Sepasang Garuda Putih ; Bagian 25


Ni Dewi Durgomala ini kelihatan seperti berusia dua puluh tahun lebih saja. Wasi Siwamurti telah mendapat persetujuan dari Adipati Menak Sampar di Blambangan dan sekutunya, Adipati Martimpang dari Nusabarung untuk menyebar-luaskan agama Shiwa dan memecah-belah musuh-musuh mereka, Panjalu dan Jenggala melalui perpecahan agama. Dalam rangka penyebar-luasan agama Shiwa itulah maka dia memugar dan membangun kembali candi di Bulumanik, lalu mengganti candi itu menjadi candi Shiwa, Durga dan Kala! Arca ketiga dewadewi ini yang menghiasi candi baru itu. Untuk pembangunan candi yang membutuhkan tenaga banyak orang, Wasi Shiwamurti mendapat perkenan dari Demang Kebolinggo untuk mengerahkan tenaga warga Bulumanik. Terjadilah kekacauan di kota itu ketika Wasi Shiwamurti melakukan paksaan kepada para orang muda di Bulumanik untuk bekerja membantu pembangunan candi. Menurut berita angin, siapa berani menolak untuk membantu, oleh sang wasi dikutuk menjadi gila atau menderita penyakit parah yang mengakibatkan kematian. Berita ini didesas-desuskan orang sehingga penduduk dihinggapi perasaan takut dan tidak ada yang berani lagi menolak perintah untuk membantu pembangunan candi baru itu. Biarpun ada berita yang mengerikan itu, tetap saja ada yang berani menentang, perintah itu. Seorang di antara mereka adalah seorang pemuda bernama Sularko. Sularko adalah seorang pemuda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun yang berwajah tampan dan bertubuh tegap. Dia tinggal di sebuah rumah bersama ibunya yang sudah janda Mbok Rondo Gati dan seorang adik perempuannya yang sudah dewasa berusia delapan belas tahun bernama Sawitri. Seperti juga kakaknya yang tampan, Sawitri seorang gadis yang cantik manis, bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum. Sularko sudah mengetahui akan adanya pembangunan candi itu, dan diapun mendengar desas-desus akan bujukan yang melanda kaum muda di Bulumanik untuk membantu pembangunan candi itu. Bahkan kabarnya, mereka yang membantu pembangunan candi mendapat hadiah-hadiah yang menarik, sering diajak berpesta ria. Akan tetapi mereka yang menolak akan mendapat malapetaka. Dia sendiri menganggap ajakan membangun candi itu mencurigakan, karena walaupun tidak ada paksaan, akan tetapi yang menolak dikenakan kutukan yang membuatnya gila atau sakit. Ini sama saja dengan paksaan. Yang membuat dia tidak senang adalah berita bahwa mereka yang membantu kelompok pembangunan candi itu diajarkan untuk menganut agama baru itu yang katanya penuh dengan kesenangan sorga dunia! Sularko adalah seorang pemuda yang berwatak gagah dan dia pernah mempelajari kanuragan selama beberapa tahun sehingga dia menjadi seorang pemuda yang pemberani. Dia bekerja sebagai seorang nelayan yang juga mempunyai sedikit ladang untuk bertani. Setiap hari dia bekerja, kadang dibantu adiknya Sawitri yang cantik manis itu, kalau tidak menangkap ikan tentu menggarap ladangnya. Karena dia tekun dan rajin, maka kehidupan mereka bertiga dapat dibilang cukup.

