"Anakmas Jayawijaya, sekarang aku mulai percaya bahwa tidak ada ilmu yang lebih hebat dari pada ilmu menyerah dengan penuh keimanan kepada Hyang Widhi seperti yang andika lakukan. Aku kagum sekali, anakmas."
"Setiap
orang manusia dapat bersikap seperti itu, kanjeng bibi. Tidak ada yang patut
dikagumi."
“Dengar,
anakmas Jayawijaya. Sudah kuceritakan kepadamu bahwa aku sedang mencari
anak-anakku Retna Wilis dan Bagus Seta. Setelah bertemu dan berkenalan
denganmu, timbul niat di hatiku untuk menjodohkan anakku Retna Wilis dengan
andika! Bagaimana pendapatmu, anakmas Jayawijaya?"
“Bagaimana
saya harus menjawabnya, kanjeng bibi? Saya sama sekali belum mempunyai pikiran
untuk berjodoh, karena itu saya tidak dapat menyanggupi atau menolak uluran
tangan bibi yang memberi kehormatan sebesar itu kepada saya."
“Percayalah,
anakmas. Puteriku itu seorang dara yang cantik jelita luar biasa, dan ia sakti
mandraguna, lebih sakti dari pada aku Sendiri. Andika tentu akan jatuh cinta
kalau bertemu dengannya."
Jayawijaya
tersenyum ramah.
"Mungkin
saja saya akan jatuh cinta kepadanya, akan tetapi bagaimana kalau ia tidak
cinta pada saya? Cinta dua orang yang akan menjadi suami isteri tidak dapat
hanya bertepuk tangan sebelah, kanjeng bibi. Akan tetapi, bagaimanapun juga,
saya percaya akan kekuasaan Hyang Widhi. Kalau memang antara kami dijodohkan
oleh Hyang Widhi, tidak akan ada rintangan yang
dapat
menghalanginya, akan tetapi kalau Hyang Widhi tidak menghendaki perjodohan
kami, tiada ada sesuatupun yang dapat mendorong atau memaksa. Nah, kita semua
lihat saja jalannya kekuasaan Hyang Widhi yang sempurna dan ajaib."
"Mudah-mudahan
saja Hyang Widhi akan memenuhi harapanku dan akan mempertemukan kalian berdua,
anakmas. Sekarang, anakmas mengaso dan tidurlah di gubuk sana itu, aku akan
tidur di gubuk ini."
"Baik,
selamat tidur, kanjeng bibi." Pemuda itu lalu bangkit dan berjalan menuju
ke gubuk yang tidak berapa jauh dari gubuk itu, bayangannya diikuti pandang
mata Endang Patibroto. Wanita perkasa ini merasa kagum bukan main. Akan tetapi
diam-diam iapun merasa khawatir. Seorang seperti Jayawijaya, apakah sekali
waktu tidak akan celaka oleh perbuatan manusia jahat? Apakah selanjutnya kekuasaan
Hyang Widhi akan terus melindunginya? Dia sendiri tidak mempunyai kadigdayaan
untuk melindungi diri sendiri.
Pada keesokan
harinya, pagi-pagi sekali Jayawijaya sudah bangun dari tidurnya dan
membersihkan tubuhnya dengan air bersih yang mengalir di dekat pematang ladang
itu. Ketika dia berjalan mendekati gubuk yang semalam menjadi tempat tidur
Endang Patibroto, ternyata wanita itupun sudah bangun dari tidurnya, bahkan
sudah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu.
"Andika
sudah bangun, anakmas? Aku hendak melanjutkan perjalananku menuju ke
Nusabarung. Aku akan mengunjungi Nusa Barung untuk mencari anak-anakku."
Lalu ia menatap, wajah pemuda itu dan bertanya,
"Andika
sendiri hendak kemana, anakmas?"
