Retna Wilis tersenyum dan kagum juga akan ketenangan gadis itu. Melihat sikapnya yang demikian tenang sudah dapat ia menduga bahwa gadis itu bukan sekedar berlagak, melainkan memiliki aji kanuragan yang boleh diandalkan. Orang ke lima dari Lima Naga itu adalah seorang laki-laki berusia empatpuluhan tahun yang memiliki watak mata keranjang. Karena watak inilah maka ketika gadis cantik itu maju menantang, dia segera maju menghadapinya. Sekarang mendengar pertanyaan gadis itu, dia pikir kalau bertanding dengan tangan kosong, lebih banyak kesempatan baginya untuk beradu lengan, mencolek atau mengusap gadis yang berwajah cantik dan bertubuh sintal itu.
"Ha-ha-ha,
melawan seorang gadis cilik seperti andika tidak perlu menggunakan golok,"
katanya sambil menyelipkan goloknya di punggung.
"Mari
kita bertanding dengan tangan kosong saja!"
"Bagus!
Mari kita mulai pertandingan ini!" kata Sarmini dan iapun sudah memasang
kuda-kuda yang indah dan gagah sekali. Kaki kanan di depan dengan lutut agak di
bengkokan, kaki kiri di belakang, tangan kanan yang dikepal ditaruh di pinggang
sedangkan tangan kiri dengan jari terbuka di depan dada!
Melihat
kuda-kuda yang dipasang gadis itu, orang ke lima dari Lima Naga yang memelihara
jenggot seperti kambing tertawa dan memandang rendah.
"Engkau
maju dan mulailah dulu, aku akan melayanimu!" katanya sambil tersenyum dan
berlagak.
"Lihat
serangan!" tiba-tiba Sarmini membentak dan tubuhnya sudah cepat bergerak
maju menyerang. Kaki kirinya dilangkahkan ke depan dan tangan kirinya membuat
gerakan mencengkeram ke arah mata lawan, sedangkan tangan kanannya menyusul
dengan pukulan ke arah perut! Serangan ini cepat dan dari sambaran anginnya
dapat diketahui bahwa pukulan-pukulan itu mengandung tenaga yang kuat.
"Haiiiit
... !" Dengan berlagak si jenggot kambing itu memutar tubuh menghindari
cengkeraman ke arah matanya dan tangan kirinya digerakkan dari samping untuk
menangkis dan sekaligus menangkap tangan kanan gadis itu yang memukul ke arah
perutnya.
Namun Sarmini
gesit sekali. Ia sudah menarik kembali tangan kanannya yang hendak ditangkap
itu, kemudian ia mengirim tendangan dengan kaki kiri. Kakinya mencuat tinggi
menuju dada lawan.
"Eeh ...
?" Si Jenggot kambing terkejut sekali karena hampir saja ulu hatinya
tercium ujung kaki. Terpaksa dia melompat ke belakang, lalu membalas serangan
gadis itu yang datangnya bertubi-tubi. Namun Sarmini amat gesitnya dan selalu
dapat menghindarkan diri dari serangan balasan itu dengan jalan mengelak.
Pertandingan
sudah berlangsung empatpuluh jurus dan keadaan mereka seimbang. Si Jenggot
kambing itu memiliki pukulan yang lebih mantap akan tetapi Sarrnini jelas lebih
cepat gerakannya sehingga ia yang lebih banyak menekan dan mendesak. Tiba-tiba
Sarmini menerjang lagi dan sekali ini ia bergerak sambil, mengeluarkan teriakan
melengking tinggi. Mendengar lengking nyaring ini, si jenggot kambing terkejut
bukan main dan saking kagetnya, gerakannya menjadi lambat dan sebelum dia tahu
apa yang terjadi, tiba-tiba Sarmini meloncat dan kedua kakinya mendarat di
dadanya!
"Bresss
... !!" Si jenggot kambing terjengkang dan terbanting keras ke atas tanah.
