Sepasang Garuda Putih ; Bagian 49


"Sudah, sana! Jangan banyak cerewet!" hardik seorang penanya dan Joko Waras bergegas pergi sambil menyeringai.

Akan tetapi pada suatu pagi ketika dia tiba di suatu dusun yang sudah masuk perbatasan Blambangan, dusun yang cukup ramai, dia melihat banyak sekali orang berkumpul dan mereka itu sedang diperiksa oleh serombongan prajurit Blambangan yang dipimpin seorang senopati yang bertubuh tinggi kurus dengan pandang mata yang tajam bersinar-sinar. Di antara banyak orang yang dihentikan perjalanan mereka itu terdapat tiga orang wanita muda yang cantik manis. Melihat tiga orang wanita itu, senopati yang tinggi kurus segera berkata,
"Biarkan aku yang memeriksa mereka. Siapa tahu di antara mereka terdapat orang yang kita cari.”
Senopati itu adalah Kurdolangit, senopati Blambangan berusia limapuluh tahun yang terkenal sakti, akan tetapi juga terkenal mata keranjang. Tubuhnya tinggi kurus, mukanya seperti tengkorak, akan tetapi sepasang matanya menunjukkan kecerdikan dan kepandaiannya. Senopati Kurdolangit lalu duduk di atas bangku dan menggapai tiga orang gadis itu. Setelah menanyakan nama mereka, tempat tinggal mereka, dia lalu menggeledah tubuh tiga orang gadis itu, menggerayangi dengan jari-jari tangannya secara kasar dan kurang ajar sekali. Tentu saja tiga orang gadis dusun itu merintih dan menjerit kecil ketika diperlakukan seperti itu. Tiga orang laki-laki setengah tua, ayah dari para gadis itu, melangkah maju mendekat dan mohon kepada Senopati Kurdolangit untuk melepaskan tiga orang puteri mereka. Mendengar permohonan ini, Kurdolangit menjadi marah. Dia bangkit berdiri dan tiga kali tubuhnya bergerak, tiga orang laki-laki itu telah ditamparnya dan mereka terpelanting dan terbanting keras. Pipi mereka menjadi bengkak oleh tamparan tadi.
“Jangan mencampuri urusanku, atau kalian akan kuhukum mati! Aku sedang menjalankan tugas dan siapapun yang kucurigai akan kugeledah. Tak seorangpun boleh mencegahnya!" Dan kembali tangannya dengan nakal menggerayangi tubuh tiga orang gadis itu yang menggeliat-geliat sambil merintih.
Tiba-tiba seorang laki-laki keluar dari rombongan orang dusun itu. Joko Waras melihat laki-laki itu masih muda, berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun, pakaiannya sederhana akan tetapi wajahnya tampan dan terutama sekali matanya demikian terang dan mengandung wibawa. Pemuda tampan itu bukan lain adalah Jayawijaya, pemuda dari pegunungan Tengger itu. Seperti kita ketahui, pemuda ini telah berpisah dari Endang Patibroto setelah dia ditolong oleh wanita sakti itu.

