Teringatlah pula ia akan keterangan suaminya bahwa semua ilmu kadigdayaan yang dikuasainya adalah anugerah dari Hyang Widhi. Kalau begitu, betapa tepat ucapan Jayawijaya bahwa ia telah dipergunakan oleh Hyang Widhi untuk bergerak menolong pemuda itu. Bukan ia yang menolong, melainkan Hyang Widhi! Betapa penuh kerendahan hati terhadap Hyang Widhi, betapa penuh dan lengkapnya iman kepercayaan kepada Hyang Widhi.
"Wah
andika benar, anakmas. Aku yang telah terlupa. Agaknya seorang manusia seperti
andika ini selamanya akan mendapat perlindungan Hyang Widhi. Akan tetapi
setelah tiba di pantai daratan nanti, terpaksa kita harus berpisah dan aku
hanya memperingatkan andika agar lebih berhati-hati. Ingatlah bahwa di dunia
ini banyak sekali terdapat manusia yang jahat seperti iblis, yang tidak
segan-segan untuk mengganggu seorang pemuda tidak berdosa seperti
anakmas."
"Saya
tahu, kanjeng bibi. Karena itu, sayapun harus lebih giat memperingatkan dan
menasihati mereka."
Endang
Patibroto menghela napas dan mempercepat gerakan dayungnya sehingga perahu itu
meluncur dengan cepatnya menuju ke daratan yang sudah tampak dari situ. Setelah
tiba di daratan, Endang Patibroto berkata,
"Sekarang
aku harus meninggalkan andika untuk mencari jejak kedua orang anakku. Selamat
tinggal, anakmas Jayawiya. Semoga kita akan bertemu lagi kelak."
"Selamat
jalan, kanjeng bibi Endang Patibroto."
Endang
Patibroto menggerakan kedua kakinya dan lenyap dari depan pemuda itu karena ia
menggunakan aji Bayutantra. Melihat ini, Jayawijaya menarik napas panjang dan
berkata seorang diri.
"Kalau
saja semua orang yang memiliki kesaktian bersikap seperti kanjeng bibi Endang
Patibroto, alangkah tenteramnya dunia ini." Diapun melangkah dan
melanjutkan perjalanannya, tanpa tujuan tertentu, hanya menurutkan kata hati
dan langkah kakinya saja.
Bagus Seta dan
Retna Wilis yang telah berpisah dari Harjadenta yang kembali ke pegunungan
Raung. Kedua orang kakak beradik itu kembali menyusuri sepanjang pantai Laut
Kidul menuju ke timur. Mereka berjalan seenaknya, santai dan tidak
tergesa-gesa, sambil menikmati pemandangan alam yang amat indah di sepanjang
pantai Laut Kidul. Pantai itu kadang merupakan tanah yang landai ditutup pasir
putih yang kemilauan terkena cahaya matahari. Pantai pasir putih itu amat luas
dan merupakan pemandangan alam yang amat indahnya. Akan tetapi kadang pantai
itu berupa bukit-bukit yang menjulang tinggi dan ombak samudera terhempas pada dinding
karang yang kokoh kuat. Ombak yang menghantam dinding ini menimbulkan suara
dahsyat dan air pecah muncrat ke atas menimbulkan uap air yang tebal.
Pemandangan ini juga teramat indahnya dan memperlihatkan kebuasan dan
kedahsyatan air laut, berbeda kalau pantainya datar seperti pantai pasir putih
di mana air laut menjadi menipis mengeluarkan bunyi mendesis-desis seperti air
mendidih. Ketika mereka tiba di ujung pantai pasir putih, mereka berhadapan
dengan sebuah hutan di tepi pantai yang amat lebat. Pantai berhutan itu
merupakan perbukitan, akan tetapi hutannya amat lebat dan gelap menyeramkan.
"Kita
sekarang akan melalui jalan pendakian yang sukar karena hutannya amat lebat,
diajeng. Kita harus berhati-hati karena agaknya hutan ini mengandung hawa yang
angker."
