Sepasang Garuda Putih ; Bagian 46


"Bagus, itulah yang kukehendaki. Mari kita mulai!" jawab Ki Haryosakti yang sudah membawa senjata pusakanya, yaitu tombak pusaka yang ampuh. Dia melintangkan tombak di depan dada dan sikapnya menantang, kuda-kudanya teguh.
Melihat ini, Ki brajamusti mengeluarkan suara tawa bergelak, kemudian dia memutar golok besarnya ke atas kepala sambil berseru,
"Akupun sudah siap, mari kita mulai!"
Ki Haryosakti tidak sungkan lagi, berteriak lantang,
"Lihat tombakku!"

Tombaknya sudah menyambar ke depan dengan tusukan kilat ke arah perut lawan. Brajamusti menggerakkan goloknya menangkis serangan tombak yang amat berbahaya itu. Kini tentu saja dia tidak berani mengandalkan kekebalan tubuhnya. Tombak itu sebatang tombak pusaka dan kini digerakkan oleh seorang yang memiliki tenaga sakti kuat. Goloknya menangkis dari samping.
"Trangg ... !!" Bunga api berpijar ketika dua senjata bertemu dan keduanya merasa betapa telapak tangan mereka panas ketika senjata mereka saling bertemu.
Haryosakti menyusulkan serangan bertubi dengan tombaknya. Brajamusti memutar-mutar goloknya dan beberapa kali tombak itu tertangkis golok. Ketika mendapat kesempatan, Brajamusti membalas serangan lawan, goloknya menyambar dengan serangan maut. Namun, Ki Haryosakti cukup gesit untuk mengelak dan ketika golok itu terus menerjang dengan ganasnya, diapun menangkis dengan tombaknya dan kembali dua senjata bertemu dengan kuatnya. Serang menyerang terjadi dan kedua orang itu masing-masing merasa terkejut karena ternyata tingkat kepandaian mereka seimbang. Mereka mengeluarkan semua ilmu mereka dan mengerahkan seluruh tenaga untuk mendapatkan kemenangan. Gerakan kedua orang itu demikian cepatnya sehingga bentuk golok dan tombak lenyap, berubah menjadi dua gulung sinar yang saling mendesak dan saling menekan. Satu jam lebih mereka bertanding dan belum tampak ada yang akan menang atau kalah. Entah sudah berapa puluh kali senjata mereka saling bertemu. Akan tetapi diam-diam Haryosakti terkejut. Dia merasa betapa kedua tangannya lelah sekali karena benturan-benturan antara kedua senjata itu. Ternyata tenaga lawan luar biasa kuatnya. Karena maklum bahwa akhirnya dia akan kalah kalau pertandingan dengan senjata itu dilanjutkan, tiba-tiba dia melompat ke belakang dan berseru nyaring,
"Tahan senjata!"
Brajamusti menghentikan gerakannya dan tertawa.
"Ha-haha, belum lecet kulitmu engkau mengajak berhenti. Apakah engkau hendak mengaku kalah, Haryosakti?"
"Siapa yang kalah? Aku tidak kalah. Akan tetapi karena dalam pertandingan adu senjata kita sama kuat, bagaimana kalau sekarang diganti dengan pertandingan tangan kosong? Kita mengadu tebalnya kulit dan kerasnya tulang, tidak lagi mengandalkan senjata melainkan mengandalkan kadigdayaan. Beranikah engkau?"
Brajamusti kembali tertawa. Dia sendiri sudah merasa bingung tadi karena sekian lamanya tidak mampu mendesak lawan. Kini lawannya mengusulkan untuk bertanding tanpa senjata, maka tentu saja dia merasa senang sekali. Dia memiliki tubuh yang kebal dan tenaga yang besar.
"Bagus, siapa takut padamu? Mari kita lanjutkan dengan tangan kosong!" Dia lalu menyerahkan goloknya kepada seorang pengawal.
Haryosakti juga menyerahkan tombaknya kepada Saroji dan kedua orang ketua jagoan ini kini saling berhadapan lagi dengan tangan kosong. Diam-diam keduanya mengerahkan tenaga sakti disalurkan ke dalam ke dua lengan, dan Haryosakti berteriak,
"Lihat pukulan!" dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, tangan kanannya menampar ke arah dagu lawan sedangkan tangan kirinya sudah siap menyusulkan serangan kalau tamparannya tidak berhasil.
"Hemm ... !" Brajamusti mengelak dengan menarik mukanya ke belakang hingga tamparan itu luput dan ketika tangan kiri Haryosakti menyusulkan tonjokan ke arah dadanya, tangan kanannya membuat gerakan berputar dan dia sudah menangkis pukulan ke arah dadanya itu.
"Dukk ... !" Kedua lengan bertemu dan keduanya mundur selangkah. Kini Brajamusti membalas serangan lawan dengan tendangan kakinya yang mencuat dengan cepat sekali ke arah perut Haryosakti, akan tetapi ketua Jambuko Cemeng inipun sudah dapat mengelak. Serang menyerang kembali terjadi di antara keduanya. Mereka mengerahkan tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus terampuh mereka dalam usahanya untuk merobohkan lawan.

