Sepasang Garuda Putih ; Bagian 26



Suara ini datangnya dari candi yang sedang dibangun. Tahulah para penduduk dusun Bulumanik bahwa di candi itu diadakan pesta seperti yang sering diadakan tiap Respati malam. Tidak ada penduduk yang berani menonton keramaian itu karena pesta itu diadakan untuk para anggota khususnya. Di halaman depan candi itu dibuat panggung dan diatas panggung inilah orang-orang itu mengadakan pesta dengan iringan gamelan yang bertalu-talu. Biasanya, dalam pesta itu terjadi pengangkatan anggota baru. Banyak sudah kaum muda, laki-laki dan perempuan yang sudah masuk menjadi anggota agama baru penyembah Bathara Shiwa, Bathari Durgo, dan Bathara Kala itu. Bukan hanya para anggauta agama baru yang berpesta, akan tetapi juga mereka yang bekerja membangun candi itu. Para pekerja inipun otomatis telah menjadi anggota mereka sehingga dalam waktu beberapa bulan saja sudah ratusan orang yang menjadi anggota agama baru itu. Pesta ini selain untuk memuja tiga dewa dewi itu, juga untuk memberi hiburan dan kesenangan kepada para anggautanya. Di situ mereka diberi kesempatan untuk makan dan minum sepuasnya, juga ikut berpesta pora mengumbar nafsu secara bebas dalam keadaan mabok-mabokan. Sambil minum tuak (minuman keras dari pohon aren) mereka berpesta pora dan diperbolehkan mencari pasangan masing-masing dan memuaskan nafsu mereka dengan bebas.

Malam itu, gamelan baru saja dibunyikan dan pesta belum dimulai. Biasanya pesta baru dimulai kalau Ni Dewi Durgomala yang memimpin pesta itu sudah muncul bersama Ki Shiwananda yang dianggap sebagai puteranya. Kalau kedua orang ini muncul, barulah dilakukan sembahyangan untuk mengundang Wasi Shiwamurti yang dianggap sebagai titisan Bathara Shiwa, yang datang pada setiap Respati malam di waktu bulan sedang purnama. Hanya sebulan sekali Wasi Shiwamurti muncul di situ, sekalian untuk memeriksa hasil pembangunan candi yang pada hari-hari biasa dipimpin oleh Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda. Malam itu, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda belum muncul dan semua orang menantikan ke dua orang ini karena kemunculan mereka berarti pesta pora dimulai. Sularko dan Sawitri juga mendengar suara gamelan yang menggantikan suara tembang anak-anak tadi. Mereka merasa heran mendengar gamelan itu yang mengingatkan mereka akan pertemuan mereka dengan dua orang di ladang pagi tadi. Sawitri yang merasa gelisah, tidak dapat tidur. Setelah ibunya pulas, ia keluar dari kamar dan dilihatnya kakaknya juga belum tidur dan sedang duduk di ruangan depan. Ia lalu duduk pula di dekat kakaknya.
"Engkau belum tidur, Sawitri?"

