Dan mereka percaya bahwa Wasi Shiwamurti pandai menghilang dan melakukan segala macam kesaktian. Wasi Shiwamurti lalu mengangkat tangan kanan ke atas sebagai tanda bahwa upacara dapat dimulai. Segera para penabuh gamelan membunyikan gamelan mereka dan suasana mendadak menjadi meriah. Seorang anggota wanita yang cantik lalu naik ke panggung membawa seekor ayam jago putih, diikuti seorang anggota lain yang membawa periuk dan pisau. Pisau yang tajam berkilau itu diserahkan kepada Wasi Shiwamurti sambil berlutut oleh anggota wanitai itu. Wasi Shiwamurti lalu menggunakan pisau itu untuk menyembelih ayam jantan putih dan darahnya lalu ditampung ke dalam periuk tanah. Kemudian datang lagi seorang anggota membawa seguci besar yang terisi tuak, dan darah ayam itu dituangkan kedalam guci, bercampur dengan tuak.
Wasi
Shiwamurti membaca mantera diatas guci itu, kemudian mulailah pesta minum-minum
tuak yang sudah bercampur darah. Mula-mula, Ni Dewi Durgomala yang menuangkan
tuak darah itu dalam dua buah cawan, menyerahkan kepada Sularko dan Sawitri,
menyuruh mereka meminumnya. Dua orang yang sudah menjadi seperti boneka hidup
itu, tanpa ragu lalu minum tuak itu sampai habis, diikuti sorak sorai para
anggota. Setelah itu, setiap orang anggauta kebagian secawan tuak dan
beramai-ramai mereka meminumnya. Hidangan lalu dikeluarkan dan para anggauta
mulai naik ke atas panggung dan mereka mulai makan minum, disaksikan oleh Wasi
Shiwamurti, Ni Dewi Durgo mala dan Ki Shiwananda sambil tertawa-tawa. Gamelan
terus dipukul gencar. Semua orang bergembira. Tuak dituangkan dan diminum dan
tak lama kemudian banyak di antara mereka menjadi mabok. Ni Dewi Durgomala
melaporkan kepada Wasi Shiwamurti tentang dua orang muda yang mulai malam itu
masuk menjadi anggota. Wasi Shiwamurti mengangguk-angguk senang.
"Kuserahkan
kepada andika berdua untuk melatih mereka agar menjadi anggota yang setia dan
baik," kata Wasi Shiwamurti sambil tersenyum.
Dua orang
muridnya itu mengangguk senang. Setelah makan minum selesai dan semua bekas
pesta disingkirkan dari panggung, mulailah kini pesta menari yang dimulai
dengan tarian Ni Dewi Durgomala. Wanita ini menari dengan indah dan liar,
tersenyum-senyum dan ia menari di depan Wasi Shiwamurti yang menonton sambil
tertawa-tawa senang, kadang kalau Ni Dewi Durgomala menari dekat, tangannya
meraih dan membelai murid yang kadang juga menjadi kekasihnya itu. Karena Wasi
Shiwamurti menganggap dirinya titisan Bathara Shiwa, dan Ni Dewi Durgomala
sebagai titisan Bathari Durgo, maka wanita itu dianggap sebagai isterinya. Dan
Ki Shiwananda yang menjadi putera angkat Wasi Shiwamurti dianggap sebagai
titisan Sang Bathara Kala, putera Bathawa Shiwa. Setelah menari beberapa lamanya,
Ni Dewi Durgomala lalu berteriak kepada para anggautanya agar segera menari
merayakan malam Respati bulan purnama itu. Dan mulailah tari-tarian yang
gila-gilaan. Para anggauta wanita menari-nari, diikuti anggauta pria dan di
panggung itu mereka menari berpasang-pasangan. Dalam keadaan mabok-mabokan
mereka menari. Terjadi hal yang amat aneh, yaitu Sularko dan Sawitri yang
tadinya seperti orang kehilangan semangat dan menurut saja, kinipun bangkit dan
ikut pula menari! Mereka menari sambil memejamkan mata, dengan tarian liar,
asal melenggang-lenggok menurutkan irama gamelan yang dipukul gencar. Karena
mereka menari berpasangan dan liar dalam keadaan setengah mabok, sebentar saja
nafsu mereka memuncak, bagaikan api membakar mereka semua dan mulailah terjadi
perbuatan yang tidak sopan yang tidak terkendalikan lagi. Mereka itu, laki-laki
dan perempuan, mulai saling berangkulan, berciuman dan saling belai. Dan
berpasang-pasangan mereka mulai turun dari panggung dan sambil menari-nari
mereka pergi menjauhkan diri, mencari tempat-tempat sunyi dan gelap, membiarkan
