Wasi Karangwolo dan Wasi Surengpati juga merasa marah sekali melihat munculnya pemuda berpakaian putih itu.
"Keparat,
menyerahlah!" bentak mereka sambil mengerahkan ilmu sihir mereka untuk
menundukkan Bagus Seta. Akan tetapi pemuda itu tersenyum dan berkata kepada dua
orang kakek itu.
"Sayang
sekali mempelajari ilmu hanya untuk melakukan kejahatan!"
Dua orang
kakek itu menyerang dan menubruk maju, akan tetapi sekali berkelebat Bagus Seto
telah lenyap dari tempat itu. Sementara itu, Retna Wilis seperti orang yang
baru bangun dari mimpi buruk. Ia merasa betapa tenaganya sudah pulih kembali
dan kini ia sadar betul bahwa ia telah tertawan dan terbelenggu. Dengan marah
Retna Wilis lalu mengeluarkan suara melengking tinggi dan sekali menggerakkan
kaki tangannya, dara perkasa ini telah membuat belenggu kaki tangannya
patah-patah! Ia meloncat berdiri dan mengerahkan tenaganya menerjang daun pintu
dari besi itu.
"Wuuuuuut
... braaaakkkk!" Pintu itu jebol dan Retna Wilis sudah melompat keluar
dari dalam kamar tahanan.
Melihat ini,
semua orang terkejut dan belasan orang penjaga, juga dua orang kakek itu,
mundur dan keluar dari tempat tahanan itu. Retna Wilis mengejar mereka dan
ketika ia tiba di luar, ia telah terkepung oleh para prajurit yang
bersenjatakan tombak dan golok. Dara itu mengamuk!
"Retna,
jangan membunuh orang! Aku menunggumu di dalam guha di mana engkau menyimpan
pakaianmu!" terdengar suara kakaknya berdengung di dekat telinga Retna
Wilis, akan tetapi kakaknya itu tidak tampak berada di situ. Biarpun ia marah
sekali dan mengamuk seperti seekor naga betina, namun peringatan kakaknya ini
diturutnya dengan patuh. Ia menggerakkan kaki tangannya, menampar dan menendang
merobohkan para pengeroyok, akan tetapi tidak ada seorangpun yang ia bunuh. Ia
membatasi tenaganya dalam setiap tamparan dan tendangan sehingga yang terkena
tidak sampai tewas, hanya terlukai yang membuat mereka tidak dapat mengeroyok
lagi. Akan tetapi Adipati Martimpang sendiri kini memimpin lima orang
senopatinya yang tangguh untuk mengeroyok Retno Wilis,
"Bunuh
wanita ini!" bentaknya kepada Ki Wisokolo dan empat orang rekannya! Lima
orang itu lalu membentak para prajurit supaya mundur dan mereka berlima
mengepung Retna Wilis.
Dara yang
sakti mandraguna itu tidak menjadi gentar. Biarpun lima orang senopati itu
menyerangnya dari lima penjuru, akan tetapi dengan kegesitannya ia mampu
mengelak dan menangkis sehingga serangan mereka itu semua gagal. Bahkan ketika
ia menangkis dengan lengannya, ia mengerahkan tenaga saktinya sehingga lima
orang lawannya merasa lengan mereka tergetar hebat dan nyeri seperti telah
bertemu dengan lengan baja! Di belakang lima orang senopati itu tampak puluhan
orang prajurit yang telah mengepung dara itu. Retno Wilis merasa heran dan agak
kesal hatinya mengapa kakaknya tidak turun tangan membantunya, ia maklum bahwa
kakaknya itu seorang yang tidak suka berkelahi, akan tetapi melihat adiknya
dikeroyok seperti ini, mengapa dia tidak membantu? Ia maklum bahwa tidak
mungkin ia melawan terus. Pasukan itu bisa datang beratus-ratus, tak mungkin
dengan tenaganya seorang diri ia harus melawan mereka. Ketika melihat Adipati
Martimpang di belakang Ki Wisokolo sambil memerintahkan anak buahnya untuk
mengepung dan Retna Wilis menemukan ia membalik dan menyerang Ki Wisokolo
dengan Aji Wisolangking. Tubuh Ki Wisokolo terpental dan terjengkang oleh
pukulan ini dan secepat kilat Retna Wilis sudah melompat dan dilain saat ia
telah menangkap lengan kanan Adipati Martimpang dan menekuknya ke belakang
tubuh.
