Sepasang Garuda Putih ; Bagian 41


Teringatlah pula ia akan keterangan suaminya bahwa semua ilmu kadigdayaan yang dikuasainya adalah anugerah dari Hyang Widhi. Kalau begitu, betapa tepat ucapan Jayawijaya bahwa ia telah dipergunakan oleh Hyang Widhi untuk bergerak menolong pemuda itu. Bukan ia yang menolong, melainkan Hyang Widhi! Betapa penuh kerendahan hati terhadap Hyang Widhi, betapa penuh dan lengkapnya iman kepercayaan kepada Hyang Widhi.
"Wah andika benar, anakmas. Aku yang telah terlupa. Agaknya seorang manusia seperti andika ini selamanya akan mendapat perlindungan Hyang Widhi. Akan tetapi setelah tiba di pantai daratan nanti, terpaksa kita harus berpisah dan aku hanya memperingatkan andika agar lebih berhati-hati. Ingatlah bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat manusia yang jahat seperti iblis, yang tidak segan-segan untuk mengganggu seorang pemuda tidak berdosa seperti anakmas."
"Saya tahu, kanjeng bibi. Karena itu, sayapun harus lebih giat memperingatkan dan menasihati mereka."
Endang Patibroto menghela napas dan mempercepat gerakan dayungnya sehingga perahu itu meluncur dengan cepatnya menuju ke daratan yang sudah tampak dari situ. Setelah tiba di daratan, Endang Patibroto berkata,
"Sekarang aku harus meninggalkan andika untuk mencari jejak kedua orang anakku. Selamat tinggal, anakmas Jayawiya. Semoga kita akan bertemu lagi kelak."
"Selamat jalan, kanjeng bibi Endang Patibroto."
Endang Patibroto menggerakan kedua kakinya dan lenyap dari depan pemuda itu karena ia menggunakan aji Bayutantra. Melihat ini, Jayawijaya menarik napas panjang dan berkata seorang diri.
"Kalau saja semua orang yang memiliki kesaktian bersikap seperti kanjeng bibi Endang Patibroto, alangkah tenteramnya dunia ini." Diapun melangkah dan melanjutkan perjalanannya, tanpa tujuan tertentu, hanya menurutkan kata hati dan langkah kakinya saja.

Bagus Seta dan Retna Wilis yang telah berpisah dari Harjadenta yang kembali ke pegunungan Raung. Kedua orang kakak beradik itu kembali menyusuri sepanjang pantai Laut Kidul menuju ke timur. Mereka berjalan seenaknya, santai dan tidak tergesa-gesa, sambil menikmati pemandangan alam yang amat indah di sepanjang pantai Laut Kidul. Pantai itu kadang merupakan tanah yang landai ditutup pasir putih yang kemilauan terkena cahaya matahari. Pantai pasir putih itu amat luas dan merupakan pemandangan alam yang amat indahnya. Akan tetapi kadang pantai itu berupa bukit-bukit yang menjulang tinggi dan ombak samudera terhempas pada dinding karang yang kokoh kuat. Ombak yang menghantam dinding ini menimbulkan suara dahsyat dan air pecah muncrat ke atas menimbulkan uap air yang tebal. Pemandangan ini juga teramat indahnya dan memperlihatkan kebuasan dan kedahsyatan air laut, berbeda kalau pantainya datar seperti pantai pasir putih di mana air laut menjadi menipis mengeluarkan bunyi mendesis-desis seperti air mendidih. Ketika mereka tiba di ujung pantai pasir putih, mereka berhadapan dengan sebuah hutan di tepi pantai yang amat lebat. Pantai berhutan itu merupakan perbukitan, akan tetapi hutannya amat lebat dan gelap menyeramkan.
"Kita sekarang akan melalui jalan pendakian yang sukar karena hutannya amat lebat, diajeng. Kita harus berhati-hati karena agaknya hutan ini mengandung hawa yang angker."
Retna Wilis, gadis yang tidak pernah mengenal rasa takut itu, tersenyum.
"Angker? Kaumaksudkan hutan ini ada setannya kakang?"
"Setan yang masih gentayangan tidak perlu kita takuti, akan tetapi kita harus waspada terhadap setan yang sudah masuk ke dalam diri manusia. Manusia yang sudah kesetanan itu dapat melakukan perbuatan amat jahat dan keji, adikku. Karena itu kita perlu waspada dan hati-hati."
Mereka masuk menyusup-nyusup di antara pohon-pohon raksasa dan semak-semak belukar. Bagus Seta meminjam pedang Sapudenta milik adiknya untuk membabat semak yang merintangi jalan mereka. Dia berjalan di depan membabati semak sedangkan Retna Wilis berjalan di belakangnya. Hutan itu demikian lebatnya sehingga sinar matahari tidak banyak yang menerobos masuk, membuat hutan itu gelap.
Retna Wilis yang berjalan di belakang kakaknya memandang ke kanan kiri dengan penuh kewaspadaan. Ia juga dapat merasakan keadaan hutan yang angker seolah di situ terdapat banyak bahaya yang mengintai mereka. Tiba-tiba ia memegang lengan kakaknya.
"Ada apa?" tanya Bagus Seta ketika merasa betapa kuatnya cengkeraman tangan adiknya.
"Sssttt, kakang, aku merasa ada orang-orang atau entah makhluk apa mengintai kita."
"Di mana?"
"Entahlah, aku tadi seperti melihat banyak pasang mata mengintai dari balik semak belukar akan tetapi sekarang sudah lenyap lagi. Kakang, aku merasa ngeri juga."