Sawitri menggeleng kepalanya.
"Engkau juga belum kakang? Aku tidak dapat tidur, suara gamelan itu terdengar mengerikan."
Biarpun hatinya sendiri merasa tidak tenang, namun Sularko menghibur adiknya.
"Ah, apanya yang mengerikan?
“Gamelan itu adalah gamelan biasa, hanya lagunya yang asing bagi kita. Tidak ada yang mengerikan. Tidurlah, Sawitri. Apakah ibu sudah tidur?"
"Sudah, kakang. Justeru karena ibu sudah tidur dan aku belum, maka aku merasa seram dan melihat engkau duduk di sini, aku lalu datang mencari kawan."
Sularko tertawa.
"Ha-ha, engkau penakut benar, Sawitri. Apakah yang kau takutkan?"
"Entahlah, kakang. Aku seperti dapat firasat buruk, hatiku terasa berdebar tak menentu dan sepasang mata laki-laki tinggi besar itu seperti mengikuti aku terus."
"Itu hanya karena engkau membayangkan terus, Sawitri ..." Tiba-tiba Sularko menghentikan kata-katanya dan dia memandang ke arah pintu depan. Terdengar suara tawa lirih dari depan dan disusul suara seorang wanita yang merdu.
"Orang muda yang bagus, aku telah datang. Bukakan pintu rumahnya."
Suara itu segera disusul suara yang dalam dan berat,
"Perawan ayu, aku datang menjemputmu, bukalah pintunya."
Sawitri menggigil ketakutan dan ia lari mendekati kakaknya, bersembunyi di belakang tubuh kakaknya.
"Kakang, aku takut... "
Sularko adalah seorang pemuda pemberani, walaupun dua suara itu membuat tengkuknya meremang, namun dengan tabah dia lalu membentak ke arah luar,
"kalian datang mau apa? Kami tidak membutuhkan kalian dan tidak ingin bertemu dengan kalian. Kalian pergilah dari sini!"
"Orang muda, namamu Sularko dan adikmu bernama Sawitri, bukan? Kami datang untuk mengajak kalian bersenang-senang. Bukalah pintunya dan biarkan kami bercakap-cakap dengan kalian."
"Tidak! Kalian pergilah, atau kami akan berteriak agar semua orang datang mengeroyok kalian!" kata pula Sularko, lalu dia melepaskan rangkulan Sawitri, yang ketakutan untuk mengambil sebuah arit yang berada di sudut ruangan. Setelah memegang arit, Sularko menjadi tabah.

