Sepasang Garuda Putih ; Bagian 27


Dan mereka percaya bahwa Wasi Shiwamurti pandai menghilang dan melakukan segala macam kesaktian. Wasi Shiwamurti lalu mengangkat tangan kanan ke atas sebagai tanda bahwa upacara dapat dimulai. Segera para penabuh gamelan membunyikan gamelan mereka dan suasana mendadak menjadi meriah. Seorang anggota wanita yang cantik lalu naik ke panggung membawa seekor ayam jago putih, diikuti seorang anggota lain yang membawa periuk dan pisau. Pisau yang tajam berkilau itu diserahkan kepada Wasi Shiwamurti sambil berlutut oleh anggota wanitai itu. Wasi Shiwamurti lalu menggunakan pisau itu untuk menyembelih ayam jantan putih dan darahnya lalu ditampung ke dalam periuk tanah. Kemudian datang lagi seorang anggota membawa seguci besar yang terisi tuak, dan darah ayam itu dituangkan kedalam guci, bercampur dengan tuak.

Wasi Shiwamurti membaca mantera diatas guci itu, kemudian mulailah pesta minum-minum tuak yang sudah bercampur darah. Mula-mula, Ni Dewi Durgomala yang menuangkan tuak darah itu dalam dua buah cawan, menyerahkan kepada Sularko dan Sawitri, menyuruh mereka meminumnya. Dua orang yang sudah menjadi seperti boneka hidup itu, tanpa ragu lalu minum tuak itu sampai habis, diikuti sorak sorai para anggota. Setelah itu, setiap orang anggauta kebagian secawan tuak dan beramai-ramai mereka meminumnya. Hidangan lalu dikeluarkan dan para anggauta mulai naik ke atas panggung dan mereka mulai makan minum, disaksikan oleh Wasi Shiwamurti, Ni Dewi Durgo mala dan Ki Shiwananda sambil tertawa-tawa. Gamelan terus dipukul gencar. Semua orang bergembira. Tuak dituangkan dan diminum dan tak lama kemudian banyak di antara mereka menjadi mabok. Ni Dewi Durgomala melaporkan kepada Wasi Shiwamurti tentang dua orang muda yang mulai malam itu masuk menjadi anggota. Wasi Shiwamurti mengangguk-angguk senang.
"Kuserahkan kepada andika berdua untuk melatih mereka agar menjadi anggota yang setia dan baik," kata Wasi Shiwamurti sambil tersenyum.
Dua orang muridnya itu mengangguk senang. Setelah makan minum selesai dan semua bekas pesta disingkirkan dari panggung, mulailah kini pesta menari yang dimulai dengan tarian Ni Dewi Durgomala. Wanita ini menari dengan indah dan liar, tersenyum-senyum dan ia menari di depan Wasi Shiwamurti yang menonton sambil tertawa-tawa senang, kadang kalau Ni Dewi Durgomala menari dekat, tangannya meraih dan membelai murid yang kadang juga menjadi kekasihnya itu. Karena Wasi Shiwamurti menganggap dirinya titisan Bathara Shiwa, dan Ni Dewi Durgomala sebagai titisan Bathari Durgo, maka wanita itu dianggap sebagai isterinya. Dan Ki Shiwananda yang menjadi putera angkat Wasi Shiwamurti dianggap sebagai titisan Sang Bathara Kala, putera Bathawa Shiwa. Setelah menari