Pendeknya, orang disenangkan dulu hatinya baru jatuh cinta. Dapatkah seorang wanita mencinta seorang pria atau seorang pria mencinta seorang wanita kalau yang dicintanya itu ternyata tidak dapat melakukan hubungan badan? Tentu saja tidak. Betapapun buruknya kenyataan ini, betapapun sarunya, namun kenyataannya demikianlah. Oleh karena itu, banyak terjadi bahwa cinta seseorang dapat berubah dan berbalik menjadi benci, mengapa? Karena kalau disenangkan dia mencinta, kalau sekali waktu dia disusahkan, dia menjadi marah dan cintanya berubah menjadi benci. Demikianlah ulah nafsu, adikku. Berbahagialah orang yang dapat mengikuti dan mengerti akan gerak-gerik nafsu yang menguasai diri sendiri."
Retna Wilis
mengerutkan alisnya yang kecil hitam melengkung indah itu. Ia teringat akan
mendiang Adiwijaya. Orang yang dianggap sebagai pamannya atau bahkan pengganti
orang tuanya sendiri itu mencintanya tanpa pamrih, mencintanya dengan hati
bersih dan suci, bahkan rela mengorbankan dirinya untuknya!
"Akan
tetapi, kakang. Bukankah terdapat cinta-kasih antara sahabat yang benar-benar
bersih dari nafsu, cinta-kasih murni antara dua orang sahabat yang setia?”
"Tidak
ada, adikku. Cinta antara dua orang sahabat juga bergelimang nafsu, walaupun
bukan nafsu berahi. Cinta seorang sahabat itu tentu didorong karena dia
menganggap orang yang dicintanya itu baik terhadapnya, menyenangkan dan
menguntungkan. Selama ada penilaian antara baik dan buruk, tentu cinta yang
timbul karena penilaian itu ditunggangi nafsu."
"Kalau
begitu di dunia ini tidak terdapat cinta-kasih sejati, cinta-kasih yang suci
dan murni?"
"Tentu
saja ada, diajeng Retna Wilis.Tengoklah ke sekelilingmu. Semua yang tampak ini
berguna bagi kehidupan manusia. Pohon-pohon, bahkan pohon asam ini amat berguna
bagi manusia. Buahnya untuk masak, daunnya untuk jamu dan kayunya masih dapat
digunakan untuk membangun rumah dan kayu bakar. Lihat bunga-bunga indah itu.
Tampak oleh mata manusia demikian indah menyenangkan. Baunya juga harum amat
menyegarkan bagi penciuman. Lihat sinar matahari, demikian indah dan
mendatangkan terang, juga menghidupkan. Rasakan semilirnya angin yang demikian
menyejuk dan menyegarkan. Lihatlah, di sekeliling kita. Tanah tersedia untuk
kita, menghasilkan segala macam kebutuhan hidup manusia. Semua itu diberikan
tanpa pamrih, tanpa memandang bulu dan terus menerus. Bukan hanya manusia yang
mendapat limpahan berkah ini, melainkan juga hewan dan tumbuh-tumbuhan. Nah,
semua itulah cinta kasih, adikku. Itulah sifat Hyang Widhi, yaitu Kasih."
Retna Wilis
memandang kakaknya dan mata yang indah itu terbelalak, berseri.
"Kakang,
engkau membuka mataku! Betapa buta aku selama ini tidak melihat dan tidak
merasakan lagi adanya berkah dan cinta-kasih suci yang berlimpah ruah diberikan
kepadaku!"
"Itulah,
adikku. Itulah pekerjaan nafsu yang selalu menarik perhatian kita sehingga kita
selalu mengejar kesenangan, mengejar sesuatu yang tidak ada pada kita. Nafsu
tidak mengenal puas, tidak mengenal cukup, akan selalu mendorong kita untuk
mendapatkan lebih banyak lagi. Akhirnya nafsu menyeret kita ke dalam perbuatan
yang sesat dan jahat. Aku girang bahwa engkau merasa terbuka matamu,
diajeng."
