"Tenanglah, mbok, dan ceritakan kepada kami apa yang terjadi dengan anak-anakmu. Siapa andika dan di mana andika tinggal dan apa yang terjadi dengan mereka berdua?"
Harjadenta
ikut bertanya karena hatinya tertarik sekali. Dia tahu bahwa gurunya adalah
seorang Empu yang sakti dan gurunya itu menyuruh dia mencari jejak pencuri di
tempat itu. Siapa tahu ada hubungan antara peristiwa wanita kehilangan anak-anaknya
ini dengan hilangnya Ki Carubuk. Mendengar ucapan orang-orang muda yang tenang
sabar itu, Mbok Rondo Gati merasa agak tenang juga. Setelah menyusut air
matanya yang hampir kering, iapun bercerita.
"Saya
adalah Mbok Rondo Gati dari Bulumanik, kademangan di hulu sana. Saya mempunyai
dua orang anak bernama Sularko dan Sawitri, yang usianya sebaya dengan andika
bertiga. Malam tadi ... malam yang menyeramkan ... saya melihat dua orang anak
saya itu diculik orang ... eh, diculik makhluk halus."
"Diculik makhluk
halus? apa maksudmu, mbok?" Tanya Retna Wilis penasaran sekali.
"Saya
melihat sendiri Sularko dipanggul seorang wanita cantik dan Sawitri dipanggul
seorang laki-laki seperti raksasa. Ketika saya berteriak wanita itu hanya
menggerakkan tangan ke arah saya dan saya terjengkang seperti disambar
halilintar. Mereka lalu lenyap membawa kedua orang anak saya itu ... "
Wanita itu mulai menyusuti air matanya lagi yang sudah jatuh bercucuran.
"Tenanglah,
mbok. Kami bertiga akan membantu. Lalu bagaimana lanjutan ceritamu?” tanya
Bagus Seta dengan lembut.
"Semalam
saya menangis, tidak berani keluar karena malam tadi malam Respati terang bulan
purnama. Saya takut kepada setan-setan yang berkeliaran di luar rumah. Baru
tadi pagi saya keluar dari rumah dan mencari-cari anak saya sampai ke seluruh
pelosok kademangan Bulumanik."
"Lalu?"
desak Retno Wilis yang tertarik sekali oleh cerita itu.
"Saya
tidak dapat menemukan mereka. Lalu saya datang ke candi yang baru dibangun.
Seperti biasa, pada malam Respati di candi itu diadakan pesta pada malam
harinya dan saya mencari ke situ kalau-kalau kedua orang anak saya berada di
sana. Dari beberapa orang pekerja di candi itu saya mendapat kabar bahwa
semalam memang kedua anak saya ikut berpesta, katanya mereka menjadi anggota-anggota
baru agama itu."
"Hemm,
agama apakah itu, mbok?"
"Saya
sendiri tidak tahu, hanya kabarnya, agama baru itu didukung oleh Ki Demang dan
kabarnya yang disembah adalah arca Bathara Shiwa, Bathari Durgo, dan Bathara
Kala... "
Retna Wilis
dan Bagus Seta saling pandang dan mereka menjadi tertarik sekali. Mereka berdua
sudah pernah mengalami bentrok dengan tokoh-tokoh penyembah tiga bathara dan
bathari itu. Harjadenta yang belum mempunyai pengalaman mengenai agama baru
itu, bertanya,
"Lalu
bagaimana, mbok?"
"Saya
lalu pergi menemui pimpinan agama itu yang disebut Ni Dewi, akan tetapi ia
mengatakan bahwa memang semalam kedua anak saya ikut berpesta, akan tetapi pagi
tadi telah pergi lagi seperti para anggota lain yang tidak ikut bekerja
membangun candi."
"Kalau
begitu, kedua anakmu tentu masih selamat dan yang perlu kita ketahui, ke mana
mereka pergi," kata Retna Wilis.
