"Bagus, itulah yang kukehendaki. Mari kita mulai!" jawab Ki Haryosakti yang sudah membawa senjata pusakanya, yaitu tombak pusaka yang ampuh. Dia melintangkan tombak di depan dada dan sikapnya menantang, kuda-kudanya teguh.
Melihat ini,
Ki brajamusti mengeluarkan suara tawa bergelak, kemudian dia memutar golok
besarnya ke atas kepala sambil berseru,
"Akupun
sudah siap, mari kita mulai!"
Ki Haryosakti
tidak sungkan lagi, berteriak lantang,
"Lihat
tombakku!"
Tombaknya
sudah menyambar ke depan dengan tusukan kilat ke arah perut lawan. Brajamusti
menggerakkan goloknya menangkis serangan tombak yang amat berbahaya itu. Kini
tentu saja dia tidak berani mengandalkan kekebalan tubuhnya. Tombak itu
sebatang tombak pusaka dan kini digerakkan oleh seorang yang memiliki tenaga
sakti kuat. Goloknya menangkis dari samping.
"Trangg
... !!" Bunga api berpijar ketika dua senjata bertemu dan keduanya merasa
betapa telapak tangan mereka panas ketika senjata mereka saling bertemu.
Haryosakti
menyusulkan serangan bertubi dengan tombaknya. Brajamusti memutar-mutar
goloknya dan beberapa kali tombak itu tertangkis golok. Ketika mendapat
kesempatan, Brajamusti membalas serangan lawan, goloknya menyambar dengan
serangan maut. Namun, Ki Haryosakti cukup gesit untuk mengelak dan ketika golok
itu terus menerjang dengan ganasnya, diapun menangkis dengan tombaknya dan
kembali dua senjata bertemu dengan kuatnya. Serang menyerang terjadi dan kedua
orang itu masing-masing merasa terkejut karena ternyata tingkat kepandaian
mereka seimbang. Mereka mengeluarkan semua ilmu mereka dan mengerahkan seluruh
tenaga untuk mendapatkan kemenangan. Gerakan kedua orang itu demikian cepatnya
sehingga bentuk golok dan tombak lenyap, berubah menjadi dua gulung sinar yang
saling mendesak dan saling menekan. Satu jam lebih mereka bertanding dan belum
tampak ada yang akan menang atau kalah. Entah sudah berapa puluh kali senjata
mereka saling bertemu. Akan tetapi diam-diam Haryosakti terkejut. Dia merasa
betapa kedua tangannya lelah sekali karena benturan-benturan antara kedua
senjata itu. Ternyata tenaga lawan luar biasa kuatnya. Karena maklum bahwa
akhirnya dia akan kalah kalau pertandingan dengan senjata itu dilanjutkan,
tiba-tiba dia melompat ke belakang dan berseru nyaring,
"Tahan
senjata!"
Brajamusti
menghentikan gerakannya dan tertawa.
"Ha-haha,
belum lecet kulitmu engkau mengajak berhenti. Apakah engkau hendak mengaku
kalah, Haryosakti?"
"Siapa
yang kalah? Aku tidak kalah. Akan tetapi karena dalam pertandingan adu senjata
kita sama kuat, bagaimana kalau sekarang diganti dengan pertandingan tangan
kosong? Kita mengadu tebalnya kulit dan kerasnya tulang, tidak lagi
mengandalkan senjata melainkan mengandalkan kadigdayaan. Beranikah
engkau?"
Brajamusti
kembali tertawa. Dia sendiri sudah merasa bingung tadi karena sekian lamanya
tidak mampu mendesak lawan. Kini lawannya mengusulkan untuk bertanding tanpa
senjata, maka tentu saja dia merasa senang sekali. Dia memiliki tubuh yang
kebal dan tenaga yang besar.
"Bagus,
siapa takut padamu? Mari kita lanjutkan dengan tangan kosong!" Dia lalu
menyerahkan goloknya kepada seorang pengawal.
