Sepasang Garuda Putih ; Bagian 31


Tanpa dapat ditahannya lagi Harjadenta pun mulai ikut menari menurutkan irama gamelan yang panas! Ki Shiwananda juga sudah memperoleh pasangan seorang gadis yang cantik dan agaknya ia adalah seorang anggota yang sudah lama. Ia tidak canggung lagi menari-nari bersama raksasa itu sambil tertawa-tawa genit.

Makin malam, pesta tari-tarian itu semakin panas memuncak dan akhirnya mereka berpasang-pasangan meninggalkan panggung. Ki Shiwananda juga sudah menggandeng pasangannya menghilang dari panggung. Ni dewi Durgomala sambil tertawa-tawa menggandeng tangan Harjadenta menuruni panggung dan menuju ke belakang candi. Harjadenta bagaikan seekor domba yang dituntun ke tempat penjagalan, hanya menurut saja. Dia bagaikan sedang mimpi dan sama sekali tidak menolak ketika ditarik memasuki sebuah kamar di belakang candi. Ketika pintu kamar itu dibuka dan Ni Dewi Durgomala menarik tangan Harjadenta untuk masuk, tiba-tiba saja ada sinar putih menyambar dan benda putih itu mengenai muka Harjadenta. Harjadenta terkejut dan merasa seperti kepalanya disiram air dingin yang membuat dia seketika menyadari keadaannya, benda putih itu ternyata setangkai kembang cempaka yang kini menyusup ke rambutnya.
"Ah, tidak ... !!" Dia meronta dan melepaskan diri dari pegangan tangan Ni Dewi Durgomala. Wanita inipun terkejut dan memandang pemuda itu dengan matanya yang berapi penuh nafsu.
"Harjadenta, wong bagus, mari kita bersenang-senang,” katanya dan ia hendak meraih untuk menangkap lagi tangan pemuda itu. Akan tetapi kini Harjadenta sudah sadar sama sekali akan keadaannya yang luar biasa, bahkan dia teringat betapa tadi dia ikut menari-nari seperti orang gila, tahu pula bahwa semua ini akibat pengaruh wanita yang kini berada di depannya.
"Iblis betina, engkau tidak bisa memaksaku!" katanya lagi dan dia mengelak dari sambaran tangan Ni Dewi Durgomala dan melompat keluar dari kamar itu. Ni Dewi Durgomala menjadi marah dan juga heran sekali. Bagaimana mungkin pemuda itu sudah terlepas dari pengaruh sihirnya? Ia lalu mengerahkan tenaga sihirnya, menggerakkan kedua tangan ke arah muka Harjadenta dan ia membentak dengan suara yang mengandung penuh wibawa,
"Harjadenta, ke sini kau! Engkau menurut atas segala kehendakku! Engkau telah menjadi anggota perkumpulan agamaku, dan engkau telah menjadi budakku. Ke sinilah!"
Harjadenta merasakan ada tarikan yang amat kuat mencengkeram dirinya dan seperti memaksa dirinya untuk masuk ke kamar itu dan berlutut menyembah wanita itu. Akan tetapi ada kekuasaan lain di belakangnya dan terdengar bisikan.
"Adimas Harjadenta. Tolak pengaruh iblis itu!" Bisikan itu amat lembut namun mengandung kekuatan yang demikian hebatnya sehingga mengalahkan daya tarik dari wanita itu.
"Iblis betina, aku tidak akan tunduk ke padamu!"

