Orang yang disebut Denmas Haryosakti itu memandang kepada Bagus Seta, kemudian memandang kepada Retna Wilis dan dia tertawa bergelak sambil memuntir kumisnya yang mencuat ke kanan kiri. Dia melirik ke arah seorang wanita yang sebaya dengannya, wanita yang cantik dan berpakaian hitam tapi mewah. Belum habis dia tertawa, muncullah dua orang dari arah belakang. Mereka adalah seorang pemuda berusia duapuluh tahun lebih yang tampan dan gagah perkasa, dan seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun yang cantik jelita. Mereka segera mengambil tempat duduk di kanan kiri orang tua mereka. Retna Wilis menduga, bahwa kedua orang ini tentu putera puteri ketua gerombolan itu. Dan melihat wajah mereka yang elok, ia tahu bahwa mereka menuruni wajah ibu mereka yang cantik.
"Ayah,
siapakah kedua orang asing ini?" tanya si pemuda kepada kepala gerombolan
itu.
"Kenapa
mereka dibelenggu, ayah?"tanya si gadis cantik.
"Kasihan
kalau mereka dibelenggu, sebaiknya belenggu mereka itu dibuka saja ayah."
"Ha-ha-ha,
engkau benar, Sarmini. Hai, Blendong, bukakan tali pengikat tangan mereka,
kemudian keluarlah kalian dari sini."
Seorang di
antara empat anggauta itu bangkit, lalu menghampiri Bagus Seta dan Retna Wilis
dan membuka pengikat tangan mereka. Blendong, pemimpin rombongan yang menangkap
kedua orang muda itu, lalu menyerahkan sebatang pedang, yaitu pedang Sapudenta
yang tadi dia rampas dari ikat pinggang Bagus Seto.
"Ini
adalah pedang yang tadinya dibawa pemuda ini. Denmas." katanya.
Kepala
gerombolan yang bernama Haryosakti itu menerima pedang dan memberi isarat
kepada empat orang itu untuk keluar. Dia mengamati pedang yang sudan dihunusnya
itu dan tampak kaget.
"Ah,
pedang pusaka yang ampuh sekali!" katanya lalu meletakkan pedang bersarung
itu ke atas meja di depannya. Setelah itu, dia memandang kepada Bagus Seta dan
Retna Wilis yang masih berdiri di hadapannya.
"Silakan
kalian berdua duduk. Kalian tidak kami anggap sebagai tawanan, melainkan
sebagai tamu. Maafkan kekasaran anak buah kami, karena kalian telah melanggar
wilayah kami." kata Haryosakti dengan suaranya yang dalam dan nyaring.
"Tidak
ada yang perlu dimaafkan, karena kami juga bersalah telah melanggar wilayah
andika tanpa kami ketahui." jawab Bagus Seto.
"Kisanak,
siapakah namamu dan dari mana andika datang?"
"Nama
saya Bagus Seta dan saya datang dari Panjalu."
"Dari
Panjalu? Pantas andika demikian tampan. Orang-orang Panjalu terkenal tampan dan
cantik. Dan gadis cantik ini apamu?"
"Ia
bernama Retna Wilis dan ia adalah adik saya." Kata Bagus Seta terus
terang.
"Ha-ha-ha,
adikmu? Bagus, bagus sekali. Tadinya kusangka ia ini isterimu. Adikmu, ya?
Bagus sekali, ia cantik dan menarik." Dia lalu menoleh kepada isterinya
dan bertanya,
"Ibune,
tidakkah pantas kalau ia menjadi madumu?"
Isterinya
tidak menjawab, akan tetapi pemuda dan gadis itu tampak terkejut dan dengan
berbareng mereka berseru,
"Kanjeng
rama.!"
Akan tetapi Ki
Haryosakti melambaikan tangan ke arah kedua orang anaknya dan membentak,
"Diam
kalian!" Setelah itu dia kembali memandang Bagus Seta dan berkata.