"Hayo
perintahkan mereka semua mundur kalau engkau tidak ingin mati dengan kepala
remuk!" kata Retno Wilis dan ia menekuk lengan itu lebih kuat ke belakang
punggung sang adipati sehingga Adipati Martimpang mengeluh kesakitan.
Sedikit lagi
Retno Wilis mendorong tangannya ke atas di belakang punggungnya, sambungan
tulang pundaknya bias terlepas!
"Baik,
jangan bunuh aku ... !"
Adipati
Martimpang lalu berseru nyaring.
"Semua
orang mundur, jangan menyerang lagi!"
Melihat betapa
dara itu telah menangkap majikan mereka, semua pengeroyok bergerak mundur. Juga
kedua Wasi itu mundur dengan khawatir. Mereka maklum bahwa dara itu bukan hanya
menggertak saja. Mungkin sang adipati akan benar-benar dibunuh oleh dara yang
sakti mandraguna itu kalau mereka tidak mau mundur. Terpaksa mereka juga mundur
sampai agak jauh. Retna Wilis berkata kepada adipati yang telah ditawannya.
"Mari
temani aku untuk pergi dari sini. Aku tidak akan membunuhmu, akan tetapi kalau
orang-orangmu menyerangku, aku akan lebih dulu membunuhmu kemudian mengamuk dan
membunuh semua orangmu!"
Sang Adipati
Martimpang juga bukan seorang yang lemah. Akan tetapi ketika dia berusaha untuk
meronta dan melepaskan tangannya dari pegangan dara itu, dia sama sekali tidak
mampu berkutik. Bukan main kuatnya tangan yang memegang pergelangan tangannya
itu. Karena takut, akan ancaman Retna Wilis, diapun berteriak,
"Kalian
jangan menghalangi Retna Wilis! Mundur dan jangan ada yang mencoba menyerangnya!"
Retna Wilis
merasa lega. Ia telah menemukan cara yang terbaik untuk dapat meloloskan diri
dari tempat itu. Ini jauh lebih mudah dan baik dari pada ia harus melawan
sekian banyaknya pengeroyok. Ia lalu mendorong tubuh sang adipati dan
mengajaknya keluar dari kota kadipaten, terus ke hutan di luar pintu gerbang.
Hari telah hampir gelap dan ketika Retna Wilis tiba di depan guha, ia melihat
Bagus Seta telah berada di sana, berdiri sambil menyilangkan lengan di depan
dada dan tersenyum.
"Bagus
sekali, kakangmas! Andika enak-enak saja di sini membiarkan aku menghadapi
pengeroyokan ratusan orang prajurit!" kata Retna Wilis dengan suara kesal.
"Suatu
latihan yang baik bagimu, terutama untuk menahan kesabaranmu, diajeng. Ini
buntalan pakaianmu, tukarlah pakaian di dalam guha dan tinggalkan sang adipati
di sini. Dia tidak akan begitu bodoh untuk mencoba melarikan diri." Bagus
Seta menyerahkan buntalan pakaian Retna Wilis. Dara itu menerimanya lalu
menghilang ke dalam guha yang sudah gelap.
Kini Adipati
Martimpang berdiri di depan guha, hanya berdua saja dengan Bagus Seta. Adipati
itu mempertimbangkan keinginannya untuk melarikan diri. Biarpun adiknya amat
sakti, pemuda ini belum tentu memiliki kesaktian seperti dara itu, pikirnya.
