Sepasang Garuda Putih ; Bagian 21


Dapat dia bayangkan apa akan jadinya dengan dia dan keluarganya kalau Harjadenta sampai kalah. Tentu Lasmini akan dibawa oleh tukang pukul itu dengan paksa dan dia serta isterinya, dan Martono serta ibunya akan menerima hajaran. Akan tetapi Ki Dirun tidak perlu khawatir lagi. Kini Harjadenta mulai membalas serangan mereka dan begitu kaki tangannya bergerak-gerak cepat membagi-bagi pukulan dan tendangan, terdengar suara bak-bik-buk disusul teriakan-teriakan kesakitan dari lima orang pengeroyok dan tubuh mereka berpelantingan ke kanan kiri! Lima orang itu terkejut bukan main, akan tetapi juga marah sekali. Sambil meringis kesakitan mereka bangkit lagi dan kini lima orang itu mencabut kelewang dari pinggang mereka. Kelewang atau golok itu tajam dan berkilauan menggiriskan hati Ki Dirun yang semakin ketakutan. Namun Harjadenta hanya tersenyum sambil menanti serangan mereka. Lima orang tukang pukul itu mengepung, lalu serentak mereka menyerang dengan kelewang mereka. Senjata golok itu menyambar-nyambar haus darah. Akan tetapi semua sabetan itu dapat dielakkan oleh Harjadenta dan kini dia tidak mau memberi hati lagi. Setelah mengelak atau menangkis dia langsung membalas dengan cepat dan kini dia menambah tenaga tamparan dan tendangannya. Berturut-turut lima orang itu terpelanting roboh dan golok mereka yang terlepas dari pegangan mencelat ke kanan kiri dan mereka tidak dapat segera bangkit kembali. Mereka mengaduh-aduh dan mencoba untuk merangkak menjauhi pemuda yang digdaya itu.

Sementara itu, dua orang utusan Ki Demang yang bertubuh gendut, ketika melihat betapa lima orang tukang pukul itu roboh semua, memandang dengan mata terbelalak dan mereka sudah siap untuk melarikan diri. Melihat ini, dengan beberapa kali loncatan Harjadenta sudah dapat membekuk mereka. Dia menangkap tengkuk mereka dan dua orang itu menjadi ketakutan. Kaki mereka terasa lemas dan tanpa diperintah lagi mereka segera berlutut dan menyembah-nyembah kepada pemuda perkasa itu.
"Ampun, denmas ... ampunkan kami yang hanya menjadi orang suruhan Ki Demang ... " mereka meratap dan menyembah-nyembah.
Harjadenta melepaskan tengkuk mereka, mendorong mereka dengan muak.
"Dengar kalian orang-orang sombong. Katakan kepada Ki Demang bahwa kalau dia masih berani memaksakan kehendaknya untuk merampas anak gadis orang, aku akan datang kepadanya dan membunuhnya. Juga kalian dan semua tukang pukulnya akan kubasmi sampai habis!"
"Ampun, denmas ... !"
"Pergilah!" Harjadenta menendang dua kali dan dua orang itu terguling-guling, lalu merangkak bangun dan seperti lima orang tukang pukul mereka, mereka lari tunggang langgang. Harjadenta menghampiri Ki Dirun yang masih berdiri dengan tubuh gemetar di dekat dipan bambu. "Nah, paman, sekarang bahaya sudah lewat. Kurasa mereka tidak akan berani mengganggumu lagi."

