"Nah, saudara sekalian, kita sekarang akan membuktikan semua omongan kami tadi. Ki sanak ini akan menjadi bukti bahwa kalau menjadi anggota agama kami tentu akan bahagia, sebaliknya kalau menolak, akan hidup seperti anjing."
Setelah
berkata demikian Wasi Karangwolo mendekati pemuda tinggi besar itu dan
menyerahkan sebuah batu sebesar kepalan tangan kepadanya. Dia memperlihatkan
batu itu kepada semua orang dengan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas
kepalanya.
"Lihat
saudara sekalian, yang akan saya berikan kepada ki sanak ini hanyalah sebuah
batu biasa. Kalian lihat baik-baik, dengan kekuasaan Sang Hyang Bathara Shiwa
dan isteri serta puteranya, batu di tangannya akan berubah menjadi emas!"
Dia lalu menyerahkan batu itu kepada pemuda tinggi besar yang masih berdiri di
depannya.
Pemuda itu
menerima batu itu dan digenggamnya, dan dia tersenyum-senyum tidak percaya.
Wasi Karangwolo memegang tangannya yang menggegam batu dan berkata,
"Ki
sanak,sekarang pejamkanlah kedua matamu dan di dalam hatimu mintalah berkah
kepada Sang Hyang Bathara Shiwa dan isteri serta puteranya agar batu dalam
genggamanmu ini berubah menjadi emas!"
Pemuda itu
masih tersenyum dan memejamkan kedua matanya. Wasi Karangwolo lalu membaca
mantera, berkemak-kemik dan menggunakan kedua tangannya mendorong dan diarahkan
kepada para penduduk yang berada di bawah panggung, kemudian membentak ke arah
pemuda yang menggegam batu.
"Demi
nama Sang Hyang BatharaShiwa dan isteri serta puteranya, batu itu berubah
menjadi emas!" teriaknya sambil menggerakkan tangan ke arah tangan pemuda
yang menggegam batu itu.
"Nah,
sekarang buka dan perlihatkanlah kepada semua orang!" kata Wasi Karangwolo
dengan suara biasa.
Pemuda itu
membuka matanya, memandang kepada batu yang digenggamnya dan dia terbelalak.
Batu itu benar-benar telah berubah menjadi emas yang berkilauan!
"Ah,
betul-betul berubah menjadi emas!" teriak pemuda tinggi besar itu dan dia
lalu turun dari panggung dan memperlihatkan sepotong emas itu kepada siapapun
yang ingin melihatnya. Setelah itu, pemuda itu lalu melarikan diri dari situ
sambil membawa emasnya. Penduduk dusun Pandakan itu tidak ada yang mengenal
pemuda itu menduga bahwa pemuda itu tentu seorang yang datang dari dusun lain
dan kini saking girangnya lari membawa emasnya untuk diperlihatkan kepada
orang-orang di dusunnya.
Wasi
Karangwolo hanya tertawa saja melihat pemuda itu melarikan diri.
"Dia
seorang yang beruntung mendapat berkah, dan tentu mulai saat ini dia mau
menjadi anggota agama baru kami. Sudah kami buktikan bahwa yang percaya kepada
agama kami akan mendapat kebahagiaan, bahkan batu dapat diubah menjadi emas
kalau Sang Hyang Bathara Shiwa menghendaki. Apakah masih ada saudara yang meragukan
kebenaran ucapan kami?"
Seorang pemuda
lain naik ke atas panggung dan dia berkata,
"Aku
masih belum percaya betul bahwa agama baru ini akan membahagiakan orang!"
Wasi
Karangwolo memandang pemuda itu dengan alis berkerut dan mata mencorong.
"Ki sanak,
tadi sudah ada buktinya dan andika masih tidak percaya? Apakah ini berarti
bahwa andika menolak menjadi anggota agama kami?"
"Benar.
