Sepasang Garuda Putih ; Bagian 16


Wasi Karangwolo dan Wasi Surengpati juga merasa marah sekali melihat munculnya pemuda berpakaian putih itu.
"Keparat, menyerahlah!" bentak mereka sambil mengerahkan ilmu sihir mereka untuk menundukkan Bagus Seta. Akan tetapi pemuda itu tersenyum dan berkata kepada dua orang kakek itu.
"Sayang sekali mempelajari ilmu hanya untuk melakukan kejahatan!"
Dua orang kakek itu menyerang dan menubruk maju, akan tetapi sekali berkelebat Bagus Seto telah lenyap dari tempat itu. Sementara itu, Retna Wilis seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. Ia merasa betapa tenaganya sudah pulih kembali dan kini ia sadar betul bahwa ia telah tertawan dan terbelenggu. Dengan marah Retna Wilis lalu mengeluarkan suara melengking tinggi dan sekali menggerakkan kaki tangannya, dara perkasa ini telah membuat belenggu kaki tangannya patah-patah! Ia meloncat berdiri dan mengerahkan tenaganya menerjang daun pintu dari besi itu.
"Wuuuuuut ... braaaakkkk!" Pintu itu jebol dan Retna Wilis sudah melompat keluar dari dalam kamar tahanan.
Melihat ini, semua orang terkejut dan belasan orang penjaga, juga dua orang kakek itu, mundur dan keluar dari tempat tahanan itu. Retna Wilis mengejar mereka dan ketika ia tiba di luar, ia telah terkepung oleh para prajurit yang bersenjatakan tombak dan golok. Dara itu mengamuk!
"Retna, jangan membunuh orang! Aku menunggumu di dalam guha di mana engkau menyimpan pakaianmu!" terdengar suara kakaknya berdengung di dekat telinga Retna Wilis, akan tetapi kakaknya itu tidak tampak berada di situ. Biarpun ia marah sekali dan mengamuk seperti seekor naga betina, namun peringatan kakaknya ini diturutnya dengan patuh. Ia menggerakkan kaki tangannya, menampar dan menendang merobohkan para pengeroyok, akan tetapi tidak ada seorangpun yang ia bunuh. Ia membatasi tenaganya dalam setiap tamparan dan tendangan sehingga yang terkena tidak sampai tewas, hanya terlukai yang membuat mereka tidak dapat mengeroyok lagi. Akan tetapi Adipati Martimpang sendiri kini memimpin lima orang senopatinya yang tangguh untuk mengeroyok Retno Wilis,
"Bunuh wanita ini!" bentaknya kepada Ki Wisokolo dan empat orang rekannya! Lima orang itu lalu membentak para prajurit supaya mundur dan mereka berlima mengepung Retna Wilis.

Dara yang sakti mandraguna itu tidak menjadi gentar. Biarpun lima orang senopati itu menyerangnya dari lima penjuru, akan tetapi dengan kegesitannya ia mampu mengelak dan menangkis sehingga serangan mereka itu semua gagal. Bahkan ketika ia menangkis dengan lengannya, ia mengerahkan tenaga saktinya sehingga lima orang lawannya merasa lengan mereka tergetar hebat dan nyeri seperti telah bertemu dengan lengan baja! Di belakang lima orang senopati itu tampak puluhan orang prajurit yang telah mengepung dara itu. Retno Wilis merasa heran dan agak kesal hatinya mengapa kakaknya tidak turun tangan membantunya, ia maklum bahwa kakaknya itu seorang yang tidak suka berkelahi, akan tetapi melihat adiknya dikeroyok seperti ini, mengapa dia tidak membantu? Ia maklum bahwa tidak mungkin ia melawan terus. Pasukan itu bisa datang beratus-ratus, tak mungkin dengan tenaganya seorang diri ia harus melawan mereka. Ketika melihat Adipati Martimpang di belakang Ki Wisokolo sambil memerintahkan anak buahnya untuk mengepung dan Retna Wilis menemukan ia membalik dan menyerang Ki Wisokolo dengan Aji Wisolangking. Tubuh Ki Wisokolo terpental dan terjengkang oleh pukulan ini dan secepat kilat Retna Wilis sudah melompat dan dilain saat ia telah menangkap lengan kanan Adipati Martimpang dan menekuknya ke belakang tubuh.
"Hayo perintahkan mereka semua mundur kalau engkau tidak ingin mati dengan kepala remuk!" kata Retno Wilis dan ia menekuk lengan itu lebih kuat ke belakang punggung sang adipati sehingga Adipati Martimpang mengeluh kesakitan.
Sedikit lagi Retno Wilis mendorong tangannya ke atas di belakang punggungnya, sambungan tulang pundaknya bias terlepas!
"Baik, jangan bunuh aku ... !"
Adipati Martimpang lalu berseru nyaring.
"Semua orang mundur, jangan menyerang lagi!"
Melihat betapa dara itu telah menangkap majikan mereka, semua pengeroyok bergerak mundur. Juga kedua Wasi itu mundur dengan khawatir. Mereka maklum bahwa dara itu bukan hanya menggertak saja. Mungkin sang adipati akan benar-benar dibunuh oleh dara yang sakti mandraguna itu kalau mereka tidak mau mundur. Terpaksa mereka juga mundur sampai agak jauh. Retna Wilis berkata kepada adipati yang telah ditawannya.
"Mari temani aku untuk pergi dari sini. Aku tidak akan membunuhmu, akan tetapi kalau orang-orangmu menyerangku, aku akan lebih dulu membunuhmu kemudian mengamuk dan membunuh semua orangmu!"

