Akhirnya ia pergi ke candi yang baru dibangun dan di situ ia mendapat keterangan dari seorang pemahat arca bahwa semalam kedua anaknya ikut berpesta di candi itu. Mbok Rondo Gati merasa girang sekali mendengar ini.
"Akan
tetapi kenapa mereka sampai sekarang belum pulang? Di manakah kedua orang
anakku itu?"
"Kami
tidak tahu bibi, mungkin kalau bibi bertanya kepada Ni Dewi, ia akan dapat
memberitahu kepada bibi ke mana perginya dua orang anak bibi itu." Orang
itu lalu bekerja lagi dan tidak memperhatikan lagi kepada Mbok Rondo Gati.
Wanita yang
kehilangan anaknya itu lalu bertanya-tanya di mana ia dapat menemui Ni Dewi,
dan akhirnya ia diberitahu bahwa Ni Dewi berada di bagian belakang candi dan
sedang memberi petunjuk kepada para pekerja yang mengerjakan ukir-ukiran pada
batu relief, ia pergi ke belakang candi dan benar saja, di situ ia dapat
bertemu dengan Ni Dewi Durgomala. Mbok Rondo Gati memandang wanita itu dengan
mata terbelalak dan alis berkerut. Ia merasa ragu-ragu. Wanita yang semalam
memanggul Sularko mirip wanita ini, akan tetapi juga ada perbedaannya. Kalau
yang semalam bersikap mengerikan, yang sekarang berhadapan dengannya itu
merupakan seorang wanita yang ramah, murah senyum dan lemah lembut.
"Bibi
mencari siapakah?" Ni Dewi, Durgomala yang di antara para pekerja dan para
anggota disebut Ni Dewi saja, bertanya sambil tersenyum manis.
"Saya...
saya mencari dua orang anak saya, yang laki-laki bernama Sularko dan yang
perempuan bernama Sawitri. Saya mendengar bahwa malam tadi mereka ikut pesta di
sini." Kata Mbok Rondo Gati dengan suara penuh harap akan tetapi juga
lirih karena merasa segan berhadapan dengan wanita yang pandang matanya amat
berwibawa itu.
Ni Dewi
Durgomala mengerutkan sepasang alisnya yang hitam panjang dan berkata,
"Sularko
dan Sawitri? Aha, aku ingat sekarang. Mereka adalah dua orang kakak beradik
yang menjadi anggota baru perkumpulan kami. Memang benar, bibi, mereka semalam
ikut berpesta dengan kami."
Bukan main
girang dan leganya hati Mbok Rondo Gati mendengar keterangan ini.
"Den
ajeng, di mana adanya mereka sekarang? Semalam mereka tidak pulang,"
tanyanya.
Ni Dewi
Durgomala mengerutkan alisnya dan memandang heran.
"Tidak
pulang? Akan tetapi pagi tadi mereka sudah meninggalkan tempat ini, seperti
para anggota lain, kecuali mereka yang bekerja di sini."
“Sudah
meninggalkan tempat ini? Akan tetapi mengapa mereka tidak pulang?"
"Barangkali
ketika andika ke sini, mereka sudah sampai di rumah, bibi. Kami tidak tahu,
akan tetapi mereka pagi tadi sudah meninggalkan tempat ini," setelah
berkata demikian, Ni Dewi Durgomala menoleh kepada para pekerja dan memberi
petunjuk ini itu, seolah memberi tanda kepada Mbok Rondo Gati bahwa ia sedang
sibuk bekerja dan bahwa kehadiran wanita setengah tua itu hanya mengganggu
saja.
Mendengar
jawaban itu, Mbok Rondo Gati timbul pula harapannya. Mungkin saja kedua anaknya
itu sudah pulang sekarang. Maka ia mengucapkan terima kasih dan segera
meninggalkan tempat itu. Bergegas ia pulang ke rumahnya dengan harapan akan
melihat kedua orang anaknya sudah pulang, begitu tiba di rumah, ia sudah
memanggil-manggil sambil berlari masuk.
