Apakah penyerahannya akan dapat menolak bekerjanya racun? Endang Patibroto tidak mau membiarkan ini terjadi. Setelah hidangan dan minuman selesai dipersiapkan, suami isteri itu lalu membawa hidangan ke ruangan tengah di mana pemuda itu masih duduk di atas bangku.
"Ah, kami
hanya mempunyai suguhan sederhana ini, anakmas. Nasi jagung dan sayur lodeh.
Mari silakan minum dulu, karena andika tentu kehausan!" kata tuan rumah
sambil menuangkan air teh dari poci itu dalam sebuah cangkir dan memberikannya
kepada Jayawijaya.
Pemuda itu
menerima cangkir teh dan menghaturkan terima kasih lalu membawa cangkir itu ke
mulutnya tanpa ragu. Di luar jendela, Endang Patibroto sudah siap dengan sebuah
batu kecil untuk ditimpukkan kalau pemuda itu benar-benar hendak minum air teh
dari dalam cangkir. Akan tetapi ia tidak tergesa-gesa karena hendak melihat
perkembangannya. Cangkir itu sudah menempel di bibir Jayawijaya akan tetapi
tiba-tiba Jayawijaya menjauhkan cangkir dan mengerutkan hidung dan alisnya. Dia
menaruh kembali cangkir teh itu ke atas meja. Suami isteri yang memandang
dengan mata penuh harap menjadi kecewa melihat pemuda itu tidak jadi minum air
tehnya dan meletakkan cangkir di atas meja.
"Ada apa,
anakmas?" tanya si wanita.
"Mengapa
andika tidak minum air teh yang kami suguhkan?"
Jayawijaya
menggelengkan kepalanya.
"Entah
mengapa, bibi. Akan tetapi mulutku tidak mau minum air teh itu," katanya
dengan polos.
Memang ketika
dia hendak minum tadi, mulutnya menolak dan air teh itu seperti mengeluarkan
bau yang memuakkan.
"Denmas!"
tuan rumah itu berkata dengan nada suara kasar.
"Kami
dengan sungguh hati menerima kedatanganmu dan menyuguhkan makanan dan minuman
seadanya. Kalau andika tidak mau minum air teh kami, berarti andika menghina
dan memandang rendah kepada kami!"
"Ayo
minumlah, denmas!" isterinya juga membujuk Jayawijaya.
Pemuda itu
merasa tidak enak untuk menolak. Sekali lagi dia mengambil cangkir itu dan menempelkan
di mulutnya. Akan tetapi, baru saja air teh menyentuh bibirnya, dia sudah
menyemburkan keluar dan menaruh cangkir itu di atas meja kembali.
"Ada
apakah, denmas? Apakah air teh kami tidak enak?" tanya si wanita.
Jayawijaya
menggeleng kepala.
"Bukan
tidak enak, entah mengapa mulutku tidak dapat menerimanya." Dia sendiripun
merasa heran mengapa ketika air teh menyentuh bibirnya, bibir itu seperti
terkena api rasanya.
Tiba-tiba
laki-laki tuan rumah itu menjadi marah.
"Orang
muda, andika sungguh menghina kami! Aku tidak terima diperhina seperti ini.
Andika ternyata seorang yang tidak mengenal budi dan sudah sepatutnya
dihajar!" Berkata demikian, orang itu menyambar sebatang arit dari
dinding.
Isterinya juga
segera memegangi kedua tangan Jayawijaya dan berkata,
"Engkau
seorang pemuda yang tidak tahu diri! Cepat, pakne, hajar dia!" Ia
memegangi kedua pergelangan tangan pemuda itu dengan kuatnya.
Laki-laki itu
lalu melangkah maju dan aritnya diayun ke arah kepala Jayawijaya.
"Wuuuttt
... crok ... ! Aduuhhh ... !"
