Pemuda ini ditemukan oleh Empu Gandawijaya ketika pemuda itu berusia tiga belas tahun dan hidup menyendiri, karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Melihat anak remaja yang hidup kapiran seorang diri ini, dan melihat pula betapa anak muda itu memiliki bakat yang baik sekali untuk menjadi seorang satria, Empu Gandawijaya lalu membawa dan mengajaknya ke Gunung Raung dan menjadi muridnya yang dianggap sebagai anak sendiri. Pemuda itu bernama Harjadenta dan selama sepuluh tahun dia hidup bersama mpu Gandawijaya, bekerja di sawah ladang dan mempelajari banyak ilmu dari Sang Empu. Bukan hanya ilmu pembuatan keris, akan tetapi juga mempelajari sastera dan aji kanuragan. Kini dia sudah berusia duapuluh tiga tahun, menjadi seorang pemuda dewasa yang bertubuh sedang, berdada bidang dan berwajah tampan gagah. Sinar matanya penuh kejujuran dan keterbukaan, dan mulutnya selalu tersenyun ramah kepada siapapun juga. Biarpun dia hidup di tempat sunyi bersama gurunya, namun Harjadenta inilah yang kadang pergi ke dusun-dusun untuk mencari segala keperluan untuk dia dan gurunya.
Pada suatu
pagi, baru saja Harjadenta terbangun dari tidurnya dan terdengar ayam jantan
berkeruyuk, dia sudah melihat gurunya duduk bersila di ruangan depan pondok
mereka yang tidak begitu besar.
"Bapa
guru, sepagi ini bapa sudah bangun tidur." Harjadenta bertanya dengar
heran. Biasanya, selalu dia yang lebih dulu terbangun dan setelah dia memasak
air baru gurunya keluar dari kamarnya.
Empu
Gandawijaya membuka kedua matanya dan mengeluh.
"Denta,
ke sinilah dan duduk di sini. Aku mempunyai urusan yang harus kita bicarakan
sekarang juga."
Dengan penuh
keheranan Harjadenta lalu duduk bersila di depan gurunya dan menanti apa yang
akan disampaikan orang tua itu kepadanya.
"Denta,
semalam telah ada pencuri yang sakti masuk ke pondok kita dan mencuri Ki
Carubuk."
Terkejutlah
Harjadenta mendengar ini. Ki Carubuk adalah sebatang keris pusaka buatan gurunya
yang belum lama ini dirampungkan, sebatang keris yang amat ampuh menurut
gurunya.
"Seorang
pencuri telah mengambil Ki Carubuk, bapa. Akan tetapi mengapa hal itu dapat
terjadi, bahkan saya sama sekali tidak mendengar ada orang masuk ke dalam
pondok?"
Empu
Gandawijaya menghela napas panjang.
"Itulah
maka kukatakan bahwa pencuri itu sakti. Dia pasti seorang yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi dan semalam dia telah dapat melepas Aji Penyirepan, membuat
kita berdua tertidur nyenyak dan tidak tahu bahwa dia memasuki pondok ini dan
mengambil keris pusaka KiCarubuk."
Harjadenta
lalu menyembah dan berkata penuh penyesalan.
"Ampunkan
saya, Bapa. Hal itu menunjukkan bahwa saya kurang waspada, sama sekali tidak
pernah mengira bahwa ada orang berani memasuki pondok kita dan mencuri
pusaka."
"Bukan
salahmu, Denta. Aku sendiri saja dapat terkena Aji Penyirepannya yang hebat
itu, apa lagi engkau."
"Lalu
bagaimana baiknya, Bapa? Saya menunggu perintah Bapa Guru."
"Kulup,
aku sekarang sudah tua, tubuhku sudah tidak kuat untuk melakukan perjalanan
jauh, apa lagi untuk mengejar pencuri. Akan tetapi aku tidak mau menambahi
dosa-dosaku, karena itu engkau harus pergi mencari pencuri itu dan merampas
kembali Ki Carubuk."