"Anakmas
Bagus Seta, sekali lagi maafkan anak buah kami tadi yang telah bersikap kasar
kepada kalian. Ketahuilah bahwa kami adalah orang-orang perkumpulan Jambuko
Cemeng (Srigala Hitam) dan aku adalah pemimpin mereka, namaku Ki Haryosakti.
Sekarang kalian berdua menjadi tamu kehormatan kami dan untuk menghormati
kedatangan kalian, kami akan menyambutnya dengan sedikit pesta." Ki
Haryosakti lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan hidangan untuk
pesta mereka.
Tentu saja
Retna Wilis dan Bagus Seta juga mendengar ketika Ki Haryosakti tadi bertanya
kepada isterinya apakah tidak sudah pantas kalau Retna Wilis menjadi madunya.
Akan tetapi karena Retna Wilis melihat kakaknya diam dan tenang saja, iapun
pura-pura tidak tahu. Bagus Seta memang ingin mengetahui apa yang akan
dilakukan kepala gerombolan itu kepada dia dan adiknya. Diapun dapat menduga
bahwa Ki Haryosakti itu tentulah seorang yang sakti. Sinar matanya saja
mencorong penuh wibawa. Dan mengingat betapa anak buahnya juga rata-rata
memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, maka dapat dipastikan bahwa pemimpin
mereka ini memiliki kesaktian. Dia lalu mengajak Bagus Seta dan Retna Wilis
bercakap-cakap. Dia bertanya tentang Panjalu, siapa yang menjadi rajanya, dan
siapa pula patihnya.
"Patih
Panjalu adalah Ki Patih Tejalaksono, yaitu ayah kandung kami!" kata Retna
Wilis sambil meninggikan suaranya.
Mendengar ini,
Ki Haryosakti memandang dengan mata terbelalak dan terkejut.
"Ah, jadi
andika berdua ini putera puteri Ki Patih Tejolaksono yang amat terkenal itu.
Sungguh kebetulan sekali, kalau begitu kami tahu siapa adanya dua orang tamu
agung kami."
Pada saat itu,
seorang anggota datang menghadap.
"Hei, mau
apa kamu menghadap tanpa diperintah?" Ki Haryosakti membentak dan
mengerutkan alisnya.
"Ampun,
denmas." kata orang itu sambil menyembah.
"Saya
akan melaporkan bahwa lima orang anggota bajak laut Bala Cucut telah dapat
menerobos penjagaan kami dan sekarang mereka mangamuk di depan pintu
gerbang."
"Bodoh!
Hanya menghadapi lima orang saja kalian tidak mampu menundukkan mereka?"
"Mereka
tangguh sekali, denmas. Banyak anggota kita yang sudah tewas melawan
mereka."
"Babo-babo,
iblis laknat! Pergilah dan aku sendiri yang akan menandingi mereka!"
Anggota itu
bergegas pergi dan Ki Haryosakti sudah bangkit dari tempat duduknya. Dia
berkata kepada Bagus Seta dan Retna Wilis.
"Kebetulan
sekali ada pengacau mengganggu kesenangan kita, mari andika berdua menyaksikan
bagaimana kami memberi hajaran kepada para pengacau."
Bagus Seta dan
Retna Wilis ingin tahu apa yang telah terjadi maka mereka juga bangkit dan
mengikuti Ki Haryosakti yang melangkah keluar dari rumah besar itu dengan
langkah lebar. Setelah tiba diluar rumah, mereka melihat penduduk pedusunan itu
seperti dalam keadaan panik, dan Ki Haryosakti terus berjalan menuju ke pintu
gerbang pedusunan yang menjadi sarangnya itu. Dari jauh sudah terdengar
pertempuran itu. Orang-orang dari perkumpulan Jambuko Cemeng yang jumlahnya
belasan orang sedang bertempur melawan lima orang yang gerakannya gesit dan
sepak terjang mereka membuat para pengepung itu kocar kacir. Lima orang itu
terdiri dari lima orang laki-laki yang tinggi besar dan kelimanya bersenjatakan
golok besar yang mereka mainkan dengan hebat. Mudah dilihat betapa amukan lima
orang itu membuat para pengeroyok terdesak dan di antara mereka sudah banyak
yang roboh malang melintang. Sedikitnya ada tujuh orang anggauta Jambuko Cemeng
yang roboh dan terluka hebat atau mungkin tewas.