Retna Wilis,
gadis yang tidak pernah mengenal rasa takut itu, tersenyum.
"Angker?
Kaumaksudkan hutan ini ada setannya kakang?"
"Setan
yang masih gentayangan tidak perlu kita takuti, akan tetapi kita harus waspada
terhadap setan yang sudah masuk ke dalam diri manusia. Manusia yang sudah
kesetanan itu dapat melakukan perbuatan amat jahat dan keji, adikku. Karena itu
kita perlu waspada dan hati-hati."
Mereka masuk
menyusup-nyusup di antara pohon-pohon raksasa dan semak-semak belukar. Bagus
Seta meminjam pedang Sapudenta milik adiknya untuk membabat semak yang
merintangi jalan mereka. Dia berjalan di depan membabati semak sedangkan Retna
Wilis berjalan di belakangnya. Hutan itu demikian lebatnya sehingga sinar
matahari tidak banyak yang menerobos masuk, membuat hutan itu gelap.
Retna Wilis
yang berjalan di belakang kakaknya memandang ke kanan kiri dengan penuh
kewaspadaan. Ia juga dapat merasakan keadaan hutan yang angker seolah di situ
terdapat banyak bahaya yang mengintai mereka. Tiba-tiba ia memegang lengan
kakaknya.
"Ada
apa?" tanya Bagus Seta ketika merasa betapa kuatnya cengkeraman tangan
adiknya.
"Sssttt,
kakang, aku merasa ada orang-orang atau entah makhluk apa mengintai kita."
"Di
mana?"
"Entahlah,
aku tadi seperti melihat banyak pasang mata mengintai dari balik semak belukar
akan tetapi sekarang sudah lenyap lagi. Kakang, aku merasa ngeri juga."
Bagus Seta
tersenyum.
"Jangan
katakan bahwa engkau takut, diajeng."
Retna Wilis
membusungkan dadanya.
"Takut?
Aku tidak takut, akan tetapi bicaramu tentang setan tadi membuat aku merasa
ngeri. Mari kita lanjutkan perjalanan kita."
Mereka
melanjutkan perjalanan. Bagus Seta tetap membabati semak yang menghalangi
perjalanan mereka, sedangkan Retna Wilis mengikuti dari belakang. Tiba-tiba, di
bawah sebatang pohon randu alas yang amat besar, terdengar suara dari atas.
"Kaaak-kaak
... !"
Otomatis Bagus
Seta dan Retna Wilis memandang ke atas dan mata mereka terbelalak lebar ketika
melihat seekor ular yang amat besar bergantung dengan ekornya pada sebatang cabang
pohon dan kepalanya tergantung di bawah. Kepala itu kini dengan moncong terbuka
lebar menyambar ke bawah menyerang mereka. Bagus Seta yang berada di depan
cepat menangkis dengan bacokan pedangnya.
"Wuuuttt
… crak … !" leher ular itu putus, kepalanya menggelinding ke bawah dan
tubuhnya melepaskan lilitan pada cabang pohon dan jatuh berdebuk di atas tanah.
"Shanti-shanti-shanti
... !" Bagus Seta berkata dengan penuh penyesalan.
"Terpaksa
aku harus membunuhmu, ular, karena engkau membahayakan keselamatan kami!"
"Kakang,
kenapa engkau menyesal membunuh ular jahat itu?"
"Ia tidak
jahat, diajeng."
"Tidak
jahat? Kalau engkau tidak membunuhnya, tentu kita sudah ditelannya bulat-bulat!
Ia buas dan liar, jahat sekali, dan kejam. Ia makan hewan yang tidak mampu melawannya,
menelannya bulat-bulat, apakah itu tidak jahat dan kejam namanya?"