Pemuda itu
merasa heran.
"Mengapa
Bapa Guru merasa berdosa dengan hilangnya Ki Carubuk, Bapa? Hal itu bukan
kesalahan Bapa."
"Ketahuilah,
Denta. Ki Carubuk adalah sebatang keris yang amat ampuh. Keris itu akan menjadi
pusaka yang amat berguna kalau terjatuh ke tangan seorang satria atau seorang
yang mulia hatinya, akan tetapi kalau sampai terjatuh ke tangan orang jahat,
keris itu dapat menimbulkan malapetaka dan kesengsaraan kepada rakyat banyak.
Aku khawatir pencuri itu seorang jahat dan keris itu akan dipergunakan untuk
melakukan kejahatan. Kalau demikian halnya, berarti aku telah menambah dosaku
dengan pembuatan keris itu. Karena itu, carilah pusaka itu agar dapat kembali
kepada kita dan jangan engkau kembali ke sini sebelum berhasil menemukan Ki
Carubuk itu, anakku. Ingat, Ki Carubuk itu berluk tujuh dengan ricikan Lambe
Gajah, kembang kacang, sraweyan, dan Greneng, sinarnya kehitaman, agak kelabu,
di ujungnya ada sinar keemasan."
Mendengar
perintah ini, Harjadenta merasa terharu. Dia harus meninggalkan kakek itu
seorang diri di tempat sunyi ini. Setelah selama sepuluh tahun tinggal bersama
gurunya, dia sudah menganggap gurunya sebagai pengganti orang tuanya sendiri
dan kini tiba-tiba saja dia diharuskan pergi meninggalkan gurunya untuk mencari
keris pusaka Ki Carubuk dan tidak boleh pulang kalau keris itu belum ditemukan!
"Akan
tetapi, Bapa. Kalau saya pergi, lalu siapa yang akan menemani Bapa di sini?
Siapa yang akan mengerjakan sawah ladang, siapa yang akan memasak makanan dan
minuman untuk Bapa? Siapa yang akan mencuci pakaian dan siapa pula yang akan
membersihkan tempat ini setiap hari?"
Empu
Gandawijaya tertawa memperlihatkan mulut yang sudah tidak bergigi lagi.
"Kulup,
sebelum engkau tinggal di sini, aku sudah puluhan tahun hidup menyendiri,
jangan khawatir, biarpun sudah tua, aku dapat menjaga dan merawat diriku
sendiri. Ki Carubuk itu terlalu penting bagiku, jangan sampai terjatuh ke
tangan orang jahat. Nah, berangkatlah, Harjadenta dan pergunakan semua ilmu
yang pernah kaupelajari di sini untuk dapat merebut kembali Ki Cambuk. Doa
restuku mengiringi perjalananmu."
Harjadenta
tidak dapat membantah lagi. Dia lalu berkemas dan pada hari itu juga dia
berangkat setelah dia minta doa restu dan minta petunjuk dari gurunya.
"Bapa,
saya mohon petunjuk, seperti apa kiranya pencuri itu dan ke mana saja harus
mencarinya. Tanpa petunjuk Bapa, saya merasa tidak berdaya dan tidak tahu
mencari ke mana."
Sejenak kakek
itu diam dan menundukkan kepalanya. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan
berkata,
"Kalau
perhitunganku tidak keliru, Denta, pencuri itu seorang wanita yang sakti
mandraguna, cantik dan pandai ilmu sihir dan guna-guna. Hanya petunjuk itu yang
dapat kuberikan dan engkau naiklah perahu itu di sepanjang Kali Mayang.
Turutlah aliran sungai itu sampai ke muaranya di Laut Kidul. Mudah-mudahan
dengan menempuh jalan itu engkau akan dapat menemukan pencuri itu."
