"Sudah, sana! Jangan banyak cerewet!" hardik seorang penanya dan Joko Waras bergegas pergi sambil menyeringai.
Akan tetapi
pada suatu pagi ketika dia tiba di suatu dusun yang sudah masuk perbatasan
Blambangan, dusun yang cukup ramai, dia melihat banyak sekali orang berkumpul
dan mereka itu sedang diperiksa oleh serombongan prajurit Blambangan yang
dipimpin seorang senopati yang bertubuh tinggi kurus dengan pandang mata yang
tajam bersinar-sinar. Di antara banyak orang yang dihentikan perjalanan mereka
itu terdapat tiga orang wanita muda yang cantik manis. Melihat tiga orang
wanita itu, senopati yang tinggi kurus segera berkata,
"Biarkan
aku yang memeriksa mereka. Siapa tahu di antara mereka terdapat orang yang kita
cari.”
Senopati itu
adalah Kurdolangit, senopati Blambangan berusia limapuluh tahun yang terkenal
sakti, akan tetapi juga terkenal mata keranjang. Tubuhnya tinggi kurus, mukanya
seperti tengkorak, akan tetapi sepasang matanya menunjukkan kecerdikan dan
kepandaiannya. Senopati Kurdolangit lalu duduk di atas bangku dan menggapai
tiga orang gadis itu. Setelah menanyakan nama mereka, tempat tinggal mereka,
dia lalu menggeledah tubuh tiga orang gadis itu, menggerayangi dengan jari-jari
tangannya secara kasar dan kurang ajar sekali. Tentu saja tiga orang gadis
dusun itu merintih dan menjerit kecil ketika diperlakukan seperti itu. Tiga
orang laki-laki setengah tua, ayah dari para gadis itu, melangkah maju mendekat
dan mohon kepada Senopati Kurdolangit untuk melepaskan tiga orang puteri
mereka. Mendengar permohonan ini, Kurdolangit menjadi marah. Dia bangkit
berdiri dan tiga kali tubuhnya bergerak, tiga orang laki-laki itu telah
ditamparnya dan mereka terpelanting dan terbanting keras. Pipi mereka menjadi
bengkak oleh tamparan tadi.
“Jangan
mencampuri urusanku, atau kalian akan kuhukum mati! Aku sedang menjalankan
tugas dan siapapun yang kucurigai akan kugeledah. Tak seorangpun boleh
mencegahnya!" Dan kembali tangannya dengan nakal menggerayangi tubuh tiga
orang gadis itu yang menggeliat-geliat sambil merintih.
Tiba-tiba
seorang laki-laki keluar dari rombongan orang dusun itu. Joko Waras melihat
laki-laki itu masih muda, berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun, pakaiannya
sederhana akan tetapi wajahnya tampan dan terutama sekali matanya demikian
terang dan mengandung wibawa. Pemuda tampan itu bukan lain adalah Jayawijaya,
pemuda dari pegunungan Tengger itu. Seperti kita ketahui, pemuda ini telah
berpisah dari Endang Patibroto setelah dia ditolong oleh wanita sakti itu.
Pada pagi hari
itu, perjalanannya sampai di tempat itu. Diapun mendengar bahwa di banyak
tempat diadakan pencegatan dan pemeriksaan oleh pasukan Blambangan dan kadang
pemeriksaan itu dilakukan dengan sewenang-wenang. Kini Jayawijaya melihat
dengan mata kepala sendiri perlakuan yang kurang ajar dari Kurdolangit terhadap
tiga orang gadis itu. Tentu saja dia menjadi marah sekali dan segera
menghampiri senopati Kurdolangit yang tinggi kurus bermuka seperti tengkorak
itu.
"Begitukah
cara memeriksa wanita? Sungguh tidak sopan dan kurang ajar sekali, tidak patut
dilakukan seorang senopati, pantasnya dilakukan seorang anggota perampok
jahat!” Jayawijaya berkata demikian sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka
senopati itu.
Kurdolangit
terbelalak dan mukanya berubah merah. Dia dimaki seorang pemuda di depan umum!
