"Terima
kasih, anak-mas," kata Endang Patibroto sambil tersenyum. Kalau ia saja
tidak berhasil mencari anak-anaknya, apa lagi seorang pemuda lemah seperti
Jayawijaya!
Mereka lalu
berpisah. Akan tetapi belum lama Endang Patibroto berpisah dari pemuda itu,
hatinya merasa tidak enak. Membiarkan seorang pemuda lemah seperti Jayawijaya
melakukan perjalanan seorang diri! Sungguh besar bahayanya mengancam pemuda
itu. Ia merasa tidak tega dan diam-diam ia lalu menanti, kemudian membayangi
perjalanan pemuda itu dari jauh.
Jayawijaya
berjalan seorang diri dengan langkah tenang. Dia merasa girang sudah dapat
mencegah Wasi Karangwolo membujuk para penduduk dusun. Munculnya Endang
Patibroto mempertebal iman kepercayaannya kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi.
Tentu hanya Hyang Widhi yang menggerakkan seorang wanita sakti seperti Endang
Patibroto sehingga dapat membantunya menghadapi Wasi Karangwolo. Kalau Hyang
Widhi hendak menolong, tidak kurang jalannya. Karena itu, sedetikpun dia tidak
pernah kendur penyerahannya kepada Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Kasih.
Sedetikpun dia tidak pernah menyangsikan bimbingan dan perlindungan Hyang Widhi
kepadanya. Hari telah menjelang senja ketika dia tiba di dekat sebuah hutan
lebat. Tiba-tiba saja dari dalam hutan berlompatan tujuh orang laki-laki
bertubuh tinggi besar dan mereka menghadang jalan sambil menyeringai
menakutkan. Jayawijaya terpaksa berhenti melangkah karena tujuh orang itu
sengaja menghadang di depannya. Pemuda itu dengan sabar hendak mengambil jalan
memutari mereka, akan tetapi tujuh orang itu kembali menghadangnya dan
kemanapun dia melangkah, mereka tentu menghadang di depannya.
"Andika
sekalian ini mau apakah? Saya sedang melakukan perjalanan, tidak mengganggu
kalian dan tidak mengenal kalian. Harap membuka jalan dan biarkan aku
lewat," katanya dengan nada suara halus.
Tujuh orang
itu dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya penuh brewok.
Sejak tadi dia memandang ke arah buntalan di punggung Jayawijaya. Mendengar
ucapan pemuda itu, dia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha,
orang muda. Ketahuilah bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaan kami. Andika
lewat disini, boleh saja akan tetapi tinggalkan dulu buntalan di punggungmu
itu!"
"Akan
tetapi mengapa? Buntalan ini berisi pakaian yang menjadi bekalku dalam
perjalanan. Aku memerlukan untuk pengganti pakaianku," Jayawijaya
membantah dengan suara halus.
"Kau
berani membantah? Serahkan pakaian dan barang-barangmu, atau serahkan nyawamu!
Kau boleh pilih, harta atau nyawa!” kata kepala perampok itu dengan suara
garang.
"Hemm,
jadi kalian ini adalah perampok?"
"Benar,
kami adalah perampok yang menguasai daerah ini. Jangan banyak membantah kalau
engkau menyayangi nyawamu!"
"Sobat,
tidak tahukah kalian bahwa merampok adalah pekerjaan yang amat tidak patut dan
merugikan orang lain? Sebaiknya kalau kalian cepat menyadari hal itu dan
mengubah jalan hidup kalian agar tidak menumpuk dosa yang akan berat
pertanggunganjawabnya."
Tujuh orang
laki-laki itu saling pandang dan tertawa bergelak. Mereka merasa lucu ada
seorang pemuda yang memberi Wejangan kepada mereka seperti lagak seorang
pendeta saja!
"Orang
muda, jangan banyak cerewet! Serahkan buntalanmu itu kalau engkau ingin hidup!"
bentak pemimpin perampok yang berewokan.