Pada pagi hari itu, perjalanannya sampai di tempat itu. Diapun mendengar bahwa di banyak tempat diadakan pencegatan dan pemeriksaan oleh pasukan Blambangan dan kadang pemeriksaan itu dilakukan dengan sewenang-wenang. Kini Jayawijaya melihat dengan mata kepala sendiri perlakuan yang kurang ajar dari Kurdolangit terhadap tiga orang gadis itu. Tentu saja dia menjadi marah sekali dan segera menghampiri senopati Kurdolangit yang tinggi kurus bermuka seperti tengkorak itu.
"Begitukah cara memeriksa wanita? Sungguh tidak sopan dan kurang ajar sekali, tidak patut dilakukan seorang senopati, pantasnya dilakukan seorang anggota perampok jahat!” Jayawijaya berkata demikian sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka senopati itu.
Kurdolangit terbelalak dan mukanya berubah merah. Dia dimaki seorang pemuda di depan umum! Dia menghentikan pemeriksaannya, mendorong tiga orang gadis itu ke luar dari tempat pemeriksaan, lalu bangkit berdiri dan bertolak pinggang, memandang kepada Jayawijaya dengan mata melotot.
"Kau bilang apa?”
Agaknya Jayawijaya tidak tahu bahwa senopati itu marah sekali. Dia berkata dengan tegas.
"Aku bilang bahwa engkau melakukan pemeriksaan terhadap wanita secara kurang ajar dan tidak sopan sama sekali. Tidak tahu malu!”
"Jahanam, apakah engkau bosan hidup?" bentak Kurdolangit dengan muka berubah kemerahan seperti udang direbus.
Joko Waras melihat betapa senopati itu marah sekali dan dia ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Pemuda tampan itu kelihatan pemberani bukan main dan tentu pemuda itu mempunyai kepandaian yang dapat diandalkan maka dia berani menegur seorang senopati seperti itu. Kurdolangit yang sudah tidak dapat menahan rasa malunya dimaki orang di depan umum, sudah menerjang maju dan kedua tangannya yang kurus panjang itu menyambar ke arah kepala Jayawijaya. Pemuda ini agaknya tidak tahu bahwa dia diserang, dia berdiri tenang-tenang saja dan memandang senopati itu dengan matanya yang mencorong penuh wibawa dan kelembutan. Kedua tangan itu menyambar ke arah kepala dengan tenaga yang dahsyat. Akan tetapi, tiba-tiba kedua tangan itu seperti bertemu dengan tenaga yang tidak tampak dan tubuh Kurdolangit terpelanting roboh!

Joko Waras terbelalak! Pemuda itu ternyata seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi! Kalau tadinya dia sudah bersiap untuk membantu agar pemuda yang pemberani itu tidak sampai celaka, kini diapun hanya menonton saja dengan terheran-heran. Pemuda itu seolah tidak pernah merobohkan orang dan berdiri dengan sikap masih tenang saja. Kurdolangit yang merasa betapa pukulan kedua tangannya tadi seperti bertemu dengan tenaga dahsyat yang membuatnya terpelanting, menjadi semakin malu dan marah. Dia melompat bangkit kembali dan sudah mencabut sebatang kerisnya yang panjang dan dahsyat.
"Bocah kurang ajar! Engkau minta mati!" bentak Kurdolangit dan kini dia menggerakkan kerisnya dengan tangan kanan, menusuk ke arah dada Jayawijaya dengan keris yang besar panjang itu.
Joko Waras kini memandang penuh perhatian kepada pemuda yang diserang itu. Dia melihat betapa pemuda itu tidak membuat gerakan menangkis atau menghindar, melainkan mengangkat kedua tangannya ke atas seperti orang hendak menyembah dan terjadilah keanehan yang kedua kalinya. Keris seperti bertemu dengan tangkisan kuat sekali dan membalik, melukai lengan kanan Kurdolangit sendiri, Senopati ini terhuyung mundur dan memegangi lengannya yang berdarah. Kurdolangit masih penasaran walaupun lengan kanannya sudah mengucurkan darah terkena kerisnya sendiri. Dia bangkit lagi dan menubruk dengan kerisnya, kini serangannya dilakukan dengan tenaga sepenuhnya sambil menggereng seperti seekor harimau terluka! Joko Waras mengamati lagi dengan penuh kewaspadaan. ia melihat pemuda itu hanya membuat gerakan seperti mendorong ke depan dan tubuh senopati itu terpelanting seperti layang-layang putus talinya, terbanting jatuh dan bergulingan sampai jauh ! Kini tanpa malu-malu Ki Kurdolangit lalu memberi aba-aba kepada anak-buahnya yang belasan orang banyaknya untuk melakukan pengeroyokan kepada Jayawijaya. Melihat ini, Joko Waras menjadi marah dan dia-pun melompat dan tubuhnya berkelebatan ke sana ke mari, membagi-bagi tamparan dan tendangan sehingga belasan orang anak buah Ki Kurdolangit itu jatuh bangun dan akhirnya tidak ada yang berani melawan lagi. Joko Waras yang merasa kagum dan heran kepada Jayawijaya segera memegang tangan pemuda itu dan menariknya, berkata,
"hayo kita cepat lari dari sini!"

