Sepasang Garuda Putih ; Bagian 34


"Nanti dulu, kakang! Di sini aku menjadi bingung. Apa bedanya mempunyai dan memiliki?"
"Yang kumaksudkan, mempunyai itu hanya lahiriah saja. Aku mempunyai harta, aku mempunyai kedudukan, aku mempunyai anak. Mempunyai ini hanya lahiriah dan kita bersikap dan berbuat sesuatu terhadap apa yang kita punyai secara wajar dan sesuai dengan kewajiban kita. Akan tetapi tidak memiliki, karena memiliki ini berarti melekatkan yang kita punyai itu ke dalam batin, menjadi satu dengan kita, dan kemilikan itu menguasai diri kita lahir batin. Mempunyai itu dengan kesadaran bahwa yang dipunyai itu hanyalah titipan saja, bukan miliknya. Yang memiliki hanya Hyang Widhi, dan kita ini hanya dititipi saja. Kita harus menjaga sebaiknya apa yang dititipkan kepadakita, dan kita harus rela apabila yang dititipkan kepada kita itu sewaktu-waktu diambil kembali oleh yang menitipkan, diambil kembali oleh Yang Memiliki."
"Hebat, kakangmas Bagus Seta! Keteranganmu sungguh amat jelas dan gamblang. Akan tetapi, apakah hal itu akan dapat meringankan penderitaan batin orang yang sedang berduka? Dapatkah kita melawan duka?" tanya Harjadenta.
"Duka timbul dari akal pikiran yang mengenang masa lalu. Kita teringat akan masa lalu yang penuh kesenangan, maka setelah kita dipisahkan dari kesenangan ini, timbullah iba diri yang menjadikan duka. Kalau kita senantiasa memandang saat ini, tidak mengenang masa lalu, maka segala apapun yang telah terjadi kita sadari bahwa hal ituudah dikehendaki Hyang Widhi dan tidak mungkin dapat diubah pula. Dengan kesadaran seperti itu, hanya memandang saat ini, kita akan menghadapi segala sesuatu dengan tabah dan semua ingatan ditujukan untuk menanggulangi keadaan saat ini. Iba diritiada kesempatan untuk masuk ke dalam batin dan kita terhindar dari kedukaan yang berlarut-larut sehingga sampai membunuh diri seperti halnya Mbok Rondo Gati."
"Kalau begitu, kematian Mbok Rondo Gati ini juga sudah menjadi kehendak Hyang Widhi, kakangmas?" tanya Retna Wilis dengan nada membantah.
"Tentu saja. Apa lagi soal mati dan hidup, semua berada sepenuhnya di tangan Hyang Widhi. Akan tetapi yang kita persoalkan bukan kematiannya yang sudah sewajarnya begitu, melainkan cara kematian itu terjadi. Cara yang ditempuh Mbok Rondo Gati bukan cara yang benar dan hanya akah menjadi beban keadaannya sesudah mati. Kita harus selalu waspada terhadap daya-daya rendah yang akan menjerumuskan kita ke dalam kesesatan."
"Apakah daya-daya rendah itu, kakang?" tanya Retna Wilis.
"Daya-daya rendah adalah setan-setan nafsu yang selalu mengejar kesenangan dan kepuasan melalui badan danpikiran kita, tidak lagi memperdulikan caranya mengejar, pokoknya asal bisa mendapatkan yang diinginkan untuk memuaskan dan menyenangkan diri. Karena pengejaran tanpa pantangan itulah maka kita terseret melakukan hal-hal tercela demi mendapatkan kepuasan dan kesenangan. Dan bekerjanya nafsu menyeret kita tidak berhenti sampai terlaksana dan tercapainya yang kita kejar, karena setelah tercapai, nafsu mendorong kita untuk mengejar lain kesenangan lagi yang dianggap lebih menyenangkan dari pada yang kita peroleh. Maka, terjadilah lingkaran setan di mana kita dipermainkan tiada hentinya, terseret melakukan perbuatan tercela demi tercapainya yang kita kejar."
"Wah, jahat sekali kalau begitu. Nafsu merupakan musuh pribadi yang harus dihancurkan dan dimatikan!" kata Retna Wilis.
"Keliru pendapat itu, diajeng Retna Wilis," kata Bagus Seta.
"Nafsu tidak mungkin kita matikan karena tanpa adanya nafsu, kita tidak dapat hidup. Nafsu telah ada semenjak kita lahir, menjadi peserta kita yang amat berguna bagi kelangsungan hidup. Nafsu yang membuat kita enak makan, melihat dan merasakan keindahan, mendengarkan kemerduan, bahkan nafsu pula yang menjadi sarana perkembang biakan manusia. Kita tidak dapat membunuh nafsu karena nafsu merupakan peserta penting."
"Menjadi peserta penting akan tetapi juga menjadi penggoda yang amat berbahaya?" tanya Harjadenta.
"Benar sekali. Nafsu menjadi peserta penting kalau dia berfungsi tetap sebagai peserta atau sebagai pembantu yang baik. Akan tetapi jangan biarkan dia merajalela, kalau dia merajalela dan dari pembantu berubah menjadi majikan dan kita menjadi pembantunya, celakalah kita yang akan diseret ke dalam perbuatan jahat."
"Semua keteranganmu sudah jelas, kakangmas Bagus Seto dan aku berterima kasih sekali mendapat penerangan darimu. Kesimpulannya, kalau aku tidak salah, kitaharus dapat mengendalikan nafsu sehingga dia akan tetap menjadi hamba kita. Bukankah demikian?"
"Benar, dimas. Akan tetapi mengendalikan nafsu itu lebih mudah dikatakan dari pada dikerjakan. Nafsu telah menyusup ke dalam diri kita, sampai ke hati akal pikiran, sehingga rasanya tidak mungkin bagi manusia biasa seperti kita untuk dapat mengendalikan nafsu."
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, kakang? Nafsu pembantu penting akan tetapi juga penyeret yang jahat, dan kita tidak dapat mengendalikannya. Lalu bagaimana? Engkau membuat kita tidak berdaya!”
"Memang manusia mahluk lemah dan tidak berdaya, adikku! Baik sekali kalau dapat menyadari akan kelemahan kita ini. Akan tetapi engkau lupa, diajeng. Di dalam ketidakberdayaan kita, ada satu Kekuasaan yang mutlak, Kekuasaan yang Satu dan hanya Kekuasaan itulah yang akan dapat mengembalikan nafsu kita pada tempat semula, yaitu menjadi pembantu yang baik. Kekuasaan Mutlak itu bukan lain adalah Ke kuasaan Hyang Widhi. Kita sendiri tidak berdaya akan tetapi kita dapat menyerahkan diri kepada Hyang Widhi, mohon bimbingannya dengan penuh kepercayaan, keikhlasan dan penyerahan. Kalau Hyang Widhi sudah berkenan menjamah kita dengan sentuhan suci dari TanganNya, tidak ada hal yang tidak mungkin."
"Aduh, kakangmas Bagus Seta. Terima kasih, terima kasih atas segala petunjukmu. Hatiku lega sekarang dan makin menguatkan batinku untuk menyerahkan diri ke Tangan Hyang Widhi sebagai dasar dari segala ikhtiar kita."
"Benar, adimas. Kalau sudah menyerah kepada Hyang Widhi, bukan berarti kita lalu menganggur dan segalanya terserah kepada Hyang Widhi. Itu pandangan keliru. Kita sudah diberi kelengkapan tubuh yang sempurna, maka kita harus mempergunakan setiap anggauta tubuh sesuai dengan fungsinya. Hanya saja, segala ikhtiar itu harus dilandaskan kepasrahan dan penyerahan tadi, sehingga apapun hasil dari ikhtiar kita, akan kita terima dengan ikhlas."

