Sepasang Garuda Putih ; Bagian 29


"Tenanglah, mbok, dan ceritakan kepada kami apa yang terjadi dengan anak-anakmu. Siapa andika dan di mana andika tinggal dan apa yang terjadi dengan mereka berdua?"
Harjadenta ikut bertanya karena hatinya tertarik sekali. Dia tahu bahwa gurunya adalah seorang Empu yang sakti dan gurunya itu menyuruh dia mencari jejak pencuri di tempat itu. Siapa tahu ada hubungan antara peristiwa wanita kehilangan anak-anaknya ini dengan hilangnya Ki Carubuk. Mendengar ucapan orang-orang muda yang tenang sabar itu, Mbok Rondo Gati merasa agak tenang juga. Setelah menyusut air matanya yang hampir kering, iapun bercerita.
"Saya adalah Mbok Rondo Gati dari Bulumanik, kademangan di hulu sana. Saya mempunyai dua orang anak bernama Sularko dan Sawitri, yang usianya sebaya dengan andika bertiga. Malam tadi ... malam yang menyeramkan ... saya melihat dua orang anak saya itu diculik orang ... eh, diculik makhluk halus."
"Diculik makhluk halus? apa maksudmu, mbok?" Tanya Retna Wilis penasaran sekali.
"Saya melihat sendiri Sularko dipanggul seorang wanita cantik dan Sawitri dipanggul seorang laki-laki seperti raksasa. Ketika saya berteriak wanita itu hanya menggerakkan tangan ke arah saya dan saya terjengkang seperti disambar halilintar. Mereka lalu lenyap membawa kedua orang anak saya itu ... " Wanita itu mulai menyusuti air matanya lagi yang sudah jatuh bercucuran.
"Tenanglah, mbok. Kami bertiga akan membantu. Lalu bagaimana lanjutan ceritamu?” tanya Bagus Seta dengan lembut.
"Semalam saya menangis, tidak berani keluar karena malam tadi malam Respati terang bulan purnama. Saya takut kepada setan-setan yang berkeliaran di luar rumah. Baru tadi pagi saya keluar dari rumah dan mencari-cari anak saya sampai ke seluruh pelosok kademangan Bulumanik."
"Lalu?" desak Retno Wilis yang tertarik sekali oleh cerita itu.
"Saya tidak dapat menemukan mereka. Lalu saya datang ke candi yang baru dibangun. Seperti biasa, pada malam Respati di candi itu diadakan pesta pada malam harinya dan saya mencari ke situ kalau-kalau kedua orang anak saya berada di sana. Dari beberapa orang pekerja di candi itu saya mendapat kabar bahwa semalam memang kedua anak saya ikut berpesta, katanya mereka menjadi anggota-anggota baru agama itu."
"Hemm, agama apakah itu, mbok?"
"Saya sendiri tidak tahu, hanya kabarnya, agama baru itu didukung oleh Ki Demang dan kabarnya yang disembah adalah arca Bathara Shiwa, Bathari Durgo, dan Bathara Kala... "

Retna Wilis dan Bagus Seta saling pandang dan mereka menjadi tertarik sekali. Mereka berdua sudah pernah mengalami bentrok dengan tokoh-tokoh penyembah tiga bathara dan bathari itu. Harjadenta yang belum mempunyai pengalaman mengenai agama baru itu, bertanya,
"Lalu bagaimana, mbok?"
"Saya lalu pergi menemui pimpinan agama itu yang disebut Ni Dewi, akan tetapi ia mengatakan bahwa memang semalam kedua anak saya ikut berpesta, akan tetapi pagi tadi telah pergi lagi seperti para anggota lain yang tidak ikut bekerja membangun candi."
"Kalau begitu, kedua anakmu tentu masih selamat dan yang perlu kita ketahui, ke mana mereka pergi," kata Retna Wilis.
Tiba-tiba wanita itu menangis lagi.
"Ada berita buruk sekali... aduh Gusti ...kuatkanlah hamba ... "
"Tenang, mbok. Ceritakanlah kepada kami apa yang terjadi selanjutnya," kata Bagus Seta dan suara pemuda itu menenangkan hati Mbok Rondo Gati.
"Ketika saya sedang bingung dan berada di rumah karena tidak tahu harus mencari ke mana, tiba-tiba datang seorang pemuda dusun, seorang kawan dari Sularko. Dia memberitahu kepada saya bahwa ketika dia sedang mencari ikan, dia melihat mayat kedua orang anakku terapung di tengah sungai ... ! Saya sudah mencari-carinya, akan tetapi tidak dapat saya temukan ... "
"Kenapa ketika pemuda itu melihat mayat anak-anakmu, dia tidak mengambilnya?" tanya Retno Wilis.
"Dia bilang ... dia kaget dan ketakutan, karena seorang diri, dan dia cepat-cepat mendayung perahunya untuk memberitahu kepada saya."
"Jadi mbok tadi sedang mencari-cari kedua orang anak yang dikabarkan sudah mati itu ketika mendengar Kami memanggil?"
Mbok Rondo Gati mengangguk.
"Saya sudah hampir gila, ketika andika berdua memanggil, saya kira andika adalah Sularko dan Sawitri anak saya, maka ... maafkanlah saya ... "
"Mbok, apakah keterangan pemuda, kawan anak andika itu boleh dipercaya kebenarannya?"
Mbok Rondo Gati menghapus air matanya dan mengangguk.
"Dia sahabat Sularko, dia pasti tidak berbohong walaupun saya mengharap mudah-mudahan keterangannya tentang kematian anak saya tidak benar."
"Sudahlah, mbok. Sekarang sebaiknya mbok pulang saja dan kami bertiga yang akan melakukan penyelidikan dan mencari ke mana hilangnya kedua orang anakmu itu." Retna Wilis membujuk.
Akhirnya Mbok Rondo Gati menurut nasihat itu dan Retno Wilis naik perahu janda itu, sedangkan Bagus Seto kembali naik perahu Harjadenta. Mereka berempat lalu mendayung perahu untukkembali ke Bulumanik.

