Sepasang Garuda Putih ; Bagian 45


Di dapur, para wanita sibuk memasak dan para pria masih ada yang sibuk menghias ruangan depan yang akan dipakai sebagai tempat pertemuan sepasang mempelai dan tempat duduk para anggauta Jambuka Cemeng. Karena kini akan menjadi isteri ketua Jambuko Cemang, Retna Wilis juga diharuskan memakai pakaian pengantin yang terbuat dari kain sutera berwarna hitam! Mukanya memakai kerudung hitam pula sehingga hanya Nampak sedikit dari balik cadar hitam itu. Bagus Seta sejak tadi tidak tampak akan tetapi hal ini tidak dipedulikan orang. Gamelan yang berada di ruangan depan sudah dipukul orang sejak sore tadi. Anak-anak dengan gembira bermain-main di dekat situ sambil menonton gamelan yang mengiringi suara merdu tiga orang penyanyi. Tempat upacara pertemuan pengantin dan tempat duduk para tamu sudah dirias dengan janur-janur dan kain warna-warni.
Setelah waktunya tiba, pengantin wanita yang memakai cadar itu dibawa keluar kamar pengantin dan dipertemukan dengan pengantin pria sebagaimana mestinya diiringi suara gamelan yang memainkan lagu-lagu pertemuan pengantin, disaksikan oleh semua anggauta Jambuka Cemeng. Beberapa orang pini sepuh dari perkampungan itu yang melakukan upacara pernikahan itu semua orang mengikuti dengan gembira. Akhirnya, sepasang pengantin duduk bersanding dan semua tahu mulai berpesta makan minum dengan penuh kegembiraan.
Saroji menghampiri adiknya.
"Eh, kemana perginya kakangmas Bagus Seta? Sejak sore tadi aku tidak melihatnya."
Sarmini mengerutkan alisnya.
"Sejak tadi aku juga mencarinya, akan tetapi dia tidak ada. Jangan-jangan dia pergi meninggalkan tempat ini dengan diam-diam?"
"Mana mungkin?" Saroji menoleh ke arah pengantin wanita yang duduk dekat ayahnya dengan pandang mata penasaran.
"Tidak mungkin dia meninggalkan adiknya."
"Eh, kakang Saroji, apakah engkau melihat ibu?"
"Tidak, apakah tadi tidak bersama kita?"
"Memang tadi bersama kita semua, ikut membawa pengantin keluar kamar, akan tetapi setelah itu ia tidak tampak lagi. Jangan-jangan ibu menyembunyikan diri untuk melampiaskan kedukaannya, kakang!"
"Selama beberapa hari ini ibu tidak ada perubahan. Ibu telah menerima kenyataan itu dengan sabar. Sungguh mengherankan, kenapa ibu tidak tampak dan kakangmas Bagus Seta juga tidak tampak."
"Mari kita berdua mencari kakangmas Bagus Seta!" Ajak Sarmini.
"Bagaimanapun juga, dia harus ikut merayakan pesta ini."

Kakak beradik itu lalu keluar dari tempat pesta. Di luar sunyi, perkampungan itu sunyi karena semua orang pergi ke tempat pesta. Mereka mencari ke mana-mana namun percuma. Mereka tidak dapat menemukan Bagus Seto juga tidak tampak ibu mereka di mana-mana. Tentu saja hal ini membuat mereka berdua terheran-heran dan terpaksa mereka kembali ke tempat pesta yang sudah mulai bubaran karena pesta makan minum sudah selesai. Sepasang mempelai memasuki kamar mereka dan karena ibunya tidak ada, Sarmini mewakili ibunya mengantar sepasang mempelai ke kamar mereka. Setelah pintu kamar ditutup, Sarmini masih berdiri termangu di depan kamar itu, pikirannya kacau dan gelisah karena ia tidak melihat ibunya. Kemana perginya orang tua itu? Dan mengapa pula Bagus Seta tidak menghadiri pesta perayaan pernikahan adiknya? Ia teringat akan pembicaraan kakaknya dengan Bagus Seto dan Retna Wilis. Bagus Seto menyatakan bahwa ia dan kakaknya tidak mengerti, dan menyatakan bahwa dialah yang akan mengurusnya agar pernikahan itu tidak sampai terjadi, bahkan pemuda itu berjanji akan menyadarkan ayahnya. Akan tetapi seteiah tiba saatnya, pemuda itu pemuda yang amat dikaguminya, ternyata tidak muncul. Betapa kecewa hatinya! Tiba-tiba terdengar ayahnya berteriak-teriak dan suara ibunya menangis dari dalam kamar pengantin itu.
"Jahanam, aku telah tertipu! Keluar kau, cari di mana ia!" terdengar ayahnya berteriak dan pintu kamar itu terbuka.
Ibunya keluar dan Sarmini terbelalak. Wanita yang bercadar, berpakaian pengantin itu, adalah ibunya! Pengantin wanitanya adalah ibunya! Kemudian Ki Haryosakti meloncat keluar dan melihat Sarmini, dia lalu merangkulnya.
"Ah, kiranya engkau di sini, diajeng Retna Wilis!" Sarmini hendak dipondongnya.
Sarmini meronta.
"Ayah, ini aku, Sarmini! Lepaskan aku!"
Ki Haryosakti juga terbelalak dan bagaikan baru habis mimpi, dia menggosok-gosok kedua matanya.
"Permainan apakah ini? Tiba-tiba ibumu yang menjadi pengantin wanita, dan engkau tadi kulihat seperti Retna Wilis! Siapa yang bermain-main seperti ini?" Karena dia sendiri seorang yang ahli dalam ilmu sihir, tahulah dia bahwa dia menjadi permainan sihir yang amat kuat.
"Aku tidak tahu ... tadi tahu-tahu mereka merias aku, dan aku sama sekali tidak mampu mengeluarkan suara ... " Isteri Ki Haryosakti menangis dengan sedih.
"Apa engkau melihat Retna Wilis?" tanya suaminya.
"Tidak, aku sama sekali tidak melihatnya. Tahu-tahu ia telah lenyap dari dalam kamar pengantin dan kulihat hanya Bagus Seta, itupun hanya sebentar. Dia berdiri di luar pintu dan memandangku dengan sinar mata aneh."
"Huh, jangan-jangan ini permainan mereka! Mereka telah mempermainkan aku, jahanam!"