Sebelum Sarmini dapat menyusulkan serangan lanjutan, dia sudah mencabut
goloknya dan memutar golok itu melindungi tubuhnya. Sarmini meloncat ke
belakang.
"Pengecut!
Kau menggunakan senjata!"
Si jenggot
kambing itu bangkit berdiri, dengan muka merah dan dia berkata,
"Aku
memang terdesak dalam pertandingan dengan tangan kosong. Akan tetapi bukan
berarti bahwa aku telah kalah. Aku tantang padamu untuk bertanding dengan
senjata!"
Ucapannya
dikeluarkan dengan suara lantang untuk menutupi rasa malunya karena dalam
pertandingan tangan kosong tadi jelas bahwa dia sudah kalah. Sarmini tersenyum
manis.
"Engkau
yang menentukan, kalau nanti engkau mampus di ujung kerisku jangan menyalahkan
aku!" katanya sambil mencabut sebatang keris dari ikat pinggangnya.
Keris itu
kecil saja, hanya dua jengkal panjangnya dan tidak berluk, namun ada sinar
mencuat keluar ketika ia mencabutnya. Setelah melihat gadis itu mancabut
kerisnya, si jenggot kambing tidak berlagak lagi seperti tadi, melainkan segera
memutar goloknya di atas kepala sehingga golok itu berubah menjadi sinar
bergulung-gulung dan mengeluarkan suara bercuitan. Melihat ini, Retna Wilis
mengkhawatirkan Sarmini, akan tetapi Bagus Seta yang berdiri di dekatnya
berbisik,
"Ia tidak
akan kalah."
Si jenggot
kambing sudah menyerang dengan sambaran goloknya ke arah leher Sarmini. Namun
gadis ini dengan lincah dan dengan gerakan indah mengelak dengan loncatan ke
kiri dan dari situ ia membalas dengan tusukan kerisnya ke lambung lawan.
Lawannya dapat mengelak sambil memutar golok melindungi lambungnya, kemudian
menusukkan goloknya ke arah dada Sarmini. Namun serangan inipun dengan mudah
dapat dihindarkan Sarmini dengan miringkan tubuhnya. Terjadilah serang
menyerang yang lebih ramai dan menegangkan dari pada pertandingan tangan kosong
tadi. Kini si jenggot kambing tidak lagi membiarkan hatinya terpikat kecantikan
gadis itu, melainkan dia berusaha keras untuk menebus kekalahannya. Kalau perlu
melukai atau bahkan membunuh lawannya. Setiap kali golok bertemu keris,
terdengar suara berdencing nyaring dan tampak bunga api berpijar menyilaukan
mata dan menegangkan hati. Kembali tigapuluh jurus telah lewat dan belum ada
yang tampak mendesak atau terdesak. Ketika golok itu kembali meluncur dan
membacoknya dari atas ke bawah, ke arah kepalanya, seolah hendak membelah tubuh
gadis itu menjadi dua, dengan indahnya Sarmini mengelak kekanan dan kini
secepat kilat kerisnya menyambar ke arah tangan yang memegang golok.
"Lepaskan
... !" bentaknya nyaring dan si jenggot kambing mengeluarkan teriakan
mengaduh dan goloknya terlepas dari tangannya yang kini sudah berdarah, terluka
oleh tusukan keris Sarmini.
Sarmini
menyusulkan tendangannya yang mengenai dada lawan dan tak dapat dihindarkan
lagi tubuh si jenggot kambing itu untuk ke dua kalinya terjengkang! Dia
merangkak bangun, terhuyung dan kembali ke rombongannya, wajahnya merah karena
malu. Sarmini menggunakan kakinya untuk menendang golok yang terjatuh itu
sehingga golok itu mencelat ke dekat kaki pemilik yang memungutnya dengan muka
ditundukkan. Tepuk sorak menyambut kemenangan Sarmini itu dan semua anak buah
Jambuko Cemeng merasa girang dengan kemenangan puteri ketua mereka. Kini Saroji
melangkah maju menggantikan adiknya. Sambil tersenyum dia menantang.