Wanita itu
menjerit dan pundaknya terluka mengeluarkan darah. Ternyata ketika arit tadi
menyambar ke arah kepala Jayawijaya, entah bagaimana arit itu menyimpang dan
mengenai pundak wanita itu! Pria itu terbelalak melihat aritnya melukai isterinya
sendiri. Dia menjadi marah dan sekali lagi membacokkan aritnya ke arah kepala
Jayawijaya. Pemuda itu hanya berdiri tenang saja dan arit yang menyambar ke
kepalanya itu pun tiba-tiba menyeleweng, bahkan terlepas dari tangan pria itu
dan meluncur turun melukai pahanya sendiri!
Pria dan
wanita itu mengaduh-aduh akan tetapi mereka agaknya menduga bahwa pemuda itu
tentu memiliki ilmu yang tinggi, maka keduanya lalu menjatuhkan diri berlutut
dan menyembah-nyembah minta ampun.
"Ampunkan
kami yang telah berani mengganggu paduka ..." kata laki-laki itu
ketakutan.
"Ampunkan
saya, kanjeng ... " Isterinya juga meratap.
Jayawijaya
mengerti apa yang terjadi. Minuman itu tentu mengandung racun, maka Kekuasaan
Hyang Widhi yang menghalangi mulutnya untuk minum kemudian ketika kakek itu
menyerangnya, Kekuasaan Gaib itu pula yang membuat arit itu melukai suami
isteri itu sendiri. Diam-diam dia mengucap syukur dan memuji Sang Hyang Widhi
yang sudah melindunginya.
"Paman
dan bibi. Kalau andika berdua tidak suka menerima kedatangan saya, mengapa
tidak mengatakan terus terang saja? Mengapa harus menggunakan daya upaya untuk
mencelakakan saya? Kalau andika berdua ingin minta ampun, mintalah ampun kepada
Sang Hyang Widhi, karena perbuatan andika berdua itu merupakan dosa terhadap
Sang Hyang Widhi, bukan terhadap saya." Dia lalu mengambil pula buntalan
pakaian yang tadi diletakkan di atas meja, mengikatkan di punggungnya dan
melangkah keluar dari rumah itu dengan lenggang seenaknya, seolah tidak pernah
terjadi sesuatu dalam rumah itu.
Suami isteri
itu masih terus berlutut menyembah-nyembah dengan ketakutan. Endang Patibroto
yang mengintai dan menyaksikan semua itu, kembali menjadi bengong terlongong.
Seorang pemuda yang hebat! Belum pernah selama hidupnya dia melihat atau
mendengar akan adanya seorang pemuda yang berada dalam perlindungan Yang Maha
Kuasa sedemikian ajaibnya. Pemuda yang sukar dicari bandingannya. Pemuda
seperti itulah yang patut menjadi suami puterinya, Retna Wilis! Dengan pikiran
ini, Endang Patibroto lalu berlari menyusul pemuda itu.
"Anakmas
Jayawijaya!" tegurnya.
Pemuda itu
menoleh dan melihat Endang Patibroto, dia tersenyum. Senyum itu demikian lembut
dan penuh pengertian, pikir Endang Patibroto.
"Wah,
kita bertemu lagi, kanjeng bibi Endang Patibroto!" kata Jayawijaya dengan
girang.
"Aku
kebetulan lewat di sini juga dan melihat andika," kata Endang Patibroto.
"Dan
andika dari mana sajakah?" tanyanya untuk memancing pemuda itu
menceritakan peristiwa yang tadi dialaminya. Akan tetapi pemuda itu tersenyum.
"Aku hendak
mencari tempat untuk melewatkan malam, kanjeng bibi."
"Akupun
demikian. Akan tetapi tidak enak kiranya kalau kita mengganggu penduduk dusun.
Mungkin mereka malah mencurigai kita."
"Habis,
kanjeng bibi hendak bermalam di mana?"