"Sama
sekali tidak, adikku. Sudah ditakdirkan oleh Hyang Widhi bahwa ular hanya makan
binatang lain yang lebih kecil. Ia tidak dapat makan daun atau rumput. Kalau ia
tidak makan binatang yang lebih kecil, ia akan mati kelaparan, ia tadi
menyerang kita juga untuk mengisi perutnya yang kosong. Ia tidak buas,
melainkan bergerak menurut naluri dan kebutuhan badannya."
"Kalau
begitu, mengapa engkau membunuhnya, kakang?" bantah Retna Wilis penasaran.
"Aku
terpaksa membunuhnya untuk membela diri. Aku harus membunuhnya tadi, kalau
tidak tentu seorang di antara kita menjadi mangsanya. Akan tetapi aku menyesal
harus membunuhnya. Mari kita lanjutkan perjalanan ini."
Mereka
bergerak maju lagi dan baru belasan langkah, mereka berhenti lagi karena
terdengar suara aneh seperti raung anjing. Raung itu berkepanjangan terdengar
seperti keluhan dan terdengar dari segala penjuru seolah mengepung mereka.
"Kakang,
suara apakah itu?" tanya Retno Wilis. Betapapun tabahnya, ia merinding
juga mendengar suara aneh itu.
"Hemm,
aku tidak tahu. Agaknya seperti suara anjing meraung, atau mungkin srigala.
Mari kita maju terus, mencari tempat yang lebih lapang. Kalau berada di tengah
semak semak begini, akan sukar bagi kita untuk membela diri kalau muncul
bahaya."
Mereka maju
terus, tidak memperdulikan suara itu dan akhirnya mereka tiba di tempat
terbuka. Pohon-pohon agak jarang dan tidak terdapat semak belukar. Tanahnya
penuh rumput dan petak rumput ini cukup luas. Di tempat terbuka ini Retna Wilis
mendapatkan kembali ketabahannya dan kembali membusungkan dadanya ia menantang
dengan suara lantang.
"Heii,
kalian anjing-anjing liar atau srigala atau iblis setan bekasakan! Keluarlah
dan tandingilah kami, jangan hanya mengeluarkan suara seperti pengecut hendak
menakut-nakuti orang! Keluarlah kalian!"
Tidak
terdengar jawaban, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara berkerosakan di
sekeliling mereka seolah-olah banyak binatang hutan bergerak ke arah mereka.
Dua orang kakak beradik itu siap siaga dan Bagus Seta masih memegang pedang
pusaka Sapudenta milik Retna Wilis. Mereka berdiri, saling membelakangi untuk
saling melindungi. Akan tetapi yang muncul bukan anjing atau srigala, melainkan
duapuluh orang lebih yang berpakaian serba hitam! Muka mereka semua memakai
topeng srigala hitam dan yang tampak hanya sepasang mata mereka yang mencorong
seperti mata srigala. Mereka mengeluarkan suara seperti srigala
menggereng-gereng.
Retna Wilis
dan Bagus Seta memandang dengan heran. Siapakah orang-orang bertopeng ini?
Mereka memiliki tubuh yang kokoh kuat dan mereka kini telah mengepung kakak
beradik itu.
"Siapakah
kalian? Mau apa mengepung kami?" tanya Retna Wilis yang sudah siap untuk
mengamuk.
"Kami
kakak beradik kebetulan lewat di sini, kami tidak bermusuhan dengan
kalian!" Kata pula Bagus Seta yang sudah menyelipkan pedang Sapudenta di
ikat pinggangnya agar mereka ketahui bahwa dia tidak berniat untuk berkelahi.
Akan tetapi
duapuluh lebih orang bertopeng itu mengepung semakin rapat dan tiba-tiba mereka
semua mengeluarkan sebuah kantung hitam, merogoh ke dalam kantung dan mereka
menyambitkan bubuk hitam ke arah Bagus Seta dan Retna Wilis! Dua orang kakak
beradik ini tidak dapat mengelak karena dari sekeliling mereka menyambar bubuk
hitam itu. Mereka menahan napas dan memejamkan mata sambil menggerakkan tangan
untuk menangkis serangan. Akan tetapi tiba-tiba sebuah jala hitam menimpa dan
menutup mereka! Para pengepung itu mengeluarkan teriakan-teriakan girang
melihat betapa dua orang itu telah kena terjaring. Bagus Seta berkata lirih
kepada adiknya.