nafsu berahi menggulung dan menelan mereka. Melihat ini, Wasi Shiwamurti lalu
melempar kemenyan di atas pedupaan dan selagi asap mengepul tebal, diapun
menghilang di balik asap. Ni Dewi Durgomala lalu menghampiri Sularko yang masih
menari-nari, menggandeng pemuda itu, mengajaknya menari bersama kemudian mereka
berdua-pun turun dari panggung dan masuk ke bagian belakang candi di mana
terdapat kamar Ni Dewi Dbrgornala. Demikian pula Ki Shiwananda. Raksasa ini
menari dan menuntun Sawitri menuruni panggung. Sawitri yang seperti mabok itu
hanya tertawa dan menurut saja ketika tangannya digandeng dan ia digiring masuk
ke dalam kamar Ki Shiwananda yang berada di belakang candi pula. Inilah yang
menarik banyak orang muda untuk memasuki perkumpulan agama baru itu. Ada pesta
pora, ada mabok-mabokan lalu terjadi permainan cinta yang liar di antara
mereka, dapat memilih pasangan masing-masing dan dalam keadaan mabok mereka
menenggelamkan diri ke dalam lautan nafsu berahi dan melampiaskan nafsu
sepuas-puasnya. Bagaikan sebuah boneka hidup, Sularko menurut saja segala
kemauan Ni Dewi Durgomala. Dia bagaikan telah kehilangan kesadarannya karena
pengaruh minuman keras, juga karena ilmu sihir dan guna-guna yang dikerahkan
wanita itu untuk menundukkannya. Tentu saja Ni Dewi Durgomala girang bukan main
dan wanita iblis ini berpelesir sampai pagi, bersenang-senang tanpa ada yang
menghalanginya. Selama semalam Sularko memenuhi semua permintaan atau perintah
Ni Dewi Durgomala seperti orang yang telah kehilangan pribadinya, bahkan akal
pikirannya sudah tidak dapat dipergunakan lagi. Semua terjadi seperti mimpi
yang tidak dapat dikuasainya.
Akan tetapi
menjelang pagi, ketika Ni Dewi Durgomala yang telah kelelahan itu tertidur, berangsur-angsur
lenyaplah kekuasaan yang mencengkeram dan mempengaruhi batin Sularko dan diapun
mulai sadar akan keadaan dirinya. Tentu saja dia menjadi amat terkejut dan
menyesal. Dengan hati-hati dan cepat dia membereskan pakaiannya dan
meninggalkan Ni Dewi Durgomala yang masih tertidur. Sularko teringat akan
adiknya. Secara samar-samar, seperti dalam mimpi, dia kini teringat kembali
betapa dia dan adiknya berada di rumah mereka dan akan kedatangan dua orang,
yaitu Ni Dewi Durgomala dan seorang laki-laki seperti raksasa. Dia khawatir
sekali akan keadaan adiknya. Kalau dia dibawa ke tempat ini tanpa diketahui,
tentu adiknyapun dibawa ke sini pula. Dia lalu menyelinap keluar dari kamar itu
dan mendapat kenyataan bahwa dia berada di bagian belakang dari candi yang
sedang dibangun. Dia menjadi bingung. Terdapat beberapa buah kamar di situ dan
dia tidak tahu di kamar mana adiknya berada. Dia tahu bahwa tempat itu amat
berbahaya dan di situ terdapat banyak orang sakti, maka dia tidak berani
sembarangan membuka pintu kamar-kamar itu. Sementara itu, keadaan Sawitri tidak
banyak bedanya dengan keadaan kakaknya, Sularko. Bahkan sebagai seorang wanita
muda, keadaan Sawitri lebih parah lagi. Seperti juga dengan Sularko, Sawitri
sama sekali tidak sadar akan apa yang dilakukannya. Ia hanya taat dan menurut
saja apa yang dikehendaki Ki Shiwananda darinya. Iapun berada di bawah pengaruh
sihir dan minuman yang mengandung obat pembius. Seperti juga Ni Durgomala,
setelah kelelahan Ki Shiwananda tertidur pulas dan sedikit demi sedikit Sawitri
mendapatkan kembali kesadarannya. Dapat dibayangkan betapa kaget dan sedih
hatinya ketika ia mendapat kenyataan tentang dirinya yang sudah ternoda. Dengan
menahan rasa sakit di badan dan hati, Sawitri yang melihat Ki Shiwananda sedang
tidur mendengkur, segera membereskan pakaiannya, ia melihat sebatang keris
tergantung di dinding. Dengan hati-hati diambilnya keris itu, kemudian ia
menghampiri Ki Shiwananda yang sedang tidur, kemudian dengan segala kebencian
yang terkandung di hatinya, ia menusukkan keris itu pada dada raksasa yang
telah merusak kehormatan dirinya itu.
