Sepasang Garuda Putih ; Bagian 38


Apakah penyerahannya akan dapat menolak bekerjanya racun? Endang Patibroto tidak mau membiarkan ini terjadi. Setelah hidangan dan minuman selesai dipersiapkan, suami isteri itu lalu membawa hidangan ke ruangan tengah di mana pemuda itu masih duduk di atas bangku.
"Ah, kami hanya mempunyai suguhan sederhana ini, anakmas. Nasi jagung dan sayur lodeh. Mari silakan minum dulu, karena andika tentu kehausan!" kata tuan rumah sambil menuangkan air teh dari poci itu dalam sebuah cangkir dan memberikannya kepada Jayawijaya.

Pemuda itu menerima cangkir teh dan menghaturkan terima kasih lalu membawa cangkir itu ke mulutnya tanpa ragu. Di luar jendela, Endang Patibroto sudah siap dengan sebuah batu kecil untuk ditimpukkan kalau pemuda itu benar-benar hendak minum air teh dari dalam cangkir. Akan tetapi ia tidak tergesa-gesa karena hendak melihat perkembangannya. Cangkir itu sudah menempel di bibir Jayawijaya akan tetapi tiba-tiba Jayawijaya menjauhkan cangkir dan mengerutkan hidung dan alisnya. Dia menaruh kembali cangkir teh itu ke atas meja. Suami isteri yang memandang dengan mata penuh harap menjadi kecewa melihat pemuda itu tidak jadi minum air tehnya dan meletakkan cangkir di atas meja.
"Ada apa, anakmas?" tanya si wanita.
"Mengapa andika tidak minum air teh yang kami suguhkan?"
Jayawijaya menggelengkan kepalanya.
"Entah mengapa, bibi. Akan tetapi mulutku tidak mau minum air teh itu," katanya dengan polos.
Memang ketika dia hendak minum tadi, mulutnya menolak dan air teh itu seperti mengeluarkan bau yang memuakkan.
"Denmas!" tuan rumah itu berkata dengan nada suara kasar.
"Kami dengan sungguh hati menerima kedatanganmu dan menyuguhkan makanan dan minuman seadanya. Kalau andika tidak mau minum air teh kami, berarti andika menghina dan memandang rendah kepada kami!"
"Ayo minumlah, denmas!" isterinya juga membujuk Jayawijaya.
Pemuda itu merasa tidak enak untuk menolak. Sekali lagi dia mengambil cangkir itu dan menempelkan di mulutnya. Akan tetapi, baru saja air teh menyentuh bibirnya, dia sudah menyemburkan keluar dan menaruh cangkir itu di atas meja kembali.
"Ada apakah, denmas? Apakah air teh kami tidak enak?" tanya si wanita.
Jayawijaya menggeleng kepala.
"Bukan tidak enak, entah mengapa mulutku tidak dapat menerimanya." Dia sendiripun merasa heran mengapa ketika air teh menyentuh bibirnya, bibir itu seperti terkena api rasanya.
Tiba-tiba laki-laki tuan rumah itu menjadi marah.
"Orang muda, andika sungguh menghina kami! Aku tidak terima diperhina seperti ini. Andika ternyata seorang yang tidak mengenal budi dan sudah sepatutnya dihajar!" Berkata demikian, orang itu menyambar sebatang arit dari dinding.

Isterinya juga segera memegangi kedua tangan Jayawijaya dan berkata,
"Engkau seorang pemuda yang tidak tahu diri! Cepat, pakne, hajar dia!" Ia memegangi kedua pergelangan tangan pemuda itu dengan kuatnya.
Laki-laki itu lalu melangkah maju dan aritnya diayun ke arah kepala Jayawijaya.
"Wuuuttt ... crok ... ! Aduuhhh ... !"
Wanita itu menjerit dan pundaknya terluka mengeluarkan darah. Ternyata ketika arit tadi menyambar ke arah kepala Jayawijaya, entah bagaimana arit itu menyimpang dan mengenai pundak wanita itu! Pria itu terbelalak melihat aritnya melukai isterinya sendiri. Dia menjadi marah dan sekali lagi membacokkan aritnya ke arah kepala Jayawijaya. Pemuda itu hanya berdiri tenang saja dan arit yang menyambar ke kepalanya itu pun tiba-tiba menyeleweng, bahkan terlepas dari tangan pria itu dan meluncur turun melukai pahanya sendiri!
Pria dan wanita itu mengaduh-aduh akan tetapi mereka agaknya menduga bahwa pemuda itu tentu memiliki ilmu yang tinggi, maka keduanya lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah minta ampun.
"Ampunkan kami yang telah berani mengganggu paduka ..." kata laki-laki itu ketakutan.
"Ampunkan saya, kanjeng ... " Isterinya juga meratap.
Jayawijaya mengerti apa yang terjadi. Minuman itu tentu mengandung racun, maka Kekuasaan Hyang Widhi yang menghalangi mulutnya untuk minum kemudian ketika kakek itu menyerangnya, Kekuasaan Gaib itu pula yang membuat arit itu melukai suami isteri itu sendiri. Diam-diam dia mengucap syukur dan memuji Sang Hyang Widhi yang sudah melindunginya.
"Paman dan bibi. Kalau andika berdua tidak suka menerima kedatangan saya, mengapa tidak mengatakan terus terang saja? Mengapa harus menggunakan daya upaya untuk mencelakakan saya? Kalau andika berdua ingin minta ampun, mintalah ampun kepada Sang Hyang Widhi, karena perbuatan andika berdua itu merupakan dosa terhadap Sang Hyang Widhi, bukan terhadap saya." Dia lalu mengambil pula buntalan pakaian yang tadi diletakkan di atas meja, mengikatkan di punggungnya dan melangkah keluar dari rumah itu dengan lenggang seenaknya, seolah tidak pernah terjadi sesuatu dalam rumah itu.

