Sepasang Garuda Putih ; Bagian 48


"Hal itu tidaklah aneh sekali, karena mereka adalah anak-anak dari Endang Patibroto," kata pula Ni Dewi Durgomala kepada Wasi Shiwamurti yang selain menjadi gurunya juga menjadi kekasihnya.
"Apa? Anak-anak Endang Patibroto?" bentak Wasi Shiwamurti.
"Kalau begitu mereka adalah musuh-musuh kita yang harus dibasmi!”
Selagi Wasi Shiwamurti marah-marah, datanglah Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat Blambangan dan bersama dia datang pula Wasi Surengpati penasihat dari kadipaten Nusabarung. Sang Wasi Shiwamurti menerima kedatangan dua orang rekannya ini dan alangkah marahnya ketika dia mendengar pula dari mereka bahwa dua orang rekannya itu telah bertemu dengan Endang Patibroto, bertanding dan mereka kalah!
"Babo-babo, Endang Patibroto keparat! Kembali engkau yang menghalangi pekerjaan kami, bersama kedua orang anakmu. Aku tidak akan kembali ke Cola sebelum dapat membunuh engkau dan anak-anakmu!" Wasi Shiwamurti memukulkan tongkat naganya ke atas lantai dan pecahlah lantai itu.
“Di mana mereka sekarang? Di mana wanita jahanam itu dan anak-anaknya?" tanya Wasi Shiwamurti.
"Endang Patibroto datang ke Nusabarung untuk mencari kedua orang anaknya," kata Wasi Surengpati.
"Dan kedua orang muda itu agaknya pergi ke timur dan kalau tidak salah perhitungan kami, sekarang mereka tentu sudah berada di daerah Blambangan," kata Ni Dewi Durgomala.
"Bagus! Biarkan mereka semua masuk ke Blambangan sehingga mudah kita mencarinya. Aku sendiri yang akan turun tangan membasmi mereka!" kata Wasi Shiwamurti yang marah bukan main.
"Sebaiknya kalau kita melapor kepada Kanjeng Adipati agar diadakan persiapan untuk mencari mereka di daerah Blambangan. Siapa yang melihat mereka diwajibkan memberi laporan secepatnya, dengan cara demikian kita akan mudah menemukan mereka," kata Wasi Karangwolo.

Semua rekannya setuju dan mereka berlima lalu pergi menghadap Adipati Menak Sampar. Adipati Menak Sampar menerima kedatangan lima orang tokoh yang dihormatinya itu.
"Paman Wasi Karangwolo sudah pulang?" tanyanya kepada penasihatnya itu.
"Bagaimana kabarnya dengan usaha andika menyebar agama, dan agaknya ada keperluan penting sekali maka andika menghadap, didampingi oleh Wasi Surengpati, Wasi Shiwamurti, Ki Shiwananda dan Ni Dewi Durgomala.”
"Sesungguhnya ada peristiwa penting yang telah terjadi, Kanjeng Adipati. Agaknya daerah Blambangan telah kemasukan telik-sandi (mata-mata) yang amat berbahaya, yaitu Endang Patibroto dan kedua orang anaknya yang bernama Bagus Seta dan Retna Wilis.”
"Ahhhh........!" Wajah sang adipati berubah pucat mendengar nama itu. Endang Patibroto dan Retna Wilis adalah nama-nama yang amat terkenal di Blambangan sebagai nama dua orang wanita yang memiliki kesaktian hebat dan amat berbahaya.
"Benarkah? Bagaimana andika dapat mengetahuinya?" tanyanya.
"Saya sendiri dan adi Wasi Surengpati sudah bertemu dan bertanding dengan Endang Patibroto, sedangkan anakmas Shiwananda dan Ni Dewi Durgomala sudah bertemu dengan Bagus Seta dan Retna Wilis dan juga sudah bertanding dengan mereka.”
Orang-orang yang bersangkutan itu lalu menceritakan pengalaman mereka secara terperinci, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Adipati Menak Sampar.
"Karena itulah maka kami datang melapor kepada paduka, Kanjeng Adipati, agar dapat diambil langkah-langkah yang perlu untuk dapat menemukan tiga orang itu," kata Wasi Karangwolo.
Adipati Menak Sampar mengangguk-angguk lalu memberi tanda memanggil seorang pengawal. Setelah pengawal menghadap, dia lalu memerintahkan,
"Kamu pergilah dan panggil Senopati Rajahbeling dan Senopati Kurdolangit untuk sekarang juga datang menghadap ke sini!”
Tak lama kemudian dua orang senopati Blambangan itu muncul dan menghadap Sang Adipati sambil menyembah. Senopati Rajahbeling adalah seorang senopati yang berusia limapuluhan tahun yang bertubuh tinggi besar dan tampak gagah sekali. Dia adalah ayah dari Kalinggo, pemuda Blambangan yang pernah mengikuti sayembara tanding di Nusabarung. Adapun yang kedua bernama Senopati Kurdolangit, orangnya tinggi kurus akan tetapi dia seorang yang digdaya dan amat terkenal di Blambangan.
"Kedua kakang senopati! Andika berdua terkejut kami panggil?”
"Benar, Kanjeng Adipati. Ini bukan waktunya bersidang, maka kami tentu saja heran mendapat panggilan ini," jawab Senopati Rajahbeling.
"Ketahuilah, kakang senopati. Ternyata di daerah kita Blambangan ini telah kemasukan tiga orang telik sandi yang berbahaya. Bahkan mereka pernah mengacau di Nusabarung dan kini mereka menuju ke Blambangan. Tahukah kalian siapa mereka?”
Dua orang senopati itu saling pandang dan menggelengkan kepala.
"Kami tidak dapat menduganya, gusti.”
"Ketahuilah bahwa telik sandi itu adalah Endang Patibroto, Retna Wilis dan Bagus Seta.”
Dua orang senopati itu sudah mendengar nama Endang Patibroto dan Retna Wilis, bahkan sudah tahu bahwa mereka itu adalah dua orang wanita yang sakti dari Panjalu.
"Di mana mereka, Kanjeng Adipati? Kami akan mengerahkan prajurit untuk menangkap mereka.”
"Inilah persoalannya. Kami belum tahu mereka kini berada di mana. Karena itu kutugaskan kalian untuk menyebar prajurit dan mata-mata. Kalau ada yang melihatnya agar cepat memberi kabar kepada Paman Wasi Karangwolo sekalian para Paman Wasi yang berada di sini agar mereka dapat ditangkap. Mereka itu sakti dan pandai menyamar, maka setiap ada orang asing memasuki wilayah Blambangan, harus diperiksa dengan cermat.”

