"Di mana si bedebah itu? Berani ia mempermainkan kita!"
"Aku
meninggalkannya di taman-sari, kanjeng Romo."
"Kanjeng
Adipati, biarlah kami berdua yang akan menangkapnya!" kata Wasi Karangwolo
yang sudah bangkit berdiri bersama adik seperguruannya, Wasi Surengpati.
"Akan
kukerahkan pasukan untuk membantu andika berdua!"
Terjadi
kesibukan. Tidak kurang dari tigapuluh orang dikerahkan untuk mengawal dua orang
pendeta yang akan menangkap Retna Wilis itu. Mereka lalu mencari dara yang
menyamar sebagai pemuda itu. Akan tetapi Retna Wilis sudah meninggalkan
taman-sari dan berada di dalam kamar nya. Ketika itu Retna Wilis masih merasa
bimbang. Ia masih ingin menyelidiki kehadiran dua orang pendeta utusan
Blambangan itu, akan tetapi tidak disangkanya sama sekali rahasianya akan
terbuka oleh sang puteri. Sama sekali ia tidak tahu bahwa dirinya sudah
dibayangi oleh dua orang pendeta itu, bahkan kini kamarnya sudah dikepung oleh
tigapuluh orang prajurit yang membawa gendewa dan anak panah!
Ketika ia
mendengar gerakan orang-orang di luar kamarnya, Retna Wilis lalu mengintai dari
balik jendela. Alangkah terkejutnya melihat banyak prajurit sudah menodongkan
anak panah mereka ke arah pintu, juga jendela kamarnya. Kalau ia berusaha
keluar dari pintu atau jendela itu, tentu hujan anak panah akan menyambutnya
dan itu berbahaya sekali. Mana mungkin menangkis puluhan batang anak panah yang
dihujamkan ke arahnya.
"Joko
Wilis, keluar dan menyerahlah. Engkau sudah dikepung!" terdengar bentak
nyaring dan Retna Wilis mengenal suara ini sebagai suara Adipati Martimpang
sendiri. Maklumlah ia bahwa rahasianya tentu sudah dibuka oleh Dyah Candramanik
sehingga sang adipati itu juga sudah tahu bahwa ia seorang wanita yang menyamar
pria. Ia harus dapat meloloskan diri dari situ karena bahaya besar
mengancamnya! Jalan melalui pintu atau jendela sudah tertutup, tak mungkin ia
keluar dari situ. Satu-satunya jalan adalah menerobos atap rumah! Setelah
menghadapi ancaman bahaya ini baru ia merasa menyesal mengapa ia tidak menurut
nasihat Bagus Seta untuk melarikan diri kemarin, dan lebih menyesal lagi bahwa
ia tidak membawa pedang pusakanya. Dengan pedang itu mungkin ia dapat menerobos
keluar dan memutar pedangnya menangkis hujan anak panah. Sekarang ia bertangan
kosong, tidak mungkin ia menempuh bahaya itu.
Setelah
mengambil keputusan, Retna Wilis lalu mengerahkan tenaga saktinya dan ia
meloncat naik melalui atap yang diterobosnya dengan kedua tangannya. Ia
berhasil menerobos atap dan berada di atas atap. Akan tetapi sama sekali ia
tidak mengira bahwa di situ sudah menanti Wasi Karangwolo dan Wasi Surengpati!
Dua orang pendeta ini sudah menduga bahwa Retna Wilis mungkin mengambil jalan
menerobos atap, maka begitu tubuh dara perkasa itu muncul, Wasi Karangwolo
sudah menyambutnya dengan sambitan tepung berwarna kuning ke arah muka Retna
Wilis dan Wasi Surengpati menyodokkan tongkat ularnya ke arah lehernya! Retna
Wilis menangkis sodokan tongkat ular itu, akan tetapi ia tidak dapat menghindar
ketika bubuk kuning itu sebagian mengenai mukanya! Matanya tiba-tiba menjadi
pedih dan tidak dapat dibuka, dan hidungnya mencium bau yang amis dan keras.
