Tertarik akan keindahan pemandangan di sepanjang Kali Mayang, kedua orang muda itu menyusuri sungai itu arah ke hulu. Makin jauh mereka mengikuti hulu sungai, pemandangan semakin indah dan mereka terus menyusuri sungai itu. Setelah berbulan-bulan melihat pemandangan pantai Laut Kidul, pemandangan yang baru ini tampak lain dan memiliki keindahan yang khas. Dan sore itu mereka tiba di hutan di mana mereka mendengar tangis wanita yang terisak-isak. Mereka tentu saja menjadi tertarik dan segera menghampiri dari mana datangnya tangis itu. Dan mereka menjumpai Martono dan ibunya yang sedang melarikan diri. Melihat seorang wanita setengah tua ditarik-tarik oleh seorang pemuda dan wanita itu menangis, Retna Wilis menjadi marah. Sekali melompat ia telah berada di depan Martono dan ia membentak.
"Manusia
jahanam! Kenapa engkau menyeret-nyeret wanita ini! Lepaskan!"
Martono
terkejut sekali ketika tiba-tiba saja ada seorang gadis muda yang luar biasa
cantiknya berada di depannya dan membentaknya. Juga ibunya terkejut. Akan
tetapi ibu ini segera mengerti bahwa gadis itu salah paham, maka ia cepat
berkata.
"Den
ajeng, dia ini anakku dan kami berdua sedang melarikan diri dari ancaman bahaya
maut."
Retna Wilis
merasa mukanya panas saking rikuhnya. Ia telah mengira yang bukan-bukan.
Ternyata pemuda itu sama sekali bukan orang jahat. Ia lalu bertanya dengan
suara lembut,
"Bahaya
maut apakah yang mengancam kalian sehingga kalian melarikan diri?"
Dengan
tergesa-gesa Martono lalu bercerita.
"Ki
Demang Grobokan hendak merampas tunangan saya dan dia mengirim tukang-tukang
pukulnya untuk merampas Lasmini, tunangan saya. Kami dibela seorang denmas yang
sakti bernama Harjadenta, akan tetapi sekarang dia dikeroyok oleh belasan orang
tukang pukul di depan rumah orang tua Lasmini. Kini Lasmini dan ayah ibunya
sudah melarikan diri dan saya mengajak ibu melarikan diri pula karena
terancam."
"Hemm, di
mana penolong itu dikeroyok?" tanya Retno Wilis.
"Di rumah
Paman Dirun di dusun Grobokan, tak jauh dari sini, itu diluar hutan ini.
Permisi, kami harus melarikan diri.” Martono lalu menggandeng tangan ibunya
lagi dan diajak lari.
Retna Wilis
menoleh kepada Bagus Seta yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.
"Kakang,
aku khawatir akan nasib penolong itu yang dikeroyok para tukang pukul. Mari
kita ke sana, kakang."
"Baiklah!"
kata kakaknya sambil tersenyum.
Retna Wilis
lalu mengerahkan ilmunya berlari cepat. Tubuhnya melesat seperti angin menuju ke
dusun Grobokan dan Bagus Seto mengikutinya dari belakang. Setelah tiba di dusun
itu, dengan mudah Retna Wilis dapat mencari rumah Lasmini karena dusun itu
sudah gempar dengan adanya perkelahian itu. Dengan cepat Retna Wilis dan Bagus
Seta tiba di tempat itu dan Retna Wilis melihat seorang pemuda yang memegang
keris dikeroyok belasan orang yang memegang golok. Terutama sekali seorang
raksasa yang bersenjatakan kolor merupakan lawan yang amat tangguh sehingga
pemuda itu kini main mundur, bahkan sudah ada beberapa batang golok yang
mengenai tubuhnya. Paha dan pundaknya sudah terluka, namun pemuda itu tidak
gentar sedikitpun juga, masih tetap melakukan perlawanan gigih dengan kerisnya.
