Ni Dewi Durgomala ini kelihatan seperti berusia dua puluh tahun lebih saja. Wasi Siwamurti telah mendapat persetujuan dari Adipati Menak Sampar di Blambangan dan sekutunya, Adipati Martimpang dari Nusabarung untuk menyebar-luaskan agama Shiwa dan memecah-belah musuh-musuh mereka, Panjalu dan Jenggala melalui perpecahan agama. Dalam rangka penyebar-luasan agama Shiwa itulah maka dia memugar dan membangun kembali candi di Bulumanik, lalu mengganti candi itu menjadi candi Shiwa, Durga dan Kala! Arca ketiga dewadewi ini yang menghiasi candi baru itu. Untuk pembangunan candi yang membutuhkan tenaga banyak orang, Wasi Shiwamurti mendapat perkenan dari Demang Kebolinggo untuk mengerahkan tenaga warga Bulumanik. Terjadilah kekacauan di kota itu ketika Wasi Shiwamurti melakukan paksaan kepada para orang muda di Bulumanik untuk bekerja membantu pembangunan candi. Menurut berita angin, siapa berani menolak untuk membantu, oleh sang wasi dikutuk menjadi gila atau menderita penyakit parah yang mengakibatkan kematian. Berita ini didesas-desuskan orang sehingga penduduk dihinggapi perasaan takut dan tidak ada yang berani lagi menolak perintah untuk membantu pembangunan candi baru itu. Biarpun ada berita yang mengerikan itu, tetap saja ada yang berani menentang, perintah itu. Seorang di antara mereka adalah seorang pemuda bernama Sularko. Sularko adalah seorang pemuda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun yang berwajah tampan dan bertubuh tegap. Dia tinggal di sebuah rumah bersama ibunya yang sudah janda Mbok Rondo Gati dan seorang adik perempuannya yang sudah dewasa berusia delapan belas tahun bernama Sawitri. Seperti juga kakaknya yang tampan, Sawitri seorang gadis yang cantik manis, bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum. Sularko sudah mengetahui akan adanya pembangunan candi itu, dan diapun mendengar desas-desus akan bujukan yang melanda kaum muda di Bulumanik untuk membantu pembangunan candi itu. Bahkan kabarnya, mereka yang membantu pembangunan candi mendapat hadiah-hadiah yang menarik, sering diajak berpesta ria. Akan tetapi mereka yang menolak akan mendapat malapetaka. Dia sendiri menganggap ajakan membangun candi itu mencurigakan, karena walaupun tidak ada paksaan, akan tetapi yang menolak dikenakan kutukan yang membuatnya gila atau sakit. Ini sama saja dengan paksaan. Yang membuat dia tidak senang adalah berita bahwa mereka yang membantu kelompok pembangunan candi itu diajarkan untuk menganut agama baru itu yang katanya penuh dengan kesenangan sorga dunia! Sularko adalah seorang pemuda yang berwatak gagah dan dia pernah mempelajari kanuragan selama beberapa tahun sehingga dia menjadi seorang pemuda yang pemberani. Dia bekerja sebagai seorang nelayan yang juga mempunyai sedikit ladang untuk bertani. Setiap hari dia bekerja, kadang dibantu adiknya Sawitri yang cantik manis itu, kalau tidak menangkap ikan tentu menggarap ladangnya. Karena dia tekun dan rajin, maka kehidupan mereka bertiga dapat dibilang cukup.
