"Nanti dulu, kakang! Di sini aku menjadi bingung. Apa bedanya mempunyai dan memiliki?"
"Yang
kumaksudkan, mempunyai itu hanya lahiriah saja. Aku mempunyai harta, aku
mempunyai kedudukan, aku mempunyai anak. Mempunyai ini hanya lahiriah dan kita
bersikap dan berbuat sesuatu terhadap apa yang kita punyai secara wajar dan
sesuai dengan kewajiban kita. Akan tetapi tidak memiliki, karena memiliki ini berarti
melekatkan yang kita punyai itu ke dalam batin, menjadi satu dengan kita, dan
kemilikan itu menguasai diri kita lahir batin. Mempunyai itu dengan kesadaran
bahwa yang dipunyai itu hanyalah titipan saja, bukan miliknya. Yang memiliki
hanya Hyang Widhi, dan kita ini hanya dititipi saja. Kita harus menjaga
sebaiknya apa yang dititipkan kepadakita, dan kita harus rela apabila yang
dititipkan kepada kita itu sewaktu-waktu diambil kembali oleh yang menitipkan,
diambil kembali oleh Yang Memiliki."
"Hebat,
kakangmas Bagus Seta! Keteranganmu sungguh amat jelas dan gamblang. Akan
tetapi, apakah hal itu akan dapat meringankan penderitaan batin orang yang
sedang berduka? Dapatkah kita melawan duka?" tanya Harjadenta.
"Duka
timbul dari akal pikiran yang mengenang masa lalu. Kita teringat akan masa lalu
yang penuh kesenangan, maka setelah kita dipisahkan dari kesenangan ini,
timbullah iba diri yang menjadikan duka. Kalau kita senantiasa memandang saat
ini, tidak mengenang masa lalu, maka segala apapun yang telah terjadi kita
sadari bahwa hal ituudah dikehendaki Hyang Widhi dan tidak mungkin dapat diubah
pula. Dengan kesadaran seperti itu, hanya memandang saat ini, kita akan
menghadapi segala sesuatu dengan tabah dan semua ingatan ditujukan untuk
menanggulangi keadaan saat ini. Iba diritiada kesempatan untuk masuk ke dalam
batin dan kita terhindar dari kedukaan yang berlarut-larut sehingga sampai
membunuh diri seperti halnya Mbok Rondo Gati."
"Kalau
begitu, kematian Mbok Rondo Gati ini juga sudah menjadi kehendak Hyang Widhi,
kakangmas?" tanya Retna Wilis dengan nada membantah.
"Tentu
saja. Apa lagi soal mati dan hidup, semua berada sepenuhnya di tangan Hyang
Widhi. Akan tetapi yang kita persoalkan bukan kematiannya yang sudah sewajarnya
begitu, melainkan cara kematian itu terjadi. Cara yang ditempuh Mbok Rondo Gati
bukan cara yang benar dan hanya akah menjadi beban keadaannya sesudah mati.
Kita harus selalu waspada terhadap daya-daya rendah yang akan menjerumuskan
kita ke dalam kesesatan."
"Apakah
daya-daya rendah itu, kakang?" tanya Retna Wilis.
"Daya-daya
rendah adalah setan-setan nafsu yang selalu mengejar kesenangan dan kepuasan
melalui badan danpikiran kita, tidak lagi memperdulikan caranya mengejar,
pokoknya asal bisa mendapatkan yang diinginkan untuk memuaskan dan menyenangkan
diri. Karena pengejaran tanpa pantangan itulah maka kita terseret melakukan
hal-hal tercela demi mendapatkan kepuasan dan kesenangan. Dan bekerjanya nafsu
menyeret kita tidak berhenti sampai terlaksana dan tercapainya yang kita kejar,
karena setelah tercapai, nafsu mendorong kita untuk mengejar lain kesenangan
lagi yang dianggap lebih menyenangkan dari pada yang kita peroleh. Maka,
terjadilah lingkaran setan di mana kita dipermainkan tiada hentinya, terseret
melakukan perbuatan tercela demi tercapainya yang kita kejar."