Ada pula lima orang di antara para pengeroyok yang sudah roboh oleh pemuda itu,
dan mereka hanya merintih dan menonton dari pinggiran, tidak dapat ikut
mengeroyok lagi.
Mudah bagi
Retna Wilis untuk berpihak apa lagi ia telah mendengar dari Martono bahwa
pemuda itu merupakan penolong keluarga Lasmini. Ia mengeluarkan suara panjang
melengking dan tubuhnya sudah meloncat ke dalam pertempuran, tangannya bergerak
menampar ke arah raksasa yang memutar kolornya secara dahsyat.
"Wuuuttt
... plakk ... !!" Biarpun hanya ditampar pundaknya yang kebal, namun tubuh
Suropekik terhuyung dan dia merasa seolah dirinya disambar petir! Dia terhuyung
dan melihat siapa orangnya yang berani menyerangnya sehebat itu dengan tangan
kosong dan ketika dia melihat seorang wanita muda yang amat cantik berdiri di
depannya, ia terbelalak dan juga marah.
Sementara itu,
ketika tidak lagi didesak oleh Suropekik, Harjadenta leluasa mengamuk
menghadapi anak buah warok itu sehingga para pengeroyoknya menjadi kocar kacir.
Diam-diam Harjadenta memperhatikan Retna Wilis dan dia terkejut, juga kagum.
Akan tetapi timbul kecurigaan dalam hatinya. Yang mencuri keris pusaka Carubuk
adalah seorang wanita cantik yang sakti. Jangan-jangan ini orangnya? Akan
tetapi karena wanita itu kini bertanding melawan Suropekik, diapun diam saja
dan hanya mengamuk menghadapi pengeroyokan belasan orang lawannya.
Bagus Seta
hanya berdiri menonton. Dia tidak khawatir akan adiknya karena sekali pandang
saja dia tahu bahwa betapa hebatpun kolor raksasa itu, dia tidak akan mampu
mengalahkan adiknya. Yang di khawatirkan malah Harjadenta. Pemuda ini mengamuk
dengan kerisnya dan dia khawatir kalau kalau pemuda itu membunuh orang banyak.
Sayang kalau seorang pemuda segagah itu melakukan pembunuhan terhadap banyak
orang dan melihat betapa dia sudah luka-luka, bukan tidak mungkin dia menjadi
mata gelap dan membunuhi para pengeroyoknya. Setelah membuat penilaian, Bagus
Seto lalu menggerakkan kakinya dan tubuhnya seperti melayang ke arah Harjadenta
yang sedang mengamuk.
"Tidak
perlu membunuhi orang, ki sanak!" katanya dan dengan tangannya dia
menangkis keris pusaka Harjadenta yang menyambar-nyambar mencari korban.
Harjadenta
terkejut sekali ketika ada orang menangkis keris pusakanya hanya dengan tangan
kosong saja. Akan tetapi karena orang itu tidak menyerangnya, maka diapun hanya
menghentikan amukannya dan memandang dengan heran. Dia melihat seorang pemuda
berpakaian serba putih yang kini dikeroyok banyak orang. Tentu para pengeroyok
itu mengira bahwa pemuda pakaian putih itu membantunya, maka mereka kini
mengayunkan senjata mereka untuk menyerang si pemuda pakaian putih. Melihat
betapa orang-orang itu meninggalkan pemuda yang mengamuk tadi dan kini mereka
menyerangnya, Bagus Seta lalu menggerakkan kedua tangannya seperti orang
mendorong dan mereka yang menyerbu ke arahnya itu terjengkang seperti daun-daun
kering ditiup angin. Tentu saja mereka terkejut dan belum tahu mengapa mereka
tiba-tiba terdorong ke belakang oleh tenaga yang amat kuatnya. Mereka bangkit
dan menyerang lagi. Kini Bagus Seto menggerakkan tangan seperti menampar dan
orang-orang itu berpelantingan keras. Kini mengertilah mereka bahwa mereka
berhadapan dengan seorang yang amat sakti, maka tanpa banyak bicara lagi mereka
lari tunggang langgang. Harjadenta melihat ini semua dan dia terbelalak kagum.
