"Bagus! Sekarang aku hendak bertanya, apakah engkau mendukung pendirian candi baru para penyembah Bathara Shiwa, Bathari Durga dan Bathara Kala di ujung padukuhan ini?"
"Benar,
aku mendukungnya, akan tetapi kenapa? Mereka mendirikan agama baru, bukan
melakukan kejahatan dan pendirian mereka itu telah mendapat restu pula dari
Sang Adipati di Nusabarung." Demang Kebolinggo membantah.
"Bukan
pendirian candi itu yang kumaksudkan, melainkan tindakan Ni Dewi Durgomala dan
Ki Shiwananda terhadap para muda mudi di Bulumanik!"
"Mereka
berdua hanya memimpin pembangunan candi! Tindakan apa yang mereka
lakukan?"
"Andika
tidak mendengar apakah telingamu yang tuli, tidak melihat ataukah matamu yang
buta. Setiap malam Respati mereka mengadakan pesta cabul di candi itu dan
mengorbankan banyak pemuda dan gadis yang bodoh sehingga mereka menurut saja
kehendak dua pimpinan yang cabul itu. Mustahil kalau andika tidak mengetahui
hal itu!" Retna Wilis menghardik.
Wajah ki
demang menjadi merah dan dia menundukkan mukanya.
"Mereka
mengadakan pesta itu ... kukira itu adalah upacara keagamaan mereka ... dan
tentang para muda itu, mereka tidak dipaksa, mereka malakukan dengan sukarela.
Apa yang dapat kuperbuat?"
"Andika
bodoh dan tidak patut menjadi pemimpin rakyat. Mereka melakukan kecabulan itu
bukan dengan sukarela, melainkan karena bujukan dan kekuatan sihir. Relakah
andika melihat para warga Bulumanik diseret ke dalam kesesatan seperti itu? Dua
orang pimpinan pembangunan candi itu adalah manusia-manusia iblis yang sesat
dan cabul, yang membawa para muda itu ke dalam kesesatan pula. Apakah hal
demikian itu akan andika biarkan saja?"
"Habis,
apakah yang harus kami lakukan? Kalau aku melarang pembangunan candi baru itu,
berarti aku menentang perintah Kanjeng Adipati di Nusabarung!" Ki Demang
itu membantah.
"Bukan
melarang pembangunan candi, melainkan melarang diadakannya pesta cabul itu.
Kalau andika tidak melarang, berarti andika ikut menjerumuskan para muda di
sini untuk menjadi sesat dan jahat. Dan kalau demikian halnya, percuma andika
menjadi demang di sini, lebih baik andika dibunuh saja!" gertak Retna
Wilis dan kini dara perkasa itu menempelkan pedang Sapudenta di leher Ki Demang
Kebolinggo.
"Ampunkan
aku. Baik, aku akan melarang pesta gila-gilaan itu."
"Bagus!
Andika telah berjanji. Untuk sementara kutitipkan kepalamu kepadamu, akan
tetapi kalau lain hari kami lewat di sini dan melihat bahwa pesta cabul itu
masih diadakan, aku akan mengambil kepalamu!" Retna Wilis menggerakkan
pedangnya.
"Wirrr
... sratt ... !" Sebagian rambut kepala Ki Demang Kebolinggo putus dan
berhamburan ke bawah. Wajah demang itu menjadi pucat sekali.
"Aku akan
mengadakan pemeriksaan, kalau benar mereka merusak para muda di Bulumanik,
tentu akan kularang dan kulaporkan kepada Sang Adipati di Nusabarung."
Ucapan Ki Demang Kebolinggo ini bukan hanya karena dia diancam, akan tetapi
memang keluar dari hatinya. Kalau tadinya dia mendiamkan saja orang-orang itu
mengadakan pesta pora di candi, hal itu adalah karena dia tidak mau mencampuri
urusan agama baru dan merasa tidak berhak. Akan tetapi kalau mereka itu merusak
para pemuda dan gadis daerah kekuasaannya, bagaimanapun juga dia harus
bertindak dan kalau perlu melarang kegiatan cabul itu.
