Sepasang Garuda Putih ; Bagian 44


Golok mereka menyambar-nyambar bagaikan kilat dari segala jurusan. Akan tetapi Ki Haryosakti ternyata memiliki ilmu tombak yang amat hebat. Gerakannya sama dengan yang dimainkan Saroji tadi, akan tetapi lebih cepat dan jauh lebih kuat dari pada tadi. Kini, setiap kali golok lawan bertemu dengan tombak, golok itu pasti terpental dan hampir terlepas dari pegangan pemiliknya. Perkelahian itu seperti tiga ekor anjing mengeroyok seekor harimau. Tak pernah tiga orang pengeroyok itu mampu mendesak Ki Haryosakti.

Bagus Seta dan Retna Wilis memandang kagum. Mereka berdua maklum bahwa Ketua Jambuko Cemeng itu memang benar-benar amat tangguh. Kedigdayaan ini masih ditambah lagi dengan kekuatan ilmu sihirnya yang dapat menguasai orang lain melalui bentakan.
"Perkelahian itu tidak akan lama." pikir Retna Wilis.
Dan memang demikianlah belum sampai tigapuluh jurus, Ki Haryosakti berseru tiga kali, sinar tombaknya menyambar-nyambar dan tiga orang itu terjengkang dan terkapar tewas dengan dada tertembus tomhak! Seperti tadi ketika Sarmini dan Saroji keluar sebagai pemenang, kini kemenangan Ki Haryosakti disambut sorak sorai para anggauta Jambuko Cemeng. Dua orang di antara lima orang penyerbu yang sudah kalah tadi, memandang dengan muka pucat kepada tiga orang rekannya yang sudah tidak bernyawa. Ki Haryosakti tertawa dan berkata kepada mereka berdua yang bermuka pucat.
"Ha-ha-ha-ha! Kami sengaja membiarkan kalian berdua hidup untuk dapat membawa pergi tiga mayat ini dan melaporkan kekalahanmu kepada ketuamu. Kalau Ketua Bala Cucut tidak terima, dia boleh datang untuk mengantar nyawanya ke sini. Ha-ha-ha!"
Mendengar ucapan itu, si mata lebar dan si jenggot kambing cepat-cepat mengangkat tiga mayat rekan-rekan mereka dan segera pergi dari tempat itu. Mereka tidak dapat berkata apa-apa lagi dan mereka meninggalkan pintu gerbang perkampungan Jambuko Cemeng.
Ki Haryosakti memandang kepada Bagus Seta dan Retna Wilis lalu tertawa bangga,
"Bagaimana pendapat andika berdua dengan peristiwa tadi?"
Retna Wilis tidak menjawab, maka Bagus Seta yang menjawab.
"Peristiwa tadi membuktikan bahwa kepandaian andika dan kedua putera andika amat tinggi. Akan tetapi sayang, sikap andika hanya akan mendatangkan keributan dan pertengkaran."
"Eh, kenapa begitu, anakmas?" tanya Ki Haryosakti sambil memandang kepada Bagus Seto dengan penasaran.
"Paman telah membunuh tiga orang tokoh Bala Cucut dan membiarkan yang dua orang pulang melapor kepada pimpinan mereka, maka tentu pimpinan Bala Cucut tidak akan tinggal diam dan akan menyerang ke sini."
"Ha-ha-ha, kalau benar, dia berani datang, takut apa? Aku akan membunuhnya. Memang Bala Cucut sudah lama mencari perkara, berani merampoki dusun di sekitar pantai yang masih termasuk wilayah kami. Mari kita lanjutkan pesta kita yang tadi terganggu." Dia mengajak dua orang tamunya untuk memasuki rumah besarnya dan ditemani isterinya, Saroji dan Sarmini, mereka lalu makan minum.
"Terima kasih atas kebaikan paman," kata Bagus Seta.
"Setelah kami dijamu makanan dan diterima dengan hormat, kini kami akan mohon diri untuk melanjutkan perjalanan kami."
"Eh-eh, nanti dulu. Dan jangan menyebut aku dengan sebutan paman. Terus terang saja setelah melihat diajeng Retna Wilis, timbul keinginan hatiku untuk mengangkatnya menjadi isteriku. Bagaimana pendapatmu, adimas Bagus Seta?"
"Ayah ... !" kembali Sarmini berseru penasaran.
"Diam kau!" bentak ayahnya, lalu berkata kepada Retna Wilis.
"Diajeng Retna Wilis, maukah andika menjadi isteriku. Aku adalah seorang yang suka berterus terang dan jujur, maka kusampaikan keinginan hatiku itu tanpa pura-pura lagi. Bagaimana pendapat andika berdua?"