Diapun tahu bahwa pemuda berpakaian putih itu memiliki kadigdayaan yang luar
biasa, seorang sakti mandraguna. Akan tetapi karena pemuda itu kini memandang
ke arah pertempuran antara Suropekik dan wanita cantik itu, Harjadenta juga
memandang dan menonton pertandingan yang seru dan hebat itu. Dia semakin kagum.
Wanita itu bertangan kosong saja menandingi kolor di tangan Suropekik. Padahal
dia melihat wanita itu membawa sebatang pedang di punggungnya. Ia tidak mau
menggunakan pedang dan melawan dengan tangan kosong saja, berarti bahwa wanita
itu yakin akan mampu mengalahkan lawan! Dan apa yang dilihatnya memang
demikian. Suropekik berusaha untuk menghantamkan kolornya yang ampuh, namun
gadis itu dengan gerakan seperti seekor burung srikatan saja mengelak ke sana
sini, bahkan kadang ia berani menangkis pukulan kolor itu dengan tangannya! Dan
gadis itu membalas dengan tamparan-tamparan tangannya yang membuat Suropekik
menjadi repot untuk mengelak atau menangkis dengan kolornya. Menghadapi
tamparan-tamparan itu tampaknya Suropekik merasa jerih untuk menerimanya dengan
kekebalan tubuhnya. Memang demikianlah. Tadi Suropekik mengandalkan kekebalan
tubuhnya, menerima tamparan Retna Wilis dengan dadanya. Ia menganggap bahwa
pukulan seorang gadis itu tentu tidak berapa kuat, maka dia menerima dengan
dadanya sambil mengerahkan tenaganya.
"Bukk ...
!" Tubuh Suropekik terjengkang dan hampir saja dia roboh, dadanya terasa
panas dan sesak. Dia menjadi marah dan mengamuk dengan kolornya, namun
senjatanya itu sama sekali tidak dapat menyentuh ujung baju Retna Wilis yang bergerak
dengan ilmu silat Pancaroba yang membuat tubuhnya bergerak demikian cepatnya
sehingga seringkali Suropekik kehilangan lawan. Dia secara ngawur hanya memutar
kolornya dan berputar-putar, mencoba menandingi kecepatan gerakan Retna Wilis
dengan putaran kolornya.
Retna Wilis
kini bergerak mengitari lawan dan memaksa Suropekik juga berputaran. Karena
sejak tadi Suropekik mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggerakkan kolornya
dan dia harus berputar-putar, lama kelamaan pandang matanya berkunang dan kepalanya
menjadi pusing. Melihat keadaan lawan sudah mulai mengendur gerakan kolornya,
Retna Wilis menggerakkan kakinya menendang. Lutut Suropekik disentuh ujung kaki
dara perkasa itu, membuat dia hampir roboh dan lutut kanannya ditekuk, dan pada
saat itu, sebuah tamparan tangan kiri Retna Wilis hinggap di dagunya.
"Dess ...
!!" Tubuh raksasa itu berputar dan diapun roboh terpelanting, kepalanya
berdenyut nyeri dan dadanya sesak, akan tetapi karena dia memang kuat dan
kebal, Suropekik sudah dapat bangkit kembali. Dia menggoyang-goyang kepalanya
untuk mengusir kepeningannya dan kedua matanya yang besar berubah merah. Dia
marah sekali. Biarpun dia melihat betapa semua anak buahnya sudah melarikan
diri, dia tetap nekat. Dia tidak percaya bahwa dia dikalahkan oleh seorang dara
yang bertangan kosong! Dia tidak dapat menerima kenyataan ini. Dia bangkit
berdiri mengerahkan aji yang dimilikinya sehingga tangan yang memegang kolor
itu seperti menggigil, mulutnya mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang
buas dan dia mengayun kolornya ke atas kepala, lalu menerjang maju sambil
menghantamkan kolornya.
