Sepasang Garuda Putih ; Bagian 17


Adipati Menak Sampar memandang kepada keduanya dan berkata,
"Selamat datang di Blambangan." Yang dijawab oleh keduanya dengan hormat menyatakan terima kasih mereka.
Wasi Siwamurti lalu mengeluarkan sepucuk surat dari saku jubahnya dan menyerahkannya kepada Adipati Menak Sampar.
"Kedatangan saya ini diantar oleh sepucuk surat dari Sang Prabu untuk paduka, Kanjeng Adipati."
Adipati Menak Sampar menerima surat itu dan membacanya. Isinya adalah surat pengantar dari Raja Cola yang menyatakan bahwa Wasi Siwamurti adalah seorang pendeta yang diutus ke Jawadwipa untuk menyebar Agama Siwa.
"Akan tetapi untuk menyebar-luaskan Agama Siwa, kenapa paman wasi datang ke Blambangan?" tanya Adipati Menak Sampar.
"Saya ingin menyebar agama kami di daerah Panjalu dan Jenggala sampai ke Blambangan dan Bali-dwipa. Dan terutama sekali karena di sini saya mempunyai saudara yang telah lama membantu paduka, yaitu Wasi Karangwolo."
Wajah Adipati Menak Sampar menjadi berseri ketika mendengar ucapan itu.
"Ah, paman Wasi masih saudara dengan pamanda Wasi Karangwolo?"
"Dia adalah adik-seperguruan saya, Kanjeng Adipati. Kabar terakhir yang saya dapat mengatakan bahwa dia telah menjadi penasihat paduka di sini. Benarkah itu dan di mana dia berada?"
"Benar sekali, paman. Paman Wasi Karangwolo adalah penasihat kami dan dia sedang menjadi utusan Blambangan pergi ke Nusabarung bersama adik seperguruannya yang bernama Wasi Surengpati."
"Ahh, jadi Surengpati juga sudah berada di sini? Bagus sekali. Kalau begitu saya akan mendapat pembantu-pembantu yang dapat diandalkan."
"Yang ingin kami ketahui, mengapa paman Wasi hendak menyebar luaskan agama Siwa ke Panjalu dan Jenggala."
"Seperti Kanjeng Adipati tentu telah memaklumi, kerajaan yang kini telah menjadi dua itu adalah musuh besar Negeri Cola. Kami hendak menyebar luaskan agama Siwa untuk memecah belah. Kalau sudah terjadi pemecah belahan kepercayaan, maka tentu Panjalu dan Jenggala akan menjadi lemah dan mudah diserbu dan ditundukkan."
"Bagus sekali! Hal itu cocok dengan keinginan kami, paman Wasi. Sejak dahulupun kami bermusuhan dengan Panjalu dan biarpun kami pernah ditundukkan dan dikalahkan, namun kami tidak pernah mau mengakui mereka sebagai kerajaan yang menguasai kami. Bahkan kami mengutus Paman Wasi Karangwolo juga untuk mengadakan persekutuan dengan Nusabarung untuk menentang kerajaan Jenggala yang mengakui Blambangan sebagai daerah kekuasaannya."
"Akan tetapi, kerajaan Jenggala cukup kuat, apa lagi kalau dibantu oleh Panjalu. Pasukan mereka kuat sekali dan mereka memiliki banyak senopati yang sakti mandraguna."
"Kami tahu, paman Wasi. Akan tetapi kami sudah mendapatkan janji dari Bali-dwipa untuk membantu kami."
"Bagus kalau begitu. Akan tetapi, gerakan senjata itu sebaiknya ditunda dulu. Baru setelah dengan penyebar-luasan agama yang dapat memecah belah mereka, kita pukul dengan kekuatan senjata."