Dia akan mencoba-coba. Cuaca sudah mulai gelap dan dia lebih mengenal medan
dari pada pemuda asing ini. Dia dapat menghilang ke dalam hutan yang lebat itu.
Melihat pemuda itu sama sekali tidak memperhatikan dia dan memandang ke arah
lain, Adipati Martimpang menggunakan kesempatan itu untuk mengerahkan seluruh
tenaganya meloncat dan melarikan diri. Dan betapa lega hatinya ketika dia tidak
melihat pemuda itu berteriak atau mengejarnya. Dia telah lolos! Dengan sekuat
tenaga diapun berloncatan sambil berlari cepat. Tiba-tiba dia terbelalak, memandang
ke depan. Di sana, di depannya, telah berdiri pemuda berpakaian putih tadi,
tersenyum sambil menyilangkan kedua lengan di depan dadanya seperti tadi ketika
dia meninggalkannya di depan guha! Adipati Martimpang cepat memutar tubuhnya
dan berlari cepat ke lain jurusan. Akan tetapi tiba-tiba dia melihat pemuda itu
sudah berdiri pula di depannya tanpa bicara hanya tersenyum saja. Dia bergidik
ngeri, lalu timbul kenekatannya. Dia segera menerjang maju dan mengirim pukulan
ke arah dada pemuda itu. Pemuda itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak.
"Wuuutt
... bukkk!" Pukulan itu tepat mengenai dada pemuda itu, akan tetapi pemuda
itu tidak bergoyang sedikitpun juga. Sebaliknya, Adipati Martimpang menahan
teriakannya karena tangan kanan yang memukul itu seperti remuk rasanya, seolah
dia memukul sebuah dinding baja. Dia hanya dapat memegangi kepalan tangan kanan
dengan tangan kirinya dan mendesis-desis menahan rasa nyeri.
"Kanjeng
Adipati, mari kita kembali ke guha." kata pemuda itu dengan suara yang
lemah lembut.
Adipati
Martimpang maklum bahwa dia menghadapi seorang yang bahkan lebih sakti dari
pada Retna Wilis, maka diapun tidak banyak membantah, seperti seekor domba
dituntun dia mengikuti pemuda itu kembali ke tempat tadi. Retna Wilis keluar
dari dalam guha dan di bawah sinar matahari yang hampir tenggelam, sang adipati
memandang dengan bengong! Dia melihat seorang gadis berpakaian serba putih yang
cantik jelita seperti dewi kahyangan! Sukar untuk dapat percaya bahwa dara
secantik ini dapat menjadi seorang yang amat sakti!
"Kanjeng
Adipati Martimpang, sekarang andika harus mengawal kami sampai menyeberang ke
daratan sana. Mari, kakangmas Bagus, kita tinggalkan pulau ini."
Mereka bertiga
lalu keluar dari dalam hutan itu. Dari jauh tampak banyak prajurit, dipimpin
oleh lima orang senopati dengan senjata lengkap seperti hendak maju perang.
Akan tetapi mereka hanya berani mengawasi dari jauh saja. Ketika tiga orang itu
berjalan menuju ke selatan, merekapun hanya berani membayangi dari jauh.
Demikian pula, ketika Retna Wilis memaksa Adipati Martimpang mencarikan sebuah
perahu dan mereka bertiga dengan naik perahu menyeberang ke daratan, para
senopati Nusabarung juga sibuk mencari perahu dan membayangi dari jarak jauh.
Retna Wilis
cukup cerdik untuk tidak melepaskan sang adipati ketika ia telah memperoleh
perahu. Kalau begitu halnya, tentu anak buah Nusabarung itu akan beramai-ramai
mengejar dengan perahu dan kalau sampai mereka tersusul, celakalah ia dan
kakaknya. Kalau perahu mereka digulingkan, mereka akan tidak berdaya berada
dalam air sehingga akhirnya tentu dapat tertangkap atau terbunuh. Baru setelah
tiba di pantai daratan, Retna Wilis berkata kepada Adipati Martimpang.