Aku menolak karena agama kami sudah turun-temurun menjadi kepercayaan kami dan
mendatangkan berkah," kata pemuda itu dengan berani.
"Hai
orang muda! Tahukah andika bahwa siapa yang tidak percaya dan menolak agama
kami akan terkutuk dan hidup seperti anjing!" bentak Wasi Karangwolo
dengan marah.
"Aku
tidak takut! Para dewata akan melindungi aku yang tidak bersalah!"
Wasi
Karangwolo menjadi semakin marah. Sepasang matanya mencorong dan dia
menggerakkan kedua tangannya ke arah pemuda itu dan suaranya terdengar
menggeledek dan berwibawa sekali.
"Kalau
begitu,sekarang juga hidupmu seperti seekor anjing yang hanya pandai menggonggong!"
Semua mata
yang memandang kepada pemuda yang pemberani itu tiba-tiba terbelalak. Pemuda
itu yang tadinya berdiri tegak, tiba-tiba saja membungkuk sehingga berdiri di
atas kaki tangannya dan dia lalu mengeluarkan suara menyalak-nyalak seperti
seekor anjing!
"Huk-huk-huk,
aung-aung ... !" Orang yang berlagak seperti anjing itu berjalan-jalan di
atas panggung dengan kaki tangannya dan terus menggonggong.
"Sungguh
jahat! Jahat dan tidak berprikemanusiaan!"
Tiba-tiba
terdengar suara seorang laki-laki dan orangnya lalu naik ke panggung. Dia bukan
lain adalah Jayawijaya. Sejak tadi dia ikut menonton dengan para penduduk,
melihat betapa Wasi Karangwolo mengubah batu menjadi emas dan kini menyumpahi
seorang pemuda sehingga berubah menjadi seekor anjing! Ia merasa tidak tahan
melihat ini dan segera naik ke panggung sambil mencela. Melihat seorang pemuda
tampan naik ke panggung sambil menegur perbuatannya.Wasi Karangwolo menjadi
marah. Dia melangkah maju menghadapi pemuda itu.
"Hai,
siapa andika, lancang berani naik ke panggung tanpa perkenan kami? Apa engkau
sudah bosan hidup?"
Jayawijaya
tidak memperdulikan bentakan ini dan dia lalu menghampiri pemuda yang masih
merangkak dan menggonggong seperti anjing dan menepuk-nepuk pundak pemuda itu.
"Ki
sanak, sadarlah. Jangan bermain-main seperti anak kecil. Sadarlah andika!"
Suaranya
demikian lembut dan penuh kasih sayang dan terjadilah keajaiban. Pemuda yang
tadi merangkak dan menggonggong itu tiba-tiba menjadi sadar dan dia bangkit
berdiri, tersipu malu dan turun dari atas panggung. Melihat ini, Wasi
Karangwolo menjadi semakin marah. Dengan mengangkat tangan ke atas, memandang
kepada Jayawijaya dengan sepasang mata bersinar-sinar, dia membentak,
"Orang
muda, engkau juga menjadi anjing yang hanya pandai menggonggong!" Dia
mengerahkan kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi Jayawijaya agar pemuda ini
terpengaruh dan merasa dirinya seperti seekor anjing. Akan tetapi, dengan
pandang matanya yang lugu dan lembut sinarnya, Jayawijaya menatap wajah kakek
itu dan sama sekali dia tidak terpengaruh.
"Pendeta,
perbuatanmu seperti ini sungguh tidak diridhoi Sang Hyang Widhi dan andika
berdosa besar!" kata pemuda itu dengan berani.
"Engkau
boleh menyebarkan agama apa saja, akan tetapi tidak boleh memaksa orang untuk
masuk agamamu dengan ancaman. Setiap orang berhak untuk menentukan agamanya
sendiri, kenapa engkau hendak memaksa orang. Perbuatanmu ini tidak benar,
sadarlah!" Suara pemuda itu lantang dan terdengar oleh semua penduduk
dusun Pandakan.
