Sepasang Garuda Putih ; Bagian 28


Akhirnya ia pergi ke candi yang baru dibangun dan di situ ia mendapat keterangan dari seorang pemahat arca bahwa semalam kedua anaknya ikut berpesta di candi itu. Mbok Rondo Gati merasa girang sekali mendengar ini.
"Akan tetapi kenapa mereka sampai sekarang belum pulang? Di manakah kedua orang anakku itu?"
"Kami tidak tahu bibi, mungkin kalau bibi bertanya kepada Ni Dewi, ia akan dapat memberitahu kepada bibi ke mana perginya dua orang anak bibi itu." Orang itu lalu bekerja lagi dan tidak memperhatikan lagi kepada Mbok Rondo Gati.
Wanita yang kehilangan anaknya itu lalu bertanya-tanya di mana ia dapat menemui Ni Dewi, dan akhirnya ia diberitahu bahwa Ni Dewi berada di bagian belakang candi dan sedang memberi petunjuk kepada para pekerja yang mengerjakan ukir-ukiran pada batu relief, ia pergi ke belakang candi dan benar saja, di situ ia dapat bertemu dengan Ni Dewi Durgomala. Mbok Rondo Gati memandang wanita itu dengan mata terbelalak dan alis berkerut. Ia merasa ragu-ragu. Wanita yang semalam memanggul Sularko mirip wanita ini, akan tetapi juga ada perbedaannya. Kalau yang semalam bersikap mengerikan, yang sekarang berhadapan dengannya itu merupakan seorang wanita yang ramah, murah senyum dan lemah lembut.
"Bibi mencari siapakah?" Ni Dewi, Durgomala yang di antara para pekerja dan para anggota disebut Ni Dewi saja, bertanya sambil tersenyum manis.
"Saya... saya mencari dua orang anak saya, yang laki-laki bernama Sularko dan yang perempuan bernama Sawitri. Saya mendengar bahwa malam tadi mereka ikut pesta di sini." Kata Mbok Rondo Gati dengan suara penuh harap akan tetapi juga lirih karena merasa segan berhadapan dengan wanita yang pandang matanya amat berwibawa itu.
Ni Dewi Durgomala mengerutkan sepasang alisnya yang hitam panjang dan berkata,
"Sularko dan Sawitri? Aha, aku ingat sekarang. Mereka adalah dua orang kakak beradik yang menjadi anggota baru perkumpulan kami. Memang benar, bibi, mereka semalam ikut berpesta dengan kami."
Bukan main girang dan leganya hati Mbok Rondo Gati mendengar keterangan ini.
"Den ajeng, di mana adanya mereka sekarang? Semalam mereka tidak pulang," tanyanya.
Ni Dewi Durgomala mengerutkan alisnya dan memandang heran.
"Tidak pulang? Akan tetapi pagi tadi mereka sudah meninggalkan tempat ini, seperti para anggota lain, kecuali mereka yang bekerja di sini."
“Sudah meninggalkan tempat ini? Akan tetapi mengapa mereka tidak pulang?"
"Barangkali ketika andika ke sini, mereka sudah sampai di rumah, bibi. Kami tidak tahu, akan tetapi mereka pagi tadi sudah meninggalkan tempat ini," setelah berkata demikian, Ni Dewi Durgomala menoleh kepada para pekerja dan memberi petunjuk ini itu, seolah memberi tanda kepada Mbok Rondo Gati bahwa ia sedang sibuk bekerja dan bahwa kehadiran wanita setengah tua itu hanya mengganggu saja.
Mendengar jawaban itu, Mbok Rondo Gati timbul pula harapannya. Mungkin saja kedua anaknya itu sudah pulang sekarang. Maka ia mengucapkan terima kasih dan segera meninggalkan tempat itu. Bergegas ia pulang ke rumahnya dengan harapan akan melihat kedua orang anaknya sudah pulang, begitu tiba di rumah, ia sudah memanggil-manggil sambil berlari masuk.
"Sularko ... ! Sawitri ... ! Di mana kalian?" Akan tetapi, biarpun ia sudah mencari sampai ke dapur dan kebun belakang, ia tidak melihat kedua orang anaknya itu. Tentu saja harapan tipis itu segera membuyar lagi dan ia mulai menangis lagi sambil meratap, memanggil-manggil kedua orang anaknya. Akan tetapi tidak ada yang menjawab. Kini tidak ada tetangga yang datang menjenguknya. Mereka semua sudah pergi bekerja, ke sawah ladang atau ke sungai mencari ikan.
Mbok Rondo Gati tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menangis. Hendak mencari, harus dicari ke mana? Ia tadi sudah mencari di seluruh pelosok Bulumanik. Ia menangis terus sampai hari menjadi siang, air matanya sudah habis dan ia menjadi bingung tidak tahu harus berbuat apa. Ia lupa makan, lupa segala, kadang duduk, kadang berdiri atau merebahkan diri di atas bale-bale sambil terus menangis. Tiba-tiba ia mendengar suara memanggilnya dari luar rumah.
"Mbok Rondo Gati! Mbok Rondo Gati!"