Akan tetapi tiba-tiba Ki Dirun menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepada Harjadenta sambil berkata dengan suara penuh permohonan,
"Denmas, saya menghaturkan terima kasih kepada denmas akan tetapi kami semua mohon kepadamu, janganlah tinggalkan kami. Kalau denmas pergi, tentu mereka akan datang lagi dan celakalah kami karena sudah tidak ada denmas yang melindungi. Karena itu tinggallah di sini, denmas sampai bahaya benar-benar lewat. Saya takut... "
Harjadenta tersenyum.
"Baiklah, untuk semalam ini saja. Besok aku akan mendatangi Ki Demang dan akan mengancamnya agar dia tidak mengganggu keluargamu lagi. Kalau perlu akan kuberi hajaran keras dia!"
Akan tetapi, yang ditakuti Ki Dirun terjadilah. Sore hari itu, menjelang senja, belasan orang datang memasuki pekarangan rumah Ki Dirun dan mereka semua kelihatan bengis. Lima orang tukang pukul yang siang hari tadi dihajar Harjadenta juga tampak berada di antara mereka dan mereka mengiringkan seorang laki-laki berusia empatpuluhan tahun yang bertubuh seperti raksasa, mukanya penuh brewok, matanya besar dan orang itu mengenakan pakaian yang serba hitam. Celana hitamnya sampai di bawah lutut dan di pinggangnya terdapat sehelai ikat pinggang atau kolor yang besar, sebesar lengan tangan. Kolor itu berwarna merah dan panjangnya tidak kurang dari satu setengah meter. Ikat kepalanya juga berwarna hitam dan raksasa ini Nampak kokoh kuat seperti seekor gajah!
"Ho-ho-ha-ha! Siapakah orang yang bernama Harjadenta? Majulah ke sini menghadapi aku kalau engkau memang seorang jantan!" kata raksasa itu sambil tertawa-tawa.
Ki Dirun sudah mendekam di atas lantai, tak berani bergerak saking takutnya. Harjadenta dengan langkah tenang keluar dari ruangan depan dan menghampiri raksasa berpakaian hitam itu.
"Akulah yang bernama Harjadenta. Andika siapakah dan ada keperluan apa mencariku?" tanya Harjadenta dengan tenang dan tabah.

Raksasa itu memandang Harjadenta dari kepala sampai ke kaki, lalu tertawa bergelak dan memandang wajah pemuda yang tingginya hanya sepundaknya itu.
"Ho-ho-ha-ha! Kukira seorang yang gagah perkasa, kiranya hanya seorang pemuda remaja yang masih berbau pupuk! Heh, Harjadenta bocah kemarin sore! Engkau berhadapan dengan Suropekik, warok yang paling gemblengan dari Ponorogo. Hayo engkau cepat menyerah untuk kubawa dan kuhadapkan Ki Demang Grobokan. Kalau engkau melawan, akan kupatahkan semua tulangmu kemudian kuseret ke depan Ki Demang!"
Harjadenta marah sekali mendengar ini. Raksasa itu amat sombong dan diapun melayani kesombongannya itu, tidak mau kalah gertak.
"Suropekik, ketahuilah bahwa aku adalah seorang yang biasa membasmi warok-warok yang jahat seperti engkau! Aku tidak takut padamu, biar kaugerakkan semua pengikutmu ini untuk mengeroyokku, aku tidak akan undur selangkahpun!"
Tantangan Harjadenta ini benar-benar mengejutkan semua orang dan membuat wajah yang tertutup brewok itu berubah merah saking marahnya. Ki Suropekik adalah seorang jagoan yang sukar dicari tandingannya dan selama merajalela di dunia ramai, jarang menemukan tandingan yang sama kuatnya. Kini mendengar tantangan Harjadenta yang demikian berani, tentu saja dia merasa terhina. Dia menggerak-gerakkan kedua lengannya yang besar berotot itu seolah-olah tangannya sudah terasa gatal-gatal untuk segera melaksanakan ancamannya, yaitu mematahkan semua tulang pemuda itu, dari suaranya terdengar parau dan kasar.
"Babo-babo! Sumbarmu seperti dapat meruntuhkan gunung dan mengeringkan lautan! Majulah, Harjadenta dan jangan engkau nanti bersambat kepada ibumu kalau kuhajar sampai tulang-tulangmu patah semua!"
"Suropekik, engkau yang datang mencari permusuhan, bukan aku. Maka engkaulah yang harus maju lebih dulu. Aku siap menghadapi sumbarmu yang seperti gentong kosong!"