"Siapa
yang akan melawan aku?"
Sementara itu,
Sarmini sudah kembali ke dekat ayahnya. Ia mendekati Bagus Seta dan Retna
Wilis, tersenyum bangga.
"Waduh,
diajeng, ternyata engkau seorang gadis yang sakti!" Retna Wilis memuji.
"Ah,
lawanku itu saja yang hanya besar mulut akan tetapi tidak berisi." jawab
Sarmini sambil mengerling ke arah Bagus Seta. Karena beberapa kali dilirik,
Bagus Seta merasa tidak enak kalau berdiam saja.
"Andika
memang hebat, dapat mengalahkan seorang yang digdaya seperti dia."
Dipuji
demikian, Sarmini tersipu dan senyumnya semakin manis. Ia lalu mendekati
ayahnya yang merasa girang dan merangkul puterinya dengan bangga. Agaknya kini
baru terbuka mata lima orang dari perkumpulan bajak Bala Cucut itu betapa
hebatnya kepandaian pimpinan Jambuko Cemeng. Melihat kehebatan gadis yang telah
mengalahkan saudara termudanya, pimpinan Lima Naga itu tidak mau bertindak
gegabah. Dia dapat menduga bahwa tingkat kepandaian pemuda itu tentu lebih
tinggi dari pada tingkat adiknya. Oleh karena itu, dia sendiri yang melangkah
maju menghadapi Saroji.
"Akulah
yang akan menghadapimu, orang muda. Aku tantang engkau untuk bertanding dengan
senjata!" Dia memutar-mutar goloknya di atas kepala sehingga mengeluarkan
bunyi berdesing-desing menyeramkan.
"Baik,”
kata Saroji dan dia menoleh kepada ayahnya.
Ki Haryosakti
tertawa dan dia melemparkan tombak yang dipegangnya kepada puteranya sambil
berseru,
"Pergunakan
tombakku!"
Saroji
menerima lontaran tombak itu dengan cekatan dan dia melintangkan tombak itu di
depan dadanya dan berseru,
"Silakan
maju, aku sudah siap!"
Si mata lebar
juga tidak sungkan lagi. Begitu melihat pemuda itu menggunakan tombak yang
dilontarkan ayahnya, dia lalu menerjang maju sambil memutar goloknya. Pemuda
itu menangkis dengan tombaknya.
"Trang-cring-tranggg
... !!" Terdengar bunyi nyaring berdenting berulang kali disusul
muncratnya bunga api yang berpijar.
Mereka merasa
betapa senjata mereka bertemu dengan tenaga yang kuat. Mereka menarik kembali
senjata masing-masing untuk memeriksa. Setelah melihat bahwa senjata mereka
tidak rusak, mereka lalu saling serang lagi dengan hebatnya. Ilmu kepandaian si
mata lebar ini memang setingkat lebih tinggi dari pada kepandaian
rekan-rekannya, akan tetapi Saroji juga telah memiliki ilmu kepandaian tinggi
yang diwarisi dari ayahnya. Kedua orang yang bertanding mati-matian itu
bergerak cepat sekali sehingga tubuh mereka berkelebatan di antara sinar golok
dan tombak. Retna Wilis memandang kagum. Pemuda itu cukup tangguh, pikirnya dan
ia dapat menduga bahwa bajak bermata lebar itu tentu akan kalah. Pertandingan
sudah berlangsung limapuluh jurus dan mulai tampak tanda-tanda bahwa bajak itu
mulai terdesak mundur dan pernapasannya sudah ngos-ngosan. Sebaliknya, gerakan
tombak Saroji semakin mantap. Ketika mendapat kesempatan baik, Saroji
mengeluarkan bentakan nyaring. Bentakan ini sama dengan bentakan adiknya tadi,
mengandung wibawa dan pengaruh kuat sehingga Retna Wilis dan Bagus Seta tahu
bahwa dua orang kakak beradik itu sudah menerima latihan kekuatan bathin dari
ayahnya.
