Sepasang Garuda Putih ; Bagian 15


"Di mana si bedebah itu? Berani ia mempermainkan kita!"
"Aku meninggalkannya di taman-sari, kanjeng Romo."
"Kanjeng Adipati, biarlah kami berdua yang akan menangkapnya!" kata Wasi Karangwolo yang sudah bangkit berdiri bersama adik seperguruannya, Wasi Surengpati.
"Akan kukerahkan pasukan untuk membantu andika berdua!"
Terjadi kesibukan. Tidak kurang dari tigapuluh orang dikerahkan untuk mengawal dua orang pendeta yang akan menangkap Retna Wilis itu. Mereka lalu mencari dara yang menyamar sebagai pemuda itu. Akan tetapi Retna Wilis sudah meninggalkan taman-sari dan berada di dalam kamar nya. Ketika itu Retna Wilis masih merasa bimbang. Ia masih ingin menyelidiki kehadiran dua orang pendeta utusan Blambangan itu, akan tetapi tidak disangkanya sama sekali rahasianya akan terbuka oleh sang puteri. Sama sekali ia tidak tahu bahwa dirinya sudah dibayangi oleh dua orang pendeta itu, bahkan kini kamarnya sudah dikepung oleh tigapuluh orang prajurit yang membawa gendewa dan anak panah!

Ketika ia mendengar gerakan orang-orang di luar kamarnya, Retna Wilis lalu mengintai dari balik jendela. Alangkah terkejutnya melihat banyak prajurit sudah menodongkan anak panah mereka ke arah pintu, juga jendela kamarnya. Kalau ia berusaha keluar dari pintu atau jendela itu, tentu hujan anak panah akan menyambutnya dan itu berbahaya sekali. Mana mungkin menangkis puluhan batang anak panah yang dihujamkan ke arahnya.
"Joko Wilis, keluar dan menyerahlah. Engkau sudah dikepung!" terdengar bentak nyaring dan Retna Wilis mengenal suara ini sebagai suara Adipati Martimpang sendiri. Maklumlah ia bahwa rahasianya tentu sudah dibuka oleh Dyah Candramanik sehingga sang adipati itu juga sudah tahu bahwa ia seorang wanita yang menyamar pria. Ia harus dapat meloloskan diri dari situ karena bahaya besar mengancamnya! Jalan melalui pintu atau jendela sudah tertutup, tak mungkin ia keluar dari situ. Satu-satunya jalan adalah menerobos atap rumah! Setelah menghadapi ancaman bahaya ini baru ia merasa menyesal mengapa ia tidak menurut nasihat Bagus Seta untuk melarikan diri kemarin, dan lebih menyesal lagi bahwa ia tidak membawa pedang pusakanya. Dengan pedang itu mungkin ia dapat menerobos keluar dan memutar pedangnya menangkis hujan anak panah. Sekarang ia bertangan kosong, tidak mungkin ia menempuh bahaya itu.
Setelah mengambil keputusan, Retna Wilis lalu mengerahkan tenaga saktinya dan ia meloncat naik melalui atap yang diterobosnya dengan kedua tangannya. Ia berhasil menerobos atap dan berada di atas atap. Akan tetapi sama sekali ia tidak mengira bahwa di situ sudah menanti Wasi Karangwolo dan Wasi Surengpati! Dua orang pendeta ini sudah menduga bahwa Retna Wilis mungkin mengambil jalan menerobos atap, maka begitu tubuh dara perkasa itu muncul, Wasi Karangwolo sudah menyambutnya dengan sambitan tepung berwarna kuning ke arah muka Retna Wilis dan Wasi Surengpati menyodokkan tongkat ularnya ke arah lehernya! Retna Wilis menangkis sodokan tongkat ular itu, akan tetapi ia tidak dapat menghindar ketika bubuk kuning itu sebagian mengenai mukanya! Matanya tiba-tiba menjadi pedih dan tidak dapat dibuka, dan hidungnya mencium bau yang amis dan keras. Tiba-tiba ia merasa napasnya sesak dan terpelantinglah Retna Wilis di atas atap ! Dengan mudah Wasi Karangwolo menyambut tubuhnya dan menelikung sehingga Retna Wilis yang jatuh pingsan itu tidak berdaya lagi. Wasi Karangwolo membawanya loncat ke bawah. Melihat Joko Wilis sudah tertawan, Adipati Martimpang menghunus kerisnya dan hendak menusukkan keris itu ke dada Joko Wilis.
"Biar kubunuh penipu dan pengacau ini!" hardiknya.
Akan tetapi Wasi Karangwolo menghalangi.
"Sabar dulu, Kanjeng Adipati. Jangan tergesa-gesa membunuhnya. Mungkin saja ia dapat mengaku terus terang siapa sebenarnya ia ini, mungkin telik sandi yang dilepaskan Panjalu atau Jenggala untuk menyelidiki keadaan kita. Kalau ia sudah membuat pengakuan, nah, baru boleh ia dibunuh di depan rakyat jelata agar mereka takut membuat kacau seperti dara ini."
Adipati Martimpang mengangguk-angguk dan menyarungkan kembali kerisnya.
"Sesuka andika berdua sajalah untuk memeriksanya, kalau perlu boleh menyiksanya agar ia mengaku."
Wasi Karangwolo tersenyum.
"Kamu mempunyai cara yang lebih baik untuk membuat ia mengaku, bukan dengan penyiksaan karena boleh jadi dara ini cukup tangguh untuk membungkam mulut dan menahan segala siksaan. Dengan cara kami ia akan dengan sendirinya membuat pengakuan. Akan tetapi ia telah menghisap bubuk racun kuning kami dan mungkin sore nanti baru sadar. Kami hanya minta sebuah kamar tahanan yang kokoh kuat untuk mengurung dirinya."