Sepasang mata Retna Wilis sudah mencorong tanda bahwa ia marah sekali, akan tetapi Bagus Seta tersenyum kepadanya.
"Urusan perjodohan adalah urusan yang penting sekali, oleh karena itu, perkenankan kami kakak beradik untuk merundingkan hal ini lebih dulu berdua saja."
"Ah, tentu saja! Tentu saja boleh, hanya asal andika berdua mengetahui saja bahwa aku, Ki Haryosakti kalau sudah menghendaki sesuatu, harus tercapai kehendakku itu, dan bahwa aku adalah seorang laki-laki yang bertanggung-jawab, maka jangan khawatir kalau kelak aku akan menyia-nyiakan diajeng Retna Wilis."
Hati Retna Wilis sudah menjadi panas sekali, akan tetapi Bagus Seta lalu memegang tangannya dan mengajak gadis itu menyingkir ke ruangan lain agar dapat berbicara berdua saja.
"Aduh, kakang. Tidak kuat hatiku, kalau engkau tidak membawaku ke sini tentu sudah kuhajar si mata keranjang itu!" kata Retna Wilis.
"Sabar dan tenanglah, diajeng. Dia bukan seorang jahat, hanya mata keranjang. Akan tetapi dia jujur, mengaku terus terang di depan isteri dan anak-anaknya. Dan kurasa dia tidak membual saja ketika mengatakan bahwa apa yang diinginkan harus tercapai."
"Apa? Apa maksudmu, kakang? Apakah aku harus menerima saja ... !"
"Sabar dulu, jangan terburu nafsu. Kalau engkau marah dan menyerangnya, kita akan berhadapan dengan seluruh anak buah Jambuko Cemeng yang jumlahnya amat banyak. Pula, bukankah kedua puteranya itu merupakan muda mudi yang baik? Sayang kalau sampai kita bermusuhan pula dengan mereka."
"Lalu apa maksudmu sebenarnya?"
"Begini, diajeng. Kita harus menghadapi urusan ini dengan halus. Kita harus menyadarkan Ki Haryosakti dengan cara halus pula. Serahkan saja kepadaku, dan aku yang akan mengatur semuanya. Engkau hanya menyatakan menyerah saja dan nanti kalau diadakan pesta pernikahan, aku yang akan mengatur agar engkau lolos dari urusan ini. Dengan cara ini tidak sampai terjadi keributan dengan dia dan anak buahnya. Mereka ini merupakan kekuatan yang lumayan, kalau kita dapat menariknya agar setia kepada Panjalu, tentu amat menguntungkan."

Retna Wilis cemberut.
"Kalau menurutkan kata hatiku, ingin aku menghajar dia sampai dia bertaubat, dan kalau anak buahnya mengeroyok, akan kuhajar semua!"
"Jangan, diajeng. Turutilah nasihatku dan semua ini akan terlewat dengan aman dan baik."
"Baik, sesukamulah, kakang. Aku serahkan kepadamu untuk mengaturnya, akan tetapi aku tetap tidak sudi kalau harus menjawab sendiri dan menyatakan persetujuanku untuk menjadi isteri mudanya!"
"Baik, jangan khawatir, biar aku yang menghadapinya."
Setelah berkata demikian Bagus Seta menggandeng tangan adiknya ke luar dari situ memasuki ruangan di mana Ki Haryosakti masih menanti. Ketika mereka masuk, Saroji dan Sarmini memandang kepada mereka dengan alis berkerut. Isteri Ki Haryosakti juga memandang akan tetapi hanya sebentar. Wanita ini agaknya tidak mempunyai hak suara dalam urusan ini dan hanya tunduk saja menurut apa yang dikehendaki suaminya.
"Ha-ha, kalian telah kembali? Dan bagaimana dengan keputusan jawaban kalian? Aku hanya mengharap agar jawaban itu tidak mengecewakan!" kata Ki Haryosakti sambil memandang kepada Retna Wilis dengan matanya yang lebar.
"Diajeng Retna Wilis, bagaimana jawabanmu terhadap pinanganku?" Dengan terus terang dia bertanya kepada gadis itu.
Retna Wilis terpaksa menundukkan mukanya agar jangan tampak betapa ia marah sekali.
"Jawabannya kuserahkan kepada kakangmas Bagus Seta," katanya lirih.
"Bagus, memang seharusnya urusan perjodohan diatur oleh orang tua, dan kakakmu dapat saja mewakili kedua orang tuamu. Bagaimana, adimas Bagus Seta, sudahkah kau menentukan jawaban atas pinanganku?"
"Sudah, kakangmas Haryosakti dan kami berdua setuju dan menyerah saja atas kehendak andika," jawab Bagus Seta dengan suara bersungguh-sungguh.
"Ha-ha-ha, bagus sekali! Kalau begitu, sekarang juga akan kuperintahkan kepada anak buahku untuk bersiap-siap. Pernikahan akan dilangsungkan lusa atau keesokan harinya!"
"Ayah, sudah tepatkah apa yang menjadi keputusan ayah itu?" tiba-tiba Saroji berkata kepada ayahnya dengan suara lantang.
"Saroji, apa maksudmu?"
"Ayah, diajeng Retna Wilis masih begini muda, pantaskah menjadi isteri ayah?"
"Tutup mulutmu! Ini bukan urusanmu melainkan urusanku pribadi. Kalau engkau tidak setuju, engkau boleh pergi dari sini!"
"Ayah ... !" Sarmini berseru.
"Sudah, kalian dua orang anak-anak tahu apa! Diamlah dan jangan membuat aku marah!" Ki Haryosakti membentak.

