Sepasang Garuda Putih ; Bagian 18


Pendeknya, orang disenangkan dulu hatinya baru jatuh cinta. Dapatkah seorang wanita mencinta seorang pria atau seorang pria mencinta seorang wanita kalau yang dicintanya itu ternyata tidak dapat melakukan hubungan badan? Tentu saja tidak. Betapapun buruknya kenyataan ini, betapapun sarunya, namun kenyataannya demikianlah. Oleh karena itu, banyak terjadi bahwa cinta seseorang dapat berubah dan berbalik menjadi benci, mengapa? Karena kalau disenangkan dia mencinta, kalau sekali waktu dia disusahkan, dia menjadi marah dan cintanya berubah menjadi benci. Demikianlah ulah nafsu, adikku. Berbahagialah orang yang dapat mengikuti dan mengerti akan gerak-gerik nafsu yang menguasai diri sendiri."

Retna Wilis mengerutkan alisnya yang kecil hitam melengkung indah itu. Ia teringat akan mendiang Adiwijaya. Orang yang dianggap sebagai pamannya atau bahkan pengganti orang tuanya sendiri itu mencintanya tanpa pamrih, mencintanya dengan hati bersih dan suci, bahkan rela mengorbankan dirinya untuknya!
"Akan tetapi, kakang. Bukankah terdapat cinta-kasih antara sahabat yang benar-benar bersih dari nafsu, cinta-kasih murni antara dua orang sahabat yang setia?”
"Tidak ada, adikku. Cinta antara dua orang sahabat juga bergelimang nafsu, walaupun bukan nafsu berahi. Cinta seorang sahabat itu tentu didorong karena dia menganggap orang yang dicintanya itu baik terhadapnya, menyenangkan dan menguntungkan. Selama ada penilaian antara baik dan buruk, tentu cinta yang timbul karena penilaian itu ditunggangi nafsu."
"Kalau begitu di dunia ini tidak terdapat cinta-kasih sejati, cinta-kasih yang suci dan murni?"
"Tentu saja ada, diajeng Retna Wilis.Tengoklah ke sekelilingmu. Semua yang tampak ini berguna bagi kehidupan manusia. Pohon-pohon, bahkan pohon asam ini amat berguna bagi manusia. Buahnya untuk masak, daunnya untuk jamu dan kayunya masih dapat digunakan untuk membangun rumah dan kayu bakar. Lihat bunga-bunga indah itu. Tampak oleh mata manusia demikian indah menyenangkan. Baunya juga harum amat menyegarkan bagi penciuman. Lihat sinar matahari, demikian indah dan mendatangkan terang, juga menghidupkan. Rasakan semilirnya angin yang demikian menyejuk dan menyegarkan. Lihatlah, di sekeliling kita. Tanah tersedia untuk kita, menghasilkan segala macam kebutuhan hidup manusia. Semua itu diberikan tanpa pamrih, tanpa memandang bulu dan terus menerus. Bukan hanya manusia yang mendapat limpahan berkah ini, melainkan juga hewan dan tumbuh-tumbuhan. Nah, semua itulah cinta kasih, adikku. Itulah sifat Hyang Widhi, yaitu Kasih."
Retna Wilis memandang kakaknya dan mata yang indah itu terbelalak, berseri.
"Kakang, engkau membuka mataku! Betapa buta aku selama ini tidak melihat dan tidak merasakan lagi adanya berkah dan cinta-kasih suci yang berlimpah ruah diberikan kepadaku!"
"Itulah, adikku. Itulah pekerjaan nafsu yang selalu menarik perhatian kita sehingga kita selalu mengejar kesenangan, mengejar sesuatu yang tidak ada pada kita. Nafsu tidak mengenal puas, tidak mengenal cukup, akan selalu mendorong kita untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Akhirnya nafsu menyeret kita ke dalam perbuatan yang sesat dan jahat. Aku girang bahwa engkau merasa terbuka matamu, diajeng."

Setelah bercakap-cakap dan tidak merasa gerah lagi, kedua orang kakak beradik itu hendak melanjutkan perjalanan mereka. Akan tetapi pada saat itu terdengar orang bertembang dengan suara yang berat dan dalam.
"Rumangsane mung nalongso
Susah sajeroning urip
Sakabehing kang tinuju
Olehe namun kuciwo
Sing dioyak-oyak teko luput
Luwih becik s ing narimo
Opo paringing Hyang Widhi"

Arti tembang itu adalah
Rasanya hanya nelangsa,
susah dalam kehidupan,
semua yang diharapkan,
hanya mendapat kecewa,
yang dikejar-kejar tak dapat,
lebih baik yang menerima,
apa yang diberikan Hyang Widhi.