"Kita
menyerah, lihat perkembangan!"
Retna Wilis
tidak membantah dan iapun tidak meronta ketika ada tangan menelikung kedua
lengannya dari luar jaring. Bagus Seta menyuruh adiknya menyerah karena dia
ingin tahu apa yang akan mereka lakukan terhadap diri mereka berdua.
Orang-orang ini berusaha menangkap mereka, bukannya membunuh. Dia ingin tahu
mereka itu orang apa dan apa pula maksud mereka menawan dia dan adiknya.
Setelah mengikat kedua tangan Bagus Seta dan Retna Wilis ke belakang punggung,
orang-orang bertopeng itu lalu membuka jaring dan mendorong kedua orang tawanan
itu untuk melangkah maju mengikuti beberapa orang yang berjalan di depan.
Dengan kedua tangan terbelenggu, kakak beradik itupun melangkah mengikuti
mereka.
"Kenapa,
kakang?" tanya Retna Wilis lirih kepada kakaknya yang berjalan di
sampingnya. Ia merasa heran mengapa kakaknya minta agar ia menyerah.
"Kita
lihat mereka mau apa?” bisik Bagus Seta kembali.
"Diam
kalian!" terdengar bentakan dari belakang dan tahulah kedua orang kakak
beradik itu bahwa mereka adalah manusia-manusia biasa yang memakai topeng dan
berpakaian hitam, mungkin ini menunjukkan bahwa mereka adalah anggota-anggota
sebuah perkumpulan rahasia yang agaknya bersarang di hutan lebat itu.
Kini mereka
tiba di tengah hutan dan jalannya mendaki. Kemudian, di tengah-tengah hutan
pegunungan tepi laut itu tampak sebuah perkampungan. Ada puluhan rumah di situ,
rumah-rumah sederhana dan kecil yang mengelilingi sebuah rumah besar. Penduduk
perkampungan itu semua berpakaian serba hitam, akan tetapi muka mereka tidak
memakai topeng. Ada kanak-kanak, ada pula wanita, tidak berbeda dengan
perkampungan biasa. Hanya yang menyolok adalah pakaian mereka, semua mengenakan
pakaian serba hitam. Orang-orang yang tadi menangkap Bagus Seta dan Retna
Wilis, setelah tiba di perkampungan itu, segera melepaskan topeng mereka dan
mengantongi topeng itu. Agaknya topeng itu hanya dipakai kalau mereka keluar
dari perkampungan mereka. Banyak orang menyambut kedatangan duapuluh lebih
orang yang membawa dua tawanan itu. Mereka yang menyambut itu mengeluarkan
suara pujian akan kecantikan Retna Wilis dan ketampanan Bagus Seta dan sikap
mereka seperti penduduk kampung biasa, tidak seperti penjahat.
Dua orang
tawanan itu dibawa masuk ke rumah besar dan di sebuah ruangan yang luas, mereka
dihadapkan seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun yang
bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah. Empat orang anggota yang tadi membawa
Bagus Seta dan Retna Wilis masuk memberi hormat dengan sembah kepada laki-laki
berpakaian hitam akan tetapi mewah itu. Kedua lengannya yang kokoh memakai
gelang emas, lehernya juga mengenakan rantai besar dari emas, pakaiannya yang
hitam juga terbuat dari kain yang halus.
"Denmas
Haryosakti, kami mendapatkan kedua orang ini melanggar hutan wilayah kekuasaan
kita, maka kami menangkap mereka dan membawa mereka menghadap paduka untuk
mendapat keputuan." Seorang diantara empat orang itu melapor.
<<< Bagian 40 Bagian 42 >>>
No comments:
Post a Comment