Untuk sementara tiga orang muda perkasa itu tinggal mondok di rumah Mbok Rondo Gati dan hal ini merupakan hiburan besar bagi janda yang berduka kehilangan dua orang anaknya itu. Tiga orang muda yang berjanji untuk menyelidiki hilangnya dua orang anaknya itu mendatangkan harapan dalam hatinya. Akan tetapi harapan untuk bertemu kembali dengan dua orang anaknya sudah hilang ketika Bagus Seta mengundang pemuda yang mengabarkan akan adanya dua mayat anak Mbok Rondo Gati dan pemuda itu menyatakan dengan sumpah bahwa dia tidak berbohong. Mbok Rondo Gati hanya mengharapkan untuk dapat mengetahui siapa yang
menculik anaknya dan siapa pula yang membunuhnya. Maka ia melayani tiga orang muda itu dengan baik, memasakkan makan dan minum sederhana untuk mereka. Malam itu mereka bertiga berunding.
"Biar malam ini aku sendiri yang mengadakan penyelidikan ke candi yang baru dibangun itu. Kita harus mencurigai mereka karena sejak dahulu, penyembah Bathari Durgo dan Bathara Kala itu selalu melakukan penyelewengan-penyelewengan. Sebaiknya kalian mengaso dulu dan menanti hasil penyelidikanku."
Retnao Wilis dan Harjadenta menyetujui pendapat Bagus Seta ini. Mereka berdua tentu saja maklum akan kesaktian pemuda itu dan tidak mengkhawatirkan kepergiannya seorang diri. Malam itu, bulan masih bersinar terang, bagus Seto menggunakan kepandaiannya, berkelebat di antara bayang-bayang pohon dan tak lama kemudian tibalah dia di candi yang sedang dibangun itu. Malam itu tidak ada yang bekerja dan juga tidak diadakan pesta seperti pada malam Respati. Keadaan di sekitar candi itu sunyi. Bagus Seta mengadakan pemeriksaan dari atas atap, akan tetapi dia tidak menemui sesuatu yang mencurigakan. Dia melihat para pekerja pria berkumpul dan bermalam di sebuah bangunan besar dan para pembantu wanita berkumpul dan bermalam di sebuah bangunan lain. Tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Memang menjadi peraturan agama itu, kecuali pada hari Respati malam, tidak diperbolehkan mereka saling berhubungan atau saling mengganggu dengan ancaman hukuman berat yaitu dikutuk.

Di bagian belakang candi itu terdapat belasan buah kamar yang kebanyakan kosong dan di dalam dua kamar di antaranya, Bagus Seto melihat seorang wanita cantik duduk bersamadhi. Dari hawa di sekitar kamar itu saja tahulah Bagus Seta bahwa wanita itu adalah seorang yang memiliki kesaktian. Dia mendapatkan pula seorang laki-laki bertubuh raksasa, juga sedang bersamadhi. Laki-laki inipun memiliki kesaktian. Bagus Seta membayangkan cerita Mbok Rondo Gati. Apakah dua orang ini yang menculik Sularko dan Sawitri? Akan tetapi, mereka kelihatan sebagai orang-orang yang berilmu, rasanya tidak masuk akal kalau mereka melakukan kejahatan seperti itu.
Setelah puas melakukan penyelidikan keadaan candi yang baru dibangun, sebuah candi yang indah dan di mana-mana terdapat arca Bathara Shiwa, Bathara Kala dan Bathari Durgo. Bagus Seto lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah Mbok Rondo Gati.
"Aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sana," katanya kepada Retna Wilis dan Harjadenta.
"Kecuali dua orang yang sakti, yaitu seorang perempuan cantik dan seorang pria raksasa."
"Hemm, jangan-jangan mereka itu yang menculik Sularko dan Sawitri!" kata Harjadenta.
"Rasanya sukar dipercaya orang-orang yang memiliki kesaktian seperti mereka melakukan penculikan," kata Bagus Seta.
"Akan tetapi kita hatus menyelidiki dua orang itu!" kata Retna Wilis.
"Tidak ada lain jalan. Kita harus menanti sampai datangnya hari Respati malam di waktu mereka mengadakan pesta dan kita lihat saja apa yang terjadi di sana."
"Hari Respati malam masih kurang sepekan lagi," kata Retna Wilis.
"Kita harus bersabar kalau ingin berhasil,” kata kakaknya.
"Dan untuk memancing mereka mengulangi lagi perbualan mereka, kita perlu mengadakan umpan."
"Akan tetapi itu berbahaya sekali!" kata Retna Wilis.
"Aku sendiri sudah pernah menjadi korban ilmu sihir dan guna-guna mereka."
"Justeru itulah, kita harus memancing. Dan sebaiknya adimas Harjadenta yang menjadi umpan. Beranikah engkau menjadi umpan untuk mereka, adimas?"

