"Benar, akulah Endang Patibroto! Apakah anak-anakku itu lewat di sini?"
"Bukan
hanya lewat! Anakmu yang keparat itu telah menipu dan menghina kami!"
Endang
Patibroto mengerutkan alisnya.
"Hemm,
anakku bukan seorang penipu! Jangan andika berbohong kepadaku!"
"Bukan
penipu? Ia menyamar sebagai pria dan mengikuti sayembara yang kami adakan dan
memenangkan sayembara itu sehingga ia kami terima sebagai calon mantuku. Baru
kemudian kami mengetahui bahwa ia seorang wanita dan ia lalu melarikan diri.
Keparat gadis yang mengaku sebagai Joko Wilis itu!" Ketika mengucapkan
kata-kata ini, sang adipati marah sekali.
Endang
Patibroto tidak dapat menahan geli hatinya dan ia tertawa mendengar ulah Retna
Wilis itu. Ia dapat membayangkan betapa anaknya itu telah membuat geger
Nusabarung. Menyamar sebagai pria dan memenangkan sayembara untuk mendapatkan
seorang puteri!
"He-he-heh-hi-hik,
betapa lucunya! Apakah kalian semua telah menjadi buta tidak melihat bahwa ia
seorang wanita?" Girang hatinya karena mendapat keterangan bahwa anaknya
pernah berada di pulau ini.
"Setelah
dari sini, ia pergi kemanakah?"
"Siapa
tahu? Kami tidak mengetahuinya."
"Kalau
begitu, aku harus meninggalkan tempat ini untuk menyusulnya."
"Babo-babo,
nanti dulu, Endang Patibroto! Setelah andika berani datang ke sini, kami tidak
akan melepaskanmu begitu saja. Tinggalkan dulu kepalamu di sini, baru boleh
engkau pergi!" kata Wasi Surengpati sambil melintangkan tongkat ularnya.
Lima orang
senopati Nusabarung melihat Wasi Surengpati sudah siap menyerang Endang
Patibroto, juga lalu mengepung wanita itu.
"Endang
Patibroto, andika telah terkepung. Lebih baik menyerahkan diri untuk kami
tawan!" kata Wasi Surengpati yang mengerahkan kekuatan sihirnya, lalu
menuding dengan tongkat ularnya ke arah muka Endang Patibroto dan dia
membentak!
"Endang
Patibroto, berlututlah andika!"
Endang
Patibroto merasa betapa ada kekuatan aneh yang seolah memaksanya untuk
berlutut. Ia mengerahkan kekuatan batinnya untuk menolak dan ia lalu
mengeluarkan teriakan melengking yang mengejutkan semua orang. Itulah pekik
dengan aji Sardulo Bairowo. Suara melengking ini mengandung pengaruh yang amat
hebat dan sekaligus membuyarkan kekuatan sihir yang dikerahkan Wasi Surengpati.
Setelah melihat kakek itu menggerakkan tongkat ular dan mengerahkan kekuatan
sihir, baru Endang Patibroto teringat. Ketika ia menolong Jarot, putera Adipati
Pasisiran yang hendak dibunuh dua orang kakak tirinya, pendeta inipun membantu
kedua kakak tiri yang jahat itu! Ia melawan pendeta itu dan pendeta yang
memegang tongkat ular ini melarikan diri. Kiranya pendeta itu kini muncul di
Kadipaten Nusabarung dan berlagak sombong karena dia kini dibantu oleh banyak
orang!
"Pendeta
jahanam, kiranya engkau yang berlagak di sini!" bentaknya dan ia sudah
menerjang ke depan untuk mengirim pukulan mautnya kepada pendeta itu.
Wasi
Surengpati yang sudah pula teringat akan wanita perkasa yang dulu membantu
Jarot itu, menjadi marah sekali.
"Kita
basmi wanita jahat ini?" bentaknya seperti memberi isyarat kepada lima
orang senopati yang sudah mengepung Endang Patibroto.