Selagi mereka bercakap-cakap, masuklah seorang pengawal yang melaporkan bahwa Wasi Karangwolo dan Wasi Surengpati telah datang dan mohon menghadap Sang Adipati Menak Sampar. Mendengar laporan ini, Adipati Menak Sampar menjadi gembira sekali.
"Bagus, persilakan mereka langsung menghadap ke sini!" Setelah pengawal pergi dia berkata kepada Wasi Siwamurti, "Paman Wasi, kebetulan sekali dua orang adik seperguruan andika yang kami utus ke Nusabarung telah datang kembali."
Pertemuan antara ke tiga pendeta dan dua orang murid itu amat menggembirakan. Setelah saling memberi salam dan menanyakan keselamatan masing-masing, mereka lalu duduk dan kesempatan ini dipergunakan oleh Adipati Menak Sampar untuk bertanya kepada kedua orang utusannya itu.
"Bagaimana kabarnya dengan tugas andika berdua, Paman Wasi Karangwolo?"
"Kami sudah bercakap-cakap dengan Sang Adipati Martimpang tentang kerja-sama kita dan kami melihat bahwa Kadipaten Nusabarung juga sudah mengadakan persiapan dengan baik. Nusabarung sudah menghimpun pasukan dan menambah jumlah perajurit mereka, bahkan sebagian pasukan sudah dipersiapkan di pantai daratan untuk menjaga kalau-kalau ada gerakan pasukan Jenggala ke sana."
"Bagus sekali kalau begitu. Dengan adanya Nusabarung yang sudah siap, kita sudah mempunyai sekutu di garis depan. Nusabarung dapat menjadi benteng pertama kita untuk membendung kalau-kalau ada pasukan dari barat menyerang daerah kita."
"Akan tetapi ada berita buruk, Kanjeng Adipati. Biarpun Nusabarung sudah mengadakan persiapan, ternyata telah ada dua orang sakti dari Panjalu yang dapat menyelinap masuk dan membikin kacau Nusabarung."
Adipati Menak Sampar terkejut, demikian pula tiga orang tamunya yang mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Ah, bagaimana mereka begitu ceroboh sehingga ke masukan telik sandi? Siapakah dua orang sakti dari Panjalu itu?"
"Ceritanya begini, Kanjeng Adipati. Ketika kami berdua tiba di Nusabarung, Adipati Martimpang sedang mengadakan sayembara tanding untuk mencarikan jodoh puterinya. Banyak orang muda yang memasuki sayembara, di antaranya bahkan Kalinggo, putera Senopati Rajahbeling dari Blambangan. Akan tetapi yang keluar sebagai pemenang sayembara adalah seorang pemuda bernama Joko Wilis yang datang dari pegunungan Wilis. Joko Wilis ini mengalahkan semua peserta, bahkan mengalahkan Senopati Wisokolo dari Nusabarung yang menjadi penguji dalam sayembara itu. Pemuda itu tangguh dan sakti mandraguna. Dialah yang diterima menjadi calon mantu dan pengganti Adipati Martimpang. Kami berdua merasa penasaran sekali mengapa Adipati Martimpang memilih dia, bukan Kalinggo. Kami datang agak terlambat sehingga tidak sempat membekali dengan aji yang dapat mengalahkan Joko Wilis."
"Kemudian bagaimana, Paman Karangwolo?" tanya Sang Adipati dengan hati tertarik.
Wasi Karangwolo melanjutkan.
"Setelah menangkan sayembara, Joko Wilis tidak bersedia dinikahkan dengan Dyah Candramanik, akan tetapi minta ditangguhkan setahun lagi. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, Dyah Candramanik melaporkan kepada ayahnya bahwa Joko Wilis itu sesungguhnya seorang wanita yang menyamar!"
"Ah, seorang wanita? Mengapa ia menyamar dan mengikuti sayembara memilih jodoh itu?"
"Hal itulah yang mendatangkan kecurigaan dan kami lalu membantu Adipati Nusabarung untuk menangkapnya. Kami berdua berhasil menawannya dan mempengaruhinya dengan sihir, ia mengaku bernama Retna Wilis dan siapakah gadis itu? Bukan lain adalah puteri Ki Patih Tejolaksono dan puteri Endang Patibroto."