"Darr ...
!" Retna Wilis menggunakan kedua tangan untuk menyambut hantaman kolor itu
dengan pukulan jarak jauh dan begitu terdengar kolor itu meledak seperti sebuah
cambuk, Suropekik roboh! Dia masih memegangi kolornya, akan tetapi dari
mulutnya muntah darah segar, tanda bahwa dia telah terluka parah di sebelah
dalam tubuhnya akibat benturan tenaganya dengan tenaga sakti dara itu.
"Pergilah
kalau engkau tidak ingin mati!" kata Retna Wilis yang merasa penasaran
juga melihat kenekatan orang tinggi besar itu.
Kini Suropekik
benar-benar yakin bahwa dia tidak akan mampu menandingi dara itu, maka dengan
lemah dia bangkit berdiri, memandang kepada Retna Wilis dengan mata mencorong,
kemudian dia membalikkan tubuhnya dan terhuyung-huyung pergi tanpa menengok
lagi.
Harjadenta
yang menonton pertandingan itu, menjadi kagum bukan main. Dia yang menggunakan
keris pusakanya saja tidak mampu mengalahkan Suropekik, akan tetapi dara itu dengan
bertangan kosong saja dapat mengalahkan raksasa itu hanya dalam pertempuran
yang pendek. Tahulah dia bahwa dara itu, dan juga pemuda berpakaian putih
seperti juga pakaian dara itu, keduanya adalah orang-orang yang memiliki
kesaktian hebat. Maka dia lalu menghampiri mereka sambil membungkuk-bungkuk
memberi hormat.
"Banyak
terima kasih saya ucapkan atas pertolongan andika berdua," katanya sambil
menatap wajah mereka.
"Kalau
andika berdua tidak datang membantu, tentu aku sudah mati dikeroyok
mereka."
"Tidak
perlu berterima kasih, sobat. Kita semua hanya melaksanakan tugas-kewajiban
kita saja secara wajar. Andika juga telah menyelamatkan keluarga Ki
Dirun."
"Nama
saya Harjadenta. Bolehkah saya mengetahui nama andika berdua yang
terhormat?"
Bagus Seta
tersenyum.
"Namaku
Bagus Seta dan ini adalah adikku bernama Retna Wilis. Kami datang dari Panjalu.
Dan andika datang dari manakah?"
"Saya
datang dari Gunung Raung, hendak mencari seseorang... barangkali andika berdua
dapat membantu saya. Saya sedang mencari seorang wanita yang telah mencuri
keris pusaka guru saya. Apakah andika berdua mengetahui seorang wanita cantik
yang sakti, yang mencuri Pusaka Carubuk milik guru saya?" Harjadenta
menatap tajam wajah Retna Wilis untuk melihat perubahan pada wajah itu. Akan tetapi
Retno Wilis tidak bereaksi apa-apa terhadap ucapan itu, bahkan ia lalu berkata.
"Kita
tidak boleh berhenti sampai di sini saja! Demang keparat itu harus dihajar agar
jera memaksa gadis menjadi selirnya. Hayo kakang, kita cari Demang jahanam
itu!"
"Terserah
kepadamu, diajeng. Akan tetapi aku pesan agar engkau membatasi diri, jangan
membunuh orang."
"Tadinya
saya memang berniat untuk memberi hajaran kepada Demang itu, akan tetapi
melihat dia mempunyai begitu banyak tukang pukul, tentu saja saya tidak berdaya.
Sekarang setelah andika berdua muncul, saya akan membantu andika berdua memberi
hajaran kepada Demang dan anak buahnya yang jahat dan sewenang-wenang
itu." kata Harjadenta.
"Adimas
Harjadenta, engkau telah terluka. Lihat, paha dan pundakmu masih berdarah.
Engkau perlu merawat diri dan mengobati lukamu. Biar urusan dengan Demang ini
dirampungkan oleh diajeng Retna Wilis."
<<< Bagian 21 Bagian 23 >>>
No comments:
Post a Comment