Ki Wisokolo,
senopati pertama dari Nusabarung, agaknya dapat menduga bahwa wanita itu tentu
berilmu tinggi, maka ia pun segera berteriak kepada anak buahnya untuk
mengepung. Sedikitnya tigapuluh orang perajurit sudah mengepung tempat itu
dengan senjata di tangan. Namun Endang Patibroto tidak gentar sedikitpun.
"Aku
datang hanya hendak bertanya tentang kedua orang anakku, akan tetapi kalian
menyambut dengan senjata terhunus. Baiklah, kalau begitu aku tidak akan memberi
ampun kepadamu!" Begitu ia bergerak maju, empat orang perajurit telah
menyambutnya dengan tombak. Akan tetapi, sekali menggerakkan tangan kiri
menolak, empat batang tombak itu terpental dan tangan kanannya menampar ke
depan. Empat orang itu berteriak dan terpelanting roboh, tak dapat bangkit
kembali! Lima orang senopati itu kini menerjang ke depan dengan golok mereka,
mengeroyok Endang Patibroto, sedangkan Wasi Surengpati sendiripun sudah
menggerakkan tongkat ularnya. Pada saat terdengar seruan orang, nyaring sekali.
"Tahan
semua senjata. Apakah orang-orang Nusabarung telah menjadi pengecut semua!”
Semua orang
terkejut mendengar ucapan lantang ini dan untuk menghentikan pengeroyokan
mereka sambil menoleh untuk memandang siapa yang mengeluarkan kata-kata itu.
Mereka melihat seorang pemuda yang berpakaian sederhana telah berdiri disitu
sambil mengangkat tangannya. Melihat pemuda itu, Wasi Surengpati menjadi marah.
"Orang
muda lancang mulut. Apa maksudmu mengatakan kami pengecut?"
Pemuda itu
bukan lain adalah Jayawijaya. Endang Patibroto terkejut dan diam-diam sesalkan
kelancangan pemuda itu. Apakah dia tidak melihat bahwa kemunculannya dengan
sikap seperti itu akan membahayakan dirinya sendiri?
"Kalian
ini semua laki-laki yang gagah perkasa. Akan tetapi kalian sungguh tidak tahu
malu dan curang mengeroyok seorang wanita! Apakah hal itu tidak membuat kalian
menjadi pengecut? Tidak malukah kalian?"
Wajah Wasi
Surengpati berubah kemerahan.
"Tangkap
pemuda lancang mulut itu!” bentaknya dan seorang perajurit lalu meringkus
Jayawijaya.
Dengan
mudahnya dia dapat menangkap pemuda itu dan mengikat kedua tangannya dengan
tali kepada sebuah tiang rumah. Jayawijaya tidak mampu melawan dan menyerah
saja ditelikung. Akan tetapi mulutnya masih mengeluarkan kata-kata lantang.
"Perbuatan
kalian ini jahat dan ingat siapa yang jahat akhirnya akan kalah. Yang jahat
tidak akan mendapatkan perlindungan Hyang Widhi! Kanjeng Bibi, larilah selagi
ada kesempatan!" Diapun berseru kepada Endang Patibroto.
Pemuda itu
lebih mengkhawatirkan Endang patibroto dari pada dirinya sendiri. Akan tetapi,
Wasi Surengpati kembali sudah menggerakkan tongkat ularnya menyerang Endang
Patibroto. Cepat sekali serangannya itu dan tahu-tahu ujung tongkat itu telah
menyambar dan menusuk ke arah dada Endang Patibroto. Akan tetapi wanita perkasa
ini tidak menjadi gugup dengan serangannya itu. Tangan kirinya ditekuk dan
diputar untuk menangkis sehingga tongkat itu terpental. Pada saat itu, lima
orang senopati juga sudah menyerangnya dengan golok mereka yang datang
menyambar dari segala jurusan. Endang Patibroto mengetahui dari sambaran angin
serangan golok itu bahwa lima orang senopati itu bukan merupakan lawan yang lemah.