Dua orang senopati itu menyatakan kesanggupannya, kemudian memberi hormat kemudian mengundurkan diri. Adipati Menak Sampar masih bercakap-cakap dengan para pimpinan agama Shiwa-Durgo-Kala itu, membicarakan persiapan dan rencana mereka untuk penyebaran agama dan kemudian untuk memberontak terhadap Panjalu dan Jenggala. Masuknya Endang Patibroto dan Retno Wilis merupakan bahan pembicaraan mereka yang penting dan Wasi Shiwamurti sendiri mengatakan bahwa dia akan turun tangan sendiri terhadap kedua orang wanita sakti itu.
"Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi, dan kiranya hanya saya yang akan dapat mengatasi mereka,” kata Wasi Shiwamurti dan hal ini dibenarkan oleh yang lain, yang telah merasakan kehebatan ilmu kepandaian dua orang wanita itu.
"Jangan dilupakan pemuda yang bernama Bagus Seta itu, kakang Wasi," kata Wasi Karangwolo.
"Biarpun kami belum mengetahui benar tingkat kadigdayaannya, namun dalam hal menghadapi ilmu sihir dia tangguh bukan main." Wasi Surengpati membenarkan pendapat Wasi Karangwolo ini dengan mengangguk-angguk.
"Heh-heh-heh, jangan khawatir. Selama ini ilmu sihirku tidak pernah gagal terhadap siapapun juga. Pendeknya, kalau sudah diketahui dimana adanya Endang Patibroto, Retna Wilis, dan Bagus Seta, beritahulah kepadaku dan aku akan menangkap mereka bertiga.”
Ucapan Wasi Shiwamurti ini bukan sekedar bualan belaka. Wasi yang satu ini adalah saudara seperguruan dari mendiang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo yang memiliki kesaktian tinggi. Bahkan setelah mendengar betapa dua orang kakak seperguruannya ini tewas, dia memperdalam ilmunya sehingga kini ilmu kesaktiannya sudah melebihi kesaktian kedua orang kakak seperguruannya itu. Terutama sekali dalam hal ilmu sihir, dia jauh melebihi kedua orang wasi yang telah tewas itu.
Mulai hari itu, ratusan orang prajurit disebar dan di mana-mana diadakan penjagaan. Bahkan sampai jauh ke luar kota kadipaten Blambangan para prajurit itu mencari Endang Patibroto, Retna Wilis dan Bagus Seta, memeriksa semua orang asing yang kebetulan lewat di situ.

