Sepasang Garuda Putih ; Bagian 33


"Bagus! Sekarang aku hendak bertanya, apakah engkau mendukung pendirian candi baru para penyembah Bathara Shiwa, Bathari Durga dan Bathara Kala di ujung padukuhan ini?"
"Benar, aku mendukungnya, akan tetapi kenapa? Mereka mendirikan agama baru, bukan melakukan kejahatan dan pendirian mereka itu telah mendapat restu pula dari Sang Adipati di Nusabarung." Demang Kebolinggo membantah.
"Bukan pendirian candi itu yang kumaksudkan, melainkan tindakan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda terhadap para muda mudi di Bulumanik!"
"Mereka berdua hanya memimpin pembangunan candi! Tindakan apa yang mereka lakukan?"
"Andika tidak mendengar apakah telingamu yang tuli, tidak melihat ataukah matamu yang buta. Setiap malam Respati mereka mengadakan pesta cabul di candi itu dan mengorbankan banyak pemuda dan gadis yang bodoh sehingga mereka menurut saja kehendak dua pimpinan yang cabul itu. Mustahil kalau andika tidak mengetahui hal itu!" Retna Wilis menghardik.

Wajah ki demang menjadi merah dan dia menundukkan mukanya.
"Mereka mengadakan pesta itu ... kukira itu adalah upacara keagamaan mereka ... dan tentang para muda itu, mereka tidak dipaksa, mereka malakukan dengan sukarela. Apa yang dapat kuperbuat?"
"Andika bodoh dan tidak patut menjadi pemimpin rakyat. Mereka melakukan kecabulan itu bukan dengan sukarela, melainkan karena bujukan dan kekuatan sihir. Relakah andika melihat para warga Bulumanik diseret ke dalam kesesatan seperti itu? Dua orang pimpinan pembangunan candi itu adalah manusia-manusia iblis yang sesat dan cabul, yang membawa para muda itu ke dalam kesesatan pula. Apakah hal demikian itu akan andika biarkan saja?"
"Habis, apakah yang harus kami lakukan? Kalau aku melarang pembangunan candi baru itu, berarti aku menentang perintah Kanjeng Adipati di Nusabarung!" Ki Demang itu membantah.
"Bukan melarang pembangunan candi, melainkan melarang diadakannya pesta cabul itu. Kalau andika tidak melarang, berarti andika ikut menjerumuskan para muda di sini untuk menjadi sesat dan jahat. Dan kalau demikian halnya, percuma andika menjadi demang di sini, lebih baik andika dibunuh saja!" gertak Retna Wilis dan kini dara perkasa itu menempelkan pedang Sapudenta di leher Ki Demang Kebolinggo.
"Ampunkan aku. Baik, aku akan melarang pesta gila-gilaan itu."
"Bagus! Andika telah berjanji. Untuk sementara kutitipkan kepalamu kepadamu, akan tetapi kalau lain hari kami lewat di sini dan melihat bahwa pesta cabul itu masih diadakan, aku akan mengambil kepalamu!" Retna Wilis menggerakkan pedangnya.
"Wirrr ... sratt ... !" Sebagian rambut kepala Ki Demang Kebolinggo putus dan berhamburan ke bawah. Wajah demang itu menjadi pucat sekali.
"Aku akan mengadakan pemeriksaan, kalau benar mereka merusak para muda di Bulumanik, tentu akan kularang dan kulaporkan kepada Sang Adipati di Nusabarung." Ucapan Ki Demang Kebolinggo ini bukan hanya karena dia diancam, akan tetapi memang keluar dari hatinya. Kalau tadinya dia mendiamkan saja orang-orang itu mengadakan pesta pora di candi, hal itu adalah karena dia tidak mau mencampuri urusan agama baru dan merasa tidak berhak. Akan tetapi kalau mereka itu merusak para pemuda dan gadis daerah kekuasaannya, bagaimanapun juga dia harus bertindak dan kalau perlu melarang kegiatan cabul itu.
"Baik, kami percaya kepadamu!" kata Retna Wilis dan gadis ini lalu menyarungkan kembali pedangnya. Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan-teriakan banyak orang.
"Tangkap maling!"
"Tangkap penjahat!"

