Suara ini
datangnya dari candi yang sedang dibangun. Tahulah para penduduk dusun
Bulumanik bahwa di candi itu diadakan pesta seperti yang sering diadakan tiap
Respati malam. Tidak ada penduduk yang berani menonton keramaian itu karena
pesta itu diadakan untuk para anggota khususnya. Di halaman depan candi itu
dibuat panggung dan diatas panggung inilah orang-orang itu mengadakan pesta
dengan iringan gamelan yang bertalu-talu. Biasanya, dalam pesta itu terjadi
pengangkatan anggota baru. Banyak sudah kaum muda, laki-laki dan perempuan yang
sudah masuk menjadi anggota agama baru penyembah Bathara Shiwa, Bathari Durgo,
dan Bathara Kala itu. Bukan hanya para anggauta agama baru yang berpesta, akan
tetapi juga mereka yang bekerja membangun candi itu. Para pekerja inipun
otomatis telah menjadi anggota mereka sehingga dalam waktu beberapa bulan saja
sudah ratusan orang yang menjadi anggota agama baru itu. Pesta ini selain untuk
memuja tiga dewa dewi itu, juga untuk memberi hiburan dan kesenangan kepada
para anggautanya. Di situ mereka diberi kesempatan untuk makan dan minum
sepuasnya, juga ikut berpesta pora mengumbar nafsu secara bebas dalam keadaan
mabok-mabokan. Sambil minum tuak (minuman keras dari pohon aren) mereka
berpesta pora dan diperbolehkan mencari pasangan masing-masing dan memuaskan
nafsu mereka dengan bebas.
Malam itu,
gamelan baru saja dibunyikan dan pesta belum dimulai. Biasanya pesta baru dimulai
kalau Ni Dewi Durgomala yang memimpin pesta itu sudah muncul bersama Ki
Shiwananda yang dianggap sebagai puteranya. Kalau kedua orang ini muncul,
barulah dilakukan sembahyangan untuk mengundang Wasi Shiwamurti yang dianggap
sebagai titisan Bathara Shiwa, yang datang pada setiap Respati malam di waktu
bulan sedang purnama. Hanya sebulan sekali Wasi Shiwamurti muncul di situ,
sekalian untuk memeriksa hasil pembangunan candi yang pada hari-hari biasa
dipimpin oleh Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda. Malam itu, Ni Dewi Durgomala
dan Ki Shiwananda belum muncul dan semua orang menantikan ke dua orang ini
karena kemunculan mereka berarti pesta pora dimulai. Sularko dan Sawitri juga
mendengar suara gamelan yang menggantikan suara tembang anak-anak tadi. Mereka
merasa heran mendengar gamelan itu yang mengingatkan mereka akan pertemuan
mereka dengan dua orang di ladang pagi tadi. Sawitri yang merasa gelisah, tidak
dapat tidur. Setelah ibunya pulas, ia keluar dari kamar dan dilihatnya kakaknya
juga belum tidur dan sedang duduk di ruangan depan. Ia lalu duduk pula di dekat
kakaknya.
"Engkau
belum tidur, Sawitri?"
Sawitri
menggeleng kepalanya.
"Engkau
juga belum kakang? Aku tidak dapat tidur, suara gamelan itu terdengar
mengerikan."
Biarpun
hatinya sendiri merasa tidak tenang, namun Sularko menghibur adiknya.
"Ah,
apanya yang mengerikan?
“Gamelan itu
adalah gamelan biasa, hanya lagunya yang asing bagi kita. Tidak ada yang
mengerikan. Tidurlah, Sawitri. Apakah ibu sudah tidur?"
"Sudah,
kakang. Justeru karena ibu sudah tidur dan aku belum, maka aku merasa seram dan
melihat engkau duduk di sini, aku lalu datang mencari kawan."
Sularko
tertawa.
"Ha-ha,
engkau penakut benar, Sawitri. Apakah yang kau takutkan?"
"Entahlah,
kakang. Aku seperti dapat firasat buruk, hatiku terasa berdebar tak menentu dan
sepasang mata laki-laki tinggi besar itu seperti mengikuti aku terus."
