Sepasang Garuda Putih ; Bagian 30


Wanita yang cantik, pikirnya. Usianya sukar ditaksir. Melihat wajah dan bentuk tubuhnya, agaknya ia baru berusia duapuluhan tahun, akan tetapi pandang matanya yang tajam demikian matang dan penuh pengertian seperti pandang mata seorang wanita yang lebih tua. Matanya mengerling tajam dan genit, senyumnya memikat dan sehabis bicara ia menggunakan ujung lidahnya yang merah untuk menjilat bibirnya sendiri. Seperti seekor ular yang cantik, pikir Harjadenta, menduga-duga apakah wanita ini yang dimaksudkan gurunya, yang telah mencuri Ki Carubuk.
"Nama saya Harjadenta,
"jawabnya sederhana, lalu menundukkan mukanya karena pandang wanita itu penuh selidik, seolah hendak menjenguk isi hatinya melalui pertemuan pandang mata.
"Dari mana engkau datang, siapa orang tuamu?" tanya pula Ni Dewi Durgomala penuh selidik. Kalau yang minta pekerjaan itu seorang pemuda dusun, ia tidak akan bertanya sebanyak itu.
"Saya datang dari hulu Kali Manyar dari dusun Manukan," dia membohong. Dia tidak berani mengaku bahwa dia berasal dari Gunung Raung karena kalau benar wanita ini yang mencuri Ki Carubuk, tentu wanita ini akan menjadi curiga kepadanya.
"Saya sudah tidak mempunyai orang tua lagi, sudah yatim piatu."
Wanita cantik itu berseri, girang mendengar bahwa pemuda itu sudah yatim piatu.
"Dan engkau datang ke tempat ini mau apa?" tanyanya lagi sambil memandang dengan tersenyum manis.
"Saya adalah seorang pengembara yang mencari pengalaman hidup dan disini saya mendengar bahwa pembangunan candi ini membutuhkan banyak tenaga. Nah, kalau sekiranya saya dapat diterima, saya akan senang sekali bekerja di sini, membantu pembangunan candi ini."
"Engkau dapat membuat arca, memahat dan mengukir"
"Sedikit-sedikit, dan saya dapat belajar dari ahli-ahli yang berada di sini."
“Bagus sekali! Engkau diterima, akan tetapi kalau menjadi pekerja di sini, engkau juga harus menjadi anggauta perkumpulan agama kami. Sanggupkah engkau?"
"Kalau memang itu persyaratannya, tentu saja saya sanggup."
"Baik sekali, Harjadenta. Malam ini adalah malam Respati, malam nanti ada pesta di sini dan pada kesempatan ini engkau dapat menerima pengangkatan sebagai seorang anggota baru." Ni Dewi Durgomala memandang kepada Harjadenta dengan sinar mata penuh arti. Pemuda ini diam-diam bergidik. Pandang mata itu begitu penuh tantangan, penuh rayuan, penuh daya tarik maka dia cepat-cepat menundukkan mukanya.
"Saya bersedia, den ajeng ... ”
"Hemm, jangan sebut aku den ajeng, tetapi sebut aku Ni Dewi begitu saja. Ketahuilah bahwa aku yang memimpin pembangunan di sini, dan wakilku adalah Ki Shiwananda. Kalau engkau bekerja dengan baik dan penurut, engkau tentu akan dapat menemukan kebahagiaan di sini. Agama kami bertujuan membahagiakan semua anggotanya."
"Terima kasih."