Suami isteri itu masih terus berlutut menyembah-nyembah dengan ketakutan. Endang Patibroto yang mengintai dan menyaksikan semua itu, kembali menjadi bengong terlongong. Seorang pemuda yang hebat! Belum pernah selama hidupnya dia melihat atau mendengar akan adanya seorang pemuda yang berada dalam perlindungan Yang Maha Kuasa sedemikian ajaibnya. Pemuda yang sukar dicari bandingannya. Pemuda seperti itulah yang patut menjadi suami puterinya, Retna Wilis! Dengan pikiran ini, Endang Patibroto lalu berlari menyusul pemuda itu.
"Anakmas Jayawijaya!" tegurnya.
Pemuda itu menoleh dan melihat Endang Patibroto, dia tersenyum. Senyum itu demikian lembut dan penuh pengertian, pikir Endang Patibroto.
"Wah, kita bertemu lagi, kanjeng bibi Endang Patibroto!" kata Jayawijaya dengan girang.
"Aku kebetulan lewat di sini juga dan melihat andika," kata Endang Patibroto.
"Dan andika dari mana sajakah?" tanyanya untuk memancing pemuda itu menceritakan peristiwa yang tadi dialaminya. Akan tetapi pemuda itu tersenyum.
"Aku hendak mencari tempat untuk melewatkan malam, kanjeng bibi."
"Akupun demikian. Akan tetapi tidak enak kiranya kalau kita mengganggu penduduk dusun. Mungkin mereka malah mencurigai kita."
"Habis, kanjeng bibi hendak bermalam di mana?"
"Seorang pengembara seperti aku ini tidur di manapun boleh saja. Aku melihat ada gubuk di tengah ladang, bagaimana kalau kita melewatkan malam di sana?"
"Baiklah, aku akan senang sekali, kanjeng bibi."
Mereka berdua lalu keluar dari dusun itu dan benar saja, di luar dusun terdapat ladang yang luas dan tampak beberapa buah gubuk di tengah ladang.
"Nah, aku dapat bermalam di gubuk ini, dan andika bermalam di gubuk yang berada di sana itu. Bukankah tempat ini cukup menyenangkan?"
"Menyenangkan sekali, kanjeng bibi.”
"Sekarang buatlah api unggun, selain untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin, juga aku ingin memanggang juadah (uli). Aku tadi membelinya dari dusun sana. Lumayan untuk menghilangkan lapar." Endang Patibroto lalu membuka buntalan pakaiannya dan dari situ dia mengeluarkan sebuah bungkusan daun pisang dan ternyata di dalamnya terdapat juadah yang putih dan besar.
Jayawijaya lalu sibuk membuat api unggun di dekat gubuk, dan Endang Patibroto lalu menusuk beberapa potong juadah dengan sebilah bambu lalu memanggang sate juadah itu. Jayawijaya yang melihat bahwa Endang Patibroto tidak membawa minuman lalu berkata sambil bangkit berdiri.
"Kanjeng bibi, biar aku memanjat pohon kelapa itu untuk mengambil buah kelapa untuk kita minum."

Endang Patibroto tersenyum. Ia hendak melihat bagaimana caranya pemuda itu mengambil buah kelapa. Kalau ia kehendaki, dengan sekali sambit saja ia akan dapat meruntuhkan dua butir buah kelapa.
"Baik sekali, anakmas Jayawijaya."

