Maklum bahwa ini merupakan teriakan yang mengandung tenaga sihir, iapun memejamkan mata mengerahkan kekuatan batinnya untuk menolak perintah itu dan berkata dengan suara tenang namun juga penuh tantangan.
"Paman
Wasi, tidak ada peraturan yang mengharuskan saya berlutut dan menyembah kepada
orang yang belum saya ketahui benar keadaannya. Saya hanya menyembah kepada
Kanjeng Adipati, akan tetapi tidak kepada kalian berdua!"
Wasi
Surengpati tercengang. Tak disangkanya sama sekali bahwa pemuda remaja itu
ternyata mampu menolak sihirnya yang kuat! Sang Adipati juga terkejut mendengar
perintah Wasi Surengpati dan dia menegur,
"Apa
maksud Kakang Wasi Surengpati dengan perintah yang tidak pada tempatnya itu?
Mengapa Joko Wilis harus menyembah kepada kalian berdua yang menjadi tamu
kami?"
Wasi
Karangwolo yang menjawab sambil tertawa,
"Ha-haha,
Kanjeng Adipati, adi Wasi Surengopati hanya ingin menguji saja kepada Joko
Wilis dan ternyata pemuda remaja ini mampu menolak ujiannya. Sungguh
mengagumkan sekali, seorang pemuda yang ganteng dan juga sakti
mandraguna!"
Barulah
Adipati Martimpang mengerti dan dia tersenyum bangga.
"Sudah
kami katakan bahwa dia sakti mandraguna. Sungguh hati kami merasa girang dan
bangga, seperti andika berdua saksikan sendiri, kami telah memperoleh tenaga
yang amat tangguh dan boleh diandalkan!"
"Akan
tetapi, Kanjeng Adipati, apa artinya tenaga seorang saja dibandingkan tenaga
limaribu orang pasukan gemblengan yang kokoh kuat!" tanya Wasi Karangwolo.
Mendengar
ucapan ini, Adipati Martimpang mengerutkan alisnya dan berkata kepada Joko
Wilis,
"Joko
Wilis, kembalilah engkau ke taman-sari dan lanjutkan beri latihan memanah
kepada Dyah Candramanik."
Retno Wilis
merasa kecewa dalam hatinya karena ia ingin sekali mendengar apa yang akan
dibicarakan oleh dua orang tamu dari Blambangan ini. Akan tetapi tentu saja ia
tidak dapat membantah dan pergilah ia meninggalkan ruangan itu dan kembali ke
taman-sari di mana Dyah Candrarnanik menyambutnya dengan gembira. Setelah Retno
Wilis pergi, Adipati Martimpang bertanya dengan nada suara tidak senang kepada
Wasi Karangwolo.
"Paman
Wasi Karangwolo, apa artinya ucapan paman tadi? Apa yang paman maksudkan?"
"Maksud
saya, Kanjeng Adipati, bahwa Kalinggo jauh lebih baik untuk menjadi mantu
paduka dari pada Joko Wilis tadi. Betapa pun saktinya, Joko Wilis hanya seorang
diri saja. Bagaimana dia akan mampu menanggulangi keadaan kalau Nusabarung
diserbu pasukan dari Jenggala? Sebaliknya, kalau Kalinggo menjadi mantu paduka,
tentu Blambangan akan lebih dekat dengan Nusabarung dan limaribu orang pasukan
Blambangan yang kokoh kuat tentu jauh lebih berharga dari pada bantuan tenaga
seorang Joko Wilis."
"Pula,
harus diingat bahwa Gunung Wilis terletak di wilayah kekuasaan Panjalu. Siapa
tahu kalau-kalau pemuda itu merupakan telik sandi yang hendak mengadakan
penyelidikan di Nusabarung!" kata pula Wasi Surengpati.