"Kalian
menginginkan buntalan pakaianku ini? Boleh, kalau kalian memang membutuhkan
pengganti pakaian, ambillah."
Dia melepaskan
buntalannya dan menyerahkannya kepada kepala perampok. Si brewok itu menyambar buntalan
itu dengan tangannya, lalu membuka buntalan. Ternyata benar hanya terisi
beberapa stel pakaian yang sederhana, tidak dapat dibilang mewah dan tidak
berharga. Dia mengerutkan alisnya dengan kecewa dan melemparkan buntalan
pakaian itu ke atas tanah. Karena agaknya tidak bisa mendapatkan barang
berharga dari pemuda itu, dia bermaksud untuk menghinanya saja sebagai tindakan
bersenang-senang dan iseng untuk menebus kekecewaannya.
"Sekarang
lepaskan semua pakaianmu, itupun harus diserahkan kepada kami!" bentaknya.
"Sobat,
ini sudah keterlaluan namanya! Aku sudah menyerahkan semua pakaianku, akan
tetapi andika masih menghendaki yang kupakai. Apa andika ingin agar aku
bertelanjang bulat?"
"Ha-ha-ha,
tidak perduli engkau akan bertelanjang seperti monyet, yang penting taatilah
perintah kami. Hayo, cepat lucuti pakaianmu atau kami akan menggunakan
kekerasan!"
"Tidak,
terpaksa aku tidak dapat menuruti permintaanmu yang keterlaluan itu,"
jawab Jayawijaya sambil mengerutkan alisnya dan menentang pandang mata tujuh
orang itu dengan berani.
"Apa?"
Kepala rampok membentak sambil melolot.
"Berani
andika menolak perintahku? Apa andika ingin mampus?"
Sambil berkata
demikian dia melangkah maju dan menggunakan lengan tangannya yang besar itu
untuk mendorong dada Jayawijaya. Dorongan itu kuat sekali tanpa dapat
dihindarkan lagi tubuh Jayawijaya terjengkang roboh. Akan tetapi dia tidak
merasakan nyeri dan segera dia bangkit berdiri, matanya dengan berani menentang
mereka.
"Kalian
jahat! Kalian tentu akan memetik buah dari perbuatan kalian sendiri!"
katanya sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka si brewok.
Sikap dan
kata-kata pemuda ini membuat para perampok itu menjadi marah sekali.
Srat-srat-srat! Mereka mencabut golok yang tergantung di pinggang. Pemuda itu
roboh hanya oleh dorongan tangan, akan tetapi bersikap demikian berani
menentang mereka!
"Monyet
tak berguna! Sekarang aku akan mencabut nyawamu!" bentak si brewok sambil
mengangkat goloknya tinggi-tinggi dengan sikap mengancam.
Jayawijaya
tetap berdiri tenang dan sedikitpun dia tidak berkedip menghadapi ancaman tujuh
orang yang memegang golok itu.
"Kalau
Sang Hyang Widhi belum menghendaki aku mati, golok-golokmu itu tak ada artinya
dan tidak akan mampu membunuhku!" katanya dengan penuh keyakinan.
Tentu saja
tujuh orang itu merasa ditantang. Si brewok lalu menerjang maju, goloknya
ditebaskan ke arah leher pemuda itu dengan maksud sekali serang akan membikin
putus leher itu. Akan tetapi, ketika golok itu sudah dekat sekali dengan leher
Jayawijaya yang sama sekali tidak mengelak, golok itu terpental kembali dengan
kuatnya sehingga hampir terlepas dari pegangan kepala perampok, seolah ada hawa
yang amat kuat melindungi leher itu! Jayawijaya hanya mundur selangkah. Kepala
perampok menjadi heran dan penasaran sekali, bersama enam orang anak buahnya
dia menyerang lagi. Tujuh golok menyambar-nyambar ke tubuh Jayawijaya namun
semua golok terpental kembali setelah mendekat tubuh pemuda itu. Endang
Patibroto yang mengintai peristiwa itu, berdiri terlongong dengan mata
terbelalak dan mulut ternganga. Belum pernah ia melihat hal yang seaneh itu.
