Teringatlah dia bahwa sebelum diadakan sayembara, dia sama sekali tidak mengenal Joko Wilis. Bukan tidak mungkin kalau Joko Wilis merupakan seorang mata-mata atau telik sandi yang sedang menyelidiki keadaan di Nusabarung! Dan teringat pula dia betapa Joko Wilis menolak untuk segera menikah dengan Dyah Candramanik, melainkan minta diundur selama satu tahun.
"Kalau begitu, bagaimana baiknya, Paman Wasi berdua? Dia sudah terlanjur kami terima sebagai calon mantu, karena memang dia yang memenangkan sayembara itu. Dan agaknya puteriku Dyah Candramanik juga sudah menyetujui."
"Mana yang harus diutamakan, kepentingan hati puteri paduka ataukah keselamatan kadipaten Nusabarung? Kalau paduka menghendaki, biarlah kami berdua yang akan melakukan penyelidikan terhadap diri Joko Wilis, kalau ternyata dia seorang telik sandi, kami berdua yang akan sanggup menangkapnya!" kata Wasi Karangwolo.
"Baik, paman Wasi. Akan tetapi kami harap andika berdua berhati-hati, jangan sampai membuat puteriku berduka. Kalau benar Joko Wilis seorang telik sandi dari Panjalu atau Jenggala, tentu dengan mudah kami sendiri yang akan memberitahu kepada puteriku Dyah Candramanik."

Adipati Martimpang telah membuat persekutuan dengan dua orang pendeta yang datang dari Blambangan itu untuk menyelidiki keadaan Joko Wilis! Dewi Candramanik termenung seorang diri dalam kamarnya. Apa yang dialami sore tadi ketika ia mempelajari ilmu memanah dari Joko Wilis sungguh membuat jantungnya berdebar penuh ketegangan. Selama beberapa hari ini ia memang merasakan ada sesuatu yang aneh pada diri Joko Wilis. Naluri kewanitaannya membuat ia sadar bahwa ada suatu kalainan pada diri pemuda yang membuat ia kasmaran itu. Kalau ia belajar membidik, Joko Wilis berdiri di belakangnya dan merangkulkan kedua lengan untuk mengajarinya menarik busur dan membidik, ia mencium keharuman yang seperti bunga, keharuman seperti yang terdapat pada tubuh wanita! Pula, jari-jari tangannya demikian kecil meruncing, sentuhan lengannya demikian lembut. Juga rambutnya mengeluarkan bau harum. Makin lama, hatinya menjadi semakin curiga karena Joko Wilis bergerak demikian indah dan luwes seperti seorang wanita.
"Aku harus mendapat kepastian besok pagi," akhirnya puteri itu mengambil keputusan.
Sementara itu, senja itu Retna Wilis mendapat kesempatan untuk berjalan-jalan keluar dari kadipaten. Ia terus menuju ke pintu gerbang dan keluar dari kota kadipaten, memasuki daerah berhutan dari pulau itu. Tentu saja maksudnya hanya satu, yaitu hendak menemui kakaknya. Kalau kakaknya berada di kadipaten dan melihat ia keluar dari kota, tentu kakaknya akan membayanginya. Dugaannya benar. Belum lama ia berjalan di jalan yang sunyi di tepi hutan itu, ia melihat seorang pemuda berpakaian putih di sebelah depan. Ketika ia mendekat, melihat bahwa orang itu adalah Bagus Seta.
"Kakangmas Bagus Seta!" ia memanggil.
"Diajeng Retna Wilis, engkau keluar dari kota raja untuk menemui aku, bukan?"
"Benar, kakangmas," Retna Wilis Lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa setelah berhasil memenangkan sayembara, telah mendapat banyak keterangan tentang Nusabarung dari Dyah Candramanik.
"Diajeng, sebaiknya kita sekarang lari saja meninggalkan pulau. Kalau engkau terlalu lama di sini, akhirnya engkau akan menemui halangan. Permainanmu terlalu berbahaya, diajeng."
"Nanti dulu, kakangmas. Hari ini terjadi hal yang penting. Ada dua orang utusan dari Blambangan tiba di sini dan mereka itu adalah orang-orang yang pandai. Bahkan seorang di antara mereka telah mencoba untuk mempengaruhi aku dengan ilmu sihirnya. Aku harus menyelidiki dulu apa maksud mereka datang berkunjung. Setelah itu, baru kita melarikan diri."
"Engkau telah menipu Dyah Candramanik, kalau ia mengetahui kepalsuanmu, tentu ia akan sakit hati. Karena itu berhati-hatilah, diajeng."
"Jangan khawatir, kakang. Aku akan bersikap hati-hati. Dyah Candramanik itu tidak merupakan bahaya karena ia sudah tergila-gila kepadaku, ia memang cantik, kakang. Kalau saja engkau yang mengikuti sayembara dan menikah dengannya, tentu serasi sekali!"
"Hushh, jangan bicara yang bukan-bukan, diajeng. Jangan terlalu lama engkau menyelidiki dua orang pendeta dari Blambangan itu. Kita harus cepat pergi dari sini. Hasil penyelidikanmu itu sudah cukup."
"Baik, kakangmas. Berilah waktu seminggu lagi kepadaku. Seminggu kemudian kita akan bertemu di sini, di waktu senja dan kita lari bersama."

