"Hal itu tidaklah aneh sekali, karena mereka adalah anak-anak dari Endang Patibroto," kata pula Ni Dewi Durgomala kepada Wasi Shiwamurti yang selain menjadi gurunya juga menjadi kekasihnya.
"Apa?
Anak-anak Endang Patibroto?" bentak Wasi Shiwamurti.
"Kalau
begitu mereka adalah musuh-musuh kita yang harus dibasmi!”
Selagi Wasi
Shiwamurti marah-marah, datanglah Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat Blambangan
dan bersama dia datang pula Wasi Surengpati penasihat dari kadipaten
Nusabarung. Sang Wasi Shiwamurti menerima kedatangan dua orang rekannya ini dan
alangkah marahnya ketika dia mendengar pula dari mereka bahwa dua orang
rekannya itu telah bertemu dengan Endang Patibroto, bertanding dan mereka
kalah!
"Babo-babo,
Endang Patibroto keparat! Kembali engkau yang menghalangi pekerjaan kami,
bersama kedua orang anakmu. Aku tidak akan kembali ke Cola sebelum dapat
membunuh engkau dan anak-anakmu!" Wasi Shiwamurti memukulkan tongkat
naganya ke atas lantai dan pecahlah lantai itu.
“Di mana
mereka sekarang? Di mana wanita jahanam itu dan anak-anaknya?" tanya Wasi
Shiwamurti.
"Endang
Patibroto datang ke Nusabarung untuk mencari kedua orang anaknya," kata
Wasi Surengpati.
"Dan
kedua orang muda itu agaknya pergi ke timur dan kalau tidak salah perhitungan
kami, sekarang mereka tentu sudah berada di daerah Blambangan," kata Ni
Dewi Durgomala.
"Bagus!
Biarkan mereka semua masuk ke Blambangan sehingga mudah kita mencarinya. Aku
sendiri yang akan turun tangan membasmi mereka!" kata Wasi Shiwamurti yang
marah bukan main.
"Sebaiknya
kalau kita melapor kepada Kanjeng Adipati agar diadakan persiapan untuk mencari
mereka di daerah Blambangan. Siapa yang melihat mereka diwajibkan memberi
laporan secepatnya, dengan cara demikian kita akan mudah menemukan
mereka," kata Wasi Karangwolo.
Semua rekannya
setuju dan mereka berlima lalu pergi menghadap Adipati Menak Sampar. Adipati
Menak Sampar menerima kedatangan lima orang tokoh yang dihormatinya itu.
"Paman
Wasi Karangwolo sudah pulang?" tanyanya kepada penasihatnya itu.
"Bagaimana
kabarnya dengan usaha andika menyebar agama, dan agaknya ada keperluan penting
sekali maka andika menghadap, didampingi oleh Wasi Surengpati, Wasi Shiwamurti,
Ki Shiwananda dan Ni Dewi Durgomala.”
"Sesungguhnya
ada peristiwa penting yang telah terjadi, Kanjeng Adipati. Agaknya daerah
Blambangan telah kemasukan telik-sandi (mata-mata) yang amat berbahaya, yaitu
Endang Patibroto dan kedua orang anaknya yang bernama Bagus Seta dan Retna
Wilis.”
"Ahhhh........!"
Wajah sang adipati berubah pucat mendengar nama itu. Endang Patibroto dan Retna
Wilis adalah nama-nama yang amat terkenal di Blambangan sebagai nama dua orang
wanita yang memiliki kesaktian hebat dan amat berbahaya.
"Benarkah?
Bagaimana andika dapat mengetahuinya?" tanyanya.
"Saya
sendiri dan adi Wasi Surengpati sudah bertemu dan bertanding dengan Endang
Patibroto, sedangkan anakmas Shiwananda dan Ni Dewi Durgomala sudah bertemu
dengan Bagus Seta dan Retna Wilis dan juga sudah bertanding dengan mereka.”