Setelah
bercakap-cakap dan tidak merasa gerah lagi, kedua orang kakak beradik itu
hendak melanjutkan perjalanan mereka. Akan tetapi pada saat itu terdengar orang
bertembang dengan suara yang berat dan dalam.
"Rumangsane
mung nalongso
Susah
sajeroning urip
Sakabehing
kang tinuju
Olehe namun
kuciwo
Sing
dioyak-oyak teko luput
Luwih becik s
ing narimo
Opo paringing
Hyang Widhi"
Arti tembang
itu adalah
Rasanya hanya
nelangsa,
susah dalam
kehidupan,
semua yang
diharapkan,
hanya mendapat
kecewa,
yang
dikejar-kejar tak dapat,
lebih baik
yang menerima,
apa yang
diberikan Hyang Widhi.
Bagus Seta dan
Retna Wilis tidak jadi meninggalkan tempat di bawah pohon asam itu dan menanti
orang yang bertembang itu datang dekat. Dia seorang paman tani berusia hampir
limapuluh tahun, bercelana hitam tak berbaju, bajunya berada di atas singkong
yang dipikulnya dalam dua buah keranjang. Orang itu bertubuh kurus,
tulang-tulangnya menonjol di bawah kulitnya yang coklat karena banyak terbakar
sinar matahari. Otot-ototnya juga menonjol, menunjukkan bahwa otot-otot itu
sering dipergunakan untuk memikul berat dan bekerja keras. Kakinya telanjang.
Seluruh penampilan kakek ini, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya,
memperlihatkan kesederhaan yang polos, tidak dibuat-buat, kesederhanaan yang
mendekati kemiskinan. Namun wajah itu berseri, matanya memandang polos ke
depan, kosong dan tidak perduli. Ketika tiba dekat pohon asam yang lebat itu,
dia berhenti melangkah, lalu menghampiri tempat teduh itu, melepaskan
pikulannya yang berat. Dengan tangan kanannya dia menanggalkan sebuah caping
dari kepalanya dan mengipasi dadanya yang berkeringat dengan caping itu,
kemudian dia memandang kepada Bagus Seta dan Retna Wilis dan tampak keheranan
dalam sinar matanya.
Bagus Seta
tersenyum kepadanya dan bertanya,
“Paman, Kidung
Pangkur yang kautembangkan tadi indah sekali!"
Kakek itu
tersenyum dan seketika wajahnya yang penuh keriput itu tampak segar dan muda.
"Wah,
denmas, tembangku hanya tembang orang dusun."
"Benar,
paman, aku tertarik sekali, terutama isi tembang itu. Apakah engkau merasa
setuju kalau ada orang yang mempunyai cita-cita untuk meraih keadaan yang lebih
baik?"
Petani itu
menggunakan baju hitamnya yang tadi ditaruh di atas singkong untuk menghapus
keringat dari leher dan mukanya.
"Mengharapkan
sesuatu yang tidak ada hanya merupakan penyiksaan diri belaka, denmas. Kalau
hasilnya luput, kita akan merasa nelangsa dan kecewa, sebaliknya kalau dapat,
kita tetap saja tidak puas dan mengharapkan yang lebih baik atau lebih banyak.
Dari pada mengharapkan yang tidak-tidak, lebih baik menerima apa yang diberikan
oleh Hyang Widhi." Petani itu memandang ke arah pikulannya, mungkin
menaksir-naksir berapa yang akan didapatnya dari penjualan sepikul singkong
itu.
"Akan
tetapi kalau begitu hidup ini tidak akan ada kemajuan, paman. Siapa lagi kalau
bukan kita sendiri yang berusaha untuk memperbaiki kehidupan kita? Dengan usaha
keras tentunya."