"Wah,
jahat sekali kalau begitu. Nafsu merupakan musuh pribadi yang harus dihancurkan
dan dimatikan!" kata Retna Wilis.
"Keliru
pendapat itu, diajeng Retna Wilis," kata Bagus Seta.
"Nafsu
tidak mungkin kita matikan karena tanpa adanya nafsu, kita tidak dapat hidup.
Nafsu telah ada semenjak kita lahir, menjadi peserta kita yang amat berguna
bagi kelangsungan hidup. Nafsu yang membuat kita enak makan, melihat dan
merasakan keindahan, mendengarkan kemerduan, bahkan nafsu pula yang menjadi
sarana perkembang biakan manusia. Kita tidak dapat membunuh nafsu karena nafsu
merupakan peserta penting."
"Menjadi
peserta penting akan tetapi juga menjadi penggoda yang amat berbahaya?"
tanya Harjadenta.
"Benar
sekali. Nafsu menjadi peserta penting kalau dia berfungsi tetap sebagai peserta
atau sebagai pembantu yang baik. Akan tetapi jangan biarkan dia merajalela,
kalau dia merajalela dan dari pembantu berubah menjadi majikan dan kita menjadi
pembantunya, celakalah kita yang akan diseret ke dalam perbuatan jahat."
"Semua
keteranganmu sudah jelas, kakangmas Bagus Seto dan aku berterima kasih sekali
mendapat penerangan darimu. Kesimpulannya, kalau aku tidak salah, kitaharus
dapat mengendalikan nafsu sehingga dia akan tetap menjadi hamba kita. Bukankah demikian?"
"Benar,
dimas. Akan tetapi mengendalikan nafsu itu lebih mudah dikatakan dari pada
dikerjakan. Nafsu telah menyusup ke dalam diri kita, sampai ke hati akal
pikiran, sehingga rasanya tidak mungkin bagi manusia biasa seperti kita untuk
dapat mengendalikan nafsu."
"Kalau
begitu, apa yang harus kita lakukan, kakang? Nafsu pembantu penting akan tetapi
juga penyeret yang jahat, dan kita tidak dapat mengendalikannya. Lalu
bagaimana? Engkau membuat kita tidak berdaya!”
"Memang
manusia mahluk lemah dan tidak berdaya, adikku! Baik sekali kalau dapat
menyadari akan kelemahan kita ini. Akan tetapi engkau lupa, diajeng. Di dalam
ketidakberdayaan kita, ada satu Kekuasaan yang mutlak, Kekuasaan yang Satu dan
hanya Kekuasaan itulah yang akan dapat mengembalikan nafsu kita pada tempat
semula, yaitu menjadi pembantu yang baik. Kekuasaan Mutlak itu bukan lain
adalah Ke kuasaan Hyang Widhi. Kita sendiri tidak berdaya akan tetapi kita
dapat menyerahkan diri kepada Hyang Widhi, mohon bimbingannya dengan penuh
kepercayaan, keikhlasan dan penyerahan. Kalau Hyang Widhi sudah berkenan
menjamah kita dengan sentuhan suci dari TanganNya, tidak ada hal yang tidak
mungkin."
"Aduh,
kakangmas Bagus Seta. Terima kasih, terima kasih atas segala petunjukmu. Hatiku
lega sekarang dan makin menguatkan batinku untuk menyerahkan diri ke Tangan
Hyang Widhi sebagai dasar dari segala ikhtiar kita."
"Benar,
adimas. Kalau sudah menyerah kepada Hyang Widhi, bukan berarti kita lalu
menganggur dan segalanya terserah kepada Hyang Widhi. Itu pandangan keliru.
Kita sudah diberi kelengkapan tubuh yang sempurna, maka kita harus
mempergunakan setiap anggauta tubuh sesuai dengan fungsinya. Hanya saja, segala
ikhtiar itu harus dilandaskan kepasrahan dan penyerahan tadi, sehingga apapun
hasil dari ikhtiar kita, akan kita terima dengan ikhlas."
