Sepasang Garuda Putih ; Bagian 37



"Terima kasih, anak-mas," kata Endang Patibroto sambil tersenyum. Kalau ia saja tidak berhasil mencari anak-anaknya, apa lagi seorang pemuda lemah seperti Jayawijaya!
Mereka lalu berpisah. Akan tetapi belum lama Endang Patibroto berpisah dari pemuda itu, hatinya merasa tidak enak. Membiarkan seorang pemuda lemah seperti Jayawijaya melakukan perjalanan seorang diri! Sungguh besar bahayanya mengancam pemuda itu. Ia merasa tidak tega dan diam-diam ia lalu menanti, kemudian membayangi perjalanan pemuda itu dari jauh.

Jayawijaya berjalan seorang diri dengan langkah tenang. Dia merasa girang sudah dapat mencegah Wasi Karangwolo membujuk para penduduk dusun. Munculnya Endang Patibroto mempertebal iman kepercayaannya kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi. Tentu hanya Hyang Widhi yang menggerakkan seorang wanita sakti seperti Endang Patibroto sehingga dapat membantunya menghadapi Wasi Karangwolo. Kalau Hyang Widhi hendak menolong, tidak kurang jalannya. Karena itu, sedetikpun dia tidak pernah kendur penyerahannya kepada Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Kasih. Sedetikpun dia tidak pernah menyangsikan bimbingan dan perlindungan Hyang Widhi kepadanya. Hari telah menjelang senja ketika dia tiba di dekat sebuah hutan lebat. Tiba-tiba saja dari dalam hutan berlompatan tujuh orang laki-laki bertubuh tinggi besar dan mereka menghadang jalan sambil menyeringai menakutkan. Jayawijaya terpaksa berhenti melangkah karena tujuh orang itu sengaja menghadang di depannya. Pemuda itu dengan sabar hendak mengambil jalan memutari mereka, akan tetapi tujuh orang itu kembali menghadangnya dan kemanapun dia melangkah, mereka tentu menghadang di depannya.
"Andika sekalian ini mau apakah? Saya sedang melakukan perjalanan, tidak mengganggu kalian dan tidak mengenal kalian. Harap membuka jalan dan biarkan aku lewat," katanya dengan nada suara halus.
Tujuh orang itu dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya penuh brewok. Sejak tadi dia memandang ke arah buntalan di punggung Jayawijaya. Mendengar ucapan pemuda itu, dia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, orang muda. Ketahuilah bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaan kami. Andika lewat disini, boleh saja akan tetapi tinggalkan dulu buntalan di punggungmu itu!"
"Akan tetapi mengapa? Buntalan ini berisi pakaian yang menjadi bekalku dalam perjalanan. Aku memerlukan untuk pengganti pakaianku," Jayawijaya membantah dengan suara halus.
"Kau berani membantah? Serahkan pakaian dan barang-barangmu, atau serahkan nyawamu! Kau boleh pilih, harta atau nyawa!” kata kepala perampok itu dengan suara garang.
"Hemm, jadi kalian ini adalah perampok?"
"Benar, kami adalah perampok yang menguasai daerah ini. Jangan banyak membantah kalau engkau menyayangi nyawamu!"
"Sobat, tidak tahukah kalian bahwa merampok adalah pekerjaan yang amat tidak patut dan merugikan orang lain? Sebaiknya kalau kalian cepat menyadari hal itu dan mengubah jalan hidup kalian agar tidak menumpuk dosa yang akan berat pertanggunganjawabnya."
Tujuh orang laki-laki itu saling pandang dan tertawa bergelak. Mereka merasa lucu ada seorang pemuda yang memberi Wejangan kepada mereka seperti lagak seorang pendeta saja!
"Orang muda, jangan banyak cerewet! Serahkan buntalanmu itu kalau engkau ingin hidup!" bentak pemimpin perampok yang berewokan.
"Kalian menginginkan buntalan pakaianku ini? Boleh, kalau kalian memang membutuhkan pengganti pakaian, ambillah."

