Sepasang Garuda Putih ; Bagian 40


"Benar, akulah Endang Patibroto! Apakah anak-anakku itu lewat di sini?"
"Bukan hanya lewat! Anakmu yang keparat itu telah menipu dan menghina kami!"
Endang Patibroto mengerutkan alisnya.
"Hemm, anakku bukan seorang penipu! Jangan andika berbohong kepadaku!"
"Bukan penipu? Ia menyamar sebagai pria dan mengikuti sayembara yang kami adakan dan memenangkan sayembara itu sehingga ia kami terima sebagai calon mantuku. Baru kemudian kami mengetahui bahwa ia seorang wanita dan ia lalu melarikan diri. Keparat gadis yang mengaku sebagai Joko Wilis itu!" Ketika mengucapkan kata-kata ini, sang adipati marah sekali.
Endang Patibroto tidak dapat menahan geli hatinya dan ia tertawa mendengar ulah Retna Wilis itu. Ia dapat membayangkan betapa anaknya itu telah membuat geger Nusabarung. Menyamar sebagai pria dan memenangkan sayembara untuk mendapatkan seorang puteri!
"He-he-heh-hi-hik, betapa lucunya! Apakah kalian semua telah menjadi buta tidak melihat bahwa ia seorang wanita?" Girang hatinya karena mendapat keterangan bahwa anaknya pernah berada di pulau ini.
"Setelah dari sini, ia pergi kemanakah?"
"Siapa tahu? Kami tidak mengetahuinya."
"Kalau begitu, aku harus meninggalkan tempat ini untuk menyusulnya."
"Babo-babo, nanti dulu, Endang Patibroto! Setelah andika berani datang ke sini, kami tidak akan melepaskanmu begitu saja. Tinggalkan dulu kepalamu di sini, baru boleh engkau pergi!" kata Wasi Surengpati sambil melintangkan tongkat ularnya.

Lima orang senopati Nusabarung melihat Wasi Surengpati sudah siap menyerang Endang Patibroto, juga lalu mengepung wanita itu.
"Endang Patibroto, andika telah terkepung. Lebih baik menyerahkan diri untuk kami tawan!" kata Wasi Surengpati yang mengerahkan kekuatan sihirnya, lalu menuding dengan tongkat ularnya ke arah muka Endang Patibroto dan dia membentak!
"Endang Patibroto, berlututlah andika!"
Endang Patibroto merasa betapa ada kekuatan aneh yang seolah memaksanya untuk berlutut. Ia mengerahkan kekuatan batinnya untuk menolak dan ia lalu mengeluarkan teriakan melengking yang mengejutkan semua orang. Itulah pekik dengan aji Sardulo Bairowo. Suara melengking ini mengandung pengaruh yang amat hebat dan sekaligus membuyarkan kekuatan sihir yang dikerahkan Wasi Surengpati. Setelah melihat kakek itu menggerakkan tongkat ular dan mengerahkan kekuatan sihir, baru Endang Patibroto teringat. Ketika ia menolong Jarot, putera Adipati Pasisiran yang hendak dibunuh dua orang kakak tirinya, pendeta inipun membantu kedua kakak tiri yang jahat itu! Ia melawan pendeta itu dan pendeta yang memegang tongkat ular ini melarikan diri. Kiranya pendeta itu kini muncul di Kadipaten Nusabarung dan berlagak sombong karena dia kini dibantu oleh banyak orang!
"Pendeta jahanam, kiranya engkau yang berlagak di sini!" bentaknya dan ia sudah menerjang ke depan untuk mengirim pukulan mautnya kepada pendeta itu.
Wasi Surengpati yang sudah pula teringat akan wanita perkasa yang dulu membantu Jarot itu, menjadi marah sekali.
"Kita basmi wanita jahat ini?" bentaknya seperti memberi isyarat kepada lima orang senopati yang sudah mengepung Endang Patibroto.
Ki Wisokolo, senopati pertama dari Nusabarung, agaknya dapat menduga bahwa wanita itu tentu berilmu tinggi, maka ia pun segera berteriak kepada anak buahnya untuk mengepung. Sedikitnya tigapuluh orang perajurit sudah mengepung tempat itu dengan senjata di tangan. Namun Endang Patibroto tidak gentar sedikitpun.
"Aku datang hanya hendak bertanya tentang kedua orang anakku, akan tetapi kalian menyambut dengan senjata terhunus. Baiklah, kalau begitu aku tidak akan memberi ampun kepadamu!" Begitu ia bergerak maju, empat orang perajurit telah menyambutnya dengan tombak. Akan tetapi, sekali menggerakkan tangan kiri menolak, empat batang tombak itu terpental dan tangan kanannya menampar ke depan. Empat orang itu berteriak dan terpelanting roboh, tak dapat bangkit kembali! Lima orang senopati itu kini menerjang ke depan dengan golok mereka, mengeroyok Endang Patibroto, sedangkan Wasi Surengpati sendiripun sudah menggerakkan tongkat ularnya. Pada saat terdengar seruan orang, nyaring sekali.
"Tahan semua senjata. Apakah orang-orang Nusabarung telah menjadi pengecut semua!”