Jayawijaya jelas tidak memiliki ilmu kepandaian atau kesaktian. Buktinya ketika
didorong tadi ia terjengkang roboh. Akan tetapi mengapa golok-golok itu tidak
dapat melukainya, bahkan tidak dapat menyentuh tubuhnya? Ia tidak melihat
pemuda itu menggunakan anggota tubuhnya untuk menangkis atau mengelak, akan
tetapi golok-golok itu terpental membuat penyerangnya terhuyung ke belakang.
Sungguh suatu penglihatan yang luar biasa anehnya. Ia teringat kata-kata pemuda
itu bahwa dia tidak mempunyai ilmu apa-apa dan satu-satunya ilmu yang menjadi
pegangannya hanya penyerahan kepada Sang Hyang Widhi! Benarkah penyerahan dapat
menciptakan suatu pengaruh tidak tampak yang dapat melindunginya dari malapetaka?
Endang Patibroto tidak dapat membayangkan hal ini. Ia sendiri percaya akan
kekuasaan Hyang Widhi, Yang Maha Pencipta atau Yang Maha Kuasa yang
kekuasaannya tergabung dalam Trimurti. Yang Maha Pencipta, Yang Maha Melindungi
dan Yang Maha Pembasmi. Akan tetapi kalau ia disuruh menyerah dengan ancaman
seperti itu di depan mata, kiranya penyerahannya akan menghilang dan ia tentu
akan mempergunakan segala kesaktiannya untuk melindungi dirinya. Akan tetapi
pemuda itu dapat melindungi dirinya dengan iman dan penyerahan yang mutlak dan
hasilnya, Hyang Widhi agaknya melindunginya dengan suatu kemujijatan!
Setelah
membacok dan menusukkan golok mereka tanpa hasil dari yang mengakibatkan golok
mereka terpental dan tubuh mereka terhuyung ke belakang, para perampok itu
menjadi ketakutan. Mereka menduga bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda
yang sakti mandraguna, maka mereka lalu memutar tubuh dan melarikan diri
pontang panting dengan ketakutan. Jayawijaya tersenyum dan mengambil
buntalannya dari atas tanah, menggendong lagi buntalannya setelah
membersihkannya dari tanah. Kemudian, dia melanjutkan perjalanannya seolah-olah
tidak pernah terjadi sesuatu dengan dirinya. Karena yakin sepenuhnya bahwa
Hyang Widhi yang melindunginya, maka dia sama sekali tidak merasa sombong,
karena dia sendiri tidak melakukan sesuatu. Hanya di dalam hatinya dia tiada
hentinya mengucapkan puji syukur kepada Hyang Widhi yang sudah melindunginya
dari marabahaya. Sudah seringkali dia mengalami hal seperti itu, yakni selalu
terlepas dari bahaya secara ajaib. Dia sudah terbiasa dan karenanya, keyakinan
imannya dan penyerahannya menjadi semakin mendalam. Dia percaya sepenuhnya
bahwa Yang Menciptakannya tidak akan membiarkan dia terancam malapetaka. Dia
tidak menggantungkan kepada perlindungan Hyang Widhi, dia akan berusaha sekuat
mungkin untuk melindungi diri sendiri, akan tetapi kalau usahanya itu telah
sampai di puncaknya dan tidak berhasil, dia hanya menyerahkan diri kepada Hyang
Widhi. Semua usahanya selalu berlandaskan penyerahan yang ikhlas dan sepenuh
iman. Dia tidak tahu bahwa Endang Patibroto masih terus membayanginya dari
jauh, karena wanita ini tertarik sekali dan ingin melihat perkembangannya dan
apa yang akan dialami oleh pemuda yang luar biasa itu. Ia sendiri harus
mengakui bahwa beberapa kali ia terhindar dari marabahaya secara yang tidak
disangka-sangka, akan tetapi ia menganggap hal itu sebagai suatu kebetulan
saja. Tidak seperti pemuda itu yang seolah-olah melihat Tangan Sang Hyang Widhi
selalu melindunginya! Jayawijaya melanjutkan perjalanannya. Hari telah
menjelang senja dan melihat sebuah dusun di depan, dia bermaksud untuk mencari
tempat untuk mondok dan melewatkan malam. Di sudut dusun itu, agak terpencil,
dia melihat sebuah rumah yang lumayan besarnya. Dia segera memasuki pekarangan
rumah itu. Ruangan depan rumah itu sunyi saja, tidak tampak seorang-pun, akan
tetapi lampu gantung di ruangan itu sudah dinyalakan orang.
