Sepasang Garuda Putih ; Bagian 22


Tertarik akan keindahan pemandangan di sepanjang Kali Mayang, kedua orang muda itu menyusuri sungai itu arah ke hulu. Makin jauh mereka mengikuti hulu sungai, pemandangan semakin indah dan mereka terus menyusuri sungai itu. Setelah berbulan-bulan melihat pemandangan pantai Laut Kidul, pemandangan yang baru ini tampak lain dan memiliki keindahan yang khas. Dan sore itu mereka tiba di hutan di mana mereka mendengar tangis wanita yang terisak-isak. Mereka tentu saja menjadi tertarik dan segera menghampiri dari mana datangnya tangis itu. Dan mereka menjumpai Martono dan ibunya yang sedang melarikan diri. Melihat seorang wanita setengah tua ditarik-tarik oleh seorang pemuda dan wanita itu menangis, Retna Wilis menjadi marah. Sekali melompat ia telah berada di depan Martono dan ia membentak.
"Manusia jahanam! Kenapa engkau menyeret-nyeret wanita ini! Lepaskan!"
Martono terkejut sekali ketika tiba-tiba saja ada seorang gadis muda yang luar biasa cantiknya berada di depannya dan membentaknya. Juga ibunya terkejut. Akan tetapi ibu ini segera mengerti bahwa gadis itu salah paham, maka ia cepat berkata.
"Den ajeng, dia ini anakku dan kami berdua sedang melarikan diri dari ancaman bahaya maut."

Retna Wilis merasa mukanya panas saking rikuhnya. Ia telah mengira yang bukan-bukan. Ternyata pemuda itu sama sekali bukan orang jahat. Ia lalu bertanya dengan suara lembut,
"Bahaya maut apakah yang mengancam kalian sehingga kalian melarikan diri?"
Dengan tergesa-gesa Martono lalu bercerita.
"Ki Demang Grobokan hendak merampas tunangan saya dan dia mengirim tukang-tukang pukulnya untuk merampas Lasmini, tunangan saya. Kami dibela seorang denmas yang sakti bernama Harjadenta, akan tetapi sekarang dia dikeroyok oleh belasan orang tukang pukul di depan rumah orang tua Lasmini. Kini Lasmini dan ayah ibunya sudah melarikan diri dan saya mengajak ibu melarikan diri pula karena terancam."
"Hemm, di mana penolong itu dikeroyok?" tanya Retno Wilis.
"Di rumah Paman Dirun di dusun Grobokan, tak jauh dari sini, itu diluar hutan ini. Permisi, kami harus melarikan diri.” Martono lalu menggandeng tangan ibunya lagi dan diajak lari.
Retna Wilis menoleh kepada Bagus Seta yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.
"Kakang, aku khawatir akan nasib penolong itu yang dikeroyok para tukang pukul. Mari kita ke sana, kakang."
"Baiklah!" kata kakaknya sambil tersenyum.
Retna Wilis lalu mengerahkan ilmunya berlari cepat. Tubuhnya melesat seperti angin menuju ke dusun Grobokan dan Bagus Seto mengikutinya dari belakang. Setelah tiba di dusun itu, dengan mudah Retna Wilis dapat mencari rumah Lasmini karena dusun itu sudah gempar dengan adanya perkelahian itu. Dengan cepat Retna Wilis dan Bagus Seta tiba di tempat itu dan Retna Wilis melihat seorang pemuda yang memegang keris dikeroyok belasan orang yang memegang golok. Terutama sekali seorang raksasa yang bersenjatakan kolor merupakan lawan yang amat tangguh sehingga pemuda itu kini main mundur, bahkan sudah ada beberapa batang golok yang mengenai tubuhnya. Paha dan pundaknya sudah terluka, namun pemuda itu tidak gentar sedikitpun juga, masih tetap melakukan perlawanan gigih dengan kerisnya. Ada pula lima orang di antara para pengeroyok yang sudah roboh oleh pemuda itu, dan mereka hanya merintih dan menonton dari pinggiran, tidak dapat ikut mengeroyok lagi.