Semua orang terkejut mendengar nama sepasang suami isteri itu. Mereka semua menganggap dua orang itu sebagai musuh besar. Bahkan Wasi Siwamurti juga mendendam kepada mereka yang dianggap telah menyebabkan kematian mendiang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo, rekan-rekannya yang menjadi utusan Negeri Cola dan sama-sama penyembah Bathara Siwa.
"Adi Wasi Karangwolo, kemudian bagaimana kelanjutannya?" tanya Wasi Siwamurti kepada adik seperguruannya.
Wasi Karangwolo menceritakan selanjutnya.
"Kami berdua sudah menguasai Retna Wilis dan ketika kami sedang mengorek keterangan darinya apakah ia datang sebagai utusan Panjalu dan menjadi telik-sandi, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang bernama Bagus Seta dan diakui sebagai kakak Retna Wilis. Pemuda itu ternyata sakti mandraguna. Dengan lemparan setangkai cempaka putih dia dapat menyadarkan Retna Wilis yang dapat membebaskan diri dan mengamuk. Kami sudah mengerahkan pasukan untuk menangkapnya kembali, akan tetapi tiba-tiba ia dapat menangkap dan menyandera Adipati Martimpang sehingga ia dapat meloloskan diri ke pantai daratan sambil menyandera sang adipati. Kami tidak berdaya dan terpaksa membiarkan ia lolos."
Semua yang mendengar cerita ini tertegun.
"Tidak salah lagi, Retna Wilis dan Bagus Seta itu tentulah telik-sandi yang dikirim Panjalu atau Jenggala untuk menyelidiki keadaan di Nusabarung. Kalau begitu lebih baik kita mendahului mereka, bergabung dengan Nusabarung dan menyerang Jenggala," kata Sang Adipati Menak Sampar.
"Nanti dulu, Kanjeng Adipati," kata Wasi Karangwolo.
"Adipati Nusabarung juga menghendaki demikian, akan tetapi kami mencegahnya. Kini belum tiba waktunya kita menyerang Jenggala. Kami akan lebih dulu bertindak menyebar-luaskan agama kami untuk menarik rakyat berpihak kepada kami. Kalau terjadi perpecahan di antara mereka karena agama, tentu keadaan mereka lemah dan itulah saatnya bagi kita untuk melakukan penyerbuan."
"Apa yang dikatakan Adi Karangwolo benar, Kanjeng Adipati. Pasukan Jenggala dan Panjalu kuat sekali. Kita harus membuatnya lemah lebih dulu melalui penyebaran agama. Saya, murid saya Ni Dewi Durgomolo dan anak saya Ki Siwananda akan membantu agar mereka memasuki agama kami dan kalau sudah begitu halnya, maka akan mudah membujuk rakyat Jenggala dan Panjalu untuk berpihak kepada kita."
Adipati Menak Sampar mengangguk-angguk tanda setuju. Dia mengerti bahwa agama penyembah Bathara Siwa, Bathara Kala dan Bathari Durga ini, mudah berkembang biak dan para pendetanya memiliki pengaruh yang amat besar terhadap umatnya.
"Kalau begitu, kami dapat menyetujui dan kami serahkan kepada Paman Wasi Karangwolo dan Paman Wasi Surengpati, dibantu oleh Paman Wasi Siwamurti dan dua orang muridnya. Andika bertiga dapat menggunakan bantuan pasukan setiap waktu andika bertiga memerlukannya," kata Adipati Menak Sampar.
Perundingan ditutup dengan jamuan makan bagi para tamu, yaitu Wasi Siwamurti, Ki Siwananda dan Ni Dewi Durgamolo.