Gerakan golok mereka cepat sekali dan juga mengandung tenaga yang kuat. Kini ia
dikeroyok oleh enam orang yang merupakan lawan tangguh. Ia lalu mengerahkan aji
Bayutantra yang membuat tubuhnya dapat bergerak seperti seekor burung Srikatan
cepatnya, berkelebatan di antara sinar golok dan tongkat. Ia tidak hanya
mengelak saja, melainkan juga membalas serangan enam orang pengeroyoknya dengan
tamparan jari tangan dengan Aji Petni Nogo. Melihat betapa sambaran tangan
wanita itu mengeluarkan suara angin berciutan enam pengeroyok itu menjadi
gentar dan mereka mengeroyok dengan hati-hati. Puluhan perajurit tidak berani
maju mengeroyok setelah empat orang di antara mereka roboh tadi. Pula,
pengeroyokan enam orang itu sudah rapat dan tidak memberi kesempatan kepada
mereka untuk ikut mengeroyok. Pertandingan berlangsung seru bukan main. Enam
orang itu dapat saling melindungi. Kalau Endang Patibroto membalas dengan
tamparannya, tentu ada saja lawan yang mencoba untuk menangkis tamparan itu
dengan senjata mereka. Dengan cara begini, sampai lewat limapuluh jurus, Endang
Patibroto belum juga dapat merobohkan seorang di antara mereka. Bahkan ia
terdesak oleh serangan bertubi-tubi dari enam orang pengeroyoknya itu.
Sementara itu, diam-diam Wasi Surengpati merasa kagum dan juga penasaran bukan
main. Harus diakuinya bahwa kalau dia sendiri yang maju melawan Endang
Patibroto, tentu dia akan kalah. Bahkan dengan bantuan lima orang senopati yang
terkenal sakti itupun dia masih belum mampu mengalahkan wanita itu.
Jayawijaya
yang sudah diikat kepada tiang itu tidak mampu bergerak, akan tetapi dia masih
dapat bersuara lantang.
"Curang,
pengecut curang! Kalau memang berani, hadapilah kanjeng bibi satu lawan satu!
Heii, apakah kalian semua tidak tahu malu dan bukan laki-laki sejati?"
Melihat pemuda
itu masih ribut terus, prajurit yang tadi menangkapnya dan kini menjaganya,
lalu menampar mulutnya.
“Plak-plak!"
Dua kali mulut Jayawijaya ditampar dan bibirnya mengeluarkan darah. Akan tetapi
pemuda itu tidak menghentikan teriakan-teriakannya, bahkan dia berani mencela
Sang Adipati yang sejak tadi sudah menyembunyikan diri agar jangan terulang
lagi dirinya ditangkap dan dijadikan sandera, seperti yang terjadi ketika Retna
Wilis dikeroyok dahulu itu.
"Hai,
Sang Adipati Nusabarung! Kenapa andika mendiamkan saja orang-orang andika
melakukan pengeroyokan seperti pengecut yang curang? Tidak malukah andika kalau
hal ini terdengar oleh orang-orang di luar kadipaten ini?" demikian
Jayawijaya berteriak lagi.
"Plak-plak-plak!"
Kembali prajurit itu menampar mulutnya dan kini lebih banyak lagi darah yang
keluar dari mulut pemuda itu.
Endang
Patibroto mendengar teriakan-teriakan ini dan ia merasa khawatir kalau-kalau
pemuda itu akan dibunuh orang. Ia sendiri juga menyadari bahwa tidak mungkin
terus bertahan oleh pengeroyokan itu, maka ia lalu mengeluarkan pekik Sardulo
Bairowo. Enam orang pengeroyoknya terkejut, bahkan terhuyung ke belakang.
Kesempatan ini dipergunakan Endang Patibroto untuk melompat ke arah Jayawijaya
dan sekali sambar, prajurit yang menjaganya itu terpelanting dan
terguling-guling. Cepat tangan Endang Patibroto bergerak membikin putus
tali-tali pengikat, lalu memegang lengan Jayawijaya dan berkata,
"Mari
kita pergi dari sini!"
