Gadis ini menangkis dengan pedangnya dan sisa golok itu meluncur ke bawah dan menancap ke atas tanah. Tiba-tiba Ki Bajramusti mengangkat kedua tangan ke atas, mulutnya berkemak kemik membaca mantra dan tiba-tiba saja ada asap hitam bergulung-gulung keluar dari kedua tangannya dan asap itu menyerbu ke arah Retna Wilis. Gadis ini menyimpan pedangnya dan menggunakan kedua tangannya untuk memukul dengan Aji Wisolangking. Akan tetapi asap itu hanya membuyar dan tetap menyerbu ke arahnya.
“Diajeng,
mundurlah!" seru Bagus Seta dan Retna Wilis menaati perintah kakaknya.
Tubuhnya mencelat ke arah Bagus Seta dan sudah berdiri di samping kakaknya.
Bagus Seta
melompat ke depan menghadapi Ki Bajramusti yang menggunakan sihir itu. Ketika
gulungan asap itu menyelubunginya, Bagus Seta mengambil setangkai bunga cempaka
putih dan mengangkatnya ke atas. Seketika asap hitam itu membalik dan
bergulung-gulung seperti melarikan diri kembali ke arah kedua tangan Ki
Bajramusti! Kakek ini terkejut bukan main dan memandang kepada Bagus Seto
dengan mata mencorong.
"Siapakah
andika?" bentaknya marah.
"Namaku
Bagus Seta dan karena andika menggunakan ilmu hitam, akulah yang mewakili adikku
menghadapimu," kata Bagus Seta dengan lembut.
"Lebih
baik andika pergi saja dari sini dan bawa semua anak buahmu, Ki Bajramusti.
Tempatmu di lautan, bukan di daratan yang menjadi wilayah Jambuko Cemeng.”
Ki Bajramusti
merasa penasaran bukan main. Tadi dalam pertandingan tangan kosong maupun
dengan senjata dia telah dikalahkan seorang gadis muda! Dan sekarang dia
mengandalkan ilmu sihirnya, dia bertemu dengan seorang pemuda yang dapat
menandinginya. Dia masih merasa penasaran dan ingin mengeluarkan ilmunya yang
terakhir dan yang diandalkannya.
"Bagus
Seta, lihat baik-baik siapa yang kaulawan. Aku adalah Rajanya segala
harimau!" Setelah berkata demikian, Ki Bajramusti melompat jungkir balik
tiga kali dan berubahlah dia menjadi seekor harimau yang amat besar, harimau
jadi-jadian itu besarnya hampir seperti seekor lembu! Sambil mengeluarkan suara
gerengan, harimau itu membuka mulutnya dan mengancam Bagus Seta.
Semua orang
yang melihat ini menjadi miris hatinya, kecuali tentu saja Retna Wilis. Gadis
ini hanya tersenyum karena maklum bahwa dalam menghadapi ilmu sihir, tidak ada
orang yang lebih tangguh dari pada kakaknya. Dengan gerengan yang menggetarkan
seluruh perkampungan itu, harimau jadi-jadian itu kini menubruk ke arah Bagus
Seta yang kelihatan diam saja, tidak mengelak maupun menangkis. Semua orang
melihat betapa harimau besar itu menerkam Bagus Seta.
Sarmini sampai
menjerit saking ngerinya melihat pemuda yang dikagumi itu diterkam harimau
besar. Juga semua orang memandang kaget dan cemas. Akan tetapi ketika harimau
itu menerkam dan berusaha menggigit dan merobek-robek tubuh itu, ternyata bahwa
yang diterkamnya tadi adalah sebuah batu yang keras! Dan semua orang melihat
Bagus Seta sudah berdiri dengan kedua tangan bersilang di dada, tak jauh dari
situ. Harimau jadi-jadian agaknya baru sadar bahwa yang diterkamnya adalah batu
setelah taring dan cakarnya menyerang benda keras. Dia menggereng dan memutar
tubuh, melihat Bagus Seta yang sudah berdiri di belakangnya. Kembali dia
menerjang, menubruk dan menerkam dibarengi auman yang menggetarkan hati.