Suropekik menggereng seperti seekor harimau dan dari mulutnya mengepul uap putih. Agaknya, saking marahnya maka dari dalam dadanya keluar uap panas! Kemudian bagaikan seekor biruang, dia sudah menerjang maju dengan kedua lengan terbuka dan agaknya dia hendak menangkap pemuda itu dan meremukkan tulang-tulangnya dalam dekapannya. Akan tetapi dia hanya menubruk angin saja karena yang ditubruk dengan gesitnya sudah mengelak ke samping. Dari samping Harjadenta mengirim tamparan tangan kiri ke arah pelipis raksasa itu. Akan tetapi, ternyata Suropekik yang besar tubuhnya itu dapat bergerak dengan gesit pula. Tangan kanannya menangkis tamparan Harjadenta dengan kuatnya.
"Dukkk ... !!" Dua lengan bertemu dengan kerasnya dan Harjadenta merasa betapa lengannya terpental dan tergetar, tanda bahwa lawannya memiliki tenaga yang amat besar. Suropekik tertawa bergelak dan kini dia menyerang dengan hebat dan cepatnya, mengirim pukulan dengan kedua tangannya secara bertubi-tubi, bahkan kakinyapun kadang menyelingi pukulannya mengirim tendangan yang kalau mengenai sasaran tentu akan membuat tubuh Harjadenta terlempar jauh. Akan tetapi gerakan Harjadenta amat cepat dan lincah. Dia dapat meloloskan diri dari semua sergapan ini, bahkan kadang membalas dengan tamparan tangannya.
"Wuuuutttt ... desss!" Sebuah tamparan tangan kanan Harjadenta mengenai dada raksasa itu, akan tetapi tidak membuatnya roboh. Tamparan yang dilakukan dengan sepenuh tenaga itu ternyata bertemu dengan dada yang kokoh kuat seperti dinding baja dan hanya membuat Suropekik melangkah mundur dua langkah saja! Ternyata warok itu memiliki tubuh yang kebal. Harjadenta terkejut dan tahulah dia bahwa sekali ini dia menghadapi seorang lawan yang amat tangguh. Karena pukulannya tidak mampu merobohkan lawan, Harjadenta lalu mencabut sebatang keris yang tadinya terselip di pinggangnya. Keris itu adalah pemberian gurunya, bernama Ki Mengeng, sebatang keris berluk tujuh.
"Ho-ho-ha-ha, belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, engkau sudah mencabut pusaka!" kata Suropekik yang tahu bahwa keris itu sebuah pusaka ampuh melihat dari pamornya yang mencorong. Diapun merasa miris untuk melawan pusaka itu dengan tangan kosong saja, maka diapun meloloskan sabuknya, yaitu kolor yang besar dan panjang itu.
“Akan tetapi aku tidak takut kepada pusakamu itu, dan rasakanlah ini kehebatan pusakaku Kyai Gunturgeni!" Dia menggerakkan kolornya dan kolor itu menjadi seperti sebatang pecut dan terdengarlah ledakan-ledakan ketika dia mengayun kolor itu ke atas. Tampak asap mengepul mengikuti suara ledakan.

