Sepasang Garuda Putih ; Bagian 19


Pemuda ini ditemukan oleh Empu Gandawijaya ketika pemuda itu berusia tiga belas tahun dan hidup menyendiri, karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Melihat anak remaja yang hidup kapiran seorang diri ini, dan melihat pula betapa anak muda itu memiliki bakat yang baik sekali untuk menjadi seorang satria, Empu Gandawijaya lalu membawa dan mengajaknya ke Gunung Raung dan menjadi muridnya yang dianggap sebagai anak sendiri. Pemuda itu bernama Harjadenta dan selama sepuluh tahun dia hidup bersama mpu Gandawijaya, bekerja di sawah ladang dan mempelajari banyak ilmu dari Sang Empu. Bukan hanya ilmu pembuatan keris, akan tetapi juga mempelajari sastera dan aji kanuragan. Kini dia sudah berusia duapuluh tiga tahun, menjadi seorang pemuda dewasa yang bertubuh sedang, berdada bidang dan berwajah tampan gagah. Sinar matanya penuh kejujuran dan keterbukaan, dan mulutnya selalu tersenyun ramah kepada siapapun juga. Biarpun dia hidup di tempat sunyi bersama gurunya, namun Harjadenta inilah yang kadang pergi ke dusun-dusun untuk mencari segala keperluan untuk dia dan gurunya.

Pada suatu pagi, baru saja Harjadenta terbangun dari tidurnya dan terdengar ayam jantan berkeruyuk, dia sudah melihat gurunya duduk bersila di ruangan depan pondok mereka yang tidak begitu besar.
"Bapa guru, sepagi ini bapa sudah bangun tidur." Harjadenta bertanya dengar heran. Biasanya, selalu dia yang lebih dulu terbangun dan setelah dia memasak air baru gurunya keluar dari kamarnya.
Empu Gandawijaya membuka kedua matanya dan mengeluh.
"Denta, ke sinilah dan duduk di sini. Aku mempunyai urusan yang harus kita bicarakan sekarang juga."
Dengan penuh keheranan Harjadenta lalu duduk bersila di depan gurunya dan menanti apa yang akan disampaikan orang tua itu kepadanya.
"Denta, semalam telah ada pencuri yang sakti masuk ke pondok kita dan mencuri Ki Carubuk."
Terkejutlah Harjadenta mendengar ini. Ki Carubuk adalah sebatang keris pusaka buatan gurunya yang belum lama ini dirampungkan, sebatang keris yang amat ampuh menurut gurunya.
"Seorang pencuri telah mengambil Ki Carubuk, bapa. Akan tetapi mengapa hal itu dapat terjadi, bahkan saya sama sekali tidak mendengar ada orang masuk ke dalam pondok?"
Empu Gandawijaya menghela napas panjang.
"Itulah maka kukatakan bahwa pencuri itu sakti. Dia pasti seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan semalam dia telah dapat melepas Aji Penyirepan, membuat kita berdua tertidur nyenyak dan tidak tahu bahwa dia memasuki pondok ini dan mengambil keris pusaka KiCarubuk."
Harjadenta lalu menyembah dan berkata penuh penyesalan.
"Ampunkan saya, Bapa. Hal itu menunjukkan bahwa saya kurang waspada, sama sekali tidak pernah mengira bahwa ada orang berani memasuki pondok kita dan mencuri pusaka."
"Bukan salahmu, Denta. Aku sendiri saja dapat terkena Aji Penyirepannya yang hebat itu, apa lagi engkau."
"Lalu bagaimana baiknya, Bapa? Saya menunggu perintah Bapa Guru."
"Kulup, aku sekarang sudah tua, tubuhku sudah tidak kuat untuk melakukan perjalanan jauh, apa lagi untuk mengejar pencuri. Akan tetapi aku tidak mau menambahi dosa-dosaku, karena itu engkau harus pergi mencari pencuri itu dan merampas kembali Ki Carubuk."
Pemuda itu merasa heran.
"Mengapa Bapa Guru merasa berdosa dengan hilangnya Ki Carubuk, Bapa? Hal itu bukan kesalahan Bapa."
"Ketahuilah, Denta. Ki Carubuk adalah sebatang keris yang amat ampuh. Keris itu akan menjadi pusaka yang amat berguna kalau terjatuh ke tangan seorang satria atau seorang yang mulia hatinya, akan tetapi kalau sampai terjatuh ke tangan orang jahat, keris itu dapat menimbulkan malapetaka dan kesengsaraan kepada rakyat banyak. Aku khawatir pencuri itu seorang jahat dan keris itu akan dipergunakan untuk melakukan kejahatan. Kalau demikian halnya, berarti aku telah menambah dosaku dengan pembuatan keris itu. Karena itu, carilah pusaka itu agar dapat kembali kepada kita dan jangan engkau kembali ke sini sebelum berhasil menemukan Ki Carubuk itu, anakku. Ingat, Ki Carubuk itu berluk tujuh dengan ricikan Lambe Gajah, kembang kacang, sraweyan, dan Greneng, sinarnya kehitaman, agak kelabu, di ujungnya ada sinar keemasan."