"Baik,
kami percaya kepadamu!" kata Retna Wilis dan gadis ini lalu menyarungkan
kembali pedangnya. Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan-teriakan banyak
orang.
"Tangkap
maling!"
"Tangkap
penjahat!"
Kurang lebih duapuluh
orang prajurit mengepung tempat itu dengan senjata di tangan. Melihat ini,
Retna Wilis dan Harjadenta sudah siap pula untuk menyambut pengeroyokan mereka.
Akan tetapi Ki Demang Kebolinggo sudah melompat ke depan dan mengangkat kedua
tangannya ke atas, lalu berseru,
"Tahan
... ! Jangan kalian salah paham. Kedua orang ini bukan maling bukan pula
penjahat, mereka adalah sahabat-sahabatku yang datang berkunjung padaku."
Tentu saja
para prajurit itu terkejut dan surut.
"Pergilah
kalian dan jangan ganggu kami!" kata pula Ki Demang Kebolinggo dan semua
prajurit lalu pergi. Tentu saja mereka semua merasa heran karena tadi ada
seorang penjaga yang melihat atasannya itu berkelahi, dan kalau kedua orang itu
benar sahabat yang datang bertamu, mengapa mereka tahu-tahu telah berada di
dalam? Dari mana mereka lewat? Akan tetapi karena Ki Demang Kebolinggo sendiri
yang melarang mereka, tentu saja mereka tidak berani membantah dan tidak berani
pula banyak bertanya.
Retna Wilis
mengangguk-angguk senang.
"Melihat
sikapmu ini, kami percaya bahwa andika tentu akan memegang teguh janji untuk
mengadakan pemeriksaan dan melarang perbuatan cabul yang merusak para
muda."
"Percayalah,
karena aku sendiri tidak suka akan kejahatan." kata Ki Demang Kebolinggo
dengan suara mantap.
"Kalau
begitu, kami sekarang hendak pergi. Selamat tinggal, Ki Demang!" Sekali
melompat, Retna Wilis telah lenyap dari depan demang itu, disusul Harjadenta
yang sekali lompat sudah menghilang ditelan kegelapan.
Ki Demang
Kebolinggo menghela napas panjang. Dia tahu bahwa dua orang muda itu adalah
orang-orang gagah perkasa untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, orang-orang
yang memiliki kesaktian. Akan tetapi dia juga sudah mendengar bahwa para
pimpinan agama baru itu merupakan orang-orang sakti pula. Dia menjadi serba
salah. Akan tetapi di dalam hatinya, dia sudah mengambil keputusan untuk
membujuk para anggauta dan pimpinan agama baru itu agar tidak lagi melakukan
perbuatan yang melanggar kesusilaan. Kalau perlu dia akan melaporkan kepada
Adipati di Nusabarung.
Dua orang muda
itu berjalan berdampingan di bawah sinar bulan yang masih terang. Beberapa kali
Harjadenta ingin membuka mulut bicara, akan tetapi dibatalkannya. Begitu sukar
dia bicara setelah berdampingan dengan Retna Wilis. Semua kata-kata yang telah
disusunnya semenjak dia bertemu dengan gadis perkasa itu, seolah runtuh semua
dan dia tidak tahu harus bicara dari mana dan bagaimana.
"Andika
diam saja sejak tadi. Ada apakah, kakangmas Harjadenta?" akhirnya Retna
Wilis yang bertanya. Mereka sedang berjalan kembali ke pondokan Mbok Rondo
Gati.
"Ah, aku
... aku mengenang kembali peristiwa di candi itu, diajeng. Kalau tidak ada
engkau dan kakangmas Bagus Seta, entah bagaimana jadinya dengan diriku."
Retna Wilis
tersenyum.
"Engkau
tentu akan jadi pengikut dan teman yang baik sekali dari Ni Dewi
Durgomala." Ia menggoda.
"Ihhh!
Amit-amit! Aku tentu akan mencari jalan untuk membunuh perempuan iblis
itu!" kata Harjadenta dengan marah.
"Kenapa?
Ia cantik sekali." kembali Retna Wilis menggoda.