Orang-orang
yang bersangkutan itu lalu menceritakan pengalaman mereka secara terperinci,
didengarkan dengan penuh perhatian oleh Adipati Menak Sampar.
"Karena
itulah maka kami datang melapor kepada paduka, Kanjeng Adipati, agar dapat
diambil langkah-langkah yang perlu untuk dapat menemukan tiga orang itu,"
kata Wasi Karangwolo.
Adipati Menak
Sampar mengangguk-angguk lalu memberi tanda memanggil seorang pengawal. Setelah
pengawal menghadap, dia lalu memerintahkan,
"Kamu
pergilah dan panggil Senopati Rajahbeling dan Senopati Kurdolangit untuk
sekarang juga datang menghadap ke sini!”
Tak lama
kemudian dua orang senopati Blambangan itu muncul dan menghadap Sang Adipati
sambil menyembah. Senopati Rajahbeling adalah seorang senopati yang berusia
limapuluhan tahun yang bertubuh tinggi besar dan tampak gagah sekali. Dia
adalah ayah dari Kalinggo, pemuda Blambangan yang pernah mengikuti sayembara
tanding di Nusabarung. Adapun yang kedua bernama Senopati Kurdolangit, orangnya
tinggi kurus akan tetapi dia seorang yang digdaya dan amat terkenal di
Blambangan.
"Kedua
kakang senopati! Andika berdua terkejut kami panggil?”
"Benar,
Kanjeng Adipati. Ini bukan waktunya bersidang, maka kami tentu saja heran
mendapat panggilan ini," jawab Senopati Rajahbeling.
"Ketahuilah,
kakang senopati. Ternyata di daerah kita Blambangan ini telah kemasukan tiga
orang telik sandi yang berbahaya. Bahkan mereka pernah mengacau di Nusabarung
dan kini mereka menuju ke Blambangan. Tahukah kalian siapa mereka?”
Dua orang
senopati itu saling pandang dan menggelengkan kepala.
"Kami
tidak dapat menduganya, gusti.”
"Ketahuilah
bahwa telik sandi itu adalah Endang Patibroto, Retna Wilis dan Bagus Seta.”
Dua orang
senopati itu sudah mendengar nama Endang Patibroto dan Retna Wilis, bahkan
sudah tahu bahwa mereka itu adalah dua orang wanita yang sakti dari Panjalu.
"Di mana
mereka, Kanjeng Adipati? Kami akan mengerahkan prajurit untuk menangkap
mereka.”
"Inilah
persoalannya. Kami belum tahu mereka kini berada di mana. Karena itu kutugaskan
kalian untuk menyebar prajurit dan mata-mata. Kalau ada yang melihatnya agar
cepat memberi kabar kepada Paman Wasi Karangwolo sekalian para Paman Wasi yang
berada di sini agar mereka dapat ditangkap. Mereka itu sakti dan pandai menyamar,
maka setiap ada orang asing memasuki wilayah Blambangan, harus diperiksa dengan
cermat.”
Dua orang
senopati itu menyatakan kesanggupannya, kemudian memberi hormat kemudian
mengundurkan diri. Adipati Menak Sampar masih bercakap-cakap dengan para pimpinan
agama Shiwa-Durgo-Kala itu, membicarakan persiapan dan rencana mereka untuk
penyebaran agama dan kemudian untuk memberontak terhadap Panjalu dan Jenggala.
Masuknya Endang Patibroto dan Retno Wilis merupakan bahan pembicaraan mereka
yang penting dan Wasi Shiwamurti sendiri mengatakan bahwa dia akan turun tangan
sendiri terhadap kedua orang wanita sakti itu.
"Mereka
adalah orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi, dan kiranya hanya saya yang
akan dapat mengatasi mereka,” kata Wasi Shiwamurti dan hal ini dibenarkan oleh
yang lain, yang telah merasakan kehebatan ilmu kepandaian dua orang wanita itu.