Jayawijaya tadi melihat betapa pemuda dusun berpakaian sederhana, bertubuh ramping kecil namun tampan sekali itu mengamuk dan merobohkan para prajurit. Dia membiarkan dirinya ditarik dan ikut lari bersama Joko Waras. Joko Waras ingin menguji ilmu kepandaian Jayawijaya dan berlari mempergunakan aji kesaktiannya sehingga kedua telapak kakinya seolah tidak menyentuh bumi. Akan tetapi, Jayawijaya tertinggal jauh dan ketika tangannya digandeng pemuda itu terseret-seret! Joko Waras menjadi semakin heran. Pemuda ini tidak mahir ilmu meringankan tubuh dan tidak memiliki aji berlari kencang. Dia lalu berlari biasa lagi sehingga Jayawijaya dapat mengimbanginya. Setelah melalui beberapa dusun, dengan terengah-engah Jayawijaya bertanya,
"Ki sanak, kenapa kita berlari terus? Sampai kapankah kita harus berlari seperti ini?”
Joko Waras tersenyum dan berhenti berlari. Mereka, tiba di luar sebuah dusun dan saat itu sudah menjelang senja,
"Kita harus melarikan diri dari pasukan tadi, ki sanak," katanya.
"Kenapa harus lari? Kita tidak bersalah," bantah Jayawijaya.
"Hemm, mungkin kita menganggap diri kita tidak bersalah. akan tetapi senopati itu dan anak buahnya tidak akan menganggap demikian. Kita tentu dianggap melawan dan memberontak.”
Mereka berjalan memasuki dusun itu. Di tepi dusun itu terdapat sebuah warung nasi yang ramai dikunjungi orang. Belasan orang pengunjung itu semua laki-laki dan kebanyakan masih muda. Dari cara mereka bercakap-cakap sambil tertawa menunjukkan bahwa mereka sedang bergembira. Joko Waras mengajak temannya untuk duduk di bangku paling ujung. Sekarang mengertilah Joko Waras mengapa para pengunjung itu semua laki-laki muda dan suasananya Nampak gembira. Kiranya penjaga warung nasi yang melayani mereka itu adalah seorang perawan dusun yang cantik manis. Biarpun dandanannya sederhana sekali namun gadis itu memang manis sekali dan memiliki daya tarik yang amat kuat.
"Ki sanak, siapakah nama andika?" tanya Joko Waras berbisik.
Jayawijaya menengok dan memandang Joko Waras sambil tersenyum. Mereka telah lari bersama dan tiba di tempat itu, memasuki warung itu bersama namun belum saling mengenal nama!
"Namaku Jayawijaya, dan siapa nama andika?”
"Aku Joko Waras dari dusun Selogiri di Gunung Kidul. Dan andika?”
"Aku dari Gunung Tengger.”