"Wuuutt
... takk ... !!" Sawitri terkejut sekali.
Keris itu
tidak dapat menembus kulit dada yang tebal dan kebal itu. Bahkan Ki Shiwananda
terbangun dari tidurnya. Melihat Sawitri memegang keris terhunus dan hendak
menusuknya lagi, dia menjadi marah sekali. Tangan kirinya menampar, mengenai
tangan Sawitri yang memegang keris sehingga keris itu terlepas dari tangannya
dan terlempar ke atas lantai.
"Jahanam!
Berani engkau mencoba membunuhku!" Ki Shiwananda melompat bangun dan
dengan langkah lebar dia menghampiri Sawitri.
Gadis yang
marah akan tetapi juga ketakutan ini menjerit pada saat tangan yang besar itu
menyambar dan mengenai kepalanya. Tubuhnya terputar dan terbanting keras ke
atas lantai dan Sawitri tidak dapat bangun kembali. Kepalanya retak terkena
hantaman tangan Ki Shiwananda. Pada saat itu, Sularko berada di luar pintu
kamar itu. Terkejut sekali dia ketika mendengar jerit adiknya. Dengan nekat dia
lalu mendobrak daun pintu sehingga terbuka. Dia melihat Ki Shiwananda dengan
pakaian tidak karuan berdiri marah dan Sawitri menggeletak di atas lantai, tak
dapat gerak lagi.
“Sawitri ...
!" Sularko memekik dan menubruk adiknya.
Diangkatnya
kepala adiknya dan ketika dia melihat bahwa adiknya telah tewas dengan kepala
mengeluarkan darah, dia menjadi marah bukan main. Lupa akan kekuatan sendiri,
Sularko merebahkan kembali adiknya dan dia lalu meloncat dan menyerang Ki
Shiwananda dengan pukulan tangan kanannya. Pukulan itu keras sekali karena
Sularko yang amat marah itu mengerahkan seluruh tenaganya. Kepalan tangan
kanannya menghantam dada Ki Shiwananda.
"Bukk ...
!" Tangan Sularko terasa nyeri dan terpental seolah dia memukul dinding
baja. Sebelum dia dapat menyerang lagi, Ki Shiwananda yang sudah marah telah
menggerakkan tangannya, dihantamkan ke arah kepala Sularko.
"Wuuuuuttt
... prakkkk!" Sekali pukul saja retaklah kepala Sularko dan tubuhnya
terpelanting. Robohlah Sularko di dekat tubuh adiknya yang sudah menjadi mayat
dan diapun tewas seketika!
Mendengar
suara ribut-ribut, Ni Dewi Durgomala berlari keluar dari kamarnya dan memasuki
kamar Ki Shiwananda. Melihat pemuda dan gadis yang semalam menjadi permainan
mereka itu menggeletak di atas lantai dan tewas, ia menegur Ki Shiwananda.
"Apa yang
kaulakukan ini?"