Retna Wilis lalu diangkat ke dalam sebuah kamar tahanan yang terbuat dari batu dan pintunya terbuat dari besi tebal dengan jeruji di bagian atasnya. Setelah kedua kaki dan tangannya diikat dengan tali yang kuat, ditelikung seperti seekor domba yang hendak disembelih, Retna Wilis lalu dilempar ke dalam kamar tahanan itu. Wasi Karangwolo dan Resi Surengpati minta kepada para penjaga untuk meninggalkan mereka bertiga saja dengan tawanan itu. Setelah semua orang pergi, mereka lalu mengerahkan tenaga batin mereka untuk melakukan sihir atas diri Retna Wilis. Dalam keadaan tidak sadar, Retna Wilis dibuka kedua pelupuk matanya dan kedua orang pendeta itu memandang dengan sinar mata mencorong ke dalam mata Retna Wilis.
"Hei, wanita muda yang menyamar sebagai Joko Wilis. Engkau akan menuruti semua kehendak kami! Kalau sudah sadar engkau harus menjawab semua pertanyaan kami dengan sebenarnya!" Kalimat itu di ulang-ulang dan beberapa mantera dibisikkan oleh kedua Wasi itu sampai akhirnya Retna Wilis yang masih pingsan itu mengangguk-angguk. Mereka melepaskan lagi Retna Wilis yang rebah tak berdaya diatas lantai dan barulah mereka keluar dari kamar tahanan itu. Gadis itu sudah dikuasai dan dikendalikan pikirannya dengan ilmu sihir dan kedua kaki tangannya juga terikat kuat, sedikitpun tidak ada kemungkinan untuk meloloskan diri. Belum lagi keadaan kamar tahanan itu yang kokoh kuat dan di luar kamar tahanan terdapat belasan orang prajurit yang menjaganya. Biar ditambah sepasang sayap di pundak dara itu tak mungkin ia dapat meloloskan diri. Tubuh dalam kamar tahanan itu bergerak-gerak, menggerakkan kaki tangannya akan tetapi ia tidak mampu bangkit. Kedua kaki dan tangannya sudah terbelenggu kuat-kuat. Retna Wilis mulai sadar dari pingsannya, akan tetapi ia tidak dapat menggerakkan kaki tangannya. Kepalanya terasa pening sekali. Ketika membuka matanya, ia melihat bahwa dirinya menggeletak di atas lantai yang dingin. Ketika ia mencoba menggerakkan kaki tangannya, ia tidak dapat. Tubuhnya terasa lemas sekali. Ia tidak dapat mengingat dengan jelas apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ia kini hanya tahu bahwa ia telah dibelenggu kaki tangannya dan berada dalam sebuah kamar yang tidak berapa luas, yang hanya mempunyai sebuah pintu baja yang bagian atasnya ada terali besinya yang amat kuat. Ia telah ditawan! Pikiran ini membingungkannya. Ketika timbul niatnya untuk mematahkan belenggu pada kaki tangannya, mendadak di dalam kepalanya terdengar suara yang amat berwibawa.
"Engkau tidak dapat membebaskan diri dari belenggu karena semua tenagamu habis. Engkau merasa tubuhmu tidak berdaya, lemah lunglai!"
Ia harus membenarkan kata-kata yang terngiang di dalam telinganya ini. Tidak mungkin ia membebaskan diri dari belenggu yang demikian kuatnya, sedangkan tubuhnya demikian lemas tak berdaya.
"Aku lemah ... tubuhku lemah tak berdaya ... " katanya membenarkan, dan iapun tidak berani mencoba mengerahkan tenaganya lagi, melainkan rebah miring tak berdaya. Tiba-tiba Retna Wilis melihat dua muka orang muncul di luar terali besi itu. Ia tidak ingat lagi siapa mereka, akan tetapi yang tampak olehnya hanya dua pasang mata yang mencorong seperti api dan yang seolah-olah mengikatnya. Ia menjadi gelisah menatap dua pasang mata itu.
"Wanita muda, siapakah namamu? Jawab yang benar!"
Retna Wilis merasa aneh sekali. Mengapa ada orang bertanya seperti itu dan ia merasa tak berdaya, merasa bahwa ia harus menjawab sejujurnya? Akan tetapi ia tidak mampu menahan diri dan ia harus menjawab sejujurnya, seolah ada sesuatu yang amat kuat mendorongnya untuk menjawab.
"Namaku Retna Wilis."