Dia menghentikan pemeriksaannya, mendorong tiga orang gadis itu ke luar dari
tempat pemeriksaan, lalu bangkit berdiri dan bertolak pinggang, memandang
kepada Jayawijaya dengan mata melotot.
"Kau
bilang apa?”
Agaknya
Jayawijaya tidak tahu bahwa senopati itu marah sekali. Dia berkata dengan
tegas.
"Aku
bilang bahwa engkau melakukan pemeriksaan terhadap wanita secara kurang ajar
dan tidak sopan sama sekali. Tidak tahu malu!”
"Jahanam,
apakah engkau bosan hidup?" bentak Kurdolangit dengan muka berubah
kemerahan seperti udang direbus.
Joko Waras
melihat betapa senopati itu marah sekali dan dia ingin tahu apa yang akan
terjadi selanjutnya. Pemuda tampan itu kelihatan pemberani bukan main dan tentu
pemuda itu mempunyai kepandaian yang dapat diandalkan maka dia berani menegur
seorang senopati seperti itu. Kurdolangit yang sudah tidak dapat menahan rasa
malunya dimaki orang di depan umum, sudah menerjang maju dan kedua tangannya
yang kurus panjang itu menyambar ke arah kepala Jayawijaya. Pemuda ini agaknya
tidak tahu bahwa dia diserang, dia berdiri tenang-tenang saja dan memandang
senopati itu dengan matanya yang mencorong penuh wibawa dan kelembutan. Kedua
tangan itu menyambar ke arah kepala dengan tenaga yang dahsyat. Akan tetapi,
tiba-tiba kedua tangan itu seperti bertemu dengan tenaga yang tidak tampak dan
tubuh Kurdolangit terpelanting roboh!
Joko Waras
terbelalak! Pemuda itu ternyata seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!
Kalau tadinya dia sudah bersiap untuk membantu agar pemuda yang pemberani itu
tidak sampai celaka, kini diapun hanya menonton saja dengan terheran-heran.
Pemuda itu seolah tidak pernah merobohkan orang dan berdiri dengan sikap masih
tenang saja. Kurdolangit yang merasa betapa pukulan kedua tangannya tadi
seperti bertemu dengan tenaga dahsyat yang membuatnya terpelanting, menjadi
semakin malu dan marah. Dia melompat bangkit kembali dan sudah mencabut
sebatang kerisnya yang panjang dan dahsyat.
"Bocah
kurang ajar! Engkau minta mati!" bentak Kurdolangit dan kini dia
menggerakkan kerisnya dengan tangan kanan, menusuk ke arah dada Jayawijaya
dengan keris yang besar panjang itu.
Joko Waras
kini memandang penuh perhatian kepada pemuda yang diserang itu. Dia melihat
betapa pemuda itu tidak membuat gerakan menangkis atau menghindar, melainkan
mengangkat kedua tangannya ke atas seperti orang hendak menyembah dan
terjadilah keanehan yang kedua kalinya. Keris seperti bertemu dengan tangkisan
kuat sekali dan membalik, melukai lengan kanan Kurdolangit sendiri, Senopati
ini terhuyung mundur dan memegangi lengannya yang berdarah. Kurdolangit masih
penasaran walaupun lengan kanannya sudah mengucurkan darah terkena kerisnya
sendiri. Dia bangkit lagi dan menubruk dengan kerisnya, kini serangannya
dilakukan dengan tenaga sepenuhnya sambil menggereng seperti seekor harimau
terluka! Joko Waras mengamati lagi dengan penuh kewaspadaan. ia melihat pemuda
itu hanya membuat gerakan seperti mendorong ke depan dan tubuh senopati itu
terpelanting seperti layang-layang putus talinya, terbanting jatuh dan
bergulingan sampai jauh ! Kini tanpa malu-malu Ki Kurdolangit lalu memberi
aba-aba kepada anak-buahnya yang belasan orang banyaknya untuk melakukan
pengeroyokan kepada Jayawijaya. Melihat ini, Joko Waras menjadi marah dan
dia-pun melompat dan tubuhnya berkelebatan ke sana ke mari, membagi-bagi
tamparan dan tendangan sehingga belasan orang anak buah Ki Kurdolangit itu
jatuh bangun dan akhirnya tidak ada yang berani melawan lagi. Joko Waras yang
merasa kagum dan heran kepada Jayawijaya segera memegang tangan pemuda itu dan
menariknya, berkata,
"hayo
kita cepat lari dari sini!"