Dengan bekal
petunjuk gurunya itu, Harjadenta menuruni lereng Gunung Raung. Dia melalui
dusun-dusun di kaki gunung di mana dia sering datang menukar hasil hutan dengan
barang-barang yang dibutuhkan dia dan gurunya, kemudian dia terus melakukan
perjalanan ke selatan sampai dia bertemu dengan mata air Kali Mayang. Dia
menyusuri sungai itu sampai sungai itu menjadi cukup besar untuk melanjutkan
perjalanannya dengan perahu. Di sebuah dusun di pantai sungai Mayang, dia
membuat sebuah perahu dari batang bambu dan kayu, kemudian melanjutkan
perjalanannya dengan perahu sederhana ini. Karena perahu itu meluncur terbawa
aliran sungai dan ditambah dengan dorongan dayung, maka perjalanan dapat
berjalan lebih cepat dari pada kalau dia berjalan menyusuri sungai yang kadang
bertemu dengan bagian yang rimbun dan sulit dilalui sehingga dia harus
mengambil jalan memutar. Dalam perjalanan ini, Harjadenta seringkali berhenti
di sebuah dusun dan melakukan penyelidikan, bertanya-tanya kalau-kalau ada
penduduk yang melihat seorang wanita cantik melakukan perjalanan seorang diri
lewat di dusun itu. Akan tetapi, sampai jauh dia melakukan perjalanan itu,
setelah lewat beberapa minggu, belum juga dia mendapatkan keterangan tentang
wanita yang dicarinya.
Pada suatu
hari perahunya melewati sebuah dusun, yaitu dusun Grobokan. Dusun itu cukup
ramai karena daerah itu merupakan daerah yang menghasilkan palawija yang
melimpah ruah. Dia mengambil keputusan untuk singgah di Grobokan, untuk
menyelidiki kalau-kalau ada wanita asing yang cantik singgah di tempat itu. Dia
menambatkan perahunya di sebatang pohon di tepi sungai dan memasuki dusun
Grobokan. Karena daerah itu subur dan menghasilkan banyak palawija, maka
penduduknya juga lebih baik keadaannya dengan dusun-dusun lainnya. Rumah-rumah
disitu cukup besar dan terbuat dari kayu.
Seperti biasa,
kalau hendak menginap di sebuah dusun, Harjadenta mencari rumah penduduk yang
sekiranya dapat menerima dirinya untuk bermalam. Dicarinya rumah yang tampak
sunyi, tidak banyak penghuninya dan dia menemukan seorang laki-laki setengah
tua duduk seorang diri di depan rumah sambil menyambung tali-tali jala yang
berlubang. Agaknya kakek ini suka menjala ikan di Kali Mayang. Melihat di sana
tidak ada orang lain, Harjadenta lalu menghampirinya.
"Kulonuwun
... !" Harjadenta memberi salam.
Kakek itu
mengangkat mukanya memandang dan merasa heran melihat seorang pemuda yang
berpakaian bersih dan berwajah tampan berdiri di depannya.
"Mari
silakan, denmas. Ada keperluan apakah denmas mengunjungi saya?"
"Maaf,
paman. Saya adalah seorang perantau yang tiba di dusun ini dan ingin mencari
tempat untuk melewatkan semalam ini. Kalau sekiranya paman tidak berkeberatan,
bolehkah saya menumpang di sini semalam?"
Laki-laki itu
memandang Harjadenta dengan penuh perhatian dari kepala sampai ke kaki dan
agaknya hatinya puas meneliti pemuda itu. Seperti penduduk dusun umumnya,
dengan senang hati dia tentu saja suka menolong orang lain dan tidak keberatan
kalau pemuda yang sopan dan bersih ini hendak menginap di rumahnya untuk
semalam.
"Tentu
saja kalau paman dan para penghuni ini yang lainnya tidak berkeberatan."
"Ah,
tidak denmas. Aku tidak keberatan dan yang tinggal di sini hanya aku, isteriku
dan seorang anak perempuanku. Kami tidak berkeberatan asal denmas sudi tinggal
di tempat kami yang kotor dan buruk."
