Tanpa dapat ditahannya lagi Harjadenta pun mulai ikut menari menurutkan irama gamelan yang panas! Ki Shiwananda juga sudah memperoleh pasangan seorang gadis yang cantik dan agaknya ia adalah seorang anggota yang sudah lama. Ia tidak canggung lagi menari-nari bersama raksasa itu sambil tertawa-tawa genit.
Makin malam,
pesta tari-tarian itu semakin panas memuncak dan akhirnya mereka
berpasang-pasangan meninggalkan panggung. Ki Shiwananda juga sudah menggandeng
pasangannya menghilang dari panggung. Ni dewi Durgomala sambil tertawa-tawa
menggandeng tangan Harjadenta menuruni panggung dan menuju ke belakang candi.
Harjadenta bagaikan seekor domba yang dituntun ke tempat penjagalan, hanya
menurut saja. Dia bagaikan sedang mimpi dan sama sekali tidak menolak ketika
ditarik memasuki sebuah kamar di belakang candi. Ketika pintu kamar itu dibuka
dan Ni Dewi Durgomala menarik tangan Harjadenta untuk masuk, tiba-tiba saja ada
sinar putih menyambar dan benda putih itu mengenai muka Harjadenta. Harjadenta
terkejut dan merasa seperti kepalanya disiram air dingin yang membuat dia
seketika menyadari keadaannya, benda putih itu ternyata setangkai kembang
cempaka yang kini menyusup ke rambutnya.
"Ah,
tidak ... !!" Dia meronta dan melepaskan diri dari pegangan tangan Ni Dewi
Durgomala. Wanita inipun terkejut dan memandang pemuda itu dengan matanya yang
berapi penuh nafsu.
"Harjadenta,
wong bagus, mari kita bersenang-senang,” katanya dan ia hendak meraih untuk
menangkap lagi tangan pemuda itu. Akan tetapi kini Harjadenta sudah sadar sama
sekali akan keadaannya yang luar biasa, bahkan dia teringat betapa tadi dia
ikut menari-nari seperti orang gila, tahu pula bahwa semua ini akibat pengaruh
wanita yang kini berada di depannya.
"Iblis
betina, engkau tidak bisa memaksaku!" katanya lagi dan dia mengelak dari
sambaran tangan Ni Dewi Durgomala dan melompat keluar dari kamar itu. Ni Dewi
Durgomala menjadi marah dan juga heran sekali. Bagaimana mungkin pemuda itu
sudah terlepas dari pengaruh sihirnya? Ia lalu mengerahkan tenaga sihirnya,
menggerakkan kedua tangan ke arah muka Harjadenta dan ia membentak dengan suara
yang mengandung penuh wibawa,
"Harjadenta,
ke sini kau! Engkau menurut atas segala kehendakku! Engkau telah menjadi
anggota perkumpulan agamaku, dan engkau telah menjadi budakku. Ke
sinilah!"
Harjadenta
merasakan ada tarikan yang amat kuat mencengkeram dirinya dan seperti memaksa
dirinya untuk masuk ke kamar itu dan berlutut menyembah wanita itu. Akan tetapi
ada kekuasaan lain di belakangnya dan terdengar bisikan.
"Adimas
Harjadenta. Tolak pengaruh iblis itu!" Bisikan itu amat lembut namun
mengandung kekuatan yang demikian hebatnya sehingga mengalahkan daya tarik dari
wanita itu.
"Iblis
betina, aku tidak akan tunduk ke padamu!"
Harjadenta
berkata sambil melangkah mundur menjauhi pintu kamar itu. Bukan main marahnya
Ni Dewi Durgomala mendengar dan melihat sikap ini. Dengan teriakan marah ia
melompat keluar dan sudah tiba di depan Harjadenta.
"Keparat!
Kalau begitu, apakah engkau lebih memilih mati dari pada menaati
perintahku?"
"Ah, Ni
Dewi Durgomala, beginikah engkau telah membunuh Sularko?" Harjadenta balas
membentak.