"Itu
hanya karena engkau membayangkan terus, Sawitri ..." Tiba-tiba Sularko
menghentikan kata-katanya dan dia memandang ke arah pintu depan. Terdengar
suara tawa lirih dari depan dan disusul suara seorang wanita yang merdu.
"Orang
muda yang bagus, aku telah datang. Bukakan pintu rumahnya."
Suara itu
segera disusul suara yang dalam dan berat,
"Perawan
ayu, aku datang menjemputmu, bukalah pintunya."
Sawitri menggigil
ketakutan dan ia lari mendekati kakaknya, bersembunyi di belakang tubuh
kakaknya.
"Kakang,
aku takut... "
Sularko adalah
seorang pemuda pemberani, walaupun dua suara itu membuat tengkuknya meremang,
namun dengan tabah dia lalu membentak ke arah luar,
"kalian
datang mau apa? Kami tidak membutuhkan kalian dan tidak ingin bertemu dengan
kalian. Kalian pergilah dari sini!"
"Orang
muda, namamu Sularko dan adikmu bernama Sawitri, bukan? Kami datang untuk
mengajak kalian bersenang-senang. Bukalah pintunya dan biarkan kami
bercakap-cakap dengan kalian."
"Tidak!
Kalian pergilah, atau kami akan berteriak agar semua orang datang mengeroyok
kalian!" kata pula Sularko, lalu dia melepaskan rangkulan Sawitri, yang
ketakutan untuk mengambil sebuah arit yang berada di sudut ruangan. Setelah
memegang arit, Sularko menjadi tabah.
Suara Ki
Shawananda terdengar pula.
"Bukalah
pintunya, atau kami terpaksa menjebolnya."
"Kalau
kalian berani menjebol pintu, kalian akan kubunuh!" Sularko berteriak,
penuh kemarahan dan tangannya memegang gagang arit dengan kuat. Sawitri masih
memegang lengan kakaknya dan bersembunyi di balik tubuh kakaknya.
Hening
sejenak, kemudian terdengar suara keras.
"Brakkkk...
!" Daun pintu rumah itu jebol dan pada saat kedua orang itu muncul,
Sawitri menjerit ketakutan.
Ni Dewi
Durgomala menggerakkan kedua tangannya ke atas seperti menggapai kepada kakak
beradik itu. Tiba-tiba saja Sularko dan Sawitri merasa tubuhnya lemas dan
kesadarannya hilang. Mereka berdua terkulai lemas, seolah kedua kaki mereka tidak
bertenaga lagi dan keduanya seperti terhuyung hendak jatuh. Pada saat itu Ni
Dewi Durgomala melompat ke depan dan merangkul tubuh Sularko, sedangkan Ki
Shiwananda juga memeluk tubuh Sawitri dara itu juga tidak sampai jatuh.
Kemudian mereka memanggul tubuh kakak beradik yang sudah terkulai lemas itu dan
membawanya keluar.
Pada saat itu,
Mbok Rondo Gati yang mendengar jeritan Sawitri tadi, terbangun dari tidurnya
dan tergopoh keluar kamar. Ia sempat melihat kedua orang anaknya dipanggul dua
orang yang tidak dikenalnya dan dibawa keluar. Tentu saja ia menjadi kaget dan
marah.
"Heii,
tahan! Apa yang terjadi dengan anak-anakku? Hendak kalian bawa ke mana
mereka?" Ia mengejar.