Mendengar ada suara orang memanggilnya, ia cepat keluar. Biarpun tubuhnya terasa lemas karena sejak semalam ia tidak makan atau minum dan hatinya yang sedih dan gelisah membuat tubuhnya lemas sekali, namun kini ia bangkit dan berlari keluar, muncul harapannya akan mengetahui di mana adanya kedua anaknya. Setibanya di luar rumah, ia melihat seorang pemuda kawan Sularko berdiri dengan muka pucat dan mata terbelalak.
"Mbok Rondo Gati, aku ... aku melihat Sularko dan Sawitri ...!"
Tentu saja wanita setengah tua itu menjadi girang sekali, ia lari menghampiri pemuda itu dan memegang lengannya.
"Di mana? Di mana engkau melihat mereka?"
"Aku ... aku ... ah ... !” Pemuda itu menggagap dan agaknya sukar sekali bicara.
Mbok Rondo Gati menjadi bingung.
"Kenapa? Ada apa? Mari minumlah dulu, engkau kelihatan begitu tegang." Ia menuntun pemuda itu memasuki rumah dan menyerahkan sebuah kendi.
Pemuda itu menerima kendi dengan kedua tangan menggigil lalu dia menuangkan air dari mulut kendi ke dalam mulutnya yang ternganga. Setelah minum air kendi, pemuda itu tampak lebih tenang dan dia meletakkan kendi kembali ke atas meja dan memandang kepada Mbok Rondo Gati.
"Nah, sekarang ceritakan di mana engkau melihat kedua anakku itu," kata Mbok Rondo Gati.
Pemuda itu menghela napas panjang, dua kali, memandang wajah wanita itu dan mulai bercerita,
"Begini, Mbok Rondo, tadi pagi-pagi sekali aku sudah mendayung perahuku ke hilir sungai dan menjala ikan. Sialnya aku tidak berhasil, maka aku terus mendayung perahuku ke hilir, mencari tempat sepi untuk mendapatkan ikan lebih banyak. Kemudian tadi ... aku melihat ada dua benda terapung di sungai ... dan ketika aku mendayung perahuku mendekat ... kulihat... kulihat dua benda terapung itu adalah Sularko dan Sawitri ... sudah menjadi mayat ... "
Mbok Rondo Gati mengeluarkan suara jeritan yang menyayat hati dan iapun jatuh pingsan! Tentu saja pemuda itu menjadi bingung, mengguncang-guncang dan memanggil-manggil Mbok Rondo Gati. Akhirnya Mbok Rondo Gati siuman dari pingsannya dan ia lalu menangis lagi dengan sedihnya.
"Apakah engkau sudah membawa mereka ke tepi sungai?" tanyanya memelas dengan suara lirih.
Pemuda itu menggeleng kepalanya.
"Aku seorang diri, Mbok. Dan saking takut dan tegang hatiku, aku lalu mendayung perahuku kuat-kuat untuk kembali dan cepat memberitahu kepadamu. Aku belum memberitahu kepada siapapun juga kecuali kepadamu."
Wanita itu menangis lagi.
"Ah, mengapa tidak kaubawa ke tepi? Kau biarkan mereka hanyut terus ... ?"
Mbok Rondo Gati lalu mengajak pemuda itu ke sungai. Iapun memiliki sebuah perahu, yang biasa dipergunakan Sularko untuk mencari ikan.
"Hayo tunjukkan kepadaku dimana engkau milihat mereka," katanya dan iapun mengikuti perahu pemuda itu ke hilir.

Akan tetapi, tentu saja mereka tidak menemukan dua jenazah yang hanyut itu, entah sudah sampai di mana. Mungkin saja sudah sampai di Laut Kidul. Saking bingung dan takutnya karena ditanya terus oleh Mbok Rondo Gali, pemuda itu lalu kembali ke Bulumanik untuk minta bantuan orang-orang mencari dua jenazah itu. Sedangkan wanita itu melanjutkan sendiri pencariannya. Akan tetapi ia tidak berhasil menemukan dua mayat anaknya itu, dan Mbok Rondo Gati terus mendayung hilir mudik sambil menangis dan kadang seperti orang yang sudah berubah pikirannya, ia memanggil-manggil nama kedua anaknya.
"Sularko ... ! Sawitri ... Di mana kalian, anak-anakku ... ?" ia memanggil-manggil.
Tiba-tiba ada suara dari tepi sungai.
"Mbok, ada apakah, mbok?"
Mbok Rondo Gati menoleh dan memandang ke arah tepi sungai dan wajahnya tiba-tiba berseri, matanya terbelalak dan mulutnya tersenyum.
"Sularko! Sawitri! Anak-anakku ... !" Dan dengan cepat ia mendayung perahunya ke tepi sungai di mana berdiri sepasang orang muda itu. Setelah tiba di pantai, ia meninggalkan perahunya dan lari ke arah dua orang muda. "Sawitri anakku ... !" ia menjerit dan menubruk, merangkul gadis itu.
Gadis itu terheran-heran, akan tetapi ia membiarkan wanita itu merangkul dan menciumnya. Ia merasa terharu sekali. Pemuda itu menyentuh pundak Mbok Rondo Gati sambil berkata,
"Mbok, tenanglah, mbok dan waspadakan siapa sebetulnya kami berdua."
Suara pemuda itu lembut sekali. Mbok Rondo Gati melepaskan rangkulannya dari gadis itu dan kini ia merangkul pemuda itu sambil menangis,
"Sularko... anakku Sularko ... !"
Pemuda itu membiarkan dirinya dipeluk, akan tetapi dia mengusap ke arah dahi wanita tua itu dan berkata lagi dengan suara lembut,
"Mbok, sadarlah, mbok. Kami bukan anak-anakmu.”