Ni Dewi
Durgomala terkejut bukan main mendengar ucapan itu dan tanpa banyak cakap
tubuhnya sudah meluncur ke depan, tangan kirinya menampar ke arah kepala
Harjadenta. Pemuda yang pernah menerima gemblengan ilmu kanuragan dari Empu
Gandawijaya, cepat menangkis dengan memutar lengan kanannya.
''Dukkk ...
!" Harjadenta yang menangkis pukulan itu terpental dan terhuyung ke
belakang sampai beberapa langkah.
"Mampuslah!"
Ni Dewi Durgomala yang sudah marah sekali, melompat dan mengirim pukulan
susulan yang sangat dahsyat dan cepat sehingga agaknya pukulan ini tidak akan dapat
dihindarkan lagi oleh Harjadenta.
"Wuuuuuttt
... plakkkk!!" Kini tubuh Ni Dewi Durgomala yang terhuyung ke belakang.
Ternyata pukulannya tadi ada yang menangkis, seorang yang muncul dari belakang
Harjadenta, seorang pemuda yang berpakaian serba putih dan bersikap sederhana.
Ketika tadi menangkis pukulan Ni Dewi Durgomala, diapun tampak tenang dan
menangkis sembarangan saja, akan tetapi ternyata telah membuat Ni Dewi
Durgomala terhuyung ke belakang.
Ni Dewi
Durgomala tertegun dan bukan main kagumnya melihat seorang pemuda yang demikian
tenang dan tampan, seperti Sang Harjuna saja! Jantungnya berdebar keras dan
biarpun ia tadi ditangkis sampai terhuyung, ia tidak marah kepada pemuda itu,
bahkan kini ia mengerling dan tersenyum manis sekali. Ia sendiri ketika itu
sedang dilanda nafsu berahi yang memuncak, maka begitu melihat Bagus Seta yang
demikian tampan, ia segera mengerahkan aji pengasihan untuk mengguna-gunai dan
menarik hati perjaka yang tampan ini.
"Teja-teja
sulaksana tejanya orang yang baru tampak! Satria bagus, siapakah andika, wong
ganteng?" Ia bertanya sambil tersenyum.
Saking kuatnya
aji pengasihan yang ia kerahkan, bahkan Harjadenta yang sudah terlepas dari
pengaruh sihirnya, kini memandang terlongong penuh kagum kepada Ni Dewi
Durgomala yang mendadak kelihatan demikian cantik jelita dan menarik seperti
seorang dewi yang baru turun dari kahyangan!
Akan tetapi
Bagus Seta tersenyum tenang. Sebelum dia menjawab, terdengar suara ribut-ribut
di kamar sebelah dan Retna Wilis yang berpakaian serba putih itu melompat
keluar dari kamar itu dikejar oleh Ki Shiwananda! Apakah yang terjadi di kamar
itu? Ternyata Retna Wilis membagi tugas dengan kakaknya. Bagus Seta membayangi
Ni Dewi Durgomala dan Retna Wilis membayangi Ki Shiwananda. Gadis perkasa ini tadi
mengintai pesta liar di atas panggung dan ia pun teringat akan pengalamannya
dahulu. Pernah ia terlibat dalam pesta seperti itu di bawah pengaruh
orang-orang sesat yang menggunakan sihir kepadanya, ia merasa ngeri dan juga
marah bukan main. Ia melihat pula betapa Harjadenta terpengaruh sihir dan ikut
menari-nari liar, akan tetapi karena Bagus Seta yang akan mengawasinya, maka ia
terus mengamati Ki Shiwananda yang kemudian menarik tangan seorang gadis yang
tadi menjadi pasangannya menari menuju ke belakang candi dan memasuki sebuah
kamar! Retna Wilis merasa malu untuk ikut masuk kamar itu, maka ia mengambil
jalan memutar dan tiba di luar jendela kamar itu. Dengan tenaga Argoselo, ia
menggunakan tangan kanannya untuk mendorong daun jendela kamar itu. Jendela itu
jebol dan Retna Wilis meloncat masuk dengan maksud untuk menghajar laki-laki
raksasa itu sambil membentak,
"Jahanam
busuk, apa yang telah kau lakukan terhadap Sawitri?"
