Mendengar disebutnya nama ini, Wasi karangwolo terbelalak, mukanya berubah merah dan hidungnya mendengus-dengus seperti seekor kerbau marah. Dia sudah mendengar akan kematian mendiang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo, dua orang rekannya yang menjadi utusan Kerajaan Cola. Kabarnya kematian mereka adalah karena perlawanan yang dilakukan oleh Endang Patibroto dan suaminya yang kini menjadi patih Panjalu bernama Tejalaksono!
"Babo-babo,
kiranya andika yang bernama Endang Patibroto! Bagus sekali, tidak usah
repot-repot aku mencarimu, kini engkau telah datang mengantarkan nyawa!"
Endang
Patibroto merasa heran mendengar ini.
"Eh?
Pendeta siluman, siapakah engkau dan mengapa pula engkau memusuhi ku?"
"Mendiang
Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo adalah rekan-rekanku dari Negeri Cola. Mereka
tewas karena perlawanan andika dan suami andika, Tejolaksono! Sekarang andika
harus menggantikan nyawa mereka dengan nyawamu. Heiiiiiiitttt ... !!"
Dengan
kemarahan meluap-luap Wasi Karangwolo lalu mengangkat kedua tangannya ke atas.
Tiba-tiba saja cuaca menjadi gelap seolah ada awan hitam yang tiba-tiba
menutupi sinar matahari. Dan dari dalam awan hitam itu terdengar gerengan-gerengan
seperti suara binatang buas yang mengancam. Melihat ini, penduduk Pandakan
cerai berai melarikan diri ketakutan. Di bawah panggung kini tinggal Jayawijaya
seorang yang berdiri dengan sikap tenang. Endang Patibroto yang tiba-tiba
menghadapi cuaca yang gelap gulita itu, lalu mengerahkan tenaga sakti ke dalam
dadanya, kemudian ia mengeluarkan pekik dengan aji Sardulo Baiworo. Terdengar
lengking yang amat nyaring menggetarkan panggung itu dan segera awan gelap itu
membuyar dan perlahan-lahan lenyap, seolah takut mendengar lengkingan yang
tinggi dan nyaring itu. Wasi Karangwolo masih penasaran. Dia mencabut kerisnya
dan tampak sinar menyambar ke atas ketika dia melepaskan kerisnya dan keris itu
berubah menjadi makhluk yang menyeramkan seperti raksasa berwajah iblis yang
menubruk dan menyerang ke arah Endang Patibroto. Wanita sakti ini tidak menjadi
gentar, akan tetapi merendahkan tubuhnya dengan menekuk kedua lututnya,
kemudian kedua tangannya dari dekat pinggang didorongkan ke depan, ke arah
bayangan iblis hitam itu. Itulah Aji Gelap-musti yang hebat. Bayangan itu
terpelanting dan kembali menjadi keris yang melayang ke arah tangan Wasi
Karangwolo. Maklum bahwa dengan ilmu sihir dia tidak dapat mengalahkan Endang
Patibroto, kakek itu lalu menerjang dengan keris di tangan, menusuk dan
gerakannya tangkas sekali, cepat dan kuat. Namun, Endang Patibroto telah siap
siaga. Mendengar bahwa kakek ini adalah rekan dari mendiang Wasi Bagaspati dan
Wasi Bagaskolo, iapun dapat menduga bahwa kakek ini tentu memiliki kesaktian
yang kuat. Maka iapun menyambut serangan itu dengan gerakannya yang lebih cepat
lagi karena ia menggunakan aji Bayu-tantra sehingga gerakannya seperti angin
dan setelah mengelak dari semua serangan keris lawan, ia membalas dengan
pukulan PethitNogo, bergantian dengan pukulan Wisangmolo yang beracun.
Terjadilah perkelahian yang amat seru dan sengit. Tidak ada yang berani
menonton kecuali Jayawijaya yang masih berdiri di bawah panggung dengan kagum.
