Adipati Menak Sampar memandang kepada keduanya dan berkata,
"Selamat
datang di Blambangan." Yang dijawab oleh keduanya dengan hormat menyatakan
terima kasih mereka.
Wasi Siwamurti
lalu mengeluarkan sepucuk surat dari saku jubahnya dan menyerahkannya kepada
Adipati Menak Sampar.
"Kedatangan
saya ini diantar oleh sepucuk surat dari Sang Prabu untuk paduka, Kanjeng
Adipati."
Adipati Menak
Sampar menerima surat itu dan membacanya. Isinya adalah surat pengantar dari
Raja Cola yang menyatakan bahwa Wasi Siwamurti adalah seorang pendeta yang
diutus ke Jawadwipa untuk menyebar Agama Siwa.
"Akan
tetapi untuk menyebar-luaskan Agama Siwa, kenapa paman wasi datang ke
Blambangan?" tanya Adipati Menak Sampar.
"Saya
ingin menyebar agama kami di daerah Panjalu dan Jenggala sampai ke Blambangan
dan Bali-dwipa. Dan terutama sekali karena di sini saya mempunyai saudara yang
telah lama membantu paduka, yaitu Wasi Karangwolo."
Wajah Adipati
Menak Sampar menjadi berseri ketika mendengar ucapan itu.
"Ah,
paman Wasi masih saudara dengan pamanda Wasi Karangwolo?"
"Dia
adalah adik-seperguruan saya, Kanjeng Adipati. Kabar terakhir yang saya dapat
mengatakan bahwa dia telah menjadi penasihat paduka di sini. Benarkah itu dan
di mana dia berada?"
"Benar
sekali, paman. Paman Wasi Karangwolo adalah penasihat kami dan dia sedang
menjadi utusan Blambangan pergi ke Nusabarung bersama adik seperguruannya yang
bernama Wasi Surengpati."
"Ahh, jadi
Surengpati juga sudah berada di sini? Bagus sekali. Kalau begitu saya akan
mendapat pembantu-pembantu yang dapat diandalkan."
"Yang
ingin kami ketahui, mengapa paman Wasi hendak menyebar luaskan agama Siwa ke
Panjalu dan Jenggala."
"Seperti
Kanjeng Adipati tentu telah memaklumi, kerajaan yang kini telah menjadi dua itu
adalah musuh besar Negeri Cola. Kami hendak menyebar luaskan agama Siwa untuk
memecah belah. Kalau sudah terjadi pemecah belahan kepercayaan, maka tentu
Panjalu dan Jenggala akan menjadi lemah dan mudah diserbu dan
ditundukkan."
"Bagus
sekali! Hal itu cocok dengan keinginan kami, paman Wasi. Sejak dahulupun kami
bermusuhan dengan Panjalu dan biarpun kami pernah ditundukkan dan dikalahkan,
namun kami tidak pernah mau mengakui mereka sebagai kerajaan yang menguasai
kami. Bahkan kami mengutus Paman Wasi Karangwolo juga untuk mengadakan
persekutuan dengan Nusabarung untuk menentang kerajaan Jenggala yang mengakui
Blambangan sebagai daerah kekuasaannya."
"Akan
tetapi, kerajaan Jenggala cukup kuat, apa lagi kalau dibantu oleh Panjalu.
Pasukan mereka kuat sekali dan mereka memiliki banyak senopati yang sakti
mandraguna."
"Kami
tahu, paman Wasi. Akan tetapi kami sudah mendapatkan janji dari Bali-dwipa
untuk membantu kami."
"Bagus
kalau begitu. Akan tetapi, gerakan senjata itu sebaiknya ditunda dulu. Baru
setelah dengan penyebar-luasan agama yang dapat memecah belah mereka, kita
pukul dengan kekuatan senjata."
Selagi mereka
bercakap-cakap, masuklah seorang pengawal yang melaporkan bahwa Wasi Karangwolo
dan Wasi Surengpati telah datang dan mohon menghadap Sang Adipati Menak Sampar.
Mendengar laporan ini, Adipati Menak Sampar menjadi gembira sekali.