"Seorang
pengembara seperti aku ini tidur di manapun boleh saja. Aku melihat ada gubuk
di tengah ladang, bagaimana kalau kita melewatkan malam di sana?"
"Baiklah,
aku akan senang sekali, kanjeng bibi."
Mereka berdua
lalu keluar dari dusun itu dan benar saja, di luar dusun terdapat ladang yang
luas dan tampak beberapa buah gubuk di tengah ladang.
"Nah, aku
dapat bermalam di gubuk ini, dan andika bermalam di gubuk yang berada di sana
itu. Bukankah tempat ini cukup menyenangkan?"
"Menyenangkan
sekali, kanjeng bibi.”
"Sekarang
buatlah api unggun, selain untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin, juga aku
ingin memanggang juadah (uli). Aku tadi membelinya dari dusun sana. Lumayan
untuk menghilangkan lapar." Endang Patibroto lalu membuka buntalan
pakaiannya dan dari situ dia mengeluarkan sebuah bungkusan daun pisang dan
ternyata di dalamnya terdapat juadah yang putih dan besar.
Jayawijaya
lalu sibuk membuat api unggun di dekat gubuk, dan Endang Patibroto lalu menusuk
beberapa potong juadah dengan sebilah bambu lalu memanggang sate juadah itu. Jayawijaya
yang melihat bahwa Endang Patibroto tidak membawa minuman lalu berkata sambil
bangkit berdiri.
"Kanjeng
bibi, biar aku memanjat pohon kelapa itu untuk mengambil buah kelapa untuk kita
minum."
Endang
Patibroto tersenyum. Ia hendak melihat bagaimana caranya pemuda itu mengambil
buah kelapa. Kalau ia kehendaki, dengan sekali sambit saja ia akan dapat
meruntuhkan dua butir buah kelapa.
"Baik
sekali, anakmas Jayawijaya."
Jayawijaya
lalu menghampiri pohon kelapa yang berada tak jauh dari situ dan memanjat pohon
kelapa dengan perlahan. Endang Patibroto mengamati dan menjadi semakin heran.
Pemuda itu benar-benar seorang pemuda lemah yang tidak memiliki kadigdayaan,
pikirnya. Mengambil buah kelapa saja dengan cara memanjat seperti orang biasa.
Akan tetapi dia mendiamkannya saja dan mendengar suara berdebuk dua kali ketika
pemuda itu menjatuhkan dua butir buah kelapa dari atas.
Setelah juadah
yang dipanggangnya menjadi matang, mereka berdua lalu makan. Endang Patibroto
tidak mau memperlihatkan kesaktiannya, maka ia menggunakan sebilah pisau yang
dibawanya untuk melubangi buah kelapa. Mereka makan juadah panggang dan minum
dawegan (kelapa muda) dan terasa nikmat sekali. Setelah makan, mereka duduk
menghadapi api unggun. Endang Patibroto menatap wajah yang tampan itu, yang
kelihatan aneh karena ada sinar merah api unggun bermain-main di wajah itu. Ia
melihat betapa sinar mata pemuda itu amat lembut dan penuh pengertian. Ia
merasa seolah-olah pemuda itu mengetahui semua yang terkandung dalam hatinya
melalui pandang mata yang lugu itu.
"Anakmas
Jayawijaya, bolehkah aku mengetahui, berapa usiamu sekarang?" tanya Endang
Patibroto sambil lalu.
"Sudah
duapuluh tiga tahun, kanjeng bibi."
“Engkau tentu
sudah menikah atau bertunangan?"
Jayawijaya
tersenyum dan mukanya yang tersinar api unggun itu menjadi semakin kemerahan.
"Ah,
belum kanjeng bibi. Dalam keadaan seperti saya sekarang ini, sama sekali saya
tidak mempunyai pikiran untuk menikah."
"Kenapa?
Bukankah pernikahan itu suatu hal yang lumrah bahkan menjadi kewajiban setiap
orang manusia untuk memperoleh keturunan?"