Tiba-tiba ia merasa napasnya sesak dan terpelantinglah Retna Wilis di atas atap
! Dengan mudah Wasi Karangwolo menyambut tubuhnya dan menelikung sehingga Retna
Wilis yang jatuh pingsan itu tidak berdaya lagi. Wasi Karangwolo membawanya
loncat ke bawah. Melihat Joko Wilis sudah tertawan, Adipati Martimpang menghunus
kerisnya dan hendak menusukkan keris itu ke dada Joko Wilis.
"Biar
kubunuh penipu dan pengacau ini!" hardiknya.
Akan tetapi
Wasi Karangwolo menghalangi.
"Sabar
dulu, Kanjeng Adipati. Jangan tergesa-gesa membunuhnya. Mungkin saja ia dapat
mengaku terus terang siapa sebenarnya ia ini, mungkin telik sandi yang
dilepaskan Panjalu atau Jenggala untuk menyelidiki keadaan kita. Kalau ia sudah
membuat pengakuan, nah, baru boleh ia dibunuh di depan rakyat jelata agar
mereka takut membuat kacau seperti dara ini."
Adipati
Martimpang mengangguk-angguk dan menyarungkan kembali kerisnya.
"Sesuka
andika berdua sajalah untuk memeriksanya, kalau perlu boleh menyiksanya agar ia
mengaku."
Wasi
Karangwolo tersenyum.
"Kamu
mempunyai cara yang lebih baik untuk membuat ia mengaku, bukan dengan
penyiksaan karena boleh jadi dara ini cukup tangguh untuk membungkam mulut dan
menahan segala siksaan. Dengan cara kami ia akan dengan sendirinya membuat
pengakuan. Akan tetapi ia telah menghisap bubuk racun kuning kami dan mungkin
sore nanti baru sadar. Kami hanya minta sebuah kamar tahanan yang kokoh kuat
untuk mengurung dirinya."
Retna Wilis
lalu diangkat ke dalam sebuah kamar tahanan yang terbuat dari batu dan pintunya
terbuat dari besi tebal dengan jeruji di bagian atasnya. Setelah kedua kaki dan
tangannya diikat dengan tali yang kuat, ditelikung seperti seekor domba yang
hendak disembelih, Retna Wilis lalu dilempar ke dalam kamar tahanan itu. Wasi
Karangwolo dan Resi Surengpati minta kepada para penjaga untuk meninggalkan
mereka bertiga saja dengan tawanan itu. Setelah semua orang pergi, mereka lalu
mengerahkan tenaga batin mereka untuk melakukan sihir atas diri Retna Wilis.
Dalam keadaan tidak sadar, Retna Wilis dibuka kedua pelupuk matanya dan kedua
orang pendeta itu memandang dengan sinar mata mencorong ke dalam mata Retna
Wilis.
"Hei,
wanita muda yang menyamar sebagai Joko Wilis. Engkau akan menuruti semua
kehendak kami! Kalau sudah sadar engkau harus menjawab semua pertanyaan kami
dengan sebenarnya!" Kalimat itu di ulang-ulang dan beberapa mantera
dibisikkan oleh kedua Wasi itu sampai akhirnya Retna Wilis yang masih pingsan
itu mengangguk-angguk. Mereka melepaskan lagi Retna Wilis yang rebah tak
berdaya diatas lantai dan barulah mereka keluar dari kamar tahanan itu. Gadis
itu sudah dikuasai dan dikendalikan pikirannya dengan ilmu sihir dan kedua kaki
tangannya juga terikat kuat, sedikitpun tidak ada kemungkinan untuk meloloskan
diri. Belum lagi keadaan kamar tahanan itu yang kokoh kuat dan di luar kamar
tahanan terdapat belasan orang prajurit yang menjaganya. Biar ditambah sepasang
sayap di pundak dara itu tak mungkin ia dapat meloloskan diri. Tubuh dalam
kamar tahanan itu bergerak-gerak, menggerakkan kaki tangannya akan tetapi ia
tidak mampu bangkit. Kedua kaki dan tangannya sudah terbelenggu kuat-kuat.