"Bagus,
persilakan mereka langsung menghadap ke sini!" Setelah pengawal pergi dia
berkata kepada Wasi Siwamurti, "Paman Wasi, kebetulan sekali dua orang
adik seperguruan andika yang kami utus ke Nusabarung telah datang
kembali."
Pertemuan
antara ke tiga pendeta dan dua orang murid itu amat menggembirakan. Setelah
saling memberi salam dan menanyakan keselamatan masing-masing, mereka lalu
duduk dan kesempatan ini dipergunakan oleh Adipati Menak Sampar untuk bertanya
kepada kedua orang utusannya itu.
"Bagaimana
kabarnya dengan tugas andika berdua, Paman Wasi Karangwolo?"
"Kami
sudah bercakap-cakap dengan Sang Adipati Martimpang tentang kerja-sama kita dan
kami melihat bahwa Kadipaten Nusabarung juga sudah mengadakan persiapan dengan
baik. Nusabarung sudah menghimpun pasukan dan menambah jumlah perajurit mereka,
bahkan sebagian pasukan sudah dipersiapkan di pantai daratan untuk menjaga
kalau-kalau ada gerakan pasukan Jenggala ke sana."
"Bagus
sekali kalau begitu. Dengan adanya Nusabarung yang sudah siap, kita sudah
mempunyai sekutu di garis depan. Nusabarung dapat menjadi benteng pertama kita
untuk membendung kalau-kalau ada pasukan dari barat menyerang daerah
kita."
"Akan
tetapi ada berita buruk, Kanjeng Adipati. Biarpun Nusabarung sudah mengadakan
persiapan, ternyata telah ada dua orang sakti dari Panjalu yang dapat
menyelinap masuk dan membikin kacau Nusabarung."
Adipati Menak
Sampar terkejut, demikian pula tiga orang tamunya yang mendengarkan dengan
penuh perhatian.
"Ah,
bagaimana mereka begitu ceroboh sehingga ke masukan telik sandi? Siapakah dua
orang sakti dari Panjalu itu?"
"Ceritanya
begini, Kanjeng Adipati. Ketika kami berdua tiba di Nusabarung, Adipati
Martimpang sedang mengadakan sayembara tanding untuk mencarikan jodoh
puterinya. Banyak orang muda yang memasuki sayembara, di antaranya bahkan
Kalinggo, putera Senopati Rajahbeling dari Blambangan. Akan tetapi yang keluar
sebagai pemenang sayembara adalah seorang pemuda bernama Joko Wilis yang datang
dari pegunungan Wilis. Joko Wilis ini mengalahkan semua peserta, bahkan
mengalahkan Senopati Wisokolo dari Nusabarung yang menjadi penguji dalam
sayembara itu. Pemuda itu tangguh dan sakti mandraguna. Dialah yang diterima
menjadi calon mantu dan pengganti Adipati Martimpang. Kami berdua merasa
penasaran sekali mengapa Adipati Martimpang memilih dia, bukan Kalinggo. Kami
datang agak terlambat sehingga tidak sempat membekali dengan aji yang dapat
mengalahkan Joko Wilis."
"Kemudian
bagaimana, Paman Karangwolo?" tanya Sang Adipati dengan hati tertarik.
Wasi
Karangwolo melanjutkan.
"Setelah
menangkan sayembara, Joko Wilis tidak bersedia dinikahkan dengan Dyah
Candramanik, akan tetapi minta ditangguhkan setahun lagi. Akan tetapi, beberapa
hari kemudian, Dyah Candramanik melaporkan kepada ayahnya bahwa Joko Wilis itu
sesungguhnya seorang wanita yang menyamar!"
"Ah,
seorang wanita? Mengapa ia menyamar dan mengikuti sayembara memilih jodoh
itu?"
"Hal
itulah yang mendatangkan kecurigaan dan kami lalu membantu Adipati Nusabarung
untuk menangkapnya. Kami berdua berhasil menawannya dan mempengaruhinya dengan
sihir, ia mengaku bernama Retna Wilis dan siapakah gadis itu? Bukan lain adalah
puteri Ki Patih Tejolaksono dan puteri Endang Patibroto."