Mbok RondoGati tampak terkejut, memandang wajah pemuda yang tersenyum lembut itu, lalu melepaskan rangkulannya dan mundur tiga langkah. Kemudian ia menoleh ke arah gadis itu, matanya penuh keheranan dan juga kekagetan, digosok-gosoknya kedua matanya dengan punggung tangan akan tetapi matanya yang merah dan basah itu tidak menipunya. Yang berdiri di depannya memang seorang gadis dan seorang pemuda yang sebaya kedua anaknya, yang bentuk tubuhnya juga sama, akan tetapi jelas mereka itu bukan anak-anaknya. Pemuda itu seorang pemuda tampan berpakaian serba putih, dan gadis itupun berpakaian serba putih akan tetapi bukan Sawitri. Tubuhnya seketika menjadi lemas, ia terhuyung dan tentu sudah terpelanting jatuh kalau saja gadis itu tidak dengan cepat merangkulnya.
Gadis itu adalah Retna Wilis dan pemuda itu adalah Bagus Seta. Seperti telah kita ketahui, Bagus Seta dan Retna Wilis naik perahu bersama Harjadenta menuju ke hilir. Harjadenta dalam usahanya mencari keris pusaka Ki Carubuk milik gurunya yang hilang dicuri orang dan menurut gurunya dia harus mencari sampai ke muara Kali Mayang. Adapun Retna Wilis dan Bagus Seta ikut naik perahu itu karena mereka hendak kembali ke pantai laut Kidul untuk melanjutkan perjalanan mereka ke timur. Ketika perahu sudah mendekati muara Kali Mayang, tepat pada pertemuan antara Kali Mayang dan Kali Sanen, Bagus Seta berkata kepada Harjadenta.
"Adimas Harjadentra, kurasa sudah cukup sampai di sini saja kami mendarat dan melanjutkan perjalanan kami dengan jalan kaki. Engkaupun harus melakukan penyelidikanmu sampai kemuara Kali Mayang, bukan?"
"Betul, kakangmas. Akan tetapi aku tidak tahu ke mana aku harus melakukan penyelidikan di tempat sunyi ini," kata Harjadenta yang tiba-tiba merasa sedih karena harus berpisah dengan kakak beradik itu, terutama harus berpisah dari Retna Wilis. Akan tetapi biarpun dia berkata demikian, dia mendayung perahunya ke pinggir seperti yang diminta oleh Bagus Seta.

Pada saat kakak beradik itu mendarat itulah mereka mendengar tangis Mbok Rondo Gati yang naik perahu seorang diri. Bagus Seta lalu menegur wanita malang itu. Harjadenta juga belum menengahkan perahunya lagi, dan mereka belum sempat berpamitan. Dia juga tertarik sekali melihat wanita yang menangis dan yang mengira Bagus Seta dan Retna Wilis anaknya, maka Harjadenta juga ikut mendarat dan mengikat perahunya pada sebatang pohon. Dia lalu menghampiri dan melihat wanita itu pingsan dalam rangkulan Retna Wilis.
“Ia kenapakah, diajeng Retno?" tanyanya sambil menghampiri.
"Kami belum tahu, akan tetapi ia pingsan setelah mengetahui bahwa kami bukan anak-anaknya. Kasihan sekali orang ini."
Retna Wilis lalu merebahkan tubuh wanita itu di atas rumput. Bagus Seta memijit-mijit tengkuk Mbok Rondo Gati dan wanita itupun siuman dari pingsannya. Tubuhnya amat lemah karena sehari semalam ia sama sekali tidak makan atau minum dan terus-menerus menangis. Kini begitu siuman dari pingsannya dan melihat tiga orang muda berjongkok di dekatnya. Ia memandang mereka lalu matanya mencari-cari, ia bangkit dan bertanya,
"Di mana mereka?”
"Mereka siapa? Andika mencari siapa, Mbok?" tanya Retna Wilis.
"Anakku ... anak-anakku, Sularko dan Sawitri, di manakah mereka? Ya Gusti ...kalau mereka benar-benar sudah mati, di mana mayat mereka? Kalau masih hidup, di mana mereka?" Wanita itu kembali menangis teringat akan cerita pemuda yang mengabarkan bahwa dia melihat mayat Sularko dan Sawitri.

<<< Bagian 27                                                                                         Bagian 29 >>>

No comments:

Post a Comment