Semua orang terkejut mendengar ucapan lantang ini dan untuk menghentikan pengeroyokan mereka sambil menoleh untuk memandang siapa yang mengeluarkan kata-kata itu. Mereka melihat seorang pemuda yang berpakaian sederhana telah berdiri disitu sambil mengangkat tangannya. Melihat pemuda itu, Wasi Surengpati menjadi marah.
"Orang muda lancang mulut. Apa maksudmu mengatakan kami pengecut?"
Pemuda itu bukan lain adalah Jayawijaya. Endang Patibroto terkejut dan diam-diam sesalkan kelancangan pemuda itu. Apakah dia tidak melihat bahwa kemunculannya dengan sikap seperti itu akan membahayakan dirinya sendiri?
"Kalian ini semua laki-laki yang gagah perkasa. Akan tetapi kalian sungguh tidak tahu malu dan curang mengeroyok seorang wanita! Apakah hal itu tidak membuat kalian menjadi pengecut? Tidak malukah kalian?"
Wajah Wasi Surengpati berubah kemerahan.
"Tangkap pemuda lancang mulut itu!” bentaknya dan seorang perajurit lalu meringkus Jayawijaya.
Dengan mudahnya dia dapat menangkap pemuda itu dan mengikat kedua tangannya dengan tali kepada sebuah tiang rumah. Jayawijaya tidak mampu melawan dan menyerah saja ditelikung. Akan tetapi mulutnya masih mengeluarkan kata-kata lantang.
"Perbuatan kalian ini jahat dan ingat siapa yang jahat akhirnya akan kalah. Yang jahat tidak akan mendapatkan perlindungan Hyang Widhi! Kanjeng Bibi, larilah selagi ada kesempatan!" Diapun berseru kepada Endang Patibroto.

Pemuda itu lebih mengkhawatirkan Endang patibroto dari pada dirinya sendiri. Akan tetapi, Wasi Surengpati kembali sudah menggerakkan tongkat ularnya menyerang Endang Patibroto. Cepat sekali serangannya itu dan tahu-tahu ujung tongkat itu telah menyambar dan menusuk ke arah dada Endang Patibroto. Akan tetapi wanita perkasa ini tidak menjadi gugup dengan serangannya itu. Tangan kirinya ditekuk dan diputar untuk menangkis sehingga tongkat itu terpental. Pada saat itu, lima orang senopati juga sudah menyerangnya dengan golok mereka yang datang menyambar dari segala jurusan. Endang Patibroto mengetahui dari sambaran angin serangan golok itu bahwa lima orang senopati itu bukan merupakan lawan yang lemah. Gerakan golok mereka cepat sekali dan juga mengandung tenaga yang kuat. Kini ia dikeroyok oleh enam orang yang merupakan lawan tangguh. Ia lalu mengerahkan aji Bayutantra yang membuat tubuhnya dapat bergerak seperti seekor burung Srikatan cepatnya, berkelebatan di antara sinar golok dan tongkat. Ia tidak hanya mengelak saja, melainkan juga membalas serangan enam orang pengeroyoknya dengan tamparan jari tangan dengan Aji Petni Nogo. Melihat betapa sambaran tangan wanita itu mengeluarkan suara angin berciutan enam pengeroyok itu menjadi gentar dan mereka mengeroyok dengan hati-hati. Puluhan perajurit tidak berani maju mengeroyok setelah empat orang di antara mereka roboh tadi. Pula, pengeroyokan enam orang itu sudah rapat dan tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk ikut mengeroyok. Pertandingan berlangsung seru bukan main. Enam orang itu dapat saling melindungi. Kalau Endang Patibroto membalas dengan tamparannya, tentu ada saja lawan yang mencoba untuk menangkis tamparan itu dengan senjata mereka. Dengan cara begini, sampai lewat limapuluh jurus, Endang Patibroto belum juga dapat merobohkan seorang di antara mereka. Bahkan ia terdesak oleh serangan bertubi-tubi dari enam orang pengeroyoknya itu. Sementara itu, diam-diam Wasi Surengpati merasa kagum dan juga penasaran bukan main. Harus diakuinya bahwa kalau dia sendiri yang maju melawan Endang Patibroto, tentu dia akan kalah. Bahkan dengan bantuan lima orang senopati yang terkenal sakti itupun dia masih belum mampu mengalahkan wanita itu.