Dua orang kakek itu adalah Wasi Surengpati dan Wasi Karangwolo. Mendengar jawaban itu, mereka saling pandang. Wasi Karangwolo lalu bertanya lagi sambil mengerahkan kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi Ratna Wilis.
“Dari mana engkau datang?"
"Dari Panjalu."
Kembali dua orang kakek itu saling pandang dan pada saat itu, Adipati Martimbangpun datang dan ikut menjenguk lewat terali besi di bagian atas pintu. Melihat kehadiran adipati Martimpang, Wasi Karangwolo mengulang lagi pertanyaannya.
"Wanita muda, katakan siapa namamu dan darimana engkau datang!"
Bagaikan seorang yang sedang mimpi, jawaban itu meluncur dari mulut Retna Wilis di luar kehendaknya sendiri.
"Namaku Retna Wilis dan aku datang dari Panjalu."
Adipati Martimpang terkejut. Dia tidak mengenal nama Retna Wilis akan tetapi pengakuan gadis itu bahwa ia datang dari Panjalu mengejutkan hatinya. Kiranya benar bahwa gadis ini seorang telik-sandi yang dikirim oleh Kerajaan Panjalu!
"Siapa yang mengutusmu datang ke Nusabarung?”
"Tidak ada yang mengutusku."
"Apa maksudmu datang ke Nusabarung?"
"Hendak melihat-lihat keadaan, menentang kejahatan, membela yang benar dengan adil!" kata-kata terakhir itu adalah tugas yang selalu didengungkan oleh Bagus Seta kepada Retna Wilis, maka sekarang kata-kata itu keluar dengan sendirinya."
"Siapa ayah bundamu?" Wasi Karangwolo kembali bertanya untuk dapat mengetahui lebih banyak tentang gadis yang menjadi tawanan itu.
"Ayahku Patih Panjalu Tejolaksono dan ibuku Endang Patibroto!"