"Tahan
semua senjata dan mundur!" Ki Haryosakti membentak dengan suara nyaring.
Mendengar
bentakan suara yang amat dikenalnya itu semua pengeroyok menahan senjata mereka
dan berloncatan mundur dengan hati lega. Ketua mereka sudah tiba sehingga mereka
terbebas dari ancaman lima golok dari pihak musuh yang amat tangguh itu.
Bagus Seta dan
Retna Wilis juga melihat betapa ilmu golok lima orang itu memang hebat dan
tangguh sekali. Lima orang itu setelah melihat para pengeroyok mundur juga
menahan golok mereka dan menghadapi Ki Haryosakti dengan golok melintang di
dada dan sikap mereka menantang sekali.
"Babo-babo,
kalian orang-orang Bala Cucut mengapa mengamuk dan membikin kacau di
sini?" bentak Ki Haryosakti.
"Siapakah
kalian yang telah berani memasuki perkampungan kami?"
Seorang di
antara lima orang itu yang matanya lebar dan rambut kepalanya diikat dengan
kain merah, melangkah maju dan menjawab dengan suara lantang,
"Kami
adalah Lima Naga dari perkumpulan Bala Cucut. Kami hendak membikin perhitungan
karena sebulan yang lalu, beberapa orang anak buah kami telah dilukai oleh
orang-orang Jambuka Cemeng. Kami tidak terima!"
"Hemmm!"
kata Ki Haryosakti.
"Pihak
Bala Cucut yang bersalah, kini bahkan hendak menuntut kami! Ketahuilah, pada
waktu itu belasan orang anak buah Bala Cucut telah merampok penduduk dusun di
tepi pantai. Dusun itu termasuk wilayah kekuasaan kami. Tentu saja kami turun
tangan menghajar para bajak yang merampok itu. Bukankah Bala Cucut biasanya
bertindak di lautan? Kenapa menyerang dusun di pantai?"
"Kami
mencari rejeki di lautan atau di darat, apa hubungannya dengan Jambuko Cemeng?
Belasan anak buah kami luka, bahkan ada tiga orang yang tewas, maka hari ini
kami Lima Naga dari Bala Cucut datang menagih hutang kalian. Sekarang andika
keluar, apakah andika yang menjadi ketuanya?"
"Benar,
akulah Ki Haryosakli, ketua Jambuko Cemeng!"
"Kalau
begitu, berlututlah dan menyembah kepada kami untuk minta maaf, dan baru kami
akan menghabisi permusuhan ini. Juga sediakan upeti untuk kami bawa kepada ketua
kami, atau kalau andika menolak, kami akan membuat perkampungan Jambuko Cemeng
ini menjadi lautan api dan kami tumpas semua anggautanya!"
"Babo-babo,
sumbarmu seperti dapat mengeringkan lautan meruntuhkan gunung! Kita sama lihat
saja siapa yang berlutut dan menyembah minta ampun!" kata Ki Haryosakti
dan mendadak dia mengangkat kedua tangannya ke atas membentuk cakar setan dan
dia mengeluarkan suara yang demikian gemuruh dan menggetarkan semua orang yang
berada di situ.
"Lima
Naga perkumpulan Bala Cucut, kuperintahkan kalian untuk berlutut dan menyembah
kepada kami. Hayo berlutut!!"
