Wanita yang cantik, pikirnya. Usianya sukar ditaksir. Melihat wajah dan bentuk tubuhnya, agaknya ia baru berusia duapuluhan tahun, akan tetapi pandang matanya yang tajam demikian matang dan penuh pengertian seperti pandang mata seorang wanita yang lebih tua. Matanya mengerling tajam dan genit, senyumnya memikat dan sehabis bicara ia menggunakan ujung lidahnya yang merah untuk menjilat bibirnya sendiri. Seperti seekor ular yang cantik, pikir Harjadenta, menduga-duga apakah wanita ini yang dimaksudkan gurunya, yang telah mencuri Ki Carubuk.
"Nama
saya Harjadenta,
"jawabnya
sederhana, lalu menundukkan mukanya karena pandang wanita itu penuh selidik,
seolah hendak menjenguk isi hatinya melalui pertemuan pandang mata.
"Dari
mana engkau datang, siapa orang tuamu?" tanya pula Ni Dewi Durgomala penuh
selidik. Kalau yang minta pekerjaan itu seorang pemuda dusun, ia tidak akan
bertanya sebanyak itu.
"Saya
datang dari hulu Kali Manyar dari dusun Manukan," dia membohong. Dia tidak
berani mengaku bahwa dia berasal dari Gunung Raung karena kalau benar wanita
ini yang mencuri Ki Carubuk, tentu wanita ini akan menjadi curiga kepadanya.
"Saya
sudah tidak mempunyai orang tua lagi, sudah yatim piatu."
Wanita cantik
itu berseri, girang mendengar bahwa pemuda itu sudah yatim piatu.
"Dan
engkau datang ke tempat ini mau apa?" tanyanya lagi sambil memandang
dengan tersenyum manis.
"Saya
adalah seorang pengembara yang mencari pengalaman hidup dan disini saya
mendengar bahwa pembangunan candi ini membutuhkan banyak tenaga. Nah, kalau
sekiranya saya dapat diterima, saya akan senang sekali bekerja di sini,
membantu pembangunan candi ini."
"Engkau
dapat membuat arca, memahat dan mengukir"
"Sedikit-sedikit,
dan saya dapat belajar dari ahli-ahli yang berada di sini."
“Bagus sekali!
Engkau diterima, akan tetapi kalau menjadi pekerja di sini, engkau juga harus
menjadi anggauta perkumpulan agama kami. Sanggupkah engkau?"
"Kalau
memang itu persyaratannya, tentu saja saya sanggup."
"Baik
sekali, Harjadenta. Malam ini adalah malam Respati, malam nanti ada pesta di
sini dan pada kesempatan ini engkau dapat menerima pengangkatan sebagai seorang
anggota baru." Ni Dewi Durgomala memandang kepada Harjadenta dengan sinar
mata penuh arti. Pemuda ini diam-diam bergidik. Pandang mata itu begitu penuh
tantangan, penuh rayuan, penuh daya tarik maka dia cepat-cepat menundukkan
mukanya.
"Saya
bersedia, den ajeng ... ”
"Hemm,
jangan sebut aku den ajeng, tetapi sebut aku Ni Dewi begitu saja. Ketahuilah
bahwa aku yang memimpin pembangunan di sini, dan wakilku adalah Ki Shiwananda.
Kalau engkau bekerja dengan baik dan penurut, engkau tentu akan dapat menemukan
kebahagiaan di sini. Agama kami bertujuan membahagiakan semua anggotanya."
"Terima
kasih."
Harjadenta
lalu diajak pergi menemui para tukang membuat arca dan diperbantukan di bagian
ini. Mulai pagi itu Harjadenta sudah bekerja ikut membangun candi.
"Andika
diterima sendiri oleh Ni Dewi dan diberi pekerjaan di sini? Ah, andika
beruntung sekali," kata seorang di antara mereka, seorang laki-laki muda
yang mukanya penuh noda hitam bekas cacar.
"Aku
tidak seberuntung andika."
"Mengapa
engkau mengatakan aku beruntung?" Tanya Harjadenta.
"Engkau
tentu diterima menjadi anggota agama baru, bukan?"
"Benar."
"Nah,
engkau akan mengerti sendiri malam nanti. Engkau sungguh beruntung dan aku iri
kepadamu,” kata pula pria yang mukanya bernoda itu. Dia sudah menutup mulut dan
tidak mau bercerita lebih banyak dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada
pekerjaannya mengukir dan memahat.
Berdebar
tegang juga hati Harjadenta menanti datangnya malam. Apa yang akan terjadi
dengan dirinya? Mengapa laki-laki bopeng itu mengatakan bahwa dia beruntung?
Siang dan sore itu para pekerja mendapatkan makan yang cukup banyak dan enak.
Harjadenta juga ikut makan dan dia mendapat kenyataan betapa para pekerja itu
bekerja dengan rajin dan agaknya patuh sekali kepada atasan mereka. Mereka
bekerja sambil bernyanyi dan bersenandung. Kalau Ni Dewi datang menjenguk,
mereka semua menganggukan wajah mereka berseri gembira. Wanita cantik itupun
bersikap ramah sekali kepada para pekerja, kalau ada yang bekerja benar, ia
memuji-muji dan kalau ada yang pekerjaannya tidak benar, ia memberi petunjuk
dengan sabar. Tidak mengherankan kalau mereka bekerja dengan senang, pikir
Harjadenta. Para pekerja diperlakukan dengan ramah dan mendapat makan yang
cukup memadai.
