Sepasang Garuda Putih ; Bagian 39


"Anakmas Jayawijaya, sekarang aku mulai percaya bahwa tidak ada ilmu yang lebih hebat dari pada ilmu menyerah dengan penuh keimanan kepada Hyang Widhi seperti yang andika lakukan. Aku kagum sekali, anakmas."
"Setiap orang manusia dapat bersikap seperti itu, kanjeng bibi. Tidak ada yang patut dikagumi."
“Dengar, anakmas Jayawijaya. Sudah kuceritakan kepadamu bahwa aku sedang mencari anak-anakku Retna Wilis dan Bagus Seta. Setelah bertemu dan berkenalan denganmu, timbul niat di hatiku untuk menjodohkan anakku Retna Wilis dengan andika! Bagaimana pendapatmu, anakmas Jayawijaya?"
“Bagaimana saya harus menjawabnya, kanjeng bibi? Saya sama sekali belum mempunyai pikiran untuk berjodoh, karena itu saya tidak dapat menyanggupi atau menolak uluran tangan bibi yang memberi kehormatan sebesar itu kepada saya."
“Percayalah, anakmas. Puteriku itu seorang dara yang cantik jelita luar biasa, dan ia sakti mandraguna, lebih sakti dari pada aku Sendiri. Andika tentu akan jatuh cinta kalau bertemu dengannya."
Jayawijaya tersenyum ramah.
"Mungkin saja saya akan jatuh cinta kepadanya, akan tetapi bagaimana kalau ia tidak cinta pada saya? Cinta dua orang yang akan menjadi suami isteri tidak dapat hanya bertepuk tangan sebelah, kanjeng bibi. Akan tetapi, bagaimanapun juga, saya percaya akan kekuasaan Hyang Widhi. Kalau memang antara kami dijodohkan oleh Hyang Widhi, tidak akan ada rintangan yang
dapat menghalanginya, akan tetapi kalau Hyang Widhi tidak menghendaki perjodohan kami, tiada ada sesuatupun yang dapat mendorong atau memaksa. Nah, kita semua lihat saja jalannya kekuasaan Hyang Widhi yang sempurna dan ajaib."
"Mudah-mudahan saja Hyang Widhi akan memenuhi harapanku dan akan mempertemukan kalian berdua, anakmas. Sekarang, anakmas mengaso dan tidurlah di gubuk sana itu, aku akan tidur di gubuk ini."
"Baik, selamat tidur, kanjeng bibi." Pemuda itu lalu bangkit dan berjalan menuju ke gubuk yang tidak berapa jauh dari gubuk itu, bayangannya diikuti pandang mata Endang Patibroto. Wanita perkasa ini merasa kagum bukan main. Akan tetapi diam-diam iapun merasa khawatir. Seorang seperti Jayawijaya, apakah sekali waktu tidak akan celaka oleh perbuatan manusia jahat? Apakah selanjutnya kekuasaan Hyang Widhi akan terus melindunginya? Dia sendiri tidak mempunyai kadigdayaan untuk melindungi diri sendiri.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Jayawijaya sudah bangun dari tidurnya dan membersihkan tubuhnya dengan air bersih yang mengalir di dekat pematang ladang itu. Ketika dia berjalan mendekati gubuk yang semalam menjadi tempat tidur Endang Patibroto, ternyata wanita itupun sudah bangun dari tidurnya, bahkan sudah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu.
"Andika sudah bangun, anakmas? Aku hendak melanjutkan perjalananku menuju ke Nusabarung. Aku akan mengunjungi Nusa Barung untuk mencari anak-anakku." Lalu ia menatap, wajah pemuda itu dan bertanya,
"Andika sendiri hendak kemana, anakmas?"
"Mungkin saya juga akan mengunjungi Nusabarung. Sudah lama saya mendengar tentang pulau itu, dan melihat bahwa dusun Pandakan juga termasuk daerah Nusabarung, maka saya pikir tentu penyebaran agama baru yang dipaksakan itu datangnya dari sana."
"Kalau benar datangnya dari sana, apa yang akan andika lakukan, anakmas? Tentu para pimpinan agama itu merupakan orang-orang yang berilmu tinggi. Apa yang akan andika perbuat untuk menghalangi mereka?"
"Setidaknya saya dapat menyadarakan mereka bahwa cara yang mereka tempuh itu tidak benar. Mereka boleh saja menyebarluaskan agama mereka akan tetapi dengan cara yang benar dan penuh damai. Rakyat kan dapat menilai mana agama yang baik dan mana yang tidak baik. Kalau memakai cara paksaan, akibatnya para pemeluk agama itupun hanya berpura-pura saja karena takut."
"Andika akan menegur mereka dan mengatakan begitu?"
"Benar, kanjeng bibi. Saya tidak mempunyai cara lain untuk menyadarkan mereka."
"Kalau mereka menolak caramu menyadarkannya dan bahkan menyerangmu, bagai mana?"
"Saya bermaksud baik bagi mereka sendiri, kalau sampai terjadi hal itu, saya hanya menyerah kepada kekuasaan Hyang Widhi saja."
Endang Patibroto menggeleng kepalanya, akan tetapi ia merasa tidak berhak untuk melarang.
"Kalau begitu, mudah-mudahan usahamu itu berhasil baik, anakmas Jayawijaya. Nah, selamat tinggal, aku pergi dulu."
"Selamat jalan, kanjeng bibi."
Endang Patibroto meninggalkan pemuda itu melakukan perjalanan ke Nusabarung.

