Golok mereka menyambar-nyambar bagaikan kilat dari segala jurusan. Akan tetapi Ki Haryosakti ternyata memiliki ilmu tombak yang amat hebat. Gerakannya sama dengan yang dimainkan Saroji tadi, akan tetapi lebih cepat dan jauh lebih kuat dari pada tadi. Kini, setiap kali golok lawan bertemu dengan tombak, golok itu pasti terpental dan hampir terlepas dari pegangan pemiliknya. Perkelahian itu seperti tiga ekor anjing mengeroyok seekor harimau. Tak pernah tiga orang pengeroyok itu mampu mendesak Ki Haryosakti.
Bagus Seta dan
Retna Wilis memandang kagum. Mereka berdua maklum bahwa Ketua Jambuko Cemeng
itu memang benar-benar amat tangguh. Kedigdayaan ini masih ditambah lagi dengan
kekuatan ilmu sihirnya yang dapat menguasai orang lain melalui bentakan.
"Perkelahian
itu tidak akan lama." pikir Retna Wilis.
Dan memang
demikianlah belum sampai tigapuluh jurus, Ki Haryosakti berseru tiga kali,
sinar tombaknya menyambar-nyambar dan tiga orang itu terjengkang dan terkapar
tewas dengan dada tertembus tomhak! Seperti tadi ketika Sarmini dan Saroji
keluar sebagai pemenang, kini kemenangan Ki Haryosakti disambut sorak sorai
para anggauta Jambuko Cemeng. Dua orang di antara lima orang penyerbu yang
sudah kalah tadi, memandang dengan muka pucat kepada tiga orang rekannya yang
sudah tidak bernyawa. Ki Haryosakti tertawa dan berkata kepada mereka berdua
yang bermuka pucat.
"Ha-ha-ha-ha!
Kami sengaja membiarkan kalian berdua hidup untuk dapat membawa pergi tiga
mayat ini dan melaporkan kekalahanmu kepada ketuamu. Kalau Ketua Bala Cucut
tidak terima, dia boleh datang untuk mengantar nyawanya ke sini.
Ha-ha-ha!"
Mendengar
ucapan itu, si mata lebar dan si jenggot kambing cepat-cepat mengangkat tiga
mayat rekan-rekan mereka dan segera pergi dari tempat itu. Mereka tidak dapat
berkata apa-apa lagi dan mereka meninggalkan pintu gerbang perkampungan Jambuko
Cemeng.
Ki Haryosakti
memandang kepada Bagus Seta dan Retna Wilis lalu tertawa bangga,
"Bagaimana
pendapat andika berdua dengan peristiwa tadi?"
Retna Wilis
tidak menjawab, maka Bagus Seta yang menjawab.
"Peristiwa
tadi membuktikan bahwa kepandaian andika dan kedua putera andika amat tinggi.
Akan tetapi sayang, sikap andika hanya akan mendatangkan keributan dan
pertengkaran."
"Eh,
kenapa begitu, anakmas?" tanya Ki Haryosakti sambil memandang kepada Bagus
Seto dengan penasaran.
"Paman
telah membunuh tiga orang tokoh Bala Cucut dan membiarkan yang dua orang pulang
melapor kepada pimpinan mereka, maka tentu pimpinan Bala Cucut tidak akan
tinggal diam dan akan menyerang ke sini."
"Ha-ha-ha,
kalau benar, dia berani datang, takut apa? Aku akan membunuhnya. Memang Bala
Cucut sudah lama mencari perkara, berani merampoki dusun di sekitar pantai yang
masih termasuk wilayah kami. Mari kita lanjutkan pesta kita yang tadi
terganggu." Dia mengajak dua orang tamunya untuk memasuki rumah besarnya
dan ditemani isterinya, Saroji dan Sarmini, mereka lalu makan minum.
"Terima
kasih atas kebaikan paman," kata Bagus Seta.
"Setelah
kami dijamu makanan dan diterima dengan hormat, kini kami akan mohon diri untuk
melanjutkan perjalanan kami."