Mendengar perintah ini, Harjadenta merasa terharu. Dia harus meninggalkan kakek itu seorang diri di tempat sunyi ini. Setelah selama sepuluh tahun tinggal bersama gurunya, dia sudah menganggap gurunya sebagai pengganti orang tuanya sendiri dan kini tiba-tiba saja dia diharuskan pergi meninggalkan gurunya untuk mencari keris pusaka Ki Carubuk dan tidak boleh pulang kalau keris itu belum ditemukan!
"Akan tetapi, Bapa. Kalau saya pergi, lalu siapa yang akan menemani Bapa di sini? Siapa yang akan mengerjakan sawah ladang, siapa yang akan memasak makanan dan minuman untuk Bapa? Siapa yang akan mencuci pakaian dan siapa pula yang akan membersihkan tempat ini setiap hari?"
Empu Gandawijaya tertawa memperlihatkan mulut yang sudah tidak bergigi lagi.
"Kulup, sebelum engkau tinggal di sini, aku sudah puluhan tahun hidup menyendiri, jangan khawatir, biarpun sudah tua, aku dapat menjaga dan merawat diriku sendiri. Ki Carubuk itu terlalu penting bagiku, jangan sampai terjatuh ke tangan orang jahat. Nah, berangkatlah, Harjadenta dan pergunakan semua ilmu yang pernah kaupelajari di sini untuk dapat merebut kembali Ki Cambuk. Doa restuku mengiringi perjalananmu."
Harjadenta tidak dapat membantah lagi. Dia lalu berkemas dan pada hari itu juga dia berangkat setelah dia minta doa restu dan minta petunjuk dari gurunya.
"Bapa, saya mohon petunjuk, seperti apa kiranya pencuri itu dan ke mana saja harus mencarinya. Tanpa petunjuk Bapa, saya merasa tidak berdaya dan tidak tahu mencari ke mana."
Sejenak kakek itu diam dan menundukkan kepalanya. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan berkata,
"Kalau perhitunganku tidak keliru, Denta, pencuri itu seorang wanita yang sakti mandraguna, cantik dan pandai ilmu sihir dan guna-guna. Hanya petunjuk itu yang dapat kuberikan dan engkau naiklah perahu itu di sepanjang Kali Mayang. Turutlah aliran sungai itu sampai ke muaranya di Laut Kidul. Mudah-mudahan dengan menempuh jalan itu engkau akan dapat menemukan pencuri itu."

Dengan bekal petunjuk gurunya itu, Harjadenta menuruni lereng Gunung Raung. Dia melalui dusun-dusun di kaki gunung di mana dia sering datang menukar hasil hutan dengan barang-barang yang dibutuhkan dia dan gurunya, kemudian dia terus melakukan perjalanan ke selatan sampai dia bertemu dengan mata air Kali Mayang. Dia menyusuri sungai itu sampai sungai itu menjadi cukup besar untuk melanjutkan perjalanannya dengan perahu. Di sebuah dusun di pantai sungai Mayang, dia membuat sebuah perahu dari batang bambu dan kayu, kemudian melanjutkan perjalanannya dengan perahu sederhana ini. Karena perahu itu meluncur terbawa aliran sungai dan ditambah dengan dorongan dayung, maka perjalanan dapat berjalan lebih cepat dari pada kalau dia berjalan menyusuri sungai yang kadang bertemu dengan bagian yang rimbun dan sulit dilalui sehingga dia harus mengambil jalan memutar. Dalam perjalanan ini, Harjadenta seringkali berhenti di sebuah dusun dan melakukan penyelidikan, bertanya-tanya kalau-kalau ada penduduk yang melihat seorang wanita cantik melakukan perjalanan seorang diri lewat di dusun itu. Akan tetapi, sampai jauh dia melakukan perjalanan itu, setelah lewat beberapa minggu, belum juga dia mendapatkan keterangan tentang wanita yang dicarinya.
Pada suatu hari perahunya melewati sebuah dusun, yaitu dusun Grobokan. Dusun itu cukup ramai karena daerah itu merupakan daerah yang menghasilkan palawija yang melimpah ruah. Dia mengambil keputusan untuk singgah di Grobokan, untuk menyelidiki kalau-kalau ada wanita asing yang cantik singgah di tempat itu. Dia menambatkan perahunya di sebatang pohon di tepi sungai dan memasuki dusun Grobokan. Karena daerah itu subur dan menghasilkan banyak palawija, maka penduduknya juga lebih baik keadaannya dengan dusun-dusun lainnya. Rumah-rumah disitu cukup besar dan terbuat dari kayu.
Seperti biasa, kalau hendak menginap di sebuah dusun, Harjadenta mencari rumah penduduk yang sekiranya dapat menerima dirinya untuk bermalam. Dicarinya rumah yang tampak sunyi, tidak banyak penghuninya dan dia menemukan seorang laki-laki setengah tua duduk seorang diri di depan rumah sambil menyambung tali-tali jala yang berlubang. Agaknya kakek ini suka menjala ikan di Kali Mayang. Melihat di sana tidak ada orang lain, Harjadenta lalu menghampirinya.
"Kulonuwun ... !" Harjadenta memberi salam.
Kakek itu mengangkat mukanya memandang dan merasa heran melihat seorang pemuda yang berpakaian bersih dan berwajah tampan berdiri di depannya.
"Mari silakan, denmas. Ada keperluan apakah denmas mengunjungi saya?"
"Maaf, paman. Saya adalah seorang perantau yang tiba di dusun ini dan ingin mencari tempat untuk melewatkan semalam ini. Kalau sekiranya paman tidak berkeberatan, bolehkah saya menumpang di sini semalam?"

