"Hanya luka kecil saja, kakangmas Bagus Seta. Tidak semestinya kalau diajeng Retna Wilis melakukan tugas itu seorang diri saja. Biar aku membantu kalian."
"Marilah
kita pergi. Kakangmas Harjadenta, apakah engkau sudah mengetahui di mana letak
rumah Demang jahanam itu?"
"Aku
sendiri belum pernah ke sana. Akan tetapi mudah saja. Kita tanya kepada
penduduk, tentu mereka semua mengetahuinya."
Mereka bertiga
lalu keluar dari pekarangan rumah Ki Dirun itu. Cuaca sudah mulai gelap ketika
mereka bertanya kepada seorang dusun di mana rumah Demang dan segera menuju ke
tempat itu. Rumah itu paling besar di dusun Grobokan. Pekarangannya juga luas
dan ketika mereka bertiga tiba di pekarangan itu, sedikitnya duapuluh orang
segera mengepung mereka. Selain penerangan dari lampu-lampu yang tergantung di
luar rumah, juga di antara mereka ada yang membawa obor sehingga tempat menjadi
terang seperti siang. Bagus Seta yang melihat para tukang pukul itu mengepung,
segera maju dan berkata dengan suara lantang namun lembut.
"Saudara
sekalian! Kami datang untuk bertemu dengan Ki Demang! Minta dia keluar menemui
kami dan harap saudara sekalian mundur. Kami tidak ingin berkelahi dengan
kalian!"
Para tukang
pukul itu memang sudah merasa jerih. Di antara mereka terdapat orang-orang yang
tadi membantu Suropekik dan mereka sudah mengetahui bahwa tiga orang muda itu
memiliki kesaktian. Akan tetapi untuk mundur merekapun takut akan kemarahan Ki
Demang, maka mereka semua hanya ragu-ragu dan tetap mengepung, biar pun tidak
ada yang berani turun tangan menyerang.
"Kakangmas,
aku khawatir kalau demang itu akan melarikan diri melalui pintu belakang. Biar
aku menangkapnya dan membawanya keluar," kata Retna Wilis kepada kakaknya.
Bagus Seta
mengangguk dan sekali berkelebat, gadis itu lenyap dari situ. Para pengepung
hanya melihat berkelebatnya bayangan orang, tidak tahu bahwa yang berkelebat
itu adalah dara perkasa yang telah melompat di atas kepala mereka. Retna Wilis
terus masuk ke dalam gedung. Ketika tiba di ruangan belakang, ia melihat
seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun sedang hendak melarikan diri.
Tangan kirinya membawa sebuah buntalan kain dan tangan kanannya memegang
sebatang tombak. Dari pakaiannya saja Retna Wilis dapat menduga bahwa orang itu
tentulah demang dusun Grobokan itu. Ia lalu membentak nyaring.
"Engkau
tentu Demang Grobokan keparat itu! Hendak lari kemana kau?"
Orang itu
memang Demang Grobokan. Kepala dusun yang kaya raya ini memang seorang yang
mata keranjang, mengandalkan kekuasaannya untuk merampas wanita yang
disukainya. Tidak perduli gadis, janda atau bahkan yang sudah bersuami, kalau
menimbulkan seleranya, tentu akan dimintanya dengan halus maupun kasar. Dia memiliki
kurang lebih tigapuluh orang anak buah atau tukang pukul yang sekarang berada
di pekarangan mengepung Bagus Seto dan Harjadenta. Ketika melihat seorang gadis
cantik tahu-tahu berada di depannya, demang itu terkejut sekali. Dia memang
sudah dilapori anak buahnya betapa anak buahnya kocar kacir diamuk oleh dua
orang pemuda dan seorang gadis cantik yang digdaya. Kini melihat gadis itu
datang membentaknya, dia dapat menduga bahwa ini tentu gadis yang dimaksudkan
anak buahnya. Tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyerang dengan tombaknya.