Harjadenta lalu diajak pergi menemui para tukang membuat arca dan diperbantukan di bagian ini. Mulai pagi itu Harjadenta sudah bekerja ikut membangun candi.
"Andika diterima sendiri oleh Ni Dewi dan diberi pekerjaan di sini? Ah, andika beruntung sekali," kata seorang di antara mereka, seorang laki-laki muda yang mukanya penuh noda hitam bekas cacar.
"Aku tidak seberuntung andika."
"Mengapa engkau mengatakan aku beruntung?" Tanya Harjadenta.
"Engkau tentu diterima menjadi anggota agama baru, bukan?"
"Benar."
"Nah, engkau akan mengerti sendiri malam nanti. Engkau sungguh beruntung dan aku iri kepadamu,” kata pula pria yang mukanya bernoda itu. Dia sudah menutup mulut dan tidak mau bercerita lebih banyak dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada pekerjaannya mengukir dan memahat.
Berdebar tegang juga hati Harjadenta menanti datangnya malam. Apa yang akan terjadi dengan dirinya? Mengapa laki-laki bopeng itu mengatakan bahwa dia beruntung? Siang dan sore itu para pekerja mendapatkan makan yang cukup banyak dan enak. Harjadenta juga ikut makan dan dia mendapat kenyataan betapa para pekerja itu bekerja dengan rajin dan agaknya patuh sekali kepada atasan mereka. Mereka bekerja sambil bernyanyi dan bersenandung. Kalau Ni Dewi datang menjenguk, mereka semua menganggukan wajah mereka berseri gembira. Wanita cantik itupun bersikap ramah sekali kepada para pekerja, kalau ada yang bekerja benar, ia memuji-muji dan kalau ada yang pekerjaannya tidak benar, ia memberi petunjuk dengan sabar. Tidak mengherankan kalau mereka bekerja dengan senang, pikir Harjadenta. Para pekerja diperlakukan dengan ramah dan mendapat makan yang cukup memadai.
Malam Respati itupun tibalah. Bulan muncul dan masih cukup terang karena bulan masih muncul tiga perempatnya. Gamelan sudah dibunyikan dan para pekerja dan para anggauta agama baru itu sudah mandi dan bersiap-siap untuk ikut dalam pesta. Harjadenta disuruh mandi dan bertukar pakaian. Lalu dia dipanggil oleh Ni Dewi Durgomala. Setelah dia menghadap, wanita itu berkata dengan ramah.
"Sudah siapkah, engkau untuk melakukan upacara pengangkatan sebagai anggota baru dari agama kami?"
Harjadenta mengangguk dan menjawab,
"Saya sudah siap, Ni Dewi."
"Kalau begitu, engkau ikutilah para peserta lainnya mendekati panggung dan kalau nanti aku dan Ki Shiwananda sudah muncul di panggung, engkau harus naik ke panggung dan berlutut memberi hormat kepadaku. Pada waktu itu engkau harus minum anggur kebahagiaan sebagai tanda bahwa engkau telah menerima agama baru sebagai agamamu, dan engkau telah menjadi anggota kami. Dan selanjutnya, sebagai seorang anggota yang baik dan taat, engkau harus melaksanakan segala perintahku. Mengertikah engkau, Harjadenta?"
Harjadenta mengangguk.
"Saya mengerti."
"Bagus, nah sekarang bersiaplah dengan para anggota yang lain. Malam ini, untuk menghormati kemunculan Sang Bathari Durgo dan Sang Bathara Kala yang menjelma menjadi aku dan Ki Shiwananda, kita semua akan mengadakan pesta seperti biasa, engkau boleh ikut bersenang-senang dan mendapatkan kebahagiaan."

Harjadenta tidak mengerti apa yang dimaksudkan wanita itu, akan tetapi dia mengangguk dan tidak banyak bertanya agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dia akan menghadap apa yang datang nanti sambil mencari kesempatan untuk menyelidiki tentang pusaka Ki Carubuk, dan juga tentang nasib Sularko dan Sawitri. Ketika dia bercampur dengan para anggota agama itu, berkumpul di bawah panggung sambil mendengarkan gamelan yang mengiringkan nyanyian seorang pesinden yang suaranya merdu, dia mencari si muka bopeng yang siang tadi dibantunya bekerja.
"Tampaknya kita semua akan bersenang-senang, kawan." katanya.
"Tentu saja, setiap malam Respati kita semua bersenang-senang, dan inilah yang membuat kita semua senang bekerja di sini dan menjadi anggota agama baru ini." jawab si muka bopeng. Agaknya dia bergembira sekali sehingga mau banyak bicara secara terbuka. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Harjadenta untuk memperoleh keterangan sebanyak-banyaknya.
"Menurut Ni Dewi, aku akan diangkat menjadi anggota baru malam ini. Apa yang akan terjadi denganku nanti. Aku belum mengerti dan tidak dapat membayangkan apa yang terjadi sehingga aku merasa agak gugup."
Si muka bopeng tertawa.
"Ha ha, tidak perlu gugup, kawan. Engkau akan mendapatkan kesenangan luar biasa. Engkau tinggal menaati saja dan biasanya dalam pengangkatan anggota baru di malam Respati biasa, bukan kalau sedang bulan purnama di mana Sang Hyang Bathara Shiwa sendiri hadir dalam tubuh Wasi Shiwamurti, engkau hanya akan disuruh minum secawan tuak yang sudah diberi mantera dan engkau akan merasa bahagia sekali. Jangan khawatir kawan. Engkau akan mendapat kehormatan dan kesenangan yang luar biasa malam ini dan melihat gelagatnya, Bathari Durgo akan memilih engkau menjadi pelayannya malam ini."
"Bathari Durgo ... ?"
"Penjelmaan Bathari Durgo, yaitu Ni Dewi. Apakah engkau belum mengerti?"
"Belum. Maukah engkau menerangkan sejelasnya, kawan?"
"Agama kami menyembah Tritunggal, yaitu Sang Bathara Shiwa, Bathari Durgo dan Bathara Kala yang menjelma menjadi Sang Wasi Shiwamurti, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda. Nah, kita memuja tiga dewa dewi itu melalui mereka bertiga yang akan mengajarkan tentang agama ini kepada kita."
"Hemm, begitukah? Kawan, apakah pada malam Respati yang lalu juga ada anggota-anggota baru yang diangkat?" tanya Harjadenta sambil lalu, seolah pertanyaan itu tidak penting, pada hal dia mau mencari keterangan tentang Sularko dan Sawitri.
“Oh, ada. Mereka itu adalah kakak beradik dari Bulumanik sini saja, bernama Sularko dan adiknya yang bernama Sawitri."
"Lalu apa yang terjadi dengan mereka?"
Si muka bopeng menyeringai.
"Tentu saja mereka menjadi pilihan Ni Dewi dan Ki Shiwananda. Mereka tentu hidup berbahagia sekarang."
Harjadenta tidak mendesak lebih jauh.
"Bagaimana kalau ada orang berani menentang agama ini?"
"Siapa berani menentang? Ki Demang Kebolinggo sendiri menunjang didirikannya candi baru ini. Bahkan Kadipaten Nusabarung juga mendukungnya. Yang menentang tentu akan celaka oleh kutukan!"
"Kutukan?"
"Ya, tiga orang pimpinan kami adalah orang-orang sakti dan kalau mereka diserang dan menjadi marah, maka cukup dengan kutukan saja mereka yang berani mengganggu akan celaka hidupnya."
"Celaka bagaimana?"
"Sedikitnya tentu akan diserang penyakit berat atau bahkan dapat mati."