Haryosakti
juga menyerahkan tombaknya kepada Saroji dan kedua orang ketua jagoan ini kini
saling berhadapan lagi dengan tangan kosong. Diam-diam keduanya mengerahkan
tenaga sakti disalurkan ke dalam ke dua lengan, dan Haryosakti berteriak,
"Lihat
pukulan!" dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, tangan kanannya menampar
ke arah dagu lawan sedangkan tangan kirinya sudah siap menyusulkan serangan
kalau tamparannya tidak berhasil.
"Hemm ...
!" Brajamusti mengelak dengan menarik mukanya ke belakang hingga tamparan
itu luput dan ketika tangan kiri Haryosakti menyusulkan tonjokan ke arah dadanya,
tangan kanannya membuat gerakan berputar dan dia sudah menangkis pukulan ke
arah dadanya itu.
"Dukk ...
!" Kedua lengan bertemu dan keduanya mundur selangkah. Kini Brajamusti
membalas serangan lawan dengan tendangan kakinya yang mencuat dengan cepat
sekali ke arah perut Haryosakti, akan tetapi ketua Jambuko Cemeng inipun sudah
dapat mengelak. Serang menyerang kembali terjadi di antara keduanya. Mereka
mengerahkan tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus terampuh mereka dalam usahanya
untuk merobohkan lawan.
Saroji dan
Sarmini menonton dengan alis berkerut. Mereka berdua maklum bahwa pihak lawan
sungguh amat tangguh dan mereka tadi sudah melihat keringat membasahi leher
ayah mereka ketika berhenti sebentar. Mereka berdua tidak dapat membantu ayah
mereka karena hal itu akan dianggap curang. Maka dengan jantung berdebar tegang
mereka hanya dapat menonton. Kekhawatiran dua orang muda itu ternyata terbukti
tidak lama kemudian. Setelah pertandingan berlangsung limapuluh jurus lebih,
mulai tampaklah betapa Ki Haryosakti terdesak mundur. Sudah beberapa kali dia
terkena tamparan dan pukulan lawan yang membuat dia terhuyung. Dan beberapa
kali pukulannya juga bersarang kepada tubuh lawan, akan tetapi ternyata tubuh
itu kebal, membuat pukulannya mental kembali seperti mengenai benda dari karet
saja.
"Robohlah!"
Tiba-tiba Bajramusti berseru dan sebuah tendangan kakinya mengenai perut lawan.
Ki Haryosakti
tidak dapat menghindar. Perutnya tertendang dan dia-pun roboh terjengkang!
Bajramusti bertolak pinggang sambil menertawakan lawannya. Para pembantunya
ikut pula tertawa dan anak buahnya yang berada di belakang bersorak melihat
kemenangan ketua mereka. Sebaliknya, di pihak Jambuko Cemeng orang-orangnya
hanya berdiam saja dengan hati tegang.
"Ha-ha,
Ki Haryosakti. Engkau sudah kalah! Akuilah kekalahanmu dan mulai sekarang
kalian semua harus menaati perintahku!"
Tiba-tiba
Saroji dengan tombak ayah-nya di tangan melompat maju.
“Ayah sudah
kalah akan tetapi aku belum! Aku yang akan melawanmu, Bajramusti!"
Melihat
majunya pemuda itu, Bajramusti tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha,
ayahnya sudah kalah kini maju anaknya. Heh, orang muda, engkau bukan
tandinganku, apakah engkau sudah bosan hidup?"
Melihat
puteranya maju, Ki Haryosakti juga berseru,
"Saroji,
mundur kau!" Dia tahu bahwa kalau puteranya maju, sama halnya dengan
membunuh diri.
Pada saat itu
terdengar seruan suara wanita,
"Ki
Bajraniusti, akulah lawanmu!"