Saroji dan Sarmini menonton dengan alis berkerut. Mereka berdua maklum bahwa pihak lawan sungguh amat tangguh dan mereka tadi sudah melihat keringat membasahi leher ayah mereka ketika berhenti sebentar. Mereka berdua tidak dapat membantu ayah mereka karena hal itu akan dianggap curang. Maka dengan jantung berdebar tegang mereka hanya dapat menonton. Kekhawatiran dua orang muda itu ternyata terbukti tidak lama kemudian. Setelah pertandingan berlangsung limapuluh jurus lebih, mulai tampaklah betapa Ki Haryosakti terdesak mundur. Sudah beberapa kali dia terkena tamparan dan pukulan lawan yang membuat dia terhuyung. Dan beberapa kali pukulannya juga bersarang kepada tubuh lawan, akan tetapi ternyata tubuh itu kebal, membuat pukulannya mental kembali seperti mengenai benda dari karet saja.
"Robohlah!" Tiba-tiba Bajramusti berseru dan sebuah tendangan kakinya mengenai perut lawan.
Ki Haryosakti tidak dapat menghindar. Perutnya tertendang dan dia-pun roboh terjengkang! Bajramusti bertolak pinggang sambil menertawakan lawannya. Para pembantunya ikut pula tertawa dan anak buahnya yang berada di belakang bersorak melihat kemenangan ketua mereka. Sebaliknya, di pihak Jambuko Cemeng orang-orangnya hanya berdiam saja dengan hati tegang.
"Ha-ha, Ki Haryosakti. Engkau sudah kalah! Akuilah kekalahanmu dan mulai sekarang kalian semua harus menaati perintahku!"
Tiba-tiba Saroji dengan tombak ayah-nya di tangan melompat maju.
“Ayah sudah kalah akan tetapi aku belum! Aku yang akan melawanmu, Bajramusti!"
Melihat majunya pemuda itu, Bajramusti tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, ayahnya sudah kalah kini maju anaknya. Heh, orang muda, engkau bukan tandinganku, apakah engkau sudah bosan hidup?"
Melihat puteranya maju, Ki Haryosakti juga berseru,
"Saroji, mundur kau!" Dia tahu bahwa kalau puteranya maju, sama halnya dengan membunuh diri.
Pada saat itu terdengar seruan suara wanita,
"Ki Bajraniusti, akulah lawanmu!"
Ki Haryosakti dan kedua orang anaknya terkejut mendengar suara Retna Wilis, dan kini mereka melihat Retna Wilis muncul bersama Bagus Seta! Retna Wilis sudah melompat ke depan dan berkata kepada Saroji,
"Lebih baik andika mundur, biar aku yang menghadapi raksasa brewok ini!”

Saroji ragu-ragu, tidak tega membiarkan Retna Wilis melawan ketua Bala Cucut itu, akan tetapi sekali lagi Haryosakti menghardik kepada puteranya untuk mundur. Saroji lalu mundur dan menonton bersama adik dan ayahnya dengan hati tegang dan juga heran. Bagaimana Retna Wilis akan mampu menghadapi raksasa yang amat sakti itu. Bagus Seto juga memandang sambil tersenyum dan pemuda ini menonton di satu pinggiran, tidak mendekati keluarga Haryosakti. Sementara itu, ketika Brajamusti melihat majunya seorang gadis yang cantik jelita, dia tertawa bergelak sambil menengadahkan kepalanya.
"Hoa-ha-ha-ha! Jambuko Cemeng sudah kehabisan jago dan mengajukan seorang perawan cantik untuk melawan aku. Wong ayu, jangan andika yang maju sayang kecantikanmu, sayang kulitmu yang halus kalau sampai lecet. Lebih baik andika ikut bersamaku dan kujadikan selir, ha ha-ha!”
"Brajamusti, tidak perlu bermulut besar. Kalau andika dapat mengalahkan aku, barulah andika berhak untuk bermulut besar! Atau barangkali andika takut melawan aku?”
"Takut? Ha-ha, takut? Aku takut kalau sampai membunuh atau melukaimu, cah ayu.”
"Kalau begitu, bersiaplah andika!”
"Ha-ha-ha, aku sudah siap, ha-ha-ha!”
"Lihat seranganku! Haiiiittt ...!" Retna Wilis menerjang ke depan, tangan kirinya menampar ke arah dada raksasa itu.
Brajamusti hendak memamerkan kekebalannya maka diapun membiarkan saja dadanya terbuka untuk dihantam. Jari-jari tangan Retna Wilis yang kecil mungil itu bertemu dengan dada yang bidang dan kokoh kuat itu. Akan tetapi ia mempergunakan aji Wisolangking.
"Wuuuttt.....dess ....!!”
"Aduh .... mati aku .....!!" Tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan roboh terguling-guling. Brajamusti merasa dadanya seperti pecah. Untung dia tadi mengerahkan ilmu kekebalannya sehingga dia tidak mati terpukul. Dia melompat bangun, menggosok-gosok dadanya dengan telapak tangan kiri sambil memandang kepada Retno Wilis dengan mata mencorong penuh kemarahan.