Tombak yang runcing itu dengan tepat sekali meluncur dan menusuk ke arah perut
Retna Wilis! Akan tetapi dengan sigap Retna Wilis miringkan tubuhnya dan
menangkap tombak itu dengan tangan kanannya kemudian sekali tarik tombak itu
telah pindah ke tangannya. Ia lalu menekuk gagang tombak dengan kedua tangan.
"Trakkk
... !" Gagang tombak itu patah di tengah-tengahnya.
Melihat ini,
Demang Grobokan terkejut dan ketakutan. Dia meloncat untuk berlari pergi, akan
tetapi kaki Retna Wilis menyambar, menendang lututnya dan Demang Grobokan jatuh
menelungkup, buntalan di tangan kirinya terlepas dan isinya tercecer. Kiranya
buntalan itu berisi banyak perhiasan emas permata! Retna Wilis sudah melangkah
maju dan menginjak punggung Demang Grobokan,
"Apakah
engkau masih akan berani melawan?" bentak Retna Wilis sambil mengerahkan
tenaga pada kakinya yang menginjak punggung.
"Uhhh ...
hekkkkk ... uhhh, ampunkan saya ... !" Demang itu terengah-engah dan
mengeluh.
Retna Wilis
sebetulnya marah sekali kepada orang itu. Kalau saja ia tidak mendapat
peringatan dari kakaknya tadi agar jangan membunuh orang, tentu ia sudah
menginjak pecah dada Demang Grobokan. Ia melepaskan kakinya. Demang Grobokan
merangkak untuk bangkit, akan tetapi kaki kiri Retna Wilis menyambar lehernya
dan dia roboh kembali sambil merintih kesakitan. Ketika tiga kali dia mencoba
bangkit selalu disambut tendangan kaki gadis itu yang membuat pipinya
bengkak-bengkak dan kepala seperti pecah rasanya, dia tidak berani bangkit
kembali, dan tetap menelungkup sambil mengeluarkan rintihan menangis.
Retna Wilis
merasa sudah cukup memberi hajaran. Ia tadi memang sengaja menghajar Demang
itu.
"Hayo
bangkit!” bentaknya dan Demang Grobokan dengan ketakutan, wajahnya
bengkak-bengkak dan mukanya pucat tubuhnya menggigil bangkit dan terhuyung.
"Hayo
keluar!" Retno Wilis mendorongnya dan Demang Grobokan dengan rasa takut
sekali melangkah keluar.
"Perintahkan
tukang-tukang pukulmu untuk mundur semua!"
Melihat di
luar semua tukang pukulnya mengepung dua orang pemuda akan tetapi mereka tidak
berani bergerak itu, Demang Grobokan lalu berteriak dengan suara gemetar,
"Kalian
semua mundurlah. Mundur dan jangan turun tangan!"
Biarpun tidak
dilarang oleh Demang Grobokan, para tukang pukul itu memang sudah tidak berani
berkutik. Kini mendengar perintah majikan mereka, semua tukang pukul lalu
mundur dan hanya menonton dari jauh.
"Hei,
kalian anak buah Demang Grobokan. Cepat perintahkan semua penduduk Grobokan
untuk berkumpul di sini. Cepat !!"
Tigapuluh
orang itu lalu berpencar dan cepat mereka memanggil para penduduk Grobokan
untuk berkumpul di pekarangan rumah Demang Grobokan. Para penduduk dusun itu
berbondong-bondong datang di tempat itu.
"Ampunkan
saya, den ajeng... !” Demang Grobokan minta ampun sambil berlutut dan
menyembah-nyembah.
"Diam
kau! Kita tunggu sampai semua penduduk berkumpul di sini!" kata Retno
Wilis.
Bagus Seta
hanya tersenyum melihat sepak terjang adiknya dan Harjadenta memandang dengan
sinar mata penuh kagum. Dia ingin sekali melihat apa yang akan dilakukan dara
perkasa itu. Hatinya penuh kekaguman akan kehebatan sepak terjang Retna Wilis
dan penuh pesona akan kecantikannya. Mimpipun belum pernah dia bertemu dengan
seorang dara seperti itu! Kalau hanya mendengar cerita orang tentang seorang
dara seperti Retna Wilis, tentu dia tidak akan percaya. Mana ada dara segagah
dan sehebat itu? Namun Retna Wilis melampaui semua khayalnya.