Setelah bercakap-cakap melepas kerinduan, mereka lalu kembali ke kadipaten, mengambil jalan masing-masing. Menurut cerita Bagus Seta kepada Retna Wilis, pemuda itu mondok di rumah seorang duda tua yang hidup menyendiri di sudut kota. Pada keesokan harinya, Retna Wilis memasuki taman-sari seperti biasa untuk menemui Dyah Candramanik mengajarkan ilmu memanah. Hatinya lega karena ia telah bertemu dengan kakaknya dan dengan wajah berseri ia bertemu dengan puteri itu. Ia melihat betapa Dyah Candramanik mengenakan pakaian baru yang merah muda sehingga tampak lebih cantik dari biasanya. Retna Wilis yang sedang senang hatinya, memuji kecantikan puteri itu.
"Wahai, diajeng Candramanik, engkau kelihatan secantik bidadari dari kahyangan."
Wajah Dyah Candramanik menjadi kemerahan dan ia berkata manja.
"Ah, kakangmas, harap jangan terlalu memujiku." Ia menggapai kepada seorang pelayan dan minta agar pelayan mengambilkan minuman untuk Joko Wilis. Setelah minum, Dyah Candramanik lalu berkata,
"Kakangmas Joko Wilis, mengapa aku amat bodoh? Mempelajari ilmu memanah, sampai sekarang aku belum juga pandai memanah."
"Siapa bilang, diajeng? Engkau telah memperoleh kemajuan pesat sekali. Bukankah kemarin tiga kali anak panahmu mengenai sasaran. Itu sudah cukup bagus!"
"Kalau setiap kali melepas anak panah mengenai sasaran, itu baru dapat dibilang bagus, kakangmas. Aku masih lemah dalam hal membidik, dan ketika melepaskan anak panah, jari tangan kananku kurang tenang. Aku minta diajar membidik lagi yang lebih baik kakangmas!"
"Baiklah, diajeng. Hari ini akan kuajarkan engkau membidik ke arah sasaran agar tepat dan bagaimana engkau harus mengerahkan tenaga agar anak panahmu dapat meluncur dengan lurus."

Mulailah mereka berlatih memanah. Untuk mengajarkan bagaimana membidik dengan baik, terpaksa Joko Wilis harus memegang kedua lengan puteri itu dan untuk dapat melakukan ini, dia harus berdiri mepet di belakang puteri itu dan merangkulnya untuk membimbing kedua tangan yang memegang busur dan anak panah. Dengan cara begini, punggung puteri itu dekat sekali dengan dada Joko Wilis. Ketika mereka berdua sedang asyik belajar membidik, tidak ada orang lain yang menyaksikan karena pelayan telah disuruh pergi oleh Dyah Candramanik, tiba tiba ketika ia menarik gendewa dan membidik, puteri itu mengeluh dan tubuhnya condong ke belakang seperti hendak jatuh. Joko Wilis yang tidak menyangka, menjadi terkejut ketika siku lengan puteri itu telah mendesak buah dadanya.
"Ihh ... !" Dyah Candramanik terkejut dan kini yakin bahwa Joko Wilis adalah seorang perempuan, ia membalik dan memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan muka pucat.
"Engkau ... engkau seorang wanita ... !" bisiknya dengan napas terengah-engah karena tegang hatinya.
Retna Wilis juga terkejut sekali, tidak mengira bahwa rahasianya akan dapat diketahui puteri itu. Ia tidak dapat mengelak lagi dan demi kebaikan puteri itu sendiri ia harus berterus terang agar puteri itu tidak terus tergila-gila kepadanya.
"Maafkan saya, diajeng, terus terang saja saya memang seorang perempuan."
"Gila kau! Kenapa engkau mempermainkan aku seperti ini? Mengapa engkau mengikuti sayembara itu, bahkan memenangkannya dan bersedia dijodohkan dengan aku?"
"Sekali lagi maafkan saya. Saya seorang petualang dan dalam perantauan saya, saya melihat sayembara itu. Melihat para pengikut sayembara yang sombong-sombong dan kasar-kasar, saya tidak tega membiarkan diajeng menjadi isteri seorang di antara mereka. Karena itu aku lalu memasuki sayembara untuk mengalahkan mereka semua sehingga andika terhindar dari pada bahaya menjadi jodoh orang-orang kasar itu."
Akan tetapi Dyah Candramanik tidak menjawab dan ia menangis, lalu bangkit berdiri dan lari meninggalkan Retna Wilis, kembali ke gedung kadipaten. Sejenak Retna Wilis bimbang. Apa yang harus ia lakukan? Apa pula yang akan dilakukan puteri itu? Apakah ia harus cepat melarikan diri? Retna Wilis menanti di taman-sari sampai lama, mengharapkan sang puteri akan kembali ke situ. Akan tetapi setelah dinanti-nanti sampai agak lama sang puteri tidak juga muncul, ia lalu kembali ke kamarnya dan mengambil keputusan untuk melarikan diri pada waktu senja nanti.

Sementara itu, Dyah Candramanik berlari ke dalam gedung kadipaten sambil menangis. Ia mencari ayahnya dan melihat ayahnya sedang berada di ruangan tamu bersama dua orang tamu kakek dari Blambangan itu, ia tidak perduli dan terus lari memasuki ruangan itu dan langsung menubruk ayahnya sambil menangis.
"Duh, kanjeng Romo ... !" ia menangis.
"Eh, Dyah Candramanik, ada apakah? Apa yang terjadi dan mengapa engkau menangis seperti ini?"
"Aduh celaka, kanjeng Romo, kita telah tertipu dan terhina... !" Kata-katanya terhenti karena tangisnya yang tersedu-sedu.
"Tenanglah, anakku. Ceritakan dengan tenang dan jelas apa yang telah terjadi."
“Kanjeng Romo, Joko Wilis itu ...dia itu ... ternyata adalah seorang wanita ... !"
"Apa?" Adipati Martimpang bangkit berdiri dengan mata terbelalak.

<<< Bagian 13                                                                                          Bagian 15 >>>

No comments:

Post a Comment