"Sekarang
kami bebaskan andika, Adipati Martimpang. Aku hanya berpesan agar andika tidak
menjodohkan puterimu dengan orang-orang kasar dan sombong seperti Kalinggo.
Kasihan sekali sang puteri kalau terjatuh ke tangan orang-orang seperti itu.
Nah, selamat tinggal!" Retna Wilis lalu pergi bersama kakaknya.
Adipati
Martimpang hanya dapat memandang kepada dua bayangan putih itu yang menuju ke
timur, perlahan-lahan ditelan kegelapan malam. Ketika orang-orangnya mendarat,
Adipati Martimpang tidak menyuruh mereka melakukan pengejaran, melainkan
memerintahkan mereka kembali ke pulau Nusabarung.
Persidangan di
kadipaten Blambangan itu berlangsung dengan tertib. Adipati Menak Sampar dari
Blambangan adalah seorang yang bertubuh tinggi besar, bermuka merah dan
berkumis melintang sehingga tampak berwibawa sekali. Memang dia memegang tampuk
pemerintahan dengan tangan besi, dengan galak dan tak mengenal ampun dia
menghukum hamba sahaya yang berbuat kesalahan, menghukum pula para pamong praja
yang bertindak salah. Karena itu, Adipati Menak Sampar ditakuti semua orang.
Usia Adipati Menak Sampar sudah empat puluh tahun, akan tetapi dari sekian
banyak isterinya, dia hanya mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama
Dyah Ayu Kerti, seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang cantik jelita. Ibu
gadis ini juga seorang puteri dari Bali-dwipa yang cantik jelita, maka tidak
mengherankan kalau anaknyapun demikian cantiknya. Dalam persidangan itu, para
pamong praja memberi laporan tentang tugas mereka masing-masing. Setelah Sang
Adipati memberi nasihat dan usul-usul kepada pembantunya, persidangan itu
dibubarkan karena ada laporan dari para pengawal bahwa di luar kadipaten ada
beberapa orang tamu penting mohon menghadap Adipati Menak Sampar. Mendengar
bahwa pimpinan para tamu itu adalah utusan yang datang dari negeri Cola di
India, Sang Adipati bergegas membubarkan persidangan dan tak lama kemudian dia
sudah menanti para tamunya di ruangan tamu. Setelah para tamu dipersilakan
masuk ke dalam ruangan tamu, maka bermunculanlah seorang kakek yang berusia
kurang lebih enampuluh lima tahun bersama seorang wanita yang usianya sudah
empatpuluh tahun namun masih tampak cantik jelita dan genit, dan seorang
laki-laki gagah perkasa bertubuh raksasa berusia empatpuluhan tahun. Setelah
mempersilakan tiga orang tamunya untuk mengambil tempat duduk, Adipati Menak
Sampar lalu berkata,
"Selamat
datang di kadipaten Blambangan paman pendeta." Dia menyebut pendeta karena
kakek itu memang berpakaian jubah panjang seperti seorang pendeta.
"Kami
merasa belum mengenal paman, siapakah nama paman yang mulia dan dari mana paman
datang?"
"Heh-heh-heh,
Kanjeng Adipati yang gagah perkasa! Saya bernama Wasi Siwamurti dan saya datang
ke Blambangan sebagai utusan Sang Mahaprabu di Negeri Cola."
Adipati Menak
Sampar mengangguk-angguk.
"Biarpun
letaknya amat jauh, Negeri Cola adalah sahabat kami. Tidak tahu ada urusan
apakah paman datang ke Blambangan?"
"Sebelum
saya menjelaskan maksud kunjungan saya ini, perkenalkan lebih dulu wanita ini
adalah Ni Dewi Durgomala yang menjadi murid saya, dan ini adalah Ki Siwananda
putera saya."
<<< Bagian 15 Bagian 17 >>>
No comments:
Post a Comment