Dia melepaskan buntalannya dan menyerahkannya kepada kepala perampok. Si brewok itu menyambar buntalan itu dengan tangannya, lalu membuka buntalan. Ternyata benar hanya terisi beberapa stel pakaian yang sederhana, tidak dapat dibilang mewah dan tidak berharga. Dia mengerutkan alisnya dengan kecewa dan melemparkan buntalan pakaian itu ke atas tanah. Karena agaknya tidak bisa mendapatkan barang berharga dari pemuda itu, dia bermaksud untuk menghinanya saja sebagai tindakan bersenang-senang dan iseng untuk menebus kekecewaannya.
"Sekarang lepaskan semua pakaianmu, itupun harus diserahkan kepada kami!" bentaknya.
"Sobat, ini sudah keterlaluan namanya! Aku sudah menyerahkan semua pakaianku, akan tetapi andika masih menghendaki yang kupakai. Apa andika ingin agar aku bertelanjang bulat?"
"Ha-ha-ha, tidak perduli engkau akan bertelanjang seperti monyet, yang penting taatilah perintah kami. Hayo, cepat lucuti pakaianmu atau kami akan menggunakan kekerasan!"
"Tidak, terpaksa aku tidak dapat menuruti permintaanmu yang keterlaluan itu," jawab Jayawijaya sambil mengerutkan alisnya dan menentang pandang mata tujuh orang itu dengan berani.
"Apa?" Kepala rampok membentak sambil melolot.
"Berani andika menolak perintahku? Apa andika ingin mampus?"
Sambil berkata demikian dia melangkah maju dan menggunakan lengan tangannya yang besar itu untuk mendorong dada Jayawijaya. Dorongan itu kuat sekali tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh Jayawijaya terjengkang roboh. Akan tetapi dia tidak merasakan nyeri dan segera dia bangkit berdiri, matanya dengan berani menentang mereka.
"Kalian jahat! Kalian tentu akan memetik buah dari perbuatan kalian sendiri!" katanya sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka si brewok.
Sikap dan kata-kata pemuda ini membuat para perampok itu menjadi marah sekali. Srat-srat-srat! Mereka mencabut golok yang tergantung di pinggang. Pemuda itu roboh hanya oleh dorongan tangan, akan tetapi bersikap demikian berani menentang mereka!
"Monyet tak berguna! Sekarang aku akan mencabut nyawamu!" bentak si brewok sambil mengangkat goloknya tinggi-tinggi dengan sikap mengancam.
Jayawijaya tetap berdiri tenang dan sedikitpun dia tidak berkedip menghadapi ancaman tujuh orang yang memegang golok itu.
"Kalau Sang Hyang Widhi belum menghendaki aku mati, golok-golokmu itu tak ada artinya dan tidak akan mampu membunuhku!" katanya dengan penuh keyakinan.

Tentu saja tujuh orang itu merasa ditantang. Si brewok lalu menerjang maju, goloknya ditebaskan ke arah leher pemuda itu dengan maksud sekali serang akan membikin putus leher itu. Akan tetapi, ketika golok itu sudah dekat sekali dengan leher Jayawijaya yang sama sekali tidak mengelak, golok itu terpental kembali dengan kuatnya sehingga hampir terlepas dari pegangan kepala perampok, seolah ada hawa yang amat kuat melindungi leher itu! Jayawijaya hanya mundur selangkah. Kepala perampok menjadi heran dan penasaran sekali, bersama enam orang anak buahnya dia menyerang lagi. Tujuh golok menyambar-nyambar ke tubuh Jayawijaya namun semua golok terpental kembali setelah mendekat tubuh pemuda itu. Endang Patibroto yang mengintai peristiwa itu, berdiri terlongong dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Belum pernah ia melihat hal yang seaneh itu. Jayawijaya jelas tidak memiliki ilmu kepandaian atau kesaktian. Buktinya ketika didorong tadi ia terjengkang roboh. Akan tetapi mengapa golok-golok itu tidak dapat melukainya, bahkan tidak dapat menyentuh tubuhnya? Ia tidak melihat pemuda itu menggunakan anggota tubuhnya untuk menangkis atau mengelak, akan tetapi golok-golok itu terpental membuat penyerangnya terhuyung ke belakang. Sungguh suatu penglihatan yang luar biasa anehnya. Ia teringat kata-kata pemuda itu bahwa dia tidak mempunyai ilmu apa-apa dan satu-satunya ilmu yang menjadi pegangannya hanya penyerahan kepada Sang Hyang Widhi! Benarkah penyerahan dapat menciptakan suatu pengaruh tidak tampak yang dapat melindunginya dari malapetaka? Endang Patibroto tidak dapat membayangkan hal ini. Ia sendiri percaya akan kekuasaan Hyang Widhi, Yang Maha Pencipta atau Yang Maha Kuasa yang kekuasaannya tergabung dalam Trimurti. Yang Maha Pencipta, Yang Maha Melindungi dan Yang Maha Pembasmi. Akan tetapi kalau ia disuruh menyerah dengan ancaman seperti itu di depan mata, kiranya penyerahannya akan menghilang dan ia tentu akan mempergunakan segala kesaktiannya untuk melindungi dirinya. Akan tetapi pemuda itu dapat melindungi dirinya dengan iman dan penyerahan yang mutlak dan hasilnya, Hyang Widhi agaknya melindunginya dengan suatu kemujijatan!