beberapa lamanya, Ni Dewi Durgomala lalu berteriak kepada para anggautanya agar segera menari merayakan malam Respati bulan purnama itu. Dan mulailah tari-tarian yang gila-gilaan. Para anggauta wanita menari-nari, diikuti anggauta pria dan di panggung itu mereka menari berpasang-pasangan. Dalam keadaan mabok-mabokan mereka menari. Terjadi hal yang amat aneh, yaitu Sularko dan Sawitri yang tadinya seperti orang kehilangan semangat dan menurut saja, kinipun bangkit dan ikut pula menari! Mereka menari sambil memejamkan mata, dengan tarian liar, asal melenggang-lenggok menurutkan irama gamelan yang dipukul gencar. Karena mereka menari berpasangan dan liar dalam keadaan setengah mabok, sebentar saja nafsu mereka memuncak, bagaikan api membakar mereka semua dan mulailah terjadi perbuatan yang tidak sopan yang tidak terkendalikan lagi. Mereka itu, laki-laki dan perempuan, mulai saling berangkulan, berciuman dan saling belai. Dan berpasang-pasangan mereka mulai turun dari panggung dan sambil menari-nari mereka pergi menjauhkan diri, mencari tempat-tempat sunyi dan gelap, membiarkan nafsu berahi menggulung dan menelan mereka. Melihat ini, Wasi Shiwamurti lalu melempar kemenyan di atas pedupaan dan selagi asap mengepul tebal, diapun menghilang di balik asap. Ni Dewi Durgomala lalu menghampiri Sularko yang masih menari-nari, menggandeng pemuda itu, mengajaknya menari bersama kemudian mereka berdua-pun turun dari panggung dan masuk ke bagian belakang candi di mana terdapat kamar Ni Dewi Dbrgornala. Demikian pula Ki Shiwananda. Raksasa ini menari dan menuntun Sawitri menuruni panggung. Sawitri yang seperti mabok itu hanya tertawa dan menurut saja ketika tangannya digandeng dan ia digiring masuk ke dalam kamar Ki Shiwananda yang berada di belakang candi pula. Inilah yang menarik banyak orang muda untuk memasuki perkumpulan agama baru itu. Ada pesta pora, ada mabok-mabokan lalu terjadi permainan cinta yang liar di antara mereka, dapat memilih pasangan masing-masing dan dalam keadaan mabok mereka menenggelamkan diri ke dalam lautan nafsu berahi dan melampiaskan nafsu sepuas-puasnya. Bagaikan sebuah boneka hidup, Sularko menurut saja segala kemauan Ni Dewi Durgomala. Dia bagaikan telah kehilangan kesadarannya karena pengaruh minuman keras, juga karena ilmu sihir dan guna-guna yang dikerahkan wanita itu untuk menundukkannya. Tentu saja Ni Dewi Durgomala girang bukan main dan wanita iblis ini berpelesir sampai pagi, bersenang-senang tanpa ada yang menghalanginya. Selama semalam Sularko memenuhi semua permintaan atau perintah Ni Dewi Durgomala seperti orang yang telah kehilangan pribadinya, bahkan akal pikirannya sudah tidak dapat dipergunakan lagi. Semua terjadi seperti mimpi yang tidak dapat dikuasainya.

