Di dapur, para wanita sibuk memasak dan para pria masih ada yang sibuk menghias ruangan depan yang akan dipakai sebagai tempat pertemuan sepasang mempelai dan tempat duduk para anggauta Jambuka Cemeng. Karena kini akan menjadi isteri ketua Jambuko Cemang, Retna Wilis juga diharuskan memakai pakaian pengantin yang terbuat dari kain sutera berwarna hitam! Mukanya memakai kerudung hitam pula sehingga hanya Nampak sedikit dari balik cadar hitam itu. Bagus Seta sejak tadi tidak tampak akan tetapi hal ini tidak dipedulikan orang. Gamelan yang berada di ruangan depan sudah dipukul orang sejak sore tadi. Anak-anak dengan gembira bermain-main di dekat situ sambil menonton gamelan yang mengiringi suara merdu tiga orang penyanyi. Tempat upacara pertemuan pengantin dan tempat duduk para tamu sudah dirias dengan janur-janur dan kain warna-warni.
Setelah
waktunya tiba, pengantin wanita yang memakai cadar itu dibawa keluar kamar
pengantin dan dipertemukan dengan pengantin pria sebagaimana mestinya diiringi
suara gamelan yang memainkan lagu-lagu pertemuan pengantin, disaksikan oleh
semua anggauta Jambuka Cemeng. Beberapa orang pini sepuh dari perkampungan itu
yang melakukan upacara pernikahan itu semua orang mengikuti dengan gembira.
Akhirnya, sepasang pengantin duduk bersanding dan semua tahu mulai berpesta
makan minum dengan penuh kegembiraan.
Saroji
menghampiri adiknya.
"Eh,
kemana perginya kakangmas Bagus Seta? Sejak sore tadi aku tidak
melihatnya."
Sarmini
mengerutkan alisnya.
"Sejak
tadi aku juga mencarinya, akan tetapi dia tidak ada. Jangan-jangan dia pergi
meninggalkan tempat ini dengan diam-diam?"
"Mana
mungkin?" Saroji menoleh ke arah pengantin wanita yang duduk dekat ayahnya
dengan pandang mata penasaran.
"Tidak
mungkin dia meninggalkan adiknya."
"Eh,
kakang Saroji, apakah engkau melihat ibu?"
"Tidak,
apakah tadi tidak bersama kita?"
"Memang
tadi bersama kita semua, ikut membawa pengantin keluar kamar, akan tetapi
setelah itu ia tidak tampak lagi. Jangan-jangan ibu menyembunyikan diri untuk
melampiaskan kedukaannya, kakang!"
"Selama
beberapa hari ini ibu tidak ada perubahan. Ibu telah menerima kenyataan itu
dengan sabar. Sungguh mengherankan, kenapa ibu tidak tampak dan kakangmas Bagus
Seta juga tidak tampak."
"Mari
kita berdua mencari kakangmas Bagus Seta!" Ajak Sarmini.
"Bagaimanapun
juga, dia harus ikut merayakan pesta ini."
Kakak beradik
itu lalu keluar dari tempat pesta. Di luar sunyi, perkampungan itu sunyi karena
semua orang pergi ke tempat pesta. Mereka mencari ke mana-mana namun percuma.
Mereka tidak dapat menemukan Bagus Seto juga tidak tampak ibu mereka di
mana-mana. Tentu saja hal ini membuat mereka berdua terheran-heran dan terpaksa
mereka kembali ke tempat pesta yang sudah mulai bubaran karena pesta makan
minum sudah selesai. Sepasang mempelai memasuki kamar mereka dan karena ibunya
tidak ada, Sarmini mewakili ibunya mengantar sepasang mempelai ke kamar mereka.