Bagus Seta tersenyum.
"Jangan katakan bahwa engkau takut, diajeng."
Retna Wilis membusungkan dadanya.
"Takut? Aku tidak takut, akan tetapi bicaramu tentang setan tadi membuat aku merasa ngeri. Mari kita lanjutkan perjalanan kita."
Mereka melanjutkan perjalanan. Bagus Seta tetap membabati semak yang menghalangi perjalanan mereka, sedangkan Retna Wilis mengikuti dari belakang. Tiba-tiba, di bawah sebatang pohon randu alas yang amat besar, terdengar suara dari atas.
"Kaaak-kaak ... !"
Otomatis Bagus Seta dan Retna Wilis memandang ke atas dan mata mereka terbelalak lebar ketika melihat seekor ular yang amat besar bergantung dengan ekornya pada sebatang cabang pohon dan kepalanya tergantung di bawah. Kepala itu kini dengan moncong terbuka lebar menyambar ke bawah menyerang mereka. Bagus Seta yang berada di depan cepat menangkis dengan bacokan pedangnya.
"Wuuuttt … crak … !" leher ular itu putus, kepalanya menggelinding ke bawah dan tubuhnya melepaskan lilitan pada cabang pohon dan jatuh berdebuk di atas tanah.
"Shanti-shanti-shanti ... !" Bagus Seta berkata dengan penuh penyesalan.
"Terpaksa aku harus membunuhmu, ular, karena engkau membahayakan keselamatan kami!"
"Kakang, kenapa engkau menyesal membunuh ular jahat itu?"
"Ia tidak jahat, diajeng."
"Tidak jahat? Kalau engkau tidak membunuhnya, tentu kita sudah ditelannya bulat-bulat! Ia buas dan liar, jahat sekali, dan kejam. Ia makan hewan yang tidak mampu melawannya, menelannya bulat-bulat, apakah itu tidak jahat dan kejam namanya?"
"Sama sekali tidak, adikku. Sudah ditakdirkan oleh Hyang Widhi bahwa ular hanya makan binatang lain yang lebih kecil. Ia tidak dapat makan daun atau rumput. Kalau ia tidak makan binatang yang lebih kecil, ia akan mati kelaparan, ia tadi menyerang kita juga untuk mengisi perutnya yang kosong. Ia tidak buas, melainkan bergerak menurut naluri dan kebutuhan badannya."
"Kalau begitu, mengapa engkau membunuhnya, kakang?" bantah Retna Wilis penasaran.
"Aku terpaksa membunuhnya untuk membela diri. Aku harus membunuhnya tadi, kalau tidak tentu seorang di antara kita menjadi mangsanya. Akan tetapi aku menyesal harus membunuhnya. Mari kita lanjutkan perjalanan ini."

Mereka bergerak maju lagi dan baru belasan langkah, mereka berhenti lagi karena terdengar suara aneh seperti raung anjing. Raung itu berkepanjangan terdengar seperti keluhan dan terdengar dari segala penjuru seolah mengepung mereka.
"Kakang, suara apakah itu?" tanya Retno Wilis. Betapapun tabahnya, ia merinding juga mendengar suara aneh itu.
"Hemm, aku tidak tahu. Agaknya seperti suara anjing meraung, atau mungkin srigala. Mari kita maju terus, mencari tempat yang lebih lapang. Kalau berada di tengah semak semak begini, akan sukar bagi kita untuk membela diri kalau muncul bahaya."
Mereka maju terus, tidak memperdulikan suara itu dan akhirnya mereka tiba di tempat terbuka. Pohon-pohon agak jarang dan tidak terdapat semak belukar. Tanahnya penuh rumput dan petak rumput ini cukup luas. Di tempat terbuka ini Retna Wilis mendapatkan kembali ketabahannya dan kembali membusungkan dadanya ia menantang dengan suara lantang.
"Heii, kalian anjing-anjing liar atau srigala atau iblis setan bekasakan! Keluarlah dan tandingilah kami, jangan hanya mengeluarkan suara seperti pengecut hendak menakut-nakuti orang! Keluarlah kalian!"
Tidak terdengar jawaban, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara berkerosakan di sekeliling mereka seolah-olah banyak binatang hutan bergerak ke arah mereka. Dua orang kakak beradik itu siap siaga dan Bagus Seta masih memegang pedang pusaka Sapudenta milik Retna Wilis. Mereka berdiri, saling membelakangi untuk saling melindungi. Akan tetapi yang muncul bukan anjing atau srigala, melainkan duapuluh orang lebih yang berpakaian serba hitam! Muka mereka semua memakai topeng srigala hitam dan yang tampak hanya sepasang mata mereka yang mencorong seperti mata srigala. Mereka mengeluarkan suara seperti srigala menggereng-gereng.
Retna Wilis dan Bagus Seta memandang dengan heran. Siapakah orang-orang bertopeng ini? Mereka memiliki tubuh yang kokoh kuat dan mereka kini telah mengepung kakak beradik itu.
"Siapakah kalian? Mau apa mengepung kami?" tanya Retna Wilis yang sudah siap untuk mengamuk.
"Kami kakak beradik kebetulan lewat di sini, kami tidak bermusuhan dengan kalian!" Kata pula Bagus Seta yang sudah menyelipkan pedang Sapudenta di ikat pinggangnya agar mereka ketahui bahwa dia tidak berniat untuk berkelahi.
Akan tetapi duapuluh lebih orang bertopeng itu mengepung semakin rapat dan tiba-tiba mereka semua mengeluarkan sebuah kantung hitam, merogoh ke dalam kantung dan mereka menyambitkan bubuk hitam ke arah Bagus Seta dan Retna Wilis! Dua orang kakak beradik ini tidak dapat mengelak karena dari sekeliling mereka menyambar bubuk hitam itu. Mereka menahan napas dan memejamkan mata sambil menggerakkan tangan untuk menangkis serangan. Akan tetapi tiba-tiba sebuah jala hitam menimpa dan menutup mereka! Para pengepung itu mengeluarkan teriakan-teriakan girang melihat betapa dua orang itu telah kena terjaring. Bagus Seta berkata lirih kepada adiknya.
"Kita menyerah, lihat perkembangan!"

