Sepasang Garuda Putih ; Bagian 36


Mendengar disebutnya nama ini, Wasi karangwolo terbelalak, mukanya berubah merah dan hidungnya mendengus-dengus seperti seekor kerbau marah. Dia sudah mendengar akan kematian mendiang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo, dua orang rekannya yang menjadi utusan Kerajaan Cola. Kabarnya kematian mereka adalah karena perlawanan yang dilakukan oleh Endang Patibroto dan suaminya yang kini menjadi patih Panjalu bernama Tejalaksono!
"Babo-babo, kiranya andika yang bernama Endang Patibroto! Bagus sekali, tidak usah repot-repot aku mencarimu, kini engkau telah datang mengantarkan nyawa!"
Endang Patibroto merasa heran mendengar ini.
"Eh? Pendeta siluman, siapakah engkau dan mengapa pula engkau memusuhi ku?"
"Mendiang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo adalah rekan-rekanku dari Negeri Cola. Mereka tewas karena perlawanan andika dan suami andika, Tejolaksono! Sekarang andika harus menggantikan nyawa mereka dengan nyawamu. Heiiiiiiitttt ... !!"

Dengan kemarahan meluap-luap Wasi Karangwolo lalu mengangkat kedua tangannya ke atas. Tiba-tiba saja cuaca menjadi gelap seolah ada awan hitam yang tiba-tiba menutupi sinar matahari. Dan dari dalam awan hitam itu terdengar gerengan-gerengan seperti suara binatang buas yang mengancam. Melihat ini, penduduk Pandakan cerai berai melarikan diri ketakutan. Di bawah panggung kini tinggal Jayawijaya seorang yang berdiri dengan sikap tenang. Endang Patibroto yang tiba-tiba menghadapi cuaca yang gelap gulita itu, lalu mengerahkan tenaga sakti ke dalam dadanya, kemudian ia mengeluarkan pekik dengan aji Sardulo Baiworo. Terdengar lengking yang amat nyaring menggetarkan panggung itu dan segera awan gelap itu membuyar dan perlahan-lahan lenyap, seolah takut mendengar lengkingan yang tinggi dan nyaring itu. Wasi Karangwolo masih penasaran. Dia mencabut kerisnya dan tampak sinar menyambar ke atas ketika dia melepaskan kerisnya dan keris itu berubah menjadi makhluk yang menyeramkan seperti raksasa berwajah iblis yang menubruk dan menyerang ke arah Endang Patibroto. Wanita sakti ini tidak menjadi gentar, akan tetapi merendahkan tubuhnya dengan menekuk kedua lututnya, kemudian kedua tangannya dari dekat pinggang didorongkan ke depan, ke arah bayangan iblis hitam itu. Itulah Aji Gelap-musti yang hebat. Bayangan itu terpelanting dan kembali menjadi keris yang melayang ke arah tangan Wasi Karangwolo. Maklum bahwa dengan ilmu sihir dia tidak dapat mengalahkan Endang Patibroto, kakek itu lalu menerjang dengan keris di tangan, menusuk dan gerakannya tangkas sekali, cepat dan kuat. Namun, Endang Patibroto telah siap siaga. Mendengar bahwa kakek ini adalah rekan dari mendiang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo, iapun dapat menduga bahwa kakek ini tentu memiliki kesaktian yang kuat. Maka iapun menyambut serangan itu dengan gerakannya yang lebih cepat lagi karena ia menggunakan aji Bayu-tantra sehingga gerakannya seperti angin dan setelah mengelak dari semua serangan keris lawan, ia membalas dengan pukulan PethitNogo, bergantian dengan pukulan Wisangmolo yang beracun. Terjadilah perkelahian yang amat seru dan sengit. Tidak ada yang berani menonton kecuali Jayawijaya yang masih berdiri di bawah panggung dengan kagum. Diam-diam Jayawijaya kagum sekali kepada wanita setengah tua itu. Demikian cekatan gerakannya, demikian cepat dan pukulan-pukulannya mendatangkan hawa pukulan yang menggetarkan panggung. Sebuah perkelahian yang hebat! Dia mulai khawatir kalau-kalau seorang di antara mereka akan tewas dalam perkelahian itu. Biarpun matanya juga kabur tidak dapat mengikuti jalannya perkelahian, namun di dalam hatinya Jayawijaya percaya bahwa Endang Patibroto tentu akan keluar sebagai pemenang. Karena khawatir wanita perkasa itu akan membunuh lawannya, dari bawah panggung dia lalu berseru,
"Kanjeng Bibi, harap jangan bunuh dia. Berilah kesempatan kepada orang sesat itu untuk menyadari kesesatannya dan kembali ke jalan benar."