"Mungkin
saya juga akan mengunjungi Nusabarung. Sudah lama saya mendengar tentang pulau
itu, dan melihat bahwa dusun Pandakan juga termasuk daerah Nusabarung, maka
saya pikir tentu penyebaran agama baru yang dipaksakan itu datangnya dari
sana."
"Kalau
benar datangnya dari sana, apa yang akan andika lakukan, anakmas? Tentu para
pimpinan agama itu merupakan orang-orang yang berilmu tinggi. Apa yang akan
andika perbuat untuk menghalangi mereka?"
"Setidaknya
saya dapat menyadarakan mereka bahwa cara yang mereka tempuh itu tidak benar.
Mereka boleh saja menyebarluaskan agama mereka akan tetapi dengan cara yang
benar dan penuh damai. Rakyat kan dapat menilai mana agama yang baik dan mana
yang tidak baik. Kalau memakai cara paksaan, akibatnya para pemeluk agama
itupun hanya berpura-pura saja karena takut."
"Andika
akan menegur mereka dan mengatakan begitu?"
"Benar,
kanjeng bibi. Saya tidak mempunyai cara lain untuk menyadarkan mereka."
"Kalau
mereka menolak caramu menyadarkannya dan bahkan menyerangmu, bagai mana?"
"Saya
bermaksud baik bagi mereka sendiri, kalau sampai terjadi hal itu, saya hanya
menyerah kepada kekuasaan Hyang Widhi saja."
Endang
Patibroto menggeleng kepalanya, akan tetapi ia merasa tidak berhak untuk
melarang.
"Kalau
begitu, mudah-mudahan usahamu itu berhasil baik, anakmas Jayawijaya. Nah, selamat
tinggal, aku pergi dulu."
"Selamat
jalan, kanjeng bibi."
Endang
Patibroto meninggalkan pemuda itu melakukan perjalanan ke Nusabarung.
Adipati
Martimpang membuka persidangan itu, dihadap oleh para ponggawa, termasuk lima
orang senopatinya yang digdaya, yaitu Ki Wisokolo, Ki Wisangnogo, Ki
Krendomolo, Ki Damarpati dan Ki Surodiro. Selain para ponggawa dan senopati, di
situ terdapat pula Wasi Surengpati, tokoh dari Guha Iblis itu yang kini oleh
Adipati Martimpang diangkat menjadi seorang penasihat. Mereka membicarakan
tentang penyusunan kekuatan di Nusabarung dengan bertambahnya prajurit yang
kini jumlahnya sudah mencapai tiga ribu orang. Setengah jumlah itu dipusatkan
di pantai daratan untuk menjaga pintu depan Nusabarung dan setengahnya lagi
berada di pulau itu. Seorang penyelidik melaporkan bahwa di Jenggala atau
Panjalu belum terlihat ada gerakan pasukan yang bergerak ke timur, bahkan
pasukan Panjalu banyak yang dikerahkan ke selatan dan barat untuk menundukkan
para raja muda dan adipati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Panjalu.
"Bagaimana
dengan usaha para wasi untuk menyebarkan agama baru kalian itu? Sampai di mana
perkembangan dan hasilnya, kakang Wasi Surengpati?" tanya Adipati
Martimpang kepada penasihatnya.
Wasi
Surengpati sekarang tidak lagi berpakaian kotor dekil seperti dulu. Pakaiannya
serba indah dan baru, rambutnya yang mengkilat karena diminyaki dan disisir,
matanya yang lebar itu bersinar-sinar dan hidungnya yang pesek tampak lebih
pesek lagi ketika dia menyeringai.
"Ah,
heh-heh-heh, sudah mendapat banyak kemajuan, Kanjeng Adipati. Banyak orang
dusun yang sudah menjadi anggota perkumpulan kami dan banyak candi didirikan
orang. Mereka yang sudah menjadi anggota agama kami itu merupakan kekuatan yang
dengan mudah dapat kita pergunakan untuk menyerang musuh atau untuk mencetuskan
pertentangan antara para pemeluk agama lain. Dengan demikian, maka keadaan di
wilayah Jenggala dan Panjalu akan menjadi lemah."