Mendengar
ucapan kedua orang tamunya itu, Adipati Martimpang mengerutkan alisnya dan
hatinya menjadi gelisah. Teringatlah dia bahwa sebelum diadakan sayembara, dia
sama sekali tidak mengenal Joko Wilis. Bukan tidak mungkin kalau Joko Wilis
merupakan seorang mata-mata atau telik sandi yang sedang menyelidiki keadaan di
Nusabarung! Dan teringat pula dia betapa Joko Wilis menolak untuk segera
menikah dengan Dyah Candramanik, melainkan minta diundur selama satu tahun.
"Kalau
begitu, bagaimana baiknya, Paman Wasi berdua? Dia sudah terlanjur kami terima
sebagai calon mantu, karena memang dia yang memenangkan sayembara itu. Dan
agaknya puteriku Dyah Candramanik juga sudah menyetujui."
"Mana
yang harus diutamakan, kepentingan hati puteri paduka ataukah keselamatan
kadipaten Nusabarung? Kalau paduka menghendaki, biarlah kami berdua yang akan
melakukan penyelidikan terhadap diri Joko Wilis, kalau ternyata dia seorang
telik sandi, kami berdua yang akan sanggup menangkapnya!" kata Wasi
Karangwolo.
"Baik,
paman Wasi. Akan tetapi kami harap andika berdua berhati-hati, jangan sampai membuat
puteriku berduka. Kalau benar Joko Wilis seorang telik sandi dari Panjalu atau
Jenggala, tentu dengan mudah kami sendiri yang akan memberitahu kepada puteriku
Dyah Candramanik."
Adipati
Martimpang telah membuat persekutuan dengan dua orang pendeta yang datang dari
Blambangan itu untuk menyelidiki keadaan Joko Wilis! Dewi Candramanik termenung
seorang diri dalam kamarnya. Apa yang dialami sore tadi ketika ia mempelajari
ilmu memanah dari Joko Wilis sungguh membuat jantungnya berdebar penuh
ketegangan. Selama beberapa hari ini ia memang merasakan ada sesuatu yang aneh
pada diri Joko Wilis. Naluri kewanitaannya membuat ia sadar bahwa ada suatu
kalainan pada diri pemuda yang membuat ia kasmaran itu. Kalau ia belajar
membidik, Joko Wilis berdiri di belakangnya dan merangkulkan kedua lengan untuk
mengajarinya menarik busur dan membidik, ia mencium keharuman yang seperti
bunga, keharuman seperti yang terdapat pada tubuh wanita! Pula, jari-jari
tangannya demikian kecil meruncing, sentuhan lengannya demikian lembut. Juga
rambutnya mengeluarkan bau harum. Makin lama, hatinya menjadi semakin curiga
karena Joko Wilis bergerak demikian indah dan luwes seperti seorang wanita.
"Aku
harus mendapat kepastian besok pagi," akhirnya puteri itu mengambil
keputusan.
Sementara itu,
senja itu Retna Wilis mendapat kesempatan untuk berjalan-jalan keluar dari
kadipaten. Ia terus menuju ke pintu gerbang dan keluar dari kota kadipaten,
memasuki daerah berhutan dari pulau itu. Tentu saja maksudnya hanya satu, yaitu
hendak menemui kakaknya. Kalau kakaknya berada di kadipaten dan melihat ia
keluar dari kota, tentu kakaknya akan membayanginya. Dugaannya benar. Belum
lama ia berjalan di jalan yang sunyi di tepi hutan itu, ia melihat seorang
pemuda berpakaian putih di sebelah depan. Ketika ia mendekat, melihat bahwa
orang itu adalah Bagus Seta.
"Kakangmas
Bagus Seta!" ia memanggil.
"Diajeng
Retna Wilis, engkau keluar dari kota raja untuk menemui aku, bukan?"
"Benar,
kakangmas," Retna Wilis Lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa
setelah berhasil memenangkan sayembara, telah mendapat banyak keterangan
tentang Nusabarung dari Dyah Candramanik.