Bagus Seta dan Retna Wilis yang sedang mengadakan perjalanan dan tiba di perbatasan daerah Blambangan segera mendengar cerita para penduduk dusun bahwa pasukan Blambangan sedang mengadakan pencarian terhadap telik sandi dari Panjalu dan banyak orang yang dicurigai sebagai pendatang baru dari luar daerah Blambangan ditangkapi.
"Ah, mereka tentu sedang mencari kita, kakangmas Bagus Seta. Tentu Adipati Blambangan telah mendengar tentang diri kita dari Wasi Karangwolo dan Wasi Surengpati ketika kita berada di kadipaten Nusabarung.”
"Kukira bukan hanya kedua orang wasi itu saja, diajeng. Akan tetapi Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda telah melapor pula ke sana. Agaknya, pusat penyebaran agama baru itu berasal dari Blambangan.”
"Kalau begitu bagaimana baiknya, kakang. Agaknya akan sukar untuk melakukan perjalanan ke dalam daerah Blambangan dan menyelidiki keadaan di sana.”
"Akan lebih mudah mereka ketahui kalau kita mengadakan perjalanan berdua. Sebaiknya kita berpencar saja dan masuk ke Blambangan. Kita saling bertemu di Blambangan. Bagaimana pendapatmu?”
"Begitu juga baik dan aku akan menyamar sebagai seorang pemuda.”
"Akan tetapi engkau harus dapat menahan diri, jangan menimbulkan keributan, Retna. Pertahankan perasaanmu agar tidak mudah terpancing untuk berkelahi karena hal itu akan mudah mengenal kita.”
"Sebaiknya kalau di luar pakaian kita yang putih, kita memakai pakaian lain yang berwarna sehingga tidak menarik perhatian. Dan jangan memakai nama Joko Wilis karena nama itu sudah dikenal baik oleh mereka.”
"Lalu aku harus memakai nama apa, kakang?”
"Kita menggunakan nama sederhana saja dan menyamar sebagai pemuda dusun. Aku akan memakai nama Joko Slamet dan engkau memakai nama Joko Waras.”
Retna Wilis tersenyum.
"Wah, nama yang mudah sekali diingat. Baiklah, kakang Slamet, mulai sekarang aku memakai nama Joko Waras.”
Setelah membeli beberapa potong pakaian dari penduduk dusun, Retna Wilis berdandan sebagai seorang pemuda dusun. Juga Bagus Seta mengenakan pakaian biasa berwarna biru untuk menutupi pakaiannya yang serba putih. Setelah selesai berdandan, Retna Wilis berdiri di depan kakaknya dan bertanya,
"Bagaimana pendapatmu, kakang? sudah pantaskah aku menjadi Joko Waras?”
Bagus Seta memandang wajah adiknya dan tersenyum.
"Engkau pandai sekali menyamar. Aku sendiri tentu akan pangling kalau tidak kauberitahu lebih dulu. Ingat, jangan mencari keributan, adikku, dan kita saling bertemu di Blambangan.”
"Akan tetapi, Blambangan itu besar. Di mana kita akan bertemu, kakang?”
"Pada hari Respati sore, datang saja ke alun-alun kadipaten dan aku akan berada di bawah pohon waringin yang berada di sana.”

Setelah mengingatkan kepada adiknya agar waspada dan sabar, tidak membiarkan diri terpancing ke dalam perkelahian, Bagus Seta lalu berpisah dari Retno Wilis, mengambil jalan masing-masing memasuki daerah Blambangan. Sebagai seorang pemuda remaja dusun yang lincah, tidak ada orang yang mencurigai Joko Waras. Di mana-mana dia diterima dengan baik sebagai seorang perjaka yang ramah dan juga pandai membawa diri. Jika malam tiba dia bermalam di rumah penduduk yang hanya hidup berdua dengan isterinya sehingga dia mendapat tempat tidur tersendiri. Kalau siang Joko Waras melakukan perjalanan menuju ke kadipaten Blambangan dan di sepanjang perjalanan dia mencari keterangan tentang keadaan kadipaten Blambangan. Dalam perjalanannya ini, Joko Waras melihat bahwa di dusun-dusun yang dilewatinya, banyak dibangun candi-candi kecil yang baru, di mana hanya terdapat arca Shiwa-Durgo-Kala. Kalau teringat akan perbuatan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda, rasanya ingin ia menghancurkan candi-candi itu. Akan tetapi ia teringat akan pesan kakaknya bahwa ia tidak boleh mencari keributan. Pula, apa salahnya candi-candi itu? Itu hanya tempat pemujaan, dan orang boleh memuja dewa mana saja asalkan dalam pemujaan itu tidak mengganggu orang lain. Iapun beberapa kali melihat serombongan prajurit Blambangan menghadang dan memeriksa orang-orang yang berlalu lalang, menanyai mereka, ada pula yang menggeledah kalau-kalau mereka menyimpan senjata. Ia sendiri yang bersikap wajar seperti seorang pemuda dusun yang masih muda, lolos dari kecurigaan. Pernah pula dia ditanyai mereka seperti seorang pesakitan,
"Siapa namamu?”
"Namaku Joko Waras. Ketika masih bayi sakit-sakitan maka lalu namaku diubah menjadi Joko Waras dan sejak itu aku waras terus, tidak pernah sakit," katanya dengan suara lemah akan tetapi nadanya kasar seperti biasa sikap dan kata-kata seorang dusun yang tidak terpelajar.
"Apa pekerjaanmu?”
"Penggembala kerbau atau sapi. Aku sudah berpengalaman sejak kecil menggembala kerbau atau sapi. Kalau andika membutuhkan penggembala yang baik, aku bersedia.....”

<<< Bagian 47                                                                                         Bagian 49 >>>

No comments:

Post a Comment