Sementara itu, melihat betapa tangguhnya lawan, Wasi Karangwolo lalu memberi isyarat kepada duabelas orang pembantunya dan mereka semua naik ke atas panggung dan mengeroyok Endang Patibroto. Namun pengeroyokan itu tidak membuat Endang Patibroto gentar. Ia menyambut selusin orang itu dengan amukan dan semangatnya bertambah. Jiwa petualangan wanita ini kini mendapat tempat yang luas dan dengan gembira dia menyambut pengeroyokan ini dengan tendangan dan pukulannya. Demikian hebat sepak terjang Endang Patibroto sehingga para pengeroyok itu bergelimpangan dan ada yang terguling jatuh keluar panggung. Akan tetapi, ada sesuatu terkandung dalam ucapan pemuda di bawah panggung tadi agar dia tidak melakukan pembunuhan. Sungguh aneh. Suara itu demikian mempengaruhinya dan selalu terngiang dalam telinganya. Tanpa disadarinya apa sebabnya, ia membatasi tenaganya dan tak seorangpun di antara para pengeroyok itu terpukul tewas. Namun cukup keras membuat mereka mengaduh-aduh dengan tulang patah dan membuat mereka tidak dapat mengeroyok lagi. Melihat ini, Wasi Karangwolo menjadi marah sekali. Sambil mengeluarkan gerengan dahsyat, tubuhnya menerjang maju, kerisnya menyambar-nyambar seperti kilat dan setiap serangannya merupakan cengkeraman maut yang mengancam nyawa Endang Patibroto. Akan tetapi wanita sakti ini mengelak dengan cepat. Tubuhnya berkelebatan di antara sinar keris dan iapun membalas dengan pukulan jari tangan aji Pethit Nogo yang tidak kalah ampuhnya dibandingkan senjata ampuh yang mana juga. Akan tetapi Wasi Karangwolo juga bukan seorang lawan yang lemah. Diapun dapat mengelak atau menangkis semua pukulan yang dilontarkan Endang Patibroto. Pertandingan itu berlangsung hebat sekali sehingga Jayawijaya yang berdiri di luar panggung dan menonton pertandingan itu merasa khawatir akan keselamatan Endang Patibroto. Perkelahian itu sudah berlangsung cukup lama dan agaknya memang sekali ini Endang Patibroto menemukan lawan yang tangguh. Akan tetapi Wasi Karangwolo sendiri merasa khawatir dan sedikit jerih. Biarpun dia sudah mengerahkan semua ajiannya, namun tidak satupun ajian itu dapat merobohkan lawannya. Bahkan kalau wanita itu menangkis, pertemuan antara kedua lengan mereka membuat dia tergetar hebat dan kadang terhuyung. Dengan marah dia lalu mengeluarkan pekik menyeramkan dan menusuk dengan kerisnya ke arah dada Endang Patibroto. Wanita ini melangkah mundur setindak sambil merendahkan diri menekuk sebelah kaki kiri, kemudian secara tiba-tiba sekali kaki kanannya mencuat dalam sebuah tendangan. Wasi Karangwolo tidak mampu menghindarkan diri lagi.
"Wuuuuutt ... bukkk ... !!!" Perut kakek itu terkena tendangan kaki kanan Endang Patibroto. Walaupun hanya tendangan seorang wanita setengah tua, namun tendangan itu didorong oleh tenaga sakti yang amat hebat. Wasi Karangwolo mengeluh dan tubuhnya terjengkang. Dia terhuyung ke belakang, tidak sampai roboh akan tetapi nyalinya sudah terbang. Dia maklum bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, akhirnya dia akan kalah. Maka, tanpa malu-malu dia lalu melompat turun dari atas panggung dan melarikan diri. Melihat hal ini, duabelas orang anak buahnya yang tadi sudah dihajar oleh Endang Patibroto, segera mengikuti jejak pemimpin mereka, melarikan diri tunggang langgang.