"Diajeng,
sebaiknya kita sekarang lari saja meninggalkan pulau. Kalau engkau terlalu lama
di sini, akhirnya engkau akan menemui halangan. Permainanmu terlalu berbahaya,
diajeng."
"Nanti
dulu, kakangmas. Hari ini terjadi hal yang penting. Ada dua orang utusan dari
Blambangan tiba di sini dan mereka itu adalah orang-orang yang pandai. Bahkan
seorang di antara mereka telah mencoba untuk mempengaruhi aku dengan ilmu
sihirnya. Aku harus menyelidiki dulu apa maksud mereka datang berkunjung.
Setelah itu, baru kita melarikan diri."
"Engkau
telah menipu Dyah Candramanik, kalau ia mengetahui kepalsuanmu, tentu ia akan
sakit hati. Karena itu berhati-hatilah, diajeng."
"Jangan
khawatir, kakang. Aku akan bersikap hati-hati. Dyah Candramanik itu tidak
merupakan bahaya karena ia sudah tergila-gila kepadaku, ia memang cantik,
kakang. Kalau saja engkau yang mengikuti sayembara dan menikah dengannya, tentu
serasi sekali!"
"Hushh,
jangan bicara yang bukan-bukan, diajeng. Jangan terlalu lama engkau menyelidiki
dua orang pendeta dari Blambangan itu. Kita harus cepat pergi dari sini. Hasil
penyelidikanmu itu sudah cukup."
"Baik,
kakangmas. Berilah waktu seminggu lagi kepadaku. Seminggu kemudian kita akan
bertemu di sini, di waktu senja dan kita lari bersama."
Setelah
bercakap-cakap melepas kerinduan, mereka lalu kembali ke kadipaten, mengambil
jalan masing-masing. Menurut cerita Bagus Seta kepada Retna Wilis, pemuda itu
mondok di rumah seorang duda tua yang hidup menyendiri di sudut kota. Pada
keesokan harinya, Retna Wilis memasuki taman-sari seperti biasa untuk menemui
Dyah Candramanik mengajarkan ilmu memanah. Hatinya lega karena ia telah bertemu
dengan kakaknya dan dengan wajah berseri ia bertemu dengan puteri itu. Ia
melihat betapa Dyah Candramanik mengenakan pakaian baru yang merah muda
sehingga tampak lebih cantik dari biasanya. Retna Wilis yang sedang senang
hatinya, memuji kecantikan puteri itu.
"Wahai,
diajeng Candramanik, engkau kelihatan secantik bidadari dari kahyangan."
Wajah Dyah
Candramanik menjadi kemerahan dan ia berkata manja.
"Ah,
kakangmas, harap jangan terlalu memujiku." Ia menggapai kepada seorang
pelayan dan minta agar pelayan mengambilkan minuman untuk Joko Wilis. Setelah
minum, Dyah Candramanik lalu berkata,
"Kakangmas
Joko Wilis, mengapa aku amat bodoh? Mempelajari ilmu memanah, sampai sekarang
aku belum juga pandai memanah."
"Siapa
bilang, diajeng? Engkau telah memperoleh kemajuan pesat sekali. Bukankah
kemarin tiga kali anak panahmu mengenai sasaran. Itu sudah cukup bagus!"
"Kalau
setiap kali melepas anak panah mengenai sasaran, itu baru dapat dibilang bagus,
kakangmas. Aku masih lemah dalam hal membidik, dan ketika melepaskan anak
panah, jari tangan kananku kurang tenang. Aku minta diajar membidik lagi yang
lebih baik kakangmas!"
"Baiklah,
diajeng. Hari ini akan kuajarkan engkau membidik ke arah sasaran agar tepat dan
bagaimana engkau harus mengerahkan tenaga agar anak panahmu dapat meluncur
dengan lurus."
