Sepasang Garuda Putih ; Bagian 43


Retna Wilis tersenyum dan kagum juga akan ketenangan gadis itu. Melihat sikapnya yang demikian tenang sudah dapat ia menduga bahwa gadis itu bukan sekedar berlagak, melainkan memiliki aji kanuragan yang boleh diandalkan. Orang ke lima dari Lima Naga itu adalah seorang laki-laki berusia empatpuluhan tahun yang memiliki watak mata keranjang. Karena watak inilah maka ketika gadis cantik itu maju menantang, dia segera maju menghadapinya. Sekarang mendengar pertanyaan gadis itu, dia pikir kalau bertanding dengan tangan kosong, lebih banyak kesempatan baginya untuk beradu lengan, mencolek atau mengusap gadis yang berwajah cantik dan bertubuh sintal itu.
"Ha-ha-ha, melawan seorang gadis cilik seperti andika tidak perlu menggunakan golok," katanya sambil menyelipkan goloknya di punggung.
"Mari kita bertanding dengan tangan kosong saja!"
"Bagus! Mari kita mulai pertandingan ini!" kata Sarmini dan iapun sudah memasang kuda-kuda yang indah dan gagah sekali. Kaki kanan di depan dengan lutut agak di bengkokan, kaki kiri di belakang, tangan kanan yang dikepal ditaruh di pinggang sedangkan tangan kiri dengan jari terbuka di depan dada!

Melihat kuda-kuda yang dipasang gadis itu, orang ke lima dari Lima Naga yang memelihara jenggot seperti kambing tertawa dan memandang rendah.
"Engkau maju dan mulailah dulu, aku akan melayanimu!" katanya sambil tersenyum dan berlagak.
"Lihat serangan!" tiba-tiba Sarmini membentak dan tubuhnya sudah cepat bergerak maju menyerang. Kaki kirinya dilangkahkan ke depan dan tangan kirinya membuat gerakan mencengkeram ke arah mata lawan, sedangkan tangan kanannya menyusul dengan pukulan ke arah perut! Serangan ini cepat dan dari sambaran anginnya dapat diketahui bahwa pukulan-pukulan itu mengandung tenaga yang kuat.
"Haiiiit ... !" Dengan berlagak si jenggot kambing itu memutar tubuh menghindari cengkeraman ke arah matanya dan tangan kirinya digerakkan dari samping untuk menangkis dan sekaligus menangkap tangan kanan gadis itu yang memukul ke arah perutnya.
Namun Sarmini gesit sekali. Ia sudah menarik kembali tangan kanannya yang hendak ditangkap itu, kemudian ia mengirim tendangan dengan kaki kiri. Kakinya mencuat tinggi menuju dada lawan.
"Eeh ... ?" Si Jenggot kambing terkejut sekali karena hampir saja ulu hatinya tercium ujung kaki. Terpaksa dia melompat ke belakang, lalu membalas serangan gadis itu yang datangnya bertubi-tubi. Namun Sarmini amat gesitnya dan selalu dapat menghindarkan diri dari serangan balasan itu dengan jalan mengelak.
Pertandingan sudah berlangsung empatpuluh jurus dan keadaan mereka seimbang. Si Jenggot kambing itu memiliki pukulan yang lebih mantap akan tetapi Sarrnini jelas lebih cepat gerakannya sehingga ia yang lebih banyak menekan dan mendesak. Tiba-tiba Sarmini menerjang lagi dan sekali ini ia bergerak sambil, mengeluarkan teriakan melengking tinggi. Mendengar lengking nyaring ini, si jenggot kambing terkejut bukan main dan saking kagetnya, gerakannya menjadi lambat dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, tiba-tiba Sarmini meloncat dan kedua kakinya mendarat di dadanya!
"Bresss ... !!" Si jenggot kambing terjengkang dan terbanting keras ke atas tanah. Sebelum Sarmini dapat menyusulkan serangan lanjutan, dia sudah mencabut goloknya dan memutar golok itu melindungi tubuhnya. Sarmini meloncat ke belakang.
"Pengecut! Kau menggunakan senjata!"
Si jenggot kambing itu bangkit berdiri, dengan muka merah dan dia berkata,
"Aku memang terdesak dalam pertandingan dengan tangan kosong. Akan tetapi bukan berarti bahwa aku telah kalah. Aku tantang padamu untuk bertanding dengan senjata!"
Ucapannya dikeluarkan dengan suara lantang untuk menutupi rasa malunya karena dalam pertandingan tangan kosong tadi jelas bahwa dia sudah kalah. Sarmini tersenyum manis.
"Engkau yang menentukan, kalau nanti engkau mampus di ujung kerisku jangan menyalahkan aku!" katanya sambil mencabut sebatang keris dari ikat pinggangnya.