Retna Wilis tidak membantah dan iapun tidak meronta ketika ada tangan menelikung kedua lengannya dari luar jaring. Bagus Seta menyuruh adiknya menyerah karena dia ingin tahu apa yang akan mereka lakukan terhadap diri mereka berdua. Orang-orang ini berusaha menangkap mereka, bukannya membunuh. Dia ingin tahu mereka itu orang apa dan apa pula maksud mereka menawan dia dan adiknya. Setelah mengikat kedua tangan Bagus Seta dan Retna Wilis ke belakang punggung, orang-orang bertopeng itu lalu membuka jaring dan mendorong kedua orang tawanan itu untuk melangkah maju mengikuti beberapa orang yang berjalan di depan. Dengan kedua tangan terbelenggu, kakak beradik itupun melangkah mengikuti mereka.
"Kenapa, kakang?" tanya Retna Wilis lirih kepada kakaknya yang berjalan di sampingnya. Ia merasa heran mengapa kakaknya minta agar ia menyerah.
"Kita lihat mereka mau apa?” bisik Bagus Seta kembali.
"Diam kalian!" terdengar bentakan dari belakang dan tahulah kedua orang kakak beradik itu bahwa mereka adalah manusia-manusia biasa yang memakai topeng dan berpakaian hitam, mungkin ini menunjukkan bahwa mereka adalah anggota-anggota sebuah perkumpulan rahasia yang agaknya bersarang di hutan lebat itu.
Kini mereka tiba di tengah hutan dan jalannya mendaki. Kemudian, di tengah-tengah hutan pegunungan tepi laut itu tampak sebuah perkampungan. Ada puluhan rumah di situ, rumah-rumah sederhana dan kecil yang mengelilingi sebuah rumah besar. Penduduk perkampungan itu semua berpakaian serba hitam, akan tetapi muka mereka tidak memakai topeng. Ada kanak-kanak, ada pula wanita, tidak berbeda dengan perkampungan biasa. Hanya yang menyolok adalah pakaian mereka, semua mengenakan pakaian serba hitam. Orang-orang yang tadi menangkap Bagus Seta dan Retna Wilis, setelah tiba di perkampungan itu, segera melepaskan topeng mereka dan mengantongi topeng itu. Agaknya topeng itu hanya dipakai kalau mereka keluar dari perkampungan mereka. Banyak orang menyambut kedatangan duapuluh lebih orang yang membawa dua tawanan itu. Mereka yang menyambut itu mengeluarkan suara pujian akan kecantikan Retna Wilis dan ketampanan Bagus Seta dan sikap mereka seperti penduduk kampung biasa, tidak seperti penjahat.
Dua orang tawanan itu dibawa masuk ke rumah besar dan di sebuah ruangan yang luas, mereka dihadapkan seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah. Empat orang anggota yang tadi membawa Bagus Seta dan Retna Wilis masuk memberi hormat dengan sembah kepada laki-laki berpakaian hitam akan tetapi mewah itu. Kedua lengannya yang kokoh memakai gelang emas, lehernya juga mengenakan rantai besar dari emas, pakaiannya yang hitam juga terbuat dari kain yang halus.
"Denmas Haryosakti, kami mendapatkan kedua orang ini melanggar hutan wilayah kekuasaan kita, maka kami menangkap mereka dan membawa mereka menghadap paduka untuk mendapat keputuan." Seorang diantara empat orang itu melapor.

<<< Bagian 40                                                                                         Bagian 42 >>>

No comments:

Post a Comment