Bagus Seta dan Retna Wilis tidak jadi meninggalkan tempat di bawah pohon asam itu dan menanti orang yang bertembang itu datang dekat. Dia seorang paman tani berusia hampir limapuluh tahun, bercelana hitam tak berbaju, bajunya berada di atas singkong yang dipikulnya dalam dua buah keranjang. Orang itu bertubuh kurus, tulang-tulangnya menonjol di bawah kulitnya yang coklat karena banyak terbakar sinar matahari. Otot-ototnya juga menonjol, menunjukkan bahwa otot-otot itu sering dipergunakan untuk memikul berat dan bekerja keras. Kakinya telanjang. Seluruh penampilan kakek ini, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, memperlihatkan kesederhaan yang polos, tidak dibuat-buat, kesederhanaan yang mendekati kemiskinan. Namun wajah itu berseri, matanya memandang polos ke depan, kosong dan tidak perduli. Ketika tiba dekat pohon asam yang lebat itu, dia berhenti melangkah, lalu menghampiri tempat teduh itu, melepaskan pikulannya yang berat. Dengan tangan kanannya dia menanggalkan sebuah caping dari kepalanya dan mengipasi dadanya yang berkeringat dengan caping itu, kemudian dia memandang kepada Bagus Seta dan Retna Wilis dan tampak keheranan dalam sinar matanya.
Bagus Seta tersenyum kepadanya dan bertanya,
“Paman, Kidung Pangkur yang kautembangkan tadi indah sekali!"
Kakek itu tersenyum dan seketika wajahnya yang penuh keriput itu tampak segar dan muda.
"Wah, denmas, tembangku hanya tembang orang dusun."
"Benar, paman, aku tertarik sekali, terutama isi tembang itu. Apakah engkau merasa setuju kalau ada orang yang mempunyai cita-cita untuk meraih keadaan yang lebih baik?"
Petani itu menggunakan baju hitamnya yang tadi ditaruh di atas singkong untuk menghapus keringat dari leher dan mukanya.
"Mengharapkan sesuatu yang tidak ada hanya merupakan penyiksaan diri belaka, denmas. Kalau hasilnya luput, kita akan merasa nelangsa dan kecewa, sebaliknya kalau dapat, kita tetap saja tidak puas dan mengharapkan yang lebih baik atau lebih banyak. Dari pada mengharapkan yang tidak-tidak, lebih baik menerima apa yang diberikan oleh Hyang Widhi." Petani itu memandang ke arah pikulannya, mungkin menaksir-naksir berapa yang akan didapatnya dari penjualan sepikul singkong itu.
"Akan tetapi kalau begitu hidup ini tidak akan ada kemajuan, paman. Siapa lagi kalau bukan kita sendiri yang berusaha untuk memperbaiki kehidupan kita? Dengan usaha keras tentunya."
"Oooh, tentu saja, denmas. Kita harus bekerja setiap hari, karena apakah artinya hidup ini tanpa bekerja? Kita bekerja sekuat tenaga setiap hari, tanpa mengharapkan apa-apa dan apa yang datang sebagai hasil pekerjaan kita itu, itulah anugerah dan berkah Hyang Widhi yang harus kita terima dengan penuh rasa sukur, tanpa mengharapkan yang bukan-bukan." Petani itu bicara dengan bahasa yang bersahaja, akan tetapi menyentuh perasaan Bagus Seto.
"Kalau begitu pandangan hidup paman, maka paman menyerah dengan penuh kepasrahan kepada Hyang Widhi untuk menentukan keadaan hidup paman?"
"Tentu saja, denmas. Hyang Widhi kuasa mengatur segalanya. Kita tidak mempunyai kemampuan untuk menolak apa yang telah ditentukan Hyang Widhi. Tugas kita hanya bekerja sebaik mungkin dan setelah itu maka aku pasrah kepada Hyang Widhi. Apapun yang diberikan kepadaku akan kuterima dengan penuh rasa sukur. Kalau sudah begitu, maka kehidupan ini terasa nikmatnya nikmat dari berkah Hyang Widhi yang tidak ada henti-hentinya kepada kita."
"Diajeng Retna, inilah contohnya seorang yang berbahagia!" kata Bagus Seta kepada adiknya.

Biarpun ucapan petani singkong itu amat sederhana, namun ucapannya mengandung arti yang amat dalam sehingga Retna Wilis masih belum mengerti benar. Ia memandang kepada kakek itu dengan kagum lalu bertanya,
"Paman, bahagiakah paman dalam hidup paman.”
Kakek itu memandang kepada Retna Wilis dengan sinar mata tidak mengerti.
"Apa maksud andika, den ajeng? Apa itu bahagia? Saya tidak membutuhkan bahagia."
Retna Wilis terbelalak. Kalau kata bahagia saja tidak mengerti, bagaimana mungkin orang hidup berbahagia? Akan tetapi Bagus Seta tersenyum kepada adiknya.
"Diajeng, justeru karena paman ini tidak membutuhkan bahagia, itu berarti bahwa dia telah berbahagia! Kebahagiaan hanya dikejar-kejar orang yang hidupnya tidak bahagia, yang hidupnya diganggu persoalan-persoalan yang menyusahkan dan menggelisahkan hatinya. Kalau gangguan itu tidak ada lagi, maka orangpun tidak butuh bahagia karena sesungguhnya dia sudah berbahagia! Seperti orang yang sakit saja yang membutuhkan kesehatan, kalau orang itu tidak sakit lagi, dia tidak butuh akan kesehatan karena sesungguhnya dia sudah sehat. Mengertikah engkau, adikku?"
Retna Wilis baru mengerti setengah-setengah saja. Semua orang di dunia ini mengejar kebahagiaan, bagaimana petani miskin ini dikatakan oleh kakaknya sebagai orang yang berbahagia karena dia tidak mengejar, bahkan tidak mengerti apa itu kebahagiaan?
"Wah, matahari sudah naik tinggi, saya harus berangkat sekarang, denmas. Nanti pasarnya keburu sepi dan tidak ada yang membeli singkongku ini! Selamat tinggal, denmas dan den-ajeng."
"Selamat jalan, paman. Semoga Hyang Widhi selalu memberkahimu seperti yang andika nikmati setama ini," kata Bagus Seta dan petani itu lalu memikul lagi dua keranjang singkong itu dan meninggalkan tempat itu.