"Paman
terlalu merendahkan diri. Rumah ini cukup bagus dan bersih, dan sayapun tidak
memilih-milih tempat. Dipan bambu yang paman duduki itu saja sudah cukup bagiku
untuk melewatkan malam di luar rumah ini."
"Ah,
tidak, denmas, tidak boleh begitu. Kami masih ada bilik di dalam rumah yang
kosong, bekas bilik anak laki-laki kami yang sekarang telah pergi untuk
selamanya." Wajah kakek itu tampak berduka.
"Maksud
paman, anak laki-laki itu ... ?"
"Dia
sudah meninggal dunia tiga bulan yang lalu, denmas. Terserang penyakit panas.
Sekarang tinggal isteriku dan anak perempuan kami. Silakan duduk, denmas."
"Terima
kasih, paman." Harjadenta lalu mengambil tempat duduk di sudut dipan bambu
itu.
"Namaku
Harjadenta, paman, aku datang jauh dari lereng Gunung Raung."
"Namaku
Dirun, denmas." Dia lalu melongok ke arah pintu rumahnya yang terbuka.
"Las ...
! Lasmini, keluarlah ke sini!" Dia memanggil.
Terdengar
suara lembut menjawab dan keluarlah dari pintu itu seorang perawan dusun yang
manis. Rambutnya ikal, kulitnya hitam manis, matanya lebar dan lugu, mulutnya
manis sekali, seorang dara yang usianya paling banyak enambelas tahun. Gadis
itu tampak terkejut dan malu-malu ketika melihat ada seorang pemuda duduk di
situ bersama ayahnya.
"Ada ...
ada apa, bapak?" tanyanya dan suaranya lembut jernih, sejernih sinar
matanya. Kini ia menunduk, tidak berani menatap wajah pemuda tampan gagah itu,
"Denmas,
ini anak kami, Lasmini. Las, ini adalah denmas Harjadenta yang menjadi tamu
kita. Cepat kau keluarkan wedang teh dan ubi rebus itu."
"Baik,
pak."
"Ah,
paman, harap jangan repot-repot." kata Harjadenta dengan sungkan.
"Tidak,
denmas. Wong wedang dan ubi rebus itu sudah ada, kok.”
Dara manis itu
menghilang ke dalam rumah. Tuan rumah itu ternyata ramah sekali dan tanpa
diminta dia menceritakan keadaan dirinya kepada Harjadenta.
"Dulu,
ketika puteraku masih hidup, keadaan kami lumayan, aku tidak perlu bekerja
keras, denmas. Akan tetapi setelah anakku mati, terpaksa aku bekerja keras,
berladang dan kadang mencari ikan. Isteriku kadang membantu dan yang bekerja di
rumah adalah anakku Lasmini tadi."
Gadis yang
manis dan rajin, pikir Harjadenta.
"Kalau
begitu tentu kehidupan keluargamu di sini tenteram, paman."
Orang itu
mengerutkan alisnya.
"Mestinya
begitu. Tidak banyak kebutuhan kami dan semua kebutuhan dapat tercukupi. Bahkan
anakku telah bertunangan dengan seorang pemuda yang rajin dan tinggal di ujung
dusun ini. Kami merencanakan untuk melangsungkan pernikahan mereka bulan
depan."
"Kalau
begitu, aku mengucapkan selamat, paman. Anakmu telah hampir menikah apa lagi
yang paman susahkan."
"Akan
tetapi, ah, aku khawatir sekali, denmas."
Harjadenta
memandang penuh perhatian kepada kakek itu. Wajah kakek berusia limapuluhan
tahun itu tiba-tiba tampak khawatir dan alisnya berkerut, matanya memandang ke
kanan kiri seolah ada bahaya mengancamnya.
"Apa yang
paman khawatirkan?"
<<< Bagian 18 Bagian 20 >>>
No comments:
Post a Comment