Kurang lebih duapuluh orang prajurit mengepung tempat itu dengan senjata di tangan. Melihat ini, Retna Wilis dan Harjadenta sudah siap pula untuk menyambut pengeroyokan mereka. Akan tetapi Ki Demang Kebolinggo sudah melompat ke depan dan mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu berseru,
"Tahan ... ! Jangan kalian salah paham. Kedua orang ini bukan maling bukan pula penjahat, mereka adalah sahabat-sahabatku yang datang berkunjung padaku."
Tentu saja para prajurit itu terkejut dan surut.
"Pergilah kalian dan jangan ganggu kami!" kata pula Ki Demang Kebolinggo dan semua prajurit lalu pergi. Tentu saja mereka semua merasa heran karena tadi ada seorang penjaga yang melihat atasannya itu berkelahi, dan kalau kedua orang itu benar sahabat yang datang bertamu, mengapa mereka tahu-tahu telah berada di dalam? Dari mana mereka lewat? Akan tetapi karena Ki Demang Kebolinggo sendiri yang melarang mereka, tentu saja mereka tidak berani membantah dan tidak berani pula banyak bertanya.
Retna Wilis mengangguk-angguk senang.
"Melihat sikapmu ini, kami percaya bahwa andika tentu akan memegang teguh janji untuk mengadakan pemeriksaan dan melarang perbuatan cabul yang merusak para muda."
"Percayalah, karena aku sendiri tidak suka akan kejahatan." kata Ki Demang Kebolinggo dengan suara mantap.
"Kalau begitu, kami sekarang hendak pergi. Selamat tinggal, Ki Demang!" Sekali melompat, Retna Wilis telah lenyap dari depan demang itu, disusul Harjadenta yang sekali lompat sudah menghilang ditelan kegelapan.
Ki Demang Kebolinggo menghela napas panjang. Dia tahu bahwa dua orang muda itu adalah orang-orang gagah perkasa untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, orang-orang yang memiliki kesaktian. Akan tetapi dia juga sudah mendengar bahwa para pimpinan agama baru itu merupakan orang-orang sakti pula. Dia menjadi serba salah. Akan tetapi di dalam hatinya, dia sudah mengambil keputusan untuk membujuk para anggauta dan pimpinan agama baru itu agar tidak lagi melakukan perbuatan yang melanggar kesusilaan. Kalau perlu dia akan melaporkan kepada Adipati di Nusabarung.