Mulailah
mereka berlatih memanah. Untuk mengajarkan bagaimana membidik dengan baik,
terpaksa Joko Wilis harus memegang kedua lengan puteri itu dan untuk dapat
melakukan ini, dia harus berdiri mepet di belakang puteri itu dan merangkulnya
untuk membimbing kedua tangan yang memegang busur dan anak panah. Dengan cara
begini, punggung puteri itu dekat sekali dengan dada Joko Wilis. Ketika mereka
berdua sedang asyik belajar membidik, tidak ada orang lain yang menyaksikan
karena pelayan telah disuruh pergi oleh Dyah Candramanik, tiba tiba ketika ia
menarik gendewa dan membidik, puteri itu mengeluh dan tubuhnya condong ke
belakang seperti hendak jatuh. Joko Wilis yang tidak menyangka, menjadi
terkejut ketika siku lengan puteri itu telah mendesak buah dadanya.
"Ihh ...
!" Dyah Candramanik terkejut dan kini yakin bahwa Joko Wilis adalah
seorang perempuan, ia membalik dan memandang kepada pemuda itu dengan mata
terbelalak dan muka pucat.
"Engkau
... engkau seorang wanita ... !" bisiknya dengan napas terengah-engah
karena tegang hatinya.
Retna Wilis
juga terkejut sekali, tidak mengira bahwa rahasianya akan dapat diketahui
puteri itu. Ia tidak dapat mengelak lagi dan demi kebaikan puteri itu sendiri
ia harus berterus terang agar puteri itu tidak terus tergila-gila kepadanya.
"Maafkan
saya, diajeng, terus terang saja saya memang seorang perempuan."
"Gila
kau! Kenapa engkau mempermainkan aku seperti ini? Mengapa engkau mengikuti
sayembara itu, bahkan memenangkannya dan bersedia dijodohkan dengan aku?"
"Sekali
lagi maafkan saya. Saya seorang petualang dan dalam perantauan saya, saya
melihat sayembara itu. Melihat para pengikut sayembara yang sombong-sombong dan
kasar-kasar, saya tidak tega membiarkan diajeng menjadi isteri seorang di
antara mereka. Karena itu aku lalu memasuki sayembara untuk mengalahkan mereka
semua sehingga andika terhindar dari pada bahaya menjadi jodoh orang-orang
kasar itu."
Akan tetapi
Dyah Candramanik tidak menjawab dan ia menangis, lalu bangkit berdiri dan lari
meninggalkan Retna Wilis, kembali ke gedung kadipaten. Sejenak Retna Wilis
bimbang. Apa yang harus ia lakukan? Apa pula yang akan dilakukan puteri itu?
Apakah ia harus cepat melarikan diri? Retna Wilis menanti di taman-sari sampai
lama, mengharapkan sang puteri akan kembali ke situ. Akan tetapi setelah
dinanti-nanti sampai agak lama sang puteri tidak juga muncul, ia lalu kembali
ke kamarnya dan mengambil keputusan untuk melarikan diri pada waktu senja
nanti.
Sementara itu,
Dyah Candramanik berlari ke dalam gedung kadipaten sambil menangis. Ia mencari
ayahnya dan melihat ayahnya sedang berada di ruangan tamu bersama dua orang
tamu kakek dari Blambangan itu, ia tidak perduli dan terus lari memasuki
ruangan itu dan langsung menubruk ayahnya sambil menangis.
"Duh,
kanjeng Romo ... !" ia menangis.
"Eh, Dyah
Candramanik, ada apakah? Apa yang terjadi dan mengapa engkau menangis seperti
ini?"
"Aduh
celaka, kanjeng Romo, kita telah tertipu dan terhina... !" Kata-katanya
terhenti karena tangisnya yang tersedu-sedu.
"Tenanglah,
anakku. Ceritakan dengan tenang dan jelas apa yang telah terjadi."
“Kanjeng Romo,
Joko Wilis itu ...dia itu ... ternyata adalah seorang wanita ... !"
"Apa?"
Adipati Martimpang bangkit berdiri dengan mata terbelalak.
<<< Bagian 13 Bagian 15 >>>
No comments:
Post a Comment