"Jangan
dilupakan pemuda yang bernama Bagus Seta itu, kakang Wasi," kata Wasi
Karangwolo.
"Biarpun
kami belum mengetahui benar tingkat kadigdayaannya, namun dalam hal menghadapi
ilmu sihir dia tangguh bukan main." Wasi Surengpati membenarkan pendapat
Wasi Karangwolo ini dengan mengangguk-angguk.
"Heh-heh-heh,
jangan khawatir. Selama ini ilmu sihirku tidak pernah gagal terhadap siapapun
juga. Pendeknya, kalau sudah diketahui dimana adanya Endang Patibroto, Retna
Wilis, dan Bagus Seta, beritahulah kepadaku dan aku akan menangkap mereka
bertiga.”
Ucapan Wasi
Shiwamurti ini bukan sekedar bualan belaka. Wasi yang satu ini adalah saudara
seperguruan dari mendiang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo yang memiliki
kesaktian tinggi. Bahkan setelah mendengar betapa dua orang kakak
seperguruannya ini tewas, dia memperdalam ilmunya sehingga kini ilmu
kesaktiannya sudah melebihi kesaktian kedua orang kakak seperguruannya itu.
Terutama sekali dalam hal ilmu sihir, dia jauh melebihi kedua orang wasi yang
telah tewas itu.
Mulai hari
itu, ratusan orang prajurit disebar dan di mana-mana diadakan penjagaan. Bahkan
sampai jauh ke luar kota kadipaten Blambangan para prajurit itu mencari Endang
Patibroto, Retna Wilis dan Bagus Seta, memeriksa semua orang asing yang
kebetulan lewat di situ.
Bagus Seta dan
Retna Wilis yang sedang mengadakan perjalanan dan tiba di perbatasan daerah
Blambangan segera mendengar cerita para penduduk dusun bahwa pasukan Blambangan
sedang mengadakan pencarian terhadap telik sandi dari Panjalu dan banyak orang
yang dicurigai sebagai pendatang baru dari luar daerah Blambangan ditangkapi.
"Ah,
mereka tentu sedang mencari kita, kakangmas Bagus Seta. Tentu Adipati
Blambangan telah mendengar tentang diri kita dari Wasi Karangwolo dan Wasi
Surengpati ketika kita berada di kadipaten Nusabarung.”
"Kukira
bukan hanya kedua orang wasi itu saja, diajeng. Akan tetapi Ni Dewi Durgomala
dan Ki Shiwananda telah melapor pula ke sana. Agaknya, pusat penyebaran agama
baru itu berasal dari Blambangan.”
"Kalau
begitu bagaimana baiknya, kakang. Agaknya akan sukar untuk melakukan perjalanan
ke dalam daerah Blambangan dan menyelidiki keadaan di sana.”
"Akan
lebih mudah mereka ketahui kalau kita mengadakan perjalanan berdua. Sebaiknya
kita berpencar saja dan masuk ke Blambangan. Kita saling bertemu di Blambangan.
Bagaimana pendapatmu?”
"Begitu
juga baik dan aku akan menyamar sebagai seorang pemuda.”
"Akan
tetapi engkau harus dapat menahan diri, jangan menimbulkan keributan, Retna.
Pertahankan perasaanmu agar tidak mudah terpancing untuk berkelahi karena hal
itu akan mudah mengenal kita.”
"Sebaiknya
kalau di luar pakaian kita yang putih, kita memakai pakaian lain yang berwarna
sehingga tidak menarik perhatian. Dan jangan memakai nama Joko Wilis karena
nama itu sudah dikenal baik oleh mereka.”
"Lalu aku
harus memakai nama apa, kakang?”
"Kita
menggunakan nama sederhana saja dan menyamar sebagai pemuda dusun. Aku akan
memakai nama Joko Slamet dan engkau memakai nama Joko Waras.”