"Benar
apa yang kanjeng bibi katakan. Akan tetapi saya kira urusan perjodohan adalah
ketentuan dari Hyang Widhi. Pula, berkumpulnya seorang suami dan seorang isteri
bukan sekedar untuk memperoleh keturunan belaka, melainkan untuk membentuk
sebuah rumah tangga yang bahagia. Dan syaratnya, di antaranya adalah
tercukupinya sandang-pangan-papan. Sedangkan orang seperti saya ini, seorang
perantau yang tidak mempunyai papan tertentu, panganpun sedapatnya dan sandangpun
yang hanya saya bawa ini. Bagaimana saya dapat mempunyai pikiran untuk
berjodoh, kanjeng bibi?"
Endang
Patibroto tersenyum senang,
“Pemuda yang
berpikiran luas,” pikirnya.
"Akan
tetapi kalau andika mendapatkan seorang isteri yang baik, kalian berdua akan
dapat bekerja sama menanggulangi segala kesulitan hidup, anakmas."
"Agaknya
saya masih belum memikirkan jodoh saya, dan saya hanya menyerahkan kepada Hyang
Widhi untuk mengaturnya."
"Anakmas
Jayawijaya, apakah engkau masih mempunyai seorang ibu?"
"Kanjeng
ibu sudah meninggal dunia ketika saya berusia sepuluh tahun. Semenjak itu saya
hanya tinggal berdua dengan kanjeng rama di sebuah puncak dari pegunungan
Tengger."
"Ah,
kasihan sekali, andika, anakmas. Sejak berusia sepuluh tahun sudah ditinggal
mati ibu."
Jayawijaya
tersenyum.
"Tidak
ada yang perlu dikasihani, kanjeng bibi. Ibu meninggal dunia sudah menjadi
kehendak Hyang Widhi dan apapun yang ditentukan Hyang Widhi adalah baik dan
benar, mengandung hikmah yang mendalam. Saya hidup berdua dengan kanjeng rama
dan merasa cukup berbahagia, kanjeng bibi."
"Hemm,
seorang muda seperti andika, bagaimana mengerti akan bahagia? Bahagia itu
apakah, anakmas?"
"Bahagia
itu adalah suatu perasaan, kanjeng bibi. Kalau seseorang sudah merasai cukup
dengan segala yang ada, yang menganggap bahwa semua yang terjadi adalah
kehendak Sang Hyang Widhi, kalau sudah tidak ada sesuatu yang membuatnya merasa
tidak berbahagia, nah, orang itulah yang dapat merasakan bahagia."
Endang
Patibroto tersenyum. Teringat dia akan pendapat suaminya, Tejalaksono. Seperti
itu pulalah pendapat suaminya, akan tetapi agaknya suaminya belum menemukan
intinya seperti yang diperoleh pemuda luar biasa ini.
"Wah,
kalau begitu, anakmas Jayawijaya ini tidak pernah merasa berduka atau kecewa,
selalu merasa bahagia?"
"Kanjeng
bibi Endang Patibroto, saya hanyalah seorang manusia biasa, tiada bedanya
dengan orang lain. Bagaimana saya dapat terlepas dari semua perasaan itu? Akan
tetapi, kalau saya mengalami kedukaan, hal itu tidak akan berlangsung lama
karena saya percaya dengan penuh keyakinan, bahwa segala keadaan itu hanya
dapat terjadi kalau dikehendaki oleh Hyang Widhi. Dan kalau sudah demikian,
maka saya dapat menerima apa saja yang terjadi dengan diri saya tidak
menganggapnya sebagai hal yang mendukakan atau menggirangkan. Saya manusia
biasa yang lemah dan dengan segalakurangan saya, kanjeng bibi. Tidak seperti
kanjeng bibi yang sakti mandraguna."
<<< Bagian 37 Bagian 39 >>>
No comments:
Post a Comment