Pada suatu
pagi yang cerah di waktu sinar matahari pagi menghidupkan segala sesuatu di
permukaan bumi, Sularko ditemani Sawitri sedang bekerja di ladangnya. Dia
sedang menanam benih jagung bersama Sawitri. Dia yang membuat lubang dengan
paculnya dan Sawitri memasukkan biji jagung kedalam lubang-lubang itu yang lalu
ditutupnya. Sularko bekerja dengan menanggalkan bajunya, hanya memakai celana
hitam yang sebatas bawah lutut, sedangkan Sawitri juga mengenakan pakaian
sederhana untuk bekerja di lading yang berlumpur itu. Namun, dengan pakaian
sederhana itu, kedua kakak beradik ini bahkan tampak elok dan wajar. Sularko
tampak perkasa dengan dadanya yang bidang berotot, sedangkan Sawitri tampak
lemah gemulai dan ayu dalam pakaiannya yang sederhana dan kainnya yang diangkat
sampai memperlihatkan betisnya yang memadi-bunting. Sambil bekerja ini, Sularko
bersenandung dan mereka berdua menikmati cahaya matahari yang hangat menyinari
tubuh mereka. Kepala mereka terlindung sebuah caping yang lebar. Sularko memang
pandai bertembang. Dia bersenandung tembang Kinanti dengan suara yang merdu dan
Sawitri dapat merasakan kedamaian dalam tembang itu. Betapa indahnya keadaan
seperti itu. Bekerja dengan hati dan tangan yang ringan, menikmati kehangatan
matahari dan kesegaran angin yang semilir. Perpaduan antara kehangatan dan
kesejukan yang memberi semangat dan kegembiraan hidup. Punggung dan dada
Sularko berkilauan karena keringat yang membasahi tubuhnya dan ayunan
cangkulnya mantap dan kuat. Sawitri mengikutinya sambil menaburkan benih jagung
dan tubuhnya membuat gerakan amat lenturnya ketika ia membungkuk-bungkuk
seperti itu.
Dua orang yang
lewat di jalan itu, kemudian memandang mereka dan datang menghampiri dan duduk
di pematang ladang adalah seorang wanita yang cantik dan pesolek, dan seorang
laki-laki yang tinggi besar dan bertampang menyeramkan. Walaupun wajahnya itu
termasuk gagah namun matanya yang lebar dan bersinar-sinar itu mendatangkan
kesan menyeramkan. Wanita itu cantik dan pesolek, kain yang dipakainya baru,
rambutnya tersisir rapi dan digelung bagus, mukanya putih karena bedak dan
diberi pemerah pipi dan bibir. Di lengan, jari dan lehernya terdapat perhiasan
yang indah, demikian pula telinganya memakai perhiasan yang gemerlapan. Yang
pria juga mengenakan pakaian baru, dengan baju terbuka sehingga nampak dadanya
yang lebar dan berbulu. Mereka bukan lain adalah Ki Shiwananda dan Ni Dewi
Durgornala, anak angkat dan murid Wasi Shiwamurti. Merekalah yang ditugaskan
oleh Wasi Shiwamurti untuk melaksanakan pemugaran dan pembangunan candi di
Bulumanik. Mereka pula yang membujuk para muda di dusun Bulumanik dan
sekitarnya untuk ikut membangun candi itu. Pada pagi hari itu, kebetulan mereka
lewat di jalan itu dan melihat Sularko dan Sawitri, mereka merasa kagum dan
tertarik sehingga mereka menghampiri dan duduk di pematang tegal itu. Sepasang
mata Ni Dewi Durgomala bersinar-sinar memandang ke arah Sularko yang
mencangkul, sedangkan sepasang mata lebar dari Ki Shiwananda juga seolah-olah
hendak menelan tubuh Sawitri dengan pandang matanya. Melihat Sularko dan
Sawitri, sikap dua orang itu seperti dua ekor singa yang memandang dua ekor
domba muda yang berdaging gemuk dan lunak. Air liur telah membasahi mulut
mereka dan beberapa kali Ni Dewi Durgomala menjilat bibir sendiri dengan
lidahnya yang merah. Sularko dan Sawitri yang sedang asyik bekerja itu akhirnya
merasa bahwa ada orang memandang mereka. Keduanya menghentikan pekerjaan
masing-masing, berdiri tegak dan menoleh ke arah dua orang itu. Keduanya
memandang heran, apalagi melihat bahwa dua orang itu berpakaian mewah dan
sedang mengamati mereka.
"Aduh
betapa sayangnya orang-orang muda yang elok harus bekerja keras memeras
keringat di lumpur yang kotor!" Terdengar Ni Dewi Durgomala berseru.