Harjadenta berkata sambil melangkah mundur menjauhi pintu kamar itu. Bukan main marahnya Ni Dewi Durgomala mendengar dan melihat sikap ini. Dengan teriakan marah ia melompat keluar dan sudah tiba di depan Harjadenta.
"Keparat! Kalau begitu, apakah engkau lebih memilih mati dari pada menaati perintahku?"
"Ah, Ni Dewi Durgomala, beginikah engkau telah membunuh Sularko?" Harjadenta balas membentak.
Ni Dewi Durgomala terkejut bukan main mendengar ucapan itu dan tanpa banyak cakap tubuhnya sudah meluncur ke depan, tangan kirinya menampar ke arah kepala Harjadenta. Pemuda yang pernah menerima gemblengan ilmu kanuragan dari Empu Gandawijaya, cepat menangkis dengan memutar lengan kanannya.
''Dukkk ... !" Harjadenta yang menangkis pukulan itu terpental dan terhuyung ke belakang sampai beberapa langkah.
"Mampuslah!" Ni Dewi Durgomala yang sudah marah sekali, melompat dan mengirim pukulan susulan yang sangat dahsyat dan cepat sehingga agaknya pukulan ini tidak akan dapat dihindarkan lagi oleh Harjadenta.
"Wuuuuuttt ... plakkkk!!" Kini tubuh Ni Dewi Durgomala yang terhuyung ke belakang. Ternyata pukulannya tadi ada yang menangkis, seorang yang muncul dari belakang Harjadenta, seorang pemuda yang berpakaian serba putih dan bersikap sederhana. Ketika tadi menangkis pukulan Ni Dewi Durgomala, diapun tampak tenang dan menangkis sembarangan saja, akan tetapi ternyata telah membuat Ni Dewi Durgomala terhuyung ke belakang.
Ni Dewi Durgomala tertegun dan bukan main kagumnya melihat seorang pemuda yang demikian tenang dan tampan, seperti Sang Harjuna saja! Jantungnya berdebar keras dan biarpun ia tadi ditangkis sampai terhuyung, ia tidak marah kepada pemuda itu, bahkan kini ia mengerling dan tersenyum manis sekali. Ia sendiri ketika itu sedang dilanda nafsu berahi yang memuncak, maka begitu melihat Bagus Seta yang demikian tampan, ia segera mengerahkan aji pengasihan untuk mengguna-gunai dan menarik hati perjaka yang tampan ini.
"Teja-teja sulaksana tejanya orang yang baru tampak! Satria bagus, siapakah andika, wong ganteng?" Ia bertanya sambil tersenyum.
Saking kuatnya aji pengasihan yang ia kerahkan, bahkan Harjadenta yang sudah terlepas dari pengaruh sihirnya, kini memandang terlongong penuh kagum kepada Ni Dewi Durgomala yang mendadak kelihatan demikian cantik jelita dan menarik seperti seorang dewi yang baru turun dari kahyangan!

Akan tetapi Bagus Seta tersenyum tenang. Sebelum dia menjawab, terdengar suara ribut-ribut di kamar sebelah dan Retna Wilis yang berpakaian serba putih itu melompat keluar dari kamar itu dikejar oleh Ki Shiwananda! Apakah yang terjadi di kamar itu? Ternyata Retna Wilis membagi tugas dengan kakaknya. Bagus Seta membayangi Ni Dewi Durgomala dan Retna Wilis membayangi Ki Shiwananda. Gadis perkasa ini tadi mengintai pesta liar di atas panggung dan ia pun teringat akan pengalamannya dahulu. Pernah ia terlibat dalam pesta seperti itu di bawah pengaruh orang-orang sesat yang menggunakan sihir kepadanya, ia merasa ngeri dan juga marah bukan main. Ia melihat pula betapa Harjadenta terpengaruh sihir dan ikut menari-nari liar, akan tetapi karena Bagus Seta yang akan mengawasinya, maka ia terus mengamati Ki Shiwananda yang kemudian menarik tangan seorang gadis yang tadi menjadi pasangannya menari menuju ke belakang candi dan memasuki sebuah kamar! Retna Wilis merasa malu untuk ikut masuk kamar itu, maka ia mengambil jalan memutar dan tiba di luar jendela kamar itu. Dengan tenaga Argoselo, ia menggunakan tangan kanannya untuk mendorong daun jendela kamar itu. Jendela itu jebol dan Retna Wilis meloncat masuk dengan maksud untuk menghajar laki-laki raksasa itu sambil membentak,
"Jahanam busuk, apa yang telah kau lakukan terhadap Sawitri?"
Ki Shiwananda terkejut bukan main ketika jendela jebol dan ia melihat berkelebatnya bayangan putih memasuki kamar, apalagi mendengar bentakan yang menanyakan tentang Sawitri itu. Akan tetapi diapun maklum bahwa wanita yang masuk kamarnya itu tentu seorang yang sakti, maka untuk menyelamatkan diri, dia sudah merangkul gadis pasangannya tadi dengan tangan kiri dan memasangnya di depan tubuh seperti perisai! Melihat ini, tentu saja Retna Wilis terkejut dan tidak jadi menyerang. Ia melihat betapa sarunya kalau dilihat orang ia berada di kamar seorang pria, maka ia lalu mendorong daun pintu dan melompat keluar. Ki Shiwananda yang sudah terhindar dari serangan mendadak itupun timbul keberaniannya dan diapun lompat mengejar. Ketika tiba di luar, Retna Wilis melihat bahwa kakaknya bersama Harjadenta juga sudah berhadapan dengan wanita cantik itu, maka ia mengulang pertanyaannya kepada Ki Shiwananda.
"Shiwananda, engkau tentu telah membunuh Sawitri, bukan? Engkau jahanam busuk, pendiri agama yang sesat! Setelah bertemu dengan Retna Wilis, jangan harap engkau akan dapat melarikan diri!"