Semua orang
terkejut mendengar nama sepasang suami isteri itu. Mereka semua menganggap dua
orang itu sebagai musuh besar. Bahkan Wasi Siwamurti juga mendendam kepada
mereka yang dianggap telah menyebabkan kematian mendiang Wasi Bagaspati dan
Wasi Bagaskolo, rekan-rekannya yang menjadi utusan Negeri Cola dan sama-sama
penyembah Bathara Siwa.
"Adi Wasi
Karangwolo, kemudian bagaimana kelanjutannya?" tanya Wasi Siwamurti kepada
adik seperguruannya.
Wasi
Karangwolo menceritakan selanjutnya.
"Kami
berdua sudah menguasai Retna Wilis dan ketika kami sedang mengorek keterangan
darinya apakah ia datang sebagai utusan Panjalu dan menjadi telik-sandi,
tiba-tiba muncul seorang pemuda yang bernama Bagus Seta dan diakui sebagai
kakak Retna Wilis. Pemuda itu ternyata sakti mandraguna. Dengan lemparan
setangkai cempaka putih dia dapat menyadarkan Retna Wilis yang dapat
membebaskan diri dan mengamuk. Kami sudah mengerahkan pasukan untuk
menangkapnya kembali, akan tetapi tiba-tiba ia dapat menangkap dan menyandera
Adipati Martimpang sehingga ia dapat meloloskan diri ke pantai daratan sambil
menyandera sang adipati. Kami tidak berdaya dan terpaksa membiarkan ia
lolos."
Semua yang
mendengar cerita ini tertegun.
"Tidak
salah lagi, Retna Wilis dan Bagus Seta itu tentulah telik-sandi yang dikirim
Panjalu atau Jenggala untuk menyelidiki keadaan di Nusabarung. Kalau begitu
lebih baik kita mendahului mereka, bergabung dengan Nusabarung dan menyerang
Jenggala," kata Sang Adipati Menak Sampar.
"Nanti
dulu, Kanjeng Adipati," kata Wasi Karangwolo.
"Adipati
Nusabarung juga menghendaki demikian, akan tetapi kami mencegahnya. Kini belum
tiba waktunya kita menyerang Jenggala. Kami akan lebih dulu bertindak
menyebar-luaskan agama kami untuk menarik rakyat berpihak kepada kami. Kalau
terjadi perpecahan di antara mereka karena agama, tentu keadaan mereka lemah
dan itulah saatnya bagi kita untuk melakukan penyerbuan."
"Apa yang
dikatakan Adi Karangwolo benar, Kanjeng Adipati. Pasukan Jenggala dan Panjalu
kuat sekali. Kita harus membuatnya lemah lebih dulu melalui penyebaran agama.
Saya, murid saya Ni Dewi Durgomolo dan anak saya Ki Siwananda akan membantu
agar mereka memasuki agama kami dan kalau sudah begitu halnya, maka akan mudah
membujuk rakyat Jenggala dan Panjalu untuk berpihak kepada kita."
Adipati Menak
Sampar mengangguk-angguk tanda setuju. Dia mengerti bahwa agama penyembah
Bathara Siwa, Bathara Kala dan Bathari Durga ini, mudah berkembang biak dan
para pendetanya memiliki pengaruh yang amat besar terhadap umatnya.
"Kalau
begitu, kami dapat menyetujui dan kami serahkan kepada Paman Wasi Karangwolo
dan Paman Wasi Surengpati, dibantu oleh Paman Wasi Siwamurti dan dua orang
muridnya. Andika bertiga dapat menggunakan bantuan pasukan setiap waktu andika
bertiga memerlukannya," kata Adipati Menak Sampar.
Perundingan
ditutup dengan jamuan makan bagi para tamu, yaitu Wasi Siwamurti, Ki Siwananda
dan Ni Dewi Durgamolo.
Bagus Seta dan
Retna Wilis melakukan perjalanan dengan santai menuju ke timur. Pada suatu
siang yang cerah, mereka berhenti dan beristirahat di bawah sebatang pohon asam
yang besar. Mereka duduk di atas batu-batu yang banyak berserakan di bawah
pohon, menggunakan saputangan untuk menghapus keringat yang membasahi leher mereka.