Harjadenta semakin waspada. Diapun mengenal pusaka ampuh, maka ketika kolor itu menyambar, dia cepat mengelak dan mencari kesempatan untuk menusukkan kerisnya! Akan tetapi lawannya yang juga gentar untuk menerima keris itu dengan kekebalan tubuhnya, memutar-mutar kolornya dan membuat Harjadenta tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk memasukkan kerisnya dalam serangan. Terjadilah pertandingan yang menegangkan. Semua sambaran kolor dapat dielakkan atau ditangkis dengan keris oleh Harjadenta, akan tetapi juga tusukan-tusukan kerisnya tidak dapat mengenai sasaran karena selalu dihalau oleh sambaran kolor. Kolor yang diputar-putar itu berubah menjadi sinar merah bergulung-gulung yang kadang mengeluarkan ledakan, dan perlahan namun tentu Harjadenta mulai terdesak! Suropekik merasa penasaran sekali karena sebegitu jauh dia belum dapat merobohkan pemuda itu. Diapun ingin dapat menangkap Harjadenta hidup-hidup untuk dapat memamerkan dan membanggakan keunggulannya. Akan tetapi ternyata pemuda itu sukar sekali dirobohkan. Dia mulai merasa khawatir kalau pemuda itu meloncat dan menggunakan kecepatan gerakannya untuk melarikan diri. Karena itu, dia lalu berseru nyaring,
"Kawan-kawan, mari bantu aku menangkap bocah liar ini!"
Belasan orang itu kini menyergap ke depan, menggerakkan senjata mereka yang berupa golok atau keris. Tentu saja Harjadenta yang tadinya memang sudah terdesak, menjadi semakin repot. Dia telah dikepung ketat dan sama sekali tidak ada jalan keluar baginya untuk melarikan diri. Pula, bagaimana dia dapat dan mau melarikan diri dengan meninggalkan Ki Dirun sekeluarga yang terancam. Tidak, dia tidak akan lari, dan akan melawan sampai titik darah penghabisan. Ki Dirun menjadi cemas sekali. Wajahnya pucat dan tubuhnya yang mendekam itu menggigil ketakutan. Kemudian ia teringat akan anak bininya yang berada di dalam rumah.
“Melarikan diri!" Demikian terlintas dalam pikirannya.
Selagi semua orang itu mengeroyok Harjadenta, dia memiliki kesempatan untuk membawa lari anak isterinya. Maka, biarpun tubuhnya menggigil, dengan merangkak, berhasil juga dia memasuki rumahnya. Dia melihat Lasmini saling rangkul dengan ibunya dan menangis tanpa suara, sedangkan Martono juga berdiri bingung menghibur ibunya yang juga menangis.
"Martono, cepat bawa ibumu lari dari sini. Lari dan bersembunyilah. Aku dan anak biniku juga akan melarikan diri. Kita berpisah dulu, agar dapat menyelamatkan diri masing-masing. Cepat sebelum terlambat!" Dia lalu memegang tangan Lasmini dan tangan isterinya, ditarik dan dibawanya lari keluar dari rumah itu melalui pintu belakang. Martono yang kebingungan juga menirunya, menarik tangan ibunya dan dibawa lari melalui pintu belakang rumah.

Setelah tiba di kebun belakang, mereka lalu melarikan diri cepat-cepat dan menuju ke sungai yang berada tak jauh dari dusun Grobokan. Ki Dirun yang kadang bekerja sebagai nelayan memiliki sebuah perahu, maka dia menarik isteri dan anaknya ke dalam perahu. Martono dan ibunya tidak memiliki perahu dan untuk ikut dalam perahu Ki Dirun, perahu itu terlalu kecil.
"Engkau bawalah ibumu menyusuri sungai ini, pendeknya kemana saja asal jauh dari Grobokan. Kelak kita akan dapat bertemu kembali!" kata Ki Dirun dan dia segera mendayung perahunya ke tengah sungai dan perahu itu hanyut oleh aliran sungai, ditambah tenaga dayung Ki Dirun sehingga perahu itu meluncur cepat.
Martono masih menggandeng tangan ibunya dan terseok-seok mereka melarikan diri, menyusuri sungai, masuk keluar hutan dalam cuaca yang mulai gelap itu. Ibu Martono menangis terisak-isak sambil berlari. Tangisnya ini menarik perhatian dua orang yang kebetulan berada di tepi hutan itu. Mereka adalah Bagus Seta dan Retna Wilis.

<<< Bagian 20                                                                                         Bagian 22 >>>

No comments:

Post a Comment