Jayawijaya yang sudah diikat kepada tiang itu tidak mampu bergerak, akan tetapi dia masih dapat bersuara lantang.
"Curang, pengecut curang! Kalau memang berani, hadapilah kanjeng bibi satu lawan satu! Heii, apakah kalian semua tidak tahu malu dan bukan laki-laki sejati?"
Melihat pemuda itu masih ribut terus, prajurit yang tadi menangkapnya dan kini menjaganya, lalu menampar mulutnya.
“Plak-plak!" Dua kali mulut Jayawijaya ditampar dan bibirnya mengeluarkan darah. Akan tetapi pemuda itu tidak menghentikan teriakan-teriakannya, bahkan dia berani mencela Sang Adipati yang sejak tadi sudah menyembunyikan diri agar jangan terulang lagi dirinya ditangkap dan dijadikan sandera, seperti yang terjadi ketika Retna Wilis dikeroyok dahulu itu.
"Hai, Sang Adipati Nusabarung! Kenapa andika mendiamkan saja orang-orang andika melakukan pengeroyokan seperti pengecut yang curang? Tidak malukah andika kalau hal ini terdengar oleh orang-orang di luar kadipaten ini?" demikian Jayawijaya berteriak lagi.
"Plak-plak-plak!" Kembali prajurit itu menampar mulutnya dan kini lebih banyak lagi darah yang keluar dari mulut pemuda itu.
Endang Patibroto mendengar teriakan-teriakan ini dan ia merasa khawatir kalau-kalau pemuda itu akan dibunuh orang. Ia sendiri juga menyadari bahwa tidak mungkin terus bertahan oleh pengeroyokan itu, maka ia lalu mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo. Enam orang pengeroyoknya terkejut, bahkan terhuyung ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan Endang Patibroto untuk melompat ke arah Jayawijaya dan sekali sambar, prajurit yang menjaganya itu terpelanting dan terguling-guling. Cepat tangan Endang Patibroto bergerak membikin putus tali-tali pengikat, lalu memegang lengan Jayawijaya dan berkata,
"Mari kita pergi dari sini!"
Jayawijaya membiarkan dirinya ditarik oleh Endang Patibroto. Akan tetapi bagimana mungkin dia dapat lari secepat wanita sakti itu? Akhirnya, diapun diseret dan terangkat ke atas, dibawa lari Endang Patibroto seperti sebuah layang-layang. Jayawijaya memejamkan kedua matanya ketika melihat betapa cepatnya tubuhnya meluncur ke depan dan kakinya seperti tidak menginjak bumi lagi!

Akhirnya mereka tiba di pantai di mana Endang Patibroto menyembunyikan perahunya. Ia melompat ke dalam perahunya sambil menarik tangan Jayawijaya dan di lain saat mereka sudah meluncurkan perahu ke tengah lautan. Para senopati dan anak buahnya melakukan pengejaran, akan tetapi lari mereka jauh kalah cepat sehingga ketika mereka tiba di pantai, perahu yang ditumpangi Endang Patibroto sudah pergi jauh sekali.
Sambil mendayung perahunya, Endang Patibroto mengomeli pemuda itu.
"Anak-mas Jayawijaya, mengapa andika begitu lancang datang ke sana dan membahayakan diri sendiri? Semestinya andika tidak menegur mereka karena itu sama saja dengan melakukan usaha bunuh diri."
"Eh, mengapa, kanjeng bibi? Apa salahnya kalau saya menegur mereka? Mereka memang bersikap curang dan pengecut, dan pantas untuk ditegur!"
“Akan tetapi dengan berbuat seperti itu, andika memanggil bahaya maut!"
"Saya tidak berpikir demikian. Kalau Sang Hyang Widhi menghendaki teguran saya itu akan ada gunanya bagi mereka. Saya hanya ingin agar mereka itu mengubah perbuatan mereka yang tidak benar, mengubah jalan hidup mereka yang sesat."
"Aduh, anakmas. Tidakkah andika melihat bahwa engkau memanggil bahaya maut? Kalau mereka itu menyerangmu, andika akan mampu berbuat apakah? Tadi, baru menghadapi seorang prajurit saja, andika tidak mampu membela diri dan dapat diikat. Apa lagi kalau kakek bertongkat ular itu yang maju menyerangmu!"
Jayawijaya tersenyum lebar.
"Saya tidak takut, kanjeng bibi."
"Akan tetapi andika seorang pemuda yang lemah."
"Saya memang lemah dan tidak biasa berkelahi, akan tetapi Hyang Widhi adalah maha sakti dan maha kuasa. Tidak ada kekuatan di dunia ini yang akan mampu melawanNya. Karena itu saya tidak takut karena saya yakin bahwa Hyang Widhi pasti akan melindungi saya dari marabahaya."
"Hemmm, aku ingin melihatnya!" kata Endang Patibroto yang merasa jengkel mendengar jawaban itu.
"Kalau tadi tidak ada aku yang melepaskanmu dan menolongmu keluar dari sana, siapa yang akan dapat menyelamatkanmu?"
"Kanjeng Bibi, tidakkah andika melihat kekuasaan Hyang Widhi tadi telah bekerja? Hyang Widhi sudah menolong saya, melalui tangan kanjeng bibi! Tidakkah kanjeng bibi merasa bahwa Sang Hyang Widhi yang telah mempergunakan kanjeng bibi untuk menyelamatkan saya?"

Endang Patibroto tertegun mendengar ini. Ia teringat akan kata-kata suaminya bahwa manusia adalah mahluk yang selemah-lemahnya dan bahwa tanpa adanya kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, manusia ini tidak berdaya dalam hidupnya.

<<< Bagian 39                                                                                          Bagian 41 >>>

No comments:

Post a Comment