Tiba-tiba
wanita itu menangis lagi.
"Ada
berita buruk sekali... aduh Gusti ...kuatkanlah hamba ... "
"Tenang,
mbok. Ceritakanlah kepada kami apa yang terjadi selanjutnya," kata Bagus
Seta dan suara pemuda itu menenangkan hati Mbok Rondo Gati.
"Ketika
saya sedang bingung dan berada di rumah karena tidak tahu harus mencari ke
mana, tiba-tiba datang seorang pemuda dusun, seorang kawan dari Sularko. Dia
memberitahu kepada saya bahwa ketika dia sedang mencari ikan, dia melihat mayat
kedua orang anakku terapung di tengah sungai ... ! Saya sudah mencari-carinya,
akan tetapi tidak dapat saya temukan ... "
"Kenapa
ketika pemuda itu melihat mayat anak-anakmu, dia tidak mengambilnya?"
tanya Retno Wilis.
"Dia
bilang ... dia kaget dan ketakutan, karena seorang diri, dan dia cepat-cepat
mendayung perahunya untuk memberitahu kepada saya."
"Jadi
mbok tadi sedang mencari-cari kedua orang anak yang dikabarkan sudah mati itu
ketika mendengar Kami memanggil?"
Mbok Rondo
Gati mengangguk.
"Saya
sudah hampir gila, ketika andika berdua memanggil, saya kira andika adalah
Sularko dan Sawitri anak saya, maka ... maafkanlah saya ... "
"Mbok,
apakah keterangan pemuda, kawan anak andika itu boleh dipercaya
kebenarannya?"
Mbok Rondo
Gati menghapus air matanya dan mengangguk.
"Dia
sahabat Sularko, dia pasti tidak berbohong walaupun saya mengharap
mudah-mudahan keterangannya tentang kematian anak saya tidak benar."
"Sudahlah,
mbok. Sekarang sebaiknya mbok pulang saja dan kami bertiga yang akan melakukan
penyelidikan dan mencari ke mana hilangnya kedua orang anakmu itu." Retna
Wilis membujuk.
Akhirnya Mbok
Rondo Gati menurut nasihat itu dan Retno Wilis naik perahu janda itu, sedangkan
Bagus Seto kembali naik perahu Harjadenta. Mereka berempat lalu mendayung
perahu untukkembali ke Bulumanik.
Untuk
sementara tiga orang muda perkasa itu tinggal mondok di rumah Mbok Rondo Gati
dan hal ini merupakan hiburan besar bagi janda yang berduka kehilangan dua
orang anaknya itu. Tiga orang muda yang berjanji untuk menyelidiki hilangnya
dua orang anaknya itu mendatangkan harapan dalam hatinya. Akan tetapi harapan
untuk bertemu kembali dengan dua orang anaknya sudah hilang ketika Bagus Seta
mengundang pemuda yang mengabarkan akan adanya dua mayat anak Mbok Rondo Gati
dan pemuda itu menyatakan dengan sumpah bahwa dia tidak berbohong. Mbok Rondo
Gati hanya mengharapkan untuk dapat mengetahui siapa yang
menculik
anaknya dan siapa pula yang membunuhnya. Maka ia melayani tiga orang muda itu
dengan baik, memasakkan makan dan minum sederhana untuk mereka. Malam itu
mereka bertiga berunding.
"Biar
malam ini aku sendiri yang mengadakan penyelidikan ke candi yang baru dibangun
itu. Kita harus mencurigai mereka karena sejak dahulu, penyembah Bathari Durgo
dan Bathara Kala itu selalu melakukan penyelewengan-penyelewengan. Sebaiknya
kalian mengaso dulu dan menanti hasil penyelidikanku."