Mudah bagi Retna Wilis untuk berpihak apa lagi ia telah mendengar dari Martono bahwa pemuda itu merupakan penolong keluarga Lasmini. Ia mengeluarkan suara panjang melengking dan tubuhnya sudah meloncat ke dalam pertempuran, tangannya bergerak menampar ke arah raksasa yang memutar kolornya secara dahsyat.
"Wuuuttt ... plakk ... !!" Biarpun hanya ditampar pundaknya yang kebal, namun tubuh Suropekik terhuyung dan dia merasa seolah dirinya disambar petir! Dia terhuyung dan melihat siapa orangnya yang berani menyerangnya sehebat itu dengan tangan kosong dan ketika dia melihat seorang wanita muda yang amat cantik berdiri di depannya, ia terbelalak dan juga marah.
Sementara itu, ketika tidak lagi didesak oleh Suropekik, Harjadenta leluasa mengamuk menghadapi anak buah warok itu sehingga para pengeroyoknya menjadi kocar kacir. Diam-diam Harjadenta memperhatikan Retna Wilis dan dia terkejut, juga kagum. Akan tetapi timbul kecurigaan dalam hatinya. Yang mencuri keris pusaka Carubuk adalah seorang wanita cantik yang sakti. Jangan-jangan ini orangnya? Akan tetapi karena wanita itu kini bertanding melawan Suropekik, diapun diam saja dan hanya mengamuk menghadapi pengeroyokan belasan orang lawannya.
Bagus Seta hanya berdiri menonton. Dia tidak khawatir akan adiknya karena sekali pandang saja dia tahu bahwa betapa hebatpun kolor raksasa itu, dia tidak akan mampu mengalahkan adiknya. Yang di khawatirkan malah Harjadenta. Pemuda ini mengamuk dengan kerisnya dan dia khawatir kalau kalau pemuda itu membunuh orang banyak. Sayang kalau seorang pemuda segagah itu melakukan pembunuhan terhadap banyak orang dan melihat betapa dia sudah luka-luka, bukan tidak mungkin dia menjadi mata gelap dan membunuhi para pengeroyoknya. Setelah membuat penilaian, Bagus Seto lalu menggerakkan kakinya dan tubuhnya seperti melayang ke arah Harjadenta yang sedang mengamuk.
"Tidak perlu membunuhi orang, ki sanak!" katanya dan dengan tangannya dia menangkis keris pusaka Harjadenta yang menyambar-nyambar mencari korban.

Harjadenta terkejut sekali ketika ada orang menangkis keris pusakanya hanya dengan tangan kosong saja. Akan tetapi karena orang itu tidak menyerangnya, maka diapun hanya menghentikan amukannya dan memandang dengan heran. Dia melihat seorang pemuda berpakaian serba putih yang kini dikeroyok banyak orang. Tentu para pengeroyok itu mengira bahwa pemuda pakaian putih itu membantunya, maka mereka kini mengayunkan senjata mereka untuk menyerang si pemuda pakaian putih. Melihat betapa orang-orang itu meninggalkan pemuda yang mengamuk tadi dan kini mereka menyerangnya, Bagus Seta lalu menggerakkan kedua tangannya seperti orang mendorong dan mereka yang menyerbu ke arahnya itu terjengkang seperti daun-daun kering ditiup angin. Tentu saja mereka terkejut dan belum tahu mengapa mereka tiba-tiba terdorong ke belakang oleh tenaga yang amat kuatnya. Mereka bangkit dan menyerang lagi. Kini Bagus Seto menggerakkan tangan seperti menampar dan orang-orang itu berpelantingan keras. Kini mengertilah mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang amat sakti, maka tanpa banyak bicara lagi mereka lari tunggang langgang. Harjadenta melihat ini semua dan dia terbelalak kagum. Diapun tahu bahwa pemuda berpakaian putih itu memiliki kadigdayaan yang luar biasa, seorang sakti mandraguna. Akan tetapi karena pemuda itu kini memandang ke arah pertempuran antara Suropekik dan wanita cantik itu, Harjadenta juga memandang dan menonton pertandingan yang seru dan hebat itu. Dia semakin kagum. Wanita itu bertangan kosong saja menandingi kolor di tangan Suropekik. Padahal dia melihat wanita itu membawa sebatang pedang di punggungnya. Ia tidak mau menggunakan pedang dan melawan dengan tangan kosong saja, berarti bahwa wanita itu yakin akan mampu mengalahkan lawan! Dan apa yang dilihatnya memang demikian. Suropekik berusaha untuk menghantamkan kolornya yang ampuh, namun gadis itu dengan gerakan seperti seekor burung srikatan saja mengelak ke sana sini, bahkan kadang ia berani menangkis pukulan kolor itu dengan tangannya! Dan gadis itu membalas dengan tamparan-tamparan tangannya yang membuat Suropekik menjadi repot untuk mengelak atau menangkis dengan kolornya. Menghadapi tamparan-tamparan itu tampaknya Suropekik merasa jerih untuk menerimanya dengan kekebalan tubuhnya. Memang demikianlah. Tadi Suropekik mengandalkan kekebalan tubuhnya, menerima tamparan Retna Wilis dengan dadanya. Ia menganggap bahwa pukulan seorang gadis itu tentu tidak berapa kuat, maka dia menerima dengan dadanya sambil mengerahkan tenaganya.
"Bukk ... !" Tubuh Suropekik terjengkang dan hampir saja dia roboh, dadanya terasa panas dan sesak. Dia menjadi marah dan mengamuk dengan kolornya, namun senjatanya itu sama sekali tidak dapat menyentuh ujung baju Retna Wilis yang bergerak dengan ilmu silat Pancaroba yang membuat tubuhnya bergerak demikian cepatnya sehingga seringkali Suropekik kehilangan lawan. Dia secara ngawur hanya memutar kolornya dan berputar-putar, mencoba menandingi kecepatan gerakan Retna Wilis dengan putaran kolornya.