Retna Wilis
tersenyum.
"Wah,
nama yang mudah sekali diingat. Baiklah, kakang Slamet, mulai sekarang aku
memakai nama Joko Waras.”
Setelah
membeli beberapa potong pakaian dari penduduk dusun, Retna Wilis berdandan
sebagai seorang pemuda dusun. Juga Bagus Seta mengenakan pakaian biasa berwarna
biru untuk menutupi pakaiannya yang serba putih. Setelah selesai berdandan,
Retna Wilis berdiri di depan kakaknya dan bertanya,
"Bagaimana
pendapatmu, kakang? sudah pantaskah aku menjadi Joko Waras?”
Bagus Seta
memandang wajah adiknya dan tersenyum.
"Engkau
pandai sekali menyamar. Aku sendiri tentu akan pangling kalau tidak kauberitahu
lebih dulu. Ingat, jangan mencari keributan, adikku, dan kita saling bertemu di
Blambangan.”
"Akan tetapi,
Blambangan itu besar. Di mana kita akan bertemu, kakang?”
"Pada
hari Respati sore, datang saja ke alun-alun kadipaten dan aku akan berada di
bawah pohon waringin yang berada di sana.”
Setelah
mengingatkan kepada adiknya agar waspada dan sabar, tidak membiarkan diri
terpancing ke dalam perkelahian, Bagus Seta lalu berpisah dari Retno Wilis,
mengambil jalan masing-masing memasuki daerah Blambangan. Sebagai seorang
pemuda remaja dusun yang lincah, tidak ada orang yang mencurigai Joko Waras. Di
mana-mana dia diterima dengan baik sebagai seorang perjaka yang ramah dan juga
pandai membawa diri. Jika malam tiba dia bermalam di rumah penduduk yang hanya
hidup berdua dengan isterinya sehingga dia mendapat tempat tidur tersendiri.
Kalau siang Joko Waras melakukan perjalanan menuju ke kadipaten Blambangan dan
di sepanjang perjalanan dia mencari keterangan tentang keadaan kadipaten
Blambangan. Dalam perjalanannya ini, Joko Waras melihat bahwa di dusun-dusun
yang dilewatinya, banyak dibangun candi-candi kecil yang baru, di mana hanya
terdapat arca Shiwa-Durgo-Kala. Kalau teringat akan perbuatan Ni Dewi Durgomala
dan Ki Shiwananda, rasanya ingin ia menghancurkan candi-candi itu. Akan tetapi
ia teringat akan pesan kakaknya bahwa ia tidak boleh mencari keributan. Pula,
apa salahnya candi-candi itu? Itu hanya tempat pemujaan, dan orang boleh memuja
dewa mana saja asalkan dalam pemujaan itu tidak mengganggu orang lain. Iapun
beberapa kali melihat serombongan prajurit Blambangan menghadang dan memeriksa
orang-orang yang berlalu lalang, menanyai mereka, ada pula yang menggeledah
kalau-kalau mereka menyimpan senjata. Ia sendiri yang bersikap wajar seperti
seorang pemuda dusun yang masih muda, lolos dari kecurigaan. Pernah pula dia
ditanyai mereka seperti seorang pesakitan,
"Siapa
namamu?”
"Namaku
Joko Waras. Ketika masih bayi sakit-sakitan maka lalu namaku diubah menjadi
Joko Waras dan sejak itu aku waras terus, tidak pernah sakit," katanya
dengan suara lemah akan tetapi nadanya kasar seperti biasa sikap dan kata-kata
seorang dusun yang tidak terpelajar.
"Apa
pekerjaanmu?”
"Penggembala
kerbau atau sapi. Aku sudah berpengalaman sejak kecil menggembala kerbau atau
sapi. Kalau andika membutuhkan penggembala yang baik, aku bersedia.....”
<<< Bagian 47 Bagian 49 >>>
No comments:
Post a Comment