Sepasang Garuda Putih ; Bagian 35


"Nah, saudara sekalian, kita sekarang akan membuktikan semua omongan kami tadi. Ki sanak ini akan menjadi bukti bahwa kalau menjadi anggota agama kami tentu akan bahagia, sebaliknya kalau menolak, akan hidup seperti anjing."

Setelah berkata demikian Wasi Karangwolo mendekati pemuda tinggi besar itu dan menyerahkan sebuah batu sebesar kepalan tangan kepadanya. Dia memperlihatkan batu itu kepada semua orang dengan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya.
"Lihat saudara sekalian, yang akan saya berikan kepada ki sanak ini hanyalah sebuah batu biasa. Kalian lihat baik-baik, dengan kekuasaan Sang Hyang Bathara Shiwa dan isteri serta puteranya, batu di tangannya akan berubah menjadi emas!" Dia lalu menyerahkan batu itu kepada pemuda tinggi besar yang masih berdiri di depannya.
Pemuda itu menerima batu itu dan digenggamnya, dan dia tersenyum-senyum tidak percaya. Wasi Karangwolo memegang tangannya yang menggegam batu dan berkata,
"Ki sanak,sekarang pejamkanlah kedua matamu dan di dalam hatimu mintalah berkah kepada Sang Hyang Bathara Shiwa dan isteri serta puteranya agar batu dalam genggamanmu ini berubah menjadi emas!"
Pemuda itu masih tersenyum dan memejamkan kedua matanya. Wasi Karangwolo lalu membaca mantera, berkemak-kemik dan menggunakan kedua tangannya mendorong dan diarahkan kepada para penduduk yang berada di bawah panggung, kemudian membentak ke arah pemuda yang menggegam batu.
"Demi nama Sang Hyang BatharaShiwa dan isteri serta puteranya, batu itu berubah menjadi emas!" teriaknya sambil menggerakkan tangan ke arah tangan pemuda yang menggegam batu itu.
"Nah, sekarang buka dan perlihatkanlah kepada semua orang!" kata Wasi Karangwolo dengan suara biasa.
Pemuda itu membuka matanya, memandang kepada batu yang digenggamnya dan dia terbelalak. Batu itu benar-benar telah berubah menjadi emas yang berkilauan!
"Ah, betul-betul berubah menjadi emas!" teriak pemuda tinggi besar itu dan dia lalu turun dari panggung dan memperlihatkan sepotong emas itu kepada siapapun yang ingin melihatnya. Setelah itu, pemuda itu lalu melarikan diri dari situ sambil membawa emasnya. Penduduk dusun Pandakan itu tidak ada yang mengenal pemuda itu menduga bahwa pemuda itu tentu seorang yang datang dari dusun lain dan kini saking girangnya lari membawa emasnya untuk diperlihatkan kepada orang-orang di dusunnya.

Wasi Karangwolo hanya tertawa saja melihat pemuda itu melarikan diri.
"Dia seorang yang beruntung mendapat berkah, dan tentu mulai saat ini dia mau menjadi anggota agama baru kami. Sudah kami buktikan bahwa yang percaya kepada agama kami akan mendapat kebahagiaan, bahkan batu dapat diubah menjadi emas kalau Sang Hyang Bathara Shiwa menghendaki. Apakah masih ada saudara yang meragukan kebenaran ucapan kami?"
Seorang pemuda lain naik ke atas panggung dan dia berkata,
"Aku masih belum percaya betul bahwa agama baru ini akan membahagiakan orang!"
Wasi Karangwolo memandang pemuda itu dengan alis berkerut dan mata mencorong.
"Ki sanak, tadi sudah ada buktinya dan andika masih tidak percaya? Apakah ini berarti bahwa andika menolak menjadi anggota agama kami?"
"Benar. Aku menolak karena agama kami sudah turun-temurun menjadi kepercayaan kami dan mendatangkan berkah," kata pemuda itu dengan berani.
"Hai orang muda! Tahukah andika bahwa siapa yang tidak percaya dan menolak agama kami akan terkutuk dan hidup seperti anjing!" bentak Wasi Karangwolo dengan marah.
"Aku tidak takut! Para dewata akan melindungi aku yang tidak bersalah!"
Wasi Karangwolo menjadi semakin marah. Sepasang matanya mencorong dan dia menggerakkan kedua tangannya ke arah pemuda itu dan suaranya terdengar menggeledek dan berwibawa sekali.
"Kalau begitu,sekarang juga hidupmu seperti seekor anjing yang hanya pandai menggonggong!"
Semua mata yang memandang kepada pemuda yang pemberani itu tiba-tiba terbelalak. Pemuda itu yang tadinya berdiri tegak, tiba-tiba saja membungkuk sehingga berdiri di atas kaki tangannya dan dia lalu mengeluarkan suara menyalak-nyalak seperti seekor anjing!
"Huk-huk-huk, aung-aung ... !" Orang yang berlagak seperti anjing itu berjalan-jalan di atas panggung dengan kaki tangannya dan terus menggonggong.
"Sungguh jahat! Jahat dan tidak berprikemanusiaan!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dan orangnya lalu naik ke panggung. Dia bukan lain adalah Jayawijaya. Sejak tadi dia ikut menonton dengan para penduduk, melihat betapa Wasi Karangwolo mengubah batu menjadi emas dan kini menyumpahi seorang pemuda sehingga berubah menjadi seekor anjing! Ia merasa tidak tahan melihat ini dan segera naik ke panggung sambil mencela. Melihat seorang pemuda tampan naik ke panggung sambil menegur perbuatannya.Wasi Karangwolo menjadi marah. Dia melangkah maju menghadapi pemuda itu.
"Hai, siapa andika, lancang berani naik ke panggung tanpa perkenan kami? Apa engkau sudah bosan hidup?"