Setelah
pekarangan itu penuh penduduk dusun Grobokan dan tempat itu diterangi lampu dan
obor-obor, Retna Wilis lalu berkata dengan suara lantang kepada para penduduk.
"Para
paman, bibi dan saudara sekalian dengarlah baik-baik. Demang Grobokan ini telah
mengakui bahwa dia telah melakukan perbuatan yang jahat, hendak merampas puteri
Ki Dirun untuk dijadikan selirnya. Sekarang, Demang Grobokan ini telah mengakui
kejahatannya, dan bertaubat, tidak akan melakukan kejahatan lagi di dusun ini.
Kalian semua menjadi saksi, kalau sampai dia berani melakukan kejahatan lagi,
lain kali kalau aku lewat di sini, aku tentu akan membunuhnya di depan
kalian." Setelah berkata demikian, Retna Wilis berkata kepada Demang
Grobokan yang masih duduk berlutut.
"Ki
Demang, hayo kaukatakan sendiri kepada mereka semua bahwa engkau telah
bertaubat dan tidak akan mengulangi semua perbuatanmu yang jahat. Engkau tidak
akan mengerahkan para tukang pukulmu lagi untuk memaksa rakyat!"
Demang
Grobokan yang telah hilang nyalinya sejak Suropekik meninggalkannya, apa lagi
setelah dia dihajar keras oleh Retna Wilis, bangkit berdiri. Semua orang kini
dapat melihat mukanya yang matang biru dan benjol-benjol, dan dengan suara
lemah dia berkata.
"Saudara
warga dusun Grobokan sekalian ... "
"Bicara
yang keras!" bentak Retna Wilis.
Demang
Grobokan lalu mengulang kata-katanya dengan suara yang keras.
"Saudara
warga dusun Grobokan sekalian! Aku, Demang Grobokan, mengaku telah berbuat
banyak kesalahan terhadap kalian. Akan tetapi aku telah menyadari kesalahanku,
dan mulai saat ini, aku berjanji bahwa aku sudah bertaubat dan tidak akan
mengulangi semua perbuatanku yang keliru. Kalau aku berbuat jahat lagi, biarlah
Hyang Widhi akan memberi hukuman yang seberat-beratnya kepadaku!"
Retna Wilis
merasa puas dengan ucapan itu, dan ia berkata,
"Ingat
baik-baik, Ki Demang. Ucapanmu itu disaksikan semua warga dusun Grobokan, dan
jangan kira aku hanya menggertak saja. Lain kali aku tentu akan lewat di sini
untuk melihat apakah benar-benar engkau memenuhi janjimu. Awas, kalau engkau
masih jahat, aku tidak akan memberi ampun lagi kepadamu!"
Demang
Grobokan mengangguk-angguk.
"Aku
tidak akan melanggar janji."
Retna Wilis
lalu menoleh kepada kakaknya dan berkata,
"Kakang,
mari kita pergi dari s ini!"
Akan tetapi
Harjadenta menahan mereka berdua dan berkata,
"Malam
telah tiba, andika berdua tidak mungkin melanjutkan perjalanan dalam kegelapan
malam, rumah Ki Dirun sudah kosong ditinggal pergi penghuninya, kalau andika
tidak berkeberatan, silakan menggunakan rumah itu. Tadinya aku juga mondok di
rumah itu untuk semalam ini."
Bagus Seta
mengangguk kepada adiknya,
"Kurasa
sebaiknya begitu, diajeng. Melanjutkan perjalanan di waktu malam begini, apa
lagi kalau jauh dari kota dan pedusunan, kita akan kemalaman di
perjalanan."
Retna Wilis
memandang kepada kakaknya, kemudian kepada Harjadenta, lalu berkata,
"Baiklah
kalau begitu."
