Sepasang Garuda Putih ; Bagian 23


"Hanya luka kecil saja, kakangmas Bagus Seta. Tidak semestinya kalau diajeng Retna Wilis melakukan tugas itu seorang diri saja. Biar aku membantu kalian."
"Marilah kita pergi. Kakangmas Harjadenta, apakah engkau sudah mengetahui di mana letak rumah Demang jahanam itu?"
"Aku sendiri belum pernah ke sana. Akan tetapi mudah saja. Kita tanya kepada penduduk, tentu mereka semua mengetahuinya."

Mereka bertiga lalu keluar dari pekarangan rumah Ki Dirun itu. Cuaca sudah mulai gelap ketika mereka bertanya kepada seorang dusun di mana rumah Demang dan segera menuju ke tempat itu. Rumah itu paling besar di dusun Grobokan. Pekarangannya juga luas dan ketika mereka bertiga tiba di pekarangan itu, sedikitnya duapuluh orang segera mengepung mereka. Selain penerangan dari lampu-lampu yang tergantung di luar rumah, juga di antara mereka ada yang membawa obor sehingga tempat menjadi terang seperti siang. Bagus Seta yang melihat para tukang pukul itu mengepung, segera maju dan berkata dengan suara lantang namun lembut.
"Saudara sekalian! Kami datang untuk bertemu dengan Ki Demang! Minta dia keluar menemui kami dan harap saudara sekalian mundur. Kami tidak ingin berkelahi dengan kalian!"
Para tukang pukul itu memang sudah merasa jerih. Di antara mereka terdapat orang-orang yang tadi membantu Suropekik dan mereka sudah mengetahui bahwa tiga orang muda itu memiliki kesaktian. Akan tetapi untuk mundur merekapun takut akan kemarahan Ki Demang, maka mereka semua hanya ragu-ragu dan tetap mengepung, biar pun tidak ada yang berani turun tangan menyerang.
"Kakangmas, aku khawatir kalau demang itu akan melarikan diri melalui pintu belakang. Biar aku menangkapnya dan membawanya keluar," kata Retna Wilis kepada kakaknya.
Bagus Seta mengangguk dan sekali berkelebat, gadis itu lenyap dari situ. Para pengepung hanya melihat berkelebatnya bayangan orang, tidak tahu bahwa yang berkelebat itu adalah dara perkasa yang telah melompat di atas kepala mereka. Retna Wilis terus masuk ke dalam gedung. Ketika tiba di ruangan belakang, ia melihat seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun sedang hendak melarikan diri. Tangan kirinya membawa sebuah buntalan kain dan tangan kanannya memegang sebatang tombak. Dari pakaiannya saja Retna Wilis dapat menduga bahwa orang itu tentulah demang dusun Grobokan itu. Ia lalu membentak nyaring.
"Engkau tentu Demang Grobokan keparat itu! Hendak lari kemana kau?"