Jayawijaya tidak memperdulikan bentakan ini dan dia lalu menghampiri pemuda yang masih merangkak dan menggonggong seperti anjing dan menepuk-nepuk pundak pemuda itu.
"Ki sanak, sadarlah. Jangan bermain-main seperti anak kecil. Sadarlah andika!"
Suaranya demikian lembut dan penuh kasih sayang dan terjadilah keajaiban. Pemuda yang tadi merangkak dan menggonggong itu tiba-tiba menjadi sadar dan dia bangkit berdiri, tersipu malu dan turun dari atas panggung. Melihat ini, Wasi Karangwolo menjadi semakin marah. Dengan mengangkat tangan ke atas, memandang kepada Jayawijaya dengan sepasang mata bersinar-sinar, dia membentak,
"Orang muda, engkau juga menjadi anjing yang hanya pandai menggonggong!" Dia mengerahkan kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi Jayawijaya agar pemuda ini terpengaruh dan merasa dirinya seperti seekor anjing. Akan tetapi, dengan pandang matanya yang lugu dan lembut sinarnya, Jayawijaya menatap wajah kakek itu dan sama sekali dia tidak terpengaruh.
"Pendeta, perbuatanmu seperti ini sungguh tidak diridhoi Sang Hyang Widhi dan andika berdosa besar!" kata pemuda itu dengan berani.
"Engkau boleh menyebarkan agama apa saja, akan tetapi tidak boleh memaksa orang untuk masuk agamamu dengan ancaman. Setiap orang berhak untuk menentukan agamanya sendiri, kenapa engkau hendak memaksa orang. Perbuatanmu ini tidak benar, sadarlah!" Suara pemuda itu lantang dan terdengar oleh semua penduduk dusun Pandakan.
Mendengar ucapan pemuda itu, banyak yang menyetujuinya dan perlahan-lahan banyak di antara mereka yang meninggalkan panggung itu, kecuali mereka yang ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Wasi Karangwolo mendengus marah seperti seekor kuda.
"Orang muda, siapa namamu, berani main-main di depan Wasi Karangwolo?"
"Namaku Jayawijaya, dan aku tidak merasa main-main di depanmu, Sang Wasi. Aku hanya mengatakan apa adanya dan mencoba untuk menyadarkanmu akan kesalahanmu."