"Eh-eh,
nanti dulu. Dan jangan menyebut aku dengan sebutan paman. Terus terang saja
setelah melihat diajeng Retna Wilis, timbul keinginan hatiku untuk
mengangkatnya menjadi isteriku. Bagaimana pendapatmu, adimas Bagus Seta?"
"Ayah ...
!" kembali Sarmini berseru penasaran.
"Diam
kau!" bentak ayahnya, lalu berkata kepada Retna Wilis.
"Diajeng
Retna Wilis, maukah andika menjadi isteriku. Aku adalah seorang yang suka
berterus terang dan jujur, maka kusampaikan keinginan hatiku itu tanpa
pura-pura lagi. Bagaimana pendapat andika berdua?"
Sepasang mata
Retna Wilis sudah mencorong tanda bahwa ia marah sekali, akan tetapi Bagus Seta
tersenyum kepadanya.
"Urusan
perjodohan adalah urusan yang penting sekali, oleh karena itu, perkenankan kami
kakak beradik untuk merundingkan hal ini lebih dulu berdua saja."
"Ah,
tentu saja! Tentu saja boleh, hanya asal andika berdua mengetahui saja bahwa
aku, Ki Haryosakti kalau sudah menghendaki sesuatu, harus tercapai kehendakku
itu, dan bahwa aku adalah seorang laki-laki yang bertanggung-jawab, maka jangan
khawatir kalau kelak aku akan menyia-nyiakan diajeng Retna Wilis."
Hati Retna
Wilis sudah menjadi panas sekali, akan tetapi Bagus Seta lalu memegang
tangannya dan mengajak gadis itu menyingkir ke ruangan lain agar dapat
berbicara berdua saja.
"Aduh,
kakang. Tidak kuat hatiku, kalau engkau tidak membawaku ke sini tentu sudah
kuhajar si mata keranjang itu!" kata Retna Wilis.
"Sabar
dan tenanglah, diajeng. Dia bukan seorang jahat, hanya mata keranjang. Akan
tetapi dia jujur, mengaku terus terang di depan isteri dan anak-anaknya. Dan
kurasa dia tidak membual saja ketika mengatakan bahwa apa yang diinginkan harus
tercapai."
"Apa? Apa
maksudmu, kakang? Apakah aku harus menerima saja ... !"
"Sabar
dulu, jangan terburu nafsu. Kalau engkau marah dan menyerangnya, kita akan
berhadapan dengan seluruh anak buah Jambuko Cemeng yang jumlahnya amat banyak.
Pula, bukankah kedua puteranya itu merupakan muda mudi yang baik? Sayang kalau
sampai kita bermusuhan pula dengan mereka."
"Lalu apa
maksudmu sebenarnya?"
"Begini,
diajeng. Kita harus menghadapi urusan ini dengan halus. Kita harus menyadarkan
Ki Haryosakti dengan cara halus pula. Serahkan saja kepadaku, dan aku yang akan
mengatur semuanya. Engkau hanya menyatakan menyerah saja dan nanti kalau
diadakan pesta pernikahan, aku yang akan mengatur agar engkau lolos dari urusan
ini. Dengan cara ini tidak sampai terjadi keributan dengan dia dan anak
buahnya. Mereka ini merupakan kekuatan yang lumayan, kalau kita dapat
menariknya agar setia kepada Panjalu, tentu amat menguntungkan."
Retna Wilis
cemberut.
"Kalau
menurutkan kata hatiku, ingin aku menghajar dia sampai dia bertaubat, dan kalau
anak buahnya mengeroyok, akan kuhajar semua!"
"Jangan,
diajeng. Turutilah nasihatku dan semua ini akan terlewat dengan aman dan
baik."
"Baik,
sesukamulah, kakang. Aku serahkan kepadamu untuk mengaturnya, akan tetapi aku
tetap tidak sudi kalau harus menjawab sendiri dan menyatakan persetujuanku
untuk menjadi isteri mudanya!"
