Dapat dia bayangkan apa akan jadinya dengan dia dan keluarganya kalau Harjadenta sampai kalah. Tentu Lasmini akan dibawa oleh tukang pukul itu dengan paksa dan dia serta isterinya, dan Martono serta ibunya akan menerima hajaran. Akan tetapi Ki Dirun tidak perlu khawatir lagi. Kini Harjadenta mulai membalas serangan mereka dan begitu kaki tangannya bergerak-gerak cepat membagi-bagi pukulan dan tendangan, terdengar suara bak-bik-buk disusul teriakan-teriakan kesakitan dari lima orang pengeroyok dan tubuh mereka berpelantingan ke kanan kiri! Lima orang itu terkejut bukan main, akan tetapi juga marah sekali. Sambil meringis kesakitan mereka bangkit lagi dan kini lima orang itu mencabut kelewang dari pinggang mereka. Kelewang atau golok itu tajam dan berkilauan menggiriskan hati Ki Dirun yang semakin ketakutan. Namun Harjadenta hanya tersenyum sambil menanti serangan mereka. Lima orang tukang pukul itu mengepung, lalu serentak mereka menyerang dengan kelewang mereka. Senjata golok itu menyambar-nyambar haus darah. Akan tetapi semua sabetan itu dapat dielakkan oleh Harjadenta dan kini dia tidak mau memberi hati lagi. Setelah mengelak atau menangkis dia langsung membalas dengan cepat dan kini dia menambah tenaga tamparan dan tendangannya. Berturut-turut lima orang itu terpelanting roboh dan golok mereka yang terlepas dari pegangan mencelat ke kanan kiri dan mereka tidak dapat segera bangkit kembali. Mereka mengaduh-aduh dan mencoba untuk merangkak menjauhi pemuda yang digdaya itu.
Sementara itu,
dua orang utusan Ki Demang yang bertubuh gendut, ketika melihat betapa lima
orang tukang pukul itu roboh semua, memandang dengan mata terbelalak dan mereka
sudah siap untuk melarikan diri. Melihat ini, dengan beberapa kali loncatan
Harjadenta sudah dapat membekuk mereka. Dia menangkap tengkuk mereka dan dua
orang itu menjadi ketakutan. Kaki mereka terasa lemas dan tanpa diperintah lagi
mereka segera berlutut dan menyembah-nyembah kepada pemuda perkasa itu.
"Ampun,
denmas ... ampunkan kami yang hanya menjadi orang suruhan Ki Demang ... "
mereka meratap dan menyembah-nyembah.
Harjadenta
melepaskan tengkuk mereka, mendorong mereka dengan muak.
"Dengar
kalian orang-orang sombong. Katakan kepada Ki Demang bahwa kalau dia masih
berani memaksakan kehendaknya untuk merampas anak gadis orang, aku akan datang
kepadanya dan membunuhnya. Juga kalian dan semua tukang pukulnya akan kubasmi
sampai habis!"
"Ampun,
denmas ... !"
"Pergilah!"
Harjadenta menendang dua kali dan dua orang itu terguling-guling, lalu
merangkak bangun dan seperti lima orang tukang pukul mereka, mereka lari
tunggang langgang. Harjadenta menghampiri Ki Dirun yang masih berdiri dengan
tubuh gemetar di dekat dipan bambu. "Nah, paman, sekarang bahaya sudah
lewat. Kurasa mereka tidak akan berani mengganggumu lagi."
Akan tetapi
tiba-tiba Ki Dirun menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepada Harjadenta
sambil berkata dengan suara penuh permohonan,
"Denmas,
saya menghaturkan terima kasih kepada denmas akan tetapi kami semua mohon
kepadamu, janganlah tinggalkan kami. Kalau denmas pergi, tentu mereka akan
datang lagi dan celakalah kami karena sudah tidak ada denmas yang melindungi.
Karena itu tinggallah di sini, denmas sampai bahaya benar-benar lewat. Saya
takut... "
Harjadenta
tersenyum.