Mereka bertiga
lalu meninggalkan tempat itu dan menuju ke rumah Ki Dirun. Baru saja mereka
memasuki rumah itu, beberapa orang penduduk dusun Grobokan berdatangan membawa
segala macam makanan dan minuman yang mereka punya, disuguhkan kepada tiga
orang muda yang menggemparkan itu. Malam itu semua penduduk hampir tidak dapat
pulas, dengan gembira membicarakan peristiwa sore tadi dan membayangkan betapa
akan bahagia hidup mereka kalau Ki Demang benar-benar menyadari kesalahannya
dan akan mengubah sikap hidupnya. Mereka semua akan merasa aman dan dapat
bekerja dengan tenang dan sejahtera. Setelah makan hidangan yang disuguhkan
para penduduk, tiga orang muda itu bercakap-cakap di ruangan depan.
"Adimas
Harjadenta, andika tadi mengatakan bahwa andika mengejar seorang pencuri keris.
Bagaimana sebetulnya duduk perkaranya dan siapakah guru andika itu?"
Retna Wilis
juga memandang pemuda itu penuh perhatian karena diapun ingin mendengar riwayat
pemuda tampan yang gagah perkasa itu. Harus diakui bahwa ia merasa tertarik
kepada pemuda yang halus dan lembut tutur sapanya itu, yang dengan gagah berani
menghadapi pengeroyokan banyak lawan. Tadipun Retna Wilis sudah mencarikan daun
untuk mengobati luka-luka di pundak dan paha Harjadenta. Harjadenta menarik
napas panjang dan mulai bercerita.
"Aku
adalah seorang yatim piatu yang tidak mempunyai seorangpun keluarga lagi.
Guruku adalah Empu Gandawijaya yang bertapa di Gunung Raung. Sejak aku berusia
tigabelas tahun sampai kini, sudah sepuluh tahun lamanya aku diambil murid oleh
Bapa Guru dan tinggal di lereng Gunung Raung bersamanya. Beberapa pekan yang
lalu, Bapa Guru memanggilku dan memberi tahu bahwa dia telah kehilangan sebuah
keris pusaka bernama Ki Carubuk yang katanya hilang dicuri seorang wanita sakti
yang tidak diketahui namanya. Bapa Guru lalu mengutusku untuk pergi mengejar
dan mencari pencuri itu, merampas kembali Ki Carubuk, baru diperbolehkan pulang
ke Gunung Raung. Bapa Guru tidak banyak memberi petunjuk, hanya mengatakan
bahwa pencuri itu seorang wanita sakti, pandai ilmu sihir dan guna-guna. Aku
disuruh naik perahu sepanjang Kali Mayang menuju ke muaranya di Lautan Kidul.
Ketika perjalananku tiba di Grobokan, aku singgah dan mencari tempat
penginapan. Kebetulan aku bertemu Ki Dirun dan dia menerimaku menginap di
rumahnya. Kemudian aku ketahui tentang urusannya dengan Ki Demang Grobokan itu
dan aku lalu menolongnya." Harjadenta menceritakan tentang peristiwa itu,
semula dia mengusir dua orang utusan Ki Demang, lalu datang lima orang tukang
pukul yang dapat diusirnya pula.
"Tidak kusangka
bahwa mereka itu masih belum mau menyerah, bahkan lalu datang bersama
Suropekik, warok yang digdaya itu dan aku dikeroyok oleh dia dan belasan orang
anak buahnya. Aku sudah kewalahan dan tentu aku sudah tewas kalau andika berdua
tidak datang menolong. Sekarang tiba giliran kalian berdua. Bagaimana andika
berdua dapat datang pada saat yang demikian cepatnya? Andika berdua datang dari
manakah dan hendak ke mana?"
Bagus Seta
memandang kepada adiknya dan berkata,
"Diajeng,
engkau sajalah yang bercerita kepada dimas Harjadenta tentang diri kita."
<<< Bagian 22 Bagian 24 >>>
No comments:
Post a Comment