Mendengar
ucapan pemuda itu, banyak yang menyetujuinya dan perlahan-lahan banyak di
antara mereka yang meninggalkan panggung itu, kecuali mereka yang ingin tahu
apa yang akan terjadi selanjutnya. Wasi Karangwolo mendengus marah seperti
seekor kuda.
"Orang
muda, siapa namamu, berani main-main di depan Wasi Karangwolo?"
"Namaku
Jayawijaya, dan aku tidak merasa main-main di depanmu, Sang Wasi. Aku hanya
mengatakan apa adanya dan mencoba untuk menyadarkanmu akan kesalahanmu."
Mendadak Wasi
Karangwolo membuat gerakan dengan kedua tangannya di udara, mulutnya
berkemak-kemik membaca mantera dan dia mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya
lalu membentak.
"Jayawijaya,
engkau berlututlah di depanku! Aku adalah penasihat Adipati Blambangan yang
harus kau hormati. Berlututlah!" Perintahnya ini mengandung getaran yang
amat kuat, bahkan para penonton yang tidak langsung diserang, suara itu, merasa
seolah-olah ada kekuatan tersembunyi yang mendorong mereka untuk bertekuk
lutut! Akan tetapi, Jayawijaya tetap berdiri dan dengan tegak dia menjawab.
"Aku
bukan kawula Blambangan dan tidak ada alasannya sedikitpun juga bagiku untuk
berlutut di depanmu, Wasi Karangwolo!"
Sang Wasi
terkejut bukan main. Kekuatan sihirnya itu hebat sekali, kuat dan dapat
melumpuhkan lawan yang kuat, akan tetapi mengapa tidak mempan terhadap pemuda
yang kelihatannya lemah ini? Dia lalu melangkah maju selangkah dan tangan
kirinya mendorong ke depan, disertai tenaga sakti untuk menyerang dari jarak
jauh.
"Robohlah!"
bentaknya.
Hawa pukulan
yang kuat menyambar Jayawijaya dan pemuda itupun terjengkang roboh di atas
papan panggung. Akan tetapi selain roboh, agaknya pukulan jarak jauh itu tidak
melukainya karena dia segera bangkit berdiri dan berkata dengan lantang.
"Wasi
Karangwolo, engkau sungguh seorang pengecut. Menyerang orang yang tidak melawan.
Akan terapi pukulanmu tidak membikin aku takut dan aku tetap menentang
perbuatanmu hendak memaksa penduduk dusun ini memeluk agamamu dengan semua ilmu
hitammu!"
Melihat pemuda
itu terjengkang roboh oleh hawa pukulannya, Wasi Karangwolo menjadi semakin
berani dan marah.
"Jayawijaya,
engkau patut dihajar!" Dan kini dia melompat ke depan dan menampar.
Jayawijaya tidak menangkis atau mengelak karena memang dia tidak dapat bersilat
sehingga tamparan itu mengenai dagunya.
"Plak ...
!!" Kembali dia terpelanting keras dan roboh. Akan tetapi seolah-olah
tamparan yang kuat itu tidak membuatnya merasa nyeri karena dia sudah bangkit
berdiri lagi.
"Wasi
Karangwolo, kekejamanmu ini tentu akan dikutuk oleh Sang Hyang Widhi!" dia
mencela.
Tentu saja
pendeta itu menjadi penasaran dan semakin memuncak kemarahannya. Kini dia
mengerahkan tenaga sepenuhnya pada tangan kanannya, tenaga yang mengandung hawa
beracun dan dia memukul ke arah dada pemuda itu. Kini dia yakin bahwa
pukulannya itu tentu akan menewaskan pemuda yang berani menantangnya seperti
itu.