Ki Haryosakti
dan kedua orang anaknya terkejut mendengar suara Retna Wilis, dan kini mereka
melihat Retna Wilis muncul bersama Bagus Seta! Retna Wilis sudah melompat ke
depan dan berkata kepada Saroji,
"Lebih
baik andika mundur, biar aku yang menghadapi raksasa brewok ini!”
Saroji
ragu-ragu, tidak tega membiarkan Retna Wilis melawan ketua Bala Cucut itu, akan
tetapi sekali lagi Haryosakti menghardik kepada puteranya untuk mundur. Saroji
lalu mundur dan menonton bersama adik dan ayahnya dengan hati tegang dan juga
heran. Bagaimana Retna Wilis akan mampu menghadapi raksasa yang amat sakti itu.
Bagus Seto juga memandang sambil tersenyum dan pemuda ini menonton di satu
pinggiran, tidak mendekati keluarga Haryosakti. Sementara itu, ketika
Brajamusti melihat majunya seorang gadis yang cantik jelita, dia tertawa
bergelak sambil menengadahkan kepalanya.
"Hoa-ha-ha-ha!
Jambuko Cemeng sudah kehabisan jago dan mengajukan seorang perawan cantik untuk
melawan aku. Wong ayu, jangan andika yang maju sayang kecantikanmu, sayang
kulitmu yang halus kalau sampai lecet. Lebih baik andika ikut bersamaku dan
kujadikan selir, ha ha-ha!”
"Brajamusti,
tidak perlu bermulut besar. Kalau andika dapat mengalahkan aku, barulah andika
berhak untuk bermulut besar! Atau barangkali andika takut melawan aku?”
"Takut?
Ha-ha, takut? Aku takut kalau sampai membunuh atau melukaimu, cah ayu.”
"Kalau
begitu, bersiaplah andika!”
"Ha-ha-ha,
aku sudah siap, ha-ha-ha!”
"Lihat
seranganku! Haiiiittt ...!" Retna Wilis menerjang ke depan, tangan kirinya
menampar ke arah dada raksasa itu.
Brajamusti
hendak memamerkan kekebalannya maka diapun membiarkan saja dadanya terbuka
untuk dihantam. Jari-jari tangan Retna Wilis yang kecil mungil itu bertemu
dengan dada yang bidang dan kokoh kuat itu. Akan tetapi ia mempergunakan aji
Wisolangking.
"Wuuuttt.....dess
....!!”
"Aduh
.... mati aku .....!!" Tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan roboh
terguling-guling. Brajamusti merasa dadanya seperti pecah. Untung dia tadi
mengerahkan ilmu kekebalannya sehingga dia tidak mati terpukul. Dia melompat
bangun, menggosok-gosok dadanya dengan telapak tangan kiri sambil memandang
kepada Retno Wilis dengan mata mencorong penuh kemarahan.
Sementara itu,
Ki Haryosakti dan kedua orang anaknya, juga para anggauta Jambuko Cemeng,
menonton dengan mata terbelalak dan mulut ternganga! Baru sekarang mereka
mengetahui bahwa gadis itu memiliki kesaktian yang hebat sehingga sekali pukul
saja dapat membuat raksasa itu roboh terguling-guling! Terutama sekali Ki
Haryosakti. Wajahnya berubah pucat lalu kemerahan. Dan dia sudah hendak
memperisteri gadis itu! Sekarang baru dia merasa bahwa dia dipermainkan! Ki
Bajramusti kini marah bukan main. Dengan kedua tangan membentuk cakar harimau,
dia lalu menyerang, kedua tangannya menyambar dari kanan kiri hendak menerkam
tubuh gadis itu. Akan tetapi tubrukannya luput dan tiba-tiba saja gadis itu
lenyap. Kemudian dari belakang dia mendengar ada angin menyambar. Cepat dia
merendahkan diri untuk mengelak. Ternyata gadis itu sudah berada di
belakangnya. Demikian cepatnya gerakan gadis itu seolah-olah pandai menghilang
saja. Dia menjadi semakin marah dan dengan mengeluarkan gerengan-gerengan
seperti seekor harimau marah, dia melanjutkan gerakannya, menyerang secara
bertubi-tubi, mencakar, menampar, menghantam bahkan kakinya yang panjang besar
itu beberapa kali menendang. Namun, dia seperti menyerang angin saja. Semua
serangannya tidak mengenai sasaran. Retna Wilis telah mempergunakan ilmu silat
Pancaroba yang membuat tubuhnya bergerak seperti seekor burung walet,
menyambar-nyambar menghindar kesana-sini dan berputaran. Bajramusti ikut pula
berputaran sampai kepalanya menjadi pening dan beberapa kali dia terhuyung!