Retna Wilis mengikuti petani itu dengan pandang matanya. Betapa tubuh kurus itu terseok-seok memikul beban yang berat, akan tetapi betapa lincahnya kedua tangannya itu berlenggang dan kedua kaki itu melangkah seperti orang menari-nari gembira.
"Hayo, diajeng, kita lanjutkan perjalanan kita," kata Bagus Seta dan Retna Wilis mengangguk, lalu mereka berdua melangkah ke arah timur meninggalkan pohon asam itu.
"Kakang, aku masih memikirkan pembahasan tentang cinta-kasih tadi. Aku masih merasa ngeri melihat kenyataan bahwa tidak ada cinta-kasih yang murni, semua cinta-kasih manusia bergelimang nafsu. Aku ngeri, kakang dan tidak mau jatuh cinta!"
Bagus Seta tertawa.
"Ha-ha, mudah saja engkau berkata demikian, adikku. Akan tetapi sekali waktu akan tiba saatnya engkau bertemu seseorang dan jatuh cinta kepadanya, baik kaukehendaki maupun tidak. Jodoh manusia ditentukan oleh Hyang Widhi, dan sekali engkau bertemu dengan calon jodohmu yang sudah ditentukan, engkau akan jatuh cinta padanya dan dia akan jatuh cinta padamu."
"Mencinta dengan dorongan nafsu?"
"Tentu saja, karena Hyang Widhi menghendaki demikian. Ingat, engkau diciptakan untuk kelak menjadi seorang ibu yang melahirkan anak-anakmu, dan untuk itu engkau harus lebih dulu jatuh cinta kepada seorang pria dan menjadi isterinya."
"Ih, ngeri aku memikirkan dan membayangkan hal itu. Saling jatuh cinta dengan nafsu. Aku tidak ingin jatuh cinta, kakangmas. Biar selama hidupku aku begini saja, hidup seorang diri."
"Hemm, kalau cinta berahi sudah menyelubungi hatimu, engkau tidak akan mampu melawan hatimu sendiri. Akan tetapi sudahlah, semua itu sudah diatur oleh Hyang Widhi, dan manusia tidak akan mampu mengubahnya. Mari kita lanjutkan perjalanan kita."
Karena pantai Laut Kidul di tempat itu merupakan daerah pegunungan kapur yang sukar dilalui, terpaksa kedua orang muda ini melakukan perjalanan agak ke utara, melalui dusun-dusun.

Kakek itu sudah tua sekali, sedikitnya tentu sudah delapan puluh tahun usianya. Pakaiannya seperti seorang pertapa, amat sederhana, hanya merupakan kain yang dililit-lilitkan pada tubuhnya yang kurus kerempeng. Rambut, jenggot dan kumisnya sudah putih semua seperti kapas. Seluruh anggota tubuhnya sudah menunjukkan ketuaannya, kecuali sinar matanya. Mata yang penuh keriput dan dihias alis mata yang sudah putih semua itu, memiliki sinar yang tajam sekali dan mata itu masih bening seperti mata kanak-kanak! Kakek itu adalah seorang Empu pembuat keris, juga seorang pertapa yang telah lama meninggalkan dunia ramai, bertapa di lereng Gunung Raung yang terkenal sebagai gunung yang angker. Jarang ada orang berani mendaki Gunung Raung, karena gunung ini terkenal dengan hutan-hutannya yang penuh dengan binatang liar dan buas, juga dikenal sebagai tempat pelarian orang-orang jahat yang menjadi buruan pemerintah, dan lebih dari itu, dikabarkan banyak bagian dari gunung itu dijadikan sarang para demit dan setan bekasakan yang suka mengganggu manusia. Akan tetapi kakek itu merasa tenang dan damai tinggal di lereng gunung itu. Nama kakek ini adalah Empu Gandawijaya. Semenjak sepuluh tahun yang lalu, kakek itu tidak tinggal seorang diri di lereng Gunung Raung, melainkan ditemani seorang muridnya.

<<< Bagian 17                                                                                           Bagian 19 >>>

No comments:

Post a Comment