Mendadak Wasi Karangwolo membuat gerakan dengan kedua tangannya di udara, mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan dia mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya lalu membentak.
"Jayawijaya, engkau berlututlah di depanku! Aku adalah penasihat Adipati Blambangan yang harus kau hormati. Berlututlah!" Perintahnya ini mengandung getaran yang amat kuat, bahkan para penonton yang tidak langsung diserang, suara itu, merasa seolah-olah ada kekuatan tersembunyi yang mendorong mereka untuk bertekuk lutut! Akan tetapi, Jayawijaya tetap berdiri dan dengan tegak dia menjawab.
"Aku bukan kawula Blambangan dan tidak ada alasannya sedikitpun juga bagiku untuk berlutut di depanmu, Wasi Karangwolo!"
Sang Wasi terkejut bukan main. Kekuatan sihirnya itu hebat sekali, kuat dan dapat melumpuhkan lawan yang kuat, akan tetapi mengapa tidak mempan terhadap pemuda yang kelihatannya lemah ini? Dia lalu melangkah maju selangkah dan tangan kirinya mendorong ke depan, disertai tenaga sakti untuk menyerang dari jarak jauh.
"Robohlah!" bentaknya.
Hawa pukulan yang kuat menyambar Jayawijaya dan pemuda itupun terjengkang roboh di atas papan panggung. Akan tetapi selain roboh, agaknya pukulan jarak jauh itu tidak melukainya karena dia segera bangkit berdiri dan berkata dengan lantang.
"Wasi Karangwolo, engkau sungguh seorang pengecut. Menyerang orang yang tidak melawan. Akan terapi pukulanmu tidak membikin aku takut dan aku tetap menentang perbuatanmu hendak memaksa penduduk dusun ini memeluk agamamu dengan semua ilmu hitammu!"
Melihat pemuda itu terjengkang roboh oleh hawa pukulannya, Wasi Karangwolo menjadi semakin berani dan marah.
"Jayawijaya, engkau patut dihajar!" Dan kini dia melompat ke depan dan menampar. Jayawijaya tidak menangkis atau mengelak karena memang dia tidak dapat bersilat sehingga tamparan itu mengenai dagunya.
"Plak ... !!" Kembali dia terpelanting keras dan roboh. Akan tetapi seolah-olah tamparan yang kuat itu tidak membuatnya merasa nyeri karena dia sudah bangkit berdiri lagi.
"Wasi Karangwolo, kekejamanmu ini tentu akan dikutuk oleh Sang Hyang Widhi!" dia mencela.
Tentu saja pendeta itu menjadi penasaran dan semakin memuncak kemarahannya. Kini dia mengerahkan tenaga sepenuhnya pada tangan kanannya, tenaga yang mengandung hawa beracun dan dia memukul ke arah dada pemuda itu. Kini dia yakin bahwa pukulannya itu tentu akan menewaskan pemuda yang berani menantangnya seperti itu.
"Wuuuuuuttt ... !" Wasi Karangwolo hampir berteriak saking kagetnya. Ketika pukulan tangannya sudah dekat dengan dada pemuda itu, tiba-tiba saja tangan itu tertahan, seolah ada hawa yang luar biasa kuatnya melindungi dada itu dan yang membuat tangannya tidak dapat menyentuhnya! Pukulan yang demikian hebat membawa serangan maut, tidak dapat mengenai dada Jayawijaya. Wasi Karangwolo hanya melihat pemuda itu melangkah mundur selangkah. Dia menjadi penasaran dan melompat lagi menghantam dengan tangan kirinya ke arah muka pemuda itu. Akan tetapi hasilnya sama saja. Setelah kepalan tangannya berada sejengkal dengan muka pemuda itu, pukulannya tertahan. Dia sudah siap lagi memukul. Akan tetapi pukulan ke tiga ini bertemu dengan sebuah tangan di udara dan terdengar seorang wanita berseru.
"Sungguh tak tahu malu! Seorang tua bangka menyerang seorang pemuda yang tidak melawan!"
"Dukkk ... !" Pukulan itu tertangkis dan tubuh Wasi Karangwolo terhuyung karena tangkisan itu demikian kuatnya.

Ketika dia memandang di atas panggung itu telah berdiri seorang wanita yang cantik jelita, dan usianya sudah setengah baya. Wanita itu masih cantik dan anggun, pandang matanya mencorong penuh wibawa. Wanita itu adalah Endang Patibroto yang sedang melakukan perjalanan untuk mencari Retna Wilis dan Bagus Seta. Ketika ia tiba di dusun itu, ia juga melihat ramai-ramai di panggung dan segera datang menonton. Ia melihat betapa dengan sihirnya pendeta itu mempengaruhi orang dusun, dan melihat pula ketika Jayawijaya naik ke panggung menentang pendeta itu. Ketika Wasi Karangwolo mempergunakan sihir untuk mempengaruhi pemuda itu, Endang Patibroto juga heran dan kagum melihat pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh, ia mengira bahwa pemuda itu tentu seorang yang memiliki kedigdayaan. Akan tetapi ketika dengan hawa pukulannya saja pendeta tak mampu merobohkan Jayawijaya sampai dua kali, Endang Patibroto tahu bahwa pemuda itu tidak memiliki aji kanuragan, maka begitu melihat tamparan datang lagi, ia cepat melompat dan menangkis. Karena ia mengerahkan aji Bayutantra, maka gerakannya ketika melompat itu seperti terbang saja cepatnya, dan tangkisannya menggunakan tenaga aji Pethit Nogo, maka tidak heran kalau Wasi Karangwolo sampai terhuyung dan merasa lengannya tergetar hebat. Endang Patibroto memandang kepada Jayawijaya yang juga memandang kepadanya dan wanita sakti ini berkata,
"Orang muda, andika turunlah dari panggung dan biarkan aku menghadapi pendeta iblis ini!"
Jayawijaya mengamati wajah Endang Patibroto dan dengan halus dia berkata,
"Kanjeng bibi, kuharap dengan sangat jangan bibi membunuhnya." Setelah berkata demikian pemuda itu lalu turun dari panggung dan membiarkan Endang Patibroto berhadapan dengan pendeta itu.
"Hemm, andika ini siapakah berani mencampuri urusan Wasi Karangwolo?" tanya pendeta itu dengan suara keras dan memberi tekanan kepada suaranya agar berpengaruh.
"Jadi andika bernama Wasi Karangwolo? Andika mencoba mengelabuhi penduduk dusun Pandakan ini dengan tipu daya dan sihirmu, lalu datang pemuda bijaksana, yang mencoba untuk menyadarkanmu. Akan tetapi andika malah menyerangnya dan hendak membunuhnya. Tentu saja aku turun tangan menentang. Namaku adalah Endang Patibroto dari Panjalu!"

<<< Bagian 34                                                                                         Bagian 36 >>>

No comments:

Post a Comment