"Terpaksa
kubunuh mereka, gadis ini mencoba untuk menyerangku dengan kerisku, dan pemuda
itu masuk kamar dan memukulku," jawab Ki Shiwananda dengan pendek dan
masih marah.
"Ah,
engkau terburu nafsu. Sekarang cepat bawa mereka keluar dan lemparkan ke Kali
Mayang!"
Karena malam
itu baru menjelang pagi dan suasana masih sunyi sekali, Ki Shiwananda cepat
mengangkat dua buah mayat itu dan membawanya keluar dari candi. Dia menggunakan
ilmunya berlari cepat dan sebentar saja ketika fajar mulai menyingsing, dia
sudah tiba di tepi Kali Mayang. Dia lalu melemparkan dua mayat itu ke dalam
sungai dan dua mayat itu hanyut. Setelah melihat dua mayat itu hanyut, Ki
Shiwananda lalu cepat kembali ke Bulumanik dan masuk ke dalam candi.
"Bagaimana?"
tanya Ni Dewi Durgomala.
"Sudah
beres, mereka sudah hanyut di sungai," jawab Ki Shiwananda puas.
"Hemm,
lain kali engkau harus lebih dapat menahan diri. Sejauh ini kita belum pernah
membunuh secara langsung seperti itu. Kalau ada orang lain mengetahui, sungguh
tidak enak sekali."
"Aku
menjadi mata gelap ketika mereka berani menyerangku," Ki Shiwananda
membela diri. "Biasanya, tidak ada yang bersikap seperti dua orang muda
itu."
Ni Dewi
Durgomala menghela napas panjang.
"Itulah
yang membuat mereka menjadi istimewa. Sayang kita lalai sehingga tidak mengikat
kesadaran mereka lebih jauh sehingga mereka mendapatkan kesadaran dan mencoba
untuk menyerangmu. Pemuda-pemuda lain kalau sadar lalu menjadi jinak seperti
domba dan menjadi anggauta yang baik."
"Demikian
pula gadis itu. Coba pikir, ia berani menyerangku dengan kerisku sendiri.Untung
aku keburu sadar dan dapat mengerahkan aji kekebalan pada saat ia menusuk
dadaku. Karena marah aku menamparnya, akan tetapi terlalu kuat sehingga ia
tewas seketika. Biasanya, para gadis lain yang sudah melayani aku tidak
bersikap seperti gadis itu. Dan pemuda itu agaknya hendak membela adiknya dan
menyerangku, terpaksa pula kurobohkan dia dengan pukulan."
"Sudahlah,
yang sudah terlanjur tak dapat diubah. Akan tetapi selanjutnya agar engkau
berhati-hati, jangan sembarangan membunuh secara langsung seperti itu. Kalau
sampai ada yang mengetahui, tentu akan berkurang atau bahkan hilang kepercayaan
mereka kepada kita dan kita tentu akan mendapat teguran keras dari Bapa Guru Wasi
Shiwamurti."
Setelah
matahari mulai naik, kedua orang itu sudah sibuk lagi memimpin para pekerja
yang membangun candi. Tidak ada yang tahu bahwa pagi tadi telah terjadi
pembunuhan keji yang dilakukan oleh Ki Shiwananda, orang yang mereka anggap
sebagai pembantu Ni Dewi Durgomala.
Sementara itu,
Mbok Rondo Gati yang kehilangan dua orang anaknya, setelah pagi menggantikan
malam, baru berani keluar. Ia menangis dan menceritakan kepada para tetangganya
tentang dua orang anaknya yang dibawa pergi seorang laki-laki dan seorang
wanita yang dapat bergerak seperti iblis cepatnya. Para tetangga tidak ada yang
dapat menduga siapa yang melakukan penculikan itu, hanya menduga bahwa tentu
iblis sendiri yang datang mengganggu. Dengan bingung dan sambil menangis, Mbok
Rondo Gati lalu keluar dari rumahnya dan pergi mencari-cari kedua anaknya,
bertanya-tanya kepada siapa saja kalau-kalau ada yang melihat dua orang
anaknya.
<<< Bagian 26 Bagian 28 >>>
No comments:
Post a Comment