"Bagus,
kalau begitu. Apakah andika tidak menemui halangan?"
Wasi
Surengpati menghela napas panjang.
"Wah,
baru-baru ini memang ada beberapa orang di antara para penduduk dusun yang
mencoba untuk menentang kami, akan tetapi dengan mudah kami singkirkan mereka.
Hampir di setiap dusun yang termasuk wilayah Nusabarung sudah ada perwakilan
agama kami, ha-ha-ha."
"Kalau
begitu, kita harus cepat memberi kabar kepada Kadipaten Blambangan agar Wasi
Karangwolo dan terutama Wasi Shiwamurti mengetahui bahwa gerakan kita di
Nusabarung sudah berhasil."
"Harap
jangan khawatir, Kanjeng Adipati. Saya sudah mengirim utusan ke sana, karena
Kakang Wasi Shiwamurti perlu mengangkat kepala-kepala agama untuk memimpin
mereka yang berada di dusun-dusun. Dan pengangkatan itu baru sah kalau
dilakukan oleh Sang Wasi Shiwamurti."
Tiba-tiba
seorang pengawal masuk ke ruangan itu. Melihat ini, Adipati Martimpang
menegurnya,
"Heh,
pengawal, mau apa engkau menghadap tanpa kami panggil?"
"Ampunkan
hamba, Kanjeng Adipati. Di luar terdapat seorang wanita yang hendak menghadap
paduka, dan ketika kami larang, ia mengamuk dan merobohkan banyak
pengawal!"
"Kakang
Wasi Surengpati, coba andika keluar dan lihat siapa wanita itu. Kalau ia hanya
seorang pengacau, tangkap dan hajar." Adipati Martimpang memerintah dengan
marah.
Wasi
Surengpati lalu keluar sambil membawa tongkat ularnya. Langkahnya menunjukkan
betapa ia sadar akan harga dirinya, dadanya dibusungkan dan langkahnya dibuat
segagah mungkin. Seolah dia berteriak kepada semua orang agar melihat bahwa dia
yang ditugaskan menangkap pengacau dan kalau dia turun tangan, semua tentu akan
menjadi beres!
Siapakah
wanita yang mengamuk di luar itu? Ia bukan lain adalah Endang Patibroto!
Setelah dengan perahu ia tiba di pulau Nusabarung, ia langsung saja datang ke
kadipaten. Kepada para pengawal yang berjaga di luar, ia mengatakan bahwa ia
ingin bicara dengan Adipati Martimpang. Akan tetapi para pengawal melarangnya
karena tidak semua orang dapat menghadap sang adipati, apa lagi pada saat itu
sang adipati sedang mengadakan persidangan. Karena itu, para pengawal
melarangnya dan hal ini membuat Endang Patibroto menjadi marah sekali. Ia nekat
untuk memasuki gedung kadipaten, akan tetapi para pengawal menghalanginya
sehingga terjadilah perkelahian. Para pengawal itu dilempar-lemparkan, ditampar
dan ditendang sehingga mereka berpelantingan dan seorang di antara mereka cepat
melapor ke dalam. Ketika Wasi Surengpati tiba di luar, Endang Patibroto sudah
berhenti mengamuk karena para pengawal tidak ada yang berani maju lagi. Hampir
semua dari belasan orang itu sudah berkenalan dengan tamparan dan tendangannya
yang kuat. Wasi Surengpati memandang dengan penuh perhatian. Matanya yang
berpengalaman dapat melihat seorang wanita berusia limapuluhan yang masih amat
cantik dan bertubuh ramping padat dan dari kilatan matanya dia dapat menduga
bahwa wanita itu tentu saorang yang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
"Teja-teja
sulaksana! Andika siapakah dan mengapa pula membuat kacau di sini?" tanya
Wasi Surengpati dan lagaknya angkuh, seolah dia yang menjadi adipati di situ.