Pada suatu pagi yang cerah di waktu sinar matahari pagi menghidupkan segala sesuatu di permukaan bumi, Sularko ditemani Sawitri sedang bekerja di ladangnya. Dia sedang menanam benih jagung bersama Sawitri. Dia yang membuat lubang dengan paculnya dan Sawitri memasukkan biji jagung kedalam lubang-lubang itu yang lalu ditutupnya. Sularko bekerja dengan menanggalkan bajunya, hanya memakai celana hitam yang sebatas bawah lutut, sedangkan Sawitri juga mengenakan pakaian sederhana untuk bekerja di lading yang berlumpur itu. Namun, dengan pakaian sederhana itu, kedua kakak beradik ini bahkan tampak elok dan wajar. Sularko tampak perkasa dengan dadanya yang bidang berotot, sedangkan Sawitri tampak lemah gemulai dan ayu dalam pakaiannya yang sederhana dan kainnya yang diangkat sampai memperlihatkan betisnya yang memadi-bunting. Sambil bekerja ini, Sularko bersenandung dan mereka berdua menikmati cahaya matahari yang hangat menyinari tubuh mereka. Kepala mereka terlindung sebuah caping yang lebar. Sularko memang pandai bertembang. Dia bersenandung tembang Kinanti dengan suara yang merdu dan Sawitri dapat merasakan kedamaian dalam tembang itu. Betapa indahnya keadaan seperti itu. Bekerja dengan hati dan tangan yang ringan, menikmati kehangatan matahari dan kesegaran angin yang semilir. Perpaduan antara kehangatan dan kesejukan yang memberi semangat dan kegembiraan hidup. Punggung dan dada Sularko berkilauan karena keringat yang membasahi tubuhnya dan ayunan cangkulnya mantap dan kuat. Sawitri mengikutinya sambil menaburkan benih jagung dan tubuhnya membuat gerakan amat lenturnya ketika ia membungkuk-bungkuk seperti itu.
Dua orang yang lewat di jalan itu, kemudian memandang mereka dan datang menghampiri dan duduk di pematang ladang adalah seorang wanita yang cantik dan pesolek, dan seorang laki-laki yang tinggi besar dan bertampang menyeramkan. Walaupun wajahnya itu termasuk gagah namun matanya yang lebar dan bersinar-sinar itu mendatangkan kesan menyeramkan. Wanita itu cantik dan pesolek, kain yang dipakainya baru, rambutnya tersisir rapi dan digelung bagus, mukanya putih karena bedak dan diberi pemerah pipi dan bibir. Di lengan, jari dan lehernya terdapat perhiasan yang indah, demikian pula telinganya memakai perhiasan yang gemerlapan. Yang pria juga mengenakan pakaian baru, dengan baju terbuka sehingga nampak dadanya yang lebar dan berbulu. Mereka bukan lain adalah Ki Shiwananda dan Ni Dewi Durgornala, anak angkat dan murid Wasi Shiwamurti. Merekalah yang ditugaskan oleh Wasi Shiwamurti untuk melaksanakan pemugaran dan pembangunan candi di Bulumanik. Mereka pula yang membujuk para muda di dusun Bulumanik dan sekitarnya untuk ikut membangun candi itu. Pada pagi hari itu, kebetulan mereka lewat di jalan itu dan melihat Sularko dan Sawitri, mereka merasa kagum dan tertarik sehingga mereka menghampiri dan duduk di pematang tegal itu. Sepasang mata Ni Dewi Durgomala bersinar-sinar memandang ke arah Sularko yang mencangkul, sedangkan sepasang mata lebar dari Ki Shiwananda juga seolah-olah hendak menelan tubuh Sawitri dengan pandang matanya. Melihat Sularko dan Sawitri, sikap dua orang itu seperti dua ekor singa yang memandang dua ekor domba muda yang berdaging gemuk dan lunak. Air liur telah membasahi mulut mereka dan beberapa kali Ni Dewi Durgomala menjilat bibir sendiri dengan lidahnya yang merah. Sularko dan Sawitri yang sedang asyik bekerja itu akhirnya merasa bahwa ada orang memandang mereka. Keduanya menghentikan pekerjaan masing-masing, berdiri tegak dan menoleh ke arah dua orang itu. Keduanya memandang heran, apalagi melihat bahwa dua orang itu berpakaian mewah dan sedang mengamati mereka.
"Aduh betapa sayangnya orang-orang muda yang elok harus bekerja keras memeras keringat di lumpur yang kotor!" Terdengar Ni Dewi Durgomala berseru.
"Dan gadis seayu itu sepatutnya berada di keputren!" kata pula Ki Shiwananda dengan suaranya yang berat.
Sularko dan Sawitri memandang heran dan Sularko bertanya,
"Apakah andika berdua bicara kepada kami?"
"Duh orang muda yang elok, siapa lagi kalau bukan kepada kalian kami bicara? Di sini tidak ada orang lain. Aku hanya menyayangkan seorang pemuda seperti andika ini bekerja keras di lumpur yang kotor," kata Ni Dewi Durgomala sambil melempar senyum dan kerling yang memikat. Biarpun usianya sudah empatpuluh tahun, wanita ini masih tampak cantik sekali dan masih muda seolah seorang perawan berusia duapuluh tahun saja! Senyumnya memikat dan kerling matanya sungguh tajam menggores kalbu.