Retnao Wilis
dan Harjadenta menyetujui pendapat Bagus Seta ini. Mereka berdua tentu saja
maklum akan kesaktian pemuda itu dan tidak mengkhawatirkan kepergiannya seorang
diri. Malam itu, bulan masih bersinar terang, bagus Seto menggunakan
kepandaiannya, berkelebat di antara bayang-bayang pohon dan tak lama kemudian
tibalah dia di candi yang sedang dibangun itu. Malam itu tidak ada yang bekerja
dan juga tidak diadakan pesta seperti pada malam Respati. Keadaan di sekitar
candi itu sunyi. Bagus Seta mengadakan pemeriksaan dari atas atap, akan tetapi
dia tidak menemui sesuatu yang mencurigakan. Dia melihat para pekerja pria
berkumpul dan bermalam di sebuah bangunan besar dan para pembantu wanita
berkumpul dan bermalam di sebuah bangunan lain. Tidak terjadi apa-apa di antara
mereka. Memang menjadi peraturan agama itu, kecuali pada hari Respati malam,
tidak diperbolehkan mereka saling berhubungan atau saling mengganggu dengan
ancaman hukuman berat yaitu dikutuk.
Di bagian
belakang candi itu terdapat belasan buah kamar yang kebanyakan kosong dan di
dalam dua kamar di antaranya, Bagus Seto melihat seorang wanita cantik duduk
bersamadhi. Dari hawa di sekitar kamar itu saja tahulah Bagus Seta bahwa wanita
itu adalah seorang yang memiliki kesaktian. Dia mendapatkan pula seorang
laki-laki bertubuh raksasa, juga sedang bersamadhi. Laki-laki inipun memiliki
kesaktian. Bagus Seta membayangkan cerita Mbok Rondo Gati. Apakah dua orang ini
yang menculik Sularko dan Sawitri? Akan tetapi, mereka kelihatan sebagai
orang-orang yang berilmu, rasanya tidak masuk akal kalau mereka melakukan
kejahatan seperti itu.
Setelah puas
melakukan penyelidikan keadaan candi yang baru dibangun, sebuah candi yang
indah dan di mana-mana terdapat arca Bathara Shiwa, Bathara Kala dan Bathari
Durgo. Bagus Seto lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah Mbok Rondo
Gati.
"Aku tidak
menemukan sesuatu yang mencurigakan di sana," katanya kepada Retna Wilis
dan Harjadenta.
"Kecuali
dua orang yang sakti, yaitu seorang perempuan cantik dan seorang pria
raksasa."
"Hemm,
jangan-jangan mereka itu yang menculik Sularko dan Sawitri!" kata
Harjadenta.
"Rasanya
sukar dipercaya orang-orang yang memiliki kesaktian seperti mereka melakukan
penculikan," kata Bagus Seta.
"Akan
tetapi kita hatus menyelidiki dua orang itu!" kata Retna Wilis.
"Tidak
ada lain jalan. Kita harus menanti sampai datangnya hari Respati malam di waktu
mereka mengadakan pesta dan kita lihat saja apa yang terjadi di sana."
"Hari
Respati malam masih kurang sepekan lagi," kata Retna Wilis.
"Kita
harus bersabar kalau ingin berhasil,” kata kakaknya.
"Dan
untuk memancing mereka mengulangi lagi perbualan mereka, kita perlu mengadakan
umpan."
"Akan
tetapi itu berbahaya sekali!" kata Retna Wilis.
"Aku
sendiri sudah pernah menjadi korban ilmu sihir dan guna-guna mereka."
"Justeru
itulah, kita harus memancing. Dan sebaiknya adimas Harjadenta yang menjadi
umpan. Beranikah engkau menjadi umpan untuk mereka, adimas?"
Harjadenta
tersenyum. walaupun agak masam karena hatinya agak gentar juga mendengar betapa
Retna Wilis saja menganggap hal ini berbahaya.
"Tentu
saja aku berani. Bukankah di sini terdapat anda berdua yang pasti akan
melindungiku?"
"Tentu
saja kami akan melindungimu, adimas."