Ni Dewi
Durgomala membalikkan tubuhnya dan melihat seorang wanita setengah tua mengejar,
ia lalu mendorongkan tangan kirinya ke arah Mbok Rondo Gati. Bagaikan dilanda
angin yang amat kuat tubuh janda itu terjengkang dan roboh. Dadanya terasa
sesak dan ketika ia merangkak dan berhasil berdiri, kedua orang anaknya yang
dipanggul dua orang itu telah lenyap dari situ. Hanya angin malam saja yang
menerobos masuk melalui pintu yang telah jebol. Mbok Rondo Gati menjerit-jerit
dan menangis. Ketika para tetangga datang, ia hanya dapat mengatakan bahwa
kedua orang anaknya dibawa lari orang. Akan tetapi ia tidak dapat bercerita
dengan jelas bagaimana rupa orang-orang yang dikatakan menculik kedua orang
anaknya. Para tetangga menjadi ragu. Rasanya sukar dipercaya ada dua orang
dewasa diculik begitu saja oleh dua orang. Padahal mereka semua tahu bahwa
Sularko adalah seorang pemuda yang pemberani dan juga bukan pemuda lemah karena
pernah mempelajari kanuragan. Akan tetapi melihat daun pintu yang jebol mereka
juga merasa heran sekali. Para penduduk Bulumanik masih percaya sekali akan
tahyul, maka para tetangga Janda Mbok Gati itu segera menduga bahwa yang dapat
melakukan penculikan itu tentu sebangsa mahluk halus atau iblis. Mereka lalu
pulang dan bersembunyi di rumah masing-masing. Dalam malam Respati seperti itu
mereka semua percaya bahwa di luar banyak hantu dan setan gentayangan mencari
korban, dan mereka percaya bahwa yang mendatangi rumah Mbok Rondo Gati tentulah
sebangsa setan pula. Mbok Rondo Gati yang ditinggal pergi para tetangganya,
hanya dapat menangis. Ia sendiri juga ketakutan dan percaya bahwa dua orang
yang membawa pergi anak-anaknya tentulah sebangsa iblis. Buktinya, hanya dengan
gerakan tangan, wanita cantik yang memanggul tubuh Sularko membuat ia roboh
terjengkang, ia menangis akan tetapi tidak berani keluar untuk mencari kedua
orang anaknya. Sementara itu, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda membawa dua
orang muda itu ke dalam ruangan belakang candi. Ni Dewi Durgomala lalu
mencekoki Sularko dan Sawitri dengan secawan minuman yang telah diramu dan
dimantera sehingga kedua orang muda itu terbangun akan tetapi mereka seperti
orang mimpi. Mereka menurut saja apa yang dikehendaki dua orang itu dan ketika
mereka diajak keluar dari ruangan itu menuju ke panggung di halaman depan,
keduanya hanya menurut saja. Kemunculan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda
disambut dengan meriah, dengan sorak sorai.
Semua orang
bergembira karena kemunculan mereka ini menjadi pertanda bahwa pesta pora akan
segera dimulai. Ketika mereka melihat bahwa Sularko dan Sawitri, mereka yang
berasal dari Bulumanik mengenal mereka dan menjadi gembira sekali, menganggap
bahwa kedua orang muda itu sependapat dengan mereka dan mau masuk menjadi
anggauta agama baru dan malam ini tentu akan diadakan upacara penerimaan mereka
menjadi murid atau anggauta baru. Maka mereka bersorak dengan gembira.
Sedikitnya ada seratus orang anggauta agama baru itu berkumpul di situ. Mereka
adalah juga para pekerja yang membangun candi, dari para seniman pembuat arca
dan pemahat yang pandai, sampai kuli-kuli angkut batu dan pelaksana pekerjaan
berat lainnya. Pada malam pesta seperti itu mereka diperlakukan sama. Hal ini
yang menggembirakan mereka. Pada malam seperti itu biasanya mereka berpesta
pora, makan berlimpah ruah dan mereka diperbolehkan mengumbar nafsu mereka.
Para anggauta itu bukan hanya laki-laki, akan tetapi juga banyak perempuannya.
Kesemuanya masih muda-muda dan berkulit bersih. Bahkan banyak di antara mereka
yang tampan dan cantik. Di sudut panggung serombongan penabuh gamelan dan di
atas panggung itu tampak tiga kursi. Kursi yang tengah besar dan diukir indah,
sedangkan dua kursi yang mengapitnya lebih kecil dan lebih sederhana bentuknya.
Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda naik ke panggung bersama Sularko dan
Sawitri. Pemuda dan pemudi ini tampak seperti domba yang jinak. Kalau tadi mereka
baru dibawa dari rumah mereka, keduanya seperti kehilangan semangat dan lesu,
setelah diberi minum ramuan minuman seperti tuak itu, keduanya menjadi penurut
dan menaati semua perintah Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda. Mereka ikut
naik ke panggung dan ketika Ni Durgomala dan Ki Shiwananda duduk dikursi yang
mengapit kursi besar, Sularko dan Sawitri juga duduk di atas lantai panggung.
Malam itu
tidak seperti malam Respati lainnya. Pada malam Respati yang tidak disinari
bulan purnama, pesta itu dilakukan oleh para anggauta dan dipimpin oleh dua
orang tokoh agama baru itu. Akan tetapi, khusus diwaktu malam terang bulan
purnama, seperti pada bulan-bulan yang lalu, Wasi Shiwamurti sendiri akan
muncul dan memimpin upacara dan pesta. Para anggauta masih gaduh menyambut
munculnya Sularko dan Sawitri. Ni Dewi Durgomala lalu mengangkat tangannya ke
atas sambil berdiri dari kursinya, memberi isyarat agar semua orang diam tidak
membuat gaduh. Semua terdiam dan suasana menjadi hening, bahkan gamelan juga
dihentikan.
"Saudara-saudara
para anggota sekalian, anak-anakku yang berbahagia, seperti kalian dapat
melihat sendiri, malam ini ada seorang pemuda dan seorang pemudi masuk menjadi
anggauta kita. Dan pada malam hari ini, Sang Wasi Shiwamurti sebagai penjelmaan
Sang Hyang Bathara Shiwa akan hadir dan memimpin sendiri upacara penerimaan
murid dan pesta yang akan diadakan pada malam hari ini, untuk menyatakan syukur
bahwa pembangunan candi berjalan lancar dan hampir selesai. Sekarang diminta
kalian diam karena kami membutuhkan suasana hening untuk mengundang Yang Mulia
Sang Wasi Shiwamurti datang ke tengah-tengah kita.”
Seorang gadis
cantik yang memang menjadi pembantu Ni Dewi Durgomala naik ke panggung membawa
sebuah pedupaan di mana terdapat arang membara yang mengepulkan sedikit asap
putih. Setelah berjongkok di depan Ni Dewi Durgomala, gadis itu meletakkan
pedupaan di atasi lantai panggung. Ni Dewi Durgomala menerima sebungkus besar
kemenyan dari gadis itu dan ia memberi isyarat agar gadis itu mundur!
Hanya ada
Sularko dan Sawitri yang masih duduk bersimpuh di atas panggung depan Ni Dewi
Durgomala dan Ki Shawananda, duduk tak bergerak bagaikan telah menjadi arca. Ni
Dewi Durgomala lalu membaca doa seperti orang berkidung yang terdengar aneh,
makin lama semakin nyaring, kemudian ia mengambil kemenyan dan memasukkannya ke
dalam bara api dipedupaan. Asap putih yang tebal mengepul dari pedupaan, terus
kemenyan itu ditambah sambil membaca mantera dan asap yang mengepul semakin
tebal. Tercium bau harum yang menyeramkan dari asap itu. Semua orang
membelalakkan mata karena mereka maklum, seperti yang biasa dilakukan setiap
bulan purnama, Wasi Shiwamurti tentu akan datang memenuhi panggilan itu secara
luar biasa. Dan benar saja, tak lama kemudian tampak bayangan berkelebat dan muncullah
seorang kakek berjubah pendeta yang usianya sudah enampuluh lima tahun,
berjenggot dan berkumis putih, memegang sebatang tongkat yang gagangnya terukir
kepala naga, tahu-tahu telah duduk di atas kursi besar yang berada di tengah
sambil tersenyum! Ni Dewi Durgomala lalu menaburkan bunga mawar ke kaki Sang
Wasi, sambil memberi hormat dan Ki Shiwananda juga memberi hormat dengan
menyembah. Semua anggota memandang dengan kagum dan hormat disertai rasa takut
karena bagi mereka Wasi Shiwamurti adalah titisan Sang Hyang Shiwa sendiri.
<<< Bagian 25 Bagian 27 >>>
No comments:
Post a Comment