Retna Wilis mulai sadar dari pingsannya, akan tetapi ia tidak dapat menggerakkan
kaki tangannya. Kepalanya terasa pening sekali. Ketika membuka matanya, ia
melihat bahwa dirinya menggeletak di atas lantai yang dingin. Ketika ia mencoba
menggerakkan kaki tangannya, ia tidak dapat. Tubuhnya terasa lemas sekali. Ia
tidak dapat mengingat dengan jelas apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ia
kini hanya tahu bahwa ia telah dibelenggu kaki tangannya dan berada dalam
sebuah kamar yang tidak berapa luas, yang hanya mempunyai sebuah pintu baja
yang bagian atasnya ada terali besinya yang amat kuat. Ia telah ditawan!
Pikiran ini membingungkannya. Ketika timbul niatnya untuk mematahkan belenggu
pada kaki tangannya, mendadak di dalam kepalanya terdengar suara yang amat
berwibawa.
"Engkau
tidak dapat membebaskan diri dari belenggu karena semua tenagamu habis. Engkau
merasa tubuhmu tidak berdaya, lemah lunglai!"
Ia harus
membenarkan kata-kata yang terngiang di dalam telinganya ini. Tidak mungkin ia
membebaskan diri dari belenggu yang demikian kuatnya, sedangkan tubuhnya
demikian lemas tak berdaya.
"Aku
lemah ... tubuhku lemah tak berdaya ... " katanya membenarkan, dan iapun
tidak berani mencoba mengerahkan tenaganya lagi, melainkan rebah miring tak
berdaya. Tiba-tiba Retna Wilis melihat dua muka orang muncul di luar terali
besi itu. Ia tidak ingat lagi siapa mereka, akan tetapi yang tampak olehnya
hanya dua pasang mata yang mencorong seperti api dan yang seolah-olah
mengikatnya. Ia menjadi gelisah menatap dua pasang mata itu.
"Wanita
muda, siapakah namamu? Jawab yang benar!"
Retna Wilis
merasa aneh sekali. Mengapa ada orang bertanya seperti itu dan ia merasa tak
berdaya, merasa bahwa ia harus menjawab sejujurnya? Akan tetapi ia tidak mampu
menahan diri dan ia harus menjawab sejujurnya, seolah ada sesuatu yang amat
kuat mendorongnya untuk menjawab.
"Namaku
Retna Wilis."
Dua orang
kakek itu adalah Wasi Surengpati dan Wasi Karangwolo. Mendengar jawaban itu,
mereka saling pandang. Wasi Karangwolo lalu bertanya lagi sambil mengerahkan
kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi Ratna Wilis.
“Dari mana
engkau datang?"
"Dari
Panjalu."
Kembali dua
orang kakek itu saling pandang dan pada saat itu, Adipati Martimbangpun datang
dan ikut menjenguk lewat terali besi di bagian atas pintu. Melihat kehadiran
adipati Martimpang, Wasi Karangwolo mengulang lagi pertanyaannya.
"Wanita
muda, katakan siapa namamu dan darimana engkau datang!"
Bagaikan
seorang yang sedang mimpi, jawaban itu meluncur dari mulut Retna Wilis di luar
kehendaknya sendiri.
"Namaku
Retna Wilis dan aku datang dari Panjalu."
Adipati
Martimpang terkejut. Dia tidak mengenal nama Retna Wilis akan tetapi pengakuan
gadis itu bahwa ia datang dari Panjalu mengejutkan hatinya. Kiranya benar bahwa
gadis ini seorang telik-sandi yang dikirim oleh Kerajaan Panjalu!
"Siapa
yang mengutusmu datang ke Nusabarung?”
"Tidak
ada yang mengutusku."
"Apa
maksudmu datang ke Nusabarung?"
"Hendak
melihat-lihat keadaan, menentang kejahatan, membela yang benar dengan
adil!" kata-kata terakhir itu adalah tugas yang selalu didengungkan oleh
Bagus Seta kepada Retna Wilis, maka sekarang kata-kata itu keluar dengan
sendirinya."