"Sularko
... ! Sawitri ... ! Di mana kalian?" Akan tetapi, biarpun ia sudah mencari
sampai ke dapur dan kebun belakang, ia tidak melihat kedua orang anaknya itu.
Tentu saja harapan tipis itu segera membuyar lagi dan ia mulai menangis lagi
sambil meratap, memanggil-manggil kedua orang anaknya. Akan tetapi tidak ada
yang menjawab. Kini tidak ada tetangga yang datang menjenguknya. Mereka semua
sudah pergi bekerja, ke sawah ladang atau ke sungai mencari ikan.
Mbok Rondo
Gati tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menangis. Hendak mencari, harus dicari
ke mana? Ia tadi sudah mencari di seluruh pelosok Bulumanik. Ia menangis terus
sampai hari menjadi siang, air matanya sudah habis dan ia menjadi bingung tidak
tahu harus berbuat apa. Ia lupa makan, lupa segala, kadang duduk, kadang
berdiri atau merebahkan diri di atas bale-bale sambil terus menangis. Tiba-tiba
ia mendengar suara memanggilnya dari luar rumah.
"Mbok
Rondo Gati! Mbok Rondo Gati!"
Mendengar ada
suara orang memanggilnya, ia cepat keluar. Biarpun tubuhnya terasa lemas karena
sejak semalam ia tidak makan atau minum dan hatinya yang sedih dan gelisah
membuat tubuhnya lemas sekali, namun kini ia bangkit dan berlari keluar, muncul
harapannya akan mengetahui di mana adanya kedua anaknya. Setibanya di luar
rumah, ia melihat seorang pemuda kawan Sularko berdiri dengan muka pucat dan mata
terbelalak.
"Mbok
Rondo Gati, aku ... aku melihat Sularko dan Sawitri ...!"
Tentu saja
wanita setengah tua itu menjadi girang sekali, ia lari menghampiri pemuda itu
dan memegang lengannya.
"Di mana?
Di mana engkau melihat mereka?"
"Aku ...
aku ... ah ... !” Pemuda itu menggagap dan agaknya sukar sekali bicara.
Mbok Rondo
Gati menjadi bingung.
"Kenapa?
Ada apa? Mari minumlah dulu, engkau kelihatan begitu tegang." Ia menuntun
pemuda itu memasuki rumah dan menyerahkan sebuah kendi.
Pemuda itu
menerima kendi dengan kedua tangan menggigil lalu dia menuangkan air dari mulut
kendi ke dalam mulutnya yang ternganga. Setelah minum air kendi, pemuda itu
tampak lebih tenang dan dia meletakkan kendi kembali ke atas meja dan memandang
kepada Mbok Rondo Gati.
"Nah,
sekarang ceritakan di mana engkau melihat kedua anakku itu," kata Mbok
Rondo Gati.
Pemuda itu
menghela napas panjang, dua kali, memandang wajah wanita itu dan mulai
bercerita,
"Begini,
Mbok Rondo, tadi pagi-pagi sekali aku sudah mendayung perahuku ke hilir sungai
dan menjala ikan. Sialnya aku tidak berhasil, maka aku terus mendayung perahuku
ke hilir, mencari tempat sepi untuk mendapatkan ikan lebih banyak. Kemudian
tadi ... aku melihat ada dua benda terapung di sungai ... dan ketika aku
mendayung perahuku mendekat ... kulihat... kulihat dua benda terapung itu
adalah Sularko dan Sawitri ... sudah menjadi mayat ... "
Mbok Rondo
Gati mengeluarkan suara jeritan yang menyayat hati dan iapun jatuh pingsan!
Tentu saja pemuda itu menjadi bingung, mengguncang-guncang dan
memanggil-manggil Mbok Rondo Gati. Akhirnya Mbok Rondo Gati siuman dari
pingsannya dan ia lalu menangis lagi dengan sedihnya.