Semalam itu mereka tidak tidur, hanya berbincang-bincang di sudut ruangan itu. Pada keesokan harinya, jenazah Mbok Rondo Gati dikuburkan orang dan setelah selesai pemakanan, tiga orang muda itu lalu berpamit dari para tetangga dan meninggalkan kota Bulumanik. Mereka berjalan bersama menuju ke Kali Mayang. Matahari telah naik tinggi dan setelah tiba di tempat di mana mereka menambatkan perahu mereka, Bagus Seta berkata kepada Harjadenta.
"Adimas Harjadenta, sekarang kita harus berpisah. Engkau kembalilah ke Gunung Raung untuk menyerahkan pusaka Ki Carubuk kepada gurumu, dan kami akan melanjutkan perantauan kami ke timur."
Harjadenta mengerutkan alisnya, memandang kepada Bagus Seta lalu kepada Retna Wilis, dan berkata,
"Sesungguhnya aku ingin sekali dapat pergi merantau bersama kalian untuk meluaskan pengalaman, kakangmas Bagus Seta. Aku merasa bertemu dengan guru-guru baru yang membuka kedua mataku melihat kenyataan hidup dan aku ingin banyak belajar dari kalian."
Bagus Seta tersenyum dan memegang pundak Harjadenta.
"Ada waktunya kelak kita dapat bertemu kembali, adimas Harjadenta. Akan tetapi pesan gurumu itu harus kau selesaikan dulu, keris pusaka gurumu itu harus kau kembalikan dulu kepada gurumu, dan setelah urusan itu selesai, engkau dapat saja merantau seorang diri. Perbekalanmu sudah lebih dari cukup. Engkau bijaksana dan cukup tangguh untuk menjaga diri sendiri. Nah, sampai jumpa, adimas." Setelah berkata demikian, Bagus Seta berjalan menyusuri Kali Mayang menuju ke selatan.
Harjadenta menggunakan kesempatan selagi berdua dengan Retna Wilis untuk berkata,
"Diajeng, sekali lagi maafkanlah kelancanganku kepadamu semalam."
"Engkau tidak bersalah, kakangmas. Sudah menjadi hakmu untuk mencintai siapa saja termasuk aku. Akan tetapi aku sendiri belum berpikir tentang cinta. Engkau akan kukenang sebagai seorang sahabatku yang baik. Selamat tinggal!" Retna Wilis melompat dan mengejar kakaknya.
Harjadenta mengikuti mereka dengan pandang matanya sampai mereka itu lenyap dari pandangannya. Dia menghela napas panjang, tiba-tiba saja merasa betapa hidupnya sepi dan kosong. Kembali dia menghela napas, kemudian mendorong perahunya ke sungai dan menaiki perahunya, mendayung ke hulu untuk kembali ke pegunungan Raung.