Semalam itu
mereka tidak tidur, hanya berbincang-bincang di sudut ruangan itu. Pada
keesokan harinya, jenazah Mbok Rondo Gati dikuburkan orang dan setelah selesai
pemakanan, tiga orang muda itu lalu berpamit dari para tetangga dan
meninggalkan kota Bulumanik. Mereka berjalan bersama menuju ke Kali Mayang.
Matahari telah naik tinggi dan setelah tiba di tempat di mana mereka
menambatkan perahu mereka, Bagus Seta berkata kepada Harjadenta.
"Adimas
Harjadenta, sekarang kita harus berpisah. Engkau kembalilah ke Gunung Raung
untuk menyerahkan pusaka Ki Carubuk kepada gurumu, dan kami akan melanjutkan
perantauan kami ke timur."
Harjadenta
mengerutkan alisnya, memandang kepada Bagus Seta lalu kepada Retna Wilis, dan
berkata,
"Sesungguhnya
aku ingin sekali dapat pergi merantau bersama kalian untuk meluaskan
pengalaman, kakangmas Bagus Seta. Aku merasa bertemu dengan guru-guru baru yang
membuka kedua mataku melihat kenyataan hidup dan aku ingin banyak belajar dari
kalian."
Bagus Seta
tersenyum dan memegang pundak Harjadenta.
"Ada
waktunya kelak kita dapat bertemu kembali, adimas Harjadenta. Akan tetapi pesan
gurumu itu harus kau selesaikan dulu, keris pusaka gurumu itu harus kau
kembalikan dulu kepada gurumu, dan setelah urusan itu selesai, engkau dapat
saja merantau seorang diri. Perbekalanmu sudah lebih dari cukup. Engkau
bijaksana dan cukup tangguh untuk menjaga diri sendiri. Nah, sampai jumpa,
adimas." Setelah berkata demikian, Bagus Seta berjalan menyusuri Kali
Mayang menuju ke selatan.
Harjadenta
menggunakan kesempatan selagi berdua dengan Retna Wilis untuk berkata,
"Diajeng,
sekali lagi maafkanlah kelancanganku kepadamu semalam."
"Engkau
tidak bersalah, kakangmas. Sudah menjadi hakmu untuk mencintai siapa saja
termasuk aku. Akan tetapi aku sendiri belum berpikir tentang cinta. Engkau akan
kukenang sebagai seorang sahabatku yang baik. Selamat tinggal!" Retna
Wilis melompat dan mengejar kakaknya.
Harjadenta
mengikuti mereka dengan pandang matanya sampai mereka itu lenyap dari
pandangannya. Dia menghela napas panjang, tiba-tiba saja merasa betapa hidupnya
sepi dan kosong. Kembali dia menghela napas, kemudian mendorong perahunya ke
sungai dan menaiki perahunya, mendayung ke hulu untuk kembali ke pegunungan
Raung.
Pemuda itu
berjalan dengan santai. Lenggangnya lembut dan bebas, dan wajahnya yang tampan
itu selalu dibayangi senyum yang mendalam. Senyum penuh pengertian dan pandang
matanya menembus. Pemuda ini berusia duapuluh dua tahun, wajahnya masih nampak
muda sekali, akan tetapi kalau melihat sinar matanya, orang akan mengira dia
lebih tua dari usia sebenarnya. Rambutnya hitam panjang yang digelung ke atas,
dahinya lebar. Sepasang alis yang tebal melindungi sepasang mata yang mencorong
penuh kekuatan batin namun mata itu bersinar lembut penuh sinar kasih.
Hidungnya mancung dan mulutnya amat menarik, karena mulut itu selalu dihias
senyum penuh kesabaran. Dagunya yang berlekuk keras itu menunjukkan bahwa dia
memiliki pendirian yang kuat. Tubuhnya sedang saja dan gerak-geriknya lembut,
tidak menunjukkan kekuatan yang kasar. Siapakah pemuda yang lemah lembut itu?
Pakaiannya sederhana saja, seperti pakaian seorang petani biasa, namun melihat
gerak-geriknya yang lembut, dia berbeda dari petani yang biasa bekerja kasar.