Kembali dia telah menerkam Bagus Seta seperti tadi, akan tetapi setelah yang
diterkamnya roboh di atas tanah dan dicakarnya, pemuda itu berubah menjadi
batu. Setelah mempermainkan harimau jadi-jadian itu beberapa kali, Bagus Seta
lalu mengeluarkan setangkai bunga cempaka putih dan begitu harimau itu untuk
sekian kalinya menubruk, dia memukulkan bunga cempaka pulih itu ke kepala
harimau.
"Dar..........!"
terdengar ledakan dan harimau itupun lenyap, berubah menjadi Ki Bajramusti yang
mendekam di atas tanah sambil mengeluh.
"Aduh,
tobaaatt.......!" Dia memegangi kepalanya yang rasanya seperti remuk.
"Benarkah
andika telah bertobat, Ki Bajramusti?" Tanya Bagus Seta dengan lembut.
"Aku
sudah menerima kalah, denmas. Aku sudah bertobat dan hendak menaati semua
perintah andika. Aduhaduhhh......!”
Bagus Seta
lalu berkata,
"Kalau
begitu berjanjilah bahwa engkau tidak akan mengganggu penduduk pantai,
menghentikan perbuatanmu yang jahat dan engkau berjanjilah untuk membantu Panjalu
jika saatnya tiba.”
"Baik,
denmas.....aku berjanji.....”
Bagus Seto
menyentuh kepalanya dengan bunga cempaka putih sambil berkata,
"Kalau
begitu, sembuhlah dan pergilah membawa anak buahmu kembali ke lautan.”
Terkena
sentuhan bunga itu, seketika Ki Bajramusti sembuh dan dia segera bangkit
berdiri. Akan tetapi sekarang dia telah kehilangan kegarangannya. Dia memandang
kepada Bagus Seta dan Retna Wilis yang berdiri di samping kakaknya dengan sikap
hormat.
"Aduh,
paduka berdua telah mengalahkan aku. Sebetulnya siapakah paduka berdua dan
mengapa pula menyuruh aku kelak membantu Panjalu?" tanyanya dengan suara
tetap kasar akan tetapi dengan sikap menghormat. Memang seorang seperti dia
mana dapat berbicara halus?
"Namaku
Bagus Seta dan ini adikku Retna Wilis. Kami adalah putera Kanjeng Patih
Tejolaksono di Panjalu.”
"Ah,
maafkan aku yang telah berani melawan paduka. Baiklah, aku akan menaati segala
perintah paduka. Hayo kawan-kawan, kita kembali ke lautan!" Dia lalu
memutar tubuhnya dan diiringkan semua anak buahnya meninggalkan tempat itu.
Ki Haryosakti
juga membubarkan semua anak buahnya. Ketika tinggal dia sendiri bersama Saroji
dan Sarmini, sambil membungkuk hormat kepada kedua orang muda itu dia berkata,
"Mari
silakan, anakmas berdua, kita bicara di dalam.”
Bagus Seta
saling pandang dengan Retno Wilis dan mereka tanpa berkata apa-apa ikut masuk
ke ruangan dalam rumah gedung itu. Setelah tiba di dalam, Ki Haryosakti lalu
menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepada Bagus Seta dan Retna Wilis.
"Mata saya
seperti telah buta dan tidak melihat bahwa paduka berdua adalah orang-orang
yang sakti mandraguna. Saya mohon ampun atas semua perbuatan saya terhadap
denajeng.”
Bagus Seta
cepat membangunkan ketua Jambuko Cemeng itu dan berkata,
"Sudahlah,
paman, adalah baik sekali kalau paman sudah menyadari kesalahan dan tidak akan
berbuat lagi. Silakan berdiri.”