Endang Patibroto melihat ke bawah panggung. Tidak ada seorangpun penduduk dusun yang berada di situ, semuanya telah melarikan diri pulang ke rumah masing-masing. Akan tetapi pemuda tampan itu masih berdiri di sana, memandang kepadanya dengan kagum. Endang Patibroto lalu melompat turun dari panggung itu, berhadapan dengan Jayawijaya.
"Kanjeng Bibi sungguh sakti mandraguna dan bijaksana," kata Jayawijaya dengan pandang mata kagum.
"Saya sudah mendengar dari kanjeng Rama bahwa di Jenggala dan Panjalu terdapat banyak sekali orang yang sakti, dan ternyata keterangan kanjeng rama itu benar. Hari ini saya bertemu dengan seorang di antara orang-orang sakti dari Panjalu."
Endang Patibroto memandang pemuda itu dan senyumnya membayangkan rasa sukanya. Pemuda ini lembut dan agaknya lemah tidak memiliki kedigdayaan, akan tetapi memiliki keberanian luar biasa sehingga berani menentang seorang sakti seperti Wasi Karangwolo.
"Orang muda yang baik, siapakah namamu dan dari mana engkau datang?"
"Kanjeng bibi, nama saya adalah Jayawijaya dan saya datang dari pegunungan Tengger."
"Siapakah orang tuamu dan mengapa engkau dapat berada di tempat ini?"
"Saya memang sedang merantau, kanjeng bibi, untuk meluaskan pengetahuan dan pengalaman. Ayah saya yang menyuruh saya merantau. Ayah saya adalah seorang pertapa bernama Panji Kelana. Pengembaraan saya membawa saya sampai ke tempat ini dan tadi ketika melihat pendeta itu hendak memaksakan kehendaknya kepada penduduk dusun untuk memasuki agamanya, saya lalu menegurnya. Baiknya ada kanjeng bibi yang datang dan mengusirnya, kalau boleh saya mengetahui, siapakah kanjeng bibi dan bagaimana secara kebetulan berada di sini? Saya mendengar tadi bahwa kanjeng bibi datang dari Panjalu."
"Namaku Endang Patibroto dan aku adalah isteri Ki Patih Panjalu. Aku sedang melakukan perjalanan untuk mencari dua orang anakku yang juga mengembara ke daerah ini. Nama mereka Retna Wilis dan Bagus Seta. Apakah andika pernah bertemu dengan mereka atau mendengar tentang mereka?"
"Saya tidak pernah mendengar tentang mereka, kanjeng bibi."
"Anakmas Jayawijaya, aku sungguh amat heran melihat keadaanmu. Andika tidak memiliki aji kanuragan, akan tetapi bagaimana andika berani menentang seorang yang digdaya seperti Wasi Karangwolo tadi. Bagaimana kalau dia memukulmu sampai tewas?"
Jayawijaya tersenyum.
"Nyawaku berada di tangan Hyang Widhi, kanjeng bibi. Apa yang harus ditakuti? Kalau Hyang Widhi belum menghendaki saya tewas, biar ada seratus orang seperti Wasi Karangwolo tadi, bagaimana dia dapat membunuhku? Kanjeng Bibi, saya sudah sejak kecil menyerahkan jiwa ragaku kepada Sang Hyang Widhi dan saya percaya sepenuhnya bahwa Sang Hyang Widhi akan melindungi saya dari pada malapetaka."
Endang Patibroto terbelalak heran.
"Hanya dengan bekal kepercayaan dan penyerahan kepada Sang Hyang Widhi, andika berani menentang orang-orang jahat?"
"Tentu saja, mengapa tidak, kanjeng bibi? Biarpun andaikata saya memiliki ajian yang sakti mandraguna, kalau Sang Hyang Widhi menghendaki kematian saya, dengan mudah saja saya akan tewas."
"Akan tetapi andika berani menentang Wasi Karangwolo? Itu berbahaya sekali, anakmas Jayawijaya!"
"Saya memang diutus ayah merantau ke arah Nusabarung ini dan menurut ayah saya, di daerah ini ada golongan tertentu yang hendak menghapus agama lama dan menggantikan dengan agama baru yaitu penyembah Bathara Shiwa, Bathari Durgo dan Bathara Kala. Ayah memesan agar saya menentang usaha yang tidak baik itu. Apalagi kalau usaha penyebaran agama itu dilakukan dengan kekerasan. Maka, ketika melihat Wasi Karangwolo hendak memaksakan agama itu kepada penduduk Pandakan ini, saya merasa kewajiban untuk menegur dan menentangnya."
"Luar biasa! Apakah penyerahanmu kepada Sang Hyang Widhi sudah sedemikian mutlaknya sehingga andika tidak takut menghadapi bahaya maut, anakmas Jayawijaya?"
"Tentu saja, kanjeng Bibi. Bukankah kita ini hanya ciptaan Sang Hyang Widhi dan kita dapat hidup ini adalah berkat kemurahanNya. Saya menyerah dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan, sehingga andaikata saya sampai tewas dalam penyerahan saya, sayapun akan ikhlas karena kematian saya sudah dikehendaki Sang Hyang Widhi."