Muka Sularko berubah merah mendengar ucapan yang merayu itu, akan tetapi dia menjawab dengan tegas.
"Kenapa sayang bekerja di ladang? Lumpur ini sama sekali tidak kotor dan bekerja di ladang merupakan pekerjaan yang bersih dan sehat!"
"Benar sekali, wong bagus, akan tetapi pekerjaan seperti itu hanya pantas dilakukan para petani yang kotor. Akan tetapi seorang muda yang elok seperti andika ini sepantasnya memiliki pekerjaan yang lebih terhormat dan bersih."
"Misalnya bekerja apa?" tanya Sularko penasaran.
"Misalnya pekerjaan membangun candi yang suci. Andika tidak perlu bekerja keras cukup kalau hanya mengawasi para pekerja mengangkut batu, atau membantu para seniman pemahat arca dan hiasan candi."
Sularko menggeleng kepalanya.
"Aku tidak pandai memahat arca, juga adikku ini tidak pandai apa-apa kecuali bekerja di ladang."
“Biarpun begitu, kami dapat menerima andika berdua bekerja kepada kami. Kami dapat mengajarkan sehingga engkau akan pandai memahat arca, dan adikmu dapat menjadi seorang yang bekerja di dapur. Kalian akan mendapatkan pakaian baru yang indah, pekerjaan tidak berat dan kalau malam ikut berpesta dengan kami. Kami menjanjikan penghidupan yang penuh dengan kesenangan untuk kalian. Marilah kalian tinggalkan ladang ini dan ikut bersama kami."
Sularko menjadi tak senang hatinya. Wanita cantik genit itu seakan hendak memaksanya, membujuk-bujuk dengan janji muluk. Dia sudah mendengar akan desas-desus bahwa siapa menolak untuk diajak bekerja membangun candi akan dikutuk. Dia tidak takut.
"Sudahlah, harap andika tidak membujuk lagi. Bagaimanapun kami berdua tidak tertarik dan tidak mau bekerja membangun candi. Kami adalah keluarga petani dan pekerjaan kami di ladang atau di sungai," katanya dan dia mulai memegang gagang paculnya pula.
Ki Shiwananda mengerutkan alisnya yang tebal dan dia bangkit berdiri sambil menudingkan telunjuknya kepada Sularko.
"Orang muda, engkau sombong benar! Apakah engkau ingin hidupmu sengsara?"
Sularko menunda pekerjaannya dan balas memandang,
"Kami sudah berbahagia dengan kehidupan kami sebagai petani, kalau kami mengubah pekerjaan kami membangun candi, tentu kami hidup sengsara!"
"Kau ... kau ... !" Ki Shiwananda sudah menudingkan lagi telunjuknya, akan tetapi Ni Dewi Durgomala cepat bangkit berdiri mencegah dia bicara lebih lanjut.
"Sudahlah, biarkan mereka berpikir dulu. Eh, orang muda, biarlah kami memberi waktu kepada kalian berdua untuk berpikir mempertimbangkan penawaran kami. Malam nanti kami akan mengunjungi kalian di rumah kalian."