Apa lagi melihat wanita itu demikian cantik, dia lalu berulah dan bergaya.
Endang
Patibroto tidak menganal siapa adanya laki-laki itu, akan tetapi ia dapat
menduga bahwa bukan itu adipatinya karena pakaiannya, biarpun mewah, tidak
seperti pakaian seorang adipati.
"Aku
hanya ingin bertemu dan bicara dengan Sang adipati Nusabarung. Biarkan aku
masuk menghadapnya!" katanya merasa tidak senang dengan sikap kakek yang
matanya lebar hidungnya pesek itu karena lagaknya demikian angkuh.
"Tidak
mudah menghadap Sang Adipati kalau kami belum mengetahui apa yang menjadi
kehendakmu. Karena itu, katakan dulu kepadaku siapa andika dan apa keperluan
andika hendak menghadap Sang Adipati. Baru akan kami pertimbangkan apakah
andika dapat diterima menghadap atau tidak!"
"Aku
tidak mau bicara denganmu! Biarkan aku masuk kalau begitu!" kata Endang
Patibroto dan iapun melangkah maju untuk memasuki kadipaten.
Wasi
Surengpati memalangkan tongkat ularnya menghalangi Endang Patibroto.
"Hemm,
tidak mudah masuk tanpa seijinku!” Bentaknya marah.
Pada saat itu
muncul Adipati Martimpang sendiri. Dia tertarik mendengar ada wanita yang
hendak memaksa bertemu dengannya maka diapun menyusul ke depan.
"Kakang
Wasi, siapakah yang membikin ribut di sini?" tanyanya.
Melihat
munculnya Sang Adipati, Wasi Surengpati menurunkan lagi tongkatnya.
"Ia belum
mau mengaku siapa dirinya, Kanjeng Adipati," katanya menahan marah.
Adipati
Martimpang maju selangkah lagi dan dia bertanya dengan suara lantang.
"Eh,
wanita, siapakah andika dan apa maksud andika hendak menghadap kami?"
Endang
Patibroto memandang adipati itu dengan penuh perhatian. Seorang laki-laki
berusia limapuluh tahunan, bertubuh tinggi besar dengan muka hitam buruk.
"Apakah
andika adipati Nusabarung ini?" Endang Patibroto balas bertanya.
"Benar,
akulah Adipati Martimpang yang menguasai Nusabarung," kata sang adipati
itu sambil memberi isyarat dengan matanya kepada lima orang senopatinya yang
sudah menyusul keluar untuk bersiap-siap.
Lima orang
senopati itu sudah tanggap dan mereka berdiri melindungi sang adipati.
"Bagus sekali
kalau andika sudah keluar sendiri menemuiku, Sang Adipati. Para pengawalmu ini
menjemukan sekali. Mereka menghalangi dan mengeroyok aku yang ingin bertemu
dengan andika, maka terpaksa aku menghajar mereka."
"Maafkan
mereka. Sekarang kita sudah berhadapan, katakanlah apa keperluanmu dengan
kami?"
"Aku
perlu bertanya kepadamu, Sang Adipati. Aku mempunyai seorang puteri yang sedang
mengadakan perjalanan merantau. Apakah ia lewat di sini? Namanya adalah Retna
Wilis. Ia melakukan perjalanan bersama seorang puteraku bernama Bagus Seta.
Apakah mereka pernah singgah di pulau ini?"
Mendengar
pertanyaan ini, Adipati Martimpang terbelalak, demikian pula para senopatinya.
Wasi Surengpati bahkan mengeluarkan suara geraman marah.
"Ah,
kalau begitu apakah andika yang bernama Endang Patibroto?" tanya sang
Adipati dengan muka berubah kemerahan karena dia marah sekali teringat akan
pengalamannya ketika dijadikan sandera oleh Retna Wilis yang melarikan diri.
<<< Bagian 38 Bagian 40 >>>
No comments:
Post a Comment