"Dan
gadis seayu itu sepatutnya berada di keputren!" kata pula Ki Shiwananda
dengan suaranya yang berat.
Sularko dan
Sawitri memandang heran dan Sularko bertanya,
"Apakah
andika berdua bicara kepada kami?"
"Duh
orang muda yang elok, siapa lagi kalau bukan kepada kalian kami bicara? Di sini
tidak ada orang lain. Aku hanya menyayangkan seorang pemuda seperti andika ini
bekerja keras di lumpur yang kotor," kata Ni Dewi Durgomala sambil
melempar senyum dan kerling yang memikat. Biarpun usianya sudah empatpuluh
tahun, wanita ini masih tampak cantik sekali dan masih muda seolah seorang
perawan berusia duapuluh tahun saja! Senyumnya memikat dan kerling matanya
sungguh tajam menggores kalbu.
Muka Sularko
berubah merah mendengar ucapan yang merayu itu, akan tetapi dia menjawab dengan
tegas.
"Kenapa
sayang bekerja di ladang? Lumpur ini sama sekali tidak kotor dan bekerja di
ladang merupakan pekerjaan yang bersih dan sehat!"
"Benar
sekali, wong bagus, akan tetapi pekerjaan seperti itu hanya pantas dilakukan
para petani yang kotor. Akan tetapi seorang muda yang elok seperti andika ini
sepantasnya memiliki pekerjaan yang lebih terhormat dan bersih."
"Misalnya
bekerja apa?" tanya Sularko penasaran.
"Misalnya
pekerjaan membangun candi yang suci. Andika tidak perlu bekerja keras cukup
kalau hanya mengawasi para pekerja mengangkut batu, atau membantu para seniman
pemahat arca dan hiasan candi."
Sularko
menggeleng kepalanya.
"Aku
tidak pandai memahat arca, juga adikku ini tidak pandai apa-apa kecuali bekerja
di ladang."
“Biarpun
begitu, kami dapat menerima andika berdua bekerja kepada kami. Kami dapat
mengajarkan sehingga engkau akan pandai memahat arca, dan adikmu dapat menjadi
seorang yang bekerja di dapur. Kalian akan mendapatkan pakaian baru yang indah,
pekerjaan tidak berat dan kalau malam ikut berpesta dengan kami. Kami
menjanjikan penghidupan yang penuh dengan kesenangan untuk kalian. Marilah
kalian tinggalkan ladang ini dan ikut bersama kami."
Sularko
menjadi tak senang hatinya. Wanita cantik genit itu seakan hendak memaksanya,
membujuk-bujuk dengan janji muluk. Dia sudah mendengar akan desas-desus bahwa
siapa menolak untuk diajak bekerja membangun candi akan dikutuk. Dia tidak
takut.
"Sudahlah,
harap andika tidak membujuk lagi. Bagaimanapun kami berdua tidak tertarik dan
tidak mau bekerja membangun candi. Kami adalah keluarga petani dan pekerjaan
kami di ladang atau di sungai," katanya dan dia mulai memegang gagang
paculnya pula.
Ki Shiwananda
mengerutkan alisnya yang tebal dan dia bangkit berdiri sambil menudingkan
telunjuknya kepada Sularko.
"Orang
muda, engkau sombong benar! Apakah engkau ingin hidupmu sengsara?"
Sularko
menunda pekerjaannya dan balas memandang,
"Kami
sudah berbahagia dengan kehidupan kami sebagai petani, kalau kami mengubah
pekerjaan kami membangun candi, tentu kami hidup sengsara!"
"Kau ...
kau ... !" Ki Shiwananda sudah menudingkan lagi telunjuknya, akan tetapi
Ni Dewi Durgomala cepat bangkit berdiri mencegah dia bicara lebih lanjut.
"Sudahlah,
biarkan mereka berpikir dulu. Eh, orang muda, biarlah kami memberi waktu kepada
kalian berdua untuk berpikir mempertimbangkan penawaran kami. Malam nanti kami
akan mengunjungi kalian di rumah kalian."