Matahari amat terik dan sinarnya menyengat tubuh. Nyaman memang mengaso di
bawah pohon asam itu. Angin semilir seperti mengipasi tubuh mereka dan Retno
Wilis memandang ke atas. Banyak buah asam bergantungan di dahan. Tiba-tiba ia
melihat sepasang burung sedang bercumbu di atas dahan. Ia tersenyum geli
sehingga Bagus Seta juga memandang ke atas. Diapun melihat sepasang burung itu
dan tersenyum juga, bukan menertawakan burung-burung itu melainkan menertawakan
adiknya yang tersenyum melihat burung-burung itu bercumbu.
"Burung-burung
tak tahu malu," kata Retna Wilis melihat kakaknya tersenyum.
"Eh?
Kenapa, diajeng? Burung-burung itu berkasih-kasihan, sudah sewajarnya, dan
sudah sesuai dengan kehendak Hyang Widhi. Mengapa kaukatakan tidak tahu
malu?"
"Apakah
itu yang dinamakan cinta, kakangmas?"
"Benar,
dan cinta itu suci adanya, walaupun di dalam cinta itu terkandung nafsu
berahi."
"Apakah
cinta manusia juga mengandung nafsu, kakang?"
"Tentu
saja. Di dunia ini, di antara tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, cintanya
tentu mengandung nafsu berahi, cinta semua makhluk mengandung pamrih karena
disenangkan hatinya. Tidak ada cinta tanpa pamrih, karena itu semua cinta
bergelimang nafsu."
"Akan
tetapi cinta antara suami-isteri adalah suci, bukan kakang? Suami isteri kadang
mengalah demi membahagiakan masing-masing pihak, tanpa pamrih."
Bagus Seta
tersenyum.
"Biarpun
dengan menyesal, terpaksa harus kukatakan, bahwa cinta antara suami isteri juga
tidak terbebas daripada nafsu, akan tetapi hal itu adalah sewajarnya karena
nafsu berahi inilah yang merupakan syarat berkembang biaknya manusia, hewan,
atau tumbuh-tumbuhan. Berarti bahwa sejak kita lahir, kita sudah disertai
nafsu, jadi sudah sesuai dengan kehendak Hyang Widhi."
"Aku
menjadi bingung, kakang. Kalau semua cinta dilumuri nafsu, maka cinta itu
kotor, kakang. Bukankah nafsu itu merupakan sesuatu yang buruk dan dapat
menyeret manusia ke jurang kesengsaraan?"
"Sama
sekali tidak demikian, adikku. Nafsu berahi, seperti juga nafsu lain, merupakan
hal yang amat berguna bagi kehidupan manusia. Tanpa adanya nafsu berahi dalam
cinta kasih, maka manusia tidak akan berkembang biak seperti sekarang ini. Akan
tetapi seperti juga nafsu lain, nafsu berahi juga amat berbahaya kalau sudah
menguasai dan memperhamba manusia. Kalau seseorang telah diperhamba nafsu
berahi maka dia akan mengejar kesenangan melalui nafsu berahinya sedemikian
rupa sehingga dia dapat melakukan hal-hal yang sesat, seperti perkosaan,
perjinaan, pelacuran dan lain-lain."
"Ah, aku
menjadi ngeri memikirkan soal cinta-kasih kalau begitu. Akan tetapi
benar-benarkah tidak ada cinta-kasih yang bersih dari pada nafsu bagi
manusia?"
"Tidak
ada, adikku. Tidak akan ada cinta kalau tidak ada nafsu. Nafsu itu
menyenangkan, nafsu itu hendak memuaskan diri, hendak menyenangkan diri
sendiri. Seorang baru mencinta kalau yang dicinta itu menarik hatinya,
menyenangkan hatinya melalui kecantikan, keluhuran budi, kepandaian, harta
benda dan sebagainya.
<<< Bagian 16 Bagian 18 >>>
No comments:
Post a Comment