Pada saat itu terdengar sorak sorai riuh rendah yang datangnya dari luar perkampungan. Lalu datang tergopoh-gopoh tiga orang lari menghampiri Ki Haryosakti.
"Celaka, denmas. Celaka, Bala Cucut datang menyerang dengan jumlah yang besar. Pimpinannya kini menantang-nantang di luar pintu gerbang!"
Mendengar ini, Sarmini sudah berlari cepat keluar dari tempat itu. Ia hampir bertubrukan dengan Saroji yang juga keluar membawa senjata tombak.
"Ada apa ribut-ribut itu?" tanya Saroji.
"Bala Cucut datang menyerbu, kakang. Mari kita ke sana!"
Mereka berdua lalu berlari cepat untuk memimpin anak buahnya ke luar dari perkampungan. Ternyata di depan pintu gerbang sudah berdiri seorang kakek tinggi besar yang mukanya penuh brewok dan mata kirinya ditutup dengan kain hitam, yang dilibatkan di kepalanya. Kakek brewok itu berusia kurang lebih limapuluh tahun dan dia memegang sebatang golok besar yang tajam sekali dan ke lihatannya berat. Tempat itu disinari obor-obor yang dibawa para penyerbu dan juga banyak anak buah Jambuko Cemeng yang membawa obor bernyala. Jumlah mereka tidak kurang dari seratus orang dan mereka semua bersenjatakan golok. Kepala mereka diikat dengan kain merah dan wajah mereka semua tampak buas.
"Suruh Ki Haryosakti, ketua kalian keluar untuk mengadu ilmu dengan aku. Katakan ini Brajamusti ketua Bala Cucut telah datang untuk menantangnya! Cepat suruh dia keluar, atau kami akan membikin perkampungan Jambuko Cemeng menjadi karang abang (lautan api)!"
Mendengar ini, Saroji dan Sarmini menjadi marah sekali. Mereka tahu bahwa ketua Bala Cucut ini hendak menuntut balas kematian tiga orang pembantunya.
"Tidak perlu ayah, kami berdua sanggup untuk mengirimmu ke neraka!" bentak Sarmini sambil menyerang dengan kerisnya. Pada saat itu, Saroji juga menyerang dengan tombaknya. Akan tetapi, Brajamusti menggerakkan goloknya dan sekali golok bergerak, dia sudah menangkis kedua senjata itu dengan kuat sekali. Tombak dan keris itu terpental dan hampir terlepas dari tangan kedua orang muda itu. Tentu saja mereka terkejut bukan main.
"Ha-ha-ha, jangan anak kecil yang maju. Panggil ayah kalian!" kembali Brajamusti menantang.