Dua orang muda itu berjalan berdampingan di bawah sinar bulan yang masih terang. Beberapa kali Harjadenta ingin membuka mulut bicara, akan tetapi dibatalkannya. Begitu sukar dia bicara setelah berdampingan dengan Retna Wilis. Semua kata-kata yang telah disusunnya semenjak dia bertemu dengan gadis perkasa itu, seolah runtuh semua dan dia tidak tahu harus bicara dari mana dan bagaimana.
"Andika diam saja sejak tadi. Ada apakah, kakangmas Harjadenta?" akhirnya Retna Wilis yang bertanya. Mereka sedang berjalan kembali ke pondokan Mbok Rondo Gati.
"Ah, aku ... aku mengenang kembali peristiwa di candi itu, diajeng. Kalau tidak ada engkau dan kakangmas Bagus Seta, entah bagaimana jadinya dengan diriku."
Retna Wilis tersenyum.
"Engkau tentu akan jadi pengikut dan teman yang baik sekali dari Ni Dewi Durgomala." Ia menggoda.
"Ihhh! Amit-amit! Aku tentu akan mencari jalan untuk membunuh perempuan iblis itu!" kata Harjadenta dengan marah.
"Kenapa? Ia cantik sekali." kembali Retna Wilis menggoda.
"Aku benci sekali pada perempuan itu. Ia telah mencuri pusaka guruku, dan ia seorang wanita tak tahu malu."
"Engkau tentu tidak mau mengkhianati gadis yang menjadi tunanganmu, bukan?"
"Wah, diajeng, aku tidak mempunyai tunangan!"
"Akan tetapi engkau tentu telah mempunyai gadis pilihan hati yang menjadi kekasihmu." Retna Wilis berkata dengan lugu dan terus terang.
"Sungguh mati aku tidak mempunyai kekasih. Dan tentang gadis pilihan hati, memang ada, akan tetapi aku tidak berani mengakuinya."
"Eh, kenapa kakangmas?"
"Aku merasa rendah diri. Aku, seorang pemuda yatim piatu yang miskin dan bodoh, sungguh tidak berhak dan tidak pantas mencintai seorang dara seperti itu. Pantasnya ia menjadi jodoh seorang pangeran atau seorang pria yang benar-benar sepadan dengan dirinya."
Retna Wilis berhenti melangkah.
"Hemm, apakah gadis pilihan hatimu itu seorang puteri istana, kakangmas?"
"Lebih dari sekedar puteri istana biasa."
Retna Wilis mengerutkan alisnya.
"Kalau begitu ia tentu puteri kahyangan?"
"Juga lebih dari sekedar puteri kahyangan. Ia seorang dara yang tiada cacat, seorang wanita yang sempurna, baik keelokan lahirnya maupun batinnya. Ia cantik jelita, gagah perkasa, bijaksana dan budi pekertinya seperti dewi. Ia tiada keduanya di dunia ini ... "
"Huh, wanita seperti itu hanya terdapat dalam angan-anganmu saja, kakangmas, bukan seorang manusia dari darah daging!" Retna Wilis merasa penasaran sekali.
"Tidak diajeng. Ia seorang manusia seperti juga kita, hanya ia manusia pilihan."
"Hemm, ingin aku bertemu dengan wanita seperti itu. Di mana ia berada? Di awang-awang? Atau di antara bintang-bintang?" Retna Wilis mengejek.
"Kalau dibilang jauh, ia jauh sekali, di luar jangkauanku, akan tetapi kalau dibilang dekat, ia dekat sekali berada di hadapanku." kata Harjadenta dengan jantung berdebar tegang karena dia sudah membuka rahasia hatinya dan merasa takut kalau-kalau Retna Wilis akan marah.
"Ehh ... ?" Retna Wilis memandang tajam dan mukanya berubah merah, bukan karena marah melainkan karena jengah,
"Kau ... kau maksudkan diriku?"