Orang itu memang Demang Grobokan. Kepala dusun yang kaya raya ini memang seorang yang mata keranjang, mengandalkan kekuasaannya untuk merampas wanita yang disukainya. Tidak perduli gadis, janda atau bahkan yang sudah bersuami, kalau menimbulkan seleranya, tentu akan dimintanya dengan halus maupun kasar. Dia memiliki kurang lebih tigapuluh orang anak buah atau tukang pukul yang sekarang berada di pekarangan mengepung Bagus Seto dan Harjadenta. Ketika melihat seorang gadis cantik tahu-tahu berada di depannya, demang itu terkejut sekali. Dia memang sudah dilapori anak buahnya betapa anak buahnya kocar kacir diamuk oleh dua orang pemuda dan seorang gadis cantik yang digdaya. Kini melihat gadis itu datang membentaknya, dia dapat menduga bahwa ini tentu gadis yang dimaksudkan anak buahnya. Tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyerang dengan tombaknya. Tombak yang runcing itu dengan tepat sekali meluncur dan menusuk ke arah perut Retna Wilis! Akan tetapi dengan sigap Retna Wilis miringkan tubuhnya dan menangkap tombak itu dengan tangan kanannya kemudian sekali tarik tombak itu telah pindah ke tangannya. Ia lalu menekuk gagang tombak dengan kedua tangan.
"Trakkk ... !" Gagang tombak itu patah di tengah-tengahnya.
Melihat ini, Demang Grobokan terkejut dan ketakutan. Dia meloncat untuk berlari pergi, akan tetapi kaki Retna Wilis menyambar, menendang lututnya dan Demang Grobokan jatuh menelungkup, buntalan di tangan kirinya terlepas dan isinya tercecer. Kiranya buntalan itu berisi banyak perhiasan emas permata! Retna Wilis sudah melangkah maju dan menginjak punggung Demang Grobokan,
"Apakah engkau masih akan berani melawan?" bentak Retna Wilis sambil mengerahkan tenaga pada kakinya yang menginjak punggung.
"Uhhh ... hekkkkk ... uhhh, ampunkan saya ... !" Demang itu terengah-engah dan mengeluh.
Retna Wilis sebetulnya marah sekali kepada orang itu. Kalau saja ia tidak mendapat peringatan dari kakaknya tadi agar jangan membunuh orang, tentu ia sudah menginjak pecah dada Demang Grobokan. Ia melepaskan kakinya. Demang Grobokan merangkak untuk bangkit, akan tetapi kaki kiri Retna Wilis menyambar lehernya dan dia roboh kembali sambil merintih kesakitan. Ketika tiga kali dia mencoba bangkit selalu disambut tendangan kaki gadis itu yang membuat pipinya bengkak-bengkak dan kepala seperti pecah rasanya, dia tidak berani bangkit kembali, dan tetap menelungkup sambil mengeluarkan rintihan menangis.
Retna Wilis merasa sudah cukup memberi hajaran. Ia tadi memang sengaja menghajar Demang itu.
"Hayo bangkit!” bentaknya dan Demang Grobokan dengan ketakutan, wajahnya bengkak-bengkak dan mukanya pucat tubuhnya menggigil bangkit dan terhuyung.
"Hayo keluar!" Retno Wilis mendorongnya dan Demang Grobokan dengan rasa takut sekali melangkah keluar.
"Perintahkan tukang-tukang pukulmu untuk mundur semua!"

Melihat di luar semua tukang pukulnya mengepung dua orang pemuda akan tetapi mereka tidak berani bergerak itu, Demang Grobokan lalu berteriak dengan suara gemetar,
"Kalian semua mundurlah. Mundur dan jangan turun tangan!"
Biarpun tidak dilarang oleh Demang Grobokan, para tukang pukul itu memang sudah tidak berani berkutik. Kini mendengar perintah majikan mereka, semua tukang pukul lalu mundur dan hanya menonton dari jauh.
"Hei, kalian anak buah Demang Grobokan. Cepat perintahkan semua penduduk Grobokan untuk berkumpul di sini. Cepat !!"
Tigapuluh orang itu lalu berpencar dan cepat mereka memanggil para penduduk Grobokan untuk berkumpul di pekarangan rumah Demang Grobokan. Para penduduk dusun itu berbondong-bondong datang di tempat itu.
"Ampunkan saya, den ajeng... !” Demang Grobokan minta ampun sambil berlutut dan menyembah-nyembah.
"Diam kau! Kita tunggu sampai semua penduduk berkumpul di sini!" kata Retno Wilis.
Bagus Seta hanya tersenyum melihat sepak terjang adiknya dan Harjadenta memandang dengan sinar mata penuh kagum. Dia ingin sekali melihat apa yang akan dilakukan dara perkasa itu. Hatinya penuh kekaguman akan kehebatan sepak terjang Retna Wilis dan penuh pesona akan kecantikannya. Mimpipun belum pernah dia bertemu dengan seorang dara seperti itu! Kalau hanya mendengar cerita orang tentang seorang dara seperti Retna Wilis, tentu dia tidak akan percaya. Mana ada dara segagah dan sehebat itu? Namun Retna Wilis melampaui semua khayalnya.
Setelah pekarangan itu penuh penduduk dusun Grobokan dan tempat itu diterangi lampu dan obor-obor, Retna Wilis lalu berkata dengan suara lantang kepada para penduduk.
"Para paman, bibi dan saudara sekalian dengarlah baik-baik. Demang Grobokan ini telah mengakui bahwa dia telah melakukan perbuatan yang jahat, hendak merampas puteri Ki Dirun untuk dijadikan selirnya. Sekarang, Demang Grobokan ini telah mengakui kejahatannya, dan bertaubat, tidak akan melakukan kejahatan lagi di dusun ini. Kalian semua menjadi saksi, kalau sampai dia berani melakukan kejahatan lagi, lain kali kalau aku lewat di sini, aku tentu akan membunuhnya di depan kalian." Setelah berkata demikian, Retna Wilis berkata kepada Demang Grobokan yang masih duduk berlutut.
"Ki Demang, hayo kaukatakan sendiri kepada mereka semua bahwa engkau telah bertaubat dan tidak akan mengulangi semua perbuatanmu yang jahat. Engkau tidak akan mengerahkan para tukang pukulmu lagi untuk memaksa rakyat!"