Suara Ki Shawananda terdengar pula.
"Bukalah pintunya, atau kami terpaksa menjebolnya."
"Kalau kalian berani menjebol pintu, kalian akan kubunuh!" Sularko berteriak, penuh kemarahan dan tangannya memegang gagang arit dengan kuat. Sawitri masih memegang lengan kakaknya dan bersembunyi di balik tubuh kakaknya.
Hening sejenak, kemudian terdengar suara keras.
"Brakkkk... !" Daun pintu rumah itu jebol dan pada saat kedua orang itu muncul, Sawitri menjerit ketakutan.
Ni Dewi Durgomala menggerakkan kedua tangannya ke atas seperti menggapai kepada kakak beradik itu. Tiba-tiba saja Sularko dan Sawitri merasa tubuhnya lemas dan kesadarannya hilang. Mereka berdua terkulai lemas, seolah kedua kaki mereka tidak bertenaga lagi dan keduanya seperti terhuyung hendak jatuh. Pada saat itu Ni Dewi Durgomala melompat ke depan dan merangkul tubuh Sularko, sedangkan Ki Shiwananda juga memeluk tubuh Sawitri dara itu juga tidak sampai jatuh. Kemudian mereka memanggul tubuh kakak beradik yang sudah terkulai lemas itu dan membawanya keluar.
Pada saat itu, Mbok Rondo Gati yang mendengar jeritan Sawitri tadi, terbangun dari tidurnya dan tergopoh keluar kamar. Ia sempat melihat kedua orang anaknya dipanggul dua orang yang tidak dikenalnya dan dibawa keluar. Tentu saja ia menjadi kaget dan marah.
"Heii, tahan! Apa yang terjadi dengan anak-anakku? Hendak kalian bawa ke mana mereka?" Ia mengejar.
Ni Dewi Durgomala membalikkan tubuhnya dan melihat seorang wanita setengah tua mengejar, ia lalu mendorongkan tangan kirinya ke arah Mbok Rondo Gati. Bagaikan dilanda angin yang amat kuat tubuh janda itu terjengkang dan roboh. Dadanya terasa sesak dan ketika ia merangkak dan berhasil berdiri, kedua orang anaknya yang dipanggul dua orang itu telah lenyap dari situ. Hanya angin malam saja yang menerobos masuk melalui pintu yang telah jebol. Mbok Rondo Gati menjerit-jerit dan menangis. Ketika para tetangga datang, ia hanya dapat mengatakan bahwa kedua orang anaknya dibawa lari orang. Akan tetapi ia tidak dapat bercerita dengan jelas bagaimana rupa orang-orang yang dikatakan menculik kedua orang anaknya. Para tetangga menjadi ragu. Rasanya sukar dipercaya ada dua orang dewasa diculik begitu saja oleh dua orang. Padahal mereka semua tahu bahwa Sularko adalah seorang pemuda yang pemberani dan juga bukan pemuda lemah karena pernah mempelajari kanuragan. Akan tetapi melihat daun pintu yang jebol mereka juga merasa heran sekali. Para penduduk Bulumanik masih percaya sekali akan tahyul, maka para tetangga Janda Mbok Gati itu segera menduga bahwa yang dapat melakukan penculikan itu tentu sebangsa mahluk halus atau iblis. Mereka lalu pulang dan bersembunyi di rumah masing-masing. Dalam malam Respati seperti itu mereka semua percaya bahwa di luar banyak hantu dan setan gentayangan mencari korban, dan mereka percaya bahwa yang mendatangi rumah Mbok Rondo Gati tentulah sebangsa setan pula. Mbok Rondo Gati yang ditinggal pergi para tetangganya, hanya dapat menangis. Ia sendiri juga ketakutan dan percaya bahwa dua orang yang membawa pergi anak-anaknya tentulah sebangsa iblis. Buktinya, hanya dengan gerakan tangan, wanita cantik yang memanggul tubuh Sularko membuat ia roboh terjengkang, ia menangis akan tetapi tidak berani keluar untuk mencari kedua orang anaknya. Sementara itu, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda membawa dua orang muda itu ke dalam ruangan belakang candi. Ni Dewi Durgomala lalu mencekoki Sularko dan Sawitri dengan secawan minuman yang telah diramu dan dimantera sehingga kedua orang muda itu terbangun akan tetapi mereka seperti orang mimpi. Mereka menurut saja apa yang dikehendaki dua orang itu dan ketika mereka diajak keluar dari ruangan itu menuju ke panggung di halaman depan, keduanya hanya menurut saja. Kemunculan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda disambut dengan meriah, dengan sorak sorai.
Semua orang bergembira karena kemunculan mereka ini menjadi pertanda bahwa pesta pora akan segera dimulai. Ketika mereka melihat bahwa Sularko dan Sawitri, mereka yang berasal dari Bulumanik mengenal mereka dan menjadi gembira sekali, menganggap bahwa kedua orang muda itu sependapat dengan mereka dan mau masuk menjadi anggauta agama baru dan malam ini tentu akan diadakan upacara penerimaan mereka menjadi murid atau anggauta baru. Maka mereka bersorak dengan gembira. Sedikitnya ada seratus orang anggauta agama baru itu berkumpul di situ. Mereka adalah juga para pekerja yang membangun candi, dari para seniman pembuat arca dan pemahat yang pandai, sampai kuli-kuli angkut batu dan pelaksana pekerjaan berat lainnya. Pada malam pesta seperti itu mereka diperlakukan sama. Hal ini yang menggembirakan mereka. Pada malam seperti itu biasanya mereka berpesta pora, makan berlimpah ruah dan mereka diperbolehkan mengumbar nafsu mereka. Para anggauta itu bukan hanya laki-laki, akan tetapi juga banyak perempuannya. Kesemuanya masih muda-muda dan berkulit bersih. Bahkan banyak di antara mereka yang tampan dan cantik. Di sudut panggung serombongan penabuh gamelan dan di atas panggung itu tampak tiga kursi. Kursi yang tengah besar dan diukir indah, sedangkan dua kursi yang mengapitnya lebih kecil dan lebih sederhana bentuknya. Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda naik ke panggung bersama Sularko dan Sawitri. Pemuda dan pemudi ini tampak seperti domba yang jinak. Kalau tadi mereka baru dibawa dari rumah mereka, keduanya seperti kehilangan semangat dan lesu, setelah diberi minum ramuan minuman seperti tuak itu, keduanya menjadi penurut dan menaati semua perintah Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda. Mereka ikut naik ke panggung dan ketika Ni Durgomala dan Ki Shiwananda duduk dikursi yang mengapit kursi besar, Sularko dan Sawitri juga duduk di atas lantai panggung.