Pemuda itu berjalan dengan santai. Lenggangnya lembut dan bebas, dan wajahnya yang tampan itu selalu dibayangi senyum yang mendalam. Senyum penuh pengertian dan pandang matanya menembus. Pemuda ini berusia duapuluh dua tahun, wajahnya masih nampak muda sekali, akan tetapi kalau melihat sinar matanya, orang akan mengira dia lebih tua dari usia sebenarnya. Rambutnya hitam panjang yang digelung ke atas, dahinya lebar. Sepasang alis yang tebal melindungi sepasang mata yang mencorong penuh kekuatan batin namun mata itu bersinar lembut penuh sinar kasih. Hidungnya mancung dan mulutnya amat menarik, karena mulut itu selalu dihias senyum penuh kesabaran. Dagunya yang berlekuk keras itu menunjukkan bahwa dia memiliki pendirian yang kuat. Tubuhnya sedang saja dan gerak-geriknya lembut, tidak menunjukkan kekuatan yang kasar. Siapakah pemuda yang lemah lembut itu? Pakaiannya sederhana saja, seperti pakaian seorang petani biasa, namun melihat gerak-geriknya yang lembut, dia berbeda dari petani yang biasa bekerja kasar. Namanya Jayawijaya, seorang pemuda yang datang dari pegunungan Tengger. Ayahnya adalah seorang pendeta yang kini bertapa mengasingkan diri di sebuah puncak pegunungan Tengger. Jayawijaya meninggalkan tempat pertapaan ayahnya karena dia hendak pergi merantau untuk meluaskan pengetahuan dan pengalaman, dan ayahnya mendukung keinginannya itu. Jayawijaya tiba di sebuah dusun pada siang hari itu. Dia memasuki dusun itu dengan maksud mencari makanan karena perutnya terasa lapar. Akan tetapi baru saja dia memasuki dusun Pandakan itu, dia merasa heran sekali karena keadaannya sunyi sekali, seolah tidak ada penduduknya. Akan tetapi dia mendengar suara banyak orang yang datangnya dari tengah dusun. Dia segera menuju ke tempat itu. Di tengah-tengah dusun itu terdapat sebuah balai dusun, sebuah bangunan panggung yang cukup besar dan kiranya di situlah para penduduk dusun itu berkumpul. Dia lalu ikut berdiri di luar panggung untuk melihat apa yang sedang terjadi. Di tengah-tengah panggung itu dia melihat seorang pria berusia enampuluh tahun lebih, berpakaian sebagai pendeta namun mewah, pakaiannya dari kain halus yang bersih berwarna kuning, kedua lengannya memakai hiasan lengan dari emas, rambutnya juga tersisir rapi dan mengkilap karena diberi minyak dan dia pesolek, juga gayanya agak kewanitaan ketika bicara, suka menjilat bibirnya seperti gaya seorang wanita yang centil.