Namanya Jayawijaya, seorang pemuda yang datang dari pegunungan Tengger. Ayahnya
adalah seorang pendeta yang kini bertapa mengasingkan diri di sebuah puncak
pegunungan Tengger. Jayawijaya meninggalkan tempat pertapaan ayahnya karena dia
hendak pergi merantau untuk meluaskan pengetahuan dan pengalaman, dan ayahnya
mendukung keinginannya itu. Jayawijaya tiba di sebuah dusun pada siang hari
itu. Dia memasuki dusun itu dengan maksud mencari makanan karena perutnya
terasa lapar. Akan tetapi baru saja dia memasuki dusun Pandakan itu, dia merasa
heran sekali karena keadaannya sunyi sekali, seolah tidak ada penduduknya. Akan
tetapi dia mendengar suara banyak orang yang datangnya dari tengah dusun. Dia
segera menuju ke tempat itu. Di tengah-tengah dusun itu terdapat sebuah balai
dusun, sebuah bangunan panggung yang cukup besar dan kiranya di situlah para
penduduk dusun itu berkumpul. Dia lalu ikut berdiri di luar panggung untuk
melihat apa yang sedang terjadi. Di tengah-tengah panggung itu dia melihat seorang
pria berusia enampuluh tahun lebih, berpakaian sebagai pendeta namun mewah,
pakaiannya dari kain halus yang bersih berwarna kuning, kedua lengannya memakai
hiasan lengan dari emas, rambutnya juga tersisir rapi dan mengkilap karena
diberi minyak dan dia pesolek, juga gayanya agak kewanitaan ketika bicara, suka
menjilat bibirnya seperti gaya seorang wanita yang centil.
Pendeta itu
bukan lain adalah Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat kadipaten Blambangan.
Bersama selusin anak buahnya dia sedang mempropagandakan agama penyembah
Shiwa-Durga-Kala dan membujuk penduduk dusun Pandakan itu untuk masuk menjadi
anggauta agama baru itu.
"Sekarang
sudah tiba saatnya andika sekalian memasuki perkumpulan agama kami yang
menjanjikan kehidupan bahagia bagi kalian. Dengan memasuki agama kami ini,
hasil panen kalian akan menjadi baik, dan kalian akan dijauhkan dari bencana
banjir, musim kering dan sebagainya lagi. Percayalah, kalian akan mendapat
berkah dari Sang Hyang Bathara Shiwa, Sang Hyang Bathari Durgo, dan Sang Hyang
Bathara Kala. Dan siapa yang tidak mau masuk menjadi anggauta agama kami ini,
dia akan dikutuk hidupnya dan akan menjadi sengsara seperti seekor
anjing!"
Jayawijaya
mendengar ini dan dia mengerutkan alisnya. Orang bebas untuk memuji-muji agama
sendiri akan tetapi kalau disertai ancaman seperti itu, namanya sudah tidak
benar lagi.
"Agama
lain yang kalian peluk itu hanya mendatangkan kesengsaraan dan kemiskinan
belaka dan kalian membuat tidak-senang hati para dewata sehingga akan mengutuk
kalian. Maka, mulai sekarang jadilah anggota agama kami dan sekalian akan hidup
berbahagia."
Tiba-tiba
seorang penduduk dusun yang mempunyai nyali lebih besar berkata,
"Kami
selama ini memeluk agama kami yang lama dan kami hidup berbahagia! Kalau belum
ada bukti bahwa agama baru ini membahagiakan kami, bagaimana kami dapat
percaya?"
Suara para
penduduk menjadi riuh rendah mendukung pernyataan ini. Mendengar ucapan itu,
Wasi Karangwolo memandang ke arah pemuda yang bertubuh tinggi besar itu dan dia
berkata sambil tersenyum ramah.
"Saudara
yang bicara tadi dipersilakan naik ke panggung dan kami akan membuktikan
kebenaran omongan kami. Silakan naik!"
Dengan
dorongan suara para penduduk, pemuda itu lalu naik ke atas panggung.
<<< Bagian 33 Bagian 35 >>>
No comments:
Post a Comment