Pada saat kedua orang muda itu saling bercakap dengan berbisik, kini pelayan warung yang manis itu menunjukkan perhatiannya kepada mereka. Melihat dua orang muda yang demikian tampan, Saritem, demikian nama pemilik atau pelayan warung nasi itu, merasa kagum dan senang. Sikap kedua orang muda yang bicara dengan bisik-bisik dan sopan itu saja menunjukkan bahwa mereka bukanlah dua orang muda dusun sembarangan.
"Ki sanak, andika berdua ingin makan dan minum apakah?" tanya Saritem kepada mereka sambil memandang wajah Joko Waras dengan penuh perhatian. Ketampanan pemuda ini sungguh menggerakkan hatinya.
"Oh, aku minta sepiring nasi sayur lodeh dan minum teh manis," kata Jayawijaya.
"Aku juga sama dengan permintaan kakang Jaya," kata Joko Waras sambil memandang kepada pelayan itu yang tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putih bersih dan indah.
"Kakang, yang jualan nasi ayu, ya?" kata Joko Waras.
Saritem tersipu dan kedua pipinya berubah kemerahan, lalu ia menyibukkan diri melayani mereka seolah tidak mendengar pujian itu. Padahal, jantungnya berdebar keras dan ia sendiri merasa heran. Sudah setiap hari ia mendengar pujian yang keluar dari mulut pria, akan tetapi mengapa pujian perjaka tampan ganteng ini membuatnya tersipu malu?
"Hushh, adi Waras, jangan keras-keras memuji orang. Lihat, ia tersipu malu," tegur Jayawijaya lirih.
Retno Wilis memang seorang gadis yang lincah dan nakal. Sebagai Joko Waras, dia sengaja mengerlingkan matanya dan melirik tajam kepada Saritem, disertai senyum manis menawan dan ketika Saritem menjulurkan tangan menyerahkan piring nasi lodeh, dengan sengaja Joko Waras menerima piring itu dan menyentuhkan tangannya kepada tangan yang lunak lembut dan hangat itu. Saritem tidak marah, malah tersenyum dan tersipu menarik tangannya dengan lembut. Joko Waras tersenyum lebar dan ia melihat betapa Jayawijaya yang melihat perbuatannya itu mengerutkan alisnya. Seorang pemuda yang alim, pikirnya. Akan tetapi ia merasa seperti menghadapi teka-teki besar terhadap Jayawijaya. Sudah terbukti betapa pemuda itu dapat menghindarkan semua serangan yang berbahaya dari senopati yang mata keranjang itu. Akan tetapi ketika diajaknya berlari, pemuda itu sama sekali tidak mampu berlari kencang. Dan juga ketika menarik tangan pemuda itu, tenaganya biasa-biasa saja seperti tenaga orang yang tidak memiliki kepandaian tinggi. Pemuda macam apakah ini, yang tampaknya tidak memiliki ilmu kepandaian akan tetapi yang berani menentang kejahatan yang dilakukan belasan orang pasukan pemerintah yang dipimpin oleh seorang senopati yang digdaya? Dan sekarang, dalam menghadapi Saritem, Jayawijaya memperlihatkan sikap seorang pemuda yang alim dan tidak suka menggoda wanita cantik!
Selagi mereka berdua makan nasi sayur lodeh yang hangat dan gurih itu, perhatian Joko Waras tidak pernah terlepas dari keadaan sekelilingnya. Belasan orang laki-laki muda berada di warung itu, duduk berserakan di bangku-bangku di dalam dan luar warung. Sebagian besar telah selesai makan dan kini bercakap-cakap gembira sambil kadang mengerling ke arah Saritem. Tapi ada seorang pemuda yang tidak sedang makan dan yang duduk di sebelah dalam warung itu amat memperhatikan mereka berdua. Joko Waras, memperhatikan pemuda ini.

Dia seorang pemuda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun. Tampangnya ganteng dan tubuhnya juga tegap kokoh seperti Raden Gatutkaca. Kumis tipisnya menambah kejantanannya dan sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam dan berwibawa. Sejak Saritem melayani Joko Waras dan Jayawijaya, pemuda itu terus mengamati mereka berdua, terutama sekali Joko Waras. Hal yang membuat Joko Waras diam-diam merasa jengkel karena tidak enak sekali selagi makan ditonton orang seperti itu. Seolah-olah setiap dia mengunyah makanan, laki-laki itu mengikuti setiap gerak mulutnya.

<<< Bagian 48                                                                                         Bagian 50 >>>

No comments:

Post a Comment