Pendeta itu bukan lain adalah Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat kadipaten Blambangan. Bersama selusin anak buahnya dia sedang mempropagandakan agama penyembah Shiwa-Durga-Kala dan membujuk penduduk dusun Pandakan itu untuk masuk menjadi anggauta agama baru itu.
"Sekarang sudah tiba saatnya andika sekalian memasuki perkumpulan agama kami yang menjanjikan kehidupan bahagia bagi kalian. Dengan memasuki agama kami ini, hasil panen kalian akan menjadi baik, dan kalian akan dijauhkan dari bencana banjir, musim kering dan sebagainya lagi. Percayalah, kalian akan mendapat berkah dari Sang Hyang Bathara Shiwa, Sang Hyang Bathari Durgo, dan Sang Hyang Bathara Kala. Dan siapa yang tidak mau masuk menjadi anggauta agama kami ini, dia akan dikutuk hidupnya dan akan menjadi sengsara seperti seekor anjing!"
Jayawijaya mendengar ini dan dia mengerutkan alisnya. Orang bebas untuk memuji-muji agama sendiri akan tetapi kalau disertai ancaman seperti itu, namanya sudah tidak benar lagi.
"Agama lain yang kalian peluk itu hanya mendatangkan kesengsaraan dan kemiskinan belaka dan kalian membuat tidak-senang hati para dewata sehingga akan mengutuk kalian. Maka, mulai sekarang jadilah anggota agama kami dan sekalian akan hidup berbahagia."
Tiba-tiba seorang penduduk dusun yang mempunyai nyali lebih besar berkata,
"Kami selama ini memeluk agama kami yang lama dan kami hidup berbahagia! Kalau belum ada bukti bahwa agama baru ini membahagiakan kami, bagaimana kami dapat percaya?"
Suara para penduduk menjadi riuh rendah mendukung pernyataan ini. Mendengar ucapan itu, Wasi Karangwolo memandang ke arah pemuda yang bertubuh tinggi besar itu dan dia berkata sambil tersenyum ramah.
"Saudara yang bicara tadi dipersilakan naik ke panggung dan kami akan membuktikan kebenaran omongan kami. Silakan naik!"
Dengan dorongan suara para penduduk, pemuda itu lalu naik ke atas panggung.

<<< Bagian 33                                                                                         Bagian 35 >>>

No comments:

Post a Comment