Bagus Seta dan Retna Wilis melakukan perjalanan dengan santai menuju ke timur. Pada suatu siang yang cerah, mereka berhenti dan beristirahat di bawah sebatang pohon asam yang besar. Mereka duduk di atas batu-batu yang banyak berserakan di bawah pohon, menggunakan saputangan untuk menghapus keringat yang membasahi leher mereka. Matahari amat terik dan sinarnya menyengat tubuh. Nyaman memang mengaso di bawah pohon asam itu. Angin semilir seperti mengipasi tubuh mereka dan Retno Wilis memandang ke atas. Banyak buah asam bergantungan di dahan. Tiba-tiba ia melihat sepasang burung sedang bercumbu di atas dahan. Ia tersenyum geli sehingga Bagus Seta juga memandang ke atas. Diapun melihat sepasang burung itu dan tersenyum juga, bukan menertawakan burung-burung itu melainkan menertawakan adiknya yang tersenyum melihat burung-burung itu bercumbu.
"Burung-burung tak tahu malu," kata Retna Wilis melihat kakaknya tersenyum.
"Eh? Kenapa, diajeng? Burung-burung itu berkasih-kasihan, sudah sewajarnya, dan sudah sesuai dengan kehendak Hyang Widhi. Mengapa kaukatakan tidak tahu malu?"
"Apakah itu yang dinamakan cinta, kakangmas?"
"Benar, dan cinta itu suci adanya, walaupun di dalam cinta itu terkandung nafsu berahi."
"Apakah cinta manusia juga mengandung nafsu, kakang?"
"Tentu saja. Di dunia ini, di antara tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, cintanya tentu mengandung nafsu berahi, cinta semua makhluk mengandung pamrih karena disenangkan hatinya. Tidak ada cinta tanpa pamrih, karena itu semua cinta bergelimang nafsu."

"Akan tetapi cinta antara suami-isteri adalah suci, bukan kakang? Suami isteri kadang mengalah demi membahagiakan masing-masing pihak, tanpa pamrih."
Bagus Seta tersenyum.
"Biarpun dengan menyesal, terpaksa harus kukatakan, bahwa cinta antara suami isteri juga tidak terbebas daripada nafsu, akan tetapi hal itu adalah sewajarnya karena nafsu berahi inilah yang merupakan syarat berkembang biaknya manusia, hewan, atau tumbuh-tumbuhan. Berarti bahwa sejak kita lahir, kita sudah disertai nafsu, jadi sudah sesuai dengan kehendak Hyang Widhi."
"Aku menjadi bingung, kakang. Kalau semua cinta dilumuri nafsu, maka cinta itu kotor, kakang. Bukankah nafsu itu merupakan sesuatu yang buruk dan dapat menyeret manusia ke jurang kesengsaraan?"
"Sama sekali tidak demikian, adikku. Nafsu berahi, seperti juga nafsu lain, merupakan hal yang amat berguna bagi kehidupan manusia. Tanpa adanya nafsu berahi dalam cinta kasih, maka manusia tidak akan berkembang biak seperti sekarang ini. Akan tetapi seperti juga nafsu lain, nafsu berahi juga amat berbahaya kalau sudah menguasai dan memperhamba manusia. Kalau seseorang telah diperhamba nafsu berahi maka dia akan mengejar kesenangan melalui nafsu berahinya sedemikian rupa sehingga dia dapat melakukan hal-hal yang sesat, seperti perkosaan, perjinaan, pelacuran dan lain-lain."
"Ah, aku menjadi ngeri memikirkan soal cinta-kasih kalau begitu. Akan tetapi benar-benarkah tidak ada cinta-kasih yang bersih dari pada nafsu bagi manusia?"
"Tidak ada, adikku. Tidak akan ada cinta kalau tidak ada nafsu. Nafsu itu menyenangkan, nafsu itu hendak memuaskan diri, hendak menyenangkan diri sendiri. Seorang baru mencinta kalau yang dicinta itu menarik hatinya, menyenangkan hatinya melalui kecantikan, keluhuran budi, kepandaian, harta benda dan sebagainya.

<<< Bagian 16                                                                                          Bagian 18 >>>

No comments:

Post a Comment