Ketika mendapat kesempatan, Retna Wilis kembali menampar dan tamparannya
mengenai leher Bajramusti.
"Wuuuttt.....
plak ....!" Biarpun yang menampar hanya tangan yang kecil mungil, akan
tetapi Bajramusti merasa seperti disambar petir. Hanya kekebalannya yang luar
biasa saja yang masih melindunginya. Tubuhnya berputaran, kepalanya pening dan
akhirnya diapun roboh untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi dia memang kebal
dan kuat. Dari keadaan roboh itu dia melompat dan kedua tangannya yang besar
itu berhasil menangkap pinggang yang ramping itu. Dia mengeluarkan suara tawa
girang dan dengan sepenuh tenaga dia hendak mengangkat tubuh yang pinggangnya
sudah dilingkari jari-jarinya yang panjang dan besar itu. Retno Wilis yang tadi
lengah sehingga pinggangnya dapat disambar, mengerahkan Aji Argoselo yang
membuat tubuhnya seberat batu gunung. Bajramusti mengerahkan tenaga untuk
mengangkat, namun tubuh itu tidak bergeming sedikitpun juga. Dia merasa
terkejut dan penasaran, lalu mengerahkan lagi tenaga sampai mulutnya
mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh, namun tetap saja sia-sia. Dan Retna Wilis yang
marah karena pinggangnya dipegang orang, lalu menggerakkan kakinya menendang,
mengenai perut yang gendut itu.
"Wuuuttt
.....ngekkk ...!" Pegangan Bajramusti terlepas dan tubuhnya terlempar dan
terjengkang ke belakang, terbanting keras.
Kini agak
lambat dia merangkak bangun karena kepalanya terasa pening. Dan setelah dia
bangkit, dia sudah merampas golok yang dibawa pembantunya. Sikapnya amat
menyeramkan. Rambutnya awut-awutan, mukanya menjadi merah sekali, matanya
melotot dan mengeluarkan busa. Dia mengangkat goloknya tinggi di atas kepala.
Ki Haryosakti dan dua orang anaknya yang tadinya terkagum-kagum melihat Retna
Wilis berulang kali merobohkan Bajramusti, kini memandang dengan hati khawatir
sekali. Akan tetapi Retna Wilis tetap bersikap tenang, ia meloloskan pedang
Sapudenta dan menanti serangan lawan dengan pedang di tangan. Ketika Bajramusti
melihat gadis itu sudah memegang sebatang pedang yang baginya amat kecil tidak
berarti, dia lalu menggereng seperti seekor harimau terluka dan tubuhnya sudah
menerjang maju, goloknya menyambar-nyambar bagaikan cakar maut ke arah Retna
Wilis. Akan tetapi gadis ini dengan mudahnya mengelak ke sana sini, kemudian ketika
golok itu dengan cepat menyambar ke arah kepalanya, iapun menggerakkan pedang
Sapudenta untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Singgg
..... trakkk ....!!" Golok itu putus menjadi dua potong!
Ki Haryosakti
sampai bersorak melihat kehebatan gadis itu. Sebaliknya Ki Bajramusti terkejut
bukan main. Dia melemparkan gagang golok ke arah Retna Wilis.
<<< Bagian 45 Bagian 47 >>>
No comments:
Post a Comment