Harjadenta merasa kedua kakinya lemas tak bertenaga dan dia menjatuhkan dirinya berlutut.
"Ampunkan aku, diajeng ... tidak semestinya aku bersikap lancang, aku tahu betapa tidak pantasnya bagi seorang seperti aku mencintaimu, akan tetapi itulah kenyataannya. Kalau engkau marah nah, makilah aku, pukullah aku ... "
Retna Wilis membalikkan tubuhnya membelakangi pemuda itu.
"Kakang Harjadenta, kuminta jangan sekali-kali engkau membicarakan tentang hal ini lagi kepadaku. Aku tidak menyalahkanmu, akan tetapi aku ... sama sekali aku tidak mempunyai pikiran tentang cinta." Setelah berkata demikian, gadis itu berlari cepat meninggalkan pemuda itu.
Harjadenta menghela napas panjang, merasa tidak enak hati, akan tetapi juga lega karena sudah mengeluarkan isi hatinya. Dan memang tidak mengharapkan bahwa cintanya akan diterima oleh Retna Wilis. Dia merasa bahwa dirinya tidak berharga untuk mempersunting bunga yang amat mulia itu. Retna Wilis puteri Patih Panjalu, ia seorang wanita yang sakti mandraguna, namanya terkenal sekali. Sedangkan dia hanya seorang pemuda yatim piatu yang miskin, keturunan orang tua dari dusun, sungguh ibarat burung dia hanya seekor burung gagak dan Retna Wilis adalah seekor burung merak yang amat indah!
Dengan lemas diapun bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju ke pondokan Mbok Rondo Gati. Setibanya di rumah sederhana itu, dia mendengar berita yang mengejutkan. Para tetangga berkumpul di rumah itu dan ternyata Mbok Rondo Gati telah mati menggantung diri setelah mendapat kenyataan bahwa kedua orang anaknya mati dan hanyut di Kali Mayang. Agaknya ia tidak lagi dapat menahan kesedihan hatinya. Ia hanya memiliki kedua orang anaknya itu, dan kini mereka telah mati dalam keadaan amat menyedihkan, mayat mereka hanyut di Kali Mayang dan tidak dapat ditemukan. Saking sedihnya, setelah tiga orang muda yang menjadi tamunya pergi, ia lalu menggunakan sabuk pinggangnya untuk menggantung diri sampai mati! Ketika Bagus Seta yang tidak ikut Retna Wilis dan Harjadenta pergi ke rumah Ki Demang, tiba di rumah pondokan itu, dia mendapatkan Mbok Rondo Gati sudah tewas dan tergantung di ruangan belakang. Tentu saja dia terkejut sekali dan cepat menurunkan tubuh Mbok Rondo Gati dari gantungan, namun wanita tua itu telah tewas. Bagus Seta lalu memberitahu para tetangga yang berdatangan melayat. Retna Wilis yang mendahului Harjadenta pulang ke pondokan, terkejut mendengar akan kematian Mbok Rondo Gati. Akan tetapi ia mengerti. Memang wanita itu hanya akan menderita sengsara dalam hidupnya, tanpa kedua orang anaknya yang dicintainya. Kalau ia hidup terus, tentu setiap hari ia hanya akan menangisi kematian kedua orang anaknya.
Harjadenta merasa heran sekali dan juga terkejut mendengar akan kematian Mbok Rondo Gati.
"Apa yang telah terjadi?” tanyanya kepada Bagus Seta.
"Ia menggantung diri, tidak dapat menahan kesedihan hatinya mendengar kedua anaknya telah mati." jawab Bagus Seta singkat.
"Ah, kenapa ia melakukan hal ini? Kenapa ia memilih mati menggantung diri?" tanya Harjadenta yang merasa kasihan kepada janda itu.
"Ia menderita sekali dengan kematian kedua anaknya dan agaknya ia hendak mengakhiri kedukaannya itu dengan membunuh diri," kata Retna Wilis.
"Hemm, apakah dengan cara membunuh diri orang akan dapat melepaskan diri dari kedukaan? Apakah kedukaan itu terpisah dari dirinya? Kedukaan adalah ulah hati akal pikiran dan akan mengikuti orang sampai kepada kematiannya sekalipun." kata Bagus Seta lirih, seperti kepada diri sendiri.
"Akan tetapi, apa yang meyebabkan ia melakukan perbuatan nekat itu, kakangmas Bagus Seta?" Tanya Harjadenta.
"Karena kedukaan menggelapkan hati akal pikirannya. Kemilikan mendatangkan kemelekatan, dan inilah yang menjadi akar dari kedukaan. Memiliki sesuatu, baik yang dimilikinya itu berupa harta, kedudukan, atau anak, menimbulkan kemelekatan dan kalau sudah melekat, sekali dipisahkan tentu akan menimbulkan luka dihati. Padahal, memiliki tidak akan lepas dan pada perpisahan dengan yang dimilikinya. Akan tiba saatnya dia harus meninggalkan atau ditinggalkan oleh yang dimiliki, dan kalau hal ini terjadi, timbullah duka yang menggelapkan hati akal pikiran. Karena itu, orang yang bijaksana boleh mempunyai namun tidak memiliki."

<<< Bagian 32                                                                                         Bagian 34 >>>

No comments:

Post a Comment