Adipati Martimpang membuka persidangan itu, dihadap oleh para ponggawa, termasuk lima orang senopatinya yang digdaya, yaitu Ki Wisokolo, Ki Wisangnogo, Ki Krendomolo, Ki Damarpati dan Ki Surodiro. Selain para ponggawa dan senopati, di situ terdapat pula Wasi Surengpati, tokoh dari Guha Iblis itu yang kini oleh Adipati Martimpang diangkat menjadi seorang penasihat. Mereka membicarakan tentang penyusunan kekuatan di Nusabarung dengan bertambahnya prajurit yang kini jumlahnya sudah mencapai tiga ribu orang. Setengah jumlah itu dipusatkan di pantai daratan untuk menjaga pintu depan Nusabarung dan setengahnya lagi berada di pulau itu. Seorang penyelidik melaporkan bahwa di Jenggala atau Panjalu belum terlihat ada gerakan pasukan yang bergerak ke timur, bahkan pasukan Panjalu banyak yang dikerahkan ke selatan dan barat untuk menundukkan para raja muda dan adipati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Panjalu.
"Bagaimana dengan usaha para wasi untuk menyebarkan agama baru kalian itu? Sampai di mana perkembangan dan hasilnya, kakang Wasi Surengpati?" tanya Adipati Martimpang kepada penasihatnya.
Wasi Surengpati sekarang tidak lagi berpakaian kotor dekil seperti dulu. Pakaiannya serba indah dan baru, rambutnya yang mengkilat karena diminyaki dan disisir, matanya yang lebar itu bersinar-sinar dan hidungnya yang pesek tampak lebih pesek lagi ketika dia menyeringai.
"Ah, heh-heh-heh, sudah mendapat banyak kemajuan, Kanjeng Adipati. Banyak orang dusun yang sudah menjadi anggota perkumpulan kami dan banyak candi didirikan orang. Mereka yang sudah menjadi anggota agama kami itu merupakan kekuatan yang dengan mudah dapat kita pergunakan untuk menyerang musuh atau untuk mencetuskan pertentangan antara para pemeluk agama lain. Dengan demikian, maka keadaan di wilayah Jenggala dan Panjalu akan menjadi lemah."
"Bagus, kalau begitu. Apakah andika tidak menemui halangan?"
Wasi Surengpati menghela napas panjang.
"Wah, baru-baru ini memang ada beberapa orang di antara para penduduk dusun yang mencoba untuk menentang kami, akan tetapi dengan mudah kami singkirkan mereka. Hampir di setiap dusun yang termasuk wilayah Nusabarung sudah ada perwakilan agama kami, ha-ha-ha."
"Kalau begitu, kita harus cepat memberi kabar kepada Kadipaten Blambangan agar Wasi Karangwolo dan terutama Wasi Shiwamurti mengetahui bahwa gerakan kita di Nusabarung sudah berhasil."
"Harap jangan khawatir, Kanjeng Adipati. Saya sudah mengirim utusan ke sana, karena Kakang Wasi Shiwamurti perlu mengangkat kepala-kepala agama untuk memimpin mereka yang berada di dusun-dusun. Dan pengangkatan itu baru sah kalau dilakukan oleh Sang Wasi Shiwamurti."