Setelah pintu kamar ditutup, Sarmini masih berdiri termangu di depan kamar itu,
pikirannya kacau dan gelisah karena ia tidak melihat ibunya. Kemana perginya
orang tua itu? Dan mengapa pula Bagus Seta tidak menghadiri pesta perayaan
pernikahan adiknya? Ia teringat akan pembicaraan kakaknya dengan Bagus Seto dan
Retna Wilis. Bagus Seto menyatakan bahwa ia dan kakaknya tidak mengerti, dan
menyatakan bahwa dialah yang akan mengurusnya agar pernikahan itu tidak sampai
terjadi, bahkan pemuda itu berjanji akan menyadarkan ayahnya. Akan tetapi
seteiah tiba saatnya, pemuda itu pemuda yang amat dikaguminya, ternyata tidak
muncul. Betapa kecewa hatinya! Tiba-tiba terdengar ayahnya berteriak-teriak dan
suara ibunya menangis dari dalam kamar pengantin itu.
"Jahanam,
aku telah tertipu! Keluar kau, cari di mana ia!" terdengar ayahnya
berteriak dan pintu kamar itu terbuka.
Ibunya keluar
dan Sarmini terbelalak. Wanita yang bercadar, berpakaian pengantin itu, adalah
ibunya! Pengantin wanitanya adalah ibunya! Kemudian Ki Haryosakti meloncat
keluar dan melihat Sarmini, dia lalu merangkulnya.
"Ah,
kiranya engkau di sini, diajeng Retna Wilis!" Sarmini hendak dipondongnya.
Sarmini
meronta.
"Ayah,
ini aku, Sarmini! Lepaskan aku!"
Ki Haryosakti
juga terbelalak dan bagaikan baru habis mimpi, dia menggosok-gosok kedua matanya.
"Permainan
apakah ini? Tiba-tiba ibumu yang menjadi pengantin wanita, dan engkau tadi
kulihat seperti Retna Wilis! Siapa yang bermain-main seperti ini?" Karena
dia sendiri seorang yang ahli dalam ilmu sihir, tahulah dia bahwa dia menjadi
permainan sihir yang amat kuat.
"Aku
tidak tahu ... tadi tahu-tahu mereka merias aku, dan aku sama sekali tidak
mampu mengeluarkan suara ... " Isteri Ki Haryosakti menangis dengan sedih.
"Apa
engkau melihat Retna Wilis?" tanya suaminya.
"Tidak,
aku sama sekali tidak melihatnya. Tahu-tahu ia telah lenyap dari dalam kamar
pengantin dan kulihat hanya Bagus Seta, itupun hanya sebentar. Dia berdiri di
luar pintu dan memandangku dengan sinar mata aneh."
"Huh,
jangan-jangan ini permainan mereka! Mereka telah mempermainkan aku,
jahanam!"
Pada saat itu
terdengar sorak sorai riuh rendah yang datangnya dari luar perkampungan. Lalu
datang tergopoh-gopoh tiga orang lari menghampiri Ki Haryosakti.
"Celaka,
denmas. Celaka, Bala Cucut datang menyerang dengan jumlah yang besar. Pimpinannya
kini menantang-nantang di luar pintu gerbang!"
Mendengar ini,
Sarmini sudah berlari cepat keluar dari tempat itu. Ia hampir bertubrukan
dengan Saroji yang juga keluar membawa senjata tombak.
"Ada apa
ribut-ribut itu?" tanya Saroji.
"Bala
Cucut datang menyerbu, kakang. Mari kita ke sana!"
Mereka berdua
lalu berlari cepat untuk memimpin anak buahnya ke luar dari perkampungan.
Ternyata di depan pintu gerbang sudah berdiri seorang kakek tinggi besar yang
mukanya penuh brewok dan mata kirinya ditutup dengan kain hitam, yang
dilibatkan di kepalanya. Kakek brewok itu berusia kurang lebih limapuluh tahun
dan dia memegang sebatang golok besar yang tajam sekali dan ke lihatannya
berat. Tempat itu disinari obor-obor yang dibawa para penyerbu dan juga banyak
anak buah Jambuko Cemeng yang membawa obor bernyala. Jumlah mereka tidak kurang
dari seratus orang dan mereka semua bersenjatakan golok. Kepala mereka diikat
dengan kain merah dan wajah mereka semua tampak buas.