Setelah membacok dan menusukkan golok mereka tanpa hasil dari yang mengakibatkan golok mereka terpental dan tubuh mereka terhuyung ke belakang, para perampok itu menjadi ketakutan. Mereka menduga bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang sakti mandraguna, maka mereka lalu memutar tubuh dan melarikan diri pontang panting dengan ketakutan. Jayawijaya tersenyum dan mengambil buntalannya dari atas tanah, menggendong lagi buntalannya setelah membersihkannya dari tanah. Kemudian, dia melanjutkan perjalanannya seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu dengan dirinya. Karena yakin sepenuhnya bahwa Hyang Widhi yang melindunginya, maka dia sama sekali tidak merasa sombong, karena dia sendiri tidak melakukan sesuatu. Hanya di dalam hatinya dia tiada hentinya mengucapkan puji syukur kepada Hyang Widhi yang sudah melindunginya dari marabahaya. Sudah seringkali dia mengalami hal seperti itu, yakni selalu terlepas dari bahaya secara ajaib. Dia sudah terbiasa dan karenanya, keyakinan imannya dan penyerahannya menjadi semakin mendalam. Dia percaya sepenuhnya bahwa Yang Menciptakannya tidak akan membiarkan dia terancam malapetaka. Dia tidak menggantungkan kepada perlindungan Hyang Widhi, dia akan berusaha sekuat mungkin untuk melindungi diri sendiri, akan tetapi kalau usahanya itu telah sampai di puncaknya dan tidak berhasil, dia hanya menyerahkan diri kepada Hyang Widhi. Semua usahanya selalu berlandaskan penyerahan yang ikhlas dan sepenuh iman. Dia tidak tahu bahwa Endang Patibroto masih terus membayanginya dari jauh, karena wanita ini tertarik sekali dan ingin melihat perkembangannya dan apa yang akan dialami oleh pemuda yang luar biasa itu. Ia sendiri harus mengakui bahwa beberapa kali ia terhindar dari marabahaya secara yang tidak disangka-sangka, akan tetapi ia menganggap hal itu sebagai suatu kebetulan saja. Tidak seperti pemuda itu yang seolah-olah melihat Tangan Sang Hyang Widhi selalu melindunginya! Jayawijaya melanjutkan perjalanannya. Hari telah menjelang senja dan melihat sebuah dusun di depan, dia bermaksud untuk mencari tempat untuk mondok dan melewatkan malam. Di sudut dusun itu, agak terpencil, dia melihat sebuah rumah yang lumayan besarnya. Dia segera memasuki pekarangan rumah itu. Ruangan depan rumah itu sunyi saja, tidak tampak seorang-pun, akan tetapi lampu gantung di ruangan itu sudah dinyalakan orang.
"Kulonuwun ... !" Jayawijaya mengucapkan salam.
Ada jawaban dari dalam dan keluarlah seorang laki-laki dan seorang wanita yang usianya sudah limapuluh tahunan. Dua orang itu menyambut kedatangan Jayawijaya dengan ramah.
"Anakmas siapakah dan ada keperluan apakah mengunjungi rumah kami?" tanya yang pria.
"Nama saya Jayawijaya dan karena kemalamn di jalan, saya mohon kepada paman dan bibi agar dapat menerima saya bermalam di sini untuk malam ini."
Dua orang itu mengamati wajah Jayawijaya dan melirik ke arah buntalan di punggungnya.
"Ah, boleh saja, anakmas. Silakan masuk, akan tetapi maaf, tempat kami kotor dan jelek."
"Paman terlalu merendahkan diri. Rumah ini cukup bersih dan indah. Apakah paman dan bibi hanya berdua saja tinggal di rumah ini?"
"Ya, kami hanya tinggal berdua. Kebetulan ada sebuah kamar kosong untuk andika bermalam. Silakan duduk. Kami tadi sedang siap untuk makan malam, maka marilah andika bersama kami makan malam, anakmas Jayawijaya."
"Terima kasih, paman dan bibi baik sekali," kata Jayawijaya dan diapun ikut masuk ke ruangan dalam.
"Duduklah dulu sebentar, anakmas. Kami berdua akan mempersiapkan hidangan malam untuk kita bertiga," kata laki-laki itu dan dia bersama isterinya lalu meninggalkan Jayawijaya seorang diri saja di ruangan itu.

Jayawijaya duduk di atas bangku dan menanti dengan hati senang. Beruntung, pikirnya, sekali ketuk sebuah rumah sudah diterima dengan ramah. Sementara itu, Endang Patibroto mendekati rumah itu dan mengintai dari belakang. Ia melihat sepasang suami isteri setengah tua itu sedang sibuk di dapur.
"Dia tentu seorang priyayi," kata yang wanita kepada yang pria.
"Buntalannya itu tentu mengandung isi yang berharga."
"Sekali ini kita akan untung besar."
"Akan tetapi di mana kita taruh racun ini?" tanya si pria sambil mengeluarkan sebuah bungkusan kain berwarna hitam.
"Jangan ditaburkan pada makanan karena kita akan makan bersama. Sebaiknya dimasukkan ke dalam air teh dan kita suguhi dia air teh itu dulu sebelum makan. Dia tentu haus dan akan minum air teh itu." Pria itu lalu membuka bungkusan dan ternyata di dalamnya terdapat bubuk berwarna biru. Dia lalu menuangkan isi bungkusan itu ke dalam sebuah poci minuman.
“Apa itu tidak akan terasa olehnya?"
“Tidak akan terasa. Kita beri teh yang kental sehingga rasa pahitnya akan disangka pahitnya teh."
Endang Patibroto terkejut sekali. Dua orang pemilik rumah itu bermaksud untuk meracuni Jayawijaya! Ia mengambil keputusan untuk terus mengamati dan nanti akan turun tangan mencegah kalau pemuda itu hendak minum air teh karena betapapun juga, ia tidak ingin pemuda itu keracunan.

<<< Bagian 36                                                                                         Bagian 38 >>>

No comments:

Post a Comment