Sang Adipati Martimpang juga bukan seorang yang lemah. Akan tetapi ketika dia berusaha untuk meronta dan melepaskan tangannya dari pegangan dara itu, dia sama sekali tidak mampu berkutik. Bukan main kuatnya tangan yang memegang pergelangan tangannya itu. Karena takut, akan ancaman Retna Wilis, diapun berteriak,
"Kalian jangan menghalangi Retna Wilis! Mundur dan jangan ada yang mencoba menyerangnya!"
Retna Wilis merasa lega. Ia telah menemukan cara yang terbaik untuk dapat meloloskan diri dari tempat itu. Ini jauh lebih mudah dan baik dari pada ia harus melawan sekian banyaknya pengeroyok. Ia lalu mendorong tubuh sang adipati dan mengajaknya keluar dari kota kadipaten, terus ke hutan di luar pintu gerbang. Hari telah hampir gelap dan ketika Retna Wilis tiba di depan guha, ia melihat Bagus Seta telah berada di sana, berdiri sambil menyilangkan lengan di depan dada dan tersenyum.
"Bagus sekali, kakangmas! Andika enak-enak saja di sini membiarkan aku menghadapi pengeroyokan ratusan orang prajurit!" kata Retna Wilis dengan suara kesal.
"Suatu latihan yang baik bagimu, terutama untuk menahan kesabaranmu, diajeng. Ini buntalan pakaianmu, tukarlah pakaian di dalam guha dan tinggalkan sang adipati di sini. Dia tidak akan begitu bodoh untuk mencoba melarikan diri." Bagus Seta menyerahkan buntalan pakaian Retna Wilis. Dara itu menerimanya lalu menghilang ke dalam guha yang sudah gelap.

Kini Adipati Martimpang berdiri di depan guha, hanya berdua saja dengan Bagus Seta. Adipati itu mempertimbangkan keinginannya untuk melarikan diri. Biarpun adiknya amat sakti, pemuda ini belum tentu memiliki kesaktian seperti dara itu, pikirnya. Dia akan mencoba-coba. Cuaca sudah mulai gelap dan dia lebih mengenal medan dari pada pemuda asing ini. Dia dapat menghilang ke dalam hutan yang lebat itu. Melihat pemuda itu sama sekali tidak memperhatikan dia dan memandang ke arah lain, Adipati Martimpang menggunakan kesempatan itu untuk mengerahkan seluruh tenaganya meloncat dan melarikan diri. Dan betapa lega hatinya ketika dia tidak melihat pemuda itu berteriak atau mengejarnya. Dia telah lolos! Dengan sekuat tenaga diapun berloncatan sambil berlari cepat. Tiba-tiba dia terbelalak, memandang ke depan. Di sana, di depannya, telah berdiri pemuda berpakaian putih tadi, tersenyum sambil menyilangkan kedua lengan di depan dadanya seperti tadi ketika dia meninggalkannya di depan guha! Adipati Martimpang cepat memutar tubuhnya dan berlari cepat ke lain jurusan. Akan tetapi tiba-tiba dia melihat pemuda itu sudah berdiri pula di depannya tanpa bicara hanya tersenyum saja. Dia bergidik ngeri, lalu timbul kenekatannya. Dia segera menerjang maju dan mengirim pukulan ke arah dada pemuda itu. Pemuda itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak.
"Wuuutt ... bukkk!" Pukulan itu tepat mengenai dada pemuda itu, akan tetapi pemuda itu tidak bergoyang sedikitpun juga. Sebaliknya, Adipati Martimpang menahan teriakannya karena tangan kanan yang memukul itu seperti remuk rasanya, seolah dia memukul sebuah dinding baja. Dia hanya dapat memegangi kepalan tangan kanan dengan tangan kirinya dan mendesis-desis menahan rasa nyeri.
"Kanjeng Adipati, mari kita kembali ke guha." kata pemuda itu dengan suara yang lemah lembut.
Adipati Martimpang maklum bahwa dia menghadapi seorang yang bahkan lebih sakti dari pada Retna Wilis, maka diapun tidak banyak membantah, seperti seekor domba dituntun dia mengikuti pemuda itu kembali ke tempat tadi. Retna Wilis keluar dari dalam guha dan di bawah sinar matahari yang hampir tenggelam, sang adipati memandang dengan bengong! Dia melihat seorang gadis berpakaian serba putih yang cantik jelita seperti dewi kahyangan! Sukar untuk dapat percaya bahwa dara secantik ini dapat menjadi seorang yang amat sakti!
"Kanjeng Adipati Martimpang, sekarang andika harus mengawal kami sampai menyeberang ke daratan sana. Mari, kakangmas Bagus, kita tinggalkan pulau ini."