Sularko diam saja dan melanjutkan pekerjaannya menggali lubang. Sawitri juga melanjutkan pekerjaannya, membiarkan dua orang itu pergi meninggalkan tempat itu. Setelah mereka pergi jauh, barulah Sawitri menghentikan pekerjaannya dan berkata kepada Sularko.
"Kakang, siapakah dua orang tadi?"
"Aku sendiripun tidak mengenal mereka, Sawitri. Akan tetapi mendengar bujukan mereka, kukira mereka adalah orang-orang yang mendirikan candi baru itu."
"Kakang, aku takut melihat pandang mata mereka, terutama yang laki-laki tadi."
"Tidak perlu takut, Sawitri. Mereka boleh saja membujuk dengan janji yang manis dan muluk-muluk, akan tetapi kalau kita tidak mau, mereka tidak dapat memaksa kita."
"Akan tetapi aku tetap khawatir, kakang. Bukankah sebelum mereka pergi mereka mengatakan bahwa malam nanti mereka akan datang mengunjungi kita?"
"Mereka dapat berbuat apa? Jangan takut, aku akan melindungimu. Kalau mereka mengancam, kita dapat memukul kentongan memanggil para penduduk untuk mengeroyok mereka."
Biarpun dihibur oleh kakaknya, tetap saja Sawitri merasa gelisah. Bayangan sepasang mata Ki Shiwananda itu seperti terus mengikutinya dan ia merasa ngeri. Akan tetapi gadis ini tidak mengeluarkan kata-kata lagi dan melanjutkan pekerjaannya. Setelah hari menjadi sore dan mereka sudah menyelesaikan pekerjaan mereka, kakak beradik itu pulang. Di tengah perjalanan, Sularko memesan adiknya agar tidak menceritakan peristiwa kunjungan dua orang tadi kepada ibu mereka. Dia khawatir kalau hal itu akan membuat ibu mereka gelisah. Mbok Rondo Gati menyambut kedua anaknya dengan gembira. Setelah menyuruh mereka mandi, ia lalu mengeluarkan hidangan makan malam yang sederhana untuk mereka. Mereka bertiga lalu makan bersama dengan gembira. Bukan main lezatnya hidangan sederhana itu bagi Sularko dan Sawitri yang sudah merasa lelah dan kelaparan setelah sehari bekerja di ladang. Sejak sarapan pagi sebelum berangkat ke ladang, mereka tidak makan apa-apa lagi sampai sore.

Malam itu terang bulan. Malam yang indah karena bulan muncul sepenuhnya. Ramai suara anak-anak yang bermain di pelataran rumah sambil berdendang. Suara banyak anak-anak bertembang "ilir-ilir" terdengar mengalun dan mengandung pengaruh aneh yang mendatangkan rasa haru. Malam Respati (Kamis malam) yang indah akan tetapi juga menyeramkan. Bau kembang dan kemenyan dibakar menambah keseraman malam itu. Telah terjadi kepercayaan umum bahwa pada malam Respati seperti itu, para jin setan dan mahluk-mahluk halus lainnya keluar dari sarang mereka untuk mandi sinar bulan purnama yang memperkuat tubuh halus mereka dan berpesta sekenyangnya dalam asap kemenyan dan keharuman bunga setaman yang oleh manusia memang dihidangkan untuk mereka. Setelah suara anak-anak bertembang menghilang, tanda bahwa anak-anak itu telah memasuki rumah masing-masing dan tidur, suasana menjadi hening. Keheningan yang menghanyutkan manusia dalam lamunan yang ajaib. Suara burung malam kini menggantikan tembang anak-anak, akan tetapi suara burung-burung hantu itu mendatangkan suasana yang mengerikan, seolah-olah suara itu menjadi pertanda bahwa akan datang suatu malapetaka bagi mereka yang mendengarnya. Tak lama kemudian, terdengar sayup-sayup suara gamelan.

<<< Bagian 24                                                                                         Bagian 26 >>>

No comments:

Post a Comment