Retna Wilis kini bergerak mengitari lawan dan memaksa Suropekik juga berputaran. Karena sejak tadi Suropekik mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggerakkan kolornya dan dia harus berputar-putar, lama kelamaan pandang matanya berkunang dan kepalanya menjadi pusing. Melihat keadaan lawan sudah mulai mengendur gerakan kolornya, Retna Wilis menggerakkan kakinya menendang. Lutut Suropekik disentuh ujung kaki dara perkasa itu, membuat dia hampir roboh dan lutut kanannya ditekuk, dan pada saat itu, sebuah tamparan tangan kiri Retna Wilis hinggap di dagunya.
"Dess ... !!" Tubuh raksasa itu berputar dan diapun roboh terpelanting, kepalanya berdenyut nyeri dan dadanya sesak, akan tetapi karena dia memang kuat dan kebal, Suropekik sudah dapat bangkit kembali. Dia menggoyang-goyang kepalanya untuk mengusir kepeningannya dan kedua matanya yang besar berubah merah. Dia marah sekali. Biarpun dia melihat betapa semua anak buahnya sudah melarikan diri, dia tetap nekat. Dia tidak percaya bahwa dia dikalahkan oleh seorang dara yang bertangan kosong! Dia tidak dapat menerima kenyataan ini. Dia bangkit berdiri mengerahkan aji yang dimilikinya sehingga tangan yang memegang kolor itu seperti menggigil, mulutnya mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang buas dan dia mengayun kolornya ke atas kepala, lalu menerjang maju sambil menghantamkan kolornya.
"Darr ... !" Retna Wilis menggunakan kedua tangan untuk menyambut hantaman kolor itu dengan pukulan jarak jauh dan begitu terdengar kolor itu meledak seperti sebuah cambuk, Suropekik roboh! Dia masih memegangi kolornya, akan tetapi dari mulutnya muntah darah segar, tanda bahwa dia telah terluka parah di sebelah dalam tubuhnya akibat benturan tenaganya dengan tenaga sakti dara itu.
"Pergilah kalau engkau tidak ingin mati!" kata Retna Wilis yang merasa penasaran juga melihat kenekatan orang tinggi besar itu.
Kini Suropekik benar-benar yakin bahwa dia tidak akan mampu menandingi dara itu, maka dengan lemah dia bangkit berdiri, memandang kepada Retna Wilis dengan mata mencorong, kemudian dia membalikkan tubuhnya dan terhuyung-huyung pergi tanpa menengok lagi.

Harjadenta yang menonton pertandingan itu, menjadi kagum bukan main. Dia yang menggunakan keris pusakanya saja tidak mampu mengalahkan Suropekik, akan tetapi dara itu dengan bertangan kosong saja dapat mengalahkan raksasa itu hanya dalam pertempuran yang pendek. Tahulah dia bahwa dara itu, dan juga pemuda berpakaian putih seperti juga pakaian dara itu, keduanya adalah orang-orang yang memiliki kesaktian hebat. Maka dia lalu menghampiri mereka sambil membungkuk-bungkuk memberi hormat.
"Banyak terima kasih saya ucapkan atas pertolongan andika berdua," katanya sambil menatap wajah mereka.
"Kalau andika berdua tidak datang membantu, tentu aku sudah mati dikeroyok mereka."
"Tidak perlu berterima kasih, sobat. Kita semua hanya melaksanakan tugas-kewajiban kita saja secara wajar. Andika juga telah menyelamatkan keluarga Ki Dirun."
"Nama saya Harjadenta. Bolehkah saya mengetahui nama andika berdua yang terhormat?"
Bagus Seta tersenyum.
"Namaku Bagus Seta dan ini adalah adikku bernama Retna Wilis. Kami datang dari Panjalu. Dan andika datang dari manakah?"
"Saya datang dari Gunung Raung, hendak mencari seseorang... barangkali andika berdua dapat membantu saya. Saya sedang mencari seorang wanita yang telah mencuri keris pusaka guru saya. Apakah andika berdua mengetahui seorang wanita cantik yang sakti, yang mencuri Pusaka Carubuk milik guru saya?" Harjadenta menatap tajam wajah Retna Wilis untuk melihat perubahan pada wajah itu. Akan tetapi Retno Wilis tidak bereaksi apa-apa terhadap ucapan itu, bahkan ia lalu berkata.
"Kita tidak boleh berhenti sampai di sini saja! Demang keparat itu harus dihajar agar jera memaksa gadis menjadi selirnya. Hayo kakang, kita cari Demang jahanam itu!"
"Terserah kepadamu, diajeng. Akan tetapi aku pesan agar engkau membatasi diri, jangan membunuh orang."
"Tadinya saya memang berniat untuk memberi hajaran kepada Demang itu, akan tetapi melihat dia mempunyai begitu banyak tukang pukul, tentu saja saya tidak berdaya. Sekarang setelah andika berdua muncul, saya akan membantu andika berdua memberi hajaran kepada Demang dan anak buahnya yang jahat dan sewenang-wenang itu." kata Harjadenta.
"Adimas Harjadenta, engkau telah terluka. Lihat, paha dan pundakmu masih berdarah. Engkau perlu merawat diri dan mengobati lukamu. Biar urusan dengan Demang ini dirampungkan oleh diajeng Retna Wilis."

<<< Bagian 21                                                                                          Bagian 23 >>>

No comments:

Post a Comment