"Suruh Ki
Haryosakti, ketua kalian keluar untuk mengadu ilmu dengan aku. Katakan ini
Brajamusti ketua Bala Cucut telah datang untuk menantangnya! Cepat suruh dia
keluar, atau kami akan membikin perkampungan Jambuko Cemeng menjadi karang
abang (lautan api)!"
Mendengar ini,
Saroji dan Sarmini menjadi marah sekali. Mereka tahu bahwa ketua Bala Cucut ini
hendak menuntut balas kematian tiga orang pembantunya.
"Tidak
perlu ayah, kami berdua sanggup untuk mengirimmu ke neraka!" bentak
Sarmini sambil menyerang dengan kerisnya. Pada saat itu, Saroji juga menyerang
dengan tombaknya. Akan tetapi, Brajamusti menggerakkan goloknya dan sekali
golok bergerak, dia sudah menangkis kedua senjata itu dengan kuat sekali.
Tombak dan keris itu terpental dan hampir terlepas dari tangan kedua orang muda
itu. Tentu saja mereka terkejut bukan main.
"Ha-ha-ha,
jangan anak kecil yang maju. Panggil ayah kalian!" kembali Brajamusti
menantang.
Akan tetapi
Saroji sudah menyerang lagi dengan menusukkan tombak ke dada orang tinggi besar
itu dan Sarmini juga sudah menubruk dan menikamkan kerisnya ke perut yang
gendut itu.
"Tak ...
! Tak ... !" Keris dan tombak itu terpental seolah bertemu dengan dinding
baja! Ternyata kakek itu memiliki kekebalan yang hebat.
"Ha-ha-ha-ha!"
Brajamusti tertawa bergelak.
"Kalian
berdua mundurlah!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Ki Haryosakti
telah berdiri di situ, menyuruh kedua orang anaknya mundur.
Mendengar ini,
dan melihat betapa saktinya pemimpin Bala Cucut, dua orang muda itu lalu mundur
dan menonton dengan hati tegang. Mereka tahu bahwa ayahnya kini berhadapan
dengan lawan yang benar-benar amat tangguh. Ki Haryosakti beradu pandang dengan
Brajamusti.
"Andika
inikah pemimpin Bala Cucut?" tanyanya dengan lantang.
"Ha-ha-ha,
benar akulah pemimpin Bala Cucut. Namaku Brajamusti dan kalau benar engkau ini
yang bernama Haryosakti pemimpin Jambuko Cemeng, bersiaplah engkau untuk mampus
di tanganku!"
"Babo-babo,
sumbarmu seperti dapat memecahkan gunung! Aku adalah Haryosakti dan selama
hidupku belum pernah aku mundur menghadapi lawan. Apa maksudmu malam-malam
begini datang dengan anak buahmu ke perkampungan kami?"
"Ha-ha-ha,
pertanyaan yang bodoh! Andika telah membunuh tiga orang anak buahku, tentu saja
aku dating untuk membalas dendam!"
"Brajamusti,
kalau benar engkau seorang gagah perkasa, datanglah di waktu matahari telah
bersinar sehingga kita dapat berhadapan dalam cuaca terang. Tidak datang
seperti maling malam-malam begini. Kalau engkau berani, aku tantang engkau
bertanding besok pagi setelah matahari terbit, di tempat ini! Dan tidak boleh
ada yang membawa pembantu. Kita bertanding satu lawan satu. Kalau aku kalah,
maka aku akan menyerah dan engkau boleh berbuat sesuka hatimu. Akan tetapi
kalau engkau yang kalah, engkau harus minggat dari sini bersama anak
buahmu!"