Demang Grobokan yang telah hilang nyalinya sejak Suropekik meninggalkannya, apa lagi setelah dia dihajar keras oleh Retna Wilis, bangkit berdiri. Semua orang kini dapat melihat mukanya yang matang biru dan benjol-benjol, dan dengan suara lemah dia berkata.
"Saudara warga dusun Grobokan sekalian ... "
"Bicara yang keras!" bentak Retna Wilis.
Demang Grobokan lalu mengulang kata-katanya dengan suara yang keras.
"Saudara warga dusun Grobokan sekalian! Aku, Demang Grobokan, mengaku telah berbuat banyak kesalahan terhadap kalian. Akan tetapi aku telah menyadari kesalahanku, dan mulai saat ini, aku berjanji bahwa aku sudah bertaubat dan tidak akan mengulangi semua perbuatanku yang keliru. Kalau aku berbuat jahat lagi, biarlah Hyang Widhi akan memberi hukuman yang seberat-beratnya kepadaku!"
Retna Wilis merasa puas dengan ucapan itu, dan ia berkata,
"Ingat baik-baik, Ki Demang. Ucapanmu itu disaksikan semua warga dusun Grobokan, dan jangan kira aku hanya menggertak saja. Lain kali aku tentu akan lewat di sini untuk melihat apakah benar-benar engkau memenuhi janjimu. Awas, kalau engkau masih jahat, aku tidak akan memberi ampun lagi kepadamu!"
Demang Grobokan mengangguk-angguk.
"Aku tidak akan melanggar janji."
Retna Wilis lalu menoleh kepada kakaknya dan berkata,
"Kakang, mari kita pergi dari s ini!"
Akan tetapi Harjadenta menahan mereka berdua dan berkata,
"Malam telah tiba, andika berdua tidak mungkin melanjutkan perjalanan dalam kegelapan malam, rumah Ki Dirun sudah kosong ditinggal pergi penghuninya, kalau andika tidak berkeberatan, silakan menggunakan rumah itu. Tadinya aku juga mondok di rumah itu untuk semalam ini."
Bagus Seta mengangguk kepada adiknya,
"Kurasa sebaiknya begitu, diajeng. Melanjutkan perjalanan di waktu malam begini, apa lagi kalau jauh dari kota dan pedusunan, kita akan kemalaman di perjalanan."
Retna Wilis memandang kepada kakaknya, kemudian kepada Harjadenta, lalu berkata,
"Baiklah kalau begitu."