"Wuuuuuuttt
... !" Wasi Karangwolo hampir berteriak saking kagetnya. Ketika pukulan
tangannya sudah dekat dengan dada pemuda itu, tiba-tiba saja tangan itu
tertahan, seolah ada hawa yang luar biasa kuatnya melindungi dada itu dan yang
membuat tangannya tidak dapat menyentuhnya! Pukulan yang demikian hebat membawa
serangan maut, tidak dapat mengenai dada Jayawijaya. Wasi Karangwolo hanya
melihat pemuda itu melangkah mundur selangkah. Dia menjadi penasaran dan
melompat lagi menghantam dengan tangan kirinya ke arah muka pemuda itu. Akan
tetapi hasilnya sama saja. Setelah kepalan tangannya berada sejengkal dengan
muka pemuda itu, pukulannya tertahan. Dia sudah siap lagi memukul. Akan tetapi
pukulan ke tiga ini bertemu dengan sebuah tangan di udara dan terdengar seorang
wanita berseru.
"Sungguh
tak tahu malu! Seorang tua bangka menyerang seorang pemuda yang tidak
melawan!"
"Dukkk
... !" Pukulan itu tertangkis dan tubuh Wasi Karangwolo terhuyung karena
tangkisan itu demikian kuatnya.
Ketika dia
memandang di atas panggung itu telah berdiri seorang wanita yang cantik jelita,
dan usianya sudah setengah baya. Wanita itu masih cantik dan anggun, pandang
matanya mencorong penuh wibawa. Wanita itu adalah Endang Patibroto yang sedang
melakukan perjalanan untuk mencari Retna Wilis dan Bagus Seta. Ketika ia tiba
di dusun itu, ia juga melihat ramai-ramai di panggung dan segera datang
menonton. Ia melihat betapa dengan sihirnya pendeta itu mempengaruhi orang
dusun, dan melihat pula ketika Jayawijaya naik ke panggung menentang pendeta
itu. Ketika Wasi Karangwolo mempergunakan sihir untuk mempengaruhi pemuda itu,
Endang Patibroto juga heran dan kagum melihat pemuda itu sama sekali tidak
terpengaruh, ia mengira bahwa pemuda itu tentu seorang yang memiliki
kedigdayaan. Akan tetapi ketika dengan hawa pukulannya saja pendeta tak mampu
merobohkan Jayawijaya sampai dua kali, Endang Patibroto tahu bahwa pemuda itu
tidak memiliki aji kanuragan, maka begitu melihat tamparan datang lagi, ia
cepat melompat dan menangkis. Karena ia mengerahkan aji Bayutantra, maka
gerakannya ketika melompat itu seperti terbang saja cepatnya, dan tangkisannya
menggunakan tenaga aji Pethit Nogo, maka tidak heran kalau Wasi Karangwolo
sampai terhuyung dan merasa lengannya tergetar hebat. Endang Patibroto
memandang kepada Jayawijaya yang juga memandang kepadanya dan wanita sakti ini
berkata,
"Orang
muda, andika turunlah dari panggung dan biarkan aku menghadapi pendeta iblis
ini!"
Jayawijaya
mengamati wajah Endang Patibroto dan dengan halus dia berkata,
"Kanjeng
bibi, kuharap dengan sangat jangan bibi membunuhnya." Setelah berkata
demikian pemuda itu lalu turun dari panggung dan membiarkan Endang Patibroto
berhadapan dengan pendeta itu.
"Hemm,
andika ini siapakah berani mencampuri urusan Wasi Karangwolo?" tanya
pendeta itu dengan suara keras dan memberi tekanan kepada suaranya agar
berpengaruh.
"Jadi
andika bernama Wasi Karangwolo? Andika mencoba mengelabuhi penduduk dusun
Pandakan ini dengan tipu daya dan sihirmu, lalu datang pemuda bijaksana, yang
mencoba untuk menyadarkanmu. Akan tetapi andika malah menyerangnya dan hendak
membunuhnya. Tentu saja aku turun tangan menentang. Namaku adalah Endang
Patibroto dari Panjalu!"
<<< Bagian 34 Bagian 36 >>>
No comments:
Post a Comment