"Apakah
engkau sudah membawa mereka ke tepi sungai?" tanyanya memelas dengan suara
lirih.
Pemuda itu
menggeleng kepalanya.
"Aku seorang
diri, Mbok. Dan saking takut dan tegang hatiku, aku lalu mendayung perahuku
kuat-kuat untuk kembali dan cepat memberitahu kepadamu. Aku belum memberitahu
kepada siapapun juga kecuali kepadamu."
Wanita itu
menangis lagi.
"Ah,
mengapa tidak kaubawa ke tepi? Kau biarkan mereka hanyut terus ... ?"
Mbok Rondo
Gati lalu mengajak pemuda itu ke sungai. Iapun memiliki sebuah perahu, yang
biasa dipergunakan Sularko untuk mencari ikan.
"Hayo
tunjukkan kepadaku dimana engkau milihat mereka," katanya dan iapun mengikuti
perahu pemuda itu ke hilir.
Akan tetapi,
tentu saja mereka tidak menemukan dua jenazah yang hanyut itu, entah sudah
sampai di mana. Mungkin saja sudah sampai di Laut Kidul. Saking bingung dan
takutnya karena ditanya terus oleh Mbok Rondo Gali, pemuda itu lalu kembali ke
Bulumanik untuk minta bantuan orang-orang mencari dua jenazah itu. Sedangkan
wanita itu melanjutkan sendiri pencariannya. Akan tetapi ia tidak berhasil
menemukan dua mayat anaknya itu, dan Mbok Rondo Gati terus mendayung hilir mudik
sambil menangis dan kadang seperti orang yang sudah berubah pikirannya, ia
memanggil-manggil nama kedua anaknya.
"Sularko
... ! Sawitri ... Di mana kalian, anak-anakku ... ?" ia memanggil-manggil.
Tiba-tiba ada
suara dari tepi sungai.
"Mbok,
ada apakah, mbok?"
Mbok Rondo
Gati menoleh dan memandang ke arah tepi sungai dan wajahnya tiba-tiba berseri,
matanya terbelalak dan mulutnya tersenyum.
"Sularko!
Sawitri! Anak-anakku ... !" Dan dengan cepat ia mendayung perahunya ke
tepi sungai di mana berdiri sepasang orang muda itu. Setelah tiba di pantai, ia
meninggalkan perahunya dan lari ke arah dua orang muda. "Sawitri anakku
... !" ia menjerit dan menubruk, merangkul gadis itu.
Gadis itu
terheran-heran, akan tetapi ia membiarkan wanita itu merangkul dan menciumnya.
Ia merasa terharu sekali. Pemuda itu menyentuh pundak Mbok Rondo Gati sambil
berkata,
"Mbok,
tenanglah, mbok dan waspadakan siapa sebetulnya kami berdua."
Suara pemuda
itu lembut sekali. Mbok Rondo Gati melepaskan rangkulannya dari gadis itu dan
kini ia merangkul pemuda itu sambil menangis,
"Sularko...
anakku Sularko ... !"
Pemuda itu
membiarkan dirinya dipeluk, akan tetapi dia mengusap ke arah dahi wanita tua
itu dan berkata lagi dengan suara lembut,
"Mbok,
sadarlah, mbok. Kami bukan anak-anakmu.”
Mbok RondoGati
tampak terkejut, memandang wajah pemuda yang tersenyum lembut itu, lalu
melepaskan rangkulannya dan mundur tiga langkah. Kemudian ia menoleh ke arah
gadis itu, matanya penuh keheranan dan juga kekagetan, digosok-gosoknya kedua
matanya dengan punggung tangan akan tetapi matanya yang merah dan basah itu
tidak menipunya. Yang berdiri di depannya memang seorang gadis dan seorang
pemuda yang sebaya kedua anaknya, yang bentuk tubuhnya juga sama, akan tetapi
jelas mereka itu bukan anak-anaknya. Pemuda itu seorang pemuda tampan
berpakaian serba putih, dan gadis itupun berpakaian serba putih akan tetapi
bukan Sawitri. Tubuhnya seketika menjadi lemas, ia terhuyung dan tentu sudah
terpelanting jatuh kalau saja gadis itu tidak dengan cepat merangkulnya.