Tiba-tiba seorang pengawal masuk ke ruangan itu. Melihat ini, Adipati Martimpang menegurnya,
"Heh, pengawal, mau apa engkau menghadap tanpa kami panggil?"
"Ampunkan hamba, Kanjeng Adipati. Di luar terdapat seorang wanita yang hendak menghadap paduka, dan ketika kami larang, ia mengamuk dan merobohkan banyak pengawal!"
"Kakang Wasi Surengpati, coba andika keluar dan lihat siapa wanita itu. Kalau ia hanya seorang pengacau, tangkap dan hajar." Adipati Martimpang memerintah dengan marah.
Wasi Surengpati lalu keluar sambil membawa tongkat ularnya. Langkahnya menunjukkan betapa ia sadar akan harga dirinya, dadanya dibusungkan dan langkahnya dibuat segagah mungkin. Seolah dia berteriak kepada semua orang agar melihat bahwa dia yang ditugaskan menangkap pengacau dan kalau dia turun tangan, semua tentu akan menjadi beres!
Siapakah wanita yang mengamuk di luar itu? Ia bukan lain adalah Endang Patibroto! Setelah dengan perahu ia tiba di pulau Nusabarung, ia langsung saja datang ke kadipaten. Kepada para pengawal yang berjaga di luar, ia mengatakan bahwa ia ingin bicara dengan Adipati Martimpang. Akan tetapi para pengawal melarangnya karena tidak semua orang dapat menghadap sang adipati, apa lagi pada saat itu sang adipati sedang mengadakan persidangan. Karena itu, para pengawal melarangnya dan hal ini membuat Endang Patibroto menjadi marah sekali. Ia nekat untuk memasuki gedung kadipaten, akan tetapi para pengawal menghalanginya sehingga terjadilah perkelahian. Para pengawal itu dilempar-lemparkan, ditampar dan ditendang sehingga mereka berpelantingan dan seorang di antara mereka cepat melapor ke dalam. Ketika Wasi Surengpati tiba di luar, Endang Patibroto sudah berhenti mengamuk karena para pengawal tidak ada yang berani maju lagi. Hampir semua dari belasan orang itu sudah berkenalan dengan tamparan dan tendangannya yang kuat. Wasi Surengpati memandang dengan penuh perhatian. Matanya yang berpengalaman dapat melihat seorang wanita berusia limapuluhan yang masih amat cantik dan bertubuh ramping padat dan dari kilatan matanya dia dapat menduga bahwa wanita itu tentu saorang yang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
"Teja-teja sulaksana! Andika siapakah dan mengapa pula membuat kacau di sini?" tanya Wasi Surengpati dan lagaknya angkuh, seolah dia yang menjadi adipati di situ. Apa lagi melihat wanita itu demikian cantik, dia lalu berulah dan bergaya.
Endang Patibroto tidak menganal siapa adanya laki-laki itu, akan tetapi ia dapat menduga bahwa bukan itu adipatinya karena pakaiannya, biarpun mewah, tidak seperti pakaian seorang adipati.
"Aku hanya ingin bertemu dan bicara dengan Sang adipati Nusabarung. Biarkan aku masuk menghadapnya!" katanya merasa tidak senang dengan sikap kakek yang matanya lebar hidungnya pesek itu karena lagaknya demikian angkuh.
"Tidak mudah menghadap Sang Adipati kalau kami belum mengetahui apa yang menjadi kehendakmu. Karena itu, katakan dulu kepadaku siapa andika dan apa keperluan andika hendak menghadap Sang Adipati. Baru akan kami pertimbangkan apakah andika dapat diterima menghadap atau tidak!"
"Aku tidak mau bicara denganmu! Biarkan aku masuk kalau begitu!" kata Endang Patibroto dan iapun melangkah maju untuk memasuki kadipaten.
Wasi Surengpati memalangkan tongkat ularnya menghalangi Endang Patibroto.
"Hemm, tidak mudah masuk tanpa seijinku!” Bentaknya marah.

Pada saat itu muncul Adipati Martimpang sendiri. Dia tertarik mendengar ada wanita yang hendak memaksa bertemu dengannya maka diapun menyusul ke depan.
"Kakang Wasi, siapakah yang membikin ribut di sini?" tanyanya.
Melihat munculnya Sang Adipati, Wasi Surengpati menurunkan lagi tongkatnya.
"Ia belum mau mengaku siapa dirinya, Kanjeng Adipati," katanya menahan marah.
Adipati Martimpang maju selangkah lagi dan dia bertanya dengan suara lantang.
"Eh, wanita, siapakah andika dan apa maksud andika hendak menghadap kami?"
Endang Patibroto memandang adipati itu dengan penuh perhatian. Seorang laki-laki berusia limapuluh tahunan, bertubuh tinggi besar dengan muka hitam buruk.
"Apakah andika adipati Nusabarung ini?" Endang Patibroto balas bertanya.
"Benar, akulah Adipati Martimpang yang menguasai Nusabarung," kata sang adipati itu sambil memberi isyarat dengan matanya kepada lima orang senopatinya yang sudah menyusul keluar untuk bersiap-siap.
Lima orang senopati itu sudah tanggap dan mereka berdiri melindungi sang adipati.
"Bagus sekali kalau andika sudah keluar sendiri menemuiku, Sang Adipati. Para pengawalmu ini menjemukan sekali. Mereka menghalangi dan mengeroyok aku yang ingin bertemu dengan andika, maka terpaksa aku menghajar mereka."
"Maafkan mereka. Sekarang kita sudah berhadapan, katakanlah apa keperluanmu dengan kami?"
"Aku perlu bertanya kepadamu, Sang Adipati. Aku mempunyai seorang puteri yang sedang mengadakan perjalanan merantau. Apakah ia lewat di sini? Namanya adalah Retna Wilis. Ia melakukan perjalanan bersama seorang puteraku bernama Bagus Seta. Apakah mereka pernah singgah di pulau ini?"

Mendengar pertanyaan ini, Adipati Martimpang terbelalak, demikian pula para senopatinya. Wasi Surengpati bahkan mengeluarkan suara geraman marah.
"Ah, kalau begitu apakah andika yang bernama Endang Patibroto?" tanya sang Adipati dengan muka berubah kemerahan karena dia marah sekali teringat akan pengalamannya ketika dijadikan sandera oleh Retna Wilis yang melarikan diri.

<<< Bagian 38                                                                                         Bagian 40 >>>

No comments:

Post a Comment