Mendengar gadis berpakaian putih itu menyebut namanya, Ki Shiwananda terkejut bukan main, bahkan juga Ni Dewi Durgomala terkejut sekali. Ni Dewi Durgomala telah mendengar bahwa rekannya yang bernama Ni Dewi Nilamanik dahulu juga tewas secara mengerikan di tangan seorang dara yang bernama Retna Wilis! Dan gadis ini menurut penuturan Wasi Karangwolo dan Surengpati, gadis ini adalah puteri dari Ki Patih Tejolaksono dan Puteri Endang Patibroto yang terkenal sakti. Sementara itu, Bagus Seta menjawab pertanyaan Ni Dewi Durgomala yang tadi diajukan kepadanya,
"Ni Dewi Durgomala, aku bernama Bagus Seta. Katakanlah, apa yang kalian lakukan terhadap Sularko dan Sawitri?"
Melihat betapa Bagus Seta sama sekali tidak terpengaruh oleh aji pengasihannya, Ni Dewi Durgomala maklum bahwa ia berhadapan dengan orang yang sakti mandraguna, tidak terpengaruh oleh ilmu sihirnya. Akan tetapi ia masih hendak mencoba dan mulutnya berkemak-kemik, lalu ia membungkuk, mengambil segenggam pasir dan menaburkan pasir itu ke atas dan mendadak saja pemandangan menjadi gelap. Entah dari mana datangnya, ada asap hitam menutupi sinar bulan dan Hartjadenta sendiri terkejut dan merasa jerih. Akan tetapi Retna Wilis segera mengeluarkan lengkingan panjang, dan Bagus Seta berkata dengan lembut,
"Ni Dewi Durgomala, simpan saja ilmu setanmu yang hanya dapat dipakai menakut-nakuti anak kecil!" Bagus Seta menggerakkan tangan kirinya ke arah asap hitam itu menjadi buyar dan lenyap dan keadaan menjadi terang kembali.
"Augghhh ... !!" Ki Shiwananda telah mengeluarkan gerengan seperti seekor biruang dan tubuhnya sudah menerjang maju, menyerang ke arah Retna Wilis. Namun gadis itu dengan tangkasnya sudah mengelak sehingga lawannya hanya menubruk angin kosong. Segera terjadi pertandingan yang amat seru di antara mereka. Ki Shiwananda adalah murid Wasi Shiwamurti yang tercinta, bahkan diangkat menjadi anaknya, maka ilmu kepandaiannya amat tinggi. Bahkan dia lebih tangguh dibanding Ni Dewi Durgomala, hanya bedanya wanita ini menguasai segala macam ilmu sihir dan guna-guna. Akan tetapi sekali ini dia bertemu dengan Retna Wilis, maka terjadilah perkelahian yang amat dahsyat.
Sementara itu, Ni Dewi Durgomala menjadi pucat wajahnya ketika ilmu sihirnya demikian mudah dipunahkan oleh Bagus Seta. Maka ia tidak mau mencoba lagi ilmu sihirnya dan secepat kilat ia mencabut senjatanya, sebatang keris dan menubruk Bagus Seta mengirim serangan maut.
"Kakangmas, itu Ki Carubuk yang dipegangnya!" Harjadenta berteriak ketika mengenal keris yang berada di tangan Ni Dewi Durgomala.
Jelaslah bahwa yang mencuri Ki Carubuk adalah wanita iblis itu. Mendengar seruan ini, Ni Dewi Durgomala tidak perduli dan menyerang terus. Kerisnya seperti berubah menjadi seekor naga yang menyambar-nyambar, mengeluarkan hawa panas yang terasa oleh Harjadenta yang berdiri di pinggir. Namun tubuh Bagus Seta bagaikan telah berubah menjadi bayangan, selalu menghindar dengan lembut dan cepat sekali, terbebas dari semua tusukan keris.