"Aku
benci sekali pada perempuan itu. Ia telah mencuri pusaka guruku, dan ia seorang
wanita tak tahu malu."
"Engkau
tentu tidak mau mengkhianati gadis yang menjadi tunanganmu, bukan?"
"Wah,
diajeng, aku tidak mempunyai tunangan!"
"Akan
tetapi engkau tentu telah mempunyai gadis pilihan hati yang menjadi
kekasihmu." Retna Wilis berkata dengan lugu dan terus terang.
"Sungguh
mati aku tidak mempunyai kekasih. Dan tentang gadis pilihan hati, memang ada,
akan tetapi aku tidak berani mengakuinya."
"Eh,
kenapa kakangmas?"
"Aku
merasa rendah diri. Aku, seorang pemuda yatim piatu yang miskin dan bodoh,
sungguh tidak berhak dan tidak pantas mencintai seorang dara seperti itu.
Pantasnya ia menjadi jodoh seorang pangeran atau seorang pria yang benar-benar
sepadan dengan dirinya."
Retna Wilis
berhenti melangkah.
"Hemm,
apakah gadis pilihan hatimu itu seorang puteri istana, kakangmas?"
"Lebih
dari sekedar puteri istana biasa."
Retna Wilis
mengerutkan alisnya.
"Kalau
begitu ia tentu puteri kahyangan?"
"Juga
lebih dari sekedar puteri kahyangan. Ia seorang dara yang tiada cacat, seorang
wanita yang sempurna, baik keelokan lahirnya maupun batinnya. Ia cantik jelita,
gagah perkasa, bijaksana dan budi pekertinya seperti dewi. Ia tiada keduanya di
dunia ini ... "
"Huh,
wanita seperti itu hanya terdapat dalam angan-anganmu saja, kakangmas, bukan
seorang manusia dari darah daging!" Retna Wilis merasa penasaran sekali.
"Tidak
diajeng. Ia seorang manusia seperti juga kita, hanya ia manusia pilihan."
"Hemm,
ingin aku bertemu dengan wanita seperti itu. Di mana ia berada? Di awang-awang?
Atau di antara bintang-bintang?" Retna Wilis mengejek.
"Kalau
dibilang jauh, ia jauh sekali, di luar jangkauanku, akan tetapi kalau dibilang
dekat, ia dekat sekali berada di hadapanku." kata Harjadenta dengan jantung
berdebar tegang karena dia sudah membuka rahasia hatinya dan merasa takut
kalau-kalau Retna Wilis akan marah.
"Ehh ...
?" Retna Wilis memandang tajam dan mukanya berubah merah, bukan karena
marah melainkan karena jengah,
"Kau ...
kau maksudkan diriku?"
Harjadenta
merasa kedua kakinya lemas tak bertenaga dan dia menjatuhkan dirinya berlutut.
"Ampunkan
aku, diajeng ... tidak semestinya aku bersikap lancang, aku tahu betapa tidak
pantasnya bagi seorang seperti aku mencintaimu, akan tetapi itulah kenyataannya.
Kalau engkau marah nah, makilah aku, pukullah aku ... "
Retna Wilis
membalikkan tubuhnya membelakangi pemuda itu.
"Kakang
Harjadenta, kuminta jangan sekali-kali engkau membicarakan tentang hal ini lagi
kepadaku. Aku tidak menyalahkanmu, akan tetapi aku ... sama sekali aku tidak
mempunyai pikiran tentang cinta." Setelah berkata demikian, gadis itu
berlari cepat meninggalkan pemuda itu.
Harjadenta
menghela napas panjang, merasa tidak enak hati, akan tetapi juga lega karena
sudah mengeluarkan isi hatinya. Dan memang tidak mengharapkan bahwa cintanya
akan diterima oleh Retna Wilis. Dia merasa bahwa dirinya tidak berharga untuk
mempersunting bunga yang amat mulia itu. Retna Wilis puteri Patih Panjalu, ia
seorang wanita yang sakti mandraguna, namanya terkenal sekali. Sedangkan dia
hanya seorang pemuda yatim piatu yang miskin, keturunan orang tua dari dusun,
sungguh ibarat burung dia hanya seekor burung gagak dan Retna Wilis adalah
seekor burung merak yang amat indah!