Gadis itu
adalah Retna Wilis dan pemuda itu adalah Bagus Seta. Seperti telah kita
ketahui, Bagus Seta dan Retna Wilis naik perahu bersama Harjadenta menuju ke
hilir. Harjadenta dalam usahanya mencari keris pusaka Ki Carubuk milik gurunya
yang hilang dicuri orang dan menurut gurunya dia harus mencari sampai ke muara
Kali Mayang. Adapun Retna Wilis dan Bagus Seta ikut naik perahu itu karena
mereka hendak kembali ke pantai laut Kidul untuk melanjutkan perjalanan mereka
ke timur. Ketika perahu sudah mendekati muara Kali Mayang, tepat pada pertemuan
antara Kali Mayang dan Kali Sanen, Bagus Seta berkata kepada Harjadenta.
"Adimas
Harjadentra, kurasa sudah cukup sampai di sini saja kami mendarat dan
melanjutkan perjalanan kami dengan jalan kaki. Engkaupun harus melakukan
penyelidikanmu sampai kemuara Kali Mayang, bukan?"
"Betul,
kakangmas. Akan tetapi aku tidak tahu ke mana aku harus melakukan penyelidikan
di tempat sunyi ini," kata Harjadenta yang tiba-tiba merasa sedih karena
harus berpisah dengan kakak beradik itu, terutama harus berpisah dari Retna
Wilis. Akan tetapi biarpun dia berkata demikian, dia mendayung perahunya ke
pinggir seperti yang diminta oleh Bagus Seta.
Pada saat
kakak beradik itu mendarat itulah mereka mendengar tangis Mbok Rondo Gati yang
naik perahu seorang diri. Bagus Seta lalu menegur wanita malang itu. Harjadenta
juga belum menengahkan perahunya lagi, dan mereka belum sempat berpamitan. Dia
juga tertarik sekali melihat wanita yang menangis dan yang mengira Bagus Seta
dan Retna Wilis anaknya, maka Harjadenta juga ikut mendarat dan mengikat
perahunya pada sebatang pohon. Dia lalu menghampiri dan melihat wanita itu
pingsan dalam rangkulan Retna Wilis.
“Ia kenapakah,
diajeng Retno?" tanyanya sambil menghampiri.
"Kami
belum tahu, akan tetapi ia pingsan setelah mengetahui bahwa kami bukan
anak-anaknya. Kasihan sekali orang ini."
Retna Wilis
lalu merebahkan tubuh wanita itu di atas rumput. Bagus Seta memijit-mijit
tengkuk Mbok Rondo Gati dan wanita itupun siuman dari pingsannya. Tubuhnya amat
lemah karena sehari semalam ia sama sekali tidak makan atau minum dan
terus-menerus menangis. Kini begitu siuman dari pingsannya dan melihat tiga
orang muda berjongkok di dekatnya. Ia memandang mereka lalu matanya
mencari-cari, ia bangkit dan bertanya,
"Di mana
mereka?”
"Mereka
siapa? Andika mencari siapa, Mbok?" tanya Retna Wilis.
"Anakku
... anak-anakku, Sularko dan Sawitri, di manakah mereka? Ya Gusti ...kalau
mereka benar-benar sudah mati, di mana mayat mereka? Kalau masih hidup, di mana
mereka?" Wanita itu kembali menangis teringat akan cerita pemuda yang
mengabarkan bahwa dia melihat mayat Sularko dan Sawitri.
<<< Bagian 27 Bagian 29 >>>
No comments:
Post a Comment