Harjadenta tersenyum. walaupun agak masam karena hatinya agak gentar juga mendengar betapa Retna Wilis saja menganggap hal ini berbahaya.
"Tentu saja aku berani. Bukankah di sini terdapat anda berdua yang pasti akan melindungiku?"
"Tentu saja kami akan melindungimu, adimas."
"Lalu bagaimana pemasangan umpan itu dilakukan kakang?" tanya Retna Wilis.
"Pada hari Respati, sebaiknya kalau adimas Harjadenta datang ke sana dan minta pekerjaan membangun candi. Engkau tentu dapat melakukan pekerjaan memahat dan mengukir, adimas?"
"Walaupun bukan ahli, akan tetapi aku dapat membantu pekerjaan mereka.”
"Bagus, nanti pada hari Respati, engkau minta pekerjaan di sana dan aku yakin pasti akan diterima. Nah, malamnya tentu engkau akan kebagian pesta pula. Dan aku mengharap pada malam hari itu akan terjadi sesuatu yang akan mengungkap rahasia ini."
"Apakah tidak sebaiknya kalau akupun menjadi umpan, kakang? Ingat, yang menjadi korban, anak-anak Mbok Rondo Gati, adalah seorang pemuda dan seorang pemudi. Biarlah akupun ikut memancing mereka dan engkau yang melindungi aku dan kakangmas Harjadenta."
Bagus Seta menggeleng kepalanya.
"Aku tidak setuju dengan pendapatmu itu. Ingat, engkau bukanlah gadis yang tidak terkenal. Aku khawatir kalau di antara mereka yang sakti itu mengenalmu dan kalau mereka mengenalmu, tentu gagal usaha kita untuk memancing. Berbeda dengan adimas Harjadenta, dia belum lama turun gunung dan tidak pernah berurusan dengan orang-orang dari golongan itu. Sudahlah, pada Respati malam nanti, kalau dalam pesta, engkau mengintai dan menyelidiki bagian wanita, dan aku menyelidiki bagian pria. Akan tetapi hati-hati diajeng, di sana ada wanita yang cantik dan sakti yang berbahaya sekali.”
"Wanita cantik yang sakti? Aku jadi ingat akan pesan guruku." kata Harjadenta.
Retna Wilis tersenyum dan memandangnya.
“Tentu engkau menduga ia menjadi pencuri Ki Carubuk, bukan?"
Bagus Seta berkata,
"Bukan tidak mungkin ia yang mencuri pusaka itu! Di sekitar kamarnya aku mencium adanya kekuatan tersembunyi seperti kekuatan sihir dan guna-guna."
"Bagus! Kalau begitu aku menjadi lebih bersemangat pula untuk melakukan penyelidikan. Biar aku yang menjadi umpannya untuk menangkap si pencuri laknat itu!" kata Harjadenta.
Demikianlah, tiga orang itu tinggal di rumah Mbok Rondo Gati dan setelah hari Respati tiba, Harjadenta pagi-pagi benar telah pergi mengunjungi candi yang baru dibangun. Ketika dia mengatakan pada para pekerja dan penjaga bahwa kedatangannya adalah untuk minta pekerjaan membantu pembangunan candi, dia segera dihadapkan kepada Ni Dewi Durgomolo. Wanita yang masih cantik dan genit itu menyambut kunjungan Harjadenta dengan wajah berseri dan matanya yang tajam itu meneliti Harjadenta dari kepala sampai ke kaki dan agaknya ia merasa puas dengan apa yang dilihatnya. Seorang pemuda yang tegap tampan dan gagah, wajahnya riang dan terang penuh senyum. Bukan seperti pemuda dusun kebanyakan, melainkan lebih pantas menjadi seorang pemuda kota atau pemuda bangsawan.
"Siapa namamu?" tanyanya ketika Harjadenta menghadapnya.
Pemuda yang tampak amat hormat itu mengangkat mukanya. Dia duduk bersila di atas lantai sedangkan Ni Dewi Durgomala duduk di atas sebuah kursi. Harjadenta memandang wanita itu dan jantungnya berdebar.

<<< Bagian 28                                                                                         Bagian 30 >>>

No comments:

Post a Comment