Percakapan itu terhenti karena di panggung telah muncul Ni Dewi Durgamala dan Ki Shiwananda. Harjadenta memandang ke atas panggung dan dengan penuh perhatian dia memandang ke arah Shiwananda. Seorang laki-laki yang bertubuh raksasa, tinggi besar dan kokoh kuat. ‘Seorang lawan yang tangguh,’ pikirnya. Melihat semua orang berlutut dan menyembah ke arah kedua orang itu, Harjadenta juga ikut berlutut dan menyembah. Akan telapi dia segera teringat pesan Ni Dewi bahwa kalau Ni Dewi sudah muncul di panggung, dia harus naik ke panggung menghadapnya. Maka, diapun lalu naik ke panggung melalui tangga yang tersedia di situ. Setelah berada di atas panggung, dia berlutut di depan Ni Dewi dan menyembah.
Ni Dewi Durgomala tertawa melihat dia. Ni Dewi lalu bangkit berdiri dan berkata dengan suara lantang,
"Saudara-saudara, malam ini ada seorang anggota baru. Inilah dia orangnya dan namanya adalah Harjadenta!" Ia memberi isyarat dan dua orang gadis lalu naik ke panggung membawa seguci tuak dan cawan-cawannya. Ni Dewi sendiri menuangkan tuak ke dalam sebuah guci, lalu membaca mantera dan menyerahkan cawan itu kepada Harjadenta.
"Harjadenta, sebagai tanda bahwa engkau mulai malam ini menjadi anggota agama kami, minumlah anggur bahagia ini sampai habis!" Matanya memandang dengan mencorong ke arah muka Harjadenta.
Harjadenta terkejut sekali ketika merasa betapa jantungnya berdebar dan ketika dia balas memandang, ada pengaruh hebat menguasai pikirannya. Dia berusaha menolak pengaruh itu, akan tetapi dia mendengar suara berwibawa dan memerintah.
"Minumlah anggur kebahagiaan ini!"
Seperti dalam mimpi, Harjadenta tidak dapat melawan atau menolak sama sekali. Seolah bergerak dengan sendirinya, kedua tangannya menerima cawan itu dan dia segera minum tuak itu. Hampir dia tersedak karena pemuda ini tidak biasa minum-minuman keras seperti tuak itu. Akan tetapi ditahannya dan tuak secawan itupun habis diminumnya. Terdengar sorak sorai dan setelah semua orang memberi hormat kepada Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda dengan nyanyian pujian yang aneh terdengarnya, pestapun dimulailah. Hidangan yang enak-enak disuguhkan dan tuak berlimpah-limpah. Semua orang makan dan minum dengan gembira, gamelan dibunyikan, makin lama semakin cepat dan keras iramanya dan orang-orang itupun mulai berjoget! Berlenggang-lenggok dengan gerakan-gerakan yang menunjukkan berkobarnya nafsu. Para wanitanya tanpa sungkan dan malu menggoyang-goyangkan pinggulnya sambil tertawa-tawa dan merekapun mendapatkan pasangan masing-masing. Ni Dewi Durgomala bangkit dari kursinya, menghampiri Harjadenta dan menjulurkan tangan sambil berkata,
"Harjadenta, mari kita bersenang-senang. Mari menari dengan aku!"
Harjadenta merasa heran sendiri ketika melihat betapa dia tidak mempunyai tenaga untuk menolak sama sekali. Bahkan hatinya merasa ikut bergembira dan kegembiraan yang meluap ini dapat disalurkan melalui tarian. Dia melihat Ni Dewi sudah menari di depannya, tariannya liar dan bernapsu, tubuhnya yang montok itu berlenggang-lenggok, pinggulnya bergoyang-goyang dankedua tangannya seperti mengajak Harjadenta.

<<< Bagian 29                                                                                          Bagian 31 >>>

No comments:

Post a Comment