Harjadenta hanya menonton perkelahian itu. Dia maklum bahwa ilmu kepandaiannya belum cukup untuk menandingi seorang lawan seperti Ni Dewi Durgomala atau Ki Shiwananda. Maka dia hanya menonton dengan hati tertarik. Pada saat itu, muncul puluhan anak buah atau anggota kumpulan agama itu dan melihat betapa Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda berkelahi dengan seorang pemuda dan seorang gadis, mereka beramai-ramai segera maju untuk mengeroyok Bagus Seta dan Retno Wilis. Harjadenta merasa mendapat tugas. Dia melompat ke depan dan mengamuk di antara para anggota agama itu. Akan tetapi karena dia tahu bahwa mereka ini adalah orang-orang yang tidak bersalah, hanya ikut-ikutan saja dan terdiri dari orang-orang dusun yang lugu, maka dia tidak mau menggunakan senjata, hanya membagi-bagi pukulan dan tendangan saja untuk mencegah mereka mengeroyok Retna Wilis atau Bagus Seta. Pertandingan antara Bagus Seta dan Ni Dewi Durgomala seperti seekor kucing mempermainkan seekor tikus saja. Bagus Seta hanya mengelak dan ketika keris itu menyambar lagi ke arah dadanya, dia berkata,
"Keris ini harus dikembalikan kepada pemiliknya!" Setelah berkata demikian, dia menyambut tusukan itu dengan tangannya, menangkap Keris itu dan sekali renggut, keris itu telah terlepas dari tangan Ni Dewi Durgomala.
Wanita ini terkejut bukan main. Hampir tidak percaya bahwa ada orang berani menangkap keris pusaka ampuh itu dengan tangannya begitu saja dan merenggutnya lepas dari tangannya, ia marah akan tetapi juga jerih, maklum bahwa ia tidak akan menang melawan pemuda berpakaian serba putih itu. Sambil berteriak ia lalu mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebuah kebutan berbulu hitam yang tadi terselip di pinggangnya.
"Haittt ... tar-tar!" Kebutan itu digerakkan sedemikian rupa sehingga ujung bulu-bulunya dapat meledak di atas kepala Bagus Seta. Namun pemuda itu tenang-tenang saja dan ketika ia menangkis ke atas, beberapa helai bulu kebutan putus! Ni Dewi Durgomala kini hanya berputar-putar dan menyerangkan kebutannya ke arah muka Bagus Seta dan selalu dielakkan oleh pemuda itu.

Sementara itu, pertandingan antara Retna Wilis melawan Ki Shiwananda berjalan seimbang. Ki Shiwananda memang tangguh sekali. Raksasa ini selain memiliki tenaga yang tidak lumrah manusia, juga dapat bercorak cepat biarpun tubuhnya demikian besarnya. Sepak terjangnya seperti seorang raksasa saja, kasar dan keras.

<<< Bagian 30                                                                                         Bagian 32 >>>

No comments:

Post a Comment