Malam Respati
itupun tibalah. Bulan muncul dan masih cukup terang karena bulan masih muncul
tiga perempatnya. Gamelan sudah dibunyikan dan para pekerja dan para anggauta
agama baru itu sudah mandi dan bersiap-siap untuk ikut dalam pesta. Harjadenta
disuruh mandi dan bertukar pakaian. Lalu dia dipanggil oleh Ni Dewi Durgomala.
Setelah dia menghadap, wanita itu berkata dengan ramah.
"Sudah
siapkah, engkau untuk melakukan upacara pengangkatan sebagai anggota baru dari
agama kami?"
Harjadenta
mengangguk dan menjawab,
"Saya
sudah siap, Ni Dewi."
"Kalau
begitu, engkau ikutilah para peserta lainnya mendekati panggung dan kalau nanti
aku dan Ki Shiwananda sudah muncul di panggung, engkau harus naik ke panggung
dan berlutut memberi hormat kepadaku. Pada waktu itu engkau harus minum anggur
kebahagiaan sebagai tanda bahwa engkau telah menerima agama baru sebagai agamamu,
dan engkau telah menjadi anggota kami. Dan selanjutnya, sebagai seorang anggota
yang baik dan taat, engkau harus melaksanakan segala perintahku. Mengertikah
engkau, Harjadenta?"
Harjadenta
mengangguk.
"Saya
mengerti."
"Bagus,
nah sekarang bersiaplah dengan para anggota yang lain. Malam ini, untuk
menghormati kemunculan Sang Bathari Durgo dan Sang Bathara Kala yang menjelma
menjadi aku dan Ki Shiwananda, kita semua akan mengadakan pesta seperti biasa,
engkau boleh ikut bersenang-senang dan mendapatkan kebahagiaan."
Harjadenta
tidak mengerti apa yang dimaksudkan wanita itu, akan tetapi dia mengangguk dan
tidak banyak bertanya agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dia akan menghadap apa
yang datang nanti sambil mencari kesempatan untuk menyelidiki tentang pusaka Ki
Carubuk, dan juga tentang nasib Sularko dan Sawitri. Ketika dia bercampur
dengan para anggota agama itu, berkumpul di bawah panggung sambil mendengarkan
gamelan yang mengiringkan nyanyian seorang pesinden yang suaranya merdu, dia
mencari si muka bopeng yang siang tadi dibantunya bekerja.
"Tampaknya
kita semua akan bersenang-senang, kawan." katanya.
"Tentu
saja, setiap malam Respati kita semua bersenang-senang, dan inilah yang membuat
kita semua senang bekerja di sini dan menjadi anggota agama baru ini."
jawab si muka bopeng. Agaknya dia bergembira sekali sehingga mau banyak bicara
secara terbuka. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Harjadenta untuk
memperoleh keterangan sebanyak-banyaknya.
"Menurut
Ni Dewi, aku akan diangkat menjadi anggota baru malam ini. Apa yang akan
terjadi denganku nanti. Aku belum mengerti dan tidak dapat membayangkan apa
yang terjadi sehingga aku merasa agak gugup."
Si muka bopeng
tertawa.
"Ha ha,
tidak perlu gugup, kawan. Engkau akan mendapatkan kesenangan luar biasa. Engkau
tinggal menaati saja dan biasanya dalam pengangkatan anggota baru di malam
Respati biasa, bukan kalau sedang bulan purnama di mana Sang Hyang Bathara
Shiwa sendiri hadir dalam tubuh Wasi Shiwamurti, engkau hanya akan disuruh
minum secawan tuak yang sudah diberi mantera dan engkau akan merasa bahagia
sekali. Jangan khawatir kawan. Engkau akan mendapat kehormatan dan kesenangan
yang luar biasa malam ini dan melihat gelagatnya, Bathari Durgo akan memilih
engkau menjadi pelayannya malam ini."
"Bathari
Durgo ... ?"
"Penjelmaan
Bathari Durgo, yaitu Ni Dewi. Apakah engkau belum mengerti?"
"Belum.
Maukah engkau menerangkan sejelasnya, kawan?"
"Agama
kami menyembah Tritunggal, yaitu Sang Bathara Shiwa, Bathari Durgo dan Bathara
Kala yang menjelma menjadi Sang Wasi Shiwamurti, Ni Dewi Durgomala dan Ki
Shiwananda. Nah, kita memuja tiga dewa dewi itu melalui mereka bertiga yang
akan mengajarkan tentang agama ini kepada kita."
"Hemm,
begitukah? Kawan, apakah pada malam Respati yang lalu juga ada anggota-anggota
baru yang diangkat?" tanya Harjadenta sambil lalu, seolah pertanyaan itu
tidak penting, pada hal dia mau mencari keterangan tentang Sularko dan Sawitri.