Isterinya hanya menundukkan mukanya, tidak berani mencampuri.
"Sambil menanti datangnya hari pernikahan, kalian berdua menjadi tamu kehormatan di sini, Saroji, Sarmini, antar mereka ke kamar samping. Berikan dua kamar untuk mereka dan layani mereka baik-baik!"
Dua orang anaknya yang diperintah itu lalu bangkit berdiri. Saroji menghampiri Bagus Seta sedangkan Sarmini menghampiri Retna Wilis. Bagus Seta dan Retna Wilis juga berdiri dan mengikuti mereka berdua. Setelah mereka tiba di jajaran kamar di samping rumah besar itu, Saroji tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan bertanya kepada Bagus Seto.
"Kakangmas Bagus Seta, apa artinya semua ini? Kenapa andika setuju saja diajeng Retna Wilis diperisteri oleh ayah?" pertanyaan ini diajukan dengan suara tidak senang.
"Dan andika ini bagaimana, mbakyu Retna Wilis. Mengapa tidak menolak untuk diperisteri ayah?" tanya pula Sarmini kepada Retna Wilis.
Retna Wilis hanya melirik kepada kakaknya. Kalau menurutkan kata hatinya ingin ia meneriakkan bahwa ia tidak sudi diperisteri Ki Haryosakti.
Bagus Seta tersenyum.
"Ki Haryosakti adalah seorang yang gagah perkasa dan sakti. Kalau kehendaknya tidak dipenuhi tentu dia akan marah kepada kami. Kami terpaksa menerimanya."
"Terpaksa menerima?" kata Saroji.
"Kenapa terpaksa? Kalau kalian menolak, kami akan melindungi kalian. Ayah kami tidak pernah berbuat jahat, tentu tidak akan menggunakan kekerasan. Dia hanya tertarik oleh diajeng Retna Wilis dan menyatakan perasaannya itu dengan terus terang. Akan tetapi dia tidak akan memaksa kalau diajeng Retna Wilis menolak!"
Bagus Seta tersenyum. Dia tahu bahwa pemuda ini kurang pengalaman. Betapapun baiknya Ki Haryosakti, kalau dia sudah tergila-gila kepada Retna Wilis, maka penolakannya tentu akan mendatangkan keributan dan mungkin Ki Haryosakti tidak akan malu malu lagi untuk melakukan pemaksaan.
"Tapi ini tidak pantas!" Sarmini berkata marah.
"Kalau ayah meminang mbakayu Retna Wilis untuk kakang Saroji, ini namanya pantas. Bukan untuk diri sendiri!"
Wajah Seroji menjadi kemerahan mendengar ucapan adiknya itu.
"Adikku Sarmini, engkaupun pantas sekali kalau menjadi isteri kakangmas Bagus Seta!" Dia membalas.
Sarmini memandang kakaknya dengan pipi merah.
"Ihh, engkau ada-ada saja, kakang!" berkata demikian gadis manis itu lalu berlari pergi meninggalkan mereka.
"Jangan khawatir, adimas Saroji. Kalau benar-benar andika tidak setuju dengan niat ayahmu memperisteri adikku, kami akan mengusahakan agar hal itu tidak akan terjadi, dan mudah-mudahan ayahmu dapat menyadari kesalahannya," kata Bagus Seta.
Saroji memandang dengan alis berkerut. Pemuda itu sudah menyanggupi, sudah menyetujui adiknya menikah dengan ayahnya, bagaimana mungkin hal itu dibatalkan?
"Membatalkan janji merupakan kesalahan besar," katanya.
"Kalau penolakan itu adalah hak kalian. Kenapa tidak menolak saja tadi?"
"Andika tidak mengerti. Sudahlah, harap tidak risaukan hal itu. Aku yang menanggung bahwa pernikahan itu tidak akan terjadi."
Saroji meninggalkan kakak beradik itu dengan hati bertanya-tanya. Apakah yang akan dilakukan dua orang itu untuk membatalkan pernikahan itu? Sementara itu, dengan hati senang sekali Ki Haryosakti memimpin para anggotanya untuk membuat persiapan pesta besar-besaran untuk merayakan pernikahannya dengan Retna Wilis.

Perayaan itu diadakan pada senja hari. Yang menghadiri adalah seluruh penduduk perkampungan itu dan mereka semua mengenakan pakaian baru serba hitam. Semua penduduk bergembira mendengar ketua mereka hendak menikah dengan gadis jelita yang menjadi tamu agung di perkampungan itu. Retna Wilis dibawa oleh isteri Ki Haryosakti ke dalam kamar pengantin dan di situ Retna Wilis didandani dengan pakaian pengantin. Selain seorang wanita yang biasa mendadani pengantin, di situ hadir pula Sarmini dan ibunya. Isteri KiHaryosakti ini agaknya menerima nasib, tidak tampak berduka walaupun suaminya hendak menikah lagi. Semua orang sibuk berlalu lalang untuk membantu persiapan pesta. Tiga ekor sapi dipotong dan entah berapa puluh ekor ayam.

<<< Bagian 43                                                                                         Bagian 45 >>>

No comments:

Post a Comment