Laki-laki itu memandang Harjadenta dengan penuh perhatian dari kepala sampai ke kaki dan agaknya hatinya puas meneliti pemuda itu. Seperti penduduk dusun umumnya, dengan senang hati dia tentu saja suka menolong orang lain dan tidak keberatan kalau pemuda yang sopan dan bersih ini hendak menginap di rumahnya untuk semalam.
"Tentu saja kalau paman dan para penghuni ini yang lainnya tidak berkeberatan."
"Ah, tidak denmas. Aku tidak keberatan dan yang tinggal di sini hanya aku, isteriku dan seorang anak perempuanku. Kami tidak berkeberatan asal denmas sudi tinggal di tempat kami yang kotor dan buruk."
"Paman terlalu merendahkan diri. Rumah ini cukup bagus dan bersih, dan sayapun tidak memilih-milih tempat. Dipan bambu yang paman duduki itu saja sudah cukup bagiku untuk melewatkan malam di luar rumah ini."
"Ah, tidak, denmas, tidak boleh begitu. Kami masih ada bilik di dalam rumah yang kosong, bekas bilik anak laki-laki kami yang sekarang telah pergi untuk selamanya." Wajah kakek itu tampak berduka.
"Maksud paman, anak laki-laki itu ... ?"
"Dia sudah meninggal dunia tiga bulan yang lalu, denmas. Terserang penyakit panas. Sekarang tinggal isteriku dan anak perempuan kami. Silakan duduk, denmas."
"Terima kasih, paman." Harjadenta lalu mengambil tempat duduk di sudut dipan bambu itu.
"Namaku Harjadenta, paman, aku datang jauh dari lereng Gunung Raung."
"Namaku Dirun, denmas." Dia lalu melongok ke arah pintu rumahnya yang terbuka.
"Las ... ! Lasmini, keluarlah ke sini!" Dia memanggil.
Terdengar suara lembut menjawab dan keluarlah dari pintu itu seorang perawan dusun yang manis. Rambutnya ikal, kulitnya hitam manis, matanya lebar dan lugu, mulutnya manis sekali, seorang dara yang usianya paling banyak enambelas tahun. Gadis itu tampak terkejut dan malu-malu ketika melihat ada seorang pemuda duduk di situ bersama ayahnya.
"Ada ... ada apa, bapak?" tanyanya dan suaranya lembut jernih, sejernih sinar matanya. Kini ia menunduk, tidak berani menatap wajah pemuda tampan gagah itu,
"Denmas, ini anak kami, Lasmini. Las, ini adalah denmas Harjadenta yang menjadi tamu kita. Cepat kau keluarkan wedang teh dan ubi rebus itu."
"Baik, pak."
"Ah, paman, harap jangan repot-repot." kata Harjadenta dengan sungkan.
"Tidak, denmas. Wong wedang dan ubi rebus itu sudah ada, kok.”
Dara manis itu menghilang ke dalam rumah. Tuan rumah itu ternyata ramah sekali dan tanpa diminta dia menceritakan keadaan dirinya kepada Harjadenta.
"Dulu, ketika puteraku masih hidup, keadaan kami lumayan, aku tidak perlu bekerja keras, denmas. Akan tetapi setelah anakku mati, terpaksa aku bekerja keras, berladang dan kadang mencari ikan. Isteriku kadang membantu dan yang bekerja di rumah adalah anakku Lasmini tadi."
Gadis yang manis dan rajin, pikir Harjadenta.
"Kalau begitu tentu kehidupan keluargamu di sini tenteram, paman."

Orang itu mengerutkan alisnya.
"Mestinya begitu. Tidak banyak kebutuhan kami dan semua kebutuhan dapat tercukupi. Bahkan anakku telah bertunangan dengan seorang pemuda yang rajin dan tinggal di ujung dusun ini. Kami merencanakan untuk melangsungkan pernikahan mereka bulan depan."
"Kalau begitu, aku mengucapkan selamat, paman. Anakmu telah hampir menikah apa lagi yang paman susahkan."
"Akan tetapi, ah, aku khawatir sekali, denmas."
Harjadenta memandang penuh perhatian kepada kakek itu. Wajah kakek berusia limapuluhan tahun itu tiba-tiba tampak khawatir dan alisnya berkerut, matanya memandang ke kanan kiri seolah ada bahaya mengancamnya.
"Apa yang paman khawatirkan?"

<<< Bagian 18                                                                                         Bagian 20 >>>

No comments:

Post a Comment