"Baiklah,
untuk semalam ini saja. Besok aku akan mendatangi Ki Demang dan akan
mengancamnya agar dia tidak mengganggu keluargamu lagi. Kalau perlu akan kuberi
hajaran keras dia!"
Akan tetapi, yang
ditakuti Ki Dirun terjadilah. Sore hari itu, menjelang senja, belasan orang
datang memasuki pekarangan rumah Ki Dirun dan mereka semua kelihatan bengis.
Lima orang tukang pukul yang siang hari tadi dihajar Harjadenta juga tampak
berada di antara mereka dan mereka mengiringkan seorang laki-laki berusia
empatpuluhan tahun yang bertubuh seperti raksasa, mukanya penuh brewok, matanya
besar dan orang itu mengenakan pakaian yang serba hitam. Celana hitamnya sampai
di bawah lutut dan di pinggangnya terdapat sehelai ikat pinggang atau kolor
yang besar, sebesar lengan tangan. Kolor itu berwarna merah dan panjangnya
tidak kurang dari satu setengah meter. Ikat kepalanya juga berwarna hitam dan
raksasa ini Nampak kokoh kuat seperti seekor gajah!
"Ho-ho-ha-ha!
Siapakah orang yang bernama Harjadenta? Majulah ke sini menghadapi aku kalau
engkau memang seorang jantan!" kata raksasa itu sambil tertawa-tawa.
Ki Dirun sudah
mendekam di atas lantai, tak berani bergerak saking takutnya. Harjadenta dengan
langkah tenang keluar dari ruangan depan dan menghampiri raksasa berpakaian
hitam itu.
"Akulah
yang bernama Harjadenta. Andika siapakah dan ada keperluan apa mencariku?"
tanya Harjadenta dengan tenang dan tabah.
Raksasa itu
memandang Harjadenta dari kepala sampai ke kaki, lalu tertawa bergelak dan
memandang wajah pemuda yang tingginya hanya sepundaknya itu.
"Ho-ho-ha-ha!
Kukira seorang yang gagah perkasa, kiranya hanya seorang pemuda remaja yang
masih berbau pupuk! Heh, Harjadenta bocah kemarin sore! Engkau berhadapan dengan
Suropekik, warok yang paling gemblengan dari Ponorogo. Hayo engkau cepat
menyerah untuk kubawa dan kuhadapkan Ki Demang Grobokan. Kalau engkau melawan,
akan kupatahkan semua tulangmu kemudian kuseret ke depan Ki Demang!"
Harjadenta
marah sekali mendengar ini. Raksasa itu amat sombong dan diapun melayani
kesombongannya itu, tidak mau kalah gertak.
"Suropekik,
ketahuilah bahwa aku adalah seorang yang biasa membasmi warok-warok yang jahat
seperti engkau! Aku tidak takut padamu, biar kaugerakkan semua pengikutmu ini
untuk mengeroyokku, aku tidak akan undur selangkahpun!"
Tantangan
Harjadenta ini benar-benar mengejutkan semua orang dan membuat wajah yang
tertutup brewok itu berubah merah saking marahnya. Ki Suropekik adalah seorang
jagoan yang sukar dicari tandingannya dan selama merajalela di dunia ramai,
jarang menemukan tandingan yang sama kuatnya. Kini mendengar tantangan
Harjadenta yang demikian berani, tentu saja dia merasa terhina. Dia
menggerak-gerakkan kedua lengannya yang besar berotot itu seolah-olah tangannya
sudah terasa gatal-gatal untuk segera melaksanakan ancamannya, yaitu mematahkan
semua tulang pemuda itu, dari suaranya terdengar parau dan kasar.
"Babo-babo!
Sumbarmu seperti dapat meruntuhkan gunung dan mengeringkan lautan! Majulah,
Harjadenta dan jangan engkau nanti bersambat kepada ibumu kalau kuhajar sampai
tulang-tulangmu patah semua!"
"Suropekik,
engkau yang datang mencari permusuhan, bukan aku. Maka engkaulah yang harus
maju lebih dulu. Aku siap menghadapi sumbarmu yang seperti gentong kosong!"