Diam-diam Jayawijaya kagum sekali kepada wanita setengah tua itu. Demikian
cekatan gerakannya, demikian cepat dan pukulan-pukulannya mendatangkan hawa
pukulan yang menggetarkan panggung. Sebuah perkelahian yang hebat! Dia mulai
khawatir kalau-kalau seorang di antara mereka akan tewas dalam perkelahian itu.
Biarpun matanya juga kabur tidak dapat mengikuti jalannya perkelahian, namun di
dalam hatinya Jayawijaya percaya bahwa Endang Patibroto tentu akan keluar
sebagai pemenang. Karena khawatir wanita perkasa itu akan membunuh lawannya,
dari bawah panggung dia lalu berseru,
"Kanjeng
Bibi, harap jangan bunuh dia. Berilah kesempatan kepada orang sesat itu untuk
menyadari kesesatannya dan kembali ke jalan benar."
Sementara itu,
melihat betapa tangguhnya lawan, Wasi Karangwolo lalu memberi isyarat kepada
duabelas orang pembantunya dan mereka semua naik ke atas panggung dan
mengeroyok Endang Patibroto. Namun pengeroyokan itu tidak membuat Endang
Patibroto gentar. Ia menyambut selusin orang itu dengan amukan dan semangatnya
bertambah. Jiwa petualangan wanita ini kini mendapat tempat yang luas dan
dengan gembira dia menyambut pengeroyokan ini dengan tendangan dan pukulannya.
Demikian hebat sepak terjang Endang Patibroto sehingga para pengeroyok itu
bergelimpangan dan ada yang terguling jatuh keluar panggung. Akan tetapi, ada
sesuatu terkandung dalam ucapan pemuda di bawah panggung tadi agar dia tidak
melakukan pembunuhan. Sungguh aneh. Suara itu demikian mempengaruhinya dan
selalu terngiang dalam telinganya. Tanpa disadarinya apa sebabnya, ia membatasi
tenaganya dan tak seorangpun di antara para pengeroyok itu terpukul tewas.
Namun cukup keras membuat mereka mengaduh-aduh dengan tulang patah dan membuat
mereka tidak dapat mengeroyok lagi. Melihat ini, Wasi Karangwolo menjadi marah
sekali. Sambil mengeluarkan gerengan dahsyat, tubuhnya menerjang maju, kerisnya
menyambar-nyambar seperti kilat dan setiap serangannya merupakan cengkeraman
maut yang mengancam nyawa Endang Patibroto. Akan tetapi wanita sakti ini
mengelak dengan cepat. Tubuhnya berkelebatan di antara sinar keris dan iapun
membalas dengan pukulan jari tangan aji Pethit Nogo yang tidak kalah ampuhnya
dibandingkan senjata ampuh yang mana juga. Akan tetapi Wasi Karangwolo juga
bukan seorang lawan yang lemah. Diapun dapat mengelak atau menangkis semua
pukulan yang dilontarkan Endang Patibroto. Pertandingan itu berlangsung hebat
sekali sehingga Jayawijaya yang berdiri di luar panggung dan menonton
pertandingan itu merasa khawatir akan keselamatan Endang Patibroto. Perkelahian
itu sudah berlangsung cukup lama dan agaknya memang sekali ini Endang Patibroto
menemukan lawan yang tangguh. Akan tetapi Wasi Karangwolo sendiri merasa
khawatir dan sedikit jerih. Biarpun dia sudah mengerahkan semua ajiannya, namun
tidak satupun ajian itu dapat merobohkan lawannya. Bahkan kalau wanita itu
menangkis, pertemuan antara kedua lengan mereka membuat dia tergetar hebat dan
kadang terhuyung. Dengan marah dia lalu mengeluarkan pekik menyeramkan dan
menusuk dengan kerisnya ke arah dada Endang Patibroto. Wanita ini melangkah
mundur setindak sambil merendahkan diri menekuk sebelah kaki kiri, kemudian
secara tiba-tiba sekali kaki kanannya mencuat dalam sebuah tendangan. Wasi
Karangwolo tidak mampu menghindarkan diri lagi.