Ki Shiwananda
terkejut bukan main ketika jendela jebol dan ia melihat berkelebatnya bayangan
putih memasuki kamar, apalagi mendengar bentakan yang menanyakan tentang
Sawitri itu. Akan tetapi diapun maklum bahwa wanita yang masuk kamarnya itu
tentu seorang yang sakti, maka untuk menyelamatkan diri, dia sudah merangkul
gadis pasangannya tadi dengan tangan kiri dan memasangnya di depan tubuh
seperti perisai! Melihat ini, tentu saja Retna Wilis terkejut dan tidak jadi
menyerang. Ia melihat betapa sarunya kalau dilihat orang ia berada di kamar
seorang pria, maka ia lalu mendorong daun pintu dan melompat keluar. Ki
Shiwananda yang sudah terhindar dari serangan mendadak itupun timbul
keberaniannya dan diapun lompat mengejar. Ketika tiba di luar, Retna Wilis
melihat bahwa kakaknya bersama Harjadenta juga sudah berhadapan dengan wanita
cantik itu, maka ia mengulang pertanyaannya kepada Ki Shiwananda.
"Shiwananda,
engkau tentu telah membunuh Sawitri, bukan? Engkau jahanam busuk, pendiri agama
yang sesat! Setelah bertemu dengan Retna Wilis, jangan harap engkau akan dapat
melarikan diri!"
Mendengar gadis
berpakaian putih itu menyebut namanya, Ki Shiwananda terkejut bukan main,
bahkan juga Ni Dewi Durgomala terkejut sekali. Ni Dewi Durgomala telah
mendengar bahwa rekannya yang bernama Ni Dewi Nilamanik dahulu juga tewas
secara mengerikan di tangan seorang dara yang bernama Retna Wilis! Dan gadis
ini menurut penuturan Wasi Karangwolo dan Surengpati, gadis ini adalah puteri
dari Ki Patih Tejolaksono dan Puteri Endang Patibroto yang terkenal sakti.
Sementara itu, Bagus Seta menjawab pertanyaan Ni Dewi Durgomala yang tadi
diajukan kepadanya,
"Ni Dewi
Durgomala, aku bernama Bagus Seta. Katakanlah, apa yang kalian lakukan terhadap
Sularko dan Sawitri?"
Melihat betapa
Bagus Seta sama sekali tidak terpengaruh oleh aji pengasihannya, Ni Dewi
Durgomala maklum bahwa ia berhadapan dengan orang yang sakti mandraguna, tidak
terpengaruh oleh ilmu sihirnya. Akan tetapi ia masih hendak mencoba dan
mulutnya berkemak-kemik, lalu ia membungkuk, mengambil segenggam pasir dan
menaburkan pasir itu ke atas dan mendadak saja pemandangan menjadi gelap. Entah
dari mana datangnya, ada asap hitam menutupi sinar bulan dan Hartjadenta
sendiri terkejut dan merasa jerih. Akan tetapi Retna Wilis segera mengeluarkan
lengkingan panjang, dan Bagus Seta berkata dengan lembut,
"Ni Dewi
Durgomala, simpan saja ilmu setanmu yang hanya dapat dipakai menakut-nakuti
anak kecil!" Bagus Seta menggerakkan tangan kirinya ke arah asap hitam itu
menjadi buyar dan lenyap dan keadaan menjadi terang kembali.
"Augghhh
... !!" Ki Shiwananda telah mengeluarkan gerengan seperti seekor biruang
dan tubuhnya sudah menerjang maju, menyerang ke arah Retna Wilis. Namun gadis
itu dengan tangkasnya sudah mengelak sehingga lawannya hanya menubruk angin
kosong. Segera terjadi pertandingan yang amat seru di antara mereka. Ki Shiwananda
adalah murid Wasi Shiwamurti yang tercinta, bahkan diangkat menjadi anaknya,
maka ilmu kepandaiannya amat tinggi. Bahkan dia lebih tangguh dibanding Ni Dewi
Durgomala, hanya bedanya wanita ini menguasai segala macam ilmu sihir dan
guna-guna. Akan tetapi sekali ini dia bertemu dengan Retna Wilis, maka
terjadilah perkelahian yang amat dahsyat.