Endang Patibaroto menghela napas panjang. Sudah banyak dia bertemu para pendeta yang sakti mandraguna dan bijaksana, namun baru sekarang dia bertemu seorang pemuda lemah yang memiliki keyakinan dan kepasrahan kepada Sang Hyang Widhi seperti pemuda ini. Ia teringat akan anak tirinya Bagus Seta. Bagus Seta juga seorang pemuda aneh, akan tetapi dia memiliki kesaktian, bahkan dia sakti mandraguna berkat ilmu-ilmunya yang didapatkan dari gurunya, Sang Bhagawan Ekadenta. Dia dapat menghadapi lawan-lawannya yang tangguh dengan ilmu yang dikuasainya. Akan tetapi pemuda ini, seorang lemah yang tidak pernah mempelajari ilmu kadigdayaan, akan tetapi berani sekali menentang orang-orang yang sakti mandraguna hanya dengan mengandalkan kepasrahannya kepada Sang Hyang Widhi.
"Sekarang andika hendak kemana, anakmas?"
"Saya hendak melanjutkan perantauan saya di daerah ini, kemudian menuju ke Nusabarung, sesuai dengan perintah ayah. Kalau sudah sampai di Nusabarung dan menentang penyebaran agama secara paksa, baru saya akan pulang ke pegunungan Tengger."
"Kalau begitu, selamat jalan. Kita berpisah di sini dan harap andika berhati-hati menjaga dirimu, anak-mas."
"Selamat berpisah, kanjeng bibi. Mudah mudahan kita akan dapat bertemu kembali. Senang sekali bertemu dengan seorang yang sakti mandraguna seperti kanjeng bibi. Dan kanjeng bibi sendiri hendak ke manakah?"
"Aku akan melanjutkan pencarianku terhadap kedua orang anakku itu."
"Namanya Retna Wilis dan Bagus Seta? Aku akan membantumu, kanjeng bibi. Kalau bertemu dengan mereka, akan kuberitahukan bahwa mereka dicari oleh kanjeng bibi.”

<<< Bagian 35                                                                                          Bagian 37 >>>

No comments:

Post a Comment