"Wuuuuutt
... bukkk ... !!!" Perut kakek itu terkena tendangan kaki kanan Endang
Patibroto. Walaupun hanya tendangan seorang wanita setengah tua, namun
tendangan itu didorong oleh tenaga sakti yang amat hebat. Wasi Karangwolo
mengeluh dan tubuhnya terjengkang. Dia terhuyung ke belakang, tidak sampai
roboh akan tetapi nyalinya sudah terbang. Dia maklum bahwa kalau dilanjutkan
perkelahian itu, akhirnya dia akan kalah. Maka, tanpa malu-malu dia lalu
melompat turun dari atas panggung dan melarikan diri. Melihat hal ini, duabelas
orang anak buahnya yang tadi sudah dihajar oleh Endang Patibroto, segera
mengikuti jejak pemimpin mereka, melarikan diri tunggang langgang.
Endang
Patibroto melihat ke bawah panggung. Tidak ada seorangpun penduduk dusun yang
berada di situ, semuanya telah melarikan diri pulang ke rumah masing-masing.
Akan tetapi pemuda tampan itu masih berdiri di sana, memandang kepadanya dengan
kagum. Endang Patibroto lalu melompat turun dari panggung itu, berhadapan
dengan Jayawijaya.
"Kanjeng
Bibi sungguh sakti mandraguna dan bijaksana," kata Jayawijaya dengan
pandang mata kagum.
"Saya
sudah mendengar dari kanjeng Rama bahwa di Jenggala dan Panjalu terdapat banyak
sekali orang yang sakti, dan ternyata keterangan kanjeng rama itu benar. Hari
ini saya bertemu dengan seorang di antara orang-orang sakti dari Panjalu."
Endang Patibroto
memandang pemuda itu dan senyumnya membayangkan rasa sukanya. Pemuda ini lembut
dan agaknya lemah tidak memiliki kedigdayaan, akan tetapi memiliki keberanian
luar biasa sehingga berani menentang seorang sakti seperti Wasi Karangwolo.
"Orang
muda yang baik, siapakah namamu dan dari mana engkau datang?"
"Kanjeng
bibi, nama saya adalah Jayawijaya dan saya datang dari pegunungan
Tengger."
"Siapakah
orang tuamu dan mengapa engkau dapat berada di tempat ini?"
"Saya
memang sedang merantau, kanjeng bibi, untuk meluaskan pengetahuan dan
pengalaman. Ayah saya yang menyuruh saya merantau. Ayah saya adalah seorang
pertapa bernama Panji Kelana. Pengembaraan saya membawa saya sampai ke tempat
ini dan tadi ketika melihat pendeta itu hendak memaksakan kehendaknya kepada
penduduk dusun untuk memasuki agamanya, saya lalu menegurnya. Baiknya ada
kanjeng bibi yang datang dan mengusirnya, kalau boleh saya mengetahui, siapakah
kanjeng bibi dan bagaimana secara kebetulan berada di sini? Saya mendengar tadi
bahwa kanjeng bibi datang dari Panjalu."
"Namaku
Endang Patibroto dan aku adalah isteri Ki Patih Panjalu. Aku sedang melakukan
perjalanan untuk mencari dua orang anakku yang juga mengembara ke daerah ini.
Nama mereka Retna Wilis dan Bagus Seta. Apakah andika pernah bertemu dengan
mereka atau mendengar tentang mereka?"
"Saya
tidak pernah mendengar tentang mereka, kanjeng bibi."
"Anakmas
Jayawijaya, aku sungguh amat heran melihat keadaanmu. Andika tidak memiliki aji
kanuragan, akan tetapi bagaimana andika berani menentang seorang yang digdaya
seperti Wasi Karangwolo tadi. Bagaimana kalau dia memukulmu sampai tewas?"
Jayawijaya
tersenyum.
"Nyawaku
berada di tangan Hyang Widhi, kanjeng bibi. Apa yang harus ditakuti? Kalau
Hyang Widhi belum menghendaki saya tewas, biar ada seratus orang seperti Wasi
Karangwolo tadi, bagaimana dia dapat membunuhku? Kanjeng Bibi, saya sudah sejak
kecil menyerahkan jiwa ragaku kepada Sang Hyang Widhi dan saya percaya
sepenuhnya bahwa Sang Hyang Widhi akan melindungi saya dari pada
malapetaka."