Ki Haryosakti
bangkit berdiri dan mempersilakan kedua orang muda itu untuk duduk. Saroji dan
Sarmini juga duduk dan mereka memandang kepada kedua orang muda itu dengan
takjub.
"Saya
telah berbuat salah besar. Saya sungguh tidak tahu diri, akan tetapi
sekarangpun saya masih mengharapkan agar paduka berdua suka menerima permohonan
saya.”
Bagus Seta
tersenyum.
"Permintaan
apakah itu, paman? Kalau memang permintaan itu pantas dan kami berdua dapat
melakukannya, tentu kami tidak akan keberatan untuk memenuhinya.”
"Ah,
sebelumnya saya menghaturkan banyak terima kasih, denmas. Akan tetapi harap
paduka berdua sudi memaafkan kalau apa yang hendak saya kemukakan itu dianggap
lancang.”
"Katakan
sajalah, paman, jangan sungkan-sungkan. Memang sebaiknya kalau ada
penguneg-uneg di hati dikeluarkan dari pada disimpan menjadi dendam.”
"Karena
sekarang ini paduka berdua berada di sini dan saya memperoleh kesempatan yang
amat baik, kapan lagi saya kemukakan niat saya ini kalau tidak sekarang karena
mungkin saya tidak akan dapat bertemu dengan paduka berdua lagi.”
"Paman
Haryosakti, kenapa bicara berputar-putar? Katakanlah apa yang
kaukehendaki!" kata Retna Wilis yang merasa tidak sabar lagi mendengar
kata-kata yang melingkar lingkar itu.
Mendapat
bentakan dari Retno Wilis, ketua Jambuko Cemeng yang biasanya bersikap gagah
itu menjadi pucat wajahnya. Kemudian dia memberanikan diri berkata,
"Niat
saya inipun untuk menebus dosa saya terhadap denajeng ..... kalau paduka berdua
sudi menerimanya, saya.....saya ingin sekali menjodohkan anak saya Saroji
dengan denajeng Retna Wilis, dan saya ingin menyerahkan anak saya Sarmini
menjadi jodoh denmas Bagus Seta. Nah, legalah hati saya sudah mengeluarkan isi
hati saya ini dan terserah kepada paduka berdua.”
Kakak beradik
itu saling pandang, seperti juga Saroji dan Sarmini saling pandang. Akan tetapi
kalau Sarmini memandang kakaknya lalu tersipu malu dan Saroji juga menundukkan
mukanya yang menjadi kemerahan, Retna Wilis memandang kepada kakaknya dengan
alis berkerut dan muka berubah merah. Melihat sinar mata adiknya yang marah
itu, Bagus Seta menggelengkan kepalanya kepada adiknya sehingga Retna Wilis
terpaksa menelan lagi ucapan bernada keras yang hendak dilontarkan dari
mulutnya. Bagus Seta tersenyum memandang pada Ki Haryosakti lalu berkata dengan
suara lembut,
"Permintaan
paman untuk menjodohkan kami berdua dengan putera puteri paman adalah
permintaan yang pantas. Akan tetapi terus terang saja kami tidak dapat memenuhi
permintaan itu, paman. Bukan sekali-kali kami menolak karena tidak suka. Putera
dan puteri paman adalah dua orang pemuda dan gadis yang elok dan juga gagah.
Akan tetapi kami terpaksa menolak karena pada saat ini kami berdua sama sekali
belum mempunyai pikiran untuk berjodoh. Kami masih ingin hidup sendiri dan
melanjutkan perantauan kami. Karena itu harap paman maafkan dan kami percaya
bahwa adimas Saroji dan diajeng Sarmini dapat mengerti alasan kami dan tidak
menjadi kecil hati dan merasa ditolak.”