Suropekik
menggereng seperti seekor harimau dan dari mulutnya mengepul uap putih.
Agaknya, saking marahnya maka dari dalam dadanya keluar uap panas! Kemudian
bagaikan seekor biruang, dia sudah menerjang maju dengan kedua lengan terbuka
dan agaknya dia hendak menangkap pemuda itu dan meremukkan tulang-tulangnya
dalam dekapannya. Akan tetapi dia hanya menubruk angin saja karena yang
ditubruk dengan gesitnya sudah mengelak ke samping. Dari samping Harjadenta
mengirim tamparan tangan kiri ke arah pelipis raksasa itu. Akan tetapi,
ternyata Suropekik yang besar tubuhnya itu dapat bergerak dengan gesit pula.
Tangan kanannya menangkis tamparan Harjadenta dengan kuatnya.
"Dukkk
... !!" Dua lengan bertemu dengan kerasnya dan Harjadenta merasa betapa
lengannya terpental dan tergetar, tanda bahwa lawannya memiliki tenaga yang
amat besar. Suropekik tertawa bergelak dan kini dia menyerang dengan hebat dan
cepatnya, mengirim pukulan dengan kedua tangannya secara bertubi-tubi, bahkan
kakinyapun kadang menyelingi pukulannya mengirim tendangan yang kalau mengenai
sasaran tentu akan membuat tubuh Harjadenta terlempar jauh. Akan tetapi gerakan
Harjadenta amat cepat dan lincah. Dia dapat meloloskan diri dari semua sergapan
ini, bahkan kadang membalas dengan tamparan tangannya.
"Wuuuutttt
... desss!" Sebuah tamparan tangan kanan Harjadenta mengenai dada raksasa
itu, akan tetapi tidak membuatnya roboh. Tamparan yang dilakukan dengan sepenuh
tenaga itu ternyata bertemu dengan dada yang kokoh kuat seperti dinding baja dan
hanya membuat Suropekik melangkah mundur dua langkah saja! Ternyata warok itu
memiliki tubuh yang kebal. Harjadenta terkejut dan tahulah dia bahwa sekali ini
dia menghadapi seorang lawan yang amat tangguh. Karena pukulannya tidak mampu
merobohkan lawan, Harjadenta lalu mencabut sebatang keris yang tadinya terselip
di pinggangnya. Keris itu adalah pemberian gurunya, bernama Ki Mengeng,
sebatang keris berluk tujuh.
"Ho-ho-ha-ha,
belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, engkau sudah mencabut pusaka!"
kata Suropekik yang tahu bahwa keris itu sebuah pusaka ampuh melihat dari
pamornya yang mencorong. Diapun merasa miris untuk melawan pusaka itu dengan
tangan kosong saja, maka diapun meloloskan sabuknya, yaitu kolor yang besar dan
panjang itu.
“Akan tetapi
aku tidak takut kepada pusakamu itu, dan rasakanlah ini kehebatan pusakaku Kyai
Gunturgeni!" Dia menggerakkan kolornya dan kolor itu menjadi seperti
sebatang pecut dan terdengarlah ledakan-ledakan ketika dia mengayun kolor itu
ke atas. Tampak asap mengepul mengikuti suara ledakan.