Akan tetapi menjelang pagi, ketika Ni Dewi Durgomala yang telah kelelahan itu tertidur, berangsur-angsur lenyaplah kekuasaan yang mencengkeram dan mempengaruhi batin Sularko dan diapun mulai sadar akan keadaan dirinya. Tentu saja dia menjadi amat terkejut dan menyesal. Dengan hati-hati dan cepat dia membereskan pakaiannya dan meninggalkan Ni Dewi Durgomala yang masih tertidur. Sularko teringat akan adiknya. Secara samar-samar, seperti dalam mimpi, dia kini teringat kembali betapa dia dan adiknya berada di rumah mereka dan akan kedatangan dua orang, yaitu Ni Dewi Durgomala dan seorang laki-laki seperti raksasa. Dia khawatir sekali akan keadaan adiknya. Kalau dia dibawa ke tempat ini tanpa diketahui, tentu adiknyapun dibawa ke sini pula. Dia lalu menyelinap keluar dari kamar itu dan mendapat kenyataan bahwa dia berada di bagian belakang dari candi yang sedang dibangun. Dia menjadi bingung. Terdapat beberapa buah kamar di situ dan dia tidak tahu di kamar mana adiknya berada. Dia tahu bahwa tempat itu amat berbahaya dan di situ terdapat banyak orang sakti, maka dia tidak berani sembarangan membuka pintu kamar-kamar itu. Sementara itu, keadaan Sawitri tidak banyak bedanya dengan keadaan kakaknya, Sularko. Bahkan sebagai seorang wanita muda, keadaan Sawitri lebih parah lagi. Seperti juga dengan Sularko, Sawitri sama sekali tidak sadar akan apa yang dilakukannya. Ia hanya taat dan menurut saja apa yang dikehendaki Ki Shiwananda darinya. Iapun berada di bawah pengaruh sihir dan minuman yang mengandung obat pembius. Seperti juga Ni Durgomala, setelah kelelahan Ki Shiwananda tertidur pulas dan sedikit demi sedikit Sawitri mendapatkan kembali kesadarannya. Dapat dibayangkan betapa kaget dan sedih hatinya ketika ia mendapat kenyataan tentang dirinya yang sudah ternoda. Dengan menahan rasa sakit di badan dan hati, Sawitri yang melihat Ki Shiwananda sedang tidur mendengkur, segera membereskan pakaiannya, ia melihat sebatang keris tergantung di dinding. Dengan hati-hati diambilnya keris itu, kemudian ia menghampiri Ki Shiwananda yang sedang tidur, kemudian dengan segala kebencian yang terkandung di hatinya, ia menusukkan keris itu pada dada raksasa yang telah merusak kehormatan dirinya itu.
"Wuuutt ... takk ... !!" Sawitri terkejut sekali.
Keris itu tidak dapat menembus kulit dada yang tebal dan kebal itu. Bahkan Ki Shiwananda terbangun dari tidurnya. Melihat Sawitri memegang keris terhunus dan hendak menusuknya lagi, dia menjadi marah sekali. Tangan kirinya menampar, mengenai tangan Sawitri yang memegang keris sehingga keris itu terlepas dari tangannya dan terlempar ke atas lantai.
"Jahanam! Berani engkau mencoba membunuhku!" Ki Shiwananda melompat bangun dan dengan langkah lebar dia menghampiri Sawitri.
Gadis yang marah akan tetapi juga ketakutan ini menjerit pada saat tangan yang besar itu menyambar dan mengenai kepalanya. Tubuhnya terputar dan terbanting keras ke atas lantai dan Sawitri tidak dapat bangun kembali. Kepalanya retak terkena hantaman tangan Ki Shiwananda. Pada saat itu, Sularko berada di luar pintu kamar itu. Terkejut sekali dia ketika mendengar jerit adiknya. Dengan nekat dia lalu mendobrak daun pintu sehingga terbuka. Dia melihat Ki Shiwananda dengan pakaian tidak karuan berdiri marah dan Sawitri menggeletak di atas lantai, tak dapat gerak lagi.
“Sawitri ... !" Sularko memekik dan menubruk adiknya.