Bentakan itu
mempunyai wibawa yang Kuat sekali dan hal ini terasa oleh Bagus Seta dan Retna
Wilis yang mengerahkan tenaga sakti mereka agar mereka tidak terpengaruh. Akan
tetapi lima orang jagoan dari perkumpulan bajak laut Bala Cucut itu tampak
gemetaran seluruh tubuh mereka. Agaknya mereka hendak melawan pula akan tetapi
kalah kuat dan dengan serentak mereka berlima menjatuhkan diri berlutut dan
menyembah kepada Ki Haryosakti! Melihat ini, Ki Haryosakti tertawa bergelak dan
semua anak buahnya ikut pula tertawa. Setelah mereka semua tertawa, agaknya
pengaruh ilmu sihir itupun membuyar dan Lima Naga dari perkumpulan bajak Bala
Cucut itu kelihatan seperti orang terkejut dan heran melihat diri sendiri
berlutut menyembah-nyembah. Mereka berloncatan berdiri dan mengayun-ayun golok
di atas kepala.
"Ki
Haryosakti jahanam! Jangan pergunakan ilmu setanmu, kalau memang andika gagah,
majulah dan lawan kami dengan menggunakan aji kanuragan!" tantang orang
yang bermata lebar dan agaknya menjadi pimpinan lima orang itu.
"Kalian
berlima hendak melawan aku? Ha-ha-ha, agaknya kalian sudah bosan hidup. Hayo
majulah, tidak usah satu-satu, majulah kalian berlima mengeroyok aku!"
kata Ki Haryosakti dan dia sudah menyambar tombaknya yang dibawakan oleh
seorang pengawalnya dari dalam.
Tombak itu
matanya mencorong dan mengandung hawa yang menggiriskan. Retna Wilis dan Bagus
Seta maklum bahwa tombak itu merupakan pusaka yang ampuh. Mereka berdua menghadapi
dua pihak yang bermusuhan dan tidak ingin mencampuri walaupun Retno Wilis
merasa khawatir kalau pihak tuan rumah yang akan dikeroyok lima itu akan kalah.
Ia tadi sudah melihat gerakan lima orang dari perkumpulan bajak Bala Cucut itu
yang cukup tangguh dan gerakan golok mereka berbahaya sekali. Setelah menyambar
tombaknya, Ki Haryosakti menghadapi lima orang lawannya. Akan tetapi pada saat
itu, dua orang anaknya, pemuda tampan yang bernama Saroji dan gadis cantik yang
bernama Sarmini, sudah dengan tangkasnya melompat ke depan ayahnya.
"Ayah,
ini tidak adil namanya. Masa lima orang mengeroyok ayah seorang? Kalau mau main
keroyokan, kita bisa mengerahkan seluruh anak buah kita! Tidak, ayah. Kalau
hendak mengadakan pertandingan, biar maju satu demi satu. Aku sendiri akan
melawan seorang di antara mereka!" kata Sarmini dengan lembut namun gagah
dan ia menghadapi lima orang itu tanpa rasa gentar sedikitpun.
"Sarmini
berkata benar, ayah. Akupun ingin menghadapi seorang di antara mereka, baru
nanti selebihnya ayah yang menandinginya."
Ki Haryosakti
tertawa bergelak, agaknya merasa bangga sekali dengan penampilan kedua orang
anaknya.
"Ha-ha-ha,
Lima Naga, kalian sudah mendengar sendiri usul kedua orang anakku. Nah,
sekarang puteriku Sarmini yang akan maju lebih dulu. Siapa diantara kalian
berlima yang sanggup melawannya?" Tentu saja Ki Haryosakti sudah pula
mengukur kepandaian lima orang itu ketika mengamuk tadi dan dia yakin bahwa
puterinya akan mampu mengalahkan seorang di antara mereka.
Orang termuda
dari Lima Naga itu lalu melangkah ke depan.
"Aku yang
akan menandinginya!" Setelah berkata demikian dia mengayun goloknya di
atas kepala hendak menakut-nakuti gadis cantik itu dengan sikapnya yang bengis.
Sarmini melangkah ke depan menghadapi orang itu. Sambil menatap wajah orang itu
dengan tajam, ia bertanya,
"Engkau
hendak bertanding menggunakan senjata atau tangan kosong?"
<<< Bagian 41 Bagian 43 >>>
No comments:
Post a Comment