"Baik,
jangan khawatir, biar aku yang menghadapinya."
Setelah
berkata demikian Bagus Seta menggandeng tangan adiknya ke luar dari situ
memasuki ruangan di mana Ki Haryosakti masih menanti. Ketika mereka masuk,
Saroji dan Sarmini memandang kepada mereka dengan alis berkerut. Isteri Ki
Haryosakti juga memandang akan tetapi hanya sebentar. Wanita ini agaknya tidak
mempunyai hak suara dalam urusan ini dan hanya tunduk saja menurut apa yang
dikehendaki suaminya.
"Ha-ha,
kalian telah kembali? Dan bagaimana dengan keputusan jawaban kalian? Aku hanya
mengharap agar jawaban itu tidak mengecewakan!" kata Ki Haryosakti sambil
memandang kepada Retna Wilis dengan matanya yang lebar.
"Diajeng
Retna Wilis, bagaimana jawabanmu terhadap pinanganku?" Dengan terus terang
dia bertanya kepada gadis itu.
Retna Wilis
terpaksa menundukkan mukanya agar jangan tampak betapa ia marah sekali.
"Jawabannya
kuserahkan kepada kakangmas Bagus Seta," katanya lirih.
"Bagus,
memang seharusnya urusan perjodohan diatur oleh orang tua, dan kakakmu dapat
saja mewakili kedua orang tuamu. Bagaimana, adimas Bagus Seta, sudahkah kau
menentukan jawaban atas pinanganku?"
"Sudah,
kakangmas Haryosakti dan kami berdua setuju dan menyerah saja atas kehendak
andika," jawab Bagus Seta dengan suara bersungguh-sungguh.
"Ha-ha-ha,
bagus sekali! Kalau begitu, sekarang juga akan kuperintahkan kepada anak buahku
untuk bersiap-siap. Pernikahan akan dilangsungkan lusa atau keesokan harinya!"
"Ayah,
sudah tepatkah apa yang menjadi keputusan ayah itu?" tiba-tiba Saroji
berkata kepada ayahnya dengan suara lantang.
"Saroji,
apa maksudmu?"
"Ayah,
diajeng Retna Wilis masih begini muda, pantaskah menjadi isteri ayah?"
"Tutup
mulutmu! Ini bukan urusanmu melainkan urusanku pribadi. Kalau engkau tidak
setuju, engkau boleh pergi dari sini!"
"Ayah ...
!" Sarmini berseru.
"Sudah,
kalian dua orang anak-anak tahu apa! Diamlah dan jangan membuat aku
marah!" Ki Haryosakti membentak.
Isterinya
hanya menundukkan mukanya, tidak berani mencampuri.
"Sambil
menanti datangnya hari pernikahan, kalian berdua menjadi tamu kehormatan di
sini, Saroji, Sarmini, antar mereka ke kamar samping. Berikan dua kamar untuk
mereka dan layani mereka baik-baik!"
Dua orang anaknya
yang diperintah itu lalu bangkit berdiri. Saroji menghampiri Bagus Seta
sedangkan Sarmini menghampiri Retna Wilis. Bagus Seta dan Retna Wilis juga
berdiri dan mengikuti mereka berdua. Setelah mereka tiba di jajaran kamar di
samping rumah besar itu, Saroji tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan
bertanya kepada Bagus Seto.
"Kakangmas
Bagus Seta, apa artinya semua ini? Kenapa andika setuju saja diajeng Retna
Wilis diperisteri oleh ayah?" pertanyaan ini diajukan dengan suara tidak
senang.
"Dan
andika ini bagaimana, mbakyu Retna Wilis. Mengapa tidak menolak untuk
diperisteri ayah?" tanya pula Sarmini kepada Retna Wilis.
Retna Wilis
hanya melirik kepada kakaknya. Kalau menurutkan kata hatinya ingin ia
meneriakkan bahwa ia tidak sudi diperisteri Ki Haryosakti.