"Siapa
ayah bundamu?" Wasi Karangwolo kembali bertanya untuk dapat mengetahui
lebih banyak tentang gadis yang menjadi tawanan itu.
"Ayahku
Patih Panjalu Tejolaksono dan ibuku Endang Patibroto!"
Dua orang
kakek dan adipati itu terkejut setengah mati. Mata mereka terbelalak ketika
mereka saling pandang. Kalau nama Retna Wilis tidak mereka kenal, maka nama
Tejolaksono dan Endang Patibroto itu tentu saja telah mereka kenal dengan baik!
Dua orang yang sakti mandraguna, yang pernah menggegerkan Nusabarung dan
Blambangan.
Wasi
Karangwolo selain terkejut juga girang sekali. Dia menganggap Tejolaksono dan
Endang Palibroto sebagai musuh besarnya. Kakek ini adalah guru dari para
senopati di Blambangan yang dulu terbunuh oleh Endang Patibroto. Para muridnya
itu adalah Mayangkrudo, Kolonarmodo, dan Haryo Baruno. Bahkan Adipati
Blambangan di waktu itu, Menak Linggo juga terbunuh oleh wanita sakti itu. Dan
kini puteri Endang Patibroto dan Tejolaksono berada di dalam tangannya! Sungguh
merupakan balas dendam yang terasa manis sekali bagi Wasi Kawangwolo. Adipati
Martimpang kini yakin pula bahwa puteri patih Panjalu itu pasti datang untuk
menyelidiki keadaan dan kekuatan Nusabarung. Gadis ini merupakan orang yang
berbahaya sekali.
"Ia seorang
yang berbahaya sekali!" kata Adipati Martimpang.
"Kita
bunuh saja ia sebelum ia dapat memberi keterangan tentang Nusabarung kepada
Raja Panjalu!"
"Nanti
dulu, Kanjeng Adipati. Kita kuras dulu keterangan darinya
sebanyak-banyaknya," kata Wasi Karangwolo. Dia lalu memandang lagi kepada
Retna Wilis dan suaranya menggetar penuh wibawa ketika dia bertanya,
"Retna
Wilis, dengan siapa saja engkau datang ke Nusabarung?"
"Dengan
kakakku."
"Siapa
kakakmu itu?" tanya Wasi Karangwolo, semakin penasaran.
"Kakangmas
Bagus Seta."
"Di mana
dia sekarang?"
"Di
Nusabarung."
"Ya, tapi
di mana?"
Retna Wilis
tidak menjawab karena memang ia tidak tahu di mana kakaknya berada.
"Retna
Wilis, jawab, atau aku akan membikin pecah kepalamu. Engkau merasa kepalamu
nyeri sekali, seperti dipukuli dari dalam!"
Mendadak Retna
Wilis memejamkan matanya dan mengerang kesakitan, menggeleng-gelengkan
kepalanya yang terasa nyeri sekali.
"Hayo
katakan, di mana adanya Bagus Seta?"
Tiba-tiba
tampak uap putih, dan sesosok bayangan putih berkelebat, tahu-tahu di situ
telah berdiri seorang pemuda, berpakaian serba putih.
"Aku
berada di sini!" kata Bagus Seta yang dengan kepandaiannya yang tinggi
sudah dapat memasuki tempat itu. Dia lalu melemparkan tangkai bunga cempaka
putih ke arah kepala Retna Wilis dan dia berkata lembut namun penuh getaran
yang berwibawa.
"Diajeng
Retna Wilis, sadarlah! Engkau telah bebas dari pengaruh jahat yang menguasaimu,
tenagamu telah pulih kembali seperti sedia kala!"
Adipati
Martimpang terkejut sekali dan berteriak memanggil para senopatinya yang masih
berada di luar.
"Tangkap
pemuda itu!" bentaknya dan dia sendiri lalu menyelinap dan pergi dari
tempat itu.
<<< Bagian 14 Bagian 16 >>>
No comments:
Post a Comment