“Oh, ada.
Mereka itu adalah kakak beradik dari Bulumanik sini saja, bernama Sularko dan
adiknya yang bernama Sawitri."
"Lalu apa
yang terjadi dengan mereka?"
Si muka bopeng
menyeringai.
"Tentu
saja mereka menjadi pilihan Ni Dewi dan Ki Shiwananda. Mereka tentu hidup
berbahagia sekarang."
Harjadenta
tidak mendesak lebih jauh.
"Bagaimana
kalau ada orang berani menentang agama ini?"
"Siapa
berani menentang? Ki Demang Kebolinggo sendiri menunjang didirikannya candi
baru ini. Bahkan Kadipaten Nusabarung juga mendukungnya. Yang menentang tentu
akan celaka oleh kutukan!"
"Kutukan?"
"Ya, tiga
orang pimpinan kami adalah orang-orang sakti dan kalau mereka diserang dan
menjadi marah, maka cukup dengan kutukan saja mereka yang berani mengganggu
akan celaka hidupnya."
"Celaka
bagaimana?"
"Sedikitnya
tentu akan diserang penyakit berat atau bahkan dapat mati."
Percakapan itu
terhenti karena di panggung telah muncul Ni Dewi Durgamala dan Ki Shiwananda.
Harjadenta memandang ke atas panggung dan dengan penuh perhatian dia memandang
ke arah Shiwananda. Seorang laki-laki yang bertubuh raksasa, tinggi besar dan
kokoh kuat. ‘Seorang lawan yang tangguh,’ pikirnya. Melihat semua orang
berlutut dan menyembah ke arah kedua orang itu, Harjadenta juga ikut berlutut
dan menyembah. Akan telapi dia segera teringat pesan Ni Dewi bahwa kalau Ni
Dewi sudah muncul di panggung, dia harus naik ke panggung menghadapnya. Maka,
diapun lalu naik ke panggung melalui tangga yang tersedia di situ. Setelah
berada di atas panggung, dia berlutut di depan Ni Dewi dan menyembah.
Ni Dewi
Durgomala tertawa melihat dia. Ni Dewi lalu bangkit berdiri dan berkata dengan
suara lantang,
"Saudara-saudara,
malam ini ada seorang anggota baru. Inilah dia orangnya dan namanya adalah
Harjadenta!" Ia memberi isyarat dan dua orang gadis lalu naik ke panggung
membawa seguci tuak dan cawan-cawannya. Ni Dewi sendiri menuangkan tuak ke dalam
sebuah guci, lalu membaca mantera dan menyerahkan cawan itu kepada Harjadenta.
"Harjadenta,
sebagai tanda bahwa engkau mulai malam ini menjadi anggota agama kami, minumlah
anggur bahagia ini sampai habis!" Matanya memandang dengan mencorong ke
arah muka Harjadenta.
Harjadenta
terkejut sekali ketika merasa betapa jantungnya berdebar dan ketika dia balas
memandang, ada pengaruh hebat menguasai pikirannya. Dia berusaha menolak
pengaruh itu, akan tetapi dia mendengar suara berwibawa dan memerintah.
"Minumlah
anggur kebahagiaan ini!"
Seperti dalam
mimpi, Harjadenta tidak dapat melawan atau menolak sama sekali. Seolah bergerak
dengan sendirinya, kedua tangannya menerima cawan itu dan dia segera minum tuak
itu. Hampir dia tersedak karena pemuda ini tidak biasa minum-minuman keras
seperti tuak itu. Akan tetapi ditahannya dan tuak secawan itupun habis
diminumnya. Terdengar sorak sorai dan setelah semua orang memberi hormat kepada
Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda dengan nyanyian pujian yang aneh
terdengarnya, pestapun dimulailah. Hidangan yang enak-enak disuguhkan dan tuak
berlimpah-limpah. Semua orang makan dan minum dengan gembira, gamelan
dibunyikan, makin lama semakin cepat dan keras iramanya dan orang-orang itupun
mulai berjoget! Berlenggang-lenggok dengan gerakan-gerakan yang menunjukkan
berkobarnya nafsu. Para wanitanya tanpa sungkan dan malu menggoyang-goyangkan
pinggulnya sambil tertawa-tawa dan merekapun mendapatkan pasangan
masing-masing. Ni Dewi Durgomala bangkit dari kursinya, menghampiri Harjadenta dan
menjulurkan tangan sambil berkata,
"Harjadenta,
mari kita bersenang-senang. Mari menari dengan aku!"
Harjadenta
merasa heran sendiri ketika melihat betapa dia tidak mempunyai tenaga untuk
menolak sama sekali. Bahkan hatinya merasa ikut bergembira dan kegembiraan yang
meluap ini dapat disalurkan melalui tarian. Dia melihat Ni Dewi sudah menari di
depannya, tariannya liar dan bernapsu, tubuhnya yang montok itu
berlenggang-lenggok, pinggulnya bergoyang-goyang dankedua tangannya seperti
mengajak Harjadenta.
<<< Bagian 29 Bagian 31 >>>
No comments:
Post a Comment