Keris itu kecil saja, hanya dua jengkal panjangnya dan tidak berluk, namun ada sinar mencuat keluar ketika ia mencabutnya. Setelah melihat gadis itu mancabut kerisnya, si jenggot kambing tidak berlagak lagi seperti tadi, melainkan segera memutar goloknya di atas kepala sehingga golok itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan mengeluarkan suara bercuitan. Melihat ini, Retna Wilis mengkhawatirkan Sarmini, akan tetapi Bagus Seta yang berdiri di dekatnya berbisik,
"Ia tidak akan kalah."
Si jenggot kambing sudah menyerang dengan sambaran goloknya ke arah leher Sarmini. Namun gadis ini dengan lincah dan dengan gerakan indah mengelak dengan loncatan ke kiri dan dari situ ia membalas dengan tusukan kerisnya ke lambung lawan. Lawannya dapat mengelak sambil memutar golok melindungi lambungnya, kemudian menusukkan goloknya ke arah dada Sarmini. Namun serangan inipun dengan mudah dapat dihindarkan Sarmini dengan miringkan tubuhnya. Terjadilah serang menyerang yang lebih ramai dan menegangkan dari pada pertandingan tangan kosong tadi. Kini si jenggot kambing tidak lagi membiarkan hatinya terpikat kecantikan gadis itu, melainkan dia berusaha keras untuk menebus kekalahannya. Kalau perlu melukai atau bahkan membunuh lawannya. Setiap kali golok bertemu keris, terdengar suara berdencing nyaring dan tampak bunga api berpijar menyilaukan mata dan menegangkan hati. Kembali tigapuluh jurus telah lewat dan belum ada yang tampak mendesak atau terdesak. Ketika golok itu kembali meluncur dan membacoknya dari atas ke bawah, ke arah kepalanya, seolah hendak membelah tubuh gadis itu menjadi dua, dengan indahnya Sarmini mengelak kekanan dan kini secepat kilat kerisnya menyambar ke arah tangan yang memegang golok.
"Lepaskan ... !" bentaknya nyaring dan si jenggot kambing mengeluarkan teriakan mengaduh dan goloknya terlepas dari tangannya yang kini sudah berdarah, terluka oleh tusukan keris Sarmini.
Sarmini menyusulkan tendangannya yang mengenai dada lawan dan tak dapat dihindarkan lagi tubuh si jenggot kambing itu untuk ke dua kalinya terjengkang! Dia merangkak bangun, terhuyung dan kembali ke rombongannya, wajahnya merah karena malu. Sarmini menggunakan kakinya untuk menendang golok yang terjatuh itu sehingga golok itu mencelat ke dekat kaki pemilik yang memungutnya dengan muka ditundukkan. Tepuk sorak menyambut kemenangan Sarmini itu dan semua anak buah Jambuko Cemeng merasa girang dengan kemenangan puteri ketua mereka. Kini Saroji melangkah maju menggantikan adiknya. Sambil tersenyum dia menantang.
"Siapa yang akan melawan aku?"

Sementara itu, Sarmini sudah kembali ke dekat ayahnya. Ia mendekati Bagus Seta dan Retna Wilis, tersenyum bangga.
"Waduh, diajeng, ternyata engkau seorang gadis yang sakti!" Retna Wilis memuji.
"Ah, lawanku itu saja yang hanya besar mulut akan tetapi tidak berisi." jawab Sarmini sambil mengerling ke arah Bagus Seta. Karena beberapa kali dilirik, Bagus Seta merasa tidak enak kalau berdiam saja.
"Andika memang hebat, dapat mengalahkan seorang yang digdaya seperti dia."
Dipuji demikian, Sarmini tersipu dan senyumnya semakin manis. Ia lalu mendekati ayahnya yang merasa girang dan merangkul puterinya dengan bangga. Agaknya kini baru terbuka mata lima orang dari perkumpulan bajak Bala Cucut itu betapa hebatnya kepandaian pimpinan Jambuko Cemeng. Melihat kehebatan gadis yang telah mengalahkan saudara termudanya, pimpinan Lima Naga itu tidak mau bertindak gegabah. Dia dapat menduga bahwa tingkat kepandaian pemuda itu tentu lebih tinggi dari pada tingkat adiknya. Oleh karena itu, dia sendiri yang melangkah maju menghadapi Saroji.
"Akulah yang akan menghadapimu, orang muda. Aku tantang engkau untuk bertanding dengan senjata!" Dia memutar-mutar goloknya di atas kepala sehingga mengeluarkan bunyi berdesing-desing menyeramkan.
"Baik,” kata Saroji dan dia menoleh kepada ayahnya.
Ki Haryosakti tertawa dan dia melemparkan tombak yang dipegangnya kepada puteranya sambil berseru,
"Pergunakan tombakku!"
Saroji menerima lontaran tombak itu dengan cekatan dan dia melintangkan tombak itu di depan dadanya dan berseru,
"Silakan maju, aku sudah siap!"
Si mata lebar juga tidak sungkan lagi. Begitu melihat pemuda itu menggunakan tombak yang dilontarkan ayahnya, dia lalu menerjang maju sambil memutar goloknya. Pemuda itu menangkis dengan tombaknya.
"Trang-cring-tranggg ... !!" Terdengar bunyi nyaring berdenting berulang kali disusul muncratnya bunga api yang berpijar.