Bagus Seta
tersenyum.
"Ki
Haryosakti adalah seorang yang gagah perkasa dan sakti. Kalau kehendaknya tidak
dipenuhi tentu dia akan marah kepada kami. Kami terpaksa menerimanya."
"Terpaksa
menerima?" kata Saroji.
"Kenapa
terpaksa? Kalau kalian menolak, kami akan melindungi kalian. Ayah kami tidak
pernah berbuat jahat, tentu tidak akan menggunakan kekerasan. Dia hanya
tertarik oleh diajeng Retna Wilis dan menyatakan perasaannya itu dengan terus
terang. Akan tetapi dia tidak akan memaksa kalau diajeng Retna Wilis
menolak!"
Bagus Seta
tersenyum. Dia tahu bahwa pemuda ini kurang pengalaman. Betapapun baiknya Ki
Haryosakti, kalau dia sudah tergila-gila kepada Retna Wilis, maka penolakannya
tentu akan mendatangkan keributan dan mungkin Ki Haryosakti tidak akan malu
malu lagi untuk melakukan pemaksaan.
"Tapi ini
tidak pantas!" Sarmini berkata marah.
"Kalau
ayah meminang mbakayu Retna Wilis untuk kakang Saroji, ini namanya pantas.
Bukan untuk diri sendiri!"
Wajah Seroji
menjadi kemerahan mendengar ucapan adiknya itu.
"Adikku
Sarmini, engkaupun pantas sekali kalau menjadi isteri kakangmas Bagus
Seta!" Dia membalas.
Sarmini
memandang kakaknya dengan pipi merah.
"Ihh,
engkau ada-ada saja, kakang!" berkata demikian gadis manis itu lalu
berlari pergi meninggalkan mereka.
"Jangan
khawatir, adimas Saroji. Kalau benar-benar andika tidak setuju dengan niat
ayahmu memperisteri adikku, kami akan mengusahakan agar hal itu tidak akan
terjadi, dan mudah-mudahan ayahmu dapat menyadari kesalahannya," kata
Bagus Seta.
Saroji memandang
dengan alis berkerut. Pemuda itu sudah menyanggupi, sudah menyetujui adiknya
menikah dengan ayahnya, bagaimana mungkin hal itu dibatalkan?
"Membatalkan
janji merupakan kesalahan besar," katanya.
"Kalau
penolakan itu adalah hak kalian. Kenapa tidak menolak saja tadi?"
"Andika
tidak mengerti. Sudahlah, harap tidak risaukan hal itu. Aku yang menanggung
bahwa pernikahan itu tidak akan terjadi."
Saroji
meninggalkan kakak beradik itu dengan hati bertanya-tanya. Apakah yang akan
dilakukan dua orang itu untuk membatalkan pernikahan itu? Sementara itu, dengan
hati senang sekali Ki Haryosakti memimpin para anggotanya untuk membuat
persiapan pesta besar-besaran untuk merayakan pernikahannya dengan Retna Wilis.
Perayaan itu
diadakan pada senja hari. Yang menghadiri adalah seluruh penduduk perkampungan
itu dan mereka semua mengenakan pakaian baru serba hitam. Semua penduduk
bergembira mendengar ketua mereka hendak menikah dengan gadis jelita yang
menjadi tamu agung di perkampungan itu. Retna Wilis dibawa oleh isteri Ki
Haryosakti ke dalam kamar pengantin dan di situ Retna Wilis didandani dengan
pakaian pengantin. Selain seorang wanita yang biasa mendadani pengantin, di
situ hadir pula Sarmini dan ibunya. Isteri KiHaryosakti ini agaknya menerima
nasib, tidak tampak berduka walaupun suaminya hendak menikah lagi. Semua orang
sibuk berlalu lalang untuk membantu persiapan pesta. Tiga ekor sapi dipotong
dan entah berapa puluh ekor ayam.
<<< Bagian 43 Bagian 45 >>>
No comments:
Post a Comment