Sementara itu, Ki Haryosakti dan kedua orang anaknya, juga para anggauta Jambuko Cemeng, menonton dengan mata terbelalak dan mulut ternganga! Baru sekarang mereka mengetahui bahwa gadis itu memiliki kesaktian yang hebat sehingga sekali pukul saja dapat membuat raksasa itu roboh terguling-guling! Terutama sekali Ki Haryosakti. Wajahnya berubah pucat lalu kemerahan. Dan dia sudah hendak memperisteri gadis itu! Sekarang baru dia merasa bahwa dia dipermainkan! Ki Bajramusti kini marah bukan main. Dengan kedua tangan membentuk cakar harimau, dia lalu menyerang, kedua tangannya menyambar dari kanan kiri hendak menerkam tubuh gadis itu. Akan tetapi tubrukannya luput dan tiba-tiba saja gadis itu lenyap. Kemudian dari belakang dia mendengar ada angin menyambar. Cepat dia merendahkan diri untuk mengelak. Ternyata gadis itu sudah berada di belakangnya. Demikian cepatnya gerakan gadis itu seolah-olah pandai menghilang saja. Dia menjadi semakin marah dan dengan mengeluarkan gerengan-gerengan seperti seekor harimau marah, dia melanjutkan gerakannya, menyerang secara bertubi-tubi, mencakar, menampar, menghantam bahkan kakinya yang panjang besar itu beberapa kali menendang. Namun, dia seperti menyerang angin saja. Semua serangannya tidak mengenai sasaran. Retna Wilis telah mempergunakan ilmu silat Pancaroba yang membuat tubuhnya bergerak seperti seekor burung walet, menyambar-nyambar menghindar kesana-sini dan berputaran. Bajramusti ikut pula berputaran sampai kepalanya menjadi pening dan beberapa kali dia terhuyung! Ketika mendapat kesempatan, Retna Wilis kembali menampar dan tamparannya mengenai leher Bajramusti.
"Wuuuttt..... plak ....!" Biarpun yang menampar hanya tangan yang kecil mungil, akan tetapi Bajramusti merasa seperti disambar petir. Hanya kekebalannya yang luar biasa saja yang masih melindunginya. Tubuhnya berputaran, kepalanya pening dan akhirnya diapun roboh untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi dia memang kebal dan kuat. Dari keadaan roboh itu dia melompat dan kedua tangannya yang besar itu berhasil menangkap pinggang yang ramping itu. Dia mengeluarkan suara tawa girang dan dengan sepenuh tenaga dia hendak mengangkat tubuh yang pinggangnya sudah dilingkari jari-jarinya yang panjang dan besar itu. Retno Wilis yang tadi lengah sehingga pinggangnya dapat disambar, mengerahkan Aji Argoselo yang membuat tubuhnya seberat batu gunung. Bajramusti mengerahkan tenaga untuk mengangkat, namun tubuh itu tidak bergeming sedikitpun juga. Dia merasa terkejut dan penasaran, lalu mengerahkan lagi tenaga sampai mulutnya mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh, namun tetap saja sia-sia. Dan Retna Wilis yang marah karena pinggangnya dipegang orang, lalu menggerakkan kakinya menendang, mengenai perut yang gendut itu.
"Wuuuttt .....ngekkk ...!" Pegangan Bajramusti terlepas dan tubuhnya terlempar dan terjengkang ke belakang, terbanting keras.

Kini agak lambat dia merangkak bangun karena kepalanya terasa pening. Dan setelah dia bangkit, dia sudah merampas golok yang dibawa pembantunya. Sikapnya amat menyeramkan. Rambutnya awut-awutan, mukanya menjadi merah sekali, matanya melotot dan mengeluarkan busa. Dia mengangkat goloknya tinggi di atas kepala. Ki Haryosakti dan dua orang anaknya yang tadinya terkagum-kagum melihat Retna Wilis berulang kali merobohkan Bajramusti, kini memandang dengan hati khawatir sekali. Akan tetapi Retna Wilis tetap bersikap tenang, ia meloloskan pedang Sapudenta dan menanti serangan lawan dengan pedang di tangan. Ketika Bajramusti melihat gadis itu sudah memegang sebatang pedang yang baginya amat kecil tidak berarti, dia lalu menggereng seperti seekor harimau terluka dan tubuhnya sudah menerjang maju, goloknya menyambar-nyambar bagaikan cakar maut ke arah Retna Wilis. Akan tetapi gadis ini dengan mudahnya mengelak ke sana sini, kemudian ketika golok itu dengan cepat menyambar ke arah kepalanya, iapun menggerakkan pedang Sapudenta untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Singgg ..... trakkk ....!!" Golok itu putus menjadi dua potong!
Ki Haryosakti sampai bersorak melihat kehebatan gadis itu. Sebaliknya Ki Bajramusti terkejut bukan main. Dia melemparkan gagang golok ke arah Retna Wilis.

<<< Bagian 45                                                                                          Bagian 47 >>>

No comments:

Post a Comment