Mereka merasa betapa senjata mereka bertemu dengan tenaga yang kuat. Mereka menarik kembali senjata masing-masing untuk memeriksa. Setelah melihat bahwa senjata mereka tidak rusak, mereka lalu saling serang lagi dengan hebatnya. Ilmu kepandaian si mata lebar ini memang setingkat lebih tinggi dari pada kepandaian rekan-rekannya, akan tetapi Saroji juga telah memiliki ilmu kepandaian tinggi yang diwarisi dari ayahnya. Kedua orang yang bertanding mati-matian itu bergerak cepat sekali sehingga tubuh mereka berkelebatan di antara sinar golok dan tombak. Retna Wilis memandang kagum. Pemuda itu cukup tangguh, pikirnya dan ia dapat menduga bahwa bajak bermata lebar itu tentu akan kalah. Pertandingan sudah berlangsung limapuluh jurus dan mulai tampak tanda-tanda bahwa bajak itu mulai terdesak mundur dan pernapasannya sudah ngos-ngosan. Sebaliknya, gerakan tombak Saroji semakin mantap. Ketika mendapat kesempatan baik, Saroji mengeluarkan bentakan nyaring. Bentakan ini sama dengan bentakan adiknya tadi, mengandung wibawa dan pengaruh kuat sehingga Retna Wilis dan Bagus Seta tahu bahwa dua orang kakak beradik itu sudah menerima latihan kekuatan bathin dari ayahnya.
Si mata lebar juga terkejut. Dia tahu bahwa lawannya yang muda mengerahkan aji lewat bentakannya. Dia mengerahkan tenaga untuk menolak, akan tetapi kekagetannya yang hanya sejenak itu merugikannya. Kesempatan selagi dia terkejut tadi sudah dipergunakan oleh Saroji untuk menggerakkan tombaknya menyapu kedua kaki lawan. Si mata lebar tidak mampu mengelak dan kedua kakinya kena diserampang, membuat dia roboh terpelanting dan pada saat dia roboh, Saroji sudah menusukkan ujung tombaknya pada tangan kanannya yang memegang golok. Tangannya terluka dan golok itupun terlepas dari pegangannya. Dia hendak melompat bangun, akan tetapi secepat kilat ujung tombak sudah menodong dadanya sehingga terpaksa dia diam tidak berani bergerak.
"Engkau telah kalah!" kata Saroji kepada pemimpin Lima Naga itu.
Si mata lebar menjadi pucat mukanya, lalu berubah merah dan dengan suara berat dia mengakui.
"Aku sudah kalah!"
Saroji menarik kembali tombaknya dan tersenyum sambil mundur mendekati ayahnya dan mengembalikan tombak itu. Bagus Seta merasa senang melihat sikap Sarmini dan Saroji. Dua orang muda ini berhati baik, tidak kejam terhadap musuh sehingga tidak membunuh atau melukai berat. Dua sifat baik ini dia catat dalam hatinya.
"Bagus ilmu tombaknya," Retna Wilis juga memuji dan Bagus Seto melirik ke arah adiknya yang memandang ke arah pemuda itu dengan kagum.
"Wataknya juga baik," kata Bagus Seta sambil tersenyum.

Kini Ki Haryosakti melangkah maju membawa tombaknya.
"Dua orang di antara kalian berlima sudah kalah. Sekarang tinggal tiga orang lagi di antara kalian. Kalian bertiga boleh maju kalau masih penasaran, dan kalian bertiga boleh maju bersama untuk mengeroyok aku! Dua orang yang sudah kalah, kalau tidak mengenal malu, boleh maju pula membantu!"
Tantangan ini hebat. Lima Naga itu jelas memiliki ilmu kepandaian tinggi dan biarpun mereka tidak akan menang melawan Ki Haryosakti kalau maju satu-satu, akan tetapi ketua Jambuko Cemeng ini menantang mereka bertiga, bahkan berlima! Akan tetapi ucapannya membuat si mata lebar dan si jenggot kambing merasa malu untuk maju lagi karena mereka memang sudah kalah. Kini tiga orang dari mereka melompat maju sambil menggerakkan golok, dan mereka merasa berbesar hati. Biarpun kedua orang rekan mereka sudah kalah, mereka bertiga belum kalah. Dan biarpun kini yang dihadapi adalah ketua Jambuko Cemeng sendiri yang tentu lebih tinggi tingkat kepandaiannya, namun mereka maju bertiga. Tidak mungkin mereka bertiga kalah oleh seorang lawan saja!
"Kakang, mengapa dia begitu berani?” bisik Retna Wilis kepada kakaknya sambil memandang kepada tiga orang yang sudah berhadapan dengan Ki Haryosakti.
Bagus Seto tersenyum.
"Dia sudah melihat tingkat kepandaian mereka, tentu saja dia menjadi berani karena sebelumnya sudah tahu bahwa dia akan menang."
Kini berlangsunglah pertandingan yang mendebarkan hati. Ki Haryosakti melawan tiga orang pengeroyok yang mempergunakan golok mereka. Dan tiga orang itu tidak hanya main-main, melainkan mengeroyok dengan niat membunuh.

<<< Bagian 42                                                                                         Bagian 44 >>>

No comments:

Post a Comment