Diangkatnya kepala adiknya dan ketika dia melihat bahwa adiknya telah tewas dengan kepala mengeluarkan darah, dia menjadi marah bukan main. Lupa akan kekuatan sendiri, Sularko merebahkan kembali adiknya dan dia lalu meloncat dan menyerang Ki Shiwananda dengan pukulan tangan kanannya. Pukulan itu keras sekali karena Sularko yang amat marah itu mengerahkan seluruh tenaganya. Kepalan tangan kanannya menghantam dada Ki Shiwananda.
"Bukk ... !" Tangan Sularko terasa nyeri dan terpental seolah dia memukul dinding baja. Sebelum dia dapat menyerang lagi, Ki Shiwananda yang sudah marah telah menggerakkan tangannya, dihantamkan ke arah kepala Sularko.
"Wuuuuuttt ... prakkkk!" Sekali pukul saja retaklah kepala Sularko dan tubuhnya terpelanting. Robohlah Sularko di dekat tubuh adiknya yang sudah menjadi mayat dan diapun tewas seketika!
Mendengar suara ribut-ribut, Ni Dewi Durgomala berlari keluar dari kamarnya dan memasuki kamar Ki Shiwananda. Melihat pemuda dan gadis yang semalam menjadi permainan mereka itu menggeletak di atas lantai dan tewas, ia menegur Ki Shiwananda.
"Apa yang kaulakukan ini?"
"Terpaksa kubunuh mereka, gadis ini mencoba untuk menyerangku dengan kerisku, dan pemuda itu masuk kamar dan memukulku," jawab Ki Shiwananda dengan pendek dan masih marah.
"Ah, engkau terburu nafsu. Sekarang cepat bawa mereka keluar dan lemparkan ke Kali Mayang!"
Karena malam itu baru menjelang pagi dan suasana masih sunyi sekali, Ki Shiwananda cepat mengangkat dua buah mayat itu dan membawanya keluar dari candi. Dia menggunakan ilmunya berlari cepat dan sebentar saja ketika fajar mulai menyingsing, dia sudah tiba di tepi Kali Mayang. Dia lalu melemparkan dua mayat itu ke dalam sungai dan dua mayat itu hanyut. Setelah melihat dua mayat itu hanyut, Ki Shiwananda lalu cepat kembali ke Bulumanik dan masuk ke dalam candi.
"Bagaimana?" tanya Ni Dewi Durgomala.
"Sudah beres, mereka sudah hanyut di sungai," jawab Ki Shiwananda puas.
"Hemm, lain kali engkau harus lebih dapat menahan diri. Sejauh ini kita belum pernah membunuh secara langsung seperti itu. Kalau ada orang lain mengetahui, sungguh tidak enak sekali."
"Aku menjadi mata gelap ketika mereka berani menyerangku," Ki Shiwananda membela diri. "Biasanya, tidak ada yang bersikap seperti dua orang muda itu."
Ni Dewi Durgomala menghela napas panjang.
"Itulah yang membuat mereka menjadi istimewa. Sayang kita lalai sehingga tidak mengikat kesadaran mereka lebih jauh sehingga mereka mendapatkan kesadaran dan mencoba untuk menyerangmu. Pemuda-pemuda lain kalau sadar lalu menjadi jinak seperti domba dan menjadi anggauta yang baik."
"Demikian pula gadis itu. Coba pikir, ia berani menyerangku dengan kerisku sendiri.Untung aku keburu sadar dan dapat mengerahkan aji kekebalan pada saat ia menusuk dadaku. Karena marah aku menamparnya, akan tetapi terlalu kuat sehingga ia tewas seketika. Biasanya, para gadis lain yang sudah melayani aku tidak bersikap seperti gadis itu. Dan pemuda itu agaknya hendak membela adiknya dan menyerangku, terpaksa pula kurobohkan dia dengan pukulan."
"Sudahlah, yang sudah terlanjur tak dapat diubah. Akan tetapi selanjutnya agar engkau berhati-hati, jangan sembarangan membunuh secara langsung seperti itu. Kalau sampai ada yang mengetahui, tentu akan berkurang atau bahkan hilang kepercayaan mereka kepada kita dan kita tentu akan mendapat teguran keras dari Bapa Guru Wasi Shiwamurti."

Setelah matahari mulai naik, kedua orang itu sudah sibuk lagi memimpin para pekerja yang membangun candi. Tidak ada yang tahu bahwa pagi tadi telah terjadi pembunuhan keji yang dilakukan oleh Ki Shiwananda, orang yang mereka anggap sebagai pembantu Ni Dewi Durgomala.

Sementara itu, Mbok Rondo Gati yang kehilangan dua orang anaknya, setelah pagi menggantikan malam, baru berani keluar. Ia menangis dan menceritakan kepada para tetangganya tentang dua orang anaknya yang dibawa pergi seorang laki-laki dan seorang wanita yang dapat bergerak seperti iblis cepatnya. Para tetangga tidak ada yang dapat menduga siapa yang melakukan penculikan itu, hanya menduga bahwa tentu iblis sendiri yang datang mengganggu. Dengan bingung dan sambil menangis, Mbok Rondo Gati lalu keluar dari rumahnya dan pergi mencari-cari kedua anaknya, bertanya-tanya kepada siapa saja kalau-kalau ada yang melihat dua orang anaknya.

<<< Bagian 26                                                                                         Bagian 28 >>>

No comments:

Post a Comment