Dua orang kakek dan adipati itu terkejut setengah mati. Mata mereka terbelalak ketika mereka saling pandang. Kalau nama Retna Wilis tidak mereka kenal, maka nama Tejolaksono dan Endang Patibroto itu tentu saja telah mereka kenal dengan baik! Dua orang yang sakti mandraguna, yang pernah menggegerkan Nusabarung dan Blambangan.
Wasi Karangwolo selain terkejut juga girang sekali. Dia menganggap Tejolaksono dan Endang Palibroto sebagai musuh besarnya. Kakek ini adalah guru dari para senopati di Blambangan yang dulu terbunuh oleh Endang Patibroto. Para muridnya itu adalah Mayangkrudo, Kolonarmodo, dan Haryo Baruno. Bahkan Adipati Blambangan di waktu itu, Menak Linggo juga terbunuh oleh wanita sakti itu. Dan kini puteri Endang Patibroto dan Tejolaksono berada di dalam tangannya! Sungguh merupakan balas dendam yang terasa manis sekali bagi Wasi Kawangwolo. Adipati Martimpang kini yakin pula bahwa puteri patih Panjalu itu pasti datang untuk menyelidiki keadaan dan kekuatan Nusabarung. Gadis ini merupakan orang yang berbahaya sekali.
"Ia seorang yang berbahaya sekali!" kata Adipati Martimpang.
"Kita bunuh saja ia sebelum ia dapat memberi keterangan tentang Nusabarung kepada Raja Panjalu!"
"Nanti dulu, Kanjeng Adipati. Kita kuras dulu keterangan darinya sebanyak-banyaknya," kata Wasi Karangwolo. Dia lalu memandang lagi kepada Retna Wilis dan suaranya menggetar penuh wibawa ketika dia bertanya,
"Retna Wilis, dengan siapa saja engkau datang ke Nusabarung?"
"Dengan kakakku."
"Siapa kakakmu itu?" tanya Wasi Karangwolo, semakin penasaran.
"Kakangmas Bagus Seta."
"Di mana dia sekarang?"
"Di Nusabarung."
"Ya, tapi di mana?"
Retna Wilis tidak menjawab karena memang ia tidak tahu di mana kakaknya berada.
"Retna Wilis, jawab, atau aku akan membikin pecah kepalamu. Engkau merasa kepalamu nyeri sekali, seperti dipukuli dari dalam!"
Mendadak Retna Wilis memejamkan matanya dan mengerang kesakitan, menggeleng-gelengkan kepalanya yang terasa nyeri sekali.
"Hayo katakan, di mana adanya Bagus Seta?"

Tiba-tiba tampak uap putih, dan sesosok bayangan putih berkelebat, tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pemuda, berpakaian serba putih.
"Aku berada di sini!" kata Bagus Seta yang dengan kepandaiannya yang tinggi sudah dapat memasuki tempat itu. Dia lalu melemparkan tangkai bunga cempaka putih ke arah kepala Retna Wilis dan dia berkata lembut namun penuh getaran yang berwibawa.
"Diajeng Retna Wilis, sadarlah! Engkau telah bebas dari pengaruh jahat yang menguasaimu, tenagamu telah pulih kembali seperti sedia kala!"
Adipati Martimpang terkejut sekali dan berteriak memanggil para senopatinya yang masih berada di luar.
"Tangkap pemuda itu!" bentaknya dan dia sendiri lalu menyelinap dan pergi dari tempat itu.

<<< Bagian 14                                                                                          Bagian 16 >>>

No comments:

Post a Comment