Jayawijaya
tadi melihat betapa pemuda dusun berpakaian sederhana, bertubuh ramping kecil
namun tampan sekali itu mengamuk dan merobohkan para prajurit. Dia membiarkan
dirinya ditarik dan ikut lari bersama Joko Waras. Joko Waras ingin menguji ilmu
kepandaian Jayawijaya dan berlari mempergunakan aji kesaktiannya sehingga kedua
telapak kakinya seolah tidak menyentuh bumi. Akan tetapi, Jayawijaya tertinggal
jauh dan ketika tangannya digandeng pemuda itu terseret-seret! Joko Waras
menjadi semakin heran. Pemuda ini tidak mahir ilmu meringankan tubuh dan tidak
memiliki aji berlari kencang. Dia lalu berlari biasa lagi sehingga Jayawijaya
dapat mengimbanginya. Setelah melalui beberapa dusun, dengan terengah-engah
Jayawijaya bertanya,
"Ki
sanak, kenapa kita berlari terus? Sampai kapankah kita harus berlari seperti
ini?”
Joko Waras
tersenyum dan berhenti berlari. Mereka, tiba di luar sebuah dusun dan saat itu
sudah menjelang senja,
"Kita
harus melarikan diri dari pasukan tadi, ki sanak," katanya.
"Kenapa
harus lari? Kita tidak bersalah," bantah Jayawijaya.
"Hemm,
mungkin kita menganggap diri kita tidak bersalah. akan tetapi senopati itu dan
anak buahnya tidak akan menganggap demikian. Kita tentu dianggap melawan dan
memberontak.”
Mereka
berjalan memasuki dusun itu. Di tepi dusun itu terdapat sebuah warung nasi yang
ramai dikunjungi orang. Belasan orang pengunjung itu semua laki-laki dan
kebanyakan masih muda. Dari cara mereka bercakap-cakap sambil tertawa
menunjukkan bahwa mereka sedang bergembira. Joko Waras mengajak temannya untuk
duduk di bangku paling ujung. Sekarang mengertilah Joko Waras mengapa para
pengunjung itu semua laki-laki muda dan suasananya Nampak gembira. Kiranya
penjaga warung nasi yang melayani mereka itu adalah seorang perawan dusun yang
cantik manis. Biarpun dandanannya sederhana sekali namun gadis itu memang manis
sekali dan memiliki daya tarik yang amat kuat.
"Ki
sanak, siapakah nama andika?" tanya Joko Waras berbisik.
Jayawijaya
menengok dan memandang Joko Waras sambil tersenyum. Mereka telah lari bersama
dan tiba di tempat itu, memasuki warung itu bersama namun belum saling mengenal
nama!
"Namaku
Jayawijaya, dan siapa nama andika?”
"Aku Joko
Waras dari dusun Selogiri di Gunung Kidul. Dan andika?”
"Aku dari
Gunung Tengger.”
Pada saat
kedua orang muda itu saling bercakap dengan berbisik, kini pelayan warung yang
manis itu menunjukkan perhatiannya kepada mereka. Melihat dua orang muda yang
demikian tampan, Saritem, demikian nama pemilik atau pelayan warung nasi itu,
merasa kagum dan senang. Sikap kedua orang muda yang bicara dengan bisik-bisik
dan sopan itu saja menunjukkan bahwa mereka bukanlah dua orang muda dusun
sembarangan.
"Ki
sanak, andika berdua ingin makan dan minum apakah?" tanya Saritem kepada
mereka sambil memandang wajah Joko Waras dengan penuh perhatian. Ketampanan
pemuda ini sungguh menggerakkan hatinya.