Sementara itu,
Ni Dewi Durgomala menjadi pucat wajahnya ketika ilmu sihirnya demikian mudah
dipunahkan oleh Bagus Seta. Maka ia tidak mau mencoba lagi ilmu sihirnya dan
secepat kilat ia mencabut senjatanya, sebatang keris dan menubruk Bagus Seta
mengirim serangan maut.
"Kakangmas,
itu Ki Carubuk yang dipegangnya!" Harjadenta berteriak ketika mengenal
keris yang berada di tangan Ni Dewi Durgomala.
Jelaslah bahwa
yang mencuri Ki Carubuk adalah wanita iblis itu. Mendengar seruan ini, Ni Dewi
Durgomala tidak perduli dan menyerang terus. Kerisnya seperti berubah menjadi
seekor naga yang menyambar-nyambar, mengeluarkan hawa panas yang terasa oleh
Harjadenta yang berdiri di pinggir. Namun tubuh Bagus Seta bagaikan telah
berubah menjadi bayangan, selalu menghindar dengan lembut dan cepat sekali,
terbebas dari semua tusukan keris.
Harjadenta
hanya menonton perkelahian itu. Dia maklum bahwa ilmu kepandaiannya belum cukup
untuk menandingi seorang lawan seperti Ni Dewi Durgomala atau Ki Shiwananda.
Maka dia hanya menonton dengan hati tertarik. Pada saat itu, muncul puluhan
anak buah atau anggota kumpulan agama itu dan melihat betapa Ni Dewi Durgomala
dan Ki Shiwananda berkelahi dengan seorang pemuda dan seorang gadis, mereka
beramai-ramai segera maju untuk mengeroyok Bagus Seta dan Retno Wilis.
Harjadenta merasa mendapat tugas. Dia melompat ke depan dan mengamuk di antara
para anggota agama itu. Akan tetapi karena dia tahu bahwa mereka ini adalah
orang-orang yang tidak bersalah, hanya ikut-ikutan saja dan terdiri dari
orang-orang dusun yang lugu, maka dia tidak mau menggunakan senjata, hanya
membagi-bagi pukulan dan tendangan saja untuk mencegah mereka mengeroyok Retna
Wilis atau Bagus Seta. Pertandingan antara Bagus Seta dan Ni Dewi Durgomala
seperti seekor kucing mempermainkan seekor tikus saja. Bagus Seta hanya
mengelak dan ketika keris itu menyambar lagi ke arah dadanya, dia berkata,
"Keris
ini harus dikembalikan kepada pemiliknya!" Setelah berkata demikian, dia
menyambut tusukan itu dengan tangannya, menangkap Keris itu dan sekali renggut,
keris itu telah terlepas dari tangan Ni Dewi Durgomala.
Wanita ini
terkejut bukan main. Hampir tidak percaya bahwa ada orang berani menangkap
keris pusaka ampuh itu dengan tangannya begitu saja dan merenggutnya lepas dari
tangannya, ia marah akan tetapi juga jerih, maklum bahwa ia tidak akan menang
melawan pemuda berpakaian serba putih itu. Sambil berteriak ia lalu mencabut
senjatanya yang istimewa, yaitu sebuah kebutan berbulu hitam yang tadi terselip
di pinggangnya.
"Haittt
... tar-tar!" Kebutan itu digerakkan sedemikian rupa sehingga ujung
bulu-bulunya dapat meledak di atas kepala Bagus Seta. Namun pemuda itu
tenang-tenang saja dan ketika ia menangkis ke atas, beberapa helai bulu kebutan
putus! Ni Dewi Durgomala kini hanya berputar-putar dan menyerangkan kebutannya
ke arah muka Bagus Seta dan selalu dielakkan oleh pemuda itu.
Sementara itu,
pertandingan antara Retna Wilis melawan Ki Shiwananda berjalan seimbang. Ki
Shiwananda memang tangguh sekali. Raksasa ini selain memiliki tenaga yang tidak
lumrah manusia, juga dapat bercorak cepat biarpun tubuhnya demikian besarnya.
Sepak terjangnya seperti seorang raksasa saja, kasar dan keras.
<<< Bagian 30 Bagian 32 >>>
No comments:
Post a Comment