Harjadenta
semakin waspada. Diapun mengenal pusaka ampuh, maka ketika kolor itu menyambar,
dia cepat mengelak dan mencari kesempatan untuk menusukkan kerisnya! Akan
tetapi lawannya yang juga gentar untuk menerima keris itu dengan kekebalan tubuhnya,
memutar-mutar kolornya dan membuat Harjadenta tidak mendapat kesempatan sama
sekali untuk memasukkan kerisnya dalam serangan. Terjadilah pertandingan yang
menegangkan. Semua sambaran kolor dapat dielakkan atau ditangkis dengan keris
oleh Harjadenta, akan tetapi juga tusukan-tusukan kerisnya tidak dapat mengenai
sasaran karena selalu dihalau oleh sambaran kolor. Kolor yang diputar-putar itu
berubah menjadi sinar merah bergulung-gulung yang kadang mengeluarkan ledakan,
dan perlahan namun tentu Harjadenta mulai terdesak! Suropekik merasa penasaran
sekali karena sebegitu jauh dia belum dapat merobohkan pemuda itu. Diapun ingin
dapat menangkap Harjadenta hidup-hidup untuk dapat memamerkan dan membanggakan
keunggulannya. Akan tetapi ternyata pemuda itu sukar sekali dirobohkan. Dia
mulai merasa khawatir kalau pemuda itu meloncat dan menggunakan kecepatan
gerakannya untuk melarikan diri. Karena itu, dia lalu berseru nyaring,
"Kawan-kawan,
mari bantu aku menangkap bocah liar ini!"
Belasan orang
itu kini menyergap ke depan, menggerakkan senjata mereka yang berupa golok atau
keris. Tentu saja Harjadenta yang tadinya memang sudah terdesak, menjadi
semakin repot. Dia telah dikepung ketat dan sama sekali tidak ada jalan keluar
baginya untuk melarikan diri. Pula, bagaimana dia dapat dan mau melarikan diri
dengan meninggalkan Ki Dirun sekeluarga yang terancam. Tidak, dia tidak akan
lari, dan akan melawan sampai titik darah penghabisan. Ki Dirun menjadi cemas
sekali. Wajahnya pucat dan tubuhnya yang mendekam itu menggigil ketakutan.
Kemudian ia teringat akan anak bininya yang berada di dalam rumah.
“Melarikan
diri!" Demikian terlintas dalam pikirannya.
Selagi semua
orang itu mengeroyok Harjadenta, dia memiliki kesempatan untuk membawa lari
anak isterinya. Maka, biarpun tubuhnya menggigil, dengan merangkak, berhasil
juga dia memasuki rumahnya. Dia melihat Lasmini saling rangkul dengan ibunya
dan menangis tanpa suara, sedangkan Martono juga berdiri bingung menghibur
ibunya yang juga menangis.
"Martono,
cepat bawa ibumu lari dari sini. Lari dan bersembunyilah. Aku dan anak biniku
juga akan melarikan diri. Kita berpisah dulu, agar dapat menyelamatkan diri
masing-masing. Cepat sebelum terlambat!" Dia lalu memegang tangan Lasmini
dan tangan isterinya, ditarik dan dibawanya lari keluar dari rumah itu melalui
pintu belakang. Martono yang kebingungan juga menirunya, menarik tangan ibunya
dan dibawa lari melalui pintu belakang rumah.
Setelah tiba
di kebun belakang, mereka lalu melarikan diri cepat-cepat dan menuju ke sungai
yang berada tak jauh dari dusun Grobokan. Ki Dirun yang kadang bekerja sebagai
nelayan memiliki sebuah perahu, maka dia menarik isteri dan anaknya ke dalam
perahu. Martono dan ibunya tidak memiliki perahu dan untuk ikut dalam perahu Ki
Dirun, perahu itu terlalu kecil.
"Engkau
bawalah ibumu menyusuri sungai ini, pendeknya kemana saja asal jauh dari
Grobokan. Kelak kita akan dapat bertemu kembali!" kata Ki Dirun dan dia
segera mendayung perahunya ke tengah sungai dan perahu itu hanyut oleh aliran
sungai, ditambah tenaga dayung Ki Dirun sehingga perahu itu meluncur cepat.
Martono masih
menggandeng tangan ibunya dan terseok-seok mereka melarikan diri, menyusuri
sungai, masuk keluar hutan dalam cuaca yang mulai gelap itu. Ibu Martono
menangis terisak-isak sambil berlari. Tangisnya ini menarik perhatian dua orang
yang kebetulan berada di tepi hutan itu. Mereka adalah Bagus Seta dan Retna
Wilis.
<<< Bagian 20 Bagian 22 >>>
No comments:
Post a Comment