Sularko diam
saja dan melanjutkan pekerjaannya menggali lubang. Sawitri juga melanjutkan
pekerjaannya, membiarkan dua orang itu pergi meninggalkan tempat itu. Setelah
mereka pergi jauh, barulah Sawitri menghentikan pekerjaannya dan berkata kepada
Sularko.
"Kakang,
siapakah dua orang tadi?"
"Aku
sendiripun tidak mengenal mereka, Sawitri. Akan tetapi mendengar bujukan
mereka, kukira mereka adalah orang-orang yang mendirikan candi baru itu."
"Kakang,
aku takut melihat pandang mata mereka, terutama yang laki-laki tadi."
"Tidak
perlu takut, Sawitri. Mereka boleh saja membujuk dengan janji yang manis dan
muluk-muluk, akan tetapi kalau kita tidak mau, mereka tidak dapat memaksa
kita."
"Akan
tetapi aku tetap khawatir, kakang. Bukankah sebelum mereka pergi mereka mengatakan
bahwa malam nanti mereka akan datang mengunjungi kita?"
"Mereka
dapat berbuat apa? Jangan takut, aku akan melindungimu. Kalau mereka mengancam,
kita dapat memukul kentongan memanggil para penduduk untuk mengeroyok
mereka."
Biarpun
dihibur oleh kakaknya, tetap saja Sawitri merasa gelisah. Bayangan sepasang
mata Ki Shiwananda itu seperti terus mengikutinya dan ia merasa ngeri. Akan
tetapi gadis ini tidak mengeluarkan kata-kata lagi dan melanjutkan
pekerjaannya. Setelah hari menjadi sore dan mereka sudah menyelesaikan
pekerjaan mereka, kakak beradik itu pulang. Di tengah perjalanan, Sularko
memesan adiknya agar tidak menceritakan peristiwa kunjungan dua orang tadi
kepada ibu mereka. Dia khawatir kalau hal itu akan membuat ibu mereka gelisah.
Mbok Rondo Gati menyambut kedua anaknya dengan gembira. Setelah menyuruh mereka
mandi, ia lalu mengeluarkan hidangan makan malam yang sederhana untuk mereka.
Mereka bertiga lalu makan bersama dengan gembira. Bukan main lezatnya hidangan
sederhana itu bagi Sularko dan Sawitri yang sudah merasa lelah dan kelaparan
setelah sehari bekerja di ladang. Sejak sarapan pagi sebelum berangkat ke
ladang, mereka tidak makan apa-apa lagi sampai sore.
Malam itu
terang bulan. Malam yang indah karena bulan muncul sepenuhnya. Ramai suara
anak-anak yang bermain di pelataran rumah sambil berdendang. Suara banyak
anak-anak bertembang "ilir-ilir" terdengar mengalun dan mengandung
pengaruh aneh yang mendatangkan rasa haru. Malam Respati (Kamis malam) yang
indah akan tetapi juga menyeramkan. Bau kembang dan kemenyan dibakar menambah
keseraman malam itu. Telah terjadi kepercayaan umum bahwa pada malam Respati
seperti itu, para jin setan dan mahluk-mahluk halus lainnya keluar dari sarang
mereka untuk mandi sinar bulan purnama yang memperkuat tubuh halus mereka dan
berpesta sekenyangnya dalam asap kemenyan dan keharuman bunga setaman yang oleh
manusia memang dihidangkan untuk mereka. Setelah suara anak-anak bertembang
menghilang, tanda bahwa anak-anak itu telah memasuki rumah masing-masing dan
tidur, suasana menjadi hening. Keheningan yang menghanyutkan manusia dalam
lamunan yang ajaib. Suara burung malam kini menggantikan tembang anak-anak,
akan tetapi suara burung-burung hantu itu mendatangkan suasana yang mengerikan,
seolah-olah suara itu menjadi pertanda bahwa akan datang suatu malapetaka bagi
mereka yang mendengarnya. Tak lama kemudian, terdengar sayup-sayup suara
gamelan.
<<< Bagian 24 Bagian 26 >>>
No comments:
Post a Comment