Tidak ada yang
tahu bahwa tantangan Ki Haryosakti ini mengandung kecerdikan. Dia tadi sudah
banyak minum tuak, menjadi setengah mabok dan tentu saja dalam keadaan seperti
itu dia tidak dapat bertanding dengan baik. Selain itu, pihak Bala Cucut datang
pada malam hari dan tentu sudah mempunyai perhitungan dengan baik, sedangkan
pihaknya yang mendapat serangan tiba-tiba di tengah malam itu belum dapat
melakukan atau mengatur siasat. Dan lebih dari itu, baru saja dia mengalami
guncangan batin yang hebat melihat bahwa pengantin wanita yang dinikahinya
ternyata adalah isterinya sendiri sedangkan Retna Wilis entah ke mana.
Di lain pihak,
Brajamusti yang ditantang untuk bertanding besok pagi, tentu merasa malu untuk
menolak. Menolak tantangan dapat diartikan tidak berani. Dan diapun mengira
bahwa pihak tuan rumah tentu dapat mengatur siasat pertahanan lebih baik dari
pada pasukannya yang tidak mengenal medan. Kalau pertandingan dilakukan besok
di pagi hari, dia tidak khawatir musuh mengatur jebakan-jebakan yang tidak
terlihat di waktu malam.
"Babo-babo,
siapa takut padamu, Haryosakti! Besok pagi diwaktu matahari muncul, aku akan
datang ke sini untuk mengambil nyawamu, ha-ha-ha!" Setelah berkata
demikian, dia lalu meneriakkan anak buahnya agar mundur dan membuat perkemahan
agak jauh dari kampung untuk melewatkan malam itu.
Sementara itu,
Ki Haryosakti segera mengatur anak buahnya untuk melakukan penjagaan dan
menyusun pertahanan kalau besok musuh datang menyerang. Setelah itu, kembali
dia mencari Retna Wilis, bahkan mengerahkan orang-orangnya untuk mencari di
perkampungan itu, namun segala usahanya sia-sia. Retna Wilis dan Bagus Seto
tidak dapat mereka temukan!
Pada keesokan
harinya, setelah matahari mulai bersinar mengusir kabut pagi, muncullah
Brajamusti bersama belasan orang pembantunya yang menjadi pasukan pengawalnya
dan di belakangnya datang berbondong-bondong anak buahnya yang semua sudah
membawa golok telanjang. Sikap mereka itu menantang dan bengis sekali. Ki
Haryosakti menyambut musuh, diiringkan Saroji dan Sarmini bersama pasukan
pengawal yang belasan orang banyaknya. Akan tetapi pemuda dan gadis ini tidak
berani sernbarangan maju karena mereka berdua sudah mengenal kesaktian
Brajamusti yang memiliki kekebalan yang luar biasa sehingga tombak dan keris
mereka tidak mampu melukainya. Ki Haryosakti yang sudah mendengar keterangan
dua orang anaknya tentang kesaktian Brajamusti juga melarang mereka maju. Dia
sendiri yang akan menghadapi Ki Bajramusti yang tangguh itu.
"Ha-ha-ha,
bagus sekali. Kiranya Ki Brajamusti ternyata memiliki kegagahan dan memenuhi
tantanganku. Apakah andika telah siap untuk menghadapi kekalahan?" Ki
Haryosakti berkata mengejek untuk menjatuhkan nyali lawan.
Ki Brajamusti
tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha,
masih untung semalam aku menitipkan nyawamu kepadamu, Haryosakti. Akan tetapi
pagi ini aku akan mengambilnya dan semua orang-orangmu harus tunduk kepadaku
atau akan kubasmi semua!"
"Babo-babo!
Jangan omong besar. Sekarang tentukan bagaimana pertandingan diadakan. Kita
berdua satu lawan satu, ataukah main keroyokan? Kami sudah siap!"
"Jangan
seperti anak kecil, Haryosakti. Kita berdua adalah orang-orang tua yang
memegang teguh janji. Kita bertanding satu lawan satu dan siapa yang kalah
harus menaati kehendak yang menang. Bagaimana, setujukah engkau dengan
peraturan ini?"
<<< Bagian 44 Bagian 46 >>>
No comments:
Post a Comment