Mereka bertiga lalu keluar dari dalam hutan itu. Dari jauh tampak banyak prajurit, dipimpin oleh lima orang senopati dengan senjata lengkap seperti hendak maju perang. Akan tetapi mereka hanya berani mengawasi dari jauh saja. Ketika tiga orang itu berjalan menuju ke selatan, merekapun hanya berani membayangi dari jauh. Demikian pula, ketika Retna Wilis memaksa Adipati Martimpang mencarikan sebuah perahu dan mereka bertiga dengan naik perahu menyeberang ke daratan, para senopati Nusabarung juga sibuk mencari perahu dan membayangi dari jarak jauh.
Retna Wilis cukup cerdik untuk tidak melepaskan sang adipati ketika ia telah memperoleh perahu. Kalau begitu halnya, tentu anak buah Nusabarung itu akan beramai-ramai mengejar dengan perahu dan kalau sampai mereka tersusul, celakalah ia dan kakaknya. Kalau perahu mereka digulingkan, mereka akan tidak berdaya berada dalam air sehingga akhirnya tentu dapat tertangkap atau terbunuh. Baru setelah tiba di pantai daratan, Retna Wilis berkata kepada Adipati Martimpang.
"Sekarang kami bebaskan andika, Adipati Martimpang. Aku hanya berpesan agar andika tidak menjodohkan puterimu dengan orang-orang kasar dan sombong seperti Kalinggo. Kasihan sekali sang puteri kalau terjatuh ke tangan orang-orang seperti itu. Nah, selamat tinggal!" Retna Wilis lalu pergi bersama kakaknya.
Adipati Martimpang hanya dapat memandang kepada dua bayangan putih itu yang menuju ke timur, perlahan-lahan ditelan kegelapan malam. Ketika orang-orangnya mendarat, Adipati Martimpang tidak menyuruh mereka melakukan pengejaran, melainkan memerintahkan mereka kembali ke pulau Nusabarung.

Persidangan di kadipaten Blambangan itu berlangsung dengan tertib. Adipati Menak Sampar dari Blambangan adalah seorang yang bertubuh tinggi besar, bermuka merah dan berkumis melintang sehingga tampak berwibawa sekali. Memang dia memegang tampuk pemerintahan dengan tangan besi, dengan galak dan tak mengenal ampun dia menghukum hamba sahaya yang berbuat kesalahan, menghukum pula para pamong praja yang bertindak salah. Karena itu, Adipati Menak Sampar ditakuti semua orang. Usia Adipati Menak Sampar sudah empat puluh tahun, akan tetapi dari sekian banyak isterinya, dia hanya mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama Dyah Ayu Kerti, seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang cantik jelita. Ibu gadis ini juga seorang puteri dari Bali-dwipa yang cantik jelita, maka tidak mengherankan kalau anaknyapun demikian cantiknya. Dalam persidangan itu, para pamong praja memberi laporan tentang tugas mereka masing-masing. Setelah Sang Adipati memberi nasihat dan usul-usul kepada pembantunya, persidangan itu dibubarkan karena ada laporan dari para pengawal bahwa di luar kadipaten ada beberapa orang tamu penting mohon menghadap Adipati Menak Sampar. Mendengar bahwa pimpinan para tamu itu adalah utusan yang datang dari negeri Cola di India, Sang Adipati bergegas membubarkan persidangan dan tak lama kemudian dia sudah menanti para tamunya di ruangan tamu. Setelah para tamu dipersilakan masuk ke dalam ruangan tamu, maka bermunculanlah seorang kakek yang berusia kurang lebih enampuluh lima tahun bersama seorang wanita yang usianya sudah empatpuluh tahun namun masih tampak cantik jelita dan genit, dan seorang laki-laki gagah perkasa bertubuh raksasa berusia empatpuluhan tahun. Setelah mempersilakan tiga orang tamunya untuk mengambil tempat duduk, Adipati Menak Sampar lalu berkata,
"Selamat datang di kadipaten Blambangan paman pendeta." Dia menyebut pendeta karena kakek itu memang berpakaian jubah panjang seperti seorang pendeta.
"Kami merasa belum mengenal paman, siapakah nama paman yang mulia dan dari mana paman datang?"
"Heh-heh-heh, Kanjeng Adipati yang gagah perkasa! Saya bernama Wasi Siwamurti dan saya datang ke Blambangan sebagai utusan Sang Mahaprabu di Negeri Cola."
Adipati Menak Sampar mengangguk-angguk.
"Biarpun letaknya amat jauh, Negeri Cola adalah sahabat kami. Tidak tahu ada urusan apakah paman datang ke Blambangan?"
"Sebelum saya menjelaskan maksud kunjungan saya ini, perkenalkan lebih dulu wanita ini adalah Ni Dewi Durgomala yang menjadi murid saya, dan ini adalah Ki Siwananda putera saya."

<<< Bagian 15                                                                                           Bagian 17 >>>

No comments:

Post a Comment