Dengan lemas
diapun bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju ke pondokan Mbok Rondo
Gati. Setibanya di rumah sederhana itu, dia mendengar berita yang mengejutkan.
Para tetangga berkumpul di rumah itu dan ternyata Mbok Rondo Gati telah mati
menggantung diri setelah mendapat kenyataan bahwa kedua orang anaknya mati dan
hanyut di Kali Mayang. Agaknya ia tidak lagi dapat menahan kesedihan hatinya.
Ia hanya memiliki kedua orang anaknya itu, dan kini mereka telah mati dalam
keadaan amat menyedihkan, mayat mereka hanyut di Kali Mayang dan tidak dapat ditemukan.
Saking sedihnya, setelah tiga orang muda yang menjadi tamunya pergi, ia lalu
menggunakan sabuk pinggangnya untuk menggantung diri sampai mati! Ketika Bagus
Seta yang tidak ikut Retna Wilis dan Harjadenta pergi ke rumah Ki Demang, tiba
di rumah pondokan itu, dia mendapatkan Mbok Rondo Gati sudah tewas dan
tergantung di ruangan belakang. Tentu saja dia terkejut sekali dan cepat
menurunkan tubuh Mbok Rondo Gati dari gantungan, namun wanita tua itu telah
tewas. Bagus Seta lalu memberitahu para tetangga yang berdatangan melayat.
Retna Wilis yang mendahului Harjadenta pulang ke pondokan, terkejut mendengar
akan kematian Mbok Rondo Gati. Akan tetapi ia mengerti. Memang wanita itu hanya
akan menderita sengsara dalam hidupnya, tanpa kedua orang anaknya yang dicintainya.
Kalau ia hidup terus, tentu setiap hari ia hanya akan menangisi kematian kedua
orang anaknya.
Harjadenta
merasa heran sekali dan juga terkejut mendengar akan kematian Mbok Rondo Gati.
"Apa yang
telah terjadi?” tanyanya kepada Bagus Seta.
"Ia menggantung
diri, tidak dapat menahan kesedihan hatinya mendengar kedua anaknya telah
mati." jawab Bagus Seta singkat.
"Ah,
kenapa ia melakukan hal ini? Kenapa ia memilih mati menggantung diri?"
tanya Harjadenta yang merasa kasihan kepada janda itu.
"Ia menderita
sekali dengan kematian kedua anaknya dan agaknya ia hendak mengakhiri
kedukaannya itu dengan membunuh diri," kata Retna Wilis.
"Hemm,
apakah dengan cara membunuh diri orang akan dapat melepaskan diri dari
kedukaan? Apakah kedukaan itu terpisah dari dirinya? Kedukaan adalah ulah hati
akal pikiran dan akan mengikuti orang sampai kepada kematiannya
sekalipun." kata Bagus Seta lirih, seperti kepada diri sendiri.
"Akan
tetapi, apa yang meyebabkan ia melakukan perbuatan nekat itu, kakangmas Bagus
Seta?" Tanya Harjadenta.
"Karena
kedukaan menggelapkan hati akal pikirannya. Kemilikan mendatangkan kemelekatan,
dan inilah yang menjadi akar dari kedukaan. Memiliki sesuatu, baik yang
dimilikinya itu berupa harta, kedudukan, atau anak, menimbulkan kemelekatan dan
kalau sudah melekat, sekali dipisahkan tentu akan menimbulkan luka dihati.
Padahal, memiliki tidak akan lepas dan pada perpisahan dengan yang dimilikinya.
Akan tiba saatnya dia harus meninggalkan atau ditinggalkan oleh yang dimiliki,
dan kalau hal ini terjadi, timbullah duka yang menggelapkan hati akal pikiran.
Karena itu, orang yang bijaksana boleh mempunyai namun tidak memiliki."
<<< Bagian 32 Bagian 34 >>>
No comments:
Post a Comment