Si mata lebar
juga terkejut. Dia tahu bahwa lawannya yang muda mengerahkan aji lewat
bentakannya. Dia mengerahkan tenaga untuk menolak, akan tetapi kekagetannya
yang hanya sejenak itu merugikannya. Kesempatan selagi dia terkejut tadi sudah
dipergunakan oleh Saroji untuk menggerakkan tombaknya menyapu kedua kaki lawan.
Si mata lebar tidak mampu mengelak dan kedua kakinya kena diserampang, membuat
dia roboh terpelanting dan pada saat dia roboh, Saroji sudah menusukkan ujung
tombaknya pada tangan kanannya yang memegang golok. Tangannya terluka dan golok
itupun terlepas dari pegangannya. Dia hendak melompat bangun, akan tetapi
secepat kilat ujung tombak sudah menodong dadanya sehingga terpaksa dia diam
tidak berani bergerak.
"Engkau
telah kalah!" kata Saroji kepada pemimpin Lima Naga itu.
Si mata lebar
menjadi pucat mukanya, lalu berubah merah dan dengan suara berat dia mengakui.
"Aku
sudah kalah!"
Saroji menarik
kembali tombaknya dan tersenyum sambil mundur mendekati ayahnya dan
mengembalikan tombak itu. Bagus Seta merasa senang melihat sikap Sarmini dan
Saroji. Dua orang muda ini berhati baik, tidak kejam terhadap musuh sehingga
tidak membunuh atau melukai berat. Dua sifat baik ini dia catat dalam hatinya.
"Bagus
ilmu tombaknya," Retna Wilis juga memuji dan Bagus Seto melirik ke arah
adiknya yang memandang ke arah pemuda itu dengan kagum.
"Wataknya
juga baik," kata Bagus Seta sambil tersenyum.
Kini Ki
Haryosakti melangkah maju membawa tombaknya.
"Dua
orang di antara kalian berlima sudah kalah. Sekarang tinggal tiga orang lagi di
antara kalian. Kalian bertiga boleh maju kalau masih penasaran, dan kalian
bertiga boleh maju bersama untuk mengeroyok aku! Dua orang yang sudah kalah,
kalau tidak mengenal malu, boleh maju pula membantu!"
Tantangan ini
hebat. Lima Naga itu jelas memiliki ilmu kepandaian tinggi dan biarpun mereka
tidak akan menang melawan Ki Haryosakti kalau maju satu-satu, akan tetapi ketua
Jambuko Cemeng ini menantang mereka bertiga, bahkan berlima! Akan tetapi
ucapannya membuat si mata lebar dan si jenggot kambing merasa malu untuk maju
lagi karena mereka memang sudah kalah. Kini tiga orang dari mereka melompat maju
sambil menggerakkan golok, dan mereka merasa berbesar hati. Biarpun kedua orang
rekan mereka sudah kalah, mereka bertiga belum kalah. Dan biarpun kini yang
dihadapi adalah ketua Jambuko Cemeng sendiri yang tentu lebih tinggi tingkat
kepandaiannya, namun mereka maju bertiga. Tidak mungkin mereka bertiga kalah
oleh seorang lawan saja!
"Kakang,
mengapa dia begitu berani?” bisik Retna Wilis kepada kakaknya sambil memandang
kepada tiga orang yang sudah berhadapan dengan Ki Haryosakti.
Bagus Seto
tersenyum.
"Dia
sudah melihat tingkat kepandaian mereka, tentu saja dia menjadi berani karena
sebelumnya sudah tahu bahwa dia akan menang."
Kini
berlangsunglah pertandingan yang mendebarkan hati. Ki Haryosakti melawan tiga
orang pengeroyok yang mempergunakan golok mereka. Dan tiga orang itu tidak
hanya main-main, melainkan mengeroyok dengan niat membunuh.
<<< Bagian 42 Bagian 44 >>>
No comments:
Post a Comment