Jayawijaya
membiarkan dirinya ditarik oleh Endang Patibroto. Akan tetapi bagimana mungkin
dia dapat lari secepat wanita sakti itu? Akhirnya, diapun diseret dan terangkat
ke atas, dibawa lari Endang Patibroto seperti sebuah layang-layang. Jayawijaya
memejamkan kedua matanya ketika melihat betapa cepatnya tubuhnya meluncur ke
depan dan kakinya seperti tidak menginjak bumi lagi!
Akhirnya
mereka tiba di pantai di mana Endang Patibroto menyembunyikan perahunya. Ia
melompat ke dalam perahunya sambil menarik tangan Jayawijaya dan di lain saat
mereka sudah meluncurkan perahu ke tengah lautan. Para senopati dan anak
buahnya melakukan pengejaran, akan tetapi lari mereka jauh kalah cepat sehingga
ketika mereka tiba di pantai, perahu yang ditumpangi Endang Patibroto sudah
pergi jauh sekali.
Sambil
mendayung perahunya, Endang Patibroto mengomeli pemuda itu.
"Anak-mas
Jayawijaya, mengapa andika begitu lancang datang ke sana dan membahayakan diri
sendiri? Semestinya andika tidak menegur mereka karena itu sama saja dengan
melakukan usaha bunuh diri."
"Eh,
mengapa, kanjeng bibi? Apa salahnya kalau saya menegur mereka? Mereka memang
bersikap curang dan pengecut, dan pantas untuk ditegur!"
“Akan tetapi
dengan berbuat seperti itu, andika memanggil bahaya maut!"
"Saya
tidak berpikir demikian. Kalau Sang Hyang Widhi menghendaki teguran saya itu
akan ada gunanya bagi mereka. Saya hanya ingin agar mereka itu mengubah
perbuatan mereka yang tidak benar, mengubah jalan hidup mereka yang
sesat."
"Aduh,
anakmas. Tidakkah andika melihat bahwa engkau memanggil bahaya maut? Kalau
mereka itu menyerangmu, andika akan mampu berbuat apakah? Tadi, baru menghadapi
seorang prajurit saja, andika tidak mampu membela diri dan dapat diikat. Apa
lagi kalau kakek bertongkat ular itu yang maju menyerangmu!"
Jayawijaya
tersenyum lebar.
"Saya
tidak takut, kanjeng bibi."
"Akan
tetapi andika seorang pemuda yang lemah."
"Saya
memang lemah dan tidak biasa berkelahi, akan tetapi Hyang Widhi adalah maha
sakti dan maha kuasa. Tidak ada kekuatan di dunia ini yang akan mampu
melawanNya. Karena itu saya tidak takut karena saya yakin bahwa Hyang Widhi
pasti akan melindungi saya dari marabahaya."
"Hemmm,
aku ingin melihatnya!" kata Endang Patibroto yang merasa jengkel mendengar
jawaban itu.
"Kalau
tadi tidak ada aku yang melepaskanmu dan menolongmu keluar dari sana, siapa
yang akan dapat menyelamatkanmu?"
"Kanjeng
Bibi, tidakkah andika melihat kekuasaan Hyang Widhi tadi telah bekerja? Hyang
Widhi sudah menolong saya, melalui tangan kanjeng bibi! Tidakkah kanjeng bibi
merasa bahwa Sang Hyang Widhi yang telah mempergunakan kanjeng bibi untuk
menyelamatkan saya?"
Endang
Patibroto tertegun mendengar ini. Ia teringat akan kata-kata suaminya bahwa
manusia adalah mahluk yang selemah-lemahnya dan bahwa tanpa adanya kekuasaan
Tuhan Yang Maha Kuasa, manusia ini tidak berdaya dalam hidupnya.
<<< Bagian 39 Bagian 41 >>>
No comments:
Post a Comment