"Oooh,
tentu saja, denmas. Kita harus bekerja setiap hari, karena apakah artinya hidup
ini tanpa bekerja? Kita bekerja sekuat tenaga setiap hari, tanpa mengharapkan
apa-apa dan apa yang datang sebagai hasil pekerjaan kita itu, itulah anugerah
dan berkah Hyang Widhi yang harus kita terima dengan penuh rasa sukur, tanpa
mengharapkan yang bukan-bukan." Petani itu bicara dengan bahasa yang
bersahaja, akan tetapi menyentuh perasaan Bagus Seto.
"Kalau
begitu pandangan hidup paman, maka paman menyerah dengan penuh kepasrahan
kepada Hyang Widhi untuk menentukan keadaan hidup paman?"
"Tentu
saja, denmas. Hyang Widhi kuasa mengatur segalanya. Kita tidak mempunyai
kemampuan untuk menolak apa yang telah ditentukan Hyang Widhi. Tugas kita hanya
bekerja sebaik mungkin dan setelah itu maka aku pasrah kepada Hyang Widhi.
Apapun yang diberikan kepadaku akan kuterima dengan penuh rasa sukur. Kalau
sudah begitu, maka kehidupan ini terasa nikmatnya nikmat dari berkah Hyang
Widhi yang tidak ada henti-hentinya kepada kita."
"Diajeng
Retna, inilah contohnya seorang yang berbahagia!" kata Bagus Seta kepada
adiknya.
Biarpun ucapan
petani singkong itu amat sederhana, namun ucapannya mengandung arti yang amat
dalam sehingga Retna Wilis masih belum mengerti benar. Ia memandang kepada
kakek itu dengan kagum lalu bertanya,
"Paman,
bahagiakah paman dalam hidup paman.”
Kakek itu
memandang kepada Retna Wilis dengan sinar mata tidak mengerti.
"Apa
maksud andika, den ajeng? Apa itu bahagia? Saya tidak membutuhkan
bahagia."
Retna Wilis
terbelalak. Kalau kata bahagia saja tidak mengerti, bagaimana mungkin orang
hidup berbahagia? Akan tetapi Bagus Seta tersenyum kepada adiknya.
"Diajeng,
justeru karena paman ini tidak membutuhkan bahagia, itu berarti bahwa dia telah
berbahagia! Kebahagiaan hanya dikejar-kejar orang yang hidupnya tidak bahagia,
yang hidupnya diganggu persoalan-persoalan yang menyusahkan dan menggelisahkan
hatinya. Kalau gangguan itu tidak ada lagi, maka orangpun tidak butuh bahagia
karena sesungguhnya dia sudah berbahagia! Seperti orang yang sakit saja yang
membutuhkan kesehatan, kalau orang itu tidak sakit lagi, dia tidak butuh akan
kesehatan karena sesungguhnya dia sudah sehat. Mengertikah engkau,
adikku?"
Retna Wilis
baru mengerti setengah-setengah saja. Semua orang di dunia ini mengejar
kebahagiaan, bagaimana petani miskin ini dikatakan oleh kakaknya sebagai orang
yang berbahagia karena dia tidak mengejar, bahkan tidak mengerti apa itu
kebahagiaan?
"Wah,
matahari sudah naik tinggi, saya harus berangkat sekarang, denmas. Nanti
pasarnya keburu sepi dan tidak ada yang membeli singkongku ini! Selamat
tinggal, denmas dan den-ajeng."
"Selamat
jalan, paman. Semoga Hyang Widhi selalu memberkahimu seperti yang andika
nikmati setama ini," kata Bagus Seta dan petani itu lalu memikul lagi dua
keranjang singkong itu dan meninggalkan tempat itu.
Retna Wilis
mengikuti petani itu dengan pandang matanya. Betapa tubuh kurus itu
terseok-seok memikul beban yang berat, akan tetapi betapa lincahnya kedua
tangannya itu berlenggang dan kedua kaki itu melangkah seperti orang
menari-nari gembira.