Mereka bertiga lalu meninggalkan tempat itu dan menuju ke rumah Ki Dirun. Baru saja mereka memasuki rumah itu, beberapa orang penduduk dusun Grobokan berdatangan membawa segala macam makanan dan minuman yang mereka punya, disuguhkan kepada tiga orang muda yang menggemparkan itu. Malam itu semua penduduk hampir tidak dapat pulas, dengan gembira membicarakan peristiwa sore tadi dan membayangkan betapa akan bahagia hidup mereka kalau Ki Demang benar-benar menyadari kesalahannya dan akan mengubah sikap hidupnya. Mereka semua akan merasa aman dan dapat bekerja dengan tenang dan sejahtera. Setelah makan hidangan yang disuguhkan para penduduk, tiga orang muda itu bercakap-cakap di ruangan depan.
"Adimas Harjadenta, andika tadi mengatakan bahwa andika mengejar seorang pencuri keris. Bagaimana sebetulnya duduk perkaranya dan siapakah guru andika itu?"
Retna Wilis juga memandang pemuda itu penuh perhatian karena diapun ingin mendengar riwayat pemuda tampan yang gagah perkasa itu. Harus diakui bahwa ia merasa tertarik kepada pemuda yang halus dan lembut tutur sapanya itu, yang dengan gagah berani menghadapi pengeroyokan banyak lawan. Tadipun Retna Wilis sudah mencarikan daun untuk mengobati luka-luka di pundak dan paha Harjadenta. Harjadenta menarik napas panjang dan mulai bercerita.
"Aku adalah seorang yatim piatu yang tidak mempunyai seorangpun keluarga lagi. Guruku adalah Empu Gandawijaya yang bertapa di Gunung Raung. Sejak aku berusia tigabelas tahun sampai kini, sudah sepuluh tahun lamanya aku diambil murid oleh Bapa Guru dan tinggal di lereng Gunung Raung bersamanya. Beberapa pekan yang lalu, Bapa Guru memanggilku dan memberi tahu bahwa dia telah kehilangan sebuah keris pusaka bernama Ki Carubuk yang katanya hilang dicuri seorang wanita sakti yang tidak diketahui namanya. Bapa Guru lalu mengutusku untuk pergi mengejar dan mencari pencuri itu, merampas kembali Ki Carubuk, baru diperbolehkan pulang ke Gunung Raung. Bapa Guru tidak banyak memberi petunjuk, hanya mengatakan bahwa pencuri itu seorang wanita sakti, pandai ilmu sihir dan guna-guna. Aku disuruh naik perahu sepanjang Kali Mayang menuju ke muaranya di Lautan Kidul. Ketika perjalananku tiba di Grobokan, aku singgah dan mencari tempat penginapan. Kebetulan aku bertemu Ki Dirun dan dia menerimaku menginap di rumahnya. Kemudian aku ketahui tentang urusannya dengan Ki Demang Grobokan itu dan aku lalu menolongnya." Harjadenta menceritakan tentang peristiwa itu, semula dia mengusir dua orang utusan Ki Demang, lalu datang lima orang tukang pukul yang dapat diusirnya pula.
"Tidak kusangka bahwa mereka itu masih belum mau menyerah, bahkan lalu datang bersama Suropekik, warok yang digdaya itu dan aku dikeroyok oleh dia dan belasan orang anak buahnya. Aku sudah kewalahan dan tentu aku sudah tewas kalau andika berdua tidak datang menolong. Sekarang tiba giliran kalian berdua. Bagaimana andika berdua dapat datang pada saat yang demikian cepatnya? Andika berdua datang dari manakah dan hendak ke mana?"

Bagus Seta memandang kepada adiknya dan berkata,
"Diajeng, engkau sajalah yang bercerita kepada dimas Harjadenta tentang diri kita."

<<< Bagian 22                                                                                         Bagian 24 >>>

No comments:

Post a Comment