Jayawijaya lalu menghampiri pohon kelapa yang berada tak jauh dari situ dan memanjat pohon kelapa dengan perlahan. Endang Patibroto mengamati dan menjadi semakin heran. Pemuda itu benar-benar seorang pemuda lemah yang tidak memiliki kadigdayaan, pikirnya. Mengambil buah kelapa saja dengan cara memanjat seperti orang biasa. Akan tetapi dia mendiamkannya saja dan mendengar suara berdebuk dua kali ketika pemuda itu menjatuhkan dua butir buah kelapa dari atas.
Setelah juadah yang dipanggangnya menjadi matang, mereka berdua lalu makan. Endang Patibroto tidak mau memperlihatkan kesaktiannya, maka ia menggunakan sebilah pisau yang dibawanya untuk melubangi buah kelapa. Mereka makan juadah panggang dan minum dawegan (kelapa muda) dan terasa nikmat sekali. Setelah makan, mereka duduk menghadapi api unggun. Endang Patibroto menatap wajah yang tampan itu, yang kelihatan aneh karena ada sinar merah api unggun bermain-main di wajah itu. Ia melihat betapa sinar mata pemuda itu amat lembut dan penuh pengertian. Ia merasa seolah-olah pemuda itu mengetahui semua yang terkandung dalam hatinya melalui pandang mata yang lugu itu.
"Anakmas Jayawijaya, bolehkah aku mengetahui, berapa usiamu sekarang?" tanya Endang Patibroto sambil lalu.
"Sudah duapuluh tiga tahun, kanjeng bibi."
“Engkau tentu sudah menikah atau bertunangan?"
Jayawijaya tersenyum dan mukanya yang tersinar api unggun itu menjadi semakin kemerahan.
"Ah, belum kanjeng bibi. Dalam keadaan seperti saya sekarang ini, sama sekali saya tidak mempunyai pikiran untuk menikah."
"Kenapa? Bukankah pernikahan itu suatu hal yang lumrah bahkan menjadi kewajiban setiap orang manusia untuk memperoleh keturunan?"
"Benar apa yang kanjeng bibi katakan. Akan tetapi saya kira urusan perjodohan adalah ketentuan dari Hyang Widhi. Pula, berkumpulnya seorang suami dan seorang isteri bukan sekedar untuk memperoleh keturunan belaka, melainkan untuk membentuk sebuah rumah tangga yang bahagia. Dan syaratnya, di antaranya adalah tercukupinya sandang-pangan-papan. Sedangkan orang seperti saya ini, seorang perantau yang tidak mempunyai papan tertentu, panganpun sedapatnya dan sandangpun yang hanya saya bawa ini. Bagaimana saya dapat mempunyai pikiran untuk berjodoh, kanjeng bibi?"

Endang Patibroto tersenyum senang,
“Pemuda yang berpikiran luas,” pikirnya.
"Akan tetapi kalau andika mendapatkan seorang isteri yang baik, kalian berdua akan dapat bekerja sama menanggulangi segala kesulitan hidup, anakmas."
"Agaknya saya masih belum memikirkan jodoh saya, dan saya hanya menyerahkan kepada Hyang Widhi untuk mengaturnya."
"Anakmas Jayawijaya, apakah engkau masih mempunyai seorang ibu?"
"Kanjeng ibu sudah meninggal dunia ketika saya berusia sepuluh tahun. Semenjak itu saya hanya tinggal berdua dengan kanjeng rama di sebuah puncak dari pegunungan Tengger."
"Ah, kasihan sekali, andika, anakmas. Sejak berusia sepuluh tahun sudah ditinggal mati ibu."
Jayawijaya tersenyum.
"Tidak ada yang perlu dikasihani, kanjeng bibi. Ibu meninggal dunia sudah menjadi kehendak Hyang Widhi dan apapun yang ditentukan Hyang Widhi adalah baik dan benar, mengandung hikmah yang mendalam. Saya hidup berdua dengan kanjeng rama dan merasa cukup berbahagia, kanjeng bibi."
"Hemm, seorang muda seperti andika, bagaimana mengerti akan bahagia? Bahagia itu apakah, anakmas?"
"Bahagia itu adalah suatu perasaan, kanjeng bibi. Kalau seseorang sudah merasai cukup dengan segala yang ada, yang menganggap bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Sang Hyang Widhi, kalau sudah tidak ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak berbahagia, nah, orang itulah yang dapat merasakan bahagia."
Endang Patibroto tersenyum. Teringat dia akan pendapat suaminya, Tejalaksono. Seperti itu pulalah pendapat suaminya, akan tetapi agaknya suaminya belum menemukan intinya seperti yang diperoleh pemuda luar biasa ini.
"Wah, kalau begitu, anakmas Jayawijaya ini tidak pernah merasa berduka atau kecewa, selalu merasa bahagia?"
"Kanjeng bibi Endang Patibroto, saya hanyalah seorang manusia biasa, tiada bedanya dengan orang lain. Bagaimana saya dapat terlepas dari semua perasaan itu? Akan tetapi, kalau saya mengalami kedukaan, hal itu tidak akan berlangsung lama karena saya percaya dengan penuh keyakinan, bahwa segala keadaan itu hanya dapat terjadi kalau dikehendaki oleh Hyang Widhi. Dan kalau sudah demikian, maka saya dapat menerima apa saja yang terjadi dengan diri saya tidak menganggapnya sebagai hal yang mendukakan atau menggirangkan. Saya manusia biasa yang lemah dan dengan segalakurangan saya, kanjeng bibi. Tidak seperti kanjeng bibi yang sakti mandraguna."

<<< Bagian 37                                                                                          Bagian 39 >>>

No comments:

Post a Comment