"Hayo,
diajeng, kita lanjutkan perjalanan kita," kata Bagus Seta dan Retna Wilis
mengangguk, lalu mereka berdua melangkah ke arah timur meninggalkan pohon asam
itu.
"Kakang,
aku masih memikirkan pembahasan tentang cinta-kasih tadi. Aku masih merasa
ngeri melihat kenyataan bahwa tidak ada cinta-kasih yang murni, semua
cinta-kasih manusia bergelimang nafsu. Aku ngeri, kakang dan tidak mau jatuh
cinta!"
Bagus Seta
tertawa.
"Ha-ha,
mudah saja engkau berkata demikian, adikku. Akan tetapi sekali waktu akan tiba
saatnya engkau bertemu seseorang dan jatuh cinta kepadanya, baik kaukehendaki
maupun tidak. Jodoh manusia ditentukan oleh Hyang Widhi, dan sekali engkau
bertemu dengan calon jodohmu yang sudah ditentukan, engkau akan jatuh cinta
padanya dan dia akan jatuh cinta padamu."
"Mencinta
dengan dorongan nafsu?"
"Tentu
saja, karena Hyang Widhi menghendaki demikian. Ingat, engkau diciptakan untuk
kelak menjadi seorang ibu yang melahirkan anak-anakmu, dan untuk itu engkau
harus lebih dulu jatuh cinta kepada seorang pria dan menjadi isterinya."
"Ih,
ngeri aku memikirkan dan membayangkan hal itu. Saling jatuh cinta dengan nafsu.
Aku tidak ingin jatuh cinta, kakangmas. Biar selama hidupku aku begini saja,
hidup seorang diri."
"Hemm,
kalau cinta berahi sudah menyelubungi hatimu, engkau tidak akan mampu melawan
hatimu sendiri. Akan tetapi sudahlah, semua itu sudah diatur oleh Hyang Widhi,
dan manusia tidak akan mampu mengubahnya. Mari kita lanjutkan perjalanan
kita."
Karena pantai
Laut Kidul di tempat itu merupakan daerah pegunungan kapur yang sukar dilalui,
terpaksa kedua orang muda ini melakukan perjalanan agak ke utara, melalui
dusun-dusun.
Kakek itu
sudah tua sekali, sedikitnya tentu sudah delapan puluh tahun usianya.
Pakaiannya seperti seorang pertapa, amat sederhana, hanya merupakan kain yang
dililit-lilitkan pada tubuhnya yang kurus kerempeng. Rambut, jenggot dan
kumisnya sudah putih semua seperti kapas. Seluruh anggota tubuhnya sudah
menunjukkan ketuaannya, kecuali sinar matanya. Mata yang penuh keriput dan
dihias alis mata yang sudah putih semua itu, memiliki sinar yang tajam sekali
dan mata itu masih bening seperti mata kanak-kanak! Kakek itu adalah seorang
Empu pembuat keris, juga seorang pertapa yang telah lama meninggalkan dunia
ramai, bertapa di lereng Gunung Raung yang terkenal sebagai gunung yang angker.
Jarang ada orang berani mendaki Gunung Raung, karena gunung ini terkenal dengan
hutan-hutannya yang penuh dengan binatang liar dan buas, juga dikenal sebagai
tempat pelarian orang-orang jahat yang menjadi buruan pemerintah, dan lebih
dari itu, dikabarkan banyak bagian dari gunung itu dijadikan sarang para demit
dan setan bekasakan yang suka mengganggu manusia. Akan tetapi kakek itu merasa
tenang dan damai tinggal di lereng gunung itu. Nama kakek ini adalah Empu
Gandawijaya. Semenjak sepuluh tahun yang lalu, kakek itu tidak tinggal seorang
diri di lereng Gunung Raung, melainkan ditemani seorang muridnya.
<<< Bagian 17 Bagian 19 >>>
No comments:
Post a Comment