"Kulonuwun
... !" Jayawijaya mengucapkan salam.
Ada jawaban
dari dalam dan keluarlah seorang laki-laki dan seorang wanita yang usianya
sudah limapuluh tahunan. Dua orang itu menyambut kedatangan Jayawijaya dengan
ramah.
"Anakmas
siapakah dan ada keperluan apakah mengunjungi rumah kami?" tanya yang
pria.
"Nama
saya Jayawijaya dan karena kemalamn di jalan, saya mohon kepada paman dan bibi
agar dapat menerima saya bermalam di sini untuk malam ini."
Dua orang itu
mengamati wajah Jayawijaya dan melirik ke arah buntalan di punggungnya.
"Ah,
boleh saja, anakmas. Silakan masuk, akan tetapi maaf, tempat kami kotor dan
jelek."
"Paman
terlalu merendahkan diri. Rumah ini cukup bersih dan indah. Apakah paman dan
bibi hanya berdua saja tinggal di rumah ini?"
"Ya, kami
hanya tinggal berdua. Kebetulan ada sebuah kamar kosong untuk andika bermalam.
Silakan duduk. Kami tadi sedang siap untuk makan malam, maka marilah andika
bersama kami makan malam, anakmas Jayawijaya."
"Terima
kasih, paman dan bibi baik sekali," kata Jayawijaya dan diapun ikut masuk
ke ruangan dalam.
"Duduklah
dulu sebentar, anakmas. Kami berdua akan mempersiapkan hidangan malam untuk
kita bertiga," kata laki-laki itu dan dia bersama isterinya lalu
meninggalkan Jayawijaya seorang diri saja di ruangan itu.
Jayawijaya
duduk di atas bangku dan menanti dengan hati senang. Beruntung, pikirnya,
sekali ketuk sebuah rumah sudah diterima dengan ramah. Sementara itu, Endang
Patibroto mendekati rumah itu dan mengintai dari belakang. Ia melihat sepasang
suami isteri setengah tua itu sedang sibuk di dapur.
"Dia
tentu seorang priyayi," kata yang wanita kepada yang pria.
"Buntalannya
itu tentu mengandung isi yang berharga."
"Sekali
ini kita akan untung besar."
"Akan
tetapi di mana kita taruh racun ini?" tanya si pria sambil mengeluarkan
sebuah bungkusan kain berwarna hitam.
"Jangan
ditaburkan pada makanan karena kita akan makan bersama. Sebaiknya dimasukkan ke
dalam air teh dan kita suguhi dia air teh itu dulu sebelum makan. Dia tentu
haus dan akan minum air teh itu." Pria itu lalu membuka bungkusan dan
ternyata di dalamnya terdapat bubuk berwarna biru. Dia lalu menuangkan isi
bungkusan itu ke dalam sebuah poci minuman.
“Apa itu tidak
akan terasa olehnya?"
“Tidak akan
terasa. Kita beri teh yang kental sehingga rasa pahitnya akan disangka pahitnya
teh."
Endang
Patibroto terkejut sekali. Dua orang pemilik rumah itu bermaksud untuk meracuni
Jayawijaya! Ia mengambil keputusan untuk terus mengamati dan nanti akan turun
tangan mencegah kalau pemuda itu hendak minum air teh karena betapapun juga, ia
tidak ingin pemuda itu keracunan.
<<< Bagian 36 Bagian 38 >>>
No comments:
Post a Comment