"Lalu
bagaimana pemasangan umpan itu dilakukan kakang?" tanya Retna Wilis.
"Pada
hari Respati, sebaiknya kalau adimas Harjadenta datang ke sana dan minta
pekerjaan membangun candi. Engkau tentu dapat melakukan pekerjaan memahat dan
mengukir, adimas?"
"Walaupun
bukan ahli, akan tetapi aku dapat membantu pekerjaan mereka.”
"Bagus,
nanti pada hari Respati, engkau minta pekerjaan di sana dan aku yakin pasti akan
diterima. Nah, malamnya tentu engkau akan kebagian pesta pula. Dan aku
mengharap pada malam hari itu akan terjadi sesuatu yang akan mengungkap rahasia
ini."
"Apakah
tidak sebaiknya kalau akupun menjadi umpan, kakang? Ingat, yang menjadi korban,
anak-anak Mbok Rondo Gati, adalah seorang pemuda dan seorang pemudi. Biarlah
akupun ikut memancing mereka dan engkau yang melindungi aku dan kakangmas
Harjadenta."
Bagus Seta
menggeleng kepalanya.
"Aku
tidak setuju dengan pendapatmu itu. Ingat, engkau bukanlah gadis yang tidak
terkenal. Aku khawatir kalau di antara mereka yang sakti itu mengenalmu dan
kalau mereka mengenalmu, tentu gagal usaha kita untuk memancing. Berbeda dengan
adimas Harjadenta, dia belum lama turun gunung dan tidak pernah berurusan
dengan orang-orang dari golongan itu. Sudahlah, pada Respati malam nanti, kalau
dalam pesta, engkau mengintai dan menyelidiki bagian wanita, dan aku
menyelidiki bagian pria. Akan tetapi hati-hati diajeng, di sana ada wanita yang
cantik dan sakti yang berbahaya sekali.”
"Wanita
cantik yang sakti? Aku jadi ingat akan pesan guruku." kata Harjadenta.
Retna Wilis
tersenyum dan memandangnya.
“Tentu engkau
menduga ia menjadi pencuri Ki Carubuk, bukan?"
Bagus Seta
berkata,
"Bukan
tidak mungkin ia yang mencuri pusaka itu! Di sekitar kamarnya aku mencium
adanya kekuatan tersembunyi seperti kekuatan sihir dan guna-guna."
"Bagus!
Kalau begitu aku menjadi lebih bersemangat pula untuk melakukan penyelidikan.
Biar aku yang menjadi umpannya untuk menangkap si pencuri laknat itu!"
kata Harjadenta.
Demikianlah,
tiga orang itu tinggal di rumah Mbok Rondo Gati dan setelah hari Respati tiba,
Harjadenta pagi-pagi benar telah pergi mengunjungi candi yang baru dibangun.
Ketika dia mengatakan pada para pekerja dan penjaga bahwa kedatangannya adalah
untuk minta pekerjaan membantu pembangunan candi, dia segera dihadapkan kepada
Ni Dewi Durgomolo. Wanita yang masih cantik dan genit itu menyambut kunjungan
Harjadenta dengan wajah berseri dan matanya yang tajam itu meneliti Harjadenta
dari kepala sampai ke kaki dan agaknya ia merasa puas dengan apa yang
dilihatnya. Seorang pemuda yang tegap tampan dan gagah, wajahnya riang dan
terang penuh senyum. Bukan seperti pemuda dusun kebanyakan, melainkan lebih
pantas menjadi seorang pemuda kota atau pemuda bangsawan.
"Siapa
namamu?" tanyanya ketika Harjadenta menghadapnya.
Pemuda yang
tampak amat hormat itu mengangkat mukanya. Dia duduk bersila di atas lantai
sedangkan Ni Dewi Durgomala duduk di atas sebuah kursi. Harjadenta memandang
wanita itu dan jantungnya berdebar.
<<< Bagian 28 Bagian 30 >>>
No comments:
Post a Comment