Biarpun
merupakan penolakan, namun kalau dikeluarkan dengan kata-kata halus dan sopan
seperti itu, bagaimana Ki Haryosakti dan kedua anaknya dapat merasa tersinggung
dan tidak senang hati? Mereka memang merasa kecewa, akan tetapi dapat memaklumi
alasan kedua orang muda sakti itu. Pada hari itu juga, Bagus Seta dan Retna
Wilis berpamit kepada Ki Haryosakti. Bagus Seto berkata,
"Paman
Haryosakti, kami berdua mohon pamit hendak melanjutkan perantauan kami. Hanya
ada satu harapan dari kami, mudah-mudahan saja paman akan dapat memenuhi
harapan kami itu.”
"Apakah
itu, denmas? Katakan, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi harapan
itu."
"Nanti
kalau sudah tiba waktunya Panjalu dan Jenggala menggerakkan pasukan untuk
menundukkan kembali daerah-daerah yang bergolak, maukah paman membawa anggota
Jambuko Cemeng membantu Panjalu?”
"Ah,
tentu saja, denmas. Harap jangan khawatir. Biarpun bagaimana juga, kami bukan
pemberontak dan masih mengakui kekuasaan Jenggala dan Panjalu. Kalau kelak tiba
saatnya, tentu kami akan membantu dengan senang hati.”
"Terima
kasih, paman.”
Setelah
berpamit kepada Saroji dan Sarmini, kedua kakak beradik itu lalu meninggalkan
perkampungan Jambuko Cemeng, diantar oleh keluarga pimpinan Jambuko Cemeng itu
sampai keluar perkampungan. Saroji dan Sarmini berdiri bagaikan patung
memandang dua bayangan yang semakin jauh itu dan merasa seolah-olah semangat
mereka ikut terbawa pergi. Diam-diam Saroji jatuh cinta kepada Retna Wilis dan
Sarmini juga kagum sekali kepada Bagus Seta. Akan tetapi mereka merasa seperti
pungguk merindukan bulan. Cinta asmara memang menjadi sumber kesedihan kalau
hanya bertepuk tangan sebelah. Dan perasaan itu diderita Saroji dan Sarmini.
Mereka merasa betapa hidup ini menjadi sunyi dengan perginya orang yang mereka
cinta, dan hati terasa perih sekali mengingat bahwa cinta mereka tidak dibalas.
Ki Haryosakti juga menyadari akan semua kesalahannya dan semenjak peristiwa itu
wataknya berubah, tidak selalu hendak memaksakan kehendaknya seperti yang
sudah-sudah.
Dapat
dibayangkan betapa marahnya hati Wasi Shiwamurti ketika menerima laporan dari
Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda telah bertemu dan bertanding dan dikalahkan
oleh Bagus Seta dan Retna Wilis. Ketika itu, Wasi Shiwamurti berada di
Blambangan karena dia dianggap sebagai tamu agung oleh Adipati Blambangan,
yaitu Adipati Menak Sampar. Blambangan dijadikan pusat penyebaran agama
Shiwa-Durgo-Kolo yang dipimpin oleh Wasi Shiwamurti. Dia menjadi marah sekali
ketika mendengar betapa penyebaran agama itu terhalang oleh Bagus Seta dan
Retna Wilis.
"Bodoh!"
Dia memaki kedua orang muridnya itu.
"Bodoh
sekali kalian! Dapat dikalahkan oleh seorang pemuda dan seorang gadis muda!
Membikin malu saja kepadaku! Kalau kalian kalah dalam hal kadigdayaan, apakah
kalian tidak dapat mengalahkannya dengan ilmu sihir? Apa gunanya aku
mengajarkan segala macam ilmu sihir kepada kalian kalau tidak dapat mengalahkan
dua orang muda?”
"Maafkan
kami, Kanjeng Rama," kata Ki Shiwananda kepada ayah angkatnya yang marah
itu.
"Kami
sudah mempergunakan sihir, akan tetapi semua ilmu sihir kami dipunahkan oleh
pemuda yang bernama Bagus Seta itu. Ilmu kedua orang kakak beradik itu memang
luar biasa hebatnya.”
<<< Bagian 46 Bagian 48 >>>
No comments:
Post a Comment