Endang Patibroto
terbelalak heran.
"Hanya
dengan bekal kepercayaan dan penyerahan kepada Sang Hyang Widhi, andika berani
menentang orang-orang jahat?"
"Tentu
saja, mengapa tidak, kanjeng bibi? Biarpun andaikata saya memiliki ajian yang
sakti mandraguna, kalau Sang Hyang Widhi menghendaki kematian saya, dengan
mudah saja saya akan tewas."
"Akan
tetapi andika berani menentang Wasi Karangwolo? Itu berbahaya sekali, anakmas
Jayawijaya!"
"Saya
memang diutus ayah merantau ke arah Nusabarung ini dan menurut ayah saya, di daerah
ini ada golongan tertentu yang hendak menghapus agama lama dan menggantikan
dengan agama baru yaitu penyembah Bathara Shiwa, Bathari Durgo dan Bathara
Kala. Ayah memesan agar saya menentang usaha yang tidak baik itu. Apalagi kalau
usaha penyebaran agama itu dilakukan dengan kekerasan. Maka, ketika melihat
Wasi Karangwolo hendak memaksakan agama itu kepada penduduk Pandakan ini, saya
merasa kewajiban untuk menegur dan menentangnya."
"Luar
biasa! Apakah penyerahanmu kepada Sang Hyang Widhi sudah sedemikian mutlaknya
sehingga andika tidak takut menghadapi bahaya maut, anakmas Jayawijaya?"
"Tentu
saja, kanjeng Bibi. Bukankah kita ini hanya ciptaan Sang Hyang Widhi dan kita
dapat hidup ini adalah berkat kemurahanNya. Saya menyerah dengan penuh
kepasrahan dan keikhlasan, sehingga andaikata saya sampai tewas dalam
penyerahan saya, sayapun akan ikhlas karena kematian saya sudah dikehendaki
Sang Hyang Widhi."
Endang
Patibaroto menghela napas panjang. Sudah banyak dia bertemu para pendeta yang
sakti mandraguna dan bijaksana, namun baru sekarang dia bertemu seorang pemuda
lemah yang memiliki keyakinan dan kepasrahan kepada Sang Hyang Widhi seperti
pemuda ini. Ia teringat akan anak tirinya Bagus Seta. Bagus Seta juga seorang
pemuda aneh, akan tetapi dia memiliki kesaktian, bahkan dia sakti mandraguna
berkat ilmu-ilmunya yang didapatkan dari gurunya, Sang Bhagawan Ekadenta. Dia
dapat menghadapi lawan-lawannya yang tangguh dengan ilmu yang dikuasainya. Akan
tetapi pemuda ini, seorang lemah yang tidak pernah mempelajari ilmu
kadigdayaan, akan tetapi berani sekali menentang orang-orang yang sakti
mandraguna hanya dengan mengandalkan kepasrahannya kepada Sang Hyang Widhi.
"Sekarang
andika hendak kemana, anakmas?"
"Saya
hendak melanjutkan perantauan saya di daerah ini, kemudian menuju ke
Nusabarung, sesuai dengan perintah ayah. Kalau sudah sampai di Nusabarung dan
menentang penyebaran agama secara paksa, baru saya akan pulang ke pegunungan
Tengger."
"Kalau
begitu, selamat jalan. Kita berpisah di sini dan harap andika berhati-hati
menjaga dirimu, anak-mas."
"Selamat
berpisah, kanjeng bibi. Mudah mudahan kita akan dapat bertemu kembali. Senang
sekali bertemu dengan seorang yang sakti mandraguna seperti kanjeng bibi. Dan
kanjeng bibi sendiri hendak ke manakah?"
"Aku akan
melanjutkan pencarianku terhadap kedua orang anakku itu."
"Namanya
Retna Wilis dan Bagus Seta? Aku akan membantumu, kanjeng bibi. Kalau bertemu
dengan mereka, akan kuberitahukan bahwa mereka dicari oleh kanjeng bibi.”
<<< Bagian 35 Bagian 37 >>>
No comments:
Post a Comment