Akan tetapi Saroji sudah menyerang lagi dengan menusukkan tombak ke dada orang tinggi besar itu dan Sarmini juga sudah menubruk dan menikamkan kerisnya ke perut yang gendut itu.
"Tak ... ! Tak ... !" Keris dan tombak itu terpental seolah bertemu dengan dinding baja! Ternyata kakek itu memiliki kekebalan yang hebat.
"Ha-ha-ha-ha!" Brajamusti tertawa bergelak.
"Kalian berdua mundurlah!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Ki Haryosakti telah berdiri di situ, menyuruh kedua orang anaknya mundur.
Mendengar ini, dan melihat betapa saktinya pemimpin Bala Cucut, dua orang muda itu lalu mundur dan menonton dengan hati tegang. Mereka tahu bahwa ayahnya kini berhadapan dengan lawan yang benar-benar amat tangguh. Ki Haryosakti beradu pandang dengan Brajamusti.
"Andika inikah pemimpin Bala Cucut?" tanyanya dengan lantang.
"Ha-ha-ha, benar akulah pemimpin Bala Cucut. Namaku Brajamusti dan kalau benar engkau ini yang bernama Haryosakti pemimpin Jambuko Cemeng, bersiaplah engkau untuk mampus di tanganku!"
"Babo-babo, sumbarmu seperti dapat memecahkan gunung! Aku adalah Haryosakti dan selama hidupku belum pernah aku mundur menghadapi lawan. Apa maksudmu malam-malam begini datang dengan anak buahmu ke perkampungan kami?"
"Ha-ha-ha, pertanyaan yang bodoh! Andika telah membunuh tiga orang anak buahku, tentu saja aku dating untuk membalas dendam!"
"Brajamusti, kalau benar engkau seorang gagah perkasa, datanglah di waktu matahari telah bersinar sehingga kita dapat berhadapan dalam cuaca terang. Tidak datang seperti maling malam-malam begini. Kalau engkau berani, aku tantang engkau bertanding besok pagi setelah matahari terbit, di tempat ini! Dan tidak boleh ada yang membawa pembantu. Kita bertanding satu lawan satu. Kalau aku kalah, maka aku akan menyerah dan engkau boleh berbuat sesuka hatimu. Akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus minggat dari sini bersama anak buahmu!"
Tidak ada yang tahu bahwa tantangan Ki Haryosakti ini mengandung kecerdikan. Dia tadi sudah banyak minum tuak, menjadi setengah mabok dan tentu saja dalam keadaan seperti itu dia tidak dapat bertanding dengan baik. Selain itu, pihak Bala Cucut datang pada malam hari dan tentu sudah mempunyai perhitungan dengan baik, sedangkan pihaknya yang mendapat serangan tiba-tiba di tengah malam itu belum dapat melakukan atau mengatur siasat. Dan lebih dari itu, baru saja dia mengalami guncangan batin yang hebat melihat bahwa pengantin wanita yang dinikahinya ternyata adalah isterinya sendiri sedangkan Retna Wilis entah ke mana.
Di lain pihak, Brajamusti yang ditantang untuk bertanding besok pagi, tentu merasa malu untuk menolak. Menolak tantangan dapat diartikan tidak berani. Dan diapun mengira bahwa pihak tuan rumah tentu dapat mengatur siasat pertahanan lebih baik dari pada pasukannya yang tidak mengenal medan. Kalau pertandingan dilakukan besok di pagi hari, dia tidak khawatir musuh mengatur jebakan-jebakan yang tidak terlihat di waktu malam.
"Babo-babo, siapa takut padamu, Haryosakti! Besok pagi diwaktu matahari muncul, aku akan datang ke sini untuk mengambil nyawamu, ha-ha-ha!" Setelah berkata demikian, dia lalu meneriakkan anak buahnya agar mundur dan membuat perkemahan agak jauh dari kampung untuk melewatkan malam itu.
Sementara itu, Ki Haryosakti segera mengatur anak buahnya untuk melakukan penjagaan dan menyusun pertahanan kalau besok musuh datang menyerang. Setelah itu, kembali dia mencari Retna Wilis, bahkan mengerahkan orang-orangnya untuk mencari di perkampungan itu, namun segala usahanya sia-sia. Retna Wilis dan Bagus Seto tidak dapat mereka temukan!

Pada keesokan harinya, setelah matahari mulai bersinar mengusir kabut pagi, muncullah Brajamusti bersama belasan orang pembantunya yang menjadi pasukan pengawalnya dan di belakangnya datang berbondong-bondong anak buahnya yang semua sudah membawa golok telanjang. Sikap mereka itu menantang dan bengis sekali. Ki Haryosakti menyambut musuh, diiringkan Saroji dan Sarmini bersama pasukan pengawal yang belasan orang banyaknya. Akan tetapi pemuda dan gadis ini tidak berani sernbarangan maju karena mereka berdua sudah mengenal kesaktian Brajamusti yang memiliki kekebalan yang luar biasa sehingga tombak dan keris mereka tidak mampu melukainya. Ki Haryosakti yang sudah mendengar keterangan dua orang anaknya tentang kesaktian Brajamusti juga melarang mereka maju. Dia sendiri yang akan menghadapi Ki Bajramusti yang tangguh itu.
"Ha-ha-ha, bagus sekali. Kiranya Ki Brajamusti ternyata memiliki kegagahan dan memenuhi tantanganku. Apakah andika telah siap untuk menghadapi kekalahan?" Ki Haryosakti berkata mengejek untuk menjatuhkan nyali lawan.
Ki Brajamusti tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, masih untung semalam aku menitipkan nyawamu kepadamu, Haryosakti. Akan tetapi pagi ini aku akan mengambilnya dan semua orang-orangmu harus tunduk kepadaku atau akan kubasmi semua!"
"Babo-babo! Jangan omong besar. Sekarang tentukan bagaimana pertandingan diadakan. Kita berdua satu lawan satu, ataukah main keroyokan? Kami sudah siap!"
"Jangan seperti anak kecil, Haryosakti. Kita berdua adalah orang-orang tua yang memegang teguh janji. Kita bertanding satu lawan satu dan siapa yang kalah harus menaati kehendak yang menang. Bagaimana, setujukah engkau dengan peraturan ini?"

<<< Bagian 44                                                                                         Bagian 46 >>>

No comments:

Post a Comment