Malam itu tidak seperti malam Respati lainnya. Pada malam Respati yang tidak disinari bulan purnama, pesta itu dilakukan oleh para anggauta dan dipimpin oleh dua orang tokoh agama baru itu. Akan tetapi, khusus diwaktu malam terang bulan purnama, seperti pada bulan-bulan yang lalu, Wasi Shiwamurti sendiri akan muncul dan memimpin upacara dan pesta. Para anggauta masih gaduh menyambut munculnya Sularko dan Sawitri. Ni Dewi Durgomala lalu mengangkat tangannya ke atas sambil berdiri dari kursinya, memberi isyarat agar semua orang diam tidak membuat gaduh. Semua terdiam dan suasana menjadi hening, bahkan gamelan juga dihentikan.
"Saudara-saudara para anggota sekalian, anak-anakku yang berbahagia, seperti kalian dapat melihat sendiri, malam ini ada seorang pemuda dan seorang pemudi masuk menjadi anggauta kita. Dan pada malam hari ini, Sang Wasi Shiwamurti sebagai penjelmaan Sang Hyang Bathara Shiwa akan hadir dan memimpin sendiri upacara penerimaan murid dan pesta yang akan diadakan pada malam hari ini, untuk menyatakan syukur bahwa pembangunan candi berjalan lancar dan hampir selesai. Sekarang diminta kalian diam karena kami membutuhkan suasana hening untuk mengundang Yang Mulia Sang Wasi Shiwamurti datang ke tengah-tengah kita.”
Seorang gadis cantik yang memang menjadi pembantu Ni Dewi Durgomala naik ke panggung membawa sebuah pedupaan di mana terdapat arang membara yang mengepulkan sedikit asap putih. Setelah berjongkok di depan Ni Dewi Durgomala, gadis itu meletakkan pedupaan di atasi lantai panggung. Ni Dewi Durgomala menerima sebungkus besar kemenyan dari gadis itu dan ia memberi isyarat agar gadis itu mundur!
Hanya ada Sularko dan Sawitri yang masih duduk bersimpuh di atas panggung depan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shawananda, duduk tak bergerak bagaikan telah menjadi arca. Ni Dewi Durgomala lalu membaca doa seperti orang berkidung yang terdengar aneh, makin lama semakin nyaring, kemudian ia mengambil kemenyan dan memasukkannya ke dalam bara api dipedupaan. Asap putih yang tebal mengepul dari pedupaan, terus kemenyan itu ditambah sambil membaca mantera dan asap yang mengepul semakin tebal. Tercium bau harum yang menyeramkan dari asap itu. Semua orang membelalakkan mata karena mereka maklum, seperti yang biasa dilakukan setiap bulan purnama, Wasi Shiwamurti tentu akan datang memenuhi panggilan itu secara luar biasa. Dan benar saja, tak lama kemudian tampak bayangan berkelebat dan muncullah seorang kakek berjubah pendeta yang usianya sudah enampuluh lima tahun, berjenggot dan berkumis putih, memegang sebatang tongkat yang gagangnya terukir kepala naga, tahu-tahu telah duduk di atas kursi besar yang berada di tengah sambil tersenyum! Ni Dewi Durgomala lalu menaburkan bunga mawar ke kaki Sang Wasi, sambil memberi hormat dan Ki Shiwananda juga memberi hormat dengan menyembah. Semua anggota memandang dengan kagum dan hormat disertai rasa takut karena bagi mereka Wasi Shiwamurti adalah titisan Sang Hyang Shiwa sendiri.

<<< Bagian 25                                                                                          Bagian 27 >>>

No comments:

Post a Comment