"Oh, aku
minta sepiring nasi sayur lodeh dan minum teh manis," kata Jayawijaya.
"Aku juga
sama dengan permintaan kakang Jaya," kata Joko Waras sambil memandang
kepada pelayan itu yang tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putih
bersih dan indah.
"Kakang,
yang jualan nasi ayu, ya?" kata Joko Waras.
Saritem
tersipu dan kedua pipinya berubah kemerahan, lalu ia menyibukkan diri melayani
mereka seolah tidak mendengar pujian itu. Padahal, jantungnya berdebar keras
dan ia sendiri merasa heran. Sudah setiap hari ia mendengar pujian yang keluar
dari mulut pria, akan tetapi mengapa pujian perjaka tampan ganteng ini
membuatnya tersipu malu?
"Hushh,
adi Waras, jangan keras-keras memuji orang. Lihat, ia tersipu malu," tegur
Jayawijaya lirih.
Retno Wilis
memang seorang gadis yang lincah dan nakal. Sebagai Joko Waras, dia sengaja
mengerlingkan matanya dan melirik tajam kepada Saritem, disertai senyum manis
menawan dan ketika Saritem menjulurkan tangan menyerahkan piring nasi lodeh, dengan
sengaja Joko Waras menerima piring itu dan menyentuhkan tangannya kepada tangan
yang lunak lembut dan hangat itu. Saritem tidak marah, malah tersenyum dan
tersipu menarik tangannya dengan lembut. Joko Waras tersenyum lebar dan ia
melihat betapa Jayawijaya yang melihat perbuatannya itu mengerutkan alisnya.
Seorang pemuda yang alim, pikirnya. Akan tetapi ia merasa seperti menghadapi
teka-teki besar terhadap Jayawijaya. Sudah terbukti betapa pemuda itu dapat
menghindarkan semua serangan yang berbahaya dari senopati yang mata keranjang
itu. Akan tetapi ketika diajaknya berlari, pemuda itu sama sekali tidak mampu
berlari kencang. Dan juga ketika menarik tangan pemuda itu, tenaganya
biasa-biasa saja seperti tenaga orang yang tidak memiliki kepandaian tinggi.
Pemuda macam apakah ini, yang tampaknya tidak memiliki ilmu kepandaian akan
tetapi yang berani menentang kejahatan yang dilakukan belasan orang pasukan
pemerintah yang dipimpin oleh seorang senopati yang digdaya? Dan sekarang,
dalam menghadapi Saritem, Jayawijaya memperlihatkan sikap seorang pemuda yang
alim dan tidak suka menggoda wanita cantik!
Selagi mereka
berdua makan nasi sayur lodeh yang hangat dan gurih itu, perhatian Joko Waras
tidak pernah terlepas dari keadaan sekelilingnya. Belasan orang laki-laki muda
berada di warung itu, duduk berserakan di bangku-bangku di dalam dan luar
warung. Sebagian besar telah selesai makan dan kini bercakap-cakap gembira
sambil kadang mengerling ke arah Saritem. Tapi ada seorang pemuda yang tidak
sedang makan dan yang duduk di sebelah dalam warung itu amat memperhatikan
mereka berdua. Joko Waras, memperhatikan pemuda ini.
Dia seorang
pemuda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun. Tampangnya ganteng dan
tubuhnya juga tegap kokoh seperti Raden Gatutkaca. Kumis tipisnya menambah
kejantanannya dan sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam dan berwibawa.
Sejak Saritem melayani Joko Waras dan Jayawijaya, pemuda itu terus mengamati
mereka berdua, terutama sekali Joko Waras. Hal yang membuat Joko Waras
diam-diam merasa jengkel karena tidak enak sekali selagi makan ditonton orang
seperti itu. Seolah-olah setiap dia mengunyah